Arsiparis dalam era digital: analisis bibliografi tentang perkembangan arsiparis dalam database internasional menggunakan vosviewer
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Abstrak
Penelitian ini menganalisis tren perkembangan penelitian kearsipan dari tahun 1939 hingga sekarang. Kajian penelitian untuk mengetahui: (1) bagaimana perkembangan jumlah publikasi internasional tentang kearsipan di database Scopus dari tahun 1939 hingga 2023; (2) jurnal dalam publikasi internasional tentang arsiparis; (3) produktivitas penulisnya; (4) jumlah publikasi berdasarkan kolaborasi lembaga dalam publikasi internasional tentang arsiparis; (5) perkembangan publikasi internasional penelitian arsiparis berdasarkan subjek/bidang; (6) peta perkembangan publikasi internasional penelitian arsiparis berdasarkan co-occurrence. Metode pengumpulan data dengan melakukan penelusuran melalui database scopus dengan kata kunci Archivist (arsiparis) menggunakan boolean OR, AND, dan AND NOT dalam kurun waktu 1939-2023. Pemetaan data menggunakan Microsoft Excel dan software VosViewer. Hasil penelitian menunjukkan hasil tertinggi terjadi pada tahun 2022. Subjek penelitian didominasi oleh social sciences dengan penulis yang paling produktif yaitu Cox, R.J. Negara yang paling sering mempublikasi adalah United States. Peta perkembangan publikasi berdasarkan kata kunci tentang arsiparis menunjukkan bahwa terbagi menjadi 9 klaster. Dari ketiga klaster tersebut yang berkaitan erat dengan penelitian ini terdapat pada 3 klaster. Business environment challenges & risk, cloud storage, records, archival service, online marketplace, classification dan text image document mungkin akan menjadi topik panas dalam penlitian yang akan datang.
Abstract
This research analyzes the trends in archival research from 1939 to the present. The study aims to determine: (1) the development of the number of international publications on archiving in the Scopus database from 1939 to 2023; (2) journals in international publications about archivists; (3) the productivity of the authors; (4) the number of publications based on institutional collaboration in international publications about archivists; (5) the development of international publications on archivist research by subject/field; (6) the mapping of the development of international publications on archivist research based on co-occurrence. Data collection methods involved searching the Scopus database with the keyword "Archivist" using boolean OR, AND, and AND NOT, the period of 1939-2023. Data mapping was conducted using Microsoft Excel and VosViewer software. The results show the highest number of documents in 2022. The research subjects are dominated by social sciences, with the most productive author being R.J. Cox. The country with the most publications is the United States. The keyword mapping of publications reveals nine clusters. Three clusters are closely related, encompassing business environment challenges & risk, cloud storage, records, archival service, online marketplace, classification, and text image documents, which might become hot topics in future research.
Keywords:
Archive
· Digital era
· Bibliometrics
· International database
· Vosviewer
Introduction
Era digital telah mengubah lanskap informasi dan dokumentasi secara mendasar. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi tidak hanya cara informasi disimpan dan diakses, tetapi juga bagaimana dokumen-dokumen diarsipkan dan dikelola. Arsiparis, yang sebelumnya fokus pada dokumen fisik. Sekarang dihadapkan pada tantangan baru dalam mengelola informasi digital yang sangat beragam dan berlimpah, hal ini sesuai dengan kebutuhan informasi yang dialami oleh manusia setiap detik dan menitnya. Kebutuhan informasi dapat dikatakan sebagai kebutuhan manusia untuk menjawab pertanyaan yang ada di benaknya sesuai dengan latar belakang, situasi, kognisi dan fisiologi yang berbeda (Purnama, Yusup, and Kurniasih 2018). Transformasi ini mendorong pentingnya memahami kearsipan di era digital serta bagaimana beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan dalam tuntutan pengelolaan informasi. Di era digital, arsiparis harus mampu mengelola informasi dengan efisien dan efektif, memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan aksesibilitas dan preservasi arsip. Dalam konteks ini, analisis bibliografi tentang perkembangan kearsipan dalam database internasional menjadi relevan dan penting. Melalui analisis ini, kita dapat melihat tren, tantangan, dan peluang