Kembali
16
1
2019 Maktabatuna : Jurnal Kajian Kepustakawanan Vol 1 · 2 ISSN 2723-0171

PERANAN PUSTAKAWAN DALAM MEWUJUDKAN PERPUSTAKAAN DIGITAL

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan sudah dikelola secara sempurna sesuai dengan ilmu perpustakan dan menerapkan teknologi terbaru, dan dimanfaatkan oleh pemustaka secara maksimal. Semua informasi yang dicari oleh pemustaka sudah bisa ditemukan dengan cepat dan tepat. Karena perpustakaan tersebut sudah menyediakan semua sumber informasi, dan semua koleksi sudah digitalisasi dengan sempurna. Untuk mewujudkan perpustakaan digitalisasi tersebut, sangat diperlukan tenaga yang ahli di bidang teknologi tersebut. Pustakawan yang senantiasa berkiprah di perpustakaan sangat dituntut peranannya dalam mewujudkan perpustakaan digital.

Abstract

A good library is a library that has been managed perfectly in accordance with library science and applies the latest technology, and is utilized by the library to its full potential. All information sought by users can already be found quickly and precisely. Because the library has provided all sources of information, and all collections have been digitalized perfectly. To realize the digitization library, it is very necessary that experts in the technology are needed. Librarians who always take part in the library are highly demanded for their role in realizing digital libraries.
Keywords: Digital Library · Librarian Competence · Information Technology

