Kembali
16
1
2020 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 8 · 2 ISSN 2549-1334

LIBRARIAN AND REPOSITORY DATA

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman pustakawan tentang repositori data yang meliputi manfaat, keterlibatan pustakawan dalam pengelolaan repositori dan implementasi repositori. Penelitian ini menyurvei pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang berlokasi di Jakarta, Bogor, Cibinong, dan Serpong dengan menyebarkan 45 pertanyaan kuesioner, namun kuesioner yang dikembalikan hanya sebanyak 36. Data ditabulasi dan dianalisis menggunakan grafik/diagram. Responden penelitian adalah perempuan (61,1%) dan laki-laki (38,9%). Pendidikan terbanyak adalah S1 (50%), masa kerja terbanyak adalah antara 20-30 tahun (38,9%), dan lokasi kerja terbanyak adalah di Jakarta (70,6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden berlatar belakang S1 dan yang bekerja di Jakarta memiliki pemahaman tertinggi tentang repositori (69%). Pustakawan yang terbanyak terlibat dalam pengelolaan repositori adalah mereka yang berpendidikan S1 dan berasal dari Jakarta (52%). Responden yang terlibat dalam sosialisasi repositori data sebanyak 47%, dan yang tidak terlibat adalah 44%. Sebanyak 44% responden menyatakan bahwa repositori data sudah diimplementasikan dan sisanya 56% menyatakan belum diimplementasikan. Kesimpulan penelitian bahwa sebagian besar responden paham tentang repositori data terutama mereka yang berpendidikan S1, dan berlokasi di Jakarta. Repositori data belum diimplementasikan dengan sempurna karena kurangnya sosialisasi ke peneliti dan rendahnya kepercayaan mereka tentang repositori data
Keywords: Pustakawan · Repositori data · LIPI

Introduction

Repositori data adalah istilah digunakan untuk penyimpanan data. Namun, banyak pakar teknologi informasi (TI) menggunakan istilah ini lebih khusus untuk merujuk pada jenis pengaturan tertentu dalam struktur TI secara keseluruhan, seperti sekelompok database, di mana perusahaan atau organisasi telah memilih untuk menyimpan berbagai jenis data. Beberapa ahli merujuk ke repositori data sebagai partisi data, di mana tipe data yang dipartisi disimpan bersama. Ini juga biasa disebut data warehousing (Technopedia, 2019). Repositori data adalah salah satu tempat berbagai jenis data yang disimpan secara bersama-sama, namun dipisahkan oleh database atau wadah lainnya Repositori data adalah penyimpanan data, juga dikenal sebagai perpustakaan data atau arsip data. yang diisolasi, dan dikumpulkan untuk pelaporan dan analisis data. Repositori data adalah infrastruktur database besar guna mengumpulkan, mengelola, dan menyimpan set data untuk analisis, berbagi, dan pelaporan data (Brook, 2018). Selanjutnya (Laurie A. Schintler & McNeel, 2017) mengatakan bahwa repositori data menyimpan dataset dan menyediakan akses ke pengguna. Konten yang disimpan dan dilayani oleh repositori data termasuk warisan data digital, kumpulan data digital terlahir, dan katalog data. Standar skema dan pengidentifikasi metadata memungkinkan pelestarian jangka panjang data penelitian serta antarmuka yang dapat diakses mesin di antara berbagai repositori data. Seperti diketahui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah melakukan reorganisasi lembaga. Hal itu dapat diketahui dari Perka Kepala LIPI No 1 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2019). Salah satu yang susunan organisasi yang berubah adalah Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah yang berubah menjadi Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah, dengan tugas utamanya adalah melaksanakan pengelolaan data, informasi dan dokumentasi ilmiah dan non ilmiah. Data adalah salah satu jenis repositori seperti yang disebutkan dalam penelitian (Newton dkk., 2011), yang menyatakan bahwa ketika konteks koleksi perpustakaan telah bergeser ke repositori institusi yang salah satunya adalah berupa data, dan peran pustakawan adalah membangun koleksi data digital yang diproduksi secara lokal oleh setiap institusi/kampus. Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah sejauh mana pemahaman pustakawan terkait pengelolaan repositori data? Oleh karena itu yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia selaku pengelola terhadap pengelolaan repositori data.

