PERAN PERPUSTAKAAN UMUM BAGI MASYARAKAT : STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UMUM DI BALI
Universitas Pendidikan Ganesha; Universitas Pendidikan Ganesha
Abstract
This study aims to (1) identify problems faced by public libraries in its development, (2) identify public library management system in Bali; (3) identify various programs developed in public libraries. This research is conducted by using qualitative research methods so that the target of this study is not on measurement, but on the understanding of social phenomena from the perspective of the participants or according to the perspective of emik. The results show that the common problems faced by public libraries are as follows: library buildings that are less representative; Lack of human resources / librarians; lack of library operational funds; job placement uncertainty. Public library management system is almost the same in every library, which distinguishes the allocation of funds disbursed by local governments. While the programs developed in public libraries include: mobile library; story telling; cross-service collection; rare library search; and special services.
Keywords:
public library
· management
· flagship program
Introduction
Indonesia selalu menduduki posisi yang jauh dari memuaskan dalam setiap survey yang dilakukan berbagai lembaga survey terkait dengan minat baca. Survei terbaru yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univeristy tentang The Most Literate Nation in The World menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke 61 dari 62 negara yang dilibatkan dalam survey. Indonesia hanya satu langkah lebih maju dari Botswana sebagai negara yang literat. Adapun komponen yang dinilai dari survey tersebut salah satunya adalah kepemilikan sumber daya di perpustakaan di setiap negara. Kondisi ini tentu kurang bisa diterima, mengingat Indonesia memiliki jumlah perpustakaan yang cukup banyak dan tersebar di hampir seluruh negeri. Perpustakaan yang gampang ditemui di mana pun adalah perpustakaan umum, karena di setiap kota provinsi dan kabupaten/kota sudah memiliki perpustakaan. Bahkan setiap perpustakaan umum sudah menggagas perpustakaan kecamatan, kelurahan/desa. Perpustakaan umum juga memiliki perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat di pelosok agar bisa mengakses informasi sama seperti masyarakat di perkotaan. Untuk mendukung layanan kepada masyarakat, Perpustakaan Nasional RI secara berkala memberikan bantuan agar layanan yang diberikan perpustakaan umum semakin luas jangkauannya. Bantuan yang diberikan pun sangat beragam mulai dari bantuan pengembangan perpustakaan digital nasional, paket e-library, block grant, perangkat keras dan lunak untuk otomasi bagi seluruh perpustakaan umum di Indonesia termasuk di Bali. Meskipun dukungan yang diberikan sudah cukup banyak baik secara moril dan material, namun kondisi perpustakaan umum di setiap kabupaten/kota masih jauh dari ideal dan belum bisa dinikmati semua orang. Dari 10 perpustakaan umum yang ada di Bali, belum semua perpustakaan umum memiliki layanan deposit koleksi daerah (Perpusnas, 2011), padahal dalam UU RI No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 22 mencantumkan perpustakaan umum sebagai pendukung pelestarian hasil budaya daerah masingmasing. Selain itu layanan pada perpustakaan umum belum optimal dilihat dari masih rumitnya proses keanggotaan di perpustakaan umum dan minimnya kunjungan ke perpustakaan.Hal ini menyebabkan masyarakat masih enggan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar dan pusat rekreasi. Padahal perpustakaan umum adalah sumber jawaban atas segala pertanyaan faktual masyarakat (IFLA, 2011). Bahkan perpustakaan umum sering diibaratkan sebagai universitasnya