Introduction

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat sudah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan dan profesi. Pengaruh ini bisa berdampak positif dan negatif pada suatu negara, adanya perubahan sistem pada instansi maupun lembaga pendidikan tidak terkecuali perpustakaan. Komputer menjadi salah satu alat yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan yang ada di perpustakaan dengan menggunakan internet sebagai jaringan komunikasi teknologi. Ada beberapa perpustakaan di Indonesia yang mengarah ke perpustakaan digital, Seperti perpustakaan Institut Teknologi Bandung yang dikenal dengan nama Ganesha Digital Library (GDL), Universitas Gadjah Mada, digital library Lembaga Penjamin Mutu Provinsi DKI jakarta dan Koleksi Digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia walaupun koleksi dalam digital masih terbatas. Perkembangan perpustakaan yang mengarah ke perpustakaan digital, tentunya membawa dampak yang sangat besar dalam hal pelayanannya dimana pustakawan harus dapat melayani pemustaka seperti permintaan akses agar lebih cepat ke informasi. Tentunya untuk memenuhi harapan tersebut, seorang pustakawan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Menurut Ida Fajar Priyanto (2014) bahwa pemustaka saat ini sangat berbeda dengan masa yang lampau, karena pada umumnya dahulu sulit orang yang datang ke perpustakaan, kecuali siswa atau mahasiswa karena keterpaksaaan, menyelesaikan tugas yang diberikan guru atau dosen. Pada saat ini dunia sudah jauh berbeda sebuah perpustakaan bukan saja sebagai tempat koleksi, akan tetapi sudah banyak menyimpan karya tulis orang yang berbentuk buku atau hasil penelitian. Maka semenjak ada undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, sebuah perpustakaan harus dikelola oleh seseorang yang ahli atau profesional di bidang perpustakan. Sehingga dengan kreatifitas pengelola perpustakaan atau pustakawan, koleksi yang biasanya hanya berbentu cetak tetapi sekarang sudah banyak yang di gitalisasikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Dari paparan tersebut di atas bisa diambil benang merahnyabahwa adanya perbedaan pemustaka zaman dulu dan saat ini. di mana sistem teknologi informasi tidak saja terjadi di mall maupun pusat pertokoan, tapi juga merambah ke intansi dan lembaga pendidikan. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi lembaga atau instansi yang memiliki perpustakaan untuk lebih meningkatkan kompetensi karyawannya atau pustakawan dalam bidang teknologi informasi. Menurut Sulistyo Basuki (2011), teknologi informasi merupakan bagian dari manejemen informasi karena terbukti manajemen informasi telah lebih dahulu lahir daripada teknologi informasi; sehingga teknologi informasi dianggap sebagai pendatang baru yang mampu menawarkan berbagai metode: Hal ini bisa dilihat sebagai berikut : Pertama ; Metode dan perkakas untuk merekam pengetahuan termasuk komputer, media simpan seperti pita magnetis dan cakram atau discet. Untuk masa depan, perkakas simpan termasuk media simpan optik. Pangkalan data teks lengkap memungkinkan pemustaka menelusuri direktori, ensiklopedia, data statistik, dan keuangan yang terbacakan mesin. Ini semua dipermudah dengan tersedianya media simpan optik. Kedua; Metode menyimpan cantuman (record) mengenai berbagai kegiatan termasuk perangkat keras komputer seperti media simpan, yang dilengkapi perangkat lunak untuk merancang bangun, menciptakan dan menyunting pangkalan data, spreadsheet dan perangkat lunak sejenis lainnya. Ketiga; Metode untuk mengindeks dokumen dan informasi termasuk berbagai teknik pembuatan indeks berbantuan komputer serta berbagai berkas (files) khusus untuk memudahkan temu balik dokumen yang memenuhi syarat tertentu. Kini berkembang katalog terbacakan mesin sehingga membantu menetukan lokasi dokumen. Keempat; Metode mengkomunikasikan pengetahuan termasuk: Sistem pos elektronik untuk transmisi teks memo dan surat dokumen; Sistem transmisi faksimil ( facsimile) untuk transmisi dokumen jarak jauh; Majalah elektronik sebagai sarana komunikasi kegiatan dan hasil penelitian; Telekonferensi artinya pertemuan jarak jauh, masing-masing peserta berada di berbagai tempat, saling berkomunikasi serta terlihat wajah masing-masing; Jaringan komunikasi data untuk mengkomunikasikan data dalam bentuk terbacakan mesin. Dengan semakin komplitnya tuntutan pemustaka agar sebuah perpustakaan itu dikelola secara profesional, tentu sangat memerlukan tenaga yang ahli dibidang perpustakaan, maka peran pustakawan sangat dibutuhkan agar terwujud yang namanya perpustakaan digital. Jelas bahwa dalam pengimplementasikan perpustakaan digital bukanlah hal yang mudah adanya kemampuan, pemahamam, dan anggaran yang matang tentang konsep dari perpustakaan digital, sehingga dapat benar-benar diterapkan. Selain pemahaman dari seorang pustakawan, pemustakapun harus mengerti apa maksud dan tujuan dari benar.perpustakaan digital. Seperti masih banyak pemustaka yang belum bisa membedakan antara perpustakaan digital dengan otomasi perpustakaan. Oleh karena itu; pustakawan dalam hal ini perplu memahami konsep perpustakaan digital secara benar. Ketika pustakawan sudah memahami konsep perpustakaan digital dengan benar, selanjutnya tugas pustakawan adalah memberikan pemahaman kepada orang lain atau kepada pimpinan terkait dengan implementasi konsep perpustakaan digital. Pergeseran peran pustakawan dapat dilihat dari tugasny yaitu ; menghimpun, mengolah dan menyebarluaskan informasi pada perpustakaan digital telah melahirkan pustakawan dibidang layanan. Sehingga pustakawan seperti itu sering disebut pustakawan digital . Karena perannya sangat banyak tetapi mulia yakni menyebarkan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pemustaka

