Perilaku pencarian informasi miner cryptocurrency di grup Facebook Miner Indonesia
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian ini membahas perilaku pencarian informasi mining dan cryptocurrency oleh miner cryptocurrency di grup Facebook Miner Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku pencarian informasi mining dan cryptocurrency oleh miner cryptocurrency di grup Facebook Miner Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Model penelitian ini menggunakan model dari David Ellis yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Terdapat empat orang anggota grup Facebook Miner Indonesia yang menjadi informan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahap starting, informan mulai memahami informasi yang dibutuhkannya terkait mining dan cryptocurrency. Pada tahap chaining, informan melakukan pencarian lebih mendalam untuk memenuhi kebutuhan informasi yang masih dirasa kurang. Tahap browsing, informan menggunakan internet seperti Google, YouTube, Facebook, dan Reddit untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Dalam differentiating, informan membandingkan informasi yang didapat dalam Facebook dengan sumber informasi lain. Tahap monitoring dilakukan oleh informan dengan memantau postingan grup secara berkala. Tahap extracting, informan memanfaatkan informasi yang telah diperolehnya dengan cara mempraktikkannya pada alat mining yang dimiliki. Kesimpulannya, peneliti mengetahui bahwa keempat informan melakukan enam tahapan perilaku pencarian informasi sebelum mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Abstract
This study examines the information-seeking behavior related to mining and cryptocurrency exhibited by cryptocurrency miners in the Facebook group Miner Indonesia. The research aims to investigate the information seeking behavior concerning mining and cryptocurrency among cryptocurrency miners within the Facebook group Miner Indonesia. The study employs a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques include observation, interviews, and literature review. The research model utilizes David Ellis's model, which comprises six stages: starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, and extracting. Four members of the Facebook group Miner Indonesia serve as informants for this study. The results indicate that during the starting phase, informants begin to comprehend the information they require regarding mining and cryptocurrency. In the chaining phase, informants conduct more in-depth searches to fulfill their remaining information needs. During the browsing stage, informants utilize internet resources such as Google, YouTube, Facebook, and Reddit to seek necessary information. In the differentiating phase, informants compare information obtained from Facebook with other information sources. The monitoring stage involves informants regularly observing group posts. In the extracting phase, informants apply the acquired information by implementing it on their mining equipment. In conclusion, the researcher found that all four informants engaged in the six stages of information-seeking behavior before obtaining the required information.
Keywords:
Mining
· Kriptokurensi
· Miner kriptokurensi
· Pencarian informasi
· Perilaku pencarian informasi
Introduction
Perkembangan teknologi telah mengubah gaya hidup manusia, termasuk perubahan dalam melakukan pencarian informasi. Jika sebelumnya masyarakat mendapatkan informasi melalui media konvensional seperti surat kabar atau radio, maka sekarang masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan mengakses internet kapan saja dan di mana saja. Meningkatnya penggunaan internet didukung dengan adanya media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube, dan lainnya. Menurut Cahyono (2016), sejarah media sosial dimulai pada tahun 1970-an dengan penemuan sistem papan buletin. Sistem ini memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui surat elektronik serta mengunggah dan mengunduh perangkat lunak, meskipun pada saat itu masih menggunakan saluran telepon yang terhubung dengan modem. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Westerman, Spence, and Heide (2014), media sosial semakin sering digunakan sebagai sumber informasi, termasuk informasi yang berkaitan dengan risiko dan krisis. Studi ini meneliti bagaimana potongan-potongan informasi yang tersedia di media sosial memengaruhi persepsi terhadap kredibilitas sumber. Perkembangan internet dan pengguna media sosial di Indonesia sendiri cukup besar. Menurut DataReportal yang ditulis oleh Kemp (2024), terdapat 185,3 juta pengguna internet atau sekitar 66% dari total populasi penduduk Indonesia pada awal tahun 2024. Untuk pengguna media sosial di Indonesia pada awal tahun 2024 ada sebanyak 139 juta pengguna. Carr and Hayes (2015), memberikan definisi baru terhadap media sosial sebagai saluran berbasis internet yang memungkinkan penggunanya berinteraksi secara oportunistis dan mempresentasikan dirinya secara selektif, baik dalam waktu nyata maupun asinkron, kepada audiens besar maupun kecil, sambil memperoleh nilai dari konten yang dihasilkan dan persepsi interaksi dengan orang lain. Media sosial cukup mempengaruhi gaya hidup di masyarakat terutama dalam pencarian informasi. Berdasarkan Kemp (2024), Facebook merupakan salah satu platform media sosial yang banyak digunakan di Indonesia, dengan jumlah pengguna mencapai 117 juta orang. Facebook di Indonesia tidak hanya untuk berkirim pesan saja, namun sebagai tempat pencarian informasi yang beragam. Maka dari itu, banyak masyarakat memanfaatkan platform ini untuk berbagi informasi, termasuk informasi terkait cryptocurrency. Cryptocurrency atau biasa disebut crypto, telah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Ashford (2023), cryptocurrency adalah mata uang digital yang dienkripsi dan terdesentralisasi. Berbeda dengan mata uang pada umumnya seperti yang dijelaskan oleh Kaspersky (2018), Cryptocurrency adalah bentuk sistem pembayaran digital yang beroperasi tanpa memerlukan bank atau lembaga keuangan tradisional untuk memverifikasi transaksinya. Teknologi blockchain memastikan setiap transaksi dicatat dengan transparan dan aman, memudahkan pengguna untuk melakukan transaksi lintas batas dengan cepat. Namun, Informasi mengenai mining crypto yang beredar di internet sering kali terbatas dan tidak komprehensif. Misalnya, video tutorial mining crypto di YouTube yang hanya memberikan panduan dasar tanpa mendalam, sementara pertanyaan-pertanyaan terkait mining dari penonton sering kali tidak dijawab oleh kreator video. Sebaliknya, grup Facebook dapat menjadi tempat diskusi yang lebih interaktif. Grup seperti Miner Indonesia menghubungkan orang-orang yang memiliki hobi dan minat yang sama dalam mining crypto, memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk saling berbagi informasi seperti cara mining optimal, crypto yang sedang profit, dan bahkan jual-beli hardware mining. Adanya admin dan moderator dalam grup membuat kualitas informasi yang tersebar dalam grup tetap terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan informasi anggotanya. Seperti yang dijelaskan oleh Wilson (2000), menjadi sangat relevan bagi para anggota yang secara aktif mencari informasi untuk memenuhi