Kembali
16
1
2023 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 15 · 2 ISSN 2549-8606

MODEL-MODEL PRILAKU PENCARIAN INFORMASI

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Sebagai pencari informasi, sebelum melakukan pencarian informasi, terlebih dahulu harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi. Karena dengan memahami kebutuhan informasi, pencari informasi mampu menentukan topik pencarian informasi. Dalam

Abstract

As an information seeker, before searching for information, you must first know your information needs. Because by understanding information needs, information seekers are able to determine the topic of information search. In the new paradigm, especially libraries are something that is alive, dynamic, fresh, offering new things, its service products are innovative and packaged in such a way. So whatever the library offers will be attractive, interactive, educational and recreational for its visitors. In this case, we also discuss information search strategies in the library world. There are 3 important things in finding information, namely accurate, timely and easy to understand. For this reason, people who have easy access to information will be able to learn more, because the information they obtain will increase their insight and experience. Information needs arise due to a gap in a person's knowledge and the required information needs. In this paper there are two (2) behavioral models discussed, namely: the Wilson model and the Ellis model. Among the models studied are Starting, Chaining, Browsing, Differentiating, Verifying, Ending.
Keywords: Models · Information Seeking Behavior

Introduction

Pada era globalisasi saat ini, pengetahuan yang ada semakin bertambah banyak. Bertambahnya pengetahuan merupakan dampak dari adanya penelitian yang dilakukan oleh banyak orang. Hal ini mengakibatkan informasi yang semakin bertambah. Informasi juga terbentuk akibat adanya interaksi manusia dengan lingkungan dan manusia lainnya.39 Informasi sendiri adalah data- data yang yang diolah sehingga memiliki nilai tambah dan bermanfaat bagi pengguna.40 Seiring kemajuan dan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat pesat di masa sekarang ini telah menimbulkan dampak yang sangat besar dalam kehidupan 39 Pawit M Yusup, Ilmu informasi, komunikasi, dan kepustakaan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 379. 40 Rohmat Taufik, Sistem manajemen informasi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 15. manusia. Pola hidup dan perilaku manusia pada masa sekarang ini yang mengalami perubahan dari era industri ke era informasi mengalami perubahan secara signifikan, sehingga ada pelesetan bahwa "TIK mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Dengan memanfaatkan gadget, komputer, laptop, netbook dan perangkat TIK lainnya, manusia dapat berkomunikasi dan berbagi informasi dengan orang lain di tempat yang jauh, namun komunikasi berupa basa-basi di tempat umum atau bahkan di rumah tangga sekalipun menjadi berkurang. Pada saat ini tidak jarang terjadi orang-orang berkumpul namun masing-masing asyik dengan gadgetnya atau dalam istilah Sherry Turkle adalah Alone Together. Perilaku pencarian informasi juga dilakukan oleh pakar manajemen, terutama untuk riset pemasaran produk. Di dunia perpustakaan, informasi menjadi garapan utama pengelolaannya untuk kepentingan peningkatan kualitas manusia pada umumnya. Dengan menggunakan metode penyebaran informasi, diharapkan masyarakat dapat mengakses secara terbuka sehingga pengetahuan masyarakat akan terus meningkat sejalan dengan penghidupanya dan perkembangan teknologi saat sekarang ini. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku pencarian informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya. Wilson menggunakan istilah "teori" untuk hal ini, walaupun yang dimaksud adalah pengetahuan pribadi seseorang tentang dunianya). Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu: 1. Kondisi psikologis seseorang. Cukup masuk akal, bahwa seseorang yang sedang risau dan bertampang memble akan memperlihatkan perilaku pencarian informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira dan berwajah sumringah. 2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa "kelas sosial" juga dapat mempengaruhi perilaku pencarian informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses ke internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah. 3. Peran seseorang di masyarakat, khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku pencarian informasi. Misalnya, peran "menggurui" yang ada di kalangan dosen akan menyebabkan perilaku pencarian informasi berbeda dibandingkan perilaku mahasiswa yang lebih banyak berperan sebagai "pelajar". Jika kedua orang ini berhadapan dengan pustakawan, peran-peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi. 4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan. Seperti di kalangan masyarakat saat ini masyarakat lebih memilih mencari informasi lewat media sosial di banding bertanya kepada temannya, contoh informasi gempa bumi. 5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan 2 hal di atas, orang- orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku pencarian informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya.41 Kelima faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku pencarian informasi. Namun pada kenyataannya, model-model perilaku pencarian informasi di perpustakaan sekarang ini kurang diterapkan. Hal ini dapat dilihat dari perilaku pengguna yang kurang memuaskan 41 Donald Owen Case, Looking For Informaion, (London: Akademic Press, 2002), h.45. ketika mencari sumber-sumber informasi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, kajian tentang perilaku pencarian informasi juga dilakukan oleh pakar manajemen saja. Perilaku kebutuhan khusus maupun non khusus terdapat perbedaan. Makalah ini ingin mengetahui tentang model-model perilaku pencarian informasi di perpustakaan. 