PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI ERA INDUSTRI 4.0
IPB University
Abstrak
Pendahuluan. Tuntutan adanya perubahan terhadap perpustakaan perguruan tinggi di era industri4.0 semakin nyata. Aktivitas berbasis digital semakin menguat dilaksanakan di perguruan tinggi danmasyarakat. Tujuan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tuntutan kebutuhan pengguna perpustakaan masakini di era industri 4.0, terutama di perguruan tinggi; dan mencoba memberikan saran untuk arahpengembangan perpustakaan perguruan tinggi di era industri 4.0. Metode. Metode yang digunakan merupakan studi literatur dan observasi pada web perpustakaanperguruan tinggi terkemuka di dunia. Hasil. Berbagai penelitian menunjukkan pengguna perpustakaan masa kini, terutama di perguruantinggi, menunjukkan tuntutan akan layanan yang bersifat non-konvensional, walaupun masih adatuntutan pada layanan yang konvensional. Perpustakaan memiliki big data yang luar biasa berasaldari repositori institusi, informasi registrasi pengguna, informasi perilaku pengguna, informasitentang interaksi pengguna, dan berbagai catatan tentang perilaku pengguna di jaringan internetlainnya. Era big data memungkinkan untuk mengerti dan terhubung dengan pengguna secara penuh,serta menuntut perpustakaan untuk berubah dari manajemen sumberdaya menjadi manajemen data. Dibahas juga hasil pengamatan pada web perpustakaan dari perguruan tinggi terkemuka yangmemperlihatkan betapa perpustakaan-perpustakaan tersebut telah melakukan transformasi layanannya dengan tidak hanya menyediakan dan mendiseminasikan informasi kepada penggunanya,tetapi berperan aktif dalam proses penelitian sivitas akademika dari persiapan penelitian sampaidengan mempublikasikan hasil penelitian. Kompetensi pustakawan menghadapi era industri 4.0 jugadibahas pada tulisan ini.
Abstract
Introduction. The demand for changes to university libraries in the industrial era 4.0 is increasingly real. Digitalbased activities are getting stronger carried out in universities and the community. Objectives. This paper aims to find out the demands of today's library users in the industrial era 4.0, especially inuniversities; and try to provide suggestions for the direction of the development of university libraries in the industrialera 4.0. Methods. The methods used are literature study and observation on the world's leading university library web. Results. Various studies show that today's library users, especially in universities, show demands for unconventionalservices, although there are still demands on conventional services. Libraries have extraordinary big data frominstitutional repositories, user registration information, user behavior information, information about user interactions,and various records of user behavior on other internet networks. The era of big data makes it possible to fullyunderstand and connect with users, and requires libraries to shift from resource management to data management. Theresults of observations on web libraries from leading universities are also discussed which show how these libraries havetransformed their services by not only providing and disseminating information to their users, but also playing an activerole in the academic community's research process from research preparation to publishing research results. Thecompetence of librarians to face the industrial era 4.0 is also discussed in this paper.
Keywords:
industri 4.0
· kompetensi pustakawan
· perpustakaan perguruan tinggi
· tuntutan layanan
Introduction
Akhir-akhir ini masyarakat dunia mengalami kegalauan terkait nasibkehidupannya di masa depan. Kegalauanitu bersumber dari wacana revolusiindustri 4.0 yang banyak dibicarakan dimana-mana, yang menyebut ciri-ciriindustri 4.0 antara lain big data, internet ofthings, artificial intelligent, human machineinterface, robotic and sensor technology, dan 3D printing technology. Bagi orang-orangdengan kemampuan teknologi informasiyang rendah atau bahkan tidak memilikipengetahuan tentang teknologi informasi,istilah-istilah tersebut sangat asing. Menjadi pertanyaan besar apakah artinyasemua itu, dimanakah posisinya dengansemua istilah asing tersebut. Kegalauanitu bertambah lagi dengan runtuhnyabeberapa perusahaan besar di dunia dandi Indonesia yang mengakibatkan parapegawai kehilangan pekerjaan. Kegalauan yang terjadi di bidang perpustakaan sudah dimulai ketikapemanfaatan internet di masyarakatsemakin meluas. Informasi yang berlimpah di internet dapat