masyarakat, mengingat keluasan informasi yang ditawarkan perpustakaan umum (Akporabore, 2011). Bertitik-tolak dari kondisi ini, penelitian ini mencoba untuk mencari tahu masalah yang dihadapi perpustakaan umum dalam pengembangannya, system pengelolaan dan jenis-jenis layanan yang dikembangkan di setiap perpustakaan umum kabupatan/kota di provinsi Bali serta program-program yang dikembangkan dalam rangka meningkatkan jumlah pengunjung dan anggota perpustakaan di daerah masing-masing. Penelitian ini juga akan menelusuri berbagai upaya yang dilakukan setiap perpustakaan umum dalam mempromosikan layanan yang dimiliki. Dengan demikian penelitian ini sangat penting untuk mengatasi permasalahan perpustakaan umum
Method
Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan metode penelitian kualitatif (Musthafa, 2002). Karena itu, sasaran penelitian ini bukan pada pengukuran, melainkan pada pemahaman terhadap fenomena sosial dari perspektif para partisipan atau menurut perspektif emik. Hal ini sesuai dengan asumsi dasar yang berlaku pada paradigma fenomenologi yang melandasi metode penelitian kualitatif yang menyatakan bahwa apapun yang dilakukan oleh aktor dalam kehidupan bermasyarakat maupun interaksi mereka dalam suatu lembaga sangat tergantung pada pemaknaan mereka tentang sesuatu. Dengan demikian, jika peneliti ingin memahami suatu perilaku, maka pemahaman dari sudut pandang sang aktor atas apa yang mereka lakukan – pemahaman emik, menjadi mutlak adanya. Mereka adalah pelaku sehingga merekalah yang paling faham atas apa yang mereka lakukan. Pemahaman orang luar – pemahaman etik hanya bersifat melengkapi (Spradley, 1997; Strauss dan Corbin, 2003; Zamroni, 1992). Pemaknaan sesuatu berkaitan dengan kebudayaan yang mereka miliki, mengingat bahwa kebudayaan tidak sekedar resep bertindak, tetapi juga pemberi makna terhadap tindakan sang aktor (Geertz, 1998). Karena itulah, penelitian kualitatif pada dasarnya juga bersifat pengungkapan latar belakang budaya atau alasan maknawi dari tindakan aktor dalam suatu jaringan.
Result & Discussion
Perpustakaan Umum di Bali tersebar di 8 kabupaten dan 1 kota madya dan 1 perpustakaan umum provinsi. Dari kesepuluh perpustakaan umum yang ada di Bali, masing-masing perpustakaan memiliki gedung tersendiri dan mengembangkan berbagai program unggulan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, keberadaan perpustakaan tidak begitu mendapatkan perhatian sehingga kondisinya jauh dari ideal. Kondisi ini berakibat pada kurang optimalnya layanan perpustakaan kepada pemustaka.. Di bawah ini akan dijabarkan berbagai penyebab kurang optimalnya layanan di setiap perpustakaan umum yang tersebar di provinsi Bali. 1. Gedung Perpustakaan yang Kurang Representatif Sebagian besar gedung perpustakaan umum di Bali sudah memiliki gedung perpustakaan untuk melayankan berbagai koleksinya. Namun sebagian besar kondisi gedung perpustakaan belum memadai dalam hal fasilitas dan ketersediaan gedung itu sendiri. Rata-rata gedung perpustakaan umum sudah tua dan dalam kondisi rusak parah. Lihat saja gedung perpustakaan umum kabupaten Bangli pada gambar di bawah ini. Gambar 1. Lingkungan di Sekitar Perpustakaan Umum Bangli dan Kondisi Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Bangli yang Bocor di Sana-Sini Saat Musim Hujan Pada saat penulis berkunjung dan melakukan wawancara ke perpustakaan Umum Bangli, kebetulan saat itu sehabis turun hujan. Lokasi perpustakaan yang berada di tengah-tengat pasar menyulitkan pemustaka untuk menemukannya. Hal ini dikarenakan minimnya tempat parker serta gedung perpustakaan ini berdiri di antara puluhan pedagang sehingga kesan perpustakaan tidak terlihat di awa kunjungan. Perbaikan pasar memperparah keadaan, material bangunan berserakan di