yang ada dalam pengelolaan arsip di seluruh dunia. Teknologi yang berkembang justru dapat menjadi sarana bagi arsiparis dalam mengelola arsip dalam bentuk digital, baik dalam segi penyimpanan, layanan informasi berbasis digital, sampai kolaborasi terkait data digital antara lembaga informasi (Faturohmah and Mayesti 2021). Penggunaan teknologi seperti cloud storage, big data analytics, dan blockchain dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan pengelolaan arsip. Selain itu, kolaborasi antara berbagai lembaga informasi memungkinkan pertukaran data yang lebih mudah dan aman, serta meningkatkan sinergi dalam penyediaan layanan informasi. Aspek utama dalam pengelolaan arsip di antaranya adalah keamanan data dan privasi. Dengan ledakan data digital, keamanan data menjadi perhatian utama. Arsiparis harus memastikan bahwa data yang dikelola terlindungi dari akses yang tidak sah, kerusakan, atau kehilangan. Implementasi protokol keamanan yang ketat dan penggunaan teknologi enkripsi adalah beberapa langkah penting yang dapat diambil untuk melindungi data. Privasi juga harus dijaga dengan memastikan bahwa data sensitif hanya diakses oleh pihak yang berwenang. Dalam menghadapi tantangan ini, pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi arsiparis sangat penting untuk memastikan mereka tetap up-to-date dengan perkembangan terbaru dalam teknologi dan praktik terbaik dalam pengelolaan arsip digital. Arsiparis tidak hanya memastikan keberlanjutan dan integritas data tetapi juga menjaga privasi informasi yang sensitive (Santoso 2022). Mereka harus memahami teknikteknik keamanan terkini dan melibatkan praktik-praktik yang mencegah akses yang tidak sah. Sistem informasi saat ini sangat rentan diretas dan diserang oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab oleh karena itu keamanan sistem informasi harus ditingkatkan, hal ini dikenal juga dengan kejahatan komputer (cyber crime) pada dunia maya dengan tujuan untuk mencari, mendapatkan, mengubah, bahkan menghapus informasi pada sistem tersebut untuk itu arsiparis harus menjaga keotentikan sebuah informasi yang ada pada arsip tersebut (Kominfo 2017). Selain itu, pengelolaan Big Data merupakan aspek penting dalam kearsipan digital. Data dalam jumlah besar yang dihasilkan setiap hari, sering disebut sebagai "big data," memerlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang teknik analisis data yang kompleks. Arsiparis perlu memiliki kemampuan untuk mengelola, memahami, dan mengambil wawasan dari data dalam skala yang sebelumnya sulit dibayangkan. Dengan menguasai teknik analisis data yang canggih, arsiparis dapat menginterpretasikan data ini menjadi informasi yang berguna dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Aspek selanjutnya adalah aksesibilitas informasi. Era digital telah membuka pintu akses yang lebih besar terhadap informasi, memungkinkan pengguna untuk mengakses data dari mana saja dan kapan saja. Ini berarti arsiparis harus memahami bagaimana memfasilitasi akses yang mudah dan efisien terhadap informasi yang relevan tanpa mengorbankan keamanan dan integritas data. Memastikan bahwa data tetap aman dari akses yang tidak sah dan bahwa integritas data terjaga adalah tantangan utama yang harus dihadapi. Arsiparis harus mampu menyeimbangkan antara kemudahan akses dan perlindungan data untuk memastikan bahwa informasi tetap terjaga dengan baik dan dapat diakses oleh mereka yang berhak. Dalam konteks ini, pendidikan dan pelatihan yang terus-menerus bagi arsiparis menjadi sangat penting program vokasi Universitas Indonesia menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang teknik pengelolaan data dan aksesibilitas informasi bagi para arsiparis (Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia 2018). Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di era digital dan memanfaatkan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan arsip. Arsiparis harus mengenali perubahan serta beradaptasi adalah kunci untuk menjaga relevansi kearsipan era digital yang terus berkembang. Mereka tidak lagi hanya pengelola dokumen fisik tetapi juga penjaga keamanan, privasi, dan aksesibilitas data digital yang berharga (Kalinda 2019). Selain itu, penelitian dalam bidang kearsipan digital juga dapat memberikan wawasan tentang tren dan perkembangan terkini dalam kebijakan pengarsipan, etika, dan praktik terbaik. Dengan demikian, analisis bibliometrik tentang topik ini akan membantu menggambarkan evolusi peran arsiparis dalam menghadapi era digital yang terus berkembang. Kata Bibliometrik berasal dari bahasa Yunani, merupakan hasil gabungan kata biblion yang artinya 'buku' dan metron yang berarti 'pengukuran'. Menurut Fajri Habibi dalam Lukman dkk menyatakan istilah Bibliometrik, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai 'Bibliometrik', pertama kali diperkenalkan oleh Alan Pritchard (1969) dalam artikelnya yang berjudul "Statistical Bibliography or Bibliometrics?". Dalam artikel tersebut, Bibliometrik diartikan sebagai penerapan metode matematika dan statistika pada buku atau media komunikasi ilmiah lainnya (Lukman et al. 2019). Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana perkembangan kearsipan di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kearsipan digital melalui publikasi penelitian sepanjang tahun 2023, serta mengetahui arah tren penelitian kearsipan, mengidentifikasi adanya hubungan antara konsep keilmuan, serta mengetahui korelasi ilmu kearsipan berdasarkan kata kunci (co-occurrence). Berdasarkan pemaparan sebelumnya maka dapat diketahui pentingnya penelitian ini untuk memahami kearsipan era digital yang terus berkembang dan menggambarkan kompleksitas serta tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan informasi digital. B. TINJAUAN PUSTAKA Terdapat tiga komponen dari bibliometrik, yaitu: a) bibliometrics for bibliometricians, merupakan domain utama dari riset bibliometrika dan secara tradisional digunakan sebagai metodologi riset; b) bibliometrics for scientific disciplines (scientific information); c) bibliometric for science policy and management (science policy) domain dari evaluasi riset dalam berbagai topik penelitian (Salinas-Ríos dan López 2022). Dapat disimpulkan analisis bibliometrik adalah metode penelitian yang menggunakan data kuantitatif dari publikasi ilmiah untuk mengukur, menganalisis, dan memahami pola-pola dalam produksi penelitia, penyebaran informasi ilmiah, serta dampak dari karya ilmiah tersebut. Bentuk analisis bibliografi dalam dunia ilmiah, yang berasumsi bahwa seorang peneliti tidak hanya melakukan penelitian tetapi juga harus berbagi hasilnya dengan rekan-rekan sesama peneliti. Hal ini berperan penting dalam menggerakkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama ketika peneliti bekerja sama dalam memeriksa topik penelitian tertentu. Untuk melakukan penelitian, pengetahuan sebelumnya yang telah dihasilkan oleh rekan-rekan sejawat juga diperlukan sebagai dasar. Model konsep input-output yang umumnya digunakan dalam menjelaskan proses penelitian ilmiah menekankan pentingnya publikasi untuk mengkomunikasikan hasil penelitian. Dalam konteks ini, publikasi ilmiah berperan sebagai output yang krusial, memastikan bahwa penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi terbaru dapat diakses oleh komunitas ilmiah dan masyarakat luas. Hampir semua hasil penelitian dipublikasikan dalam bentuk artikel dan monograf ilmiah yang dianggap sebagai representasi definitif dari penemuan-penemuan tersebut. Artikel ilmiah, terutama yang dipublikasikan di jurnal-jurnal bereputasi, sering kali menjadi tolok ukur validitas dan kredibilitas suatu penelitian. Analisis bibliometrik, yang merupakan metode kuantitatif untuk mengukur dan menganalisis berbagai aspek dari literatur ilmiah, dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak dan relevansi dari publikasi-publikasi ini. Dengan analisis bibliometrik, para peneliti dapat mengidentifikasi tren penelitian, mengukur produktivitas ilmiah, dan menilai kolaborasi antar peneliti serta lembaga penelitian. Salah satu perangkat lunak yang banyak digunakan dalam analisis bibliometrik adalah VosViewer. VosViewer memungkinkan visualisasi data bibliometrik dengan cara yang intuitif dan informatif, membantu peneliti dalam memahami pola-pola publikasi, jaringan kolaborasi, dan perkembangan bidang penelitian tertentu. Menggunakan VosViewer, analisis bibliometrik menjadi lebih efisien dan efektif. Perangkat lunak ini tidak hanya memfasilitasi pembuatan peta jaringan berdasarkan data bibliometrik, tetapi juga memungkinkan analisis yang mendalam terhadap struktur dan dinamika dari jaringan tersebut. Melalui visualisasi yang dihasilkan, peneliti dapat melihat hubungan antara berbagai konsep, topik penelitian, dan kolaborator, serta mengidentifikasi area-area yang berkembang pesat atau kurang dieksplorasi. Ini memberikan wawasan yang berharga untuk strategi penelitian di masa depan dan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik terkait investasi dan fokus penelitian. Vosviewer