PRODUKTIVITAS PENULIS INDONESIA DI RISET ENERGI INTERNASIONAL
Kementerian ESDM
Abstrak
Krisis energi nasional merupakan tantangan terberat yang perlu ditangani melalui kegiatanpenelitian untuk menciptakan teknologi inovatif. Sementara itu produk riset yang telahdihasilkan akan berpengaruhterhadap pertumbuhan publikasi ilmiah. ScienceDirect adalahsalah satu sumber pengetahuan bereputasi yang turut menampung produk riset energinasional. Sehingga eksistensinya menarik diungkap untuk mengukur kemajuan ilmupengetahuan di Indonesia. Untuk mengetahui kapasitas produk riset, arsitektur keanggotaanpenelitian, dan zona domestik berprestasi digunakan evaluasi bibliometrik. Selama kurunwaktu 2006-2015 kinerja peneliti nasional terhadap riset energi internasional terhimpun pada18 jurnal ilmiah dengan capaian 322 artikel. Melalui performa peneliti yang mayoritasberafiliasi pada akademisi dan pemerintah, Indonesia mampu meraih prestasi terbanyak70.50%. Selain berkontribusi secara mandiri, peneliti turut memproduksi karya riset dengankolaborasi sebanyak 91.19%. Hasil karya riset kolaborasi berpengaruh besar terhadapkapabilitas nasional dan menunjukan kepiawaian Indonesia dalam memimpin kooperasipenelitian bidang energi. Terlebih ada banyak negara di empat benua yang ikut serta sehinggaberimplikasi terangkatnya citra Indonesia dikancah global. Terdapat lima wilayah kepulauannasional dari hasil ekspansi geografis institusi dan peneliti di pulau Jawa berpartisipasisignifikan
Keywords:
Penelitian Energi
· Bibliometrik
· Kolaborasi penulis
Introduction
Tantangan paling berat yang dihadapi Indonesia hingga kini adalah permasalahan ketergantungan energi bersumber bahan bakar minyak. Energi fosil telah menunjukkan kedigdayannya dan membuat masyarakat selalu terbius untuk mengkonsumsi. Sedangkan bila dicermati, Indonesia telah mengalami tren penurunan produksi yang terus menerus sejak paruh akhir dekade 1990-an (Widarsono, 2013: 116). Belum lagi masalah status sebagai negara pengimpor, yang membuat ketahanan energi minyak nasional berada pada posisi rendah ketiga atau termasuk kelompok sangat rentan (Nugroho, 2015: 80). Berbagai ide bermunculan dan para peneliti banyak menyuarakan solusi terbaik guna mengatasi ancaman krisis energi di Indonesia. Salah satunya adalah pengembangan energi alternatif yang diyakini sebagai jawaban atas permasalahan yang mendera sampai sekarang. Bila memperhatikan dekade ancaman, dapat dikatakan bahwa pemerintah kurang responsif untuk menerima gagasan para ilmuwan. Kesadaran pemerintah baru ditandai dengan diterbitkannya regulasi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007, yaitu sebuah dasar hukum terbaik dan menjadi pedoman penting bagi kaum intelektual serta pemangku kepentingan untuk menggenjot terus pemikiran inovatifnya melalui aktivitas riset. Namun, keinginan melahirkan suatu kegiatan riset sangat bergantung pada sisi pendanaan. Di saat mengumumkan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) untuk tahun 2016, pemerintah berinisiatif untuk mengumpulkan dana masyarakat dari hasil penjualan BBM. Dana tersebut salah satunya akan dipakai untuk kepentingan riset energi, dan besarnya bisa berdampak terhadap prestasi peneliti. Mulyanto (2014: 153) mengungkap bahwa tiga perguruan tinggi negeri domestik menghasilkan 697 publikasi internasional melalui dana riset 208 milyar lebih. Sementara itu, Handoyo et al. (2012: 108) menyebutkan bahwa riset energi baru terbarukan yang dibiayai program insentif Kementerian Riset dan Teknologi selalu menurun setiap tahun. Hingga sekarang, pembiayaan riset masih menjadi beban pemerintah semata. Anggaran yang seadanya seharusnya menjadi sebuah tantangan untuk terus berkreasi atau paling tidak peneliti menginisiasi riset bersama untuk mengurangi beban sepihak. Namun, mereka terlihat belum menunjukkan kesungguhannya dalam memunculkan kooperasi, utamanya dengan kolega asing. Padahal, di tahun 1980-2005, Indonesia mempunyai catatan resmi mampu merealisasikan seluruh ikatan kerja sama riset bidang energi, seperti yang terjadi pada studi karbondioksida (CCS), hingga meloloskannya ke dalam publikasi ilmiah terindeks Scopus (Karimi et al., 2015: 367). Pasang surut produk riset yang mampu dikreasikan akan mempengaruhi pertumbuhan publikasi ilmiah. Peneliti sebagai kontributor karya tulis ilmiah menentukan besar kecilnya perkembangan suatu pengetahuan yang terdokumentasi pada literatur. Tentu sangat disayangkan jika suatu karya riset yang didanai sebegitu tinggi dan