Kembali
16
1
2020 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 3 · 3 ISSN 2597-9957

Studi tentang perilaku pencarian informasi pada official account line KABIM Universitas padjadjaran

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang perilaku pencarian informasi mahasiswa pada Official Account LINE Kabim Universitas Padjadjaran. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perilaku pencarian mahasiswa pada Official Account LINE Kabim Unpad berdasarkan model information search process oleh Carol Khulthau. Khulthau membagi menjadi enam tahapan yaitu tahap inisiasi, tahap seleksi, tahap eksplorasi, tahap formulasi, tahap koleksi, dan tahap presentasi. Metode yang digunakan ialah kuantitatif dengan analisis survey deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner, wawancara dan studi pustaka. Populasi dalam penelitian ini ialah adders dari Official Account LINE Kabim Unpad yaitu mahasiswa Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan sampel kuota dengan 99 orang responden penerima beasiswa Bidikmisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahap inisiasi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tinggi, tahap seleksi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tingg i, tahap eksplorasi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tinggi, tahap formulasi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tinggi, tahap koleksi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tinggi, dan tahap presentasi yang dilakukan oleh responden dalam kategori tinggi.

Abstract

This research explained about college student’s information seeking behavior through LINE Kabim Universitas Padjadjaran Official Account. The purpose of this research is to obtained information about college student’s information seeking behavior through LINE Kabim Universitas Padjadjaran Official Account according to information search process model by Carol Khulthau. Khulthau divided information search process into 6 stages: initiation, selection, exploration, formulation, collection, and presentation. This research is quantitative method with descriptive analysis survey. The data were collected by using questionnaire, interview, and literature study. The population of this research was Universitas Padjadjaran college students who add LINE Kabim Universit as Padjadjaran Official Account. This research used quota based sampling and obtained 99 Bidikmisi scholarship recipients as respondent in total. Based on research finding the result of respondents’ initiation process is high, respondents’ selection proces s is high, respondents’ exploration process is high, respondents’ formulation process is high, respondents’ collection process is high, and respondents’ presentation process is high.
Keywords: information seeking behavior · Line official account · bidikmisi

Introduction

Seperti yang kita lihat dewasa ini, banyak sekali perubahan yang terjadi di bidang komunikasi. Dimulai dari bentuk komunikasi yang sederhana sampai pada komunikasi elektronik. Perubahan yang cepat ini didorong oleh adanya berbagai penemuan di bidang teknologi sehingga apa yang dulu merupakan kendala dalam kegiatan komunikasi, sekarang sudah terbuka lebar. Seseorang dapat berhubungan dengan seseorang atau sekelompok orang tanpa dibatasi oleh faktor waktu, jarak, jumlah, kapasitas dan kecepatan. Perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi telah memberikan pengaruh terhadap lini bidang pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Di era modern seperti sekarang ini, komunikasi sebagai media pendidikan direalisasikan dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti komputer, internet, e-mail dan alat komunikasi teknologi digital lainnya. Dengan terjadinya perkembangan teknologi yang begitu cepat membawa seseorang untuk selalu berdampingan dengan informasi dan ingin mengembangkan kemampuannya sesuai bidang yang dipilih. Karena kebutuhan informasi ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. (Pendit P. L., 2008) mengatakan selama manusia masih memiliki tujuan hidup, maka selama itu pula manusia memerlukan informasi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya informasi, karena dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun seseorang pasti selalu membutuhkan informasi dalam kehidupan sehari-hari (Putubuku, 2008). Dalam hal ini pengguna informasi menyadari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kelangsungan