menjadisaingan bagi sumber-sumber informasiyang dikelola perpustakaan. Pustakawanterus mengingatkan bahwa informasi diinternet banyak yang tidak benar, tetapimasyarakat, terutama generasi milenial,tetap saja menganggap bahwa informasiyang diperoleh melalui search engine adalahsegalanya. Satu dekade terakhir ini fakta dilapangan menunjukkan status perpustakaan sebagai pusat jasa informasisedang termarjinalkan. Menurut Flooddalam laporannya di majalah the Guardian (6 Desember 2019), negara Inggris telah menutup 773 perpustakaanumum sejak tahun 2010 karena pemerintah harus melakukan penghematan. Gauder (2011 dalam Li etal., 2019) menyampaikan bahwa pada OCLC Library Awareness 2010 (OCLC= Online Computer Library Center)memperlihatkan bahwa sangat sedikitorang yang menggunakan portal perpustakaan untuk mencari informasi(survei yang dilakukan tahun 2005menunjukkan hanya 1 %). Perpustakaan perguruan tinggi memiliki pengguna yang mempunyai keharusan untuk mencari informasi yangspesifik. Mahasiswa dituntut olehdosennya untuk mengerjakan tugas,membuat makalah dan menulis tugasakhir, yang semuanya memerlukan dukungan informasi yang berkualitas. Namun demikian bukan berarti perpustakaan perguruan tinggi pastidibutuhkan oleh penggunanya. The Ithaka Institute di Amerika Serikatmelakukan survei kepada dosen selamalebih dari tiga tahun mendapatkan bahwaidentifikasi pengguna terhadap perpustakaan sebagai portal informasisecara bertahap menurun selama surveiberlangsung (Long & Schonfeld, 2011dalam Li et al., 2019). Hasil kajian Harrington (2009 dalam Ince, 2018)menunjukkan mahasiswa pascasarjanacenderung bersandar pada teman-temandan pembimbingnya dari pada memintabantuan kepada pustakawan dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Kasus-kasus tersebut harus menjadiperingatan bagi pustakawan. Kenyataanitu semakin berat dengan masuknyakehidupan manusia pada era industri 4.0. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahuituntutan kebutuhan pengguna perpustakaan masa kini di era industri 4.0,terutama di perguruan tinggi; danmencoba memberikan saran untuk arahpengembangan perpustakaan perguruantinggi di era industri 4.0. Metode yangdigunakan merupakan studi literatur danobservasi pada web perpustakaan perguruan tinggi terkemuka di dunia. Perpustakaan dan Industri 4.0 Merujuk pada ciri-ciri industri 4.0 yangsangat kental keterkaitannya denganteknologi informasi perpustakaan tidakbisa tinggal diam. Perpustakaan tidakdapat hanya melakukan berbagai pekerjaan konvensional menghadapituntutan zaman yang telah berubahsangat jauh. Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) saja mengingatkan IPBmenghadapi era industri 4.0 sebagaiberikut: “Prestasi masa lalu IPB tak bisalagi membantu reputasi kita manakala kitatak mampu memberikan kontribusi konkrit saat ini dan masa mendatang”(Satria, 2019). IPB saja sebagai sebuahperguruan tinggi yang termasuk dalam lima besar perguruan tinggi di Indonesia,harus berhati-hati menghadapi eraperubahan ini, walaupun perguruan tinggimasih menjadi tumpuan generasi mudauntuk memperoleh kehidupan yang lebihbaik dengan menjadi sarjana. Bandingkandengan perpustakaan yang di perguruantinggi berfungsi sebagai unit pendukungberlangsungnya pendidikan, penelitiandan pengabdian pada masyarakat, yangdikenal sebagai Tridharma perguruantinggi, dimana masih ada orang yangberanggapan bahwa tanpa memanfaatkanperpustakaan orang dapat lulus dariperguruan tinggi. Dengan demikianperpustakaan di perguruan tinggi haruslebih berjuang untuk mempertahankaneksistensinya, perpustakaan harusberkontribusi secara konkrit kepadapenggunanya, bila tidak ingin ditinggalkanoleh penggunanya. Perpustakaan tidakdapat hanya mengandalkan layanan peminjaman buku, yang faktanya semakinsedikit buku yang dipinjam mahasiswa. Buku elektronik yang open access dapatdiunduh dari internet, dan gerakan openaccess para ilmuwan membuat semakianbanyak buku elektronik dapat diunduhmahasiswa dengan gratis. Penerbitpenerbit komersil besar pun sudahmenerbitkan buku dan jurnal open access. Cukup banyak mahasiswa yang mungkinlebih tahu dari pustakawan dimanamendapatkan sumber-sumber informasigratis untuk bidang ilmunya. Perpustakaan harus melakukan reformasi pada berbagai layanan yangdisediakan, melakukan berbagai inovasidengan berorientasi pada kebutuhanpengguna. Li et al. (2020) dalam penelitiannya di Perpustakaan WuhanUniversity, China, mencoba memperkenalkan konsep digital scholarship services. Banyak definisi tentang digital