mana-mana sehingga menyulikan pengunjung untuk berjalan kea rah perpustakaan. Bagi pengunjung yang kali pertama datang ke sana, perlu perjuangan untuk tiba di lokasi perpustakaan karena tidak ada plang/papan petunjuk atau informasi yang menunjukkan bahwa ada perpustakaan di tempat tersebut. Keberadaan perpustakaan keliling milik perpustakaan yang diparkir di pinggir jalan dekat pasar tidak membantu pengunjung menemukan lokasi perpustakaan, karena perpustakaan keliling ada di pinggir jalan raya sementara gedung perpustakaan ada di lantai dua jauh dari jalan raya. Lorong yang kumuh dan becek menjadi kesan pertama pengunjung ketika berkunjung ke perpustakaan ini. Gedung yang sudah tua dan kurang terurus menyebabkan perpustakaan umum Kabupaten Bangli terlihat kumuh dan kotor. Menurut Bapak Suwitra, salah satu pegawai perpustakaan di sana bahwasannya ada wacana gedung perpustakaan umum Bangli akan dipindahkan ke tempat lain. Namun wacana itu sudah digulirkan sejak dulu dan belum terlaksana hingga sekarang. Menurut pimpinan beliau, pihak kabupaten sedang mencarikan tempat yang cocok untuk perpustakaan. Hal serupa disampaikan oleh hampir seluruh pegawai. Mereka percaya bahwasannya gedung tersebut dibiarkan rusak karena mereka akan segera diberikan gedung baru oleh pemerintah daerah. Kondisi gedung perpustakaan umum kabupaten Bangli tidak jauh berbeda dengan kondisi perpustakaan umum Kabupaten Gianyar. Meskipun berdiri di pusat kota, perpustakaan ini sangat jauh dari kondisi ideal. Kesan pertama ketika berkunjung ke perpustakaan ini kurang begitu bagus. Di jalan pintu masuk ke perpustakaan sangat kotor di mana sampah berserakan di sana-sini padahal lokasi perpustakaan ini berada di pusat pemerintahan. Selain kondisi perpustakaan yang kotor dan kumuh, penulis harus kecewa pada kunjungan pertama karena pada saat itu perpustakaan sedang tutup meskipun hari itu merupakan hari kerja. Yang penulis temui saat itu adalah tulisan yang tertempel pada pintu masuk, menginformasikan bahwasannya seluruh pegawai perpustakaan sedang menghadiri undangan. (Gambar 2 kiri). Gedungnya yang sempit hanya bisa menampung pegawai perpustakaan saja. Meja baca yang sedianya diperuntukkan bagi pemustaka yang datang membaca, terpaksa dipergunakan petugas untuk mengolah buku (Gambar 2 bawah kanan). Kondisi gedung yang sangat sempit tidak memungkinkan untuk menampung seluruh pegawai dinas perpustakaan. Hal ini memaksa pihak Dinas Perpustakaan menyewa bangunan di lokasi berbeda sebagai kantor bagi pegawai yang tidak bertugas di layanan perpustakaan. Gambar 2. (Kiri) Perpustakaan Umum Kab. Gianyar Tutup karena Seluruh Karyawan Menghadiri Undangan Pernikahan; (Kanan) Meja Baca Yang Diletakkan di Sudut Timur Ruangan Difungsikan Sebagai Meja Pengolahan Sekaligus Meja Pelestarian Koleksi yang Rusak, Sementara Meja Diletakkan Berhimpitan sehingga Pemustaka Harus Hati-Hati Ketika Memilih Koleksi 2. Kurangnya SDM/ Pustakawan Pustakawan dalam UU no. 43 tahun 2007 adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dengan beraneka fungsi perpustakaan, pustakawan memiliki bermacam tugas kepustakawanan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, peran perpustakaan tidak lagi terbatas sebagai tempat menyimpan buku, tapi sudah mengarah kepada kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan kemasyarakatan. Saat ini peran perpustakaan sudah berkembang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Keberadaan pustakawan sangat pentiNg di sebuah perpustakaan karena pustakawan tidak hanya sekedar profesional di setiap perputakaan rata-rata hanya ditemui 2 orang pustakawan yang menangani begitu banyak tugas-tugas kepustakawanan. Bahkan ada perpustakaan yang sama sekali tidak memiliki pustakawan. Hal ini menyebabkan petugas yang kebetulan mengemban pekerjaan pustakawan hanya mengerjakan pekerjaan rutin tanpa ada program-pprogram yang mendukung peningkatan minat baca masyarakat. 