bertujuan memerangi krisis energi, tidak sebanding dengan prestis media literatur yang mewadahinya. Sebuah sumber pengetahuan yang terlahir dari penerbit ternama semisal Elsevier diketahui turut menjembatani produk karya bidang energi dari para peneliti di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sumber tersebut adalah ScienceDirect yang terintegrasi di bawah naungan Elsevier, sebagai basis data pengetahuan penyuplai jurnal ilmiah berdaya saing. Tidak mengherankan jika suatu institusi merekomendasikan para penelitinya untuk mempertontonkankarya ilmiah mereka pada jurnal ScienceDirect. Bila melihat karakternya, jurnal identik memiliki kebaruan mutakhir karena bisa terbit secara berkala dan konsisten. Kemutakhirannya juga bisa merangsang peneliti untuk mengembangkan riset dari ilmuwan sebelumnya, mengingat jurnal yang aktual dianjurkan untuk dikonsumsi pada saat menyusun karya riset. Dengan menyantap jurnal lebih besar, akan terlihat keseriusan dalam mengatasi persoalan energi. Terlebih mereka mampu mempublikasikan hasil risetnya juga, semisal di ScienceDirect. Keberadaan ScienceDirect menjadi dalih utama untuk mengupas prestasi para peneliti Indonesia di kegiatan riset energi. Pertimbangan tersebut didasarkan pada skala persoalan yang masih menjadi prioritas nasional sampai sekarang dan menjadi perkara luar biasa di semua negara. Selain itu, kajian ini berdalih dengan memunculkan pertanyaan apakah persoalan besar tersebut dibarengi keseriusan peneliti dalam menggenjot produktivitasnya hingga taraf yang klimaks. Diketahui bersama, ScienceDirect memiliki posisi strategis dalam penyebaran informasi. Dengan bermitra Scopus, maka kajian ini turut beralasan bahwa karya riset para peneliti yang sudah dipublikasi dapat membawa citra Indonesia lebih kredibel. Kinerja peneliti tentu tidak hanya ditimbang dari faktor kuantitasnya saja, namun turut dinilai dari segi kualitasnya serta mampu menimbulkan dampak bagi perkembangan pengetahuan bidang energi. Sehingga untuk mengkaji produktivitas peneliti Indonesia pada jurnal ilmiah ScienceDirect yang menampung hasil riset topik energi, digunakan pendekatan bibliometrik dengan tujuan: (1) mengetahui kapasitas produk riset saintifik; (2) mengenali arsitektur keanggotaan penelitian; dan (3) mendapatkan wilayah berprestasi di Indonesia. Tentu kajian ini mengharapkan timbul sikap kesiapsiagaan ilmuwan dalam merespon ancaman krisis energi yang dibarengi dengan kenaikan karya risetnya pada publikasi internasional. Jika hal demikian dapat diwujudkan, maka bermanfaat juga untuk merangsang peneliti lain yang kiprahnya hanya menanjak pada terbitan terakreditasi. Semakin tinggi kuantitas dan kualitas karya riset energi peneliti domestik, maka baik juga dampaknya bagi kemajuan teknologi.
Method
Melalui akses ke portal ScienceDirect (http://www.sciencedirect.com) pada bulan Januari 2016, sebanyak 322 artikel jurnal ilmiah telah disimpan untuk keperluan kajian. Tahapan penyimpanan data dimulai dengan membuka sarana pencarian advanced search pada basis data jurnal ilmiah. Kemudian digunakan formula (Indonesia/Affiliation) AND (Energy/Journal Name) dengan kategori "article" periode waktu 2006-2015. Unsur yang disimpan dari hasil telusur adalah judul artikel, penulis, afiliasi penulis, nama jurnal, tahun terbit, dan area halaman. Fitur export citation pada ScienceDirect dapat membantu mutasi elemen bibliografi, namun tidak termasuk institusi penulis yang penyimpanannya dilakukan secara sendiri. Seluruh unsur bibliografi kemudian dimuat pada piranti lunak MS-Excel. Piranti lunak tersebut termasuk masih sering digunakan pada beberapa kajian bibliometrik meskipun topik bahasannya berbeda. Semisal studi dua jurnal rumpun Library and Information Science (Sethi et al., 2012: 88), jurnal ilmiah bidang Ortopedi (Cutler et al., 2015: 313), maupun bidang Lingkungan (Li-Hong et al., 2013: 2). MS-Excel juga berkemampuan membuat format dalam bentuk tabel atau gambar. Demikian juga fitur sort and filter yang dipakai untuk menyederhanakan rancangan tabulasi. Sehingga piranti lunak MS-Excel masih relevan untuk memenuhi kebutuhan kajian. Sementara itu, kedudukan pengarang terbilang penting dalam menentukan kapasitas karya tulis ilmiah. ScienceDirect memberi tanda karakter abjad atau numerik pada setiap pengarangnya, dan bagi pengarang beraliansi ganda atau lebih, maka pijakannya pada aliansi yang mempunyai tanda abjad atau numerik pertama. Informasi aliansi pengarang selanjutnya diperluas cakupannya menurut