scholarship,diantaranya Kim (2016 dalam Li et al.,2020) mendefinisikan digital scholarshipsebagai lebih menyangkut pada penciptaan berbagai pendekatan danmetode untuk pembelajaran dan pencarian intelektual pada digitalplatforms. Selain itu Ayer (2013),Mitchem & Rice (2017) (dalam Li et al.,2020) mendefinisikan digital scholarshipsebagai berbagai peralatan, teknologi danmetode digital dalam mendukung semuabentuk kegiatan ilmiah. Digital scholarshipservices diharapkan lebih komprehensifdan sistematis dibandingkan denganlayanan scholarly communication, layanandata penelitian, layanan perpustakaandigital dan layanan dukungan subjek(Mitchem & Rice, 2017; Tzoc, 2016;Zhou et al., 2019 dalam Li et al., 2020). Hasil penelitian Li et al. (2020)menunjukkan tuntutan pengguna (dosendan mahasiswa) akan layanan di luarlayanan perpustakaan yang konvensional. Berikut ini sebagian dari layanan yangdituntut oleh para narasumber: metricanalysis untuk lebih dapat melihat topikyang akan diteliti; diharapkan perpustakaan dapat membantu penelitiuntuk mendapatkan mitra peneliti baikterkait dengan kepakaran tertentumaupun terkait dengan peralatan penelitian, seperti menunjukkan dimanalaboratorium yang memenuhi kriteriatertentu; dosen muda membutuhkan bantuan untuk membuat proposal penelitian dan informasi tentang sumbersumber dana penelitian; perpustakaandapat memberi contoh proposal yangtelah sukses mendapat sponsor penelitian; mengadakan pelatihan danmendukung pelaksanaan penelitian;perpustakaan mengorganisasikan training/workshop dengan mengundangdosen/peneliti yang telah sukses memperoleh dana penelitian; dan diwebsite perpustakaan perlu ada aplikasiuntuk sarana penelitian, ada video tentangpetunjuk menggunakan sarana penelitian. Hasil penelitian Li et al. menunjukkanperpustakaan dituntut memberikan layanandi luar layanan yang selama ini dilaksanakanoleh perpustakaan perguruan tinggi, sepertilayanan penelusuran informasi, mendiseminasikan informasi, tetapi lebih masuk ke proses penelitian dosen danmahasiswa. Wuhan University termasuk 10 universitas top di China. Penelitian Li etal. (2020) menyimpulkan pustakawan di Wuhan University Library masih kurangperhatian dan usahanya untuk mengertikebutuhan peneliti dalam mendapatkantopik penelitian yang tepat, belum bisamengidentifikasi mitra peneliti yangpotensial. Selain itu, peneliti di Wuhan University kurang percaya pustakawandapat mendukung proses penelitianmereka. Bila pustakawan di Wuhan University Library saja dianggap tidakdapat memenuhi tuntutan layanan perpustakaan masa kini, bagaimanadengan pustakawan di perguruan tinggi Indonesia? Padahal kemungkinan besarperpustakaan perguruan tinggi di Chinamendapat perhatian lebih besar dari pihakuniversitas, bila dilihat kemajuanteknologi di China sekarang ini luar biasa,bahkan dikatakan mungkin sudah mengalahkan Amerika Serikat. Kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi yang luarbiasa pastilah didukung oleh sumbersumber informasi yang baik, yang dikelolaoleh perpustakaan. Bandingkan denganperpustakaan perguruan tinggi di Indonesiadimana kebanyakan perpustakaan tidakmenjadi prioritas pimpinan perguruantinggi, terutama bila sudah terkait dengananggaran. Kembali soal tuntutan layanannon konvensional, seorang dosen di IPBmenyarankan Perpustakaan IPB mengadakan pelatihan menyusun proposal bagimahasiswa program sarjana. Walaupunsudah ada mata kuliah “Metode Penelitian” atau “Teknik Menulis Ilmiah”, namun mahasiswa masih perludibantu dengan pelatihan penyusunanproposal. Jadi tuntutan terhadap peranpustakawan perguruan tinggi untukmemberikan layanan di luar layanankonvensional itu nyata ada. Untuk itupustakawan perguruan tinggi perlubekerja sama dengan dosen untuk mengadakan pelatihan penyusunan proposal, dan pustakawan harus percayadiri bahwa setelah beberapa lama pustakawan mendampingi dosen dalampelatihan tersebut, pustakawan akanmampu mengadakan pelatihan tersebutsendiri. Pustakawan harus dapat menangkap kebutuhan pengguna masakini, harus berinovasi dan mau terusmelengkapi dirinya dengan pengetahuanyang tidak semata-mata terkait dengandunia kepustakawanan konvensional. Penelitian Ince (2018) pada layananmahasiswa pascasarjana sejumlah perpustakaan universitas di Amerika Serikatmemberikan beberapa rekomendasi layanan yang sebagian bersifat konvensional, antara lain seperti perluadanya modul-modul instruksional tentang berbagai layanan dan sumberdaya perpustakaan, video tutorial, FAQ(frequently asked questions) berhubungandengan