Kembali
16
1
2022 Maktabatuna : Jurnal Kajian Kepustakawanan Vol 4 · 2 ISSN 2723-0171

KETIDAKNYAMAN BEKERJA PUSTAKAWAN PADA PELAYANAN ONLINE MASA PANDEMI COVID 19 : STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

Universitas Islam Negeri Mataram

Abstrak

Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap berbagai unit pelayanan pendidikan di Perguruan tinggi, diantaranya Perpustakaan. Perpustakaan UIN Mataram berfungsi memberikan pelayanan pustaka bagi segenap civitas akademik. Dalam rangka memberikan pelayanan di masa pandemi, kegiatan layanan Perpustakaan ikut beradaptasi sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan. Pelayanan perpustakaan beralih dari manual (luring) menjadi digital (daring). Pustakawan dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi dalam memberikan pelayanan publik yang optimal. Namun terdapat kendala yang dihadapi pustakawan yaitu job insecurity. Job insecurity adalah keadaan psikologis seseorang yang mengalami ketidaknyamanan saat bekerja, timbulnya perasaan cemas, serta stress karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Apabila tidak diatasi maka akan berdampak terhadap produktifitas kerja pustakawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya dan solusi untuk mengatasi dampak job insecurity pustakawan terhadap pelayanan daring perpustakaan yang diakibatkan pandemi Covid-19. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara kepada sejumlah pengguna layanan daring perpustakaan. Hasil penelitian ditemukan bahwa faktor penyebab timbulnya job insecurity adalah persepi diri, batasan layanan perpustakaan yang kurang tersosialisasi dengan baik dan kesewenang-wenangan pemustaka. Pustakawan diharapkan mampu mengelola stress pekerjaan agar tidak menurunkan produktifitas perkerjaan dan membahayakan bagi kondisi psikologis pustakawan.

Abstract

The Covid-19 pandemic has significantly impacted various educational service units in universities, including libraries. The function of the UIN Mataram library is to provide library services for the entire academic community. Library service activities also adapt according to the established health protocol to assist during the pandemic. Library services have shifted from manual (offline) to digital (online). Librarians are required to adapt and innovate in providing optimal public services. However, there are obstacles faced by librarians, namely job insecurity. Job insecurity is a psychological state of a person who experiences discomfort at work, feelings of anxiety, and stress due to an uncomfortable work environment. If this is not addressed, it will impact the work productivity of librarians. This study aimed to analyze efforts and solutions to overcome the impact of librarian job insecurity on library online services caused by the Covid-19 pandemic. The research method used was interviews with several online library service users. This study found that the causative factors of job insecurity were self-perception, limitations of library services that were not well socialized, and user arbitrariness. Librarians are expected to be able to manage work stress so as not to reduce work productivity and endanger the librarian's psychological condition.
Keywords: job insecurity · librarians · online services · digital library