wilayah geografis, meliputi nama negara, regional, dan benua. Selain aliansinya, informasi kepengarangan juga dianalisis untuk mengenali pola pengerjaan riset, yaitu individu atau kolaborasi. Sedangkan stadium kolaborasi didapatkan melalui perhitungan rumus C = Nm / (Nm + Ns) (Subramanyam, 1983: 37). Karakter "C" diterjemahkan sebagai level kooperasi dan dinyatakan dalam persentase (%). Nilai setengah "C" dinyatakan sebagai nilai keseimbangan, kemudian "Nm" adalah jumlah artikel yang dikreasikan lebih dari satu peneliti, dan "Ns" adalah karya riset yang dibuat oleh satu ilmuwan. Sementara itu, karya riset yang dihasilkan melalui kolaborasi akan dikenali aspirasi wawasannya apabila lokasi geografis aliansi peneliti dapat diketahui. Semakin banyak karya ilmiah beraspirasi wawasan internasional menandakan masyarakat global menaruh atensi yang tinggi terhadap suatu riset tertentu. Diperlukan tindakan koreksi untuk menjamin presisi informasi suatu pengarang dan institusinya. Tindakan tersebut dimaksudkan agar diperolehnya keseragaman pada saat observasi, utamanya dalam menganalisis produktivitas. Demikian juga untuk menghindari ketidakkonsistenan terhadap dugaan nama kontributor yang sejenis. You Melalui akses ke portal ScienceDirect(http://www.sciencedirect.com) padabulan Januari 2016, sebanyak 322 artikeljurnal ilmiah telah disimpan untukkeperluan kajian. Tahapan penyimpanandata dimulai dengan membuka saranapencarian advanced search pada basisdata jurnal ilmiah. Kemudian digunakanformula (Indonesia/Affiliation) AND(Energy/Journal Name) dengan kategori"article" periode waktu 2006-2015. Unsuryang disimpan dari hasil telusur adalahjudulartikel, penulis, afiliasi penulis,nama jurnal, tahun terbit, dan areahalaman. Fitur export citation padaScienceDirect dapat membantu mutasielemen bibliografi namun tidak termasukinstitusi penulis yang penyimpanannyadilakukan secara sendiri. Seluruhunsurbibliografi kemudian dimuat pada pirantilunak MS-Excel. Piranti lunak tersebuttermasuk masih sering digunakan padabeberapa kajian bibliometrik meskipuntopik bahasannya bebeda. Semisal studidua jurnal rumpunLibrary and InformationScience(Sethiet al,2012:88), jurnal ilmiahbidang Ortopedi (Cutler et al, 2015:313),maupun bidang Lingkungan (Li-Hong etal, 2013:2). MS-Excel juga berkemampuanmembuat format dalam bentuk tabel ataugambar. Demikian juga fitur sort and filteryang dipakai untuk menyederhanakanrancangan tabulasi. Sehingga pirantilunak MS-Excel masih relevan untukmemenuhi kebutuhan kajian.Sementara itu kedudukan pengarangdalam terbilang penting dalammenentukan kapasitas karya tulis ilmiah.ScienceDirect memberi tanda karakterabjad atau numerik pada setiappengarangnya dan bagi pengarangberaliansi ganda atau lebih makapijakannya pada aliansi yang mempunyaitanda abjad atau numerik pertama.Informasi aliansi pengarang selanjutnyadiperluas cakupannya menurut wilayahgeografis meliputi nama negara, regional,dan benua. Selain aliansinya, informasikepengarangan juga dianalisis untukmengenali pola pengerjaan riset yaituindividu atau kolaborasi. Sedangkanstadium kolaborasi didapatkan melaluiperhitungan rumus C=Nm/Nm+Ns(Subramanyam, 1983:37). Karakter "C"diterjemahkan sebagai level kooperasi dandinyatakan dalam persentase (%). Nilaisetengah "C" dinyatakan sebagai nilaikeseimbangan, kemudian "Nm" adalahjumlah artikel yang dikreasikan lebih darisatu peneliti, dan "Ns" adalahkarya risetyang dibuat oleh satu ilmuwan.Sementara itu karya riset yang dihasilkanmelalui kolaborasi akan dikenali aspirasiwawasannya apabila lokasi geografisaliansi peneliti dapat diketahui. Semakinbanyak karya ilmiah beraspirasi wawasaninternasional menandakan masyarakatglobal menaruh atensi yang tinggiterhadap suatu riset tertentu.Diperlukan tindakan koreksi untukmenjamin presisi informasi suatupengarang dan institusinya. Tindakantersebut dimaksudkan agar diperolehnyakeseragaman pada saatobservasi,utamanya dalam menganalisisproduktivitas. Demikian juga untukmenghindari ketidakkonsistenan terhadapdugaan nama kontributor yang sejenis namun dengan penulisan berbeda. Terkaitperhitungan kapabilitas bagi produkilmiah yang dikerjakan secaraberkolaborasi maka pendelegasiannyadiwakili oleh pengarang pertama.Kemudian penentuan penyebutan aliansipenulis yang bermukim di area domestikditetapkan dengan menggunakanidentitas orisinal Indonesia. Dalammenjawab kekhawatiran sehubunganaliansi penulis yang kurang seragampenyebutannya, dapat dilakukan usahapenyelidikan dengan membuka situswebsite di