pertanyaan-pertanyaan referensi,dan adanya “graduate services” di situsweb perpustakaan. Terkait situs webperpustakaan, Budzise-Weaver & Anders(2016 dalam Ince, 2018) berpendapatbahwa situs web perpustakaan diperlukanoleh mahasiswa pascasarjana sebagai entrypoint untuk memanfaatkan perpustakaan. Jadi penting sekali situs web perpustakaanmemberi informasi yang lengkap berhubungan dengan kebutuhan mahasiswa pascasarjana dan juga sivitasakademika lainnya. Dengan search engineakan diperoleh banyak sekali informasi diinternet, namun pustakawan dapat membantu penggunanya dengan menyaring sumber-sumber informasiyang valid, akurat dan relevan danmembuat link pada sumber informasitersebut di situs web perpustakaan. Dengan demikian pengguna akan sangatterbantu, karena menyaring sumberinformasi di internet memerlukan strategidan menghabiskan banyak waktu. Disamping itu Ince (2018) juga menyarankan agar para perpustakaanperguruan tinggi itu melaksanakanlayanan data penelitian termasuk pelatihan dan/atau panduan penelitian;training tentang riset meliputi strategimendapat informasi, manajemen data,aplikasi analisis data (perpustakaanmenyediakan berbagai aplikasi kuantitatif,kualitatif, dan Geographical Information System); tinjauan literatur; dan bagaimanamelakukan publikasi. Kembali terbuktibahwa perpustakaan dituntut untuk lebihmemberikan layanan yang terlibat langsung pada proses penyelesaianperkuliahan mahasiswa di perguruantinggi, yaitu dalam proses penyusunantugas akhir mahasiswa. Gambar 1. Layanan dukungan perpustakaan pada penelitian dan publikasi di Harvard University Library Sumber: https://library.harvard.edu/how-to/get-remote-support-research-publishing (diunduh 5 Juni 2020)Selanjutnya penulis mencoba memberikan ilustrasi nyata bagaimanaperguruan tinggi di negara maju telahmemberikan layanan yang sesuai dengantuntutan pengguna masa kini. Gambar 1menunjukkan halaman situs web HarvardLibrary yang mengumumkan kepada sivitas akademika Harvard Universityadanya layanan yang diberikan olehperpustakaan untuk mendukung prosespenelitian dan publikasi mereka. Harvard Library memberikan layanan “Connectwith Research Experts”; mengadakanberbagai workshop seperti “Introductionto NVivo for Mac”, “Preparing for Qualitative Field Work”, “Interview Skills”; “Find Existing Datasets and Sources”; “Storing and Sharing YourResearch”; dan lain-lain. Contoh layanan masa kini lainnya diambildari Peking University Library, sepertiterlihat pada Gambar 2. Peking University Library memberikan layanan“Research Support” seperti “LibraryWorkshop” dimana perpustakaan tersebut mengadakan workshop antaralain “document retrieval and utilization”,“database searching”, “academic writingand software application”; “Academic Frontier Tracing”; “Research Subjects Consultation”; “Disciplinary Open Data Navigation”; “Submitting Manuscripts”;dan lain-lain. Harvard University dan Peking University memang universitaspapan atas di dunia, mungkin ada yangberpendapat terlalu jauh membandingkanperguruan tinggi di Indonesia denganHarvard University atau Peking University. Namun demikian, perludiingat Bung Karno, Presiden pertama RIpernah berucap "Gantungkan cita-citamusetinggi langit! Bermimpilah setinggilangit. Jika engkau jatuh, engkau akanjatuh di antara bintang-bintang". Cita-citayang tinggi membuat kita bersemangatuntuk mencapainya. Gambar 2. Layanan dukungan perpustakaan pada penelitian di Peking University Library Sumber: https://www.lib.pku.edu.cn/portal/en (diunduh 5 Juni 2020)Gambar 3. Layanan dukungan perpustakaan pada penelitian di University of Malaya, Malaysia Sumber: https://umlibguides.um.edu.my/researchguide/manuscript (diunduh 27 Juni 2020)Penulis mencoba melihat perpustakaanperguruan tinggi di negara tetangga, yaitu University of Malaya, universitasperingkat ketiga di Asia Tenggara. Padasitus web University Malaya sudah adahyperlink “Research Support”, meliputi“Liaison Librarians”; “Librarian inResearch Methodology”; “Research Guides”; “Deposit in UM Research Repository”; “APA Formatting & Style Guide”; dan “Research Tools”. Gambar3 merupakan bagian dari “ResearchGuides”, yaitu “Publishing Your Manuscript”. Perpustakaan University of Malaya membantu sivitas akademikamendapatkan berbagai jurnal di bidangilmunya, mengecek status jurnal untukmempublikasikan hasil penelitiannya,mengecek impact factor jurnal, dan lain-lain. Perpustakaan-perpustakaan di bawahperguruan tinggi yang termasyhur memang memiliki fasilitas pendukungyang sangat