dikenal juga dengan singkatan VV yang merupakan perangkat lunak yang berguna untuk menghasilkan visualisasi dari data bibliometrik atau kumpulan data mencakup informasi bibilografi seperti judul, penulis, nama jurnal, tahun publikasi dan lain lain. Dalam konteks penelitian, VV dimanfaatkan untuk melakukan analisis bibliometrik, membuat peta topik terkini dalam penelitian, menemukan referensi yang paling sering digunkan dalam bidang spesifik ataupun analisis co-word (Jan and Ludo 2010). Analisis Co-word didasarkan pada analisis co-occurrence dari dua atau lebih kata kunci atau kata-kata yang terdapat dalam teks yang digunakan untuk mengindeks artikel atau dokumen lainnya. Oleh karena itu, analisis Co-word dapat dilakukan dalam sebuah atau beberapa dokumen. Kata tersebut dapat berupa kata kunci (keyword) atau kata teks. Teknik analisis Co-word pertama kali diusulkan guna memetakan dinamika ilmu pengetahuan. Cara yang paling umum untuk memahami dinamika ilmu pengetahuan adalah dengan mengambil kekuatan ilmu pengetahuan pada masyarakat (komunitas) ilmu pengetahuan saat ini ke dalam bentuk hitungan. "Actor network"adalah landasan teori etis analisis Co-word untuk memetakan dinamika ilmu (Rohanda dan Winoto 2019). Menurut Chen, “peta ilmu pengetahuan menggambarkan suatu hubungan ruang antara batas penelitian dalam bidang kegiatan yang signifikan, juga dimana bidang penelitian itu didistribusikan serta dapat memberikan makna dari hubungan tersebut ” (Ristiyono 2016). Peta ilmu pengetahuan dapat menggambarkan dan memberikan makna dari hubungan ruang antara batas penelitian yang bidang kegiatannya signifikan dan bidang kegiatan tersebut dapat didistribusikan. Peta ilmu pengetahuan tidak hanya merupakan suatu alat yang praktis untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas ilmiah, tetapi juga dapat dijadikan sebagai suatu dasar untuk mengkaji atau memahami aktivitas ilmiah dengan menggambarkannya secara tersusun dan terstruktur. Visualisasi ilmu pengetahuan dapat diwujudkan dalam bentuk peta, sehingga munculah bidang pemetaan ilmu pengetahuan atau knowledge mapping. Pemetaan ilmu pengetahuan dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara yang terkait erat dengan subjek dokumen. Pemetaan pengetahuan dapat dilakukan dengan bentuk pemetaan kronologis, pemetaan berbasis Co-word, pemetaan kognitif, dan pemetaan konseptual (Rahayu dan Azizah 2022). Berdasarkan pendapat Rahayu dan Azizah tersebut dapat diketahui pemetaan pengetahuan terdiri dari empat bentuk yakni kronologis, berbasis Co-word, kognitif dan konseptual. Peta merupakan alat relasi (relational tools) yang menyediakan informasi antar hubungan entitas yang dipetakan. Peta ilmu pengetahuan bukan hanya alat praktis dalam menyampaikan informasi mengenai aktivitas ilmiah, tetapi juga sebagai dasar untuk mengkaji atau memahami aktivitas ilmiah dengan menggambarkannya secara terstruktur (Ravikumar, Agrahari, and Singh 2015). Visualisasi dari pemetaan ilmu pengetahuan dapat diwujudkan dalam bentuk peta yang didasarkan pada beberapa cara yang berhubungan dengan subjek dokumen. Lebih jauh Spasser telah menjelaskan mengenai beberapa metode dalam pemetaan suatu bidang ilmu pengetahuan, di antaranya adalah: 1. Journal intercitation 2. Co-Citation: a. Journal Co-Citation b. Document Co-Citation c. Author Co-Citation 3. Bibliographic Coupling 4. Co-word (Co-Deskriptor) 5. Co-Classification (Farida 2020). Penggunaan kata kunci yang tidak dibakukan dapat menimbulkan istilah yang tidak seragam, dan untuk membakukannya perlu menggunakan tesaurus. Tesaurus merupakan daftar istilah yang mencakup satu bidang khusus sehingga istilah yang digunakan lebih spesifik. Tesaurus berbeda dengan daftar tajuk subjek yang biasanya bersifat umum dan mencakup semua bidang ilmu pengetahuan. Standardisasi kata kunci dengan tesaurus bertujuan agar kata yang digunakan konsisten, sehingga hanya digunakan satu istilah untuk konsep yang diwakili dalam tulisan berbeda dan memiliki arti yang sama. Penelitian terkait mengenai analisis bibilimetrik tentang perkembangan arsip digital yang dilakukan oleh Edi Wibowo dan Tamara Adriani Salim. Hasil dari penelitian ini menyatakan pada tahun 1988-2015 artikel arsip digital mengalami peningkatan yang signifikan. Negara yang paling aktif berkontribusi tentang arsip digital ini adalah United States. Topik yang akan tren dilakukan penelitian untuk kedepannya adalah Born Digital, Personal digital archives, metadata standars dan digital assets (Wibowo and Salim 2022).