Result & Discussion

Permasalahan yang sering dihadapi oleh suatu lembaga atau instansi perpustakaan adalah sumber daya manusia yang menguasai bidang teknologi informasi, seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa terdapat dua kelompok pustakawan berdasarkan sikapnya terhadap teknologi informasi. Kelompok pertama, adalah pustakawan yang menerima sistem informasi secara antusias, memperlihatkan minat mereka dengan mempelajari sistem secara antusias dan terlibat dalam berbagai program pelatihan. Kelompok kedua, adalah pustakawan yang menolak sistem teknologi informasi, biasanya pustakawan yang lebih senior dan sudah jenuh bekerja di perpustakaan, dan sulit dibawa ke arah kemajuan yang berbentuk teknologi. Aggota kelompok ini idak mempercayai bahwa koleksi yang ada di perpustakaan, seperti buku tidak bisa dirubah atau digitalisasikan; sehingga mereka menghindari hal-hal yang seperti itu. Bahkan mereka melayani pemustaka ya asal jadi saja dan tidak sepenuh hati, sesuai dengan tuntutan zaman. Seringkali yang terdengar nada sumbang dari mereka yang sudah jenuh bekerja di perpustakaan ungkapan ” Emang gue pikirin!”( memang saya pikirkan ). Artinya mereka melayani pemustaka tidak didasarkan kepada kebutuhan pemustaka zaman sekarang. Tentunya pustakawan seperti ini butuh pendekatan yang kooperatif dari seorang pimpinan. Pemimpin yang dimaksud di sini adalah pimpinan perpustakaan dengan sering mengikutsertakannya pada acara peningkatan ilmu atau skills mereka; agar layanan yang diberikan memang dirasakan manfaatnya oleh pemustaka. Peran pimpinan dalam komunikasi dua arah sangat besar pengaruhnya karena akan melahirkan pemahaman yang tepat dalam penyampaian informasi. Karena terbaginya pustakawan dalam menghadapi teknologi informasi di perpustakaan sangat dibutuhkan pustakawan yang profesional dibidangnya, sehingga perpustakaan digital tersebut bisa diwujudkan di zaman sekarang. Penulis yakin jika ini terwujud maka akan sangat berpengaruh kepada kemajuan bangsa dan negara. TUJUAN Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran atau tambahan pengetahuan dan wawasan bagi pustakawan agar lebih mempersiapkan diri menghadapi era perpustakaan digital. Sekaligus untuk mengantisipasi perubahan yang sangat cepat tersebut, maka harus mengetahui kompetensi apa saja yang harus dipunyai oleh seorang pustakawan dalam membangun dan memberikan layanannya diperpustakaan digital. Menurut Mahmudin (2010), ada beberapa alasan mengapa teknologi informasi saat ini sangat dibutuhkan di perpustakaan. Dalam arti kata bahwa sebuah perpustakaan digital sangat memerlukan hal-hal sebagai berikut: 1. Sistematika Informasi: Terjadinya ledakan informasi yang membanjiri dunia saat ini membutuhkan pengelolaan yang lebih sistematis. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menggunakan ict dalam pengelolaan database perpustakaan. 2. Tingginya akses informasi: kebutuhan pengguna untuk mencari dan menemukan kembali informasi lebih mudah jika difasilitasi dengan sarana ICT . Katalog online memungkinkan pustakawan dan pengguna untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Sudah menjadi hal yang lumrah untuk menyusun pengajuan daftar pustaka baru dengan mengunjungi dan menggunakan data-data di toko buku amazon 3. Efisiensi pekerjaan: komputer di perpustakaan membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Pencatatan buku buku baru serta pengolahan akan lebih mudah jika disimpan dalam file komputer. Pengkatalogan tidak hanya dengan sistem AACR (Anglo American Cataloguing Rules), begitupun penentuan subjek nya dengan DDC (Dewey Decimal Clasifications). Tetapi secara praktis penggunanaan katalog online memudahkan proses pengkatalogan. 4. Memudahkan tukar-menukar informasi dalam bentuk data. 5. Komunikasi dua arah atau searah, sudah hal yang lazim digunakan dengan tersedianya fasilitas yahoo messenger atau dengan fasilitas e-mail.Mailing list pustakawan adalah sebuah grup diskusi yang mempunyai kesukaan/kepentingan yang sama, setiap orang bisa berpartisipasi, kita dapat membaca email orang lain dan kemudian mengirimkan balasannya. Mailing list sebagai sarana yang ampuh untuk mendapatkan sumbangan buku, perbaikan fasilitas perpustakaan (lift, kamar mandi- WC dll) 6. Menjadi trend bila pustakawan saat ini menyimpan data pada pada web dari e-mail pribadi. 