baik, namun di era open accessini cukup banyak sumber-sumber informasi tidak berbayar yang dapatdimanfaatkan selama pustakawannyatekun terus menelusuri sumber-sumberyang tersedia. Layanan data penelitian sekarang inisudah semakin banyak dilaksanakan di perpustakaan perguruan tinggi di negaranegara maju. Gambar 4 menunjukkansitus web layanan data penelitian di Columbia University Libraries, Amerika Serikat dan Gambar 5 situs web layanandata penelitian di the University of Manchester Library, Inggris. Pengelolaandata penelitian ini sangat bermanfaat bagikemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan juga menyebabkan penghematan dana dan waktu untuk pelaksanaan penelitian. Beberapa dosenIPB menyatakan bahwa data hasil penelitian yang disimpan dalam databaseakan sangat berguna bagi pengembanganilmu pengetahuan. Data yang dihasilkansaat ini, pada lima atau sepuluh tahun kedepan mungkin dengan kemajuan teknologi yang lebih canggih, ketikadiolah lagi akan dapat menghasilkankesimpulan yang lebih baik dari yangdihasilkan saat ini (Sujana et al., 2019). Dapat dibayangkan seperti di IPB sajasetiap tahun menghasilkan sekitar 4000an lulusan, artinya ada sekitar 4000-andata penelitian telah dihasilkan. Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada tentunya lebih banyak lagijumlah lulusan yang dihasilkan, mengingat jumlah mahasiswa kedua perguruan tinggi itu jauh lebih banyakdari jumlah mahasiswa IPB. Bayangkanseberapa besar manfaat bisa diperolehdari data yang begitu banyak, terlebihsekarang ini memang era big data. Data hasil penelitian di Indonesia barudikumpulkan oleh Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sebenarnya telahkeluar Undang-Undang Nomor 11 Tahun2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dimana pada Pasal 40 disebutkan “Pemerintah Pusatmenetapkan wajib serah dan wajib simpan atas seluruh data primer dankeluaran hasil Penelitian, Pengembangan,Pengkajian, dan Penerapan”. Wajib serahdan wajib simpan data hasil penelitian ituwajib dilakukan oleh Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimanaperguruan tinggi termasuk di dalamnya. Perpustakaan perguruan tinggi di negaranegara maju berupaya menjagaeksistensinya di perguruan tingginyadengan berbagai cara, termasuk dalammengelola data penelitian sivitasakademikanya. Perpustakaan perguruantinggi di Indonesia juga harus berjuangkeras meyakinkan pimpinan perguruantinggi bahwa perpustakaan mampu mengelola data hasil penelitian. Perpustakaan sudah terbiasa mengeloladatabase katalog koleksi, dan belakanganini juga mengelola repositori. Jadipustakawan pasti bisa juga mengeloladatabase data hasil penelitian. Gambar 4. Layanan data penelitian di Columbia University Libraries, Amerika Serikat Sumber: https://library.columbia.edu/services/research-data-services.html (diunduh 29 Mei 2020) Gambar 5. Layanan data penelitian di University of Manchester Library, Inggris Sumber: https://www.library.manchester.ac.uk/using-the-library/staff/research/research-data-management/ (diunduh 29 Mei 2020)Di era industri 4.0 perpustakaan perlumenyediakan coworking space, tempat yangnyaman untuk mahasiswa dan dosen bekerja menghasilkan inovasi yangmenjadi tuntutan era industri 4.0. Namundemikian, perpustakaan janganlah bergembira bila hanya dijadikan coworkingspace. Pada awal bulan Maret 2020, karena IPB harus melakukan efisiensi makaPimpinan IPB memutuskan Perpustakaan IPB hanya buka selama jamkerja kantor, tidak ada ekstra jam layanan. Pengambil keputusan mungkin berasumsibahwa informasi sekarang ini dapatdiakses dari mana saja, sehingga perpustakaan jam bukanya dikurangi puntidak jadi masalah. Ternyata penguranganjam layanan itu diprotes oleh mahasiswa. Mereka membuat petisi yang ditandatangani oleh hampir 1000 mahasiswa. Muncul berbagai komentar di mediasosial, seperti “save perpustakaan”, “pak Rektor tesis saya tidak cepat selesai kalauperpustakaan tutup pk 16”, dan lain-lain. Apakah itu menandakan perpustakaansangat dibutuhkan oleh mahasiswa? Halitu benar untuk perpustakaan sebagaicoworking space. Pustakawan perlu berpikirbila perpustakaan hanya sebagai coworkingspace, apakah pustakawan diperlukan? Sebagai catatan pada kasus di Perpustakaan IPB, layanan di luar jamkerja kantor dapat dikatakan bahwakebanyakan pemustaka bekerja mandiriatau datang untuk meminjam atau mengembalikan buku. Kalau perpustakaan hanya sebagai coworkingspace, mungkin anak-anak lulusan Sekolah Menengah Atas atau lebih tepatnya anakanak Sekolah Menengah Kejuruanberbasis