tempat pengarang berasosiasi.Dengan menempuh kegiatan pemeriksaanmaka dapat diperoleh informasi yangvalid guna keperluan pemeringkatan.Selanjutnya dalam menjawab tujuankajian yaitu dengan mendalamimanifestasi unsur bibliografi pada jurnalilmiah ScienceDirect digunakan analisisbibliometrik. Adapun aktivitas analisisterdiri dari (1) menyelidiki realisasi karyariset selama satu dekade menurut jurnalilmiah dan para kontributornya, (2)mendalami struktur kepenulisan dan polapengerjaannya, termasuk mengitung levelkolaborasi, (3) menginvestigasi sebaranwilayah berprestasi di tingkat nasional.Pekerjaan analisis akan membuahkanformat tabulasi untuk kepentinganpengamatan serta penyusunan peringkatmulai dari tertinggi hingga terendah.Tampilan tabulasi akan dipersempit dandialihkkan ke dalam rancangan hasilberbentuk tabel atau ilustrasi. Dengandemikian akan mudah dibaca dalammenginterpretasisecara deskriftif BLACKBOXAI Melalui akses ke portal ScienceDirect (http://www.sciencedirect.com) pada bulan Januari 2016, sebanyak 322 artikel jurnal ilmiah telah disimpan untuk keperluan kajian. Tahapan penyimpanan data dimulai dengan membuka sarana pencarian advanced search pada basis data jurnal ilmiah. Kemudian digunakan formula (Indonesia/Affiliation) AND (Energy/Journal Name) dengan kategori "article" periode waktu 2006-2015. Unsur yang disimpan dari hasil telusur adalah judul artikel, penulis, afiliasi penulis, nama jurnal, tahun terbit, dan area halaman. Fitur export citation pada ScienceDirect dapat membantu mutasi elemen bibliografi, namun tidak termasuk institusi penulis yang penyimpanannya dilakukan secara sendiri. Seluruh unsur bibliografi kemudian dimuat pada piranti lunak MS-Excel. Piranti lunak tersebut termasuk masih sering digunakan pada beberapa kajian bibliometrik meskipun topik bahasannya berbeda. Semisal studi dua jurnal rumpun Library and Information Science (Sethi et al., 2012: 88), jurnal ilmiah bidang Ortopedi (Cutler et al., 2015: 313), maupun bidang Lingkungan (Li-Hong et al., 2013: 2). MS-Excel juga berkemampuan membuat format dalam bentuk tabel atau gambar. Demikian juga fitur sort and filter yang dipakai untuk menyederhanakan rancangan tabulasi. Sehingga piranti lunak MS-Excel masih relevan untuk memenuhi kebutuhan kajian. Sementara itu, kedudukan pengarang terbilang penting dalam menentukan kapasitas karya tulis ilmiah. ScienceDirect memberi tanda karakter abjad atau numerik pada setiap pengarangnya, dan bagi pengarang beraliansi ganda atau lebih, maka pijakannya pada aliansi yang mempunyai tanda abjad atau numerik pertama. Informasi aliansi pengarang selanjutnya diperluas cakupannya menurut wilayah geografis, meliputi nama negara, regional, dan benua. Selain aliansinya, informasi kepengarangan juga dianalisis untuk mengenali pola pengerjaan riset, yaitu individu atau kolaborasi. Sedangkan stadium kolaborasi didapatkan melalui perhitungan rumus C = Nm / (Nm + Ns) (Subramanyam, 1983: 37). Karakter "C" diterjemahkan sebagai level kooperasi dan dinyatakan dalam persentase (%). Nilai setengah "C" dinyatakan sebagai nilai keseimbangan, kemudian "Nm" adalah jumlah artikel yang dikreasikan lebih dari satu peneliti, dan "Ns" adalah karya riset yang dibuat oleh satu ilmuwan. Sementara itu, karya riset yang dihasilkan melalui kolaborasi akan dikenali aspirasi wawasannya apabila lokasi geografis aliansi peneliti dapat diketahui. Semakin banyak karya ilmiah beraspirasi wawasan internasional menandakan masyarakat global menaruh atensi yang tinggi terhadap suatu riset tertentu. Diperlukan tindakan koreksi untuk menjamin presisi informasi suatu pengarang dan institusinya. Tindakan tersebut dimaksudkan agar diperolehnya keseragaman pada saat observasi, utamanya dalam menganalisis produktivitas. Demikian juga untuk menghindari ketidakkonsistenan terhadap dugaan nama kontributor yang sejenis namun dengan penulisan berbeda. Terkait perhitungan kapabilitas bagi produk ilmiah yang dikerjakan secara berkolaborasi, maka pendelegasiannya diwakili oleh pengarang pertama. Kemudian penentuan penyebutan aliansi penulis yang bermukim di area domestik ditetapkan dengan menggunakan identitas orisinal Indonesia. Dalam menjawab kekhawatiran sehubungan aliansi penulis yang kurang seragam penyebutannya, dapat dilakukan usaha penyelidikan dengan membuka situs website di tempat pengarang berasosiasi. Dengan menempuh kegiatan pemeriksaan, maka dapat diperoleh informasi yang valid guna keperluan pemeringkatan. Selanjutnya, dalam menjawab tujuan