7. Keseragaman : salinan data atau informasi yang dibuat dapat diseragamkan sehingga memudahkan pengguna (user friendly). Konsep MARC (Machinery 8. Readable Catalogue) yang populer tahun 90an masih digunakan dalam rangka penyeragamkan penentuan tag (ruas) data bibliografi pustaka. Dengan membaca apa yang disampaikan oleh ahli sebelumnya, maka sangat jelaslah bahwa; pustakawan sangat dituntut untuk mengembangkan layanan perpustakaan dari sifatnya manual menjadi perpustakaan digital. Untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah; sangat memerlukan keseriusan pengelola terutama pustakawan. KOMPETENSI PUSTAKAWAN Kompetensi adalah seseorang yang menguasai pekerjaannya, memiliki motivasi, mempunyai kemampuan,memiliki keterampilan serta secara konsisten menjalankan tanggung jawab dengan standar yang ditetapkan. (Aspey, dikutip Nanan Khasanah:2008). Menurut Nanan Khasanah, ciri-ciri kompetensi ada 2 jenis yaitu: Pertama; Kompetensi profesional yaitu yang terkait dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi. Kedua; Kompetensi Individu, yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yangg dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan & perkembangan dalam dunia kerjanya. Kompetensi profesionalmerupakan hal penting yang harus di miliki oleh pustakawan dalam membangun suatu perpustakaan digital, keterampilannya dalam bidang teknologi informasi harus bisa bersaing dengan kompetensi yang lain melalui komitmen belajar dan pengembangan pendidikan berkelanjutan. Sedangkan kompetensi individu yaitu seorang pustakawan harus mempunyai sifat positif, fleksibel dalam menerima setiap perubahan dan mampu menjadi partner yang baik dalam setiap proses aktivitas. PERPUSTAKAAN DIGITAL Perpustakaan digital adalah perpustakaan yang menyediakan konten digital untuk diakses oleh pemustaka. Namun tidak mudah mengakses informasi yang ada diperpustakaan digital karena seperti halnya meminjam sebuah buku, untuk masuk ke konten digital ini, terlebih dahulu kita menjadi anggota. Tampilan perpustakaan digital pada web bervariasi tergantung kebijakan pada masing masing instansi. Beberapa perpustakaan digital, hanya menampilkan sebagian informasi yang ada diweb. Menurut Christine L. Borgman , (dikutip Ida Fajar Priyanto) bahwa yang dimaksud perpustakaan digital setidaknya digunakan dalam dua hal : 1. Dalam the computer science research community, perpustakaan digital dipandang sebagai konten yang dikoleksi untuk pemustaka 2. Menurut masyarakat pustakawan perpustakaan digital di pandang sebagai Sebagai institusi yang menyediakan layanan dalam lingkungan digital. Tentunya hal ini sangat berhubungan dengan kompetensi pustakawan dalam menyediakan akses informasinya dalam bentuk online digital, seperti buku digital, image scan digital dan informasi optical. Menurut Ida fajar Priyanto, Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi lembaga atau instansi dalam membangun sebuah sumber informasi. 1. Kembangkan teknologi yang lebih baik untuk mendigitalkan bahan perpustakaan analog. 2. Disain alat penelusuran dan retrieval yang mampu mengkompensasi katalog tidak lengkap atau singkatan atau informasi deskriptif 3. Desain alat yang memfasilitasi peningkatan katalog atau informasi deskriptif dengan menginkporporasi kontribusi dari pemustaka. 