teknologi informasi cukup untukmenjaga coworking space. Masalah yangmungkin sering muncul adalah mahasiswa komplain komputernya erroratau sambungan internetnya lamban. Pustakawan harus lebih berperan dalammembantu mahasiswa agar mahasiswamendapat informasi akurat, valid danrelevan. Pustakawan harus dapat membuat mahasiswa literat informasi,walaupun ternyata di era industri 4.0tuntutan pengguna lebih dari itu. Dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapikehidupan yang semakin kompetitif di eraindustri 4.0, Menteri Pendidikan,Kebudayaan, Riset dan Teknologi telahmenetapkan program kampus merdeka,dimana mahasiswa selama 3 semesterdapat belajar di luar program studinya. Mahasiswa dapat belajar di perguruantinggi lain, magang/praktik kerja, kuliahkerja nyata tematik, kegiatan wirausaha, asistensi mengajar di satuan pendidikan,dan lain-lain. Perpustakaan perguruantinggi harus bersiap menghadapi kebijakan tersebut. Program kampusmerdeka tersebut membuat perpustakaanharus memikirkan pengaksesan informasidari luar kampus, tanpa mahasiswa datangke perpustakaan. Apakah peraturan yangselama ini dianut oleh banyak perpustakaan bahwa untuk meminjambuku tercetak mahasiswa yang bersangkutan harus datang langsung keperpustakaan, tetap berlaku? Sebenarnyadengan adanya pandemi covid 19 perpustakaan sudah berlatih untukmenyelenggarakan layanan secara daring,tinggal menetapkan bahwa layanan secaradaring akan menjadi kebiasaan baru diperpustakaan. Selama pandemi ini pengembalian buku-buku tercetak yangdipinjam mahasiswa dikembalikan melalui pos atau layanan paket dengankurir, begitu juga dengan pengirimantugas akhir tercetak (tentunya bagiperguruan tinggi yang masih memberlakukan pengumpulan hard copy tugasakhir mahasiswa). Dengan demikian,apakah peminjaman buku tercetak dapatdilakukan tanpa mahasiswanya datang keperpustakaan, karena yang bersangkutansedang kuliah atau bekerja di daerah yangjauh dari perguruan tinggi aslinya? Apakah perpustakaan sebaiknya sudahmem-percayai bahwa buku-buku yangdikirim melalui layanan paket dengankurir akan sampai dengan selamat? Bukankah akhir-akhir ini masyarakat telahterbiasa membeli baju, sepatu, bahkanbarang-barang elektronik secara daringdan barang pesanan diantar oleh layananpaket dengan kurir? Perpustakaan perluterus berubah, beradaptasi dengan zamanyang telah jauh berubah. Merujuk pada arah kecenderungan kegiatan sivitas akademika yang semakinkuat ke arah berbasis digital, perpustakaanperguruan tinggi perlu meninjau kebijakan pengembangan koleksinya. Porsi pengadaan buku teks, jurnal,prosiding, sumber-sumber informasireferensi, dan lain-lain dalam formatdigital tentunya menjadi lebih dominan. Dari proses pengadaannya bahan perpustakaan digital ini lebih mudah dancepat, tidak perlu menunggu pengirimansecara fisik, namun pustakawan harusmempelajari produk yang ditawarkanpihak vendor dengan cermat. Selain itusosialisasi penggunaan bahan perpustakaan digital perlu dilakukan secaraintensif melalui panduan baik berupa teksataupun video, yang dapat diakses olehsivitas akademika setiap saat. Pemantauanpemanfaatan koleksi digital perludilakukan terus menerus, agar dana yangtelah dikeluarkan tidak mubazir. Perpustakaan dan Big Data Big data merupakan salah satu ciridari industri 4.0. Big data dapat menjadicara baru melihat dunia secara lengkapberdasarkan pengumpulan sebanyak mungkin fakta dan data untuk membuatkeputusan. Semakin banyak data diperoleh, semakin mengurangi ketidakpastian, dan lebih memungkinkanmencipta pengetahuan dengan nilai yanglebih. Narendra (2015) mengatakankarakteristik big data terletak padavolume, velositas, dan varietas serta value. Qian et al. (2015 dalam Li et al., 2019)menyatakan bahwa dengan big data,himpunan data dapat membawa pada penemuan pengetahuan baru. Bagaimana dengan big data di perpustakaan? Perpustakaan kaya akanbig data. Menurut Li et al. (2019) padapengelolaan digital library perpustakaanmemiliki informasi registrasi pengguna,informasi perilaku pengguna (sepertisejarah browsing, temu kembali informasidan yang diunduh), informasi tentanginteraksi pengguna, dan berbagai catatantentang perilaku pengguna di jaringaninternet (logs) lainnya. Dengan menganalisis data pengguna dan mengkombinasikan dengan informasisosial pengguna di web, perpustakaanbisa melakukan analisis yang lebihlengkap dan akurat tentang kebiasaan membaca, perilaku pemanfaatan sumberdaya, dan penggunaan jaringan. Era bigdata memungkinkan untuk mengerti danterhubung dengan