Kembali
16
1
2018 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 1 · 3 ISSN 2597-9957

Urgensi Peran Perpustakaan dalam Mendukung Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Abstrak

Perpustakaan pada perguruan tinggi berperan penting. Di samping menyediakan referensi perkuliahan dan penelitian, perpustakaan juga bertugas mendorong mahasiswa untuk memiliki minat baca yang tinggi. Artikel ini fokus mengkaji tentang tiga hal, yaitu manajemen perpustakaan, proses pembelajaran di perguruan tinggi dan urgensi perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi. Kajian artikel ini menyimpulkan bahwa manajemen perpustakaan pada perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengoleksi kar ya, namun juga melayani para pengunjung dalam memperoleh berbagai referensi perkuliahan dan penelitian. Pembelajaran pada dunia perguruan tinggi terkait erat dengan strategi perkuliahan, metode, faktor pendidik (dosen), mahasiswa dan fasilitas, yang salah satunya adalah perpustakaan. Dosen bukan satu-satunya sumber belajar, mahasiswa bisa belajar di perpustakaan. Pada pemahaman ini, perpustakaan akan mampu berfungsi tidak sekedar menyimpan koleksi, namun juga sumber belajar bagi mahasiswa. Peran perpustakaan bagi sebuah perguruan tinggi sangat strategis, termasuk dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca di kalangan mahasiswa. Namun pada masa sekarang, perpustakaan harus berbenah, dengan ditunjang manajemen yang baik. Intinya menyesuaikan zaman yang sudah tidak bisa dihindari

Abstract

An academic library has many significant roles, which inc ludes providing students with resources for their study and research needs and promoting the reading culture. This article focused on three main areas, i.e. academic library management, higher education’s learning process, and the need for the library to support teaching-learning programs. It is concluded that a library does not merely collect resources, but also meets the students’ needs for learning and research supports. The teaching-learning process in the higher education system is closely related to the learning strategies and methods, the quality of lecturers, and students and university’s facilities which includes libraries. Nowadays, many libraries have transformed into students’ main learning resources together with the teaching staff. In this context, the libraries have evolved as a place where students can improve their knowledge. In order to maximize its services, libraries need to continuously improve their management practices.
Keywords: Academic library · Student reading interests

Introduction

Perpustakaan bukan merupakan hal yang baru di kalangan masyarakat. Perpustakaan secara sederhana adalah salah satu unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, ruang khusus dan kumpulan koleksi sesuai dengan jenis perpustakaannya. Sedangkan pengertian perpustakaan menurut Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Peran perpustakaan pada perguruan tinggi sangat penting. Di samping menyediakan berbagai referensi bagi pendukung perkuliahan dan penelitian, perpustakaan juga bertugas mendorong mahasiswa untuk memiliki minat baca yang tinggi. Perpustakaan bertujuan membantu mahasiswa agar selalu terlatih untuk belajar selalu mandiri dan tidak menganggap dosen sebagai satu-satunya sumber belajar. Jadi dengan bimbingan dari dosen dan Pustakawan, mahasiswa akan lebih kreatif dalam menggali hal-hal baru di luar yang disampaikan oleh dosen di dalam kelas perkuliahan. Sebagai lembaga informasi, perpustakaan akan memiliki kinerja yang baik jika ditunjang dengan manajemen yang memadai. Dengan adanya manajemen, seluruh aktivitas lembaga akan mengarah kepada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga seluruh elemen dalam suatu lembaga tersebut akan berusaha memfungsikan diri sesuai dengan ketentuan lembaga atau perpustakaan. Setiap lembaga atau perpustakaan memerlukan manajemen. Manajemen berfungsi untuk mengatur aktivitas seluruh elemen dalam suatu lembaga. Oleh karena itu, dalam proses manajemen diperlukan perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, kepemimpinan dan pengendalian. Manajemen perpustakaan pada dasarnya adalah proses mengoptimalkan kontribusi manusia, material dan anggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan. Eksistensi perpustakaan di perguruan tinggi masih mengalami berbagai hambatan, sehingga belum mampu berjalan sebagaimana mestinya. Hambatan tersebut berasal dan dua aspek. Pertama aspek strutural, dalam arti keberadaan perpustakaan kurang memperoleh perhatian dari pihak pimpinan perguruan tinggi. Kedua aspek teknis, artinya keberadaan perpustakaan belum ditunjang aspek-aspek bersifat teknis yang sangat dibutuhkan oleh perpustakaan, seperti tenaga, dana serta sarana dan prasarana. Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan bertindak sebagai selaku penyimpan khazanah hasil pikiran manusia. Hasil pikiran manusia itu dapat dituangkan dalam bentuk cetak, non-cetak ataupun dalam bentuk elektronik. Hasil pikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk buku dalam arti luas (mencakup bentuk cetak atau grafis, non-cetak, bentuk elektronik) ini seringkali diasosiasikan dengan kegiatan belajar. Buku merupakan alat bantu manusia untuk belajar sejak saat mulai dapat membaca. Oleh karena, itu, perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku, sedangkan buku dikaitkan dengan kegiatan belajar, maka perpustakaan pun (termasuk dalam hal ini perpustakaan kampus) selalu dikaitkan dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dibagi atas dua macam, yaitu kegiatan belajar di dalam lingkungan perguruan tinggi dan kegiatan belajar di luar lingkungan kelas. Perpustakaan sebagai pranata yang dikaitkan dengan kegiatan belajar lebih mengarah kepada kegiatan belajar di luar lingkungan kelas. Dalam kenyataannya, ada juga kampus yang memiliki perpustakaan sehingga, kegiatan belajar disatukan antara kampus dengan perpustakaan. Oleh karena itu, muncul jenis perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi yang kemudian dikenal dengan istilah perpustakaan kampus (I Ketut Widiasa, 2007: 1). Artikel ini fokus mengkaji tentang tiga hal. Pertama adalah seluk beluk tentang manajemen perpustakaan di perguruan tinggi. Kedua adalah proses pembelajaran dalam dunia perguruan tinggi. Artikel ini juga mengaitkan kedua hal di atas, yaitu urgensi perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi.