kegiatan sehari-hari pengguna informasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Wersig dalam Belkin & Vickery, manusia membutuhkan informasi karena adanya problematic situation (Pendit P. L., 1992). Situasi problematik yang dikaji dalam penelitian ini adalah situasi dimana mahasiswa merasakan kurangnya informasi yang mereka miliki yang berkaitan dengan program beasiswa yang mereka peroleh, sehingga menuntut mahasiswa untuk melakukan pencarian informasi. Perilaku dalam pencarian informasi diistilahkan sebagai information searching behavior. Menurut (Wilson, 2000) “perilaku pencarian informasi adalah upaya pencarian informasi yang digunakan oleh pencari informasi ketika berinteraksi dengan sistem informasi”. Tindakan yang diawali dengan kebutuhan dan dilanjutkan dengan persiapan pencarian hingga akhirnya selesai memenuhi kebutuhan informasi, dalam konteks inilah disebut dengan perilaku pencarian informasi (Yusup, 2012). Setiap orang pasti memiliki pola perilaku pencarian yang berbeda-beda. (Wilson, 1999), menyatakan bahwa aspek sosial budaya, ekonomi, politik, serta peran sosial manusia sebagai aspek yang mempengaruhi perbedaan perilaku pencarian informasi antara individu dengan individu, ataupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya (Pendit P. L., 2003, hal. 29) Sehubungan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, dan kebutuhan informasi yang selalu berdampingan dengan kehidupan manusia, maka, masyarakat pun mulai melakukan pencarian informasi dengan menggunakan perangkat teknologi media baru. Media baru adalah berbagai perangkat teknologi komunikasi yang berbagi cara yang sama yang mana selain baru dimungkinkan dengan digitalisasi dan ketersediannya yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat komunikasi (McQuail, 2011). Media baru tersebut dikelompokan menjadi empat kategori: pertama, media komunikasi interpersonal yang terdiri dari telpon, handphone, e-mail; kedua, media bermain interaktif seperti komputer, videogame, permainan dalam internet; ketiga, media pencarian informasi yang berupa portal/search engine; keempat, media partisipasi kolektif seperti penggunaan internet untuk berbagi dan pertukaran informasi, pendapat, pengalaman dan menjalin melalui komputer dimana penggunaan nya tidak semata-mata untuk alat namun juga dapat menimbulkan afeksi dan emosional (McQuail, 2000, hal. 127). Salah satu media baru yang semakin berkembang dan populer adalah media jejaring sosial online di dunia maya. Keinginan untuk membuat seluruh orang di dunia dapat menjalin pertemanan adalah awal muasal dari terbentuknya media jejaring sosial. Mengenai media jejaring sosial yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu media jejaring sosial LINE. LINE sendiri termasuk sebagai aplikasi messenger (pengirim pesan instan) yang paling populer dan banyak dipakai di Indonesia. LINE adalah aplikasi messenger yang sangat bagus dan perkembangannya juga sangat cepat, banyak fitur-fitur yang tidak ada di aplikasi serupa yang lain tapi ada padanya misalnya, terdapat timeline yang dibuat agar pengguna LINE dapat menulis apa saja yang ada dipikirannya atau sesuatu yang sedang terjadi disekitar mereka. LINE menjadi populer di Indonesia berkat fitur stiker, dan para maskot lucu LINE yang telah melekat di hati para generasi muda. LINE Indonesia saat ini berkembang dengan sangat baik. Sejak 2012 hingga sekarang, Line di Indonesia tumbuh dengan cukup pesat dengan jumlah pengguna lebih dari 90 juta. Sedangkan di tataran global, LINE kini digunakan lebih dari 500 juta pengguna aktif setiap bulannya (Oakley, 2016). LINE Messenger yang merupakan salah satu produk aplikasi online dari NHN Corporation (NAVER). LINE adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti smartphone, tablet, dan komputer. LINE dapat digunakan pada berbagai platform seperti iOS, Android, Windows Phone, BlackBerry OS bahkan Computer Mac OS X dan Microsoft Windows. Dilihat dari jumlah pengguna di Indonesia, LINE telah menganggap Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan sebagai salah satu negara terbanyak yang menjadi pengguna LINE Messenger di dunia. Tentu dengan mengajak masyarakat Indonesia khususnya kalangan mahasiswa untuk menggunakan LINE sebagai instant messaging untuk kegiatan sehari-hari. Mahasiswa menggunakan LINE Messenger ini untuk komunikasi yang bersifat akademik, komunikasi personal, serta