pengguna secara penuh. Interaksi diantara penggunadengan perpustakaan tidak hanya memenuhi kebutuhan informasi pengguna, tetapi juga memberikan secarakontinu lebih banyak sumber daya pengguna ke perpustakaan. Dengan mengeksploitasi sumber daya pengguna,perpustakaan digital dapat mempunyaiperspektif yang lebih luas pada pembangunan sumber daya data. Terkaitdengan digital library, pemikiran big dataakan memfasilitasi inovasi manajemendan layanan (Zeng, 2014 dalam Li et al.,2019). Gao (2015 dalam Li et al., 2019)menyatakan lingkungan big data membutuhkan perubahan dalam pemikiran manjemen perpustakaan, darimanajemen sumber daya ke manajemendata. Sementara itu beberapa pakar mengusulkan reformasi perpustakaan dimasa lingkungan big data dilaksanakanpada 3 aspek yaitu pembangunan sumberdaya, penerapan teknologi dan layananperpustakaan. Untuk pembangunan sumber daya diperlukan untuk memperluas cakupan sumber daya. Padaaplikasi teknologi, teknologi semantikharuslah menjadi fokus perhatian, aplikasiteknologi pengklusteran haruslah diperkuat, teknologi analisis dataseharusnya digunakan secara luas,teknologi temu kembali seharusnyadiperbaiki. Terkait dengan layanan,layanan perpustakaan digital haruslahdiperkaya dengan merubah berbagailayanan dari model pasif ke model yanglebih proaktif, otomatis, dan personalisasi(Su, 2015 dalam Li et al., 2019). Banyakperpustakaan perguruan tinggi telahmengelola repositori institusinya, sebuahbig data yang sangat luar biasa bila dapatmengolah datanya. Terlebih bila perpustakaan dipercaya juga mengeloladata hasil penelitian institusinya akanmembuat perpustakaan sebagai pusat bigdata yang lebih dibutuhkan oleh sivitasakademikanya. Perpustakaan dan Media Sosial Menghadapi pengguna yang kebanyakan generasi milenial, perpustakaan dituntut memanfaatkan medialsosial. Media sosial sangat bermanfaatuntuk menyebarkan berbagai informasikarena dapat menyebar dengan cepat. Perpustakaan IPB dengan mudah mengumumkan pelatihan e-resourceskepada mahasiswa pascasarjana melaluiWhatsapp dengan pihak Forum Mahasiswa Pascasarjana. Forum itumempunyai jaringan komunikasi denganpara mahasiswa pascasarjana melalui Whatsapp. Pengumuman yang ditempeldi perpustakaan tidak efektif, tidak dapatmenjangkau mahasiswa dalam jumlahbanyak. Lam et al. (2019) melakukan penelitian tentang penggunaan Facebookdi perpustakaan-perpustakaan universitasdi Hongkong. Penelitian ini mengamati“Like”, “Comments” dan “Shares” menjadiukuran keberhasilan berkomunikasi melalui Facebook. “Like” menyatakan apresiasi dariusers, dapat mengukur popularitas;“Comments” cara aktif untuk berinteraksidengan users, dapat mengukur komitmen;dan keviralan diukur dengan jumlah“Shares”. Facebook menyediakan kesempatan yang luar biasa untuk perpustakaanberinteraksi dengan penggunanya secaramendalam, alat pemasaran bagi perpustakaan perguruan tinggi, terutamauntuk promosi acara-acara yang diadakanperpustakaan. Hasil penelitian Lam et al. (2019), begitu juga Al-Daihani & Abrahams(2018), Joo et al. (2018) (dalam Lam et al.,2019) menunjukkan bahwa kata-kata yangpersonal seperti ucapan “selamat”, “terimakasih” dan pesan-pesan inspiratif lainnyamenyebabkan keterkaitan pengguna dengan perpustakaan. Untuk mendoronglebih banyak respon dan untuk memberikesan bersahabat dengan pelanggan, pustakawan disarankan menghindaribahasa formal yang berlebihan, lebihmenampilkan pesan-pesan yang manusiawiatau yang menyentuh perasaan secarapositif seperti pesan-pesan yang memberisemangat menjelang periode mahasiswaujian dan pemberian ucapan selamatmenjelang wisuda para lulusan. Menurut Garcia-Milian et al. (2012 dalam Lam etal., 2019) postingan video membantumenarik lebih banyak followers. Pemanfaatan Facebook dianggap sangat efektif untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Seorangdosen IPB mengatakan bahwa belakangan ini beliau dengan cepatmendapatkan artikel jurnal dari Facebookkomunitasnya. Sebelumnya beliau meminta bantuan dari mantan mahasiswanya yang sedang melanjutkanstudi di perguruan tinggi di luar negeri,tetapi sekarang ini lebih cepat mendapatkan artikel yang dibutuhkanmelalui Facebook. Perpustakaan dianggap kurang dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Pustakawan Di Era Industri 4.0 Berbicara tentang perpustakaan diera industri 4.0 tentunya harus dilengkapijuga pembahasan pustakawan di eraindustri 4.0. Pratama (2018) mengatakanbahwa 3 literasi utama yang harus dimilikipustakawan di era revolusi industri 4.0adalah literasi