Discussion

1. Manajemen Perpustakaan Manajemen dalam bahasa Inggris berarti to manage, yaitu mengatur atau mengelola, dalam arti khusus bermakna memimpin dan kepemimpinan, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengelola lembaga atau organisasi, memimpin dan melaksanakan kepemimpinan dalam organisasi. Orang yang memimpin organisasi disebut dengan manajer. Menurut Hikmat, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu (Hikmat, 2009: 11- 12). Menurut GR. Terry, sebagaimana dikutip oleh Hikmat, manajemen sebagai seni dan ilmu. Keduanya dipadukan dalam rangka mengarahkan dan memengaruhi orang lain untuk melaksanakan rencana pemimpin dan memengaruhi tujuan sesuai keinginan pemimpin organisasi, baik dalam arti yang luas maupunyang sempit. Sedangkan menurut James F. Stoner, yang dikutip oleh Lasa Hs, menyatakan bahwa manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan para anggota sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi (Lasa Hs, 2008: 1). Pengertian perpustakaan, pada zaman globalisasi sekarang ini, menjadi sesuatu yang sangat penting. Ini dikarenakan pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki oleh setiap orang agar mampu menjawab tantangan kehidupan, yang banyak cara untuk dapat mencapainya, di antaranya adalah melalui perpustakaan. Ini karena di perpustakaan berbagai informasi dapat diperoleh, selain itu banyak juga manfaat lain yang bisa diperoleh dalam perpustakaan. Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pustaka berarti kitab, buku atau primbon. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan library. Istilah ini berasal dari dari kata librer atau libri, yang artinya buku. Dari kata lain tersebut, terbentuklah istilah librarus, yang berarti tentang buku. Sementara itu, dalam bahasa asing lainnya, perpustakaan disebut bibliotheca (Belanda). Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblia, yang artinya tentang buku atau kitab (Andi Prastowo, 2012: 41). Sebagai sebuah istilah, perpustakaan dalam KBBI artinya tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya. Atau arti kedua, yaitu koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lain yang disimpan untuk dibaca, dipelajari dan dibicarakan. Menurut Wiji Suwarno, perpustakaan adalah sebuah ruangan bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual (Wiji Suwarno, 2010: 31). Menurut ketentuan umum Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, menyatakan bahwa pepustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Sedangkan Lasa Hs menyatakan bahwa perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyajian serta penyebaran informasi. Informasi meliputi produk intelektual dan artistik manusia (Lasa Hs, 48). Dengan agak sedikit berbeda, tetapi memiliki maksud yang hampir sama, Ibrahim Bafadal mengungkapkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan buku (non-buku) yang diatur secara sitematis menurut aturan tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya (Ibrahim Bafadal, 2011: 3). Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas, disimpulkan bahwa perpustakaan adalah bagian sebuah ruangan bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri dari suatu badan atau lembaga yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non-buku) yang dapat digunakan untuk menyimpan yang dapat digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya dan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya serta bukan untuk dijual. Penyelenggaraan perpustakaan bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan- bahan pustaka, dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan, sebuah lembaga pendidikan diharapkan mampu membantu para peserta didik dan para pendidik menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu segala bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan harus dapat menunjang proses belajar mengajar. Selaras dengan hal tersebut, Pawit M. Yusuf, menunjukkan banyak tujuan keberadan perpustakaan bagi sebuah lembaga pendidikan. Tujuan itu meliputi, (1) mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca para peserta didik, (2) membantu menulis kreatif bagi para peserta didik dengan bimbingan pendidik dan pustakawan, (3) menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para peserta didik, (4) menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan kurikulum, (5) mendorong, menggairahkan, memelihara dan memberi semangat membaca dan belajar kepada para peserta didik, (6) memperluas, memperdalam dan memperkaya pengalaman belajar para peserta didik dengan membaca buku dan koleksi lain yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi yang disediakan oleh