komunikasi sosial. Ada beberapa alasan mengapa mahasiswa banyak sekali menggunakan LINE, diantaranya karena faktor pertemanan yang sama-sama menggunakan LINE, fitur menarik yang ditawarkan LINE, dan tingginya rating aplikasi ini di dalam application store di masing-masing device. Menggunakan aplikasi LINE Messenger membuat mahasiswa ini merasa lebih mudah untuk dihubungi oleh orang lain begitu pula sebaliknya karena menurut mereka, teman-temannya di dalam lingkungannya lebih banyak yang menggunakan LINE Messenger dibandingkan dengan aplikasi social chatting lainnya. Disamping itu juga, layanan LINE untuk pengguna bisnis meluncurkan aplikasi terbarunya yang bernama aplikasi LINE@, dimana aplikasi ini berfungsi agar pembuatan akun official di LINE dapat diperoleh dengan mudah. Tak terkecuali, semua pengguna LINE dapat membuat akun official di LINE, bahkan bisa lebih dari satu akun. Menariknya, pembuatan akun official di LINE ini tidak dipungut biaya sepeserpun. Tentu hal ini sangat bermanfaat bagi pengguna yang sedang merintis usaha ataupun tengah mempromosikan komunitasnya, melakukan fungsi penyebaran informasi dan fungsi hiburan. LINE@ juga mengalami pertembuhan pesat. Dilihat dari jumlah unduhan, aplikasi tersebut sudah mencapai 5 juta pengunduh (Sumber: Play Store). Banyak akun LINE@ di Indonesia dengan beragam informasinya yang dibagikan seperti dalam bidang politik, kemasyarakatan, motivasi, kesehatan, hiburan dan pendidikan. Akun tersebut memungkinkan kita untuk menambah pengetahuan serta membaginya kepada yang membutuhkan ataupun hanya sekedar alat hiburan. Setiap akun LINE@ memiliki jumlah pengikut tergantung kebutuhan ataupun minat yang sedang dijalani. Salah satu jenis akun yang paling diminati untuk diikuti adalah akun pendidikan atau komunitas, khususnya pendidikan lanjut dan kaitannya dengan kampus dan sebagainya untuk golongan remaja muda yang sedang menempuh pendidikan masa kini. Hal ini sangat banyak menyita perhatian para pelajar dan mahasiswa yang ingin memperoleh informasi seputar kampus yang praktis dan cepat didapat namun juga aktual dan lengkap. Akun LINE@ jenis ini dapat menarik mereka untuk lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan pra-kuliah maupun yang sedang berlangsung. Berikut adalah beberapa akun LINE@ yang membahas informasi seputar kampus, khususnya di Universitas Padjadjaran Tabel 1 Beberapa Official Account di Universitas Padjadjaran Nama Akun LINE@ Jumlah Followers INFO MAHASISWA UNPAD 44.837 anak.unpad 9.715 BEM Fikom Unpad 8.409 Warta Kema 2.995 Fikom HI 2.947 HIMAKA Fikom Unpad 1.412 Kabim Unpad 8.134 (data adders beberapa akun LINE@ sejenis tanggal 21 Februari 2019) Mahasiswa memenuhi kebutuhan informasi dibidang akademik dan non-akademiknya dengan melakukan pencarian informasi melalui media informasi yang menurutnya mampu memberikan informasi dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya. Bagi mahasiswa Universitas Padjadjaran, khususnya penerima beasiswa Bidikmisi, media tersebut adalah Official Account LINE Kabim Unpad. Berdasarkan hasil pengamatan pada 21 Februari 2019, media tersebut diantaranya adalah Twitter (@Kabim_Unpad) dengan 1.943 followers, Instagram (@kabimunpad) dengan 2591 followers, Facebook (Kabim Unpad) dengan 5.250 likes, serta Official Account LINE Kabim Unpad (@ffp1354c) dengan 8.134 adders. Kehadiran Official Account LINE Kabim Unpad membuat para mahasiswa, khususnya penerima beasiswa Bidikmisi, dapat menjangkau banyak sekali informasi seputar beasiswa Bidikmisi secara online dan dapat diakses kapan saja hanya dengan membuka aplikasi LINE di gadget masing-masing. Sehingga sangat mempermudah mahasiswa saat ini untuk dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan secara praktis. Dengan adanya Official Account LINE Kabim Unpad, mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi mendapatkan manfaat dengan bisa mengetahui informasi akademik dan non-akademik seperti info beasiswa, open recruitmen staf pengurus Kabim Unpad, roadshow Kabim Unpad, acara seminar, program kerja Kabim Unpad, apresiasi prestasi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi Unpad, informasi kegiatan anggota Bidikmisi Unpad, layanan curhat tiap minggunya, serta informasi lainnya yang berkaitan dengan beasiswa Bidikmisi Unpad yang harus diketahui oleh mahasiswa Universitas Padjadjaran. Informasi dalam LINE@ Kabim Unpad diperbaharui seiring dengan adanya event maupun