Method

Penelitian dilakukan menggunakan metode studi pustaka dan survei melalui pengisian kuesioner oleh sebanyak 45 orang responden pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang ditugaskan di daerah Jakarta, Bogor, Cibinong, dan Serpong yang dipilih secara purposive sampling. Penyebaran survei dilakukan secara online dengan menggunakan google form dan dikirimkan melalui alamat email masing-masing responden. Beberapa responden yang tidak terbiasa dengan google form mengisi data secara manual, kemudian data hasil pengisian kuesioner dipindahkan ke google form. Pertanyaan survei dirancang sesuai dengan hasil penelitian dari (Okoye & Ejikeme, 2011). Data tentang jenis kelamin, jenis pendidikan, masa kerja pustakawan, masa kerja responden menurut masa kerja dan pendidikan, pemahaman repositori pustakawan menurut lokasi kerja, pemahaman repositori menurut tingkat pendidikan, pengertian tentang repositori data, pemahaman repositori dari pustakawan menurut masa kerja, pemahaman pustakawan menurut lokasi kerja, manfaat repositori data, keterlibatan dalam pengelolaan repositori, keterlibatan didalam pengelolaan repositori data berdasarkan latar belakang pendidikan, keterlibatan pustakawan PDDI – LIPI didalam pengelolaan repositori data berdasarkan lokasi asal kerja, implementasi repositori, pemahaman tentang hak cipta ditabulasi dalam bentuk tabel dan dianalisis menggunakan grafik/diagram.