perpustakaan, (7) memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca, khususnya buku-buku sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan, misalnya fiksi, cerpen dan lain sebagainya (Pawit M. Yusuf, 2010: 2). Sebuah perpustakaan bagi lembaga pendidikan tampak bermanfaat jika benar-benar memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar. Sebagai indikasi manfaat tersebut tidak hanya dari tingginya prestasi para peserta didik, tetapi lebih jauh lagi, antara lain adalah peserta didik mampu mencari, menemukan, menyaring dan menilai informasi, peserta didik terbiasa belajar mandiri, terlatih ke arah tanggung jawab, selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain sebagainya. Secara lebih terinci, terdapat beberapa manfaat keberadaan perpustakaan bagi semua jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di antara manfaat tersebut adalah, (1) perpustakaan dapat menimbulkan kecintaan para peserta didik terhadap membaca, (2) perpustakaan dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik, (3) perpustakaan dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya peserta didik mampu belajar mandiri, (4) perpustakaan dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca, (5) perpustakaan mampu membantu perkembangan percakapan berbahasa, (6) perpustakaan dapat melatih peserta didik ke arah tanggung jawab, (7) perpustakaan dapat memperlancar peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka, (8) perpustakaan dapat membantu peserta didik, pendidik dan staf akademik dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Ibrahim Bafadal, 5-6). Pendirian perpustakaan di sebuah lembaga pendidikan sesungguhnya tidak terlepas dari pertimbangan bahwa jika perlengkapan dan sarana yang memadai tersedia, maka diharapkan peserta didik dan masyarakat sekitar lainnya dapat melakukan kegiatan positif dan produktif. Beberapa kegiatan positif dan produktif itu diterangkan oleh Dian Sinaga, yang dikutip oleh Andi Prastowo, antara lain (1) dapat menemukan informasi, fakta dan data yang belum diketahui, (2) para peserta didik dapat berlatih keterampilan-keterampilan tertentu yang akan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupannya, (3) dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai, maka para peserta didik dapat mengadakan penelitian dan percobaan-percobaan yang sederhana sesuai dengan kemampuannya, (4) dapat mengadakan rekreasi dan mengisi waktu luang atau senggang di sela-sela kesibukan (Andi Prastowo, 48). Smith dkk dalam buku ensiklopedia berjudul The Educator’s Encyclopedia menyatakan school library is a center learning, yaitu perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar. Jika ditinjau secara umum, perpustakaan itu sebagai pusat belajar sebab kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan peserta didik adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas maupun buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran. Namun jika ditinjau dari sudut tujuan peserta didik mengunjungi perpustakaan, maka ada yang tujuannya untuk belajar, ada yang tujuannya berlatih menelusuri buku-buku perpustakaan, ada yang tujuannya untuk memperoleh informasi, bahkan ada juga peserta didik yang mengunjungi perpustakaan dengan tujuan hanya sekedar untuk mengisi waktu senggangnya (Ibrahim Bafadal, 6). Sedangkan menurut Fatah Syukur, yang dikutip oleh Musfiqon, fungsi sebuah perpustakaan adalah penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi dan kultural (Musfiqon, 2012: 136-137). Koleksi sebuah perpustakaan bagi lembaga pendidikan juga sebagai sesuatu yang penting harus diperhatikan. Koleksi dalam KBBI memiliki arti kumpulan benda-benda bersejarah, gambar- gambar, lukisan, benda seni dan lain sebagainya yang sering dikaitkan dengan hobi. Dari arti kata tersebut, kata koleksi dapat dipahami sebagai kumpulan sesuatu (Laila, tt: 332). Menurut Dian Sinaga, sebagaimana dikutip Andi Prastowo, koleksi perpustakaan adalah sekumpulan bahan pustaka yang terdiri atas book matrealis dan non-book matrealis yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dari berbagai sumber pengadaan melalui suatu tahap penyelesaiaan. Tujuannya adalah agar berdaya guna dan berhasil guna bagi para pemakai perpustakaan (Andi Prastowo, 115). Yusuf dan Suhendar juga mengemukakan bahwa koleksi perpustakaan adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku ataupun bahan bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan proses belajar dan mengajar di lembaga pendidikan yang bersangkutan (Pawit M. Yusuf, 9). Koleksi perpustakaan harus dapat mencerminkan kebutuhan dan tututan para pemakai perpustakaan. Selain itu koleksi perpustakaan harus diarahkan pada