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibliometrik melalui pemetaan metadata jurnal ilmiah di bidang arsip yang didapatkan dari database Scopus (Scopus 2023). Database Scopus merupakan kumpulan literatur terbesar di dunia dengan sitasi yang menyediakan abstrak dari berbagai literatur ilmiah dan penelitian yang telah ditelaah (Tupan et al. 2018). Langkah-langkah dalam penelusuran informasi dimulai dari menentukan kata kunci yang relevan, kemudian pencarian dilakukan dan hasilnya dipersempit menggunakan filter yang telah disediakan oleh database jurnal internasional. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 22 September 2023. Penelusuran dilakukan menggunakan fitur pencarian lanjutan (advanced search) dengan kata kunci "Archivist" dan menggunakan operator boolean seperti OR, AND, dan AND NOT. Boolean operators will help you broaden and narrow your searches when when searching library catalogs, databases, and the web (Leydesdorff and Rafols 2012). Dengan penggunaan operator boolean, peneliti dapat menggabungkan kata kunci dengan cara yang memungkinkan pencarian lebih spesifik dan relevan. Proses ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan kumpulan data yang akurat dan tepat sasaran. Setelah data dikumpulkan, analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak bibliometrik seperti VosViewer. VosViewer membantu dalam visualisasi data bibliometrik, memudahkan peneliti untuk memetakan jaringan kolaborasi, tren penelitian, dan distribusi topik dalam bidang arsip. Visualisasi ini memberikan wawasan mendalam tentang perkembangan penelitian arsip dari waktu ke waktu, mengidentifikasi area-area yang sedang berkembang, serta potensi kolaborasi di masa depan. Penggunaan metode bibliometrik dan alat seperti VosViewer memastikan bahwa analisis yang dilakukan tidak hanya komprehensif tetapi juga informatif, memungkinkan interpretasi data yang lebih baik dan pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam strategi penelitian di masa depan. Hasil penelusuran ini mengidentifikasi sebanyak 3.454 dokumen (Scopus 2023). Namun, setelah dilakukan pembatasan berdasarkan tipe dokumen menjadi dua kategori, yaitu artikel dan conference paper, jumlah dokumen yang terkumpul berkurang menjadi 2.591 dokumen. Data tidak dibatasi berdasarkan tahun untuk memungkinkan analisis perkembangan dari tahun ke tahun. Informasi yang dikumpulkan meliputi jumlah publikasi per tahun, jurnal yang mempublikasikan artikel tentang arsiparis, penulis, asal penulis, dan subjek analisis, yang semuanya diolah menggunakan Microsoft Excel. Perkembangan tren publikasi internasional tentang arsiparis dianalisis menggunakan software VosViewer. VosViewer merupakan program komputer gratis yang digunakan untuk memvisualisasikan dan mengeksplorasi peta pengetahuan bibliometrik (Leydesdorff and Rafols 2012). Penggunaan VosViewer dalam analisis ini sangat bermanfaat karena aplikasi ini mampu membuat kluster pada hasil penelitian, yang memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi pola dan tren dalam data. Menggunakan VosViewer, peneliti dapat membuat visualisasi yang jelas tentang jaringan kolaborasi antar penulis, distribusi topik penelitian, dan hubungan antara berbagai konsep dalam bidang arsip. Klustering yang dihasilkan oleh VosViewer memungkinkan analisis mendalam terhadap struktur dan dinamika penelitian, mengidentifikasi kelompok-kelompok penelitian yang signifikan, serta mengungkapkan koneksi yang mungkin tidak terlihat dalam analisis konvensional. Menggunakan metode ini, hasil analisis memberikan wawasan yang lebih kaya mengenai perkembangan dan tren penelitian tentang arsiparis, termasuk identifikasi topik-topik yang sedang berkembang dan area-area yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Pendekatan ini membantu dalam memahami bagaimana bidang penelitian ini berkembang dan bagaimana para peneliti dan institusi berinteraksi dalam menghasilkan pengetahuan baru