Result

Dari 45 kuesioner yang dikirimkan kepada semua pustakawan LIPI, kuesioner yang terisi dan dikembalikan kepada peneliti adalah 36 kuesioner. Di bawah dapat dilihat hasil kuisioner. Jenis Kelamin dan Pendidikan Responden Tabel 1. Responden Pustakawan menurut Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Laki-laki 14 Perempuan 22 Jumlah 36 Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui jenis kelamin pustakawan yang terbanyak adalah perempuan yaitu 61,1 % perempuan dan laki- laki 38,9 %. Hal ini menunjukkan bahwa profesi pustakawan lebih diminati oleh perempuan. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan (Mulyadi, 2019), bahwa pustakawan perempuan lebih banyak karena pekerjaan pustakawan lebih berhubungan dengan pelayanan dan masyarakat. Pada tabel 2 di bawah dapat dilihat responden yang terbanyak adalah pustakawan dengan pendidikan S1 adalah persentase terbesar yaitu 50%, disusul oleh pustakawan yang berpendidikan Pascasarjana. Berpendidikan Sekolah Menengah Atas atau SMA masih 13,9 persen dan yang berpendidikan D3 ada sekitar satu orang. Ini sesuai dengan program pemerintah yang sekarang lebih mengutamakan menerima ASN yang minimal berpendidikan Sarjana, dan tidak menerima lagi yang berijazah SMA. Tabel 2. Jumlah Responden menurut Jenis Pendidikan Jenis Kelamin Pendidikan Jumlah D3 S1 S2 SMA Laki-laki 1 10 0 3 14 Perempuan 0 8 12 2 22 Jumlah 1 18 12 5 36 Pustakawan Menurut Lokasi Kerja Gambar 1. Tempat Bekerja Responden PDDI- LIPI Dari gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa data pustakawan LIPI yang terbanyak adalah di Jakarta yaitu 70,6 %, diikuti oleh Cibinong 20,6 % dan seterusnya. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan sebagian besar pustakawan PDDI LIPI bekerja di kantor pusat PDDI LIPI Jakarta. Pemahaman Pustakawan Mengenai Repositori Data Gambar 2. Pemahaman Responden Pustakawan PDDI tentang Repositori Data Dari gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar pustakawan PDDI – LIPI sudah memahami tentang repositori data, yaitu 69 %. 22 % kurang paham, hanya sebagian kecil 6 % yang sangat paham dan yang tidak paham sebanyak 3 %. Tingkat pemahaman responden pustakawan selaku pengelola dan petugas layanan data sangat penting mengingat para pustakawan khususnya pustakawan kawasan akan mendampingi peneliti di dalam mengelola data penelitiannya. Tingkat pemahaman responden yang paham akan repositori 69 % di dapat dari hasil kegiatan bimtek dan sosialisasi sebelumnya yang diadakan oleh PDDI – LIPI kesetiap kawasan kepustakaan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membekali pustakawan pengetahuan mengenai pengelolaan data penelitian melalui fasilitas Repositori Ilmiah Nasional (RIN), yang kemudian para pustakawan ini akan di tugaskan melaksanakan kegiatan sosialisasi ke peneliti dan lembaga penelitian terkait manajemen data penelitian. Sesuai menurut Shearer (2016), Manajemen data penelitian mencakup beragam kegiatan di seluruh penelitian siklus data. Secara umum, ini membutuhkan interaksi tingkat tinggi dengan para peneliti dan yang juga bekerja bersama dengan layanan pendukung lainnya termasuk layanan teknis dan petugas penelitian. Untuk itu di perlukan pelatihan pengelolaan data penelitian (RDM) bagi pustakawan termasuk pengetahuan beberapa bidang spesifik terkait pengelolaan data penelitian yang memerlukan pengetahuan dan keahlian khusus atau spesifik. Pemahaman repositori menurut Tingkat Pendidikan Tabel 3. Pemahaman Responden Mengenai Repositori menurut Tingkat Pendidikan Pendidikan Pemahaman Mengenai Repositori Tidak paham Kurang paham Paham Sangat paham Jumlah D3 0 0 1 0 1 S1 0 3 14 1 18 S2 0 2 9 1 12 SMA 1 3 1 0 5 Jumlah 1 8 25 2 36 Berdasarkan tabel 3 diatas, dapat dilihat sebagian besar responden pustakawan dari jenjang pendidikan D3 sampai dengan S2 paham mengenai Repositori Data, sementara pada tingkat pendidikan SMA atau pustakawan terampil yang tidak paham masih banyak. Untuk itu di perlukan peningkatan pengetahuan pustakawan agar dapat memahami tentang repositori data, dari segala jenjang pendidikan atau tingkat