digital, literasi teknologi,dan literasi manusia. American Library Association (2013 dalam Techataweewan& Prasertsin, 2018) mendefinisikanliterasi digital sebagai kemampuanmenggunakan teknologi informasi dankomunikasi untuk mendapatkan, mengevaluasi, menciptakan dan mengkomunikasikan informasi, membutuhkan keterampilan kognitif danteknis. Techataweewan & Prasertsin(2018) dari hasil penelitiannya kepadamahasiswa Thailand program sarjanamendefinisikan literasi digital sebagaisekumpulan kemampuan memanfaatkandan sadar akan informasi, teknologi danmedia digital untuk melakukan penelusuran, mengevaluasi, mencipta danmengkomunikasikan sesuai kebutuhan. Definisi itu mengkombinasikan literasiteknologi informasi dan komunikasi danliterasi informasi. Terkait dengan literasiteknologi, Maryland State Department of Education (2005 dalam Nasution, 2018)mendefinisikan lilterasi teknologi sebagaikemampuan untuk menggunakan, memahami, mengatur, dan menilai suatuinovasi yang melibatkan proses dan ilmupengetahuan untuk memecahkan masalahdan memperluas kemampuan seseorang. Literasi manusia adalah kemampuanberkomunikasi dan penguasaan ilmudesain (Aoun, 2017 dalam Pratama, 2018). Menurut penulis ada satu lagi literasi yang harus dikuasai juga olehpustakawan, mengingat di era industri 4.0pustakawan harus banyak berurusandengan data, yaitu literasi data. Burress,Mann, & Neville (2020) mendefinisikanliterasi data adalah kemampuan untukmengakses, menilai, memanipulasi,meringkas dan menyajikan data. Literasidata dapat dianggap sebagai manifestasibaru dari literasi informasi di era big data. Li et al. (2019) menyarankan pustakawanperlu mempunyai keahlian statistika, ilmukomputer dan ilmu informasi. Narendra(2015) juga berpendapat bahwa di era bigdata pustakawan dituntut untuk dapatmenganalisis data dan banyak bersentuhan dengan penguasaan teknologi informasi. Terkait keahlian statistika, tahun2019 seorang dosen IPB mengatakan iabaru kembali dari Malaysia mengikutipelatihan statistika di sebuah universitasyang diadakan oleh perpustakaan universitas tersebut. Yang menarik dosenitu mengatakan bahwa pada hari pertamapelatihan, dimana materi pelatihan yangdiajarkan merupakan statistika yangsederhana, yang mengajar adalah pustakawan. Baru pada hari kedua dimanamaterinya statistika yang lebih kompleksyang mengajar seorang dosen. Pustakawan masa kini harus menguasaistatistika, walaupun yang sederhana.
Conclusion
Mempelajari berbagai artikel jurnal,situs web berbagai perpustakaan perguruan tinggi dan sumber-sumberinformasi lainnya, apa yang telah dilakukan oleh pustakawan di negaranegara lain sudah jauh melangkah. Perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia masih berkutat dengan literasiinformasi, sedangkan tuntutan penggunadi era industri 4.0 sudah ke literasi digital,literasi teknologi dan literasi data. Perpustakaan perguruan tinggi di eraindustri 4.0 tidak hanya memberi layananpenyediaan informasi, tetapi dituntutuntuk lebih berpartisipasi pada prosespenelitian sivitas akademika perguruantingginya dari awal sampai hasil penelitianitu dipublikasikan. Perpustakaan perguruan tinggi Indonesia diharapkanmengharuskan pustakawannya untuk terus meningkatkan keterampilan literasiinformasi, literasi digital, literasi teknologidan literasi data. Berbagai pelatihan perludilakukan untuk menigkatkan kompetensipustakawan agar mumpuni dalam memenuhi tuntutan pengguna di perguruan tinggi di era industri 4.0. Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI), Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia(ISIPII) dan Perpustakaan Nasional RIdiharapkan bekerja sama mendukung penyelenggaraan berbagai pelatihan yangdapat meningkatkan kompetensi pustakawan di era industri 4.0. Kurikulumpendidikan formal di berbagai jurusan atauprogram studi ilmu perpustakaan daninformasi diharapkan juga disesuaikandengan perkembangan kebutuhan masyarakat di era industri 4.0, sehinggalulusannya dapat menjadi pustakawan yanghandal yang dapat memenuhi tuntutanpengguna di era industri 4.0. Perpustakaanperguruan tinggi Indonesia perlu terusberjuang mempertahankan eksistensinya,meyakinkan pimpinan perguruan tinggibahwa perpustakaan dapat diandalkanmenjadi mitra yang mendukung sivitasakademika menghasilkan inovasi yangmenjadi salah satu tuntutan di era industri4.0. Bila memperhatikan kiprah pustakawan-pustakawan muda di Indonesia, penulis optimis bahwa perpustakaan perguruan tinggi Indonesiadapat diandalkan dalam mendukung perguruan tinggi di era industri 4.0.