Introduction

Dengan terjadinya situasi pandemi covid-19 pemerintah saat ini mengambil langkah serta berharap masyarakat dapat melakukan pekerjaan dan kesibukannya sehari-hari melalui rumah saja, biasanya sering disebut dengan istilah work from home (WFH). Dampak pandemi Covid-19 tersebut sangat berpengaruh pada setiap sektor kehidupan diantaranya bidang pendidikan, dimana aktifitas pembelajaran yang harusnya dilakukan secara offline dirubah menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan). Pembelajaran daring mulai dilaksanakan pada tingkat sekolah dasar sampai Perguruan Tinggi. Hal tersebut mengakibatkan beberapa kegiatan proses pendidikan mengalami banyak perubahan. Demi menjaga agar pekerjaan tetap berjalan, maka metode kerja pun mengalami perubahan dengan melakukan social distancing (pembatasan sosial) dengan harapan dapat memutus rantai penularan virus.(Riani & Handayani, 2020). Sebagai contohnya, kegiatan perpustakaan di perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang harus melakukan sistem perubahan layanannya kepada pemustaka. Dengan perubahan tersebut setidaknya proses layanan terhadap kebutuhan pemustaka tetap berjalan. Kegiatan pelayanan perpustakaan UIN Mataram di masa pandemi tetap harus dilakukan walaupun terdapat berbagai macam hambatan dan perubahan. Hal tersebut menyebabkan segala unsur pendukung perpustakaan harus bahu membahu dalam melakukan pelayanan pemustaka di masa pandemi ini. Segala bentuk pelayanan Perpustakaan UIN Mataram yang biasanya dilakukan secara luring berubah menjadi pelayanan secara daring. Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi para pemustaka dan civitas akademika, pustakawan harus tetap menjalankan tugas dan kewajibannya. Pelayanan Perpustakaan yang semula luring beralih menjadi daring tentunya sangat berhubungan erat dengan tekhnologi dan sudah pastinya harus didukung dengan kreativitas pustakawan. Pustakawan dan tenaga perpustakaan lainnya harus mampu beradaptasi dengan situasi pandemi ini yang mengharuskan untuk mengurangi terjadinya kontak fisik dalam melakukan pelayanan atau bahkan harus bersiap dengan kenormalan baru (new normal). Terjadinya perubahan dalam kebiasaan melakukan pelayanan di perpustakaan UIN Mataram tidak dapat langsung diterima oleh pustakawan. Pustakawan harus mulai belajar dengan kebiasaan baru yang kadang-kadang menimbulkan rasa takut atau cemas pada saat melaksanakannya. Sehingga tidak jarang pustakawan mengalami dampak psikologis atau yang mungkin bisa disebut sebagai stres dalam bekerja. Pustakawan dituntut untuk harus kreatif dan inovatif, sekaligus dipaksa berteman baik dengan teknologi. Banyaknya jumlah pemustaka yang harus dilayani oleh pustakawan menyebakan pustakawan mengalami ketidaknyamanan dan stres dalam bekerja. Penyebab tersebut antara lain: pertama, layanan online harus dilakukan diluar jam kerja; kedua, jumlah pustakawan yang melayani lebih sedikit dibanding dengan jumlah civitas akademika yang harus dilayani. Hal-hal tersebut menimbulkan dampak ketidaknyaman bekerja pada pustakawan yang mengakomodir layanan online. Ketidaknyaman bekerja itu akan semakin meningkat jika dihadapkan pada kondisi-kondisi dimana layanan-layanan online tersebut berbatas waktu. Diantaranya seperti layanan turnitin dan layanan cetak sertifikat plagiasi yang yang dibutuhkan saat pendaftaran ujian skripsi. Layanan pembuatan surat keterangan bebas pinjam dan serah terima file skripsi sebagai persyaratan daftar yudisium serta layanan surat keterangan untuk LBKD dosen untuk kebutuhan naik pangkat. Artikel ini akan membahas tentang bagaimanakah kondisi job insecurity yang dihadapi oleh pustakawan UIN Mataram yang mengakomodir pekerjaan layanan online.

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan suatu objek ke dalam bentuk naratif/kata-kata atau gambar dan tidak berfokus pada angka. (Sugiyono;, 2013) Format penelitian deskriptif kualitatif adalah format penelitian yang membutuhkan studi mendalam, salah satu contohnya yaitu permasalahan psikis pustakawan, masalah beban kerja pustakawan dan efektifitas layanan online kepada para civitas akademika UIN Mataram. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Subjek pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Adapun sample yang diambil terdiri dari 5 orang pustakawan dan 2 orang tenaga kontrak di perpustakaan UIN Mataram yang menangani layanan online. Setelah data terkumpul kemudian peneliti melakukan analisis dengan menggunakan tiga cara yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.(IJAL, n.d.)