1. Perpustakaan Perpustakaan merupakan sebuah gedung atau ruangan dimana di dalamnya terdapat aktifitas pengumpulan pengolahan, penyimpanan dan penyebarluasan bahan pustaka (informasi) dalam keperluan pemustaka. Sulistyo Basuki mengatakan bahan definisi perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau tempat yang berkaitan dengan buku.42 Disamping itu definisi perpustakaan juga tidak dapat dipisahkan dari pengembangan koleksi perpustakaan. Dahulu, perpustakaan yang hanya mula-mula menyediakan koleksi tercetak, kemudian untuk memudahkan proses pengolahan dan pelayanan kepada pemustaka, perpustakaan mulai menerapkan sistem informasi sehingga muncul istilah perpustakaan informasi. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan pustaka, baik berupa buku maupun non buku yang disusun secara sistematis menurut aturan tertentu dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sehingga dapat memenuhi sumber informasi yang dibutuhkan oleh pencari informasi di perpustakaan. 2. Informasi Kumpulan data yang diproses dan diolah menjadi data yang memiliki arti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu 42 Sulistyo Basuki, Materi Pokok Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2011), h. 78. untuk pengambilan suatu keputusan. Suatu sistem tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya informasi.43 Menurut Lasa HS kata informasi berasal dari kata informare (bahasa latin) berarti membentuk melalui pendidikan. Dalam ilmu perpustakaan diartikan berita, peristiwa, data maupun literatur. Sedangkan dalam ilmu komunikasi, informasi diartikan keterangan maupun pesan yang berupa suara, isyarat, maupun cahaya yang dengan cara tertentu dapat diterima oleh sasaran baik berupa mesin maupun makhluk hidup.44 Tiga hal penting yang menjadi dasar dalam menentukan kualitas dari satu informasi, yaitu: a. Akurat Informasi harus bebas dari kesalahan, dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan penggunanya pada situasi tertentu, disajikan secara lengkap, hanya yang dibutuhkan saja yang disajikan, dapat disajikan pada lingkup yang luas maupun terbatas, menunjukkan kinerja yang maksimal dengan pengukuran aktivitas yang telah diselesaikan sampai kemajuan yang telah dicapai dari sumber daya yang terkumpul. b. Tepat Waktu Informasi harus ada saat dibutuhkan, selalu up-to-date, dapat disajikan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan, dan dapat disajikan pada periode sekarang, masa lalu, dan masa yang akan datang. c. Mudah Dimengerti Informasi harus dapat disajikan dalam bentuk yang mudah dimengerti, dapat disajikan secara detail atau ringkasan, dapat diatur dalam urutan tertentu, dapat disajikan secara naratif baik dalam bentuk angka, grafik dan 43 Pawit M. Yusuf, Priyo Subekti, Teori Praktik dan Penelusuran Informasi, (Jakarta: Kencana, 2010), h.87. 44 Lasa H.S, Kamus Kepustakawanan Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), 176. lainnya, dapat disajikan dalam bentuk cetak, video display dan media lainnya.45 Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku pencarian informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya. Aktivitas pencarian dan penemuan informasi seseorang, yaitu pandangan seseorang tentang resiko dan imbalan yang nanti akan dihadapinya jika ia benar-benar melakukan pencarian informasi. Di tahap ini, seseorang menimbang-nimbang, apakah perilakunya perlu disesuaikan atau diselaraskan dengan kondisi yang ia hadapi. Misalnya, untuk contoh kasar saja, seorang ilmuwan kondang yang merasa akan terlihat "bodoh” di hadapan pustakawan, mungkin akan berperilaku berbeda dibandingkan seorang dosen yang cuek dalam hal citranya di mata pustakawan. Sang ilmuwan mungkin berpikir bahwa bertanya secara langsung kepada pustakawan akan berisiko menurunkan gengsinya, sementara si dosen mungkin tak peduli pada risiko itu sebab ia berkonsentasi pada “imbalan” yang akan diperolehnya dari pustakawan. 3. Strategi Pencarian Informasi Informasi yang telah kita dapat harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Seperti halnya data yang telah didapat dari berbagai ragam sumber informasi seperti dari perpustakaan melalui media tercetak baik berupa buku, jurnal, majalah, referensi, karya ilmiah dan lainnya, maupun media non cetak seperti CD, DVD, radio, mikrofilm dll. Internet merupakan sarana lain untuk mendapatkan informasi, yang dapat dimanfaatkan dengan baik, atau jika menggunakan internet dapat melakukannya dengan 90. 45 Pawit M. Yusuf, Priyo Subekti, Teori Praktik dan Penelusuran Informasi, h.