sasaran pendidikan yang hakiki (mendasar), yaitu penambahan dan pengembangan ilmu pengetahuan, perubahan sikap dan pembinaan keterampilan para peserta didik. Sebagai modal dasar, maka koleksi perpustakaan senantiasa memerlukan pengembangan agar dapat mengikuti laju pergerakan kemajuan bidang pendidikan. Dalam hal ini, seorang pustakawan harus berpedoman pada fungsi dan koleksi. Randall dan Godrich, yang dikutip oleh Andi Prastowo, mengemukakan bahwa fungsi koleksi perpustakaan ada empat, yaitu (1) fungsi referensi, adalah koleksi perpustakaan yang dapat memberikan rujukan tentang berbagai informasi secara cepat, tepat dan akurat bagi para pemakainya, (2) fungsi kulikuler, maksudnya bahan-bahan pustaka yang memiliki fungsi kulikuler adalah koleksi bahan-bahan yang mampu mendukung kurikulum, (3) fungsi umum, maksudnya adalah fungsi koleksi perpustakaan yang bersifat umum ini berhubungan dengan pelestarian bahan pustaka dan hasil budaya manusia secara keseluruhan, (4) fungsi penelitian, maksudnya keberadaan koleksi perpustakaan harus mampu berfungsi memberikan jawaban atas keingintahuan dari para pemakai perpustakaan. Dengan begitu perpustakaan dapat dijadikan sarana yang menyediakan berbagai sumber informasi yang dibutuhkan oleh para pemakai atau peneliti dalam melakukan tugas mereka (Andi Prastowo, 117). Menurut Wiji Suwarno, koleksi bahan perpustakaan yang disediakan untuk kepentingan belajar, informasi, rekreasi kultural dan penelitian bagi semua lapisan masyarakat terdiri atas berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat ilmiah dan non-ilmiah. Hal ini terdiri atas tiga jenis. Pertama adalah karya cetak berupa buku teks, buku referensi (rujukan), seperti ensiklopedia, kamus, almanak, anual, direktori, manual, handbook, biografi, sumber geografi, terbitan pemerintah seperti peraturan perundang-undangan, laporan penelitian, terbitan berkala seperti majalah, jurnal, buletin dan surat kabar. Kedua adalah karya rekam berupa kaset audio VCD, CD, CD-Rom pengetahuan, video cassette, televisi dan lain sebagainya. Ketiga adalah media elektronik atau not recorder, yaitu media penyimpanan informasi berupa pangkalan data yang ditayangkan melalui monitor komputer, misalnya internet. Menurut Dian Sinaga, koleksi perpustakaan meliputi delapan macam. Di antaranya adalah buku teks, alat peraga, buku-buku referensi, buku-buku tentang perpustakaan, bacaan sehat, bacaan lokal, buku-buku profesi untuk guru dan buku-buku untuk anak luar biasa. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat dilihat bahwa jenis-jenis koleksi perpustakaan sesungguhnya sangat beragam dan variatif. Namun, dicermati secara lebih teliti bahwa jenis-jenis koleksi itu secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu koleksi buku, koleksi bahan cetakan bukan buku, koleksi alat peraga dan koleksi bahan pandang dengar (audio-video). Layanan perpustakaan, secara umum, pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh organisasi atau perorangan kepada konsumen, yang bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki. Hal ini selaras dengan pendapat Norman, yang dikutip oleh Andi Prastowo, mengenai beberapa karakteristik pelayanan. Pertama adalah pelayanan bersifat tidak dapat diraba. Artinya, pelayanan sangat berlawanan sifatnya dengan barang jadi. Kedua adalah pelayanan terdiri atas tindakan nyata dan merupakan pengaruh yang sifatnya adalah tindakan sosial. Ketiga adalah produksi dan konsumsi dari pelayanan tidak dapat dipisahkan secara nyata. Hal ini dikarenakan pada umumnya, kejadiannya bersamaan dan terjadi di tempat yang sama. Menurut Ibrahim Bafadal, pelayanan perpustakaan sesungguhnya lebih tertuju kepada pelayanan pembaca. Dalam buku Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, dia menggunakan istilah pelayanan pembaca dari pada pelayanan perpustakaan. Bafadal berpandangan bahwa pelayanan pembaca adalah kegiatan pemberian pelayanan pengunjung perpustakaan dalam menggunakan buku-buku dan bahan-bahan pustaka lainnya. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa pelayanan perpustakaan adalah suatu upaya yang dilakukan oleh pustakawan agar bahan-bahan pustaka dapat dimanfaatkan dan diberdayakan dengan optimal oleh para pemakai perpustakaan atau para pembaca. Dengan demikian, perpustakaan dapat melaksanakan seluruh fungsi-fungsinya dengan baik. Sistem pelayanan perpustakaan adalah sistem pelayanan terbuka dan pelayanan tertutup. Pelayanan sistem terbuka (open acces system) memberikan kesempatan kepada para pengguna perpustakaan diperbolehkan mencari dan mengambil sendiri buku-buku yang dibutuhkan. Jadi pada sistem ini para pengunjung boleh masuk ke gudang atau ruang perpustakaan. Jika akan pinjam maka buku dibawa ke bagian sirkulasi untuk dicatat seperlunya. Pada sistem tertutup (closed acces system), pengunjung tidak diperbolehkan mencari dan mengambil sendiri buku-buku yang dibutuhkan. Jika ingin mencari buku harus melalui petugas. Jadi pada sistem ini para pengguna perpustakaan tidak diperbolehkan masuk gudang atau ruang buku. Jenis pelayanan perpustakaan, menurut Bafadal Ibrahim, meliputi dua hal. Pertama adalah pelayanan sirkulasi. Pelayanan ini merupakan kegiatan melayani peminjaman dan pengembalian buku-buku perpustakaan. Tugas pokok bagian sirkulasi antara lain melayani pengunjung yang akan meminjam buku-buku perpustakaan, melayani yang akan mengembalikan buku-buku yang telah dipinjam dan membuat statistik pengunjung. Kedua adalah pelayanan referensi. Pelayanan ini berhubungan dengan pelayanan pemberian informasi dan pemberian bimbingan belajar (Ibrahim Bafadal, 124-133). Pada perpustakaan dalam dunia pendidikan, dikenal istilah klasifikasi dan katalogisasi. Klasifikasi merupakan suatu proses memilih dan mengelompokkan buku-buku perpustakaan atau bahan pustaka lainnya atas dasar tertentu serta diletakkannya secara bersama-sama di suatu tempat. Adapun tujuan mengklasifikasi buku-buku perpustakaan adalah (1) untuk mempermudah pengunjung di dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan, (2) untuk mempermudah pustakawan dalam mencari buku-buku yang dipesan oleh pengunjung, (3) untuk mempermudah pustakawan mengetahui pertimbangan bahan pustaka, (4) untuk mempermudah pustakawan di dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka berdasarkan sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi yang biasa digunakan adalah sistem klasifikasi persepuluhan yang disusun oleh Malvil Dewey. Sistem klasifikasi ini dikenal dengan nama Dewey Decimal Clasification yang disingkat menjadi DDC. Susunan subjek pada sistem klasifikasi persepuluhan Dewey. Pada sistem ini ilmu pengetahuan di bagi menjadi 10 kelompok yang dinyatakan dengan notasi angka desimal, yaitu 000 – karya umum, 100 – filsafat, 200 – agama, 300 – ilmu sosial, 400 – bahasa, 500 – ilmu murni, 600 – ilmu terapan/teknologi, 700 – kesehatan dan olahraga, 800 – kesusastraan dan 900 – sejarah dan geografi. Sedangkan katalog merupakan suatu daftar yang berisi keterangan-keterangan yang lengkap dari suatu buku-buku koleksi, dokumen-dokumen atau bahan-bahan pustaka yang bukan berupa buku, seperti surat kabar, majalah, brosur, laporan dan kliping. Sedangkan keterangan-keterangan yang lengkap misalnya judul buku, nama pengarang, edisi atau jilid (jika ada), kota terbit, penerbit, tahun terbit dan lain sebagainya (Ibid, 89). Fungsi katalog meliputi empat hal. Pertama adalah bahwa katalog berfungsi sebagai yang menginformasikan buku-buku perpustakaan. Karena katalog itu merupakan alat komunikasi, sudah barang tentu katalog itu berisi bahan-bahan informasi yang dikomunikasikan, dalam hal ini berupa ciri-ciri buku misalnya judul buku, pengarang, edisi, kota terbit, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman dan lain sebagainya. Kedua adalah bahwa katalog berfungsi sebagai wakil buku. Fungsi ini merupakan konsekuensi lanjut dari fungsi pertama, oleh karena itu memberikan keterangan-keterangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku, dengan membaca katalog dapat secara langsung memperoleh gambaran-gambaran mengenai bukunya. Ketiga adalah bahwa kedua pelayanan perpustakaan tersebut akan optimal jika didukung dengan tenaga pustakawan yang andal dan profesional. Pustakawan juga merupakan individu yang hidup dan melakukan segala kegiatan. Artinya, bahwa ketika sebutan sebagai pustakawan disandang, seketika profesi itu pun melekat pada dirinya. Keempat adalah menurut Wiji Suwarno menjelaskan bahwa orang yang disebut pustakawan adalah orang yang benar-benar mengerti ilmu perpustakaan, setidaknya pernah mendapat pelatihan tentang kepustakawanan yang diberi tugas dan tanggung jawab kepustakawanan yang kemudian diberi tugas dan tanggung jawab oleh lembaga yang merekrut (berwenang) untuk bekerja di perpustakaan sesuai dengan kualifikasi ilmu yang dimiliki (Wiji Suwarno, 2010: 9). Menurut Lasa Hs, perpustakaan bukan sekedar gedung untuk menyimpan informasi, tetapi juga seistem informasi. Sebagai sistem informasi, perpustakaan memiliki kegiatan pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyebaran informasi (Lasa Hs, 48). Sedangkan menurut Jo Bryson, yang dikutip oleh Lasa Hs, manajemen perpustakaan merupakan upaya pencapaian tujuan dengan pemanfaatan sumber daya manusia, informasi, sistem dan sumber dana dengan tetap memperhatikan funsi manajen, peran dan keahlian. Menutur George R. Terry, yang dikutip