Result & Discussion

Ada beberapa jenis pelayanan online yang disediakan Perpustakaan UIN Mataram diantaranya:(Suharti, 2020) 1. Layanan penelusuran online Layanan ini telah disediakan oleh Perpustakaan untuk memudahkan pemustaka dan civitas akademika memperoleh informasi dan bertanya secara langsung kepada pustakawan yang bertugas pada layanan online. Sumber informasi online yang dikenal pertama kali yaitu adalah katalog perpustakaan (O PAC). 2. Layanan e-resources Dalam menunjang dan mencapai kesuksesan dan keberhasilan di suatu jenjang Pendidikan perpustakaan UIN Mataram menyediakan koleksi baik dalam bentuk cetak (printed) maupun elektronik (e-resources). Koleksi printed yang berupa buku, majalah, jurnal, sedangkan koleksi elektronik berupa e journal, e book. 3. Layanan Repositori Institusi Layanan repositori institusi pada perguruan tinggi yang berupa layanan informasi tugas akhir mahasiswa, seperti skrips, tesis dan disertasi. Sedangkan untuk dosen berupa penelitian, karya-karya ilmiah dosen dan buku-buku dosen UIN Mataram yang sudah atau belum diterbitkan. 4. Layanan Digital Library Melalui sumber informasi digital ini, pemustaka dapat mengakses koleksi digital yang dimiliki perpustakaan UIN Mataram dari mana saja dan kapan saja melalui website http://etheses.uinmataram.ac.id/ dan http://repository.uinmataram.ac.id/ 5. Layanan Cek Plagiasi Online Perpustakaan UIN Mataram berlangganan software turnitin untuk mengecek hasil plagiasi karya tulis mahasiswa, pustakawan dan dosen. Mahasiswa UIN Mataram dalam Menyusun tugas akhirnya harus melakukan pengecekan hasil plagiasi ke Perpustakaan sebelum mendaftar ujian proposal atau skripsi. Begitupun dengan dosen dan pustakawan dalam menulis karya ilmiahnya. 6. Layanan Bebas Pustaka Online Mahasiswa yang akan mendaftar ujian skripsi, tesis atau disertasi harus memiliki surat keterangan bebas pinjam dari Perpustakaan untuk memenuhi syarat-syarat pendaftaran ujian. 7. Layanan serah terima file skripsi, tesis dan disertasi Layanan serah terima file skripsi, tesis dan disertasi dilakukan melalui media whatsapp yang dikirim ke nomer pustakawan yang ditugaskan melayani bagian ini. Mahasiswa harus mengumpulkan file skripsi, tesis dan disertasi ke perpustakaan sebagai persyaratan daftar yudisium dan pengambilan ijazah. Pada artikel ini penulis melakukan penelitian pendahuluan dengan mewawancarai beberapa orang pustakawan di perpustakaan UIN Mataram terkait tentang job insecurity yang dialami oleh pustakawan, dan juga melakukan survey sederhana terkait hal tersebut. Dari tujuh layanan yang dilaksanakan di UIN Mataram, hampir semua layanan tersebut terpapar job insecurity karena keadaan pandemic covid-19. Pada layanan pertama yaitu penelusuran online, ketidaknyamanan bekerja menjangkiti pustakawan yang menjaga lancarnya akses penelusuran website kampus. Pustakawan dituntut siaga setiap saat bila penelusuran secara online tersebut mengalami gangguan. Pada layanan kedua yaitu layanan e-resources, job insecurity yang menimpa pustakawan terutama terkait dengan interaksi dengan pemustaka dan civitas akademika, karena diharuskan untuk melaksanakan social distancing, serta pemakaian masker secara terus-menerus di ruang perpustakaan. Demikian juga pada layanan ketiga yaitu layanan repositori institusi. Job insecurity yang dialami pustakawan menyangkut interaksi langsung dengan pemustaka dan civitas akademika yang meski dijaga dan steril. Pada layanan keempat yaitu layanan digital library, sifat dari ketidaknyamanan bekerja tidak jauh berbeda dengan layanan pertama, yaitu penelusuran online. Semua pustakawan yang terlibat dalam layanan digital library harus dapat memastikan bahwa website perpustakaan dapat diakses secara mudah pada masa pandemi berlangsung. Hal tersebut adalah sesuatu yang menantang. Pada layanan kelima, yaitu layanan cek plagiasi, penulis mewawancarai pustakawan yang menangani plagiasi pengecekan hasil turnitin. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa beliau mengalami job insecurity pada waktu melayani mahasiswa, apalagi pada saat melakukan pelayanan yang berbatas waktu yang sudah ditetapkan oleh fakultas. (M. Alimuddin, personal communication, July 4, 2022) Pada layanan keenam dan ketujuh, yaitu layanan bebas pustaka dan layanan serah terima file skripsi, tesis dan disertasi, persoalannya hampir mirip. Pustakawan yang menangani pelayanan tersebut mengalami hal yang sama.(L. H. Tsani, personal communication, July 4, 2022) Sebab pada masa pandemi Covid-19 ini pustakawan dituntut untuk tetap melayani pemustaka, hal ini dikarenakan kegiatan akademik dari mahasiswa khususnya tetep berjalan. Sehingga kegiatan layanan pun harus tetap dilakukan, walaupun dengan daring. Jam pelayanan pemustaka yang ditetapkan oleh lembaga UIN Mataram khususnya di perpustakaan UIN Mataram dimulai pada hari Senin-Kamis, jam: 08.00-16.00 (istirahat 12.00-14.00) sedangkan hari Jum’at jam 08.00-16.30 istirahat pada jam 11.00-13.00. Dibawah ini penulis lampirkan beberapa bukti pelayanan online yang diambil dari screenshot whatsapp pustakawan yang melakukan pelayanan online diluar jam kerja Seperti yang terliat dari hasil screenshot whatsapp tersebut waktu atau jam para civitas akademika mengirimkan file untuk pengecekan sangat tidak sesuai dengan jam pelayanan yang telah ditetapkan oleh perpustakaan UIN Mataram. Sehingga hal tersebut dapat mengganggu jam istirahat pustakawan. Begitu pula dari hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap beberapa pustakawan. Pustakawan di bagian pengolahan, pustakawan bagian layanan referensi, pustakawan bagian otomosi dan pustakawan bagian sirkulasi berpendapat bahwa mereka semua mengalami job insecurity. Berdasarkan data tersebut maka job insecurity librarians dapat didefinisikan sebagai ketidaknyamanan bekerja yang dialami oleh pustakawan secara fisik dan psikis. Dalam melakukan pelayanan online pustakawan dituntut untuk selalu stay 24 jam untuk melayani kebutuhan pemustaka. Survey sederhana yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa hampir seratus persen pustakawan di UIN Mataram mengalami job insecurity atau ketidaknyamanan bekerja pada pelayanan online masa pandemi covid 19. Hal ini terutama terkait dengan berbagai pembatasan yang diberlakukan, serta mudahnya penyebaran virus, sehingga ketika para pustakawan bertemu dengan pemustaka dan civitas akademika mesti harus hati-hati dan waspada, supaya tidak tertular atau mungkin menularkan kepada orang lain. Untuk menekan terjadinya job insecurity yang dialami oleh pustakawan diharapkan pustakawan mampu mengatur deskripsi beban kerjanya dan melakukan pelayanan online sesuai dengan jam kerja yang ditetapkan oleh lembaga UIN Mataram khususnya perpustakaan UIN Mataram. Selain itu pustakawan harus mampu menciptakan rasa nyaman dan harus mampu melakukan pengendalian diri agar stres yang terjadi tidak membahayakan dirinya sendiri.