informasi penting lain yang terbaharui setiap harinya. Media LINE memang tidak seperti search engine yang menyediakan fasilitas kolom carian secara khusus. Sebagai aplikasi instant messaging dan media penyedia informasi, Official Account LINE Kabim Unpad berperan sebagai pintu awal bagi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi untuk mendapatkan informasi terbaru dalam bidang akademik dan non-akademik. Peneliti memilih Official Account LINE dengan pertimbangan bahwa LINE ini merupakan sebuah media jejaring sosial yang mempunyai aplikasi official account dan dapat dibuat dengan mudah, guna untuk kepentingan suatu perusahaan atau komunitas (himpunan). Peneliti memilih Kabim Unpad (Kulawargi Mahasiswa Bidikmisi) karena himpunan ini termasuk yang menggunakan Official Account LINE guna memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anggotanya. Mengacu pada Teori Information Search Process (ISP) yang dikemukakan oleh Carol Kuhlthau pada tahun 1993, peneliti menggunakan teori ini sebagai dasar pemikiran atas penelitian yang dilakukan terhadap pemenuhan kebutuhan informasi adders atau anggota himpunan dari Official Account LINE Kabim Unpad. Teori ini menjelaskan bahwa timbulnya kesenjangan dalam diri manusia akhirnya mendorong manusia untuk mencari informasi guna mengetahui permasalahan yang dialaminya. Information search process adalah sebuah pencarian informasi dimana orang membangun pandangan mereka tentang dunia dengan asimilasi dan akomodatif informasi baru. Ketika seseorang dihadapkan dengan informasi baru, ia sering mengalami keraguan atau kebingungan. Dengan didasarkan pada gagasan George Kelly dalam Teori Konstruksi Personal, proses pencarian informasi (Information Search Process) dapat digambarkan mengenai proses kontruksi pencarian informasi (information seeking). Model perilaku pencarian informasi tidak hanya memandang ke dalam diri seseorang saja, tetapi mulai melihat adanya suatu gejala ‘proses’ yang lebih over untuk diamati (Prijana, Erwina, & Winoto, 2017). (Kuhlthau, 1993) memberi nama terhadap gejala tersebut sebagai “Information Search Process”. Ia memandang bahwa setiap langkah pencarian informasi selalu dikaitkan dengan aspek psikologis manusia, yakni kognisi, afeksi, dan motorik. Disini Kuhlthau menerangkan bahwa proses pencarian informasi itu diawali dari sesuatu yang belum jelas atau samar-samar sampai pada tahap yang menunjukkan adanya kejelasan dari informasi yang dicari. Proses pencarian informasi (Information Search Process) Kuhlthau’s memiliki enam langkah sebagai berikut (Prijana, Erwina, & Winoto, 2017): 1) Inisiasi (inisiation): yakni ketika seseorang menjadi sadar (awareness) bahwa ia kekurangan informasi (lack of knowledge) atau kurang memahami, dan membuat dirinya menjadi tak pasti (making uncertainty) dan muncul rasa khawatir. 2) Seleksi (selection): yakni mengi-dentifikasi suatu topik, atau suatu problem, atau mengidentifikasi hal yang masih bersifat umum (a general area), dan biasanya inisial yang tak pasti sering memberi jalan untuk melakukan cara singkat yang dilandasi oleh rasa optimis (sense of optimism), dan barangkali dengan bacaanlah (a readness) yang mendorong untuk memulai melakukan pencarian (the search). 3) Eksplorasi (exploration): yakni informasi-informasi yang biasanya diketahui tak sesuai (incompatible), dan juga tak konsisten seringkali dijumpai; dan sesuatu yang tak pasti, membingungkan (confusion), dan ragu (doubt) semakin besar. 4) Formulasi (formulation): yakni terben-tuknya padangan yang lebih fokus (a focus perspective is formed) dan memperkecil ketidakpastian sehingga muncul rasa percaya diri yang meningkat. 5) Koleksi (collection): yakni mengumpul-kan informasi yang sedang dibicarakan, mengurangi ketidak pastian dan meningkatkan interes, serta memperdalam ‘projek’ (in the project deepens). 6) Presentasi (presentation): yakni melengkapi pencarian dengan mene-mukan pemahaman baru yang memungkinkan seseorang untuk dapat menjelaskannya, atau bisa belajar dari orang lain, atau beberapa pandangan yang dapat digunakan sebagai pelajaran. Menurut model pencarian informasi Kuhlthau setelah masuk pada tahap presentation ada dua kemungkinan yaitu pencari informasi dapat merasa puas terhadap informasi yang dicari atau bahkan sebaliknya. Oleh karena demikian berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui tentang perilaku pencarian informasi pada Official Account LINE Kabim Unpad.