Result & Discussion
Publikasi Penelitian Arsiparis Penelitian tentang arsiparis telah dilakukan sejak tahun 1939 hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar 1. Publikasi Penelitian Arsiparis Penelitian pada tahun 1939 terindex sebanyak 2 dokumen. Tahun yang sama sekali tidak ada publikasi tentang arsiparis terjadi di tahun 1942, 1951, 1957, dan 1962, selebihnya rata-rata mempublikasikan artikel sebanyak 2-6 dokumen artikel. Pada tahun 1984 publikasi artikel ilmiah mulai meningkat melebihi 10 dokumen yaitu sebanyak 12 dokumen dan kemudian setiap tahunnya meningkat. Berdasarkan sejarah yang telah dipaparkan sebelumnya kearsipan ini sudah ada sejak zaman sebelum masehi. Masyarakat Yunani Kuno sudah merekam setiap aktivitas dalam bentuk tulisan yang disebut dengan manuskrip. Manuskrip yang menggunakan papirus untuk medianya (Dinas perpustakaan dan kearsipan pangkal pinang 2023) terjadi lonjakan publikasi pada tahun 2022 sebanyak 166 dokumen terpublikasi tentang arsiparis (Scopus 2023) hal ini dapat dilihat pada tabel yang telah dipaparkan. Penelitian Publikasi Setiap Tahun Pada tabel 2 terdapat 5 terbanyak yang mempublikasikan artikel tentang arsiparis diantaranya American Archivist yang berwarna biru. Paling banyak melakukan publikasi pada tahun 1990 sebanyak 21 dokumen. Publikasi dilakukan secara konsisten sejak tahun 1940 hingga saat ini. Jika dilihat American Archivist didirikan pada tahun 1936 yang merupakan asosiasi nasional profesional arsiparis tertua dan terbesar di Amerika Utara (Society of American Archivist 2024). Secara keseluruhan American Archivist mempublikasi artikel sebanyak 400 dokumen. Berdasarkan sejarah berdiri dan perkembangannya hal ini merupakan sesuatu yang wajar, karena American Archivist sudah berdiri sangat lama sekali. Diikuti publikasi oleh Archivaria berwarna merah melakukan publikasi sejak tahun 1996 sebanyak 5 dokumen. Publikasi terbanyak terjadi pada tahun 2006 dan 2010 yaitu sebanyak 9 dokumen. Archivaria melakukan publikasi secara konsisten hingga saat ini. Secara keseluruhan Archivaria mempublikasi sebanyak 137 dokumen. Dilanjutkan publikasi oleh Archival Science berwarna hijau melakukan publikasi sejak tahun 2001 sebanyak 4 dokumen. Publikasi terbanyak terjadi pada tahun 2022 yaitu sebanyak 10 dokumen. Archival Science melakukan publikasi secara konsisten hingga saat ini. Secara keseluruhan Archivaria mempublikasi sebanyak 115 dokumen. Publikasi selanjutnya yaitu oleh Journal Of Archival Organization berwarna ungu, melakukan publikasi sejak tahun 2002 sebanyak 11 dokumen. Publikasi terbanyak terjadi pada tahun 2006 yaitu sebanyak 12 dokumen. Journal Of Archival Organization melakukan publikasi secara konsisten hingga saat ini. Secara keseluruhan Journal Of Archival Organization mempublikasi sebanyak 98 dokumen. Publikasi terakhir yaitu oleh Journal Of The Society Of Archivists yang berwarna orange melakukan publikasi sejak tahun 1955 sebanyak 5 dokumen. Publikasi terbanyak terjadi pada tahun 2010 yaitu sebanyak 13 dokumen. Journal Of The Society Of Archivists melakukan publikasi secara konsisten hingga saat ini. Secara keseluruhan Journal Of The Society Of Archivists mempublikasi sebanyak 92 dokumen. Penelusuran