fungsional pustakawan, baik mereka terlibat langsung atau pun tidak di dalam pengelolaan repositori data. Hal ini sesuai apa yang dikatakan (Iffah Budiningsih dkk., 2017) bahwa pelatihan intervensi akan memberikan sistem pengembangan karir karyawan dan kemajuan perusahaan/organisasi jika pelatihan dikelola secara sistematis dan berkelanjutan. Pemahaman Repositori dari Pustakawan menurut Masa Kerja Gambar 3. Pemahaman Responden Pustakawan PDDI Terhadap Repositori Data Menurut Masa Kerja Berdasarkan gambar 3 diatas yang terbanyak atau tertinggi adalah responden pustakawan yang berusia antara 20 sampai dengan 30 tahun. Berdasarkan umur responden, mereka adalah generasi milenial, yang sudah sangat akrab dengan dunia digital. Seperti dikatakan oleh (Shearer, 2016) perubahan peran pustakawan sebagai pengelola repositori data membutuhkan tingkat kemampuan Informasi Teknologi yang Tinggi. Dan generasi milenial sebagian besar sudah akarab dengan dunia TIK dan memanfaatkannya di keseharian baik untuk hal pribadi, bekerja, dan Pendidikan. Tabel 4. Pemahaman Mengenai Repositori Pada Responden Pustakawan Menurut Lokasi Kerja Pemahaman Kerja Lokasi Kerja Bandung Bogor Cibinong Jakarta Jumlah Kurang 1 0 1 6 8 Paham 1 3 4 17 25 Sangat paham 0 1 1 0 2 Tidak 0 0 0 1 1 Jumlah 2 4 6 24 36 Pada tabel 4 terlihat bahwa yang paling paham tentang repositori adalah pustakawan yang berasal dari lokasi kerja yaitu Jakarta, karena sebagian besar responden pustakawan PDDI – LIPI adalah berlokasi di Jakarta yaitu 70,6 %. Akan tetapi hampir di setiap di lokasi kerja ada pustakawan yang kurang paham untuk itu perlu dilakukan sosialisasi yang intensif di lingkungan pustakawan PDDI LIPI mengenai Repositori Data dan dan Pengelolaannya. Manfaat Repositori Data Gambar 4 . Pengetahuan Mengenai Manfaat Repositori Data Berdasarkan gambar 4 diatas dapat dilihat bahwa 69,4% pustakawan PDDI mengetahui tentang manfaat repositori data, 25 % kurang mengetahui tentang repositori data dan sisanya 6 % sangat mengetahui. Sebagian besar responden atau pustakawan sangat mengetahui tentang manfaat repositori data. Untuk itu perlu di lakukan sosialisasi kembali ke pustakawan LIPI untuk meningkatkan pemahaman akan manfaat repositori data penelitian. Keterlibatan dalam Pengelolaan Repositori Data Gambar 5. Keterlibatan Responden Pustakawan dalam Pengelolaan Repositori Data Berdasarkan gambar 5 dapat dilihat bahwa ada 53 % pustakawan yang terlibat dalam repositori data dan 30 % tidak terlibat, ada 14 % kurang terlibat dan sangat terlibat sisanya 3 % dengan prosentase yang paling sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa di perlukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman serta mengenai repositori data serta peran pustakawan di dalam pengelolaannya. Di samping itu di perlukan peningkatan kemampuan dan keterampilan dalam pengelolaan repositori data kepada pustakawan supaya semua pustakawan bisa terlibat dalam pengelolaan repositori data. Keterlibatan di dalam Pengelolaan Repositori Data Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Tabel 5. Keterlibatan Responden Pustakawan PDDI – LIPI dalam Pengelolaan Repositori Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Keterlibatan Pendidikan Kurang terlibat Sangat terlibat Terlibat Tidak terlibat Jumlah D3 1 1 S1 3 1 12 2 18 S2 2 6 4 12 SMA 5 5 Jumlah 5 1 19 11 36 Berdasarkan tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa yang paling banyak terlibat adalah pustakawan atau responden yang mempunyai pendidikan S1(sarjana) atau pustakawan ahli. Hal ini juga sesuai dengan jumlah pustakawan yang ada di PDDI- LIPI, bahwa yang terbanyak adalah sarjana. Keterlibatan Pustakawan PDDI – LIPI di dalam Pengelolaan Repositori Data Berdasarkan Lokasi Asal Kerja Gambar 6. Keterlibatan Responden Pustakawan dalam Pengelolaan Repositori Data Berdasarkan Lokasi Kerja Berdasarkan gambar 6 diatas dapat dilihat bahwa yang banyak terlibat adalah pustakawan PDDI – LIPI yang berasal dari Jakarta. Hal ini disebabkan oleh pustakawan PDDI – LIPI yang terbanyak adalah di Jakarta yaitu 70,6% ada di Jakarta, sedang