kajian, yaitu dengan mendalami manifestasi unsur bibliografi pada jurnal ilmiah ScienceDirect, digunakan analisis bibliometrik. Adapun aktivitas analisis terdiri dari: (1) menyelidiki realisasi karya riset selama satu dekade menurut jurnal ilmiah dan para kontributornya, (2) mendalami struktur kepenulisan dan pola pengerjaannya, termasuk menghitung level kolaborasi, (3) menginvestigasi sebaran wilayah berprestasi di tingkat nasional. Pekerjaan analisis akan membuahkan format tabulasi untuk kepentingan pengamatan serta penyusunan peringkat mulai dari tertinggi hingga terendah. Tampilan tabulasi akan dipersempit dan dialihkan ke dalam rancangan hasil berbentuk tabel atau ilustrasi. Dengan demikian, akan mudah dibaca dalam menginterpretasi secara deskriptif
Result & Discussion
Kapasitas Produk Riset Saintifik Sejak periode waktu 2006-2015, kreativitas penelitian yang ditampung pada jurnal ilmiah energi sebesar 322 artikel (Tabel 1). Karya riset tersebut dimanifestasikan oleh 1273 peneliti dan keterlibatan Indonesia di dalamnya mencapai 62,22%. Terlihat bahwa keikutsertaan ilmuwan dalam negeri belum berwujud absolut, sehingga keadaan ini mencerminkan ada peran serta negara lain yang berkontribusi, namun sebatas minoritas. Sementara itu, jurnal "Energy Procedia" menjadi saluran aspirasi ilmiah yang paling diminati oleh para peneliti, utamanya dari Indonesia, dengan volume 59,01%. Data yang diambil dari SCImago Journal Rank (SJR) memperlihatkan bahwa terbitan berkala ilmiah tersebut memiliki posisi pada komunitas jurnal bereputasi, meskipun faktor dampak ilmiahnya belum kentara menurut lembaga pemeringkat semisal Thomson Reuters. Meskipun demikian, masih terdapat porsi kepemilikan negara lain yang turut meramaikan perbendaharaan pengetahuan di publikasi tersebut. Dapat diartikan bahwa negara tersebut amat tertarik untuk menyalurkan gagasan ilmiahnya kepada "Energy Procedia". Disamping itu, dengan merebut capaian terbanyak, wajar jika kajian ini menduga bahwa ada jejak negara berbeda mengikuti langkah Indonesia untuk memajang karya risetnya pada "Energy Procedia". Langkah tersebut didasarkan bahwa SJR merupakan bentuk kesetaraan Scopus. Selain itu, studi ini ikut meyakini bahwa "Energy Procedia" tergolong salah satu jurnal yang dianjurkan untuk dikonsumsi bagi siapa saja yang sedang merancang karya penelitian topik energi. Dengan memanfaatkan jurnal ilmiah Scopus yang lebih besar, akan diikuti peluang banyaknya karya riset yang dapat terpublikasi. Masih terkait hasil Tabel 1, kajian ini mendapatkan satu artikel pada jurnal "Solar Energy" tanpa memperhitungkan Indonesia sebagai negara esensialnya. Karya ilmiah tersebut dikreasikan oleh "Hadi Fauzi", seorang penulis esensial berafiliasi ganda dari negara lain, yaitu Malaysia dan Indonesia. Penerapan asas keterwakilan adakalanya memberatkan posisi Indonesia dalam perhitungan kapabilitas. Terlebih pencatatan tersebut sudah menyangkut prestise nasional di kancah global. Meskipun diketahui bersama bahwa situasi demikian bisa juga dialami oleh negara-negara lain. Namun hal penting lainnya adalah paling tidak Indonesia telah membuktikan memiliki rekam jejak yang kapabel dalam percaturan pengetahuan bidang energi di tataran internasional. Kemudian dari total 322 artikel yang berhasil terdeteksi, para peneliti nasional mampu mencetak perolehan 70,50% (Tabel 2). Di periode pertama atau tahun 2006, kemampuan mereka dapat dikatakan tergolong lesu dan progresnya juga fluktuatif hingga tiga tahun ke depan. Sejak 2013, prestasi peneliti cenderung mengalami lonjakan yang amat pesat. Bahkan kinerja tahun 2015 sebanyak 30,75% hampir menyamai sepertiga dari total prestasi selama satu dekade, dan terlihat peneliti nasional sangat agresif di periode tersebut. Terdapat beberapa ilustrasi untuk melihat keaktifan maksimal peneliti pada bidang sejenis di tahun tertentu. Semisal kajian bibliometrik riset nano energi dengan capaian tertinggi 15,71% di tahun 2012 (Guan et al., 2014: 5). Kemudian Zhang et al. (2016: 300) mengenai pajak karbon dengan nilai optimum pada 2014 (13,90%, 181/1302), riset nanoteknologi di India tahun 2009 sebesar 23,36% (Karpagam et al., 2011: 507), dan kajian Du et al. (2013: 179) tentang riset efisiensi energi dengan hasil tertinggi pada 2010 (18,29%, 1188/6494). Demikian juga kajian bibliometrik riset tenaga surya oleh Dong et al. (2012: 1103) sebanyak 15,58% di tahun 2010. Jika merujuk data pembanding, sebaiknya para ilmuwan domestik tidak harus optimis terlebih dahulu dengan