oleh Andi Prastowo, fungsi manajemen perpustakaan meliputi empat tahap (Andi Prastowo, 32). Pertama adalah fungsi perencanaan (planning). Perencanaan merupakan titik awal berbagai aktifitas organisasi yang sangat menentukan keberhasilan organisasi. Perencanaan harus dilakukan oleh perpustakaan untuk memberikan arah, menjadi standar kerja, memberikan kerangka pemersatu dan untuk memperkirakan peluang- peluang. Dengan perencanaan yang baik, maka seluruh aktifitas organisasi dapat diarahkan menuju titik awal tujuan yang jelas. Dalam hal ini jenis perencanaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu rencana jangka panjang (long range plans), rencana jangka menengah (intermediate plans) dan rencana jangka pendek (short range plans) (Hikmat, 110). Langkah awal dalam proses perencanaan perpustakaan adalah, (1) penetapan visi, misi dan tujuan, (2) perumusan keadaan sekarang, (3) identifikasi kemudahan dan hambatan, (4) pengembangan perencanaan. Kedua adalah fungsi pengorganisasian (organizing). Pengorganisasian merupakan penyatuan langkah dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan oleh elemen-elemen dalam suatu lembaga. Penyatuan langkah ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas. Suatu organisasi akan berjalan dengan baik jika terdapat prinsip yang memadai landasan geraknya. Prinsip-prinsip itu di antaranya perumusan tujuan, pembagian kerja, pembagian wewenang, kesatuan komando dan koordinasi Ketiga adalah fungsi pergerakan (actuating). Pergerakan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan sesuai perencanaan untuk mencapai sasaran tertentu secara efektif dan efisien. Tahap ini, menurut Husein Usman, yang dikutip oleh Andi Prastowo, meliputi tiga belas fungsi. Di antara fungsi-fungsi tersebut adalah motivasi, kepemimpinan, kekuasaan, pengambilan keputusan, komunikasi, koordinasi, negoisasi, manajemen konflik, perubahan organisasi, keterampilan interpersonal, membangun kepercayaan, penilaian kinerja dan kepuasan kerja (Andi Prastowo, 36). Keempat adalah fungsi pengawasan (controlling). Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dalam suatu perpustakaan perlu pengawasan agar dapat diperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan, selain itu untuk memperoleh peningkatan kualitas. Dengan peningkatan ini diharapkan mampu menjamin aktivitas-aktivitas yang dilakukan, sehingga memberikan hasil atau produk seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, pengawasan ini dapat dilakukan pada kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan dan penganggaran. Pengawasan dapat dilakukan dengan cara preventif maupun korektif. Kedua pengawasan tersebut dapat dilakukan pada bidang-bidang produksi, waktu, kegiatan manusia maupun keuangan. 2. Pembelajaran Belajar di dunia perguruan tinggi merupakan kegiatan fundamental dalam proses pendidikan yang mana terjadinya proses belajar yang tidak terlepas dari proses mengajar. Proses pengajaran dan pembelajaran dalam konteks pendidikan formal merupakan usaha sadar dan sengaja serta terorganisir secara baik, guna untuk mencapai tujuan institusional yang diemban oleh lembaga yang menjalankan misi pendidikan. Menurut Iskandar, proses pembelajaran adalah seperangkat kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Kegiatan belajar yang dilaksanakan peserta didik di bawah bimbingan pendidik. Pendidik bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada saat mengajar. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, pendidik dituntut untuk merancangkan sejumlah pengalaman belajar. Yang dimaksud dengan pengalaman belajar disini adalah segala yang diperoleh peserta didik sebagai hasil dari belajar (learning experience). Belajar ditandai dengan mengalami perubahan tingkah laku, karena mengalami pengalaman baru (Iskandar, 2012: 9). Kegiatan belajar sering dikaitkan dengan mengajar, bahkan belajar mengajar digabungkan menjadi pembelajaran, sehingga (belajar mengajar) sulit dipisahkan. Namun perlu diingat bahwa tidak selalu kegiatan belajar harus ada yang mengajar dan sebaliknya tidak selalu kegiatan mengajar menghasilkan kegiatan belajar. Sri Minarti menyatakan bahwa proses pembelajaran merupakan kegiatan utama di lembaga pendidikan, yang diberi kebebasan memilih strategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik peserta didik, karakteristik pendidik dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di lembaga pendidikan (Sri Minarti, 2012: 169). Menurut Makmun, sebagaimana dikutip Iskandar, proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian interaksi antara peserta didik dengan pendidik dalam rangkaian mencapai tujuannya, maknanya terjadi perilaku belajar pada