KIAT MERAWAT KOLEKSI PERPUSTAKAAN
N/A
Introduction
bahan pustaka tersebut terutama buku umumnya merupakan jenis koleksi terbanyak di sebagian besar perpustakaan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat saat ini, menyebabkan koleksi yang dimiliki perpustakaan cepat bertambah, bahkan tidak hanya dalam bentuk tercetak namun juga dalam bentuk tidak tercetak. Koleksi tersebut cepat atau lambat akan mengalami kerusakan karena berbagai penyebab. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan pelestarian, sehingga kandungan informasi yang tersimpan dapat dilestarikan dan didayagunakan semaksimal mungkin. Pada umumnya kerusakan buku disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama, yakni faktor lingkungan dan faktor manusia. Kerusakan buku yang disebabkan faktor lingkungan meliputi: tempat penyimpanan buku yang tidak memenuhi syarat, temperatur yang tinggi, kelembaban yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, cahaya langsung sinar matahari maupun lampu TL, pencemar udara, debu serta kotoran lainnya, serangga, jamur. dan binatang pengerat, bencana alam seperti banjir, gempa dan kebakaran. Sedangkan faktor manusia meliputi: kualitas kertas yang kurang baik, kesalahan dalam proses pengolahan (salah penanganan), mutu jilidan yang kurang baik, teknik penyimpanan yang kurang baik serta buku terlalu sering dipakai/ dipinjam. Cara merawat buku yang baik adalah dengan melakukan pencegahan kerusakan, sehingga kerusakan buku dapat dihambat maupun dicegah sedini mungkin. Tujuan pelestarian adalah mengusahakan agar koleksi selalu tersedia dan siap pakai dengan cara melestarikan bentuk fisik dan atau melestarikan informasi yang dikandung dengan cara alih media. Ada beberapa kiat merawat koleksi yang sebaiknya dan sangat mungkin dilakukan oleh setiap perpustakaan secara teratur dan berkelanjutan, yaitu: 1. MENCEGAH KERUSAKAN KARENA FAKTOR LINGKUNGAN Ruangan tempat menyimpan koleksi memiliki temperatur dan kelembaban udara yang ideal untuk koleksi perpustakaan adalah 20°-24° C dan 45°-60% RH juga bebas dari debu. Keadaan ini dapat diatasi dengan penggunaan AC secara terus menerus. Namun tidak semua perpustakaan mampu memasang AC seperti itu, dan seringkali AC dihidupkan pada saat layanan dibuka saja, akibatnya temperatur dan kelembaban ruangan tidak stabil dan justru mempercepat kerusakan koleksi. Bila penggunaan AC tidak memungkinkan maka untuk menurunkan temperatur udara hendaknya dibuatkan ventilasi yang sempurna. Sedangkan untuk mengurangi kelembaban udara dapat digunakan dehumidifier pada ruangan tertutup dan silicagel untuk menurunkan kelembaban udara dalam lemari atau filing cabinet. Untuk menghilangkan debu dapat dipasang alat pembersih udara (air cleaner). Secara teratur temperatur dan kelembaban diukur dengan menggunakan alat pengukur temperatur dan kelembaban seperti thermohygrometer, thermohydrograph dan psychrometer. Koleksi jangan terkena sinar secara langsung/pantulan, baik sinar matahari maupun lampu TL karena sinar ultra violet yang dipancarkan dapat merusak koleksi. Oleh karena itu letak koleksi jangan terlalu dekat dengan jendela. Agar sinar tidak secara langsung mengenai koleksi, maka perlu dihalangi gorden atau filter untuk mengurangi radiasi matahari. Susunan buku di rak jangan terlalu rapat, sehingga sirkulasi udara dapat berlangsung dengan baik. Di sela-sela buku perlu diletakkan bahan-bahan yang berbau untuk mengusir serangga seperti kamfer, naftalen, paradichloro atau PBC. Kondisi ini akan memperhambat tumbuh kembangnya jamur maupun serangga. Sebaiknya untuk serangga dari luar maka buku yang baru diterima perpustakaan dilumasi fungisida dahulu. Rak/lemari tempat menyimpan buku sebaiknya terbuat dari bahan anti serangga dan anti karat, dengan ukuran yang dapat menampung semua ukuran buku (khusus-nya macam-macam tinggi buku). Buku-buku yang berukuran besar serta tebal sebaiknya direbahkan di atas rak untuk menghindari kerusakan secara fisik. Kerusakan akibat bencana alam khususnya gempa maupun banjir berkaitan erat dengan konstruksi gedung perpustakaan itu sendiri. Perencanaan gedung perpustakaan yang baik tentunya sudah memper-timbangkan kondisi-kondisi tersebut di atas. Tindakan preventif untuk mencegah kebakaran adalah: Kabel listrik harus diperiksa secara berkala. Bahan yang mudah terbakar sebaiknya diletakkan jauh dari koleksi Adanya larangan merokok di ruang perpustakaan Alarm seperti smoke detector harus dipasang dan senantisa diaktifkan untuk mendeteksi dengan cepat gejala kebakaran Letakkan alat pemadam kebakaran yang berisi gas karbon dioksida pada setiap sudut ruangan yang mudah dijangkau dan berikan penyuluhan kepada seluruh staf perpustakaan tentang prosedur penggunaannya. 2. MENCEGAH KERUSAKAN KARENA FAKTOR MANUSIA Manusia merupakan faktor perusak koleksi perpustakaan yang cukup besar. Maka hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi tingkat kerusakan koleksi adalah sebagai berikut: Memberikan saran kepada penerbit mengenai kualitas kertas yang digunakan sebaiknya tidak terlalu asam, sehingga mudah rusak Penyuluhan tentang cara memegang, menyimpan dan mengambil buku dari dan ke rak kepada petugas maupun pengguna-na perpustakaan. Buku sebaiknya ditata berdiri, kecuali untuk buku yang berukuran terlalu tinggi atau terlalu lebar serta hindarkan penyim-panan buku dengan punggung di atas, karena teks buku akan terlepas dengan sampulnya. Penyimpanan buku di rak jangan terlalu penuh dan padat, sebanyak-banyaknya 2/3 bagian luasan rak, hal ini untuk menghindari gesekan antar buku pada saat diambil atau disimpan. Penyuluhan tentang bagaimana cara membuka dan menutup serta menandai halaman-halaman buku yang diminati kepada petugas fotokopi maupun penggu-na perpustakaan. Penyuluhan kepada petugas penjilidan, tentang prinsip-prinsip menjilid buku sehingga tidak merusak/menghilangkan kandungan informasi di dalamnya, dan pemilihan bahan-bahan penjilidan (lem, karton, dsb) yang baik dan benar. Buku yang baru dibeli sebaiknya disam-pul/dilaminasi dengan sampul plastik, untuk mengurangi gesekan secara fisik. Buku yang banyak dipinjam, sebaiknya dijilid ulang dengan menggunakan hardcover dan sampul plastik. Harga buku saat ini semakin melambung dan semakin tidak terjangkau untuk dibeli, oleh karena itu pencegahan kerusakan buku baru khususnya perlu selalu dilakukan. Bukankah perpustakaan juga berkewajiban melestarikan sumbersumber informasi yang dimilikinya? (SUM)