yang lainnya ada di Cibinong, Bogor, Serpong dan Bandung. Selain itu tidak semua pustakawan di tugaskan didalam pengelolaan repositori data RIN. Namun demikian pengelolaan dan layanan data saat ini telah menjadi fokus utama bagi PDDI LIPI sehingga pustakawan diharapkan dapat ikut aktif terlibat didalam pengelolaan dan pelayanan data baik secara langsung atau di ditugaskan maupun tidak secara langsung di semua tempat layanan PDDI LIPI. Keterlibatan dalam Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Repositori Data Gambar 7. Keterlibatan Pustakawan PDDI dalam Sosialisasi Pengelolaan Repositori Data Berdasarkan gambar 7 diatas dapat dilihat bahwa yang terlibat dalam dalam sosialisasi pengelolaan repositori data adalah sebanyak 47%, dan yang tidak terlibat adalah 44 %. Banyaknya yang tidak terlibat menunjukkan bahwa kurangnya kemampuan pustakawan PDDI – LIPI mensosialisasikan kegiatan pengelolaan repositori data. Seperti dikatakan (Wolski dkk., 2015) mengakui bahwa staf layanan informasi (termasuk pustakawan) akan membutuhkan lebih banyak peluang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung layanan ini tentang repositori penelitian. Selanjutnya (Isto dkk., 2013) mengatakan bahwa perkembangan teknologi di web memiliki pengaruh besar terhadap perubahan ini. Perubahan tersebut juga menempatkan persyaratan baru pada kompetensi dan keterampilan pustakawan. Implementasi Repositori Gambar 8. Implementasi Repositori Data menurut Pustakawan PDDI LIPI Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa pendapat pustakawan PDDI – LIPI, bahwa repositori data kurang diimplemetasikan oleh peneliti. Hanya 44 % yang mengimplementasikan, sedangkan sisanya 56 % tidak mengimplementasikan. Hal ini disebabkan kurangnya kepercayaan dari para peneliti untuk menyimpan atau melestarikan datanya di sistem repositori. Hal ini bisa diatasi dengan adanya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Wajib serah dan wajib simpan data primer dan keluaran hasil Penelitian, Pengembangan, Pengkajian, dan Penerapan bagi penyandang dana, sumber daya manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pemerintah Indonesia, 2019). Dengan adanya undang – undang tersebut diharapkan peneliti mempunyai kesadaran untuk menyimpan atau melestarikan data mereka di sistem repositori. Kendala yang disampaikan oleh responden terkait dengan adanya repositori adalah, masih kurangnya pemahaman dalam pengelolaan data, manajemen penelitian, kebijakan pengelolaan, manajemen data riset, kurangnya sosialisasi mengenai pengelolaan repositori data, pemilik data masih belum sepenuhnya mau menyimpan datanya, kurang bagusnya infrastruktur seperti internet, kurangnya sarana dan prasarana, kurang sederhananya sistem untuk manajemen data riset untuk peneliti, kurangnya SDM untuk sosialisasi.Sedangkan saran yang disampaikan oleh responden adalah seperti dilakukannya sosialisasi dan edukasi secara rutin tentang pentingnya repositori data, membuat tampilan repositori lebih menarik, mengingatkan kepada peneliti agar rajin memasukkan datanya ke dalam sistem repositori, frekuensi workshop untuk pengelola data diperbanyak, membuka klinik pengelolaan data, pustakawan perlu meningkat kapabilitas tentangt research data management dan meningkatkan kolaborasi dengan peneliti sebagai pemilik data

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden paham tentang repositori data. Sebagian besar pustakawan yang memahami repositori data tersebut adalah berusia antara 20 sampai 30, dan dengan tingkat pendidikan Sarjana. Mereka adalah pustakawan yang termasuk generasi milenial dan sudah akrab dengan dunia Informasi dan Teknologi dan lokasi yang terbanyak adalah di lokasi Jakarta. Diperlukan pelatihan IT untuk pustakawan supaya lebih memahami tentang repositori data. Repositori data belum diimplementasikan dengan sempurna karena kurangnya sosialisasi ke peneliti dan rendahnya kepercayaan mereka tentang repositori data, tetapi dengan adanya undang- undang no 11 tentang Sisnas Iptek, peneliti menjadi lebih patuh dan mau menyimpan data mereka di repositori data