Method

Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptip Kualitatif dengan melakukan tinajuan Studi literatur yang bersumber dari karya ilmiah (Jurnal), yang telah di publikasi sebelumnya dengan pembahasan topik yang sama yaitu mengenai model-model prilaku pencarian informasi.

Result & Discussion

ANALISIS 1. Implementasi Model-model Perilaku Pencarian Informasi di Perpustakaan. Model-model perilaku pencarian informasi di perpustakaan mngalami banyak perubahan. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti pengaruh perkembangan teknologi informasi. Adapun model pencarian informasi yang paling sesuai dengan keadaan kondisi perpustakaan saat ini pada umumnya adalah model pencarian informasi hasil pemikiran Ellis. Implementasi model tersebut di perpustakaan adalah sebagai berikut: Ellis56 dalam Meho mengelompokkan beberapa karakteristik perilaku pencari informasi, yaitu:57 55 Putu Laxman Pendir, Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Suatu Pengantar Diskusi Epistimologi dan Metodologi, (Jakarta: JIP-FSUI, 2003), h. 13. 56 Ellis mengemukakan beberapa karakteristik perilaku informasi berdasarkan penelitiannya terhadap para peneliti social, sains, dan insinyur. Ellis melakukan pengamatan terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan objeknya dalam mencari informasi seperti membaca, meneliti di laboratorium, dan menulis makalah. Lihat Pawit M. Yusup dan Priyo Subekti, Teori dan Praktik Penelusuran..., h. 105. a. Starting Starting merupakan kegiatan yang sifatnya pencarian awal informasi seperti mengidentifikasi referensi yang dapat menjadi titik awal daur pencarian. Referensi ini termasuk sumber yang telah digunakan sebelumnya seperti sumber lain yang diharapkan menyediakan informasi yang digunakan. Dalam melakukan pencarian informasi, pemustaka melakukan persiapan seperti menyiapkan gambaran informasi apa yang akan dicari dan sesuai dengan kebutuhan informasinya. Kegiatan ini dilakukan agar mempermudah dalam pencarian informasi. Setiap individu di dalam starting ini mulai mencari informasi, misalnya bertanya pada seseorang yang ahli di salah satu bidang keilmuan yang diminati oleh individu tersebut. Pencarian awal bisa dilakukan di perpustakaan, bahkan di rumah dengan bertanya kepada siapapun yang dianggap bisa membantu. Apabila hal ini terjadi di perpustakaan, informasi dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan kepada pustakawan. Selain itu memahami footnote untuk menemukan literatur aslinya juga termasuk dalam tahapan ini. b. Chaining Chaining merupakan aktivitas merangkai kutipan atau bentuk lain dari hubungan yang referensial antara materi atau sumber yang telah diketahui selama aktivitas starting. Chaining maju mengenali dan menindaklanjuti sumber lain yang mengarah pada sumber asli, sedangkan chaining mundur terjadi ketika referensi dari sumber awal diikuti.58 c. Browsing 57 Donald O Case, Looking for information: a survey of research on information seeking, needs, and behavior, (London: Academic Press, 2012), h. 239- 240. 