Kategori Subjek Penelitian Penelusuran pada database scopus sejak tahun 1939 terdapat beberapa kategori subjek penelitian yang ditemukan. Berdasarkan data yang diperoleh kategori social sciences yang paling dominan. Hasil penelusuran dapat dilihat jelas pada gambar berikut ini. Gambar 2. Penelusuran Kategori Subjek Penelitian Berdasarkan Gambar 3 Social Sciences paling banyak area subjek tentang arsiparis yaitu 45.4% sebanyak 1918 dokumen. Hal ini diungkapkan dalam penelitian oleh Riyanto, dkk menyatakan ilmu kerasipan itu merupakan ilmu sosial yang merupakan sumber ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban manusia dengan mempelajari dari arsip dan dokumen (Riyanto et al. 2021). Selanjutnya area subjek ke 2 yang paling banyak terdapat di subjek arts and humanities yaitu 11.1% sebanyak 1229 dokumen. Engineering 3.6% sebanyak 154 dokumen. Business, Management and Accounting 1.9% sebanyak 81 dokumen. Mathematics 1.5% sebanyak 62 dokumen. Medicine 1.4 % sebanyak 61 dokumen. Earth and Planetary Sciences 0.9% sebanyak 40 dokumen. Environmental Science 0.8% sebanyak 32 dokumen. Decision Sciences 0.7% sebanyak 29 dokumen. Diakumulasi dari area subjek Physics and Astronomy, Materials Science, Psychology, Economics, Econometrics and Finance, Agricultural and Biological Sciences, Biochemistry, Genetics and Molecular Biology, Nursing, Multidisciplinary, Chemistry, Energy, Health Professions, Chemical Engineering, Immunology and Microbiology, Neuroscience, and Pharmacology, Toxicology and Pharmaceutics yang termasuk dalam area subjek other 3.5% sebanyak 149 dokumen. Produktivitas Penulis Penelitian tentang Arsiparis Produktivitas penulis penelitian tentang arsiparis terlihat pada gambar berikut ini. Berdasarkan database scopus pada tahun 1939 sampai sekarang.Penulis yang produktif yaitu Cox, R.J. Sebanyak 26 dokumen. Cox, R..J Seorang Profesor dalam bidang perpustakaan dan informasi di university of pittsburgh. Telah menyelesaikan pendidikan doktor pada tahun 1992 (University of Pittsburgh 2023). Seorang profesor harus melakukan penelitian karena merupakan salah satu poin tridarma yang harus dilakukan. Menyusul Yakel, E sebanyak 17 dokumen. Duff, W sebanyak 10 dokumen. Jimerson, R.C sebanyak 9 dokumen. Ngoepe, M sebanyak 8 dokumen. Ngulube, P sebanyak 8 dokumen. Weigle, M.C sebanyak 8 dokumen. Cook, T 7 dokumen. Cook, T yang paling sedikit melakukan publikasi karya ilmiah tentang kearsipan. Negara Pemilik Publikasi Terindeks Scopus Hasil analisis database scopus sejak tahun 1939 hingga sekarang negara pemilik publikasi terbanyak yaitu negara United States, hal ini terlihat pada gambar yang dipaparkan sebagai berikut. Berdasarkan database scopus hasil penelitian negara yang paling sering mempublikasi tentang kearsipan adalah United States sebanyak 1.026 dokumen. Disusul oleh negara United Kingdom sebanyak 269 dokumen. Canada sebanyak 219 dokumen. Australia 95 dokumen. France sebanyak 76 dokumen. Spain sebanyak 71 dokumen. Italy sebanyak 58 dokumen. South Africa sebanyak 57 dokumen. Germany sebanyak 53 dokumen dan Brazil sebanyak 48 dokumen, Brazil yang paling sedikit melakukan penelitian, namun masih ada negara lain yang masih sedikit mempublikasikan karya ilmiahnya yaitu di bawah angka 40 dokumen diantaranya Netherlands, China, Russian Federation, Sweden, Belgium, Slovenia, Ireland, Portugal, Poland, Switzerland, Czech Republic, Finland, Croatia, Hungary, Turkey, Nigeria, Norway, Austria, Colombia, Denmark, Malaysia, New Zealand, Ukraine, Hong Kong, Taiwan, Greece, India, South Korea, Argentina, Chile, Indonesia, Iran, Singapore