3. Minimnya Dana Operasional Perpustakaan Minimnya dana operasional perpustakaan.menjadi salah satu faktor penyebab kurang optimalnya layanan di perpustakaan umum. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan perpustakaan pada pemerintah daerah, sehingga mereka tidak bisa dengan leluasa mengadakan koleksi. Hal ini menyebabkan perpustakaan tidak bisa mengembangkan koleksi dan berbagai program rutin secara maksimal. 4. Ketidakpastian Penempatan Kerja Perpustakaan umum berada di bawah pemerintah daerah kabupaten sehingga penempatan pegawai menjadi tanggung jawab Badan Kepegawaian Daerah. Minimnya tenaga pustakawan menyebabkan manajemen penempatan pegawai di perpustakaan tidak berbeda dengan unit lain di bawah PEMDA. Ketika ada rolling/sirkulasi pegawai, staf yang bekerja di perpustakaan tidak luput dari proses tersebut. Hal ini menyebabkan menyebabkan keengganan pegawai perpustakaan untuk belajar tentang perpustakaan. 5. Pengadaan Koleksi Pengelolaan perpustakaan selalu diawali dengan pengadaan koleksi dan dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan atau proses lainnya. Pengadaan koleksi di masing-masing perpustakaan memiliki system pengadaan yang berbeda. Hal ini disertai dengan kebijakan pendanaan yang berbeda-beda juga baik dari segi kuantitas maupun kebijakan koleksi yang diadakan. Pendanaan yang berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya sangat tergantung dari dana yang dialokasikan oleh bagian keuangan Pemda. Perpustakaan yang mendapatkan alokasi dana cukup banyak akan mampu menyelenggarakan banyak kegiatan kepustakawanan guna meningkatkan minat baca dan jumah kunjungan ke perpustakaan. Namun perpustakaan yang memiliki pendanaan terbatas hanya bisa melakukan kegiatan kepustakawanan rutin di dalam perpustakaan. 6. Pengolahan Koleksi Koleksi merupakan salah satu kekuatan perpustakaan, untuk itu sebisa mungkin perpustakaan mengolah bahan pustakanya agar mudah ditemukembalikan. Keterbatasan sumber daya manusia seringkali dijadikan alasan kurang maksimalnya pengolahan bahan pustaka, namun perpustakaan yang memiliki sedikit tenaga fungsional pustakawan atau yang tidak memiliki pustakawan sama sekali mengakali keterbatasan keterampilan pengolahan koleksi dengan alur yang mudah diikuti oleh seluruh staf perpustakaan. 7. Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan Kegiatan rutin pustakawan dan pegawai perpustakaan adalah pelayanan kepada pemustaka yang meliputi layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan bimbingan pembaca dan pembinaan perpustakaan desa, perpustakaan sekolah dan perpustakaan komunitas. Selain layanan kepada masyarakat, perpustakaan umum bertanggung jawab melakukan pembinaan terhadap berbagai jenis perpustakaan di wilayahnya. Perpustakaan sekolah adalah salah satu perpustakaan yang wajib dibina perustakaan umum kabupaten/kota. Dari hasil wawancara dengan beberapa kepala sub bidang pembinaan dan pelayanan, diketahui bahwa sekolah wajib memiliki perpustakaan dan perpustakaan umum berkewajiban membina agar perpustakaan sekolah berjalan dengan baik untuk memastikan siswa memperoleh akses kepada bahan bacaan. Tugas pembinaan perpustakaan sekolah termasuk menyiapkan pihak sekolah untuk mewakili kabupaten dalam mengikuti lomba perpustakaan tingkat sekolah baik sekolah menengah pertama maupun tingkat atas. Perpustakaan umum tingkat kabupaten bertanggung membina sekolah yang mewakili kabupaten dalam lomba tingkat provinsi yang diselenggarakan dan dinilai oleh Dinas Perpustakaan dan Arisp Provinsi Bali. Apabila sudah terpilih perpustakaan sekolah terbaik di tingkat provinsi, maka