4. Membangun protocol dan standar untuk memfasilitasi pengumpulan perpustakaan digital yang terdistribusi. Dari uraian tersebut, dapat di simpulkan bahwa untuk membangun suatu perpustakaan digital diperlukan beberapa proses digitalisasi dari bahan-bahan berupa buku teks yang nantinya menjadi file-file digital yang selanjutnya akan ditampilkan dalam sebuah web. Munculnya perpustakaan digital di seluruh dunia men-generate kebutuhan untuk mengcreate jabatan baru yaitu “pustakawan digital” untuk mengelola sumber pengetahuan berbentuk digital (Nanan Khasanah, 2011). PUSTAKAWAN DIGITAL Pustakawan digital adalah spesialis informasi profesional, dapat mengelola perpustakaan digital, mengkombinasikannya secara profesional untuk perencanaan, data mining, penggalian pengetahuan, layanan rujukan digital, layanan informasi digital, representasi informasi, ekstraksi, distribusi informasi, koordinasi, www berbasiskan internet, akses dan penelusuran multimedia. (Nanan khasanah, 2008) Dari uraian tersebut bisa disimpulkan bahwa pustakawan memainkan peran yang dinamis, kecepatan dan ketepatan dalam mengakses informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka untuk keperluan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan diri. Tugas dari seorang pustakawan digital tidak berbeda dengan tugas seorang pustakawan pada bagian pengolahan bahan pustaka, hanya saja pada pustakawan digital lebih menyiapkan informasi yang dibutuhkan pemustaka melalui penyimpanan digital dan preservasi digital, membuat katalog dan membuat klasifikasi dengan cara digital. SKILL PUSTAKAWAN DIGITAL Untuk mengelola perpustakaan digital, seorang pustakawan harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang handal dibidang digital, diantaranya adalah kemampuan internet.Internet merupakan kumpulan yang luas dari suatu jaringan komputer besar dan kecil yang saling berhubungan menggunakan jaringan telekomunikasi yang ada di seluruh dunia ( Sujatna.S. 2018 ; 52 ) Secanggih apapun teknologi akan tetapi tidak bisa menghilangkan secara menyeluruh peran manusia. Artinya manusia memang memerlukan teknologi akan tetapi tidak bisa digantikan perannya seratus porsen dengan mesin. Lebih lanjut dikatakan ada beberapa fasilitas yang ada di internet sebagai berikut: a. Surat elektronik (e-mail) Layanan ini paling banyak dipakai, digunakan untuk apa saja sebagaimana orang menggunakan telepon atau berkirim surat. b. World Wide Web (www) Web, menggabungkan teks, gambar gambar suara dan bahkan animasi Serta memungkinkan kita berpindah-pindah dengan hanya mengklik mouse. Site-site web yang baru bertumbuh lebih cepat dan site-site baru bermunculan setiap menit. c. Pemanggilan informasi Kebanyakan komputer mempunyai file file informasi yang bebas untuk dibicarakan. File-file tersebut bisa berasal dari US supreme Court dan katalog-katalog kartu perpustakaan hingga teks buku-buku kuno, gambar gambar dan berbagai perangkat lunak yang sangat hebat. d. Buletin board Sebuah sistem yang dinamai usenet adalah sebuah buletin board yang hebat yang terdistribusi dan online yang memiliki sekitar 700 juta karakter pesan pada lebih dari 12.000 kelompok topik yang berbeda yang mengalir setiap hari. e. Games dan gosip Fasilitas game yang tersedia adalah MUD (Multi use Dungeon). Internet Relay chat (IRC) adalah saluran dimana kita dapat melangsungkan percakapan dengan para pemustaka lain di berbagai tempat. Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi sangat membantu seseorang mencari dan mengelola sebuah informasi. Informasi tersebut sangat diperlukan oleh seorang pustakawan yang senantiasa berorientasi kepada kemajuan dan kepuasan pemustaka

Conclusion

Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang sudah dikelola secara sempurna sesuai dengan ilmu pengelolaan sebuah perpustakaan, dan telah dimanfaatkan oleh pemustaka secara maksimal dari semua lapisan masyarakat. Semua informasi yang dicari oleh pemustaka sudah bisa ditemukan dengan cepat dan tepat. Karena perpustakaan tersebut sudah menyediakan semua sumber informasi, dan semua koleksi sudah digitalisasi dengan sempurna. Untuk mewujudkan perpustakaan digitalisasi tersebut, sangat diperlukan tenaga yang ahli di bidang teknologi yakni Pustakawan yang senantiasa berkiprah di perpustakaan sangat dituntut peranannya dalam mewujudkan perpustakaan digital. Dengan demikian keberadaan perpustakaan itu tidak terlepas dari peran pustakawan. Sedangkan dibidang layanannya sudah menggunakan layanan prima yakni melayani pemustaka dengan sepenuh hati.