Method

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis penelitian survey. Adapun yang dimaksud dengan metode deskriptif adalah suatu metode yang berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi dalam situasi sekarang. Sedangkan menurut Yatim Riyanto (1996, 21) penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk menjelaskan tentang gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis, akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Kemudian mengenai jenis penelitian survey Fraenkel dan Norman dalam Riyanto (1996, 23) menyatakan penelitian survey atau penelitian pemairan adalah kegiatan mengumpul-kan informasi dari suatu sampel dengan menanyakannya melalui angket atau interview supaya nantinya menggam-barkan berbagai aspek dari populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh adders Official Account LINE Kabim Unpad yang berjumlah 8.134. Sedangkan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 99 orang. Untuk teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket, wawancara, observasi serta melalui studi kepusta-kaan. Sedangkan untuk teknik analisis datanya menggunakan analisis statistika deskriptif dengan menyajikan dalam bentuk table, diagram dan untuk selanjutnya dianalisis.

Result

Sebagaimana yang telah dikemu-kakan di awal tulisan ini, penelitian ini mencoba mengangkat tentang perilaku pencarian informasi pada Official Account LINE Kabim Unpad. Adapun mengenai Kabim itu sendiri adalah merupakan kependekan atau singkatan dari Kulawargi Mahasiswa Bidikmisi. Dilatar belakangi oleh keinginan adanya sebuah perubahan yang membedakan organisasi keBidikmisian dengan organisasi-organisasi lain, serta ingin menunjukan ciri khas Bidikmisi Unpad yang berada di daerah tataran Sunda, maka dibentuklah himpunan mahasiswa bidikmisi dengan sebutan KABIM UNPAD yang merupakan kenedekan dari Kulawargi Mahasiswa Bidikmisi Universitas Padjadjaran. Gambar Logo Kabim Unpad (Sumber: kabimunpad.ac.id) Kemudian berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh dari kuesioner yang telah disebarkan kepada responden, setelah dianalisis maka dapat dikemukakan hasil sebagai berikut : 1. Data Responden Mengenai data respoden dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar dari responden berusia 20 tahun. Sedangkan dilihat dari jenis kelamin responden lebih dari setengah responden berjenis kelamin perempuan. Untuk fakultas tempat responden kuliah sebagian besar dari responden merupa-kan mahasiswa dari fakultas ilmu komunikasi. 2. Perilaku Pencarian Informasi Pada Tahap Inisiasi Pada tahap inisiasi, dalam pernyataan mengenai membutuhkan informasi dari Official Account LINE Kabim Unpad hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mengetahui informasi yang akan dicari, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan menyusun daftar informasi yang akan dicari, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan memilih Official Account LINE Kabim Unpad sebagai sumber informasi karena media LINE mudah diakses, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Pada tahap ini, sebagian besar dari responden menjawab tahap inisiasi dalam kategori tinggi. sehingga diketahui bahwa responden mampu mengidentifiksi informasi yang mereka butuhkan dan sudah paham terhadap kebutuhan informasi. 3. Perilaku Pencarian Informasi Pada Tahap Seleksi Pada tahap seleksi, dalam pernyataan dapat menemukan informasi mengenai beasiswa Bidikmisi di dalam Official Account LINE Kabim Unpad hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan memiliki keinginan untuk mencari tahu jenis informasi apa saja yang ada di Official Account LINE Kabim Unpad, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan menjelajahi timeline Official Account LINE Kabim Unpad untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuh-an, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan hanya memilih informasi yang dibutuhkan, setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan memilih Official Account LINE Kabim Unpad untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan mengenai beasiswa Bidikmisi, sebagian besar setengah responden menjawab setuju. Pada tahap ini, pada umumnya dari responden menjawab tahap seleksi dalam kategori tinggi, sehingga diketahui bahwa responden mampu mengidentifikasi jenis informasi dan penentuan terhadap informasi. 