dinas perpustakaan dan arsip provinsi bertanggung jawab membina sekolah yang akan mewakili provinsi di tingkat nasional. Selain perpustakaan sekolah, perpustakaan umum tingkat kabupaten/kota juga membina perpustakaan desa yang tersebar di seluruh Bali. Tugas dinas perpustakaan dalam pembinaan perpustakaan desa tidak jauh berbeda dengan ketika membina perpustakaan sekolah. Bedanya perpustakaan desa melayani pemustaka dari segala usia dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan yang beragam. Menurut Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan Kota Denpasar Ibu Ni Wayan Purnamiasih, bahwasannya kegiatan di perpustakaan desa belum terlaksana secara optimal. Buku-buku koleksi perpustakaan desa belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Menurut Ibu Purnamiasih, kemungkinan dikarenakan buku-buku koleksi milik perpustakaan desa tidak boleh dipinjam untuk dibawa dan dibaca di rumah. Selama ini koleksi perpustakaan desa di Kota Denpasar hanya boleh dibaca di tempat. Ketika ditanyakan mengenai hal ini, Ibu Purnamiasih menyatakan bahwa pihak desa khawatir buku-buku tersebut akan hilang sehigga koleksi perpustakaan yang sangat sedikit akan habis dipinjam warga. Padahal harapan pemerintah desa dengan adanya perpustakaan desa bisa mengundang warga untuk datang membaca ke perpustakaan. Seperti perpustakaan sekolah, perpustakaan desa juga dilombakan sehingga pemenang di tingkat kabupaten akan mewakili kabupatan/kota untuk berlomba di tingkat provinsi dan seterusnya pemenang tingkat provinsi akan mewakili Bali di tingkat nasional. Lain di Denpasar, lain pula di kabupaten Buleleng. Salah satu perpustakaan desa yang mewakili provinsi Bali di tingkat nasional membolehkan warga untuk meminjam buku untuk dibawa pulang dan dikembalikan pada waktu yang sudah ditentukan. Perpustakaan desa yang mewakili provinsi Bali ke tingkat nasional adalah perpustakaan desa Patas di Kabupaten Buleleng. Selain memberikan layanan bahan pustaka, perpustakaan desa Patas melaksanakan kegiatan pendidikandan pelatihan kepada masyarakat desa Patas. Perpustakaan desa Patas menyediakan kursus Bahasa Inggris dan Tari kepada warga yang berminat menguasai keterampilan-keterampilan tersebut. selain kegiatan kemasyarakatan, perpustakaan desa Patas juga memiliki perpustakaan keliling yang dijalankan dengan motor, dan berkeliling desa untuk melayankan berbagai koleksi yang dimiliki. Selain kegiatan pendidikan dan pelatihan, perpustakaan desa juga menginisiasi berbagai program keberaksaraan untuk menambah wawasan warga terkait dengan keterampilan tertentu. Halnya perpustakaan desa di Buleleng, perpustakaan desa di kabupaten lain seperti Tabanan, Gianyar, Bangli dan Jembrana tidak jauh berbeda dengan Buleleng, Badung dan Denpasar. Di Kabupaten Jembrana, perpustakaan desa Melaya menyelenggarakan layanan literasi media bagi warga yang akan menikah. Di desa Melaya, calon pengantin diberikan nasihat pranikah untuk mencegah terjadinya konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk keprihatinan tingginya angka perceraian di Kabupaten Jembrana. Selain perpustakaan sekolah dan desa, dinas perpustakaan dan arsip kabupaten/kota juga melakukan pembinaan ke perpustakaan khusus yang berada di bawah institusi tertentu seperti perpustakaan dinas kesehatan, dinas kelautan, dinas kebudayaan, dan lain sebagainya Gambar 3 (Kiri) Perpustakaan Nelayan Desa Benoa Binaan Perpustakaan Umum Kabupaten Badung; (Kanan) Pembinaan Perpustakaan Khusus Melalui Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Kesehatan di Kabupaten Bangli 8. Program-Program Unggulan Perpustakaan Umum Peran Perpustakaan Umum di abad 21 sudah berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Perpustakaan umum tidak hanya terbatas pada