kapabilitasnya. Dalam jangka pendek, masih banyak persoalan energi yang harus dipecahkan melalui riset berkelanjutan. Dengan tempo yang singkat juga, mereka harus mampu menyalurkan produk risetnya pada terbitan berkala bereputasi. Sementara itu, hasil Tabel 2 juga memperlihatkan indikator bibliometrik lain seperti rerata peneliti mencapai 3,95 dan 8,25 halaman. Sedangkan Indonesia sendiri adalah 3,62 (792 peneliti/227) dan 8,07 (1833 halaman/227). Kajian ini kemudian berkonsentrasi terhadap rasio yang dihasilkan Indonesia saja dan beberapa kajian bibliometrik serumpun digunakan sebagai data penyelaras. Pada riset bahan bakar hayati ditemukan rasio 3,5 (P) peneliti/10,0 (H) halaman (Yaoyang et al., 2013: 83), riset bidang tenaga surya 3,45 P/9,26 H (Du et al., 2014: 698), penelitian sel bahan bakar yaitu 4,1 P/7,9 H (Cindrella et al., 2014: 129), dan riset pengurangan karbondioksida sebesar 3,7 P/7,1 H (Wan et al., 2012: 88). Demikian juga riset ilmiah yang difokuskan pada bidang energi sebesar 3,5 P/10,1 H (Hou et al., 2015: 544). Dari data penyelaras, mayoritas rasio partisipasi berada pada kisaran tiga peneliti lebih dan kondisinya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Tentu saja seorang peneliti yang berpangkat sebagai ketua tidak akan meremehkan metode perekrutan beberapa anggotanya karena hal tersebut bukanlah cara yang mudah. Apalagi riset yang dikerjakan membutuhkan derajat kepakaran yang andal. Semua komponen keahlian harus mampu dioperasikan dan mempunyai peranan yang sesuai. Jika peneliti berambisi menghasilkan riset energi bermutu, sebaiknya selektif dalam merekrut anggotanya. Selain itu, keluaran Tabel 2 juga mengungkapkan bahwa komparasi halaman antara karya riset peneliti nasional dengan pembanding masih dianggap pada kisaran yang wajar. Meskipun pada bidang serumpun, namun bisa saja volume halamannya bervariasi. Situasi tersebut dapat dilatarbelakangi oleh kebijakan penerbit dalam memperbolehkan seberapa banyak halaman yang dapat dikreasikan. Betapa baiknya jika peneliti nasional memanfaatkan peluang dengan berusaha mengoptimalkan daya halaman sesuai penerbit yang ditarget. Dengan demikian, khazanah pengetahuan energi dapat lebih banyak juga. Berlanjut ke Tabel 3 dan hasil mendapatkan bahwa ke 227 karya riset bidang energi dimotori oleh 188 peneliti primer. Adapun peringkat tiga juara dipegang enam ilmuwan, dimulai dari Abdul Waris mencapai 2,20%, selanjutnya Tinton Dwi Atmaja 1,76%, dan tiga nama dengan hasil seimbang 1,32%. Kapasitas peneliti domestik di bidang energi pada kancah global kelihatannya belum pada strata yang maksimal bila kajian ini menyandingkan dengan topik sepadan. Elango et al. (2013: 9) mendapatkan 19 sampai 60 artikel bisa dihasilkan peneliti yang mengerjakan riset nanotribology 1996-2010. Kemudian riset penginderaan jauh 1991-2010 dengan nilai maksimum 102 artikel oleh satu peneliti (Zhuang et al., 2013: 209). Demikian juga Niu et al. (2014: 517) menemukan peneliti produktif pada riset sedimen 1992-2011 berhasil mengkreasikan hingga 298 artikel. Para peneliti sepertinya harus agresif mengejar ketertinggalan agar produktivitasnya dapat menyaingi negara-negara maju. Hasil lain mengenai kapasitas artikel ilmiah Indonesia yang dikelompokkan menurut jenis asosiasi peneliti dapat dijumpai pada Tabel 3. Dari pemetaan diketahui terdapat tiga jenis afiliasi dan peringkat terbaik dikendalikan akademisi dengan nilai prestasi 58,59%, diikuti pemerintah sebesar 36,12%, serta sektor bisnis dan asosiasi 5,29%. Seperti biasa, peringkat juara akan selalu menjadi tradisi umum yang terus direbut oleh tipe institusi tersebut di seluruh jenis riset, termasuk bidang energi. Aksi giatnya juga terekam pada riset tenaga surya sebesar 53% dan 80% (Dutt et al., 2013: 118; 2016: 35). Demikian juga riset nanoteknologi di Pakistan dengan produsen mayoritas oleh universitas (Bajwa, 2012: 1). Respon kalangan akademisi nasional selama 2012-2015 juga terlihat meroket dibandingkan masa sebelumnya. Tentu saja pergerakan tersebut terkesan istimewa dan harus menjadi budaya apabila pemerintah turut serius menjembatani kebutuhan para penelitinya, utamanya dengan meningkatkan anggaran penelitian. Dengan semakin pesatnya aktivitas riset energi nasional, makin besar juga jumlah karya ilmiahnya. ### Arsitektur Keanggotaan Penelitian Capaian riset selama satu dekade yang terekam pada jurnal berjudul energi menggunakan struktur pengerjaan secara individu dan berkelompok. Hasil Gambar 2 mendemonstrasikan bahwa