4. Perilaku Pencarian Informasi Pada Tahap Eksplorasi Pada tahap eksplorasi, dalam pernyataan mencari informasi lebih lanjut tentang pencairan uang Bidikmisi, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mencari informasi lebih lanjut tentang open recruitment staf kepengurusan Bidikmisi, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mencari informasi lebih lanjut tentang roadshow kabim, hampir setengah dari responden menjawab setuju.. Dalam pernyataan tidak menemukan hambatan ketika mencari informasi, setengah dari responden menjawab setuju.. Dalam pernyataan memerlukan waktu sekitar 10-15 menit untuk dapat menemukan informasi yang dibutuhkan, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Pada tahap ini, sebagian besar dari responden menjawab tahap eksplorasi dalam kategori tinggi, sehingga diketahui konsistensi responden dalam pencarian informasi dan intensitas responden dalam pencarian informasi. 5. Perilaku Pencarian Informasi Pada Tahap Formulasi Pada tahap formulasi, dalam pernyataan mendapatkan kejelasan dari informasi yang disampaikan seputar beasiswa Bidikmisi, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mengerti dengan informasi yang disampaikan, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan informasi yang disampaikan sudah lengkap, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan informasi yang disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, hampir setengah responden menjawab setuju. Dalam pernyataan informasi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan adders, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Pada tahap ini, sebagian besar dari responden menjawab tahap formulasi dalam kategori tinggi, sehingga diketahui bahwa responden sudah mendapatkan kejelasan informasi yang diberikan oleh Official Accout LINE Kabim Unpad dan mampu memahami informasi yang disampaikan. 6. Perilaku Pencarian Informasi Pada Tahap Koleksi Pada tahap koleksi, dalam pernya-taan percaya terhadap informasi yang diberikan itu benar, hampir setengah dari responden menjawab. Dalam pernyataan mengecek kembali kebenaran informasi yang didapatkan, sebagian besar dari responden menjawab. Dalam pernyataan memberikan tanda like atau comment pada informasi yang disampaikan, hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mengumpulkan informasi yang telah didapatkan (capture, share on timeline), hampir setengah dari responden menjawab setuju. Dalam pernyataan mencatat informasi yang ditemukan, sebagian besar dari responden menjawab setuju. Pada tahap ini, sebagian besar dari responden menjawab tahap koleksi dalam kategori tinggi sehingga diketahui bahwa responden sudah yakin terhadap informasi yang diberikan Official Account LINE Kabim Unpad adalah benar dan mampu melakukan pendoku-mentasian terhadap informasi seperti meng-capture atau share on timeline.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1) Pada tahap inisiasi, sebagian besar mahasiswa merasa membutuhkan informasi dari Official Account LINE Kabim Unpad sehingga memilih Official Account LINE Kabim Unpad sebagai sumber informasi. 2) Pada tahap seleksi, pada umumnya mahasiswa mampu menemukan informasi yang dibutuhkan dan memiliki keinginan untuk mencari tahu jenis informasi lainnya. 3) Pada tahap eksplorasi, sebagian besar mahasiswa mulai melakukan pencarian terhadap jenis informasi yang dibutuhkan atau diinginkan. 4) Pada tahap formulasi, sebagian besar mahasiswa telah mendapatkan kejelasan informasi seputar beasiswa Bidikmisi dari Official Account LINE Kabim Unpad dan mampu memahami informasi yang disampaikan karena menggunakan bahasa yang mudah dipahami. 5) Pada tahap koleksi, sebagin besar mahasiswa yakin dengan informasi yang diberikan Official Account LINE Kabim Unpad itu benar. Selanjutnya mahasiswa melakukan pendokumentasi informasi dengan cara meng-capture atau share on timeline, dan mencatat kembali informasi yang telah didapat. 6) Pada tahap presentasi, sebagian besar mahasiswa puas dengan informasi yang didapatkan dan informasi yang dimiliki seputar beasiswa Bidikmisi bertambah setelah mengakses Official Account LINE Kabim Unpad.