koleksi dan layanan kepada pemustaka (Chan, 2015), namun peran perpustakaan umum sudah meluas menjadi sebuah tempat di mana masyarakat bisa berkumpul untuk belajar dan berdiskusi terkait berbagai isu yang sedang berkembang secara global. Bahkan perpustakaan umum menurut Chan (2015) mengarah pada pengembangan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Masyarakat yang berbasis pengetahuan mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk meningkatkan kesejahteraan. Di bawah ini akan dipaparkan tentang berbagai program yang dikembangkan perpustakaan umum yang ada di Bali dalam upaya mewujudkan masyarakat berpengetahuan melalui layanan perpustakaan. Berbagai layanan yang akan dipaparkan berikut ini merupakan program unggulan yang tetap berlangsung di masing-masing perpustakaan umum kota/kabupaten meski dukungan finansial sangat minim. Program-program tersebut antara lain. 9. Perpustakaan Keliling Program yang dijalankan hampir di semua perpustakaan umum di Bali adalah perpustakaan keliling. Mobil yang digunakan sebagai perpustakaan keliling merupakan sumbangan dari Perpustakaan Nasional RI. Program layanan perpustakaan keliling bertujuan mendekatkan bacaan kepada masyarakat yang sulit mendapatkan akses ke perpustakaan. Durasi layanan perpustakaan keliling ditentukan oleh alokasi dana yang dimiliki masing-masing perpustakaan. Perpustakaan yang memiliki alokasi dana operasional besar, memiliki jadwal perpustakaan yang lebih sering dibandingkan dengan perpustakaan yang minim pendanaan. Bahkan perpustakaan umum kota Denpasar memiliki 2 unit mobil perpustakaan keliling. Salah satunya adalah sumbangan bapak walikota Denpasar saat ini, Ida Bagus Rai Mantra. Menurut Ibu Made Manik, pustakawan perpustakaan umum Kota Denpasar bahwasannya dengan 2 unit perpustakaan keliling memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menikmati layanan perpustakaan. Hal ini diamini oleh Ibu Purnami yang turut mendampingi Ibu Manik selama wawancara. Layanan perpustakaan keliling Kota Denpasar tidak hanya beroperasi di wilayah Denpasar. Layanan pusling Kota Denpasar beroperasi 2 kali seminggu di hari sabtu dan minggu. Hari sabtu mereka akan mendatangi sekolah-sekolah di wilayah Kota Denpasar sementara hari minggu akan mangkal di kantor desa atau lapangan desa. Di hari-hari khusus seperti bencana alam, ulang tahun kabupaten lain, pameran, dan acara lainnya, perpustakaan keliling Denpasar akan melayani masyarakat di tempat lain di luar Denpasar. Contohnya ketika masyarakat Karangasem berbondong-bondong mengungsi karena status awas Gunung Agung, perpustakaan keliling Kota Denpasar datang ke pos-pos pengungsian untuk menghibur para pengungsi dengan menghadirkan 1300an koleksi termasuk kegiatan kepustakawanan lainnya seperti mewarnai, mendongeng dan lain sebagainya. Bahkan Ibu Purnami selaku Kabid Layanan terjun langsung memberikan layanan perpustakaan keliling ke kamp-kamp pengungsian. Koleksi yang dibawa dari Denpasar tidak hanya menarik minat pengungsi tapi sekaligus menghibur relawan yang sudah lelah bekerja membantu para pengungsi. Hal ini sebagai wujud advokasi perpustakaan kepada pihak yang sedang mengalami bencana alam (Akparobore, 2011). 10. Story Telling Perpustakaan umum secara umum merancang berbagai program untuk mendorong minat baca masyarakat. Program tersebut direncanakan untuk dilaksanakan selama setahun setiap tahunnya. Program yang hampir diselenggarakan oleh semua perpustakaan umum kabupaten/kota adalah kegiatan story telling. Kegiatan story telling di beberapa perpustakaan menjadi program rutin dengan mendatangkan siswa TK dari berbagai kecamatan. Kegiatan mengundang siswa TK memberikan keuntungan karena mampu mendatangkan para orang tua siswa TK dan mengajak mereka membaca di perpustakaan. 