58 Nisa Emirina Royan, dalam Pola Perilaku Penemuan Informasi (Information Seeking Behavior) Di Kalangan Mahasiswa Skripsi (Studi Deskriptif Tentang Perilaku Penemuan Informasi Mahasiswa FIP Jurusan KSDP Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang dalam Penulisan Skripsi), Jurnal Pustaka Budaya, Vol. 3, No. 2 Juli 2016, h. 55. https://journal.unilak.ac.id/index.php/pb/article. Diakses 30 Agustus 2021 pukul 15:00 WIB. Browsing merupakan kegiatan mencari informasi di wilayah tertentu yang dianggap memiliki potensi. Kegiatan ini tidak hanya membaca sekilas jurnal yang sudah dipublikasikan dan table isi saja tetapi juga referensi dan abstrak yang menyertai sumber informasi tersebut. Tahap ini proses pencarian informasi yang dilakukan pemustaka, dan tidak hanya 1 sumber informasi yang mereka ambil dan dikumpulkan. Sumber informasi yang dikumpulkan tersebut berkaitain dengan tema informasi pemustaka, dan mendukung kebutuhan informasinya.59 Browsing merupakan suatu kegiatan mencari informasi yang terstruktur atau semi terstruktur. Jika kegiatan ini dilakukan di perpustakaan, di pusat-pusat informasi, atau media, maka orang bisa melakukan proses pencarian dengan cara melihat-lihat secara umum sumber-sumber informasi yang ada. Jika proses pencarian menggunakan media online, internet, proses browsing bisa dilakukan dengan mencarinya pada kotak pencarian yang tersedia seperti search engine Google, Yahoo, atau lainnya, dengan mengetikkan kata kunci informasi yang relevan dan dibutuhkan. d. Differentiating Differentiating merupakan kegiatan memilah informasi yang diperoleh dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai perbedaan ciri-ciri sumber informasi (misalnya, pengarang, cakupan, tingkat detail, dan kualitas) tersebut guna mengetahui kualitas informasi. Tahap ini pemustaka memilih referensi atau literatur yang sesuai dengan kebutuhan informasinya. Hal ini dilakukan akibat banyaknya sumber informasi yang dikumpulkan. Pemilihan data mana yang akan digunakan dan mana yang tidak perlu termasuk dalam differentiating. Langkah ini akan sangat jelas jika kita mencari informasi melalui media online, internet. Jajaran indek kata kunci ditampilkan oleh hasil pencari awal di atas, kita bisa memilih, mengevaluasi, dan menetapkan informasi apa yang akan kita ambil untuk mendukung pekerjaan kita. 59 Muslih Fathurrahman, dalam Model-Model Perilaku Pencarian Informasi, JIPI (Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi), Vol 1 No. 1 Tahun 2016, h. 87. Diakses 27 Agstus 2021 pukul 08:00 WIB. e. Monitoring Monitoring merupakan kegiatan memantau perkembangan di lapangan dengan mengikuti sumber-sumber tertentu yang telah dipilih secara teratur (misalnya, jurnal utama, Koran, konferensi, majalah, buku, dan katalog). Tahap ini pemustaka melakukan pengamatan terhadap hal-hal lain yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan. Seperti mengikuti perkembangan sekitar dengan membaca jurnal-jurnal yang berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan yang ada di perpustakaan atau diluar perpustakaan. Monitoring selalu memantau atau mencari informasi-informasi yang terbaru yaitu hasil carian ini biasanya ditandai dengan tahun kelahiran informasi. f. Extracting Extracting merupakan aktivitas yang berhubungan dengan melanjutkan pencarian dengan menggali lebih dalam sumber informasi dan mengidentifikasi relevansi materi yang ada dengan selektif. Pada tahap ini pemustaka mencari informasi dari yang sudah mereka dapatkan sebelumnya. Pemustaka memilih sumber informasi yang dianggap penting dan sesuai dengan kebutuhan informasinya. Extracting juga bisa digunakan untuk mengambil salah satu informasi yang berguna dalam