Conclusion

Ketidaknyamanan bekerja pustakawan di tengah masa pandemi sangat berhubungan erat dengan perubahan bentuk layanan kepada pemustaka dimana pustakawan dituntut untuk selalu tampil secara kreatif dan inovatif dalam memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Tentu dengan adanya pandemi saat ini, semua layanan yang ada di perpustakaan secara otomatis harus beralih dan berubah dengan mengedepankan pemanfaatan tekhnologi secara maksimal. Kondisi ini memaksa pustakawan harus merubah kebiasaan dan harus mengenal hal-hal baru dalam proses memberi pelayanan kepada para pemustaka. Dikarenakan pelayanan yang dilakukan secara terus menerus tanpa memperhatikan jam kerja, hal ini menimbulkan dampak job insecurity terhadap pustakawan yang bersumber pada gejala fisik, emosionl, atau bahkan pada perilaku pustakawan. Job insecurity ini dialami oleh pustakawan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pertama kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh para pemustaka. Kedua karena kurang tersosialisasisnya batas jam pelayanan yang ditetapkan oleh Perpustakaan UIN Mataram. Ketiga kurangnya literasi yang dilakukan oleh pemustaka atau civitas akademika UIN Mataram. Pustakawan dan tenaga tekhnis yang membantu pengelolaan perpustakaan harus bisa mengendalikan diri agar stress yang dialami tidak membahayakan kondisi mentalnya. Penulis juga ingin memberikan saran agar dilakukan evaluasi terhadap hasil kinerja pustakawan tiga bulan sekali atau enam bulan sekali (persemester) untuk mengetahui masalah atau kendala apa saja yang dihadapi oleh pustakawan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.(Samosir & Syahfitri, 2008).