11. Layanan Silang Layan Koleksi Perpustakaan Perpustakaan umum kota Denpasar memiliki layanan Silang Layan koleksi Perpustakaan. Sebelum mengikuti program silang layan, pegawai perpustakaan umum akan meminjamkan koleksinnya kepada sekolah-sekolah di lingkungan kota Denpasar. Selanjutnya buku-buku yang disebar di sekolah-sekolah akan disilanglayankan dengan koleksi-koleksi di beberapa sekolah. Kegiatan ini secara rutin dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Menurut penuturan Ibu Purnami yang menduduki posisi Kabid Layanan dan Pembinaan Perpustakaan mengatakan bahwa kegiatan silang layan koleksi dilakukan setiap dua minggu sekali. Setiap dua minggu ada 16 sekolah di Kota Denpasar yang ikut dalam program silang layan perpustakaan. Sebanyak 400 buku milik perpustakaan umum Kota Denpasar dirolling ke 16 sekolah setiap 2 minggunya. Melalui kegiatan ini, Perpustakaan umum Kota Denpasar berharap agar minat baca anak sekolah terus terbangun dengan adanya koleksi yang selalu baru. Program ini sekaligus membantu sekolah yang memiliki dana terbatas dalam pengadaan koleksinya. Silang layan koleksi juga melayani perpustakaan desa, bedanya koleksi yang ditempatkan di desa-desa tidak boleh dipinjamkan. Masyarakat yang ingin membaca harus datang ke perpustakaan desa dan membaca di tempat. Kondisi seperti ini merupakan masukan dari kepala desa mengingat warga yang datang ke kantor desa biasanya hanya pada saat-saat khusus sehingga kemungkinan lupa mengembalikan buku yang dipinjam sangat besar. Dengan bacaan tersebut, warga desa diharapkan memiliki keberanian untuk berinovasi di bidangnya masingmasing sehingga hidup mereka akan lebih mudah dengan kesempatan yang lebih luas. Dengan pengetahuan yang lebih luas tentang perkembangan dunia luar khususnya teknologi, warga desa akan lebih terbuka pikirannya dan ini akan mengarah pada keterampilan literasi informasi warga yaitu bersikap lebih kritis. Dengan keterampilan berpikir kritis, maka warga akan bisa menjadi warga negara yang lebih baik dan dapat mendukung pembangunan desa khusunya dan secara umum mendukung pembangunan nasional. 12. Penelusuran Pustaka Langka Undang Undang RI No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 22 mencantumkan perpustakaan umum sebagai pendukung pelestarian hasil budaya daerah masing-masing. Hasil budaya bisa berupa seni, budaya, bahasa, hukum dan ilmu pengetahuan lokal yang sifatnya unik dan khas. Perpustakaan dalam menjalankan fungsi kulturalnya harus mengupayakan pelestarian nilai-nilai kebudayaan di wilayahnya. Selain menyimpan arsip, perpustakaan umum di Bali sudah mulai mendokumentasikan hasil budaya lokal seperti lontar dan manuskrip (naskah kuno) di perpustakaan. Perpustakaan dalam hal ini bekerja sama dengan instansi terkait seperti Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Perpustakaan lontar, Badan Bahasa dan masyarakat. Untuk memuluskan program ini, perpustakaan umum melaksanakan pelatihan preservasi naskah kuno di perpustakaan untuk melatih masyarakat umum bagaimana cara menjaga dan melestarikan lontar mereka agar tidak rusak. Tujuannya agar pengetahuan yang diwariskan leluhurnya tidak hilang karena kerusakan fisik lontar. Kegiatan ini juga sebagai ajang penyadaran untuk masyarakat agar mengijinkan pihak berwenang ikut melestarikan isi atau kandungan pengetahuan lontar mereka. Caranya adalah dengan meminjamkan lontar masyarakat untuk disalin pihak perpustakaan. Perpustakaan juga menerima lontar masyarakat untuk disimpan di perpustakaan apabila pemiliknya meraka tidak sanggup menjaga keutuhan lontar tersebut. Program penelusuran pustaka langka dengan mengadakan kegiatan pelatihan preservasi lontar merupakan peran sosial perpustakaan umum. Peran sosial terlihat dari pemanfaatan