peserta didik dan perilaku mengajar pada pihak pendidik yang terjadi hubungan interaktif yang bersifat mengikat antara aktivitas kedua belah pihak (Iskandar, 100). Jika dicermati proses interaksi peserta didik dapat dibina dan merupkan bagian dari proses pembelajaran, seperti yang dikemukakan oleh Corey, bahwa pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan dia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Selanjutnya Syaiful Sagala menyatakan bahwa pembelajaran memiliki dua karakteristik. Pertama adalah dalam proses pembelajaran melibatkan proses berpikir. Kedua adalah dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. Berdasarkan uraian di atas, proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-temannya secara baik dan bijak. Terdapat beberapa bentuk pembelajaran, seperti pembelajaran kooperatif, pembelajaran aktif, pembelajaran langsung atau interaktif, pembelajaran inquiry dan pembelajaran kontekstual (Lukmanul Hakim, 2008: 53). Selain itu, dalam proses pembelajaran, peran metode dalam pembelajaran sangat menetukan keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan pesan kepada para peserta didik. Memilih metode yang tepat untuk menciptakan suasana proses pembelajaran yang menarik. Penilaian metode dari segi penerapannya sangat tergantung kepada jumlah peserta didik yang besar atau kecil. Beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, tugas dan resitasi, kerja kelompok, demonstrasi dan eksperimen, sosiodrama dan bermain peranan, problem solving, susun regu (team teaching), latihan (drill) dan karyawisata (Iskandar: 134). Strategi pembelajaran, di satu sisi, merupakan upaya membelajarkan peserta didik untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan peserta didik mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Sedangkan strategi adalah suatu rencana tentang pendayagunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengajaran. Rusyan berpendapat bahwa strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Hal senada juga dikemukakan oleh Djamarah yang menegaskan bahwa secara umum strategi memiliki pengertian suatu garis-garis besar haluan yang telah ditentukan. Berkaitan dengan pembelajaran, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan pendidik dengan peserta didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Secara umum, dalam strategi pembelajaran, terdapat tiga tahapan pokok yang harus diperhatikan dan diterapkan (Yatim Riyanto, 2010: 133). Tahap pemula (pra-intruksional) adalah tahapan persiapan pendidik sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Dalam tahapan ini kegiatan yang dapat dilakukan seorang pendidik antara lain memeriksa kehadiran peserta didik, pretest (menanyakan materi sebelumnya) dan apresiasi (mengulas kembali secara singkat materi sebelumnya). Tahap kedua adalah pengajaran (intruksional) yaitu langkah-langkah yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Tahap ini merupakan tahapan inti dalam proses pembelajaran. Pendidik menyajikan materi pelajaran yang telah disiapkan. Kegiatan yang dilakukan pendidik antara lain menjelaskan tujuan pengajaran peserta didik, menuliskan pokok-pokok materi yang akan dibahas, membahas pokok-pokok materi yang telah ditulis, menggunakan alat peraga dan menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi. Tahap ketiga adalah penilaian dan tindak lanjut (evaluasi), yaitu penilaian atas hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dan tindak lanjutnya. Setelah melalui tahap intruksional, langkah selanjutnya yang ditempuh seorang pendidik adalah mengadakan penilaian keberhasilan belajar peserta didik dengan melakukan post-test. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan seorang pendidik dalam tahap ini antara lain mengajukan pertanyaan kepada peserta didik tentang materi yang telah dibahas, mengulas kembali materi yang belum dikuasai peserta didik dan memberi tugas atau pekerjaan rumah kepada peserta didik menginformasikan pokok materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Hasil penilaian dapat dijadikan pedoman bagi pendidik untuk melakukan tindak lanjut, baik berupa perbaikan maupun pengayaan. Tahapan-tahapan tersebut memiliki hubungan erat dengan penggunaan strategi pembelajaran. Oleh karena itu, setiap penggunaan strategi pembelajaran harus merupakan rangkaian yang utuh dengan tahapan-tahapan pengajaran jika digambarkan, dapat diketahui tahapan pengajaran sebagai berikut: 1 2 3 Jenis strategi pembelajaran berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Ibid, 136). Atas dasar pertimbangan proses pengelolaan pesan, terdapat strategi deduktif. Materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang umum ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian-bagian itu dapat berupa sifat, atribut atau ciri-ciri. Ada juga strategi induktif. Dengan strategi induktif, materi bahan pelajaran diolah mulai dari khusus ke yang umum, generalisasi atau umum. Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan, ada strategi strategi ekspositorik. Dengan strategi ekspositorik, pendidik yang mencari dan mengolah bahan pelajaran yang kemuadian menyampaikannya kepada peserta didik. Strategi ekspositorik dapat digunakan dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah. Ada juga strategi heuristis. Dengan heuristis, bahan atau materi pelajaran diolah oleh peserta didik. Mereka yang aktif mencari dan mengolah bahan atau materi pelajaran, pendidik sebagai fasilitator untuk memberikan dorongan, arahan dan bimbingan. Atas dasar pertimbangan pengaturan pendidik, termasuk saat pendidik mengajar sendiri atau strategi pengajaran beregu (team teaching). Atas dasar pertimbangan jumlah peserta didik, terdapat strategi klasikal, strategi kelompok dan strategi individu. Atas dasar pertimbangan interaksi pendidik dengan peserta didik, terdapat strategi tatap muka dan strategi pengajaran melalui media. Pendidik tidak langsung kontak dengan peserta didik, tetapi melalui media. 3. Urgensi Perpustakaan Perpustakaan berperan sebagai jantung ilmu. Pada masa klasik, perpustakaan tidak sekedar menyimpan buku. Namun juga proses penulisan, penterjemahan, diskusi, pelatihan dan lain sebagainya. Perpustakaan harus berbenah. Intinya menyesuaikan zaman yang sudah tidak bisa dihindari. Generasi muda era milenial harus dicerdaskan. Caranya dengan tetap menyediakan berbagai koleksi dan referensi bermutu. Termasuk juga menyajikan berita faktual yang mudah diakses. Sebagaimana UU Nomor 43/2007 tentang Perpustakaan, koleksi perpustakaan harus bervariasi. Tidak sekedar karya tulis. Juga berupa karya cetak ataupun karya rekam. Itu semua akan mewujud jika ditunjang manajemen yang memadai. Sehingga seluruh aktivitas perpustakaan mengarah kepada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Seluruh elemen perpustakaan pun akan berusaha memfungsikan diri sesuai etos kerja perpustakaan. Perpustakaan juga merupakan sarana pelestarian budaya. Dengan memberikan dan menjaga buku-buku yang mengenai sejarah budaya bangsa atau perkembangan budaya sekarang. Perpustakaan juga dituntut mampu membentuk budaya bangsa yang gemar literasi. Tidak sekedar membaca, namun juga didorong sebagai subjek untuk menghasilkan karya tulis. Terutama bagi kalangan generasi muda dan mahasiswa. Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar, perlu diciptakaan atmosfir akademis yang menunjang di perguruan tinggi. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca di lingkungan mahasiswa. Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca mahasiswa akan berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung. Pada lingkungan perguruan tinggi, perpustakaan memiliki peran sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningkatkan minat baca mahasiswa. Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk mahasiswa. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Peran perpustakaan sanga

Conclusion

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan tiga hal. Pertama adalah bahwa manajemen perpustakaan pada perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengoleksi karya, namun juga melayani pengunjung dalam memperoleh berbagai referensi terkait perkuliahan dan penelitian, baik kepada dosen maupun mahasiswa. Sistem pelayanan perpustakaan terbagi menjadi sistem pelayanan terbuka dan pelayanan tertutup. Penyelenggaraan perpustakaan bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, namun koleksi perpustakaan diharapkan mampu menunjang proses belajar mengajar. Kedua adalah bahwa pembelajaran pada dunia perguruan tinggi terkait erat dengan strategi perkuliahan, metode, faktor pendidik (dosen), mahasiswa dan fasilitas, yang salah satunya adalah perpustakaan. Dengan pendekatan perkuliahan yang baik, dosen bukan satu-satunya sumber belajar. Mahasiswa bisa belajar di perpustakaan. Pada pemahaman ini, perpustakaan akan mampu berfungsi tidak sekedar menyimpan koleksi, namun juga sumber belajar bagi mahasiswa. Ketiga adalah bahwa peran perpustakaan bagi sebuah perguruan tinggi sangat strategis dan penting (urgent), termasuk dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca di kalangan mahasiswa. Perpustakaan berperan sebagai jantung ilmu. Namun pada masa sekarang, perpustakaan harus berbenah. Intinya menyesuaikan zaman yang sudah tidak bisa dihindari. Itu semua akan mewujud jika ditunjang manajemen perpustakaan yang memadai.