karya ilmiah energi milik Indonesia terbentuk melalui pola satu sampai sembilan peneliti. Sementara itu, komposisi tiga sampai empat ilmuwan berkontribusi paling produktif. Sedangkan pekerjaan riset secara individu hanya meraih 8,81%. Peneliti Indonesia yang beraktivitas secara mandiri ternyata mampu menunjukkan kelasnya di kancah global. Keadaan tersebut justru berlawanan dengan fakta yang diungkap Dutt et al. (2015: 160; 2014: 68) perihal riset tenaga surya di India yaitu 5,47% (597/10905) dan 3,90% (79/2024). Demikian juga di Malaysia menurut Kumar et al. (2014: 395) sebanyak 2,43% (16/658) yang mengulas penelitian bidang bahan bakar di dua negara anggota OIC. Harus diakui bahwa produktivitas riset bisa dikerjakan dengan dua struktur di atas. Upaya peneliti tunggal nasional hingga lolos mempertontonkan karyanya di ScienceDirect tentu bukan kiat yang sederhana. Bila dikaitkan dengan dampak ilmiah, adakalanya karya individu menunjukkan pamornya, seperti yang terjadi di India dengan tingkat sitasi 1000 kali (Manisha et al., 2014: 1104). Tentu melalui sistem pembinaan yang andal, pola mandiri bisa membawa peningkatan terhadap produktivitas Indonesia dalam memproduksi artikel bermutu. Kualitas suatu karya ilmiah bisa ditunjukkan dengan indikator peringkat dan keluaran pada Tabel 4 mengekspos struktur kepengarangan menurut ranking SJR untuk mengetahui stadium kolaborasinya. Nampak bahwa artikel milik Indonesia yang dimuat pada jurnal berperingkat terbaik, memperlihatkan strata kolaborasi yang absolut dengan rasio keseluruhannya mencapai 91,19%. Rerata demikian dapat mencerminkan derajat kemapanan Indonesia dalam mengkoordinir keanggotaan peneliti pada sebuah riset energi bertaraf internasional. Terkadang riset konsorsium juga dihubungkan dengan kompleksitas permasalahan yang tengah dihadapi. Melihat riset energi dan bahan bakar di Cina, strata kolaborasinya sebesar 76,7% (Chen et al., 2016: 971) maupun di Rusia terhadap penelitian nano karbonnya mencapai 93,7% (Terekhov, 2015: 13). Di lain peristiwa, riset unggulan terpadubidang energi yang ditampilkan Tambunan (2013: 120) mendapatkan 103 karya ilmiah kolaborasi (72,54%) dari jumlah 142 publikasi. Meskipun levelnya bervariasi, namun cara kolaborasi masih terus diutamakan untuk mengatasi perkara rumit dan mengontrol jalannya riset agar lebih cepat dari yang direncanakan. Jika cara tersebut mampu dipraktikan, maka akan banyak riset energi yang cepat diselesaikan dan dipublikasi secara berkala. Sementara itu, format kolaborasi peneliti dalam negeri yang berhasil dipotret diketahui melibatkan beberapa negara di empat benua (Tabel 5). Kooperasi antar benua sejenis diketahui lebih dominan bila dibandingkan yang berlainan. Selain itu, kajian ini juga memetakan pola kerja sama menurut kelompok geografis yang lain dan diketahui terdapat tiga format kolaborasi berdasarkan tatanan regionalnya. Hal yang sama yaitu kolaborasi regional sejenis memproduksi artikel terbanyak, sedangkan sisanya hanya memperoleh 23,19%. Hasil tersebut dapat diasumsikan sebagai kolaborasi internasional apabila kajian ini menerapkan definisi kerja sama antar negara yang berlainan regionalnya. Jika memadankan dengan negara lain, prestasi Indonesia pada riset energi terbilang unggul dari Turki yang hanya 10,67% (Mao et al., 2015: 279) atau Taiwan 10,35% (Liu et al., 2012: 149). Namun pada riset tenaga surya, perolehan nasional masih terpaut jauh dengan negara maju seperti Jerman (33,7%) dan Spanyol (33,9%) (Casado et al., 2014: 742). Untuk itu, pemerintah perlu memperkuat kerja sama multilateral dengan negara maju karena akan ada banyak keuntungan dalam menuntaskan persoalan energi dalam negeri. Sedangkan kiprah peneliti Indonesia selama satu dasawarsa tidak lepas dari campur tangan mitra asing yang turut bekerja sama di riset energi. Tampilan pada Gambar 3 mengekspresikan intervensi 27 negara asing dimana tujuh di antaranya berkolaborasi 13 (1,02%) sampai 178 (13,98%) kali. Malaysia mendapatkan kepercayaan terbaik sebagai kolega asing yang berkonsorsium dengan peneliti domestik. Disusul Jepang sebesar 9,27% dan Australia 3,38%. Dari tiga negara berpengaruh tersebut, kajian ini tertarik mengulas kiprah kolega asing yang membantu menyuburkan artikel kolaborasi internasional. Seperti Jepang yang menduduki posisi kedua sebagai mitra kolaborasi riset energi (Liping, 2011: 4236) maupun nanoteknologi di Cina (Tang et al., 2011: 6). Sedangkan Australia terlacak menempati urutan keenam pada riset gas bumi 1990-2014 (Wang et al., 2016: 3). Keinginan berkolaborasi dengan peneliti domestik mungkin saja didasari motif untuk mengetahui potensi energi dan kekayaan alam Indonesia. ### Teritori Produktif di Indonesia Kajian ini beranjak pada hasil berikutnya dengan tujuan mengetahui wilayah berprestasi yang ada di Indonesia. Dimulai dari afiliasi tempat peneliti bermukim, kajian ini menemukan partisipasi Institut Teknologi Bandung terlihat mayoritas, diikuti LIPI (Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik), dan Universitas Gadjah Mada (Tabel 6). Ketiganya termasuk institusi kredibel yang aktif mengangkat citra Indonesia sejak 2001-2011 melalui karya-karya di jurnal internasional (Lakitan et al., 2012: 233). Sementara itu, posisi berikutnya masih terdapat sejumlah institusi yang memiliki peran sama seperti ketiganya. Memperhatikan geografisnya, seluruh afiliasi tersebut terdistribusi dalam beberapa wilayah. Semakin banyak dan meratanya teritori produktif di dalam negeri, menandakan kepekaan para peneliti nasional dalam merespon permasalahan energi. Kemudian dari hasil pengelompokan wilayah institusi nasional diketahui pulau Jawa mempunyai keaktifan terbanyak 91,41% (Gambar 4). Fakta tersebut makin diperkuat Mulyanto (2016: 88) bahwa kinerja institusi domestik sangat kuat dipengaruhi oleh peneliti di pulau tersebut. Sedangkan Sumatera dan Sulawesi termasuk zona dengan peringkat tiga besar. Seperti diulas sebelumnya bahwa perguruan tinggi berperan besar terhadap perolehan prestasi Indonesia di level global. Populasinya juga banyak ditemukan dan terkonsentrasi di tiga pulau tersebut (Moeliodihardjo et al., 2012: 309; Kompas, 2016). Meskipun tersentral, namun kelihatannya masih terdapat institusi di dua pulau yang kurang menonjol tingkat partisipasinya pada ajang internasional. Sehingga terkesan dimonopoli oleh satu wilayah saja. Untuk itu agar tercipta pemerataan pengetahuan terkait topik energi, sebaiknya institusi produktif turut mengikutsertakan lembaga domestik lain dalam mengerjakan penelitian saintifiknya. Namun sistem perekrutannya harus tetap mengedepankan asas selektif dan relevan. Pada tampilan lain, kajian ini menguraikan zona kepulauan untuk mengetahui kontribusi ilmuwan menurut asal propinsinya. Berdasarkan hasil Tabel 7 terdapat tiga kepulauan yang hanya menyisihkan dua propinsinya untuk turut terlibat dalam riset energi internasional. Tidak seperti Jawa dan Sumatera, sebaran propinsi di ketiga pulau lainnya belum menggambarkan identitas sebenarnya. Identitas tersebut diterjemahkan bahwa masih terdapat beberapa propinsi yang belum menunjukkan jati dirinya untuk ikut serta bergabung dalam memproduksi artikel ilmiah topik energi. Sulawesi dan Kalimantan bisa disebut sebagai kepulauan yang memiliki jumlah propinsi setara dengan Jawa. Sehingga untuk menampakan karakter yang sesungguhnya, maka semua propinsi yang tercantum pada pulau tersebut harus berperan sejajar dengan wilayah yang sudah aktif sebelumnya. Jika seluruh propinsi dapat berkontribusi agresif, maka dapat membawa dampak terhadap kemajuan pengetahuan. Dengan demikian, angka pertumbuhan artikel ilmiah bereputasi internasional kepunyaan Indonesia dapat meningkat juga.
Conclusion
Menurut hasil pengungkapan produktivitas peneliti nasional di riset energi internasional, dapat disimpulkan beberapa hal penting, di antaranya: 1. **Kinerja Peneliti Domestik**: Selama satu dekade, kinerja peneliti domestik di riset energi internasional terekam pada 18 jurnal ilmiah dengan hasil 322 artikel. Melalui performa para peneliti yang mayoritas berafiliasi pada akademisi dan pemerintah, Indonesia mampu meraih prestasi utama terbanyak sebesar 70,50%. 2. **Kontribusi Peneliti Mandiri**: Prestasi utama nasional juga tidak lepas dari kontribusi para peneliti yang memilih jalur mandiri. Meskipun hasil karya riset energi yang diwujudkan melalui kolaborasi terbukti mencapai 91,19% dan berpengaruh besar terhadap kapasitas nasional. Strata kooperasi tersebut telah menandakan Indonesia kapabel dalam memimpin riset konsorsium bidang energi. Terlebih, ada banyak negara di empat benua yang turut serta, sehingga berimplikasi terhadap citra Indonesia di kancah global. 3. **Pemetaan Geografis Institusi Peneliti**: Kemudian dari pemetaan geografis institusi peneliti, terdapat lima wilayah kepulauan nasional yang diketahui turut terlibat dalam riset energi internasional. Dari lima wilayah tersebut, peneliti yang bermukim di pulau Jawa telah menunjukkan partisipasi yang sangat signifikan.