perpustakaan umum sebagai public space dan tempat bertemunya komunitas tertentu dalam kegiatan yang digagas perpustakaan umum. Secara tidak langsung kegiatan tersebut mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Apabila kegiatan seperti ini secara konsisten dilakukan, masyarakat akan semakin peduli terhadap kekayaan budaya lokal mereka dan dampak jangka panjangnya akan memberi kesadaran pada masyarakat akan pentingnya mengeksternalisasikan berbagai pengetahuan lisan mereka agar bisa menjadi warisan kekayaan kebudayaan Bali. 13. Layanan Khusus Program unggulan lain dari perpustakaan umum adalah program layanan khusus. Mengingat perpustakaan umum dikenal sebagai perpustakaan milik semua orang, maka perpustakaan umum bertanggung jawab melayankan koleksi ke siapa saja dan di mana saja. Untuk mendukung demokratisasi layanan (Cossette, 2009), perpustakaan umum juga memiliki program layanan ke tempattempat khusus seperti ke tempat ibadah, rumah tahanan/lembaga pemasyarakatan (LP), tempat pengungsian, dan lain sebagianya. Perpustakaan umum kabupaten Bangli, Gianyar dan Kota Denpasar memiliki program khusus mengantarkan koleksi ke LP-LP yang ada di wilayahnya. Dalam wawancara dengan Ibu Sang Ayu Nyoman Budiari, pegawai perpustakaan umum kabupaten Bangli bahwasannya layanan untuk para narapidana juga khusus. Khusus karena bukubuku yang dilayankan di sana bisa dipinjam dalam waktu tertentu. Selain itu, narapidana juga diijinkan untuk memesan buku yang ingin dibaca. Buku yang dipesan akan dibawakan pada layanan minggu berikutnya. Waktu peminjaman dibatasi selama satu minggu. Menurut wawancara dengan beberapa staf perpustakaan umum kabupaten Bangli, bahwasannya para narapidana memiliki pengetahuan buku yang cukup baik. Hal ini terbukti dari buku-buku yang direquest oleh mereka adalah buku-buku baru yang berkualitas dan biasanya harganya mahal. Hal ini menyebabkan tidak semua permintaan para narapidana bisa dipenuhi. Hanya koleksi yang tersedia di perpustakaan yang akan dibawakan kepada para napi. Layanan yang diberikan perpustakaan umum kepada para narapidana membuktikan bahwa perpustakaan umum memberikan akses kepada semua pihak (access for all). Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan UNESCO bahwa semua orang bagaimana pun kondisinya berhak atas akses informasi. Para napi sebagai warga masyarakat yang tidak bisa memanfaatkan layanan di luar LP, dimudahkan aksesnya dengan didatangi oleh pihak perpustakaan. Selain layanan ke LP-LP, perpustakaan umum juga melayankan koleksinya ke tempat-tempat ibadah, istana presiden dan institusi lain seperti Kodim. Layanan ke tempat ibadah dilaksanakan saat ada upacara-upacara besar seperti piodalan, mlaspas, dan lain sebagainya. Salah satu pura yang rutin dijadikan tempat layanan perpustakaan adalah di Pura Batur, Kintamani. Pura ini merupakan Kahyangan Jagat di mana ketika ada piodalan, hampir seluruh umat Hindu di Bali datang sembahyang ke sana. Momen ini dijadikan ajang promosi minat baca dan literasi informasi oleh perpustakaan umum untuk membiasakan masyarakat untuk mengisi waktu senggang dengan membaca. Biasanya warga membaca di sela-sela rehat makan siang sambil menunggu ritual berikutnya mulai dilaksanakan. Menurut Ibu Sang Ayu, minat masyarakat di tempat ibadah sangat besar untuk membaca. Koleksi yang dilayankan di tempat ibadah mayoritas bukubuku tentang keagamaan ditambah dengan buku-buku popular lainnya. Sementara koleksi yang dilayankan di Istana Tampak Siring, Kodim, dan tempat lainnya menyesuaikan dengan minat dan kebutuhan pemustaka di tempat-tempat tersebut. Dari program layanan khusus yang dicanangkan oleh perpustakaan umum menunjukkan bahwa pihak perpustakaan sangat serius menggarap minat baca dan literasi informasi masyarakat.