dan masih banyak lagi negara yang masih minim melakukan riset terkait kearsipan. Peta Perkembangan Publikasi Berdasarkan Kata Kunci Peta perkembangan publikasi berdasarkan frekuensi kemunculan yang digunakan kata kunci melalui analisis database internasional yaitu scopus sejak tahun 1939 terdapat 9 klaster yang terdeteksi dan 22 item. kluster 1 terdapat 3 item, kluster 2 terdapat 3 item, dan kluster 3 terdapat 3 item, klaster 4 terdapat 3 item, klaster 5 terdapat 2 item, klaster 6 terdapat 2 item, klaster 7 terdapat 2 item, klaster 8 terdapat 2 item, dan klaster 9 terdapat 2 item. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5 berikut ini. Gambar 3. Peta Perkembangan Publikasi Berdasarkan Kata Kunci Berdasarkan analisis bibliometrik menggunakan Vosviewer pada gambar 6. Hasil analisis menunjukkan tidak ada klaster yang mendominasi. klaster 1 ditunjukkan dengan warna merah yang terdiri dari 3 item yaitu business environment challenges & risk, cloud storage, dan records. Klaster berikutnya yaitu klaster 2 yang terdiri dari 3 item berwarna hijau diantaranya ada kata france, jewish history, dan murky business. Klaster 3 terdiri dari 3 item yang ditunjukkan oleh warna biru tua terdiri dari kata future, historical weather data, dan participatory archive. Klaster berikutnya yaitu klaster 4 terdiri dari 3 item yang ditunjukkan warna kuning diantaranya robots, trustworthy memory practice dan working. Dilanjutkan klaster 5 terdiri dari 2 item yang ditunjukkan warna ungu terdiri dari kata archival service dan online marketplace. Klaster 6 terdiri dari 2 item yang ditunjukkan warna biru muda diantaranya classification dan text image document. klaster 7 terdiri dari 2 item yang ditunjukkan warna orange diantaranya yaitu graduate class dan rosalie rayner. Klaster 8 terdiri dari 2 item yang ditunjukkan oleh warna coklat yaitu professional ethic dan trust. klaster 9 terdiri dari 2 item yang ditunjukkan oleh warna pink diantaranya survey dan university music faculty. Hasil penelitian yang menyatakan bahwa kata kunci dari suatu artikel dapat mewakili konten utamanya, frekuensi kemunculan dan kemunculan bersama dapat mencerminkan fokus tema dalam bidang khusus sampai batas tertentu (Chen et al. 2016). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan topik yang akan tren dalam penelitian kearsipan diantaranya business environment challenges & risk, cloud storage, records, archival service, online marketplace, classification dan text image document. Oleh sebab itu ilmu kerasipan tidak dapat
Conclusion
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa perkembangan penulisan artikel arsiparis dari tahun 1939 sampai saat ini yang terindeks Scopus tertinggi terjadi pada tahun 2022 sebanyak 166 dokumen. sedangkan kategori publikasi terbanyak di publish oleh jurnal American Archivist pada tahun 1990 sebanyak 21 dokumen. Kategori subjek penelitian didominasi oleh social sciences, Arts and humanities dan computer sciences. Penulis yang paling produktif yaitu Cox, R.J sebanyak 26 dokumen publikasi dan negara yang paling sering mempublikasi tentang arsiparis adalah United States sebanyak 1.026 dokumen. sedangkan negara Indonesia berada jauh dibawah dimana publikasi hanya 5 dokumen yang terindeks. Berdasarkan analisis menggunakan Vosviewer menunjukkan bahwa arsiparis terbagi menjadi 9 klaster yaitu warna merah, hijau, biru tua, kuning, ungu, biru muda, orange, coklat dan pink. Dari ketiga klaster tersebut yang berkaitan erat dengan penelitian ini terdapat pada 3 klaster yaitu warna merah, ungu dan biru muda.