sebuah sumber informasi tertentu. Orang bisa memilih tema, topik, atau informasi manapun yang dianggap sesuai dengan pilihannya. Misalnya mengambil salah satu file dari sebuah Wold Wide Web (WWW) dari internet. g. Verifying Tahap ini pemustaka melakukan pengecekan informasi yang meraka temukan selama pencarian, dan memilih yang sesuai dengan kebutuhan informasinya.60 Mengecek ukuran dari data yang telah diambil. Terkadang seseorang tidak hanya mengambil satu topik atau satu tema dari hasil carian yang ditunjukkan oleh jajaran indeks di media online. Misalnya kita membutuhkan informasi tentang definisi “perpustakaan", maka sejatinya kita biasanya tiak hanya mengambil salah satu definisi dari satu pendapat orang. Bisa jadi kita mengambil sejumlah definisi dari berbagai sumber dan dari beberapa ahli. Telitilah dan verifikasilah 60 Muslih Fathurrahman, dalam Model-Model Perilaku Pencarian Informasi..., h. 89. setiap definisi itu, kemudian terapkan definisi mana yang akan diambil. h. Ending Ending merupakan akhir dari proses pencarian. Pencarian dapat dikatakan selesai dan pengguna dapat meninggalkan perpustakaan, ataupun menutup komputer. Dalam tahapan ini pemustaka melakukan diskusi bersama pihak lain yang dianggap lebih mengetahui informasi yang dikaji guna dalam menentukan informasi mana yang digunakan. 2. Model-Model Perilaku Pencarian Informasi di Masyarakat Seperti kita ketahui saat ini Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), masyarakat mulai beralih ke media sosial dibandingkan televisi ataupun radio, karena pada dasarnya pencarian informasi di kalangan masyarakat saat ini lebih kepada media sosial atau Hp, karena lebih mudah, cepat dan praktis dalam hal ini dengan perkembakan TIK saat ini akan mempengaruhi pola atau prilaku masayarakat yang ada di lingkungan tersebut sehingga dengan demikian realita di lapangan msayarakat lebih mengutamakan media sosial di bandingkan teman sendiri, contoh ketika lagi duduk bersama mereka pasti lebih sibuk dengan HPnya masing-masing di bandingkan ngobrol dengan teman. Dan ini menjadi tantangan kedepannya bagi masyarakat dalam hal menggunakan media sosial dengan bijak.

Conclusion

Sebagai pencari informasi, sebelum melakukan pencarian informasi, terlebih dahulu harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi. Karena dengan memahami kebutuhan informasi, pencari informasi mampu menentukan topik pencarian informasi. Setelah memahami topik kebutuhan informasinya, seorang pencari informasi yang baik, hendaknya melakukan pencarian informasi sesuai dengan proses-proses perilaku pencarian informasi agar dalam mengelola informasi dapat memperoleh informasi yang berkualitas dalam mendukung kebutuhannya yaitu dengan melihat akurat, tepat waktu, mudah dimengerti. Memahami perilaku pencarian informasi penting dipahami oleh pemustaka maupun pustakawan. Model-model pencarian informasi dalam makalah ini antara lain Starting, Chaining, Browsing, Differentiating, Mentoring, Extracting, Verifying, Ending. dapat dicoba untuk diterapkan dalam pencarian informasi di perpustakaan. Karena secara sadar maupun tidak selalu melakukan perilaku seperti yang telah disebutkan di atas ketika sedang mencari informasi harus terlebih dahulu mengetahi kebutuhan informasi yang kita inginkan agar informasi yang kita dapat tepat dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.