Kembali
16
1
2022 Information Science and Library Vol 3 · 2 ISSN 2723-2778

Strategi Komunikasi Kelompok Kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam Menyampaikan Informasi

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ni bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam menyampaikan informasi baik untuk aggotanya maupun kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan 3 metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan langkah-langkah menurut Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, hingga penarikan kesimpulan. Terdapat 4 informan yaitu pengelola kelompok kesenian, anggota kelompok kesenian, pecinta kesenian, dan masyarakat umum. Hasil penelitian menujukkan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan oleh kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto yaitu dengan menggunakan wara-wara secara langsung dan tidak langsung seperti melalui media sosial. Penggunaan strategi tersebut dikatakan efektif dikarenakan masyarakat yang sudah menggunakan aplikasi digital sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Adapun kendala yang dihadapi oleh kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto yaitu terdapat beberapa anggota yang sudah tua dan tidak memiliki gadget untuk menerima informasi terkait jadwal maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan kelompok kesenian.

Abstract

This study aims to find out and understand how the communication strategy used by the Wahyu Turonggo Seto art group in conveying information both to its members and to the public. This study uses 3 methods, observation, interviews, and documentation. The data analysis technique uses the steps according to Miles and Huberman, namely data collection, data reduction, data presentation, to drawing conclusions. There are 4 informants, namely art group managers, art group members, art lovers, and the general public. The results of the study show that the communication strategy carried out by the Wahyu Turonggo Seto art group is by using wara-wara directly and indirectly, such as through social media. The use of this strategy is said to be effective because people are already using digital applications as an effort to meet their information needs. The obstacles faced by the Wahyu Turonggo Seto art group are that there are some members who are old and do not have gadgets to receive information related to schedules and other matters related to the arts group.
Keywords: Communication Strategy · Information · Art

Introduction

Pemikiran Tolstoy (dalam Sunarto, 2009) istilah seni sebagai alat komunikasi mengandung dua unsur, yakni: ungkapan (expression) dan kemerasukan (infection). Ekspresi merupakan sebuah langkah atau proses dimana apa yang berada dalam dunia subjektifnya seniman, yaitu perasaanya, diungkapkan mewujud dalam bentuk-bentuk yang bisa diakses orang lain. Kemerasukan merupakan proses ekspresi seniman diasimilasi untuk orang lain. Apa yang diekspresikan seniman dan dipahami oleh audien adalah perasaan dan bukan gagasan. Kedua proses ini mengandaikan bahwa apa yang subjektif di dalam dunia batin seniman menjadi objektif milik publik. Setiap kesenian mempunyai makna yang dapat diinformasikan kepada masyarakat atau khalayak. Organisasi atau kelompok kesenian memerlukan strategi komunikasi untuk menyatukan visi dan misi demi majunya atau berkembangnya kesenian tersebut. Strategi komunikasi merupakan salah satu langkah komunikasi yang harus dijalankan oleh seseorang, kelompok atau lembaga untuk mencapai tujuan. Strategi harus dijalankan dengan perencanaan, waktu, tujuan, dan target yang jelas, sehinga proses komunikasi akan dapat mencapai sasaran dengan tepat dan tidak menimbulkan efek ambiguitas bagi yang menerima. Informasi merupakan sebuah hasil dari sebuah pengolahan data yang melalui sekumpulan proses pada sebuah sistem, yang diolah sedemikian rupa sehingga layak untuk disajikan kepada masyarakat umum (Dengen & Hatta, 2009). Informasi dapat dikatakan sebagai hasil olah data ke dalam bentuk yang lebih berarti dan lebih berguna bagi penerimanya yang menggambarkan kegiatan nyata yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Informasi sangat mudah ditemukan pada zaman sekarang ini, dimana globalisasi menjadi faktor terpenting dalam suatu kehidupan. Dengan kecanggihan teknologi pada zaman globalisasi in, maka informasi akan dengan mudah menyebar luas kepada masyarakat. Dalam menyebarnya informasi maka harus dibarengi dengan pemanfaatan literasi informasi. Komunikasi adalah pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan dimana dalam pertukaran pesan tersebut mengandung makna yang berguna bagi masing-masing pihak. Komunikasi juga dapat berupa lisan maupun melalui media. Wahyu Turonggo Seto merupakan kelompok kesenian reog yang berasal dari Dusun Sekeper, Desa Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Makna yang diekspresikan oleh kesenian Wahyu Turonggo Seto bermacam-macam sesuai jenis tarian yang ditampilkan, seperti halnya tari reog yang mengekspreskan tentang makna kegotongroyongan dalam kehidupan bermasyarakat. Penari akan menampilkan gerakan secara bersama-sama dan serasi sehinga audien yang melihatpun akan mempunyai perasaan dan dapat memahami bahwa tarian itu memiliki makna kebersamaan dan kegotongroyongan. Kesenian ini sudah lama berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Kelompok kesenian ini merupakan salah satu kelompok yang memiliki tujuan untuk tetap melestarikan dan menjaga eksistensi kesenian khususnya kesenian yang berasal dari Jawa. Berdasarkan permasalahan di atas, kemudian menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Strategi Komunikasi Kelompok Kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam Menyampaikan Informasi”.

Method

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, karena penelitian ini dilakukan secara alamiah (natural) dan memiliki data yang pasti. Menurut Sugiyono data yang pasti adalah data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekadar yang terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terucap dan terlihat tersebut. Pada penelitian ini akan mengungkap lebih dalam mengenai bagaimana strategi komunikasi kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, sehingga penelitian ini lebih tepat menggunakan metode kualitatif. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, metode kualitatif memandang suatu masalah berdasarkan kejadian secara alamiah atau natural karena setiap permasalahan memiliki makna yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah yang dijalankan oleh kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam memaknai setiap karya yang ditampilkan untuk disampaikan kepada masyarakat. Adapun teknik pengambilan data yaitu dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan meggunakan langkah-langkah menurut Miles dan Huberman yaitu dengan penyajian data, reduksi data, klasifikasi data, penyajian data, kemudian penarikan simpulan.

Result & Discussion

Pengkomunikasian Informasi dalam Kelompok Kesenian Wahyu Turonggo Seto Latihan merupakan kegiatan melatih atau mengembangkan suatu ketrampilan dan pengetahuan kepada diri sendiri atau orang lain, yang terkait dengan kompetensi tertentu yang dianggap berguna. Latihan juga bertujuan untuk mempersiapkan dan memperbaiki gerakan dan melaraskan gerakan agar nantinya ketika tampil tidak ada yang salah (Bernardin & Russell, 2006). Jadwal latihan yang diadakan oleh Kesenian Wahyu Turonggo Seto ini diadakan ketika ada jadwal tawaran tampil. Ketika ada tawaran tampil pengelola langsung memberikan informasi kepada anggota untuk berkumpul membahas kapan latihan akan dilakukan. Tempat yang digunakan untuk latihan yaitu di halaman rumah pengelola yang berada di ( yang bertempat di Jalan Kyai Ragil RT 5 RW IV, Dusun Sekeper, Desa Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Tujuannya latihan ini agar nantinya penampilan kesenian Wahyu Turonggo Seto ini baik dan maksimal, sehingga orang yang mengadakan acara ini senang dan bahagia. Latihan yang diadakan oleh kesenian Wahyu Turonggo Seto ini akan diikuti oleh semua anggota kelompok kesenian, sehingga mereka menjadwalkan latihannya pada malam hari. Seperti yang dijelaskan oleh Ristanto, latihan ini dilakukan ketika malam hari, karena pada waktu pagi sampai sore mereka banyak yang bekerja sehingga waktu yang efektif untuk latihan yaitu pada malam hari. Karena kalau malam hari semua anggota bisa hadir untuk latihan semua agar penampilannya nantinya maksimal. Latihan pada malam hari tersebut selain karena menjadi waktu yang efektif karena banyak anggota yang di rumah, juga efektif karena pada malam hari cuaca mendukung atau dikatakan tidak panas sehingga latihan dapat dilakukan dengan maksimal. Jadwal pertemuan disepakati bersama yaitu dilaksanakan setiap minggu pertama awal bulan. Jadwal pertemuan ini rutin dilaksanakan dan anggota wajib hadir semua. Dalam jadwal pertemuan ini pengelola dan anggota juga menyepakati adanya konsekuensi kepada semua anggota kalau nanti ada yang tidak hadir. Tujuan adanya konsekuensi yaitu agar anggota kesenian memiliki rasa kekeluargaan yang hangat dan juga agar latihan bisa maksimal dan bagus. Jadwal pementasan tergantung ketika ada tawaran pentas atau ketika ada acara, lalu kelompok kesenian ini berdiskusi dengan semua anggota apakah tanggal yang dijadwalkan pentas semua anggota bisa ikut, pengelola langsung memberian kabar kepada penyelenggara sanggup pentas pada jadwal itu, ketika kelompok kesenian tidak bisa semua berarti pengelola memberi tahu kepada penyelenggara kalau tidak sanggup. Kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam melakukan pementasan sudah melalui persetujuan oleh seluruh anggota kelompok kesenian. Pada saat pementasan kelompok kesenian juga menghimbau seluruh anggota untuk hadir supaya terlihat ramai penonton. Kelompok kesenian juga tidak lupa untuk menginformasikan kepada masyarakat jika kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto akan tampil dan melakukan pementasan. Tari reog atau yang biasa disebut tari kuda lumping merupakan tari tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang yang merupakan hasil dari pelestarian kesenian yang ada di daerah Jawa, termasuk Jawa Tengah. Reog juga salahsatu budaya daerah di Jawa yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis yang kuat. Reog sendiri seni pertunjukan tua yang bertahan daru gempuran zaman yang memiliki nilai seni dan sekaligus nilai-nilai luhur. Kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto menggunakan jaran (kuda) yang berasal dari bambu sebagai alat utamanya. Kuda yang berasal dari bambu tersebut juga dipasang rambut tiruan agar makna yang didapat dari tarian ini lebih mendalam. Tari reog ini menceritakan tentang kekompakan sekelompok prajurit yang menunggang kuda. Tari soreng yaitu kesenian asli masyarakat Jawa yang konon merupakan pengejawantahan babad atau cerita rakyat. Kesenian tersebut dimainkan dalam upacara adat atau hajatan besar yang terjadi. Kesenian soreng yaitu kesenian yang diadopsi dari kisah Aryo Penangsang dan para prajuritnya. Tari soreng juga menjadi salah satu tarian yang ada dalam kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto. Tari soreng dimainkan oleh 15 sampai 20 orang. Tarian soreng menggambarkan kekompakkan para petani. Dalam gerakannya juga penuh energik antara tangan dan kaki yang melambangkan kegigihan dalam menjalani pekerjaannya. Strategi Komunikasi Kelompok Kesenian Wahyu Turonggo Seto dalam Menyampaikan Informasi Strategi komunikasi yang digunakan kelompok kesenian ini yaitu menyampaikan informasi dengan menggunakan wara-wara atau pengumumam lewat masjid. Pengumuman melalui masjid ini dilkaukan karena dinilai pengelola efektif dalam penyampaian kepada anggota-anggota nya yang mayoirtas kediamannya dekat dengan masjid, tidak hanya anggota-anggota kesenian saja pengumuman lewat masjid ini juga bisa menjadi pengumuman untuk masyarakat sekitar yang mendengarkannya kalau akan ada pementasankesenian Wahyu Turonggo Seto. Selain dengan wara wara di masjid, kelompok kesenian ini juga wara-wara dengan keliling desa karena masyarakat akan tahu bahwa akan ada pementasan kesenian wahyu turonggo seto, dan tidak hanya warga desa sekitar yang tahu tetapi juga warga desa lainnya karena kalo menggunakan mobil bisa keliling kemana saja sehingga informasi ini bisa merambah luas ke desa lain. Dan nantinya pementasan ini akan ditonton banyak orang dari desa lainnya sekaligus memperkenalkan kesenian Wahyu Turonggo Seto ini ke desa-desa lainnya Salah satu strategi komunikasi yang dilakukan oleh kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto yaitu dengan cara memasang Spanduk / MMT. Pemasagan spanduk tersebut dengan menggunakan MMT bertuliskan informasi tentang kapan pementasan kelompok kesenian akan dilakukan. Pemasangan spanduk/MMT dilakukan di tempat yang strategis seperti pasar dan tempat umum lainnya yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Media sosial tidak hanya untuk memberikan informasi saja tetapi juga dapat digunakan untuk promosi kesenian Wahyu Turonggo Seto agar lebih dikenal oleh banyak orang dan nantinya dapat dipanggil di kota-kota lain untuk acara adat maupun hajatan. Ada beberapa sosial media yang digunakan untuk memberikan informasi yaitu facebook, instagram, dan whatsapp.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, terdapat beberapa informasi yang dikomunikasikan dalam kelompok kesenian Wahyu Turonggo Seto yaitu informasi mengenai jadwal latihan informasi mengenai jadwal pertemuan, informasi jadwal pementasan, dan instrumen atau peralatan yang digunakan dalam pementasan yang mencakup alat musik dan kostum. Serta memberikan hasil mengenai tari-tarian yang dipentaskan yaitu tari reog dan tari soreng. Adapun strategi yang digunakan dalam menyampaikan informasi yaitu melalui wara-wara dari masjid, wara wara naik mobil, memasang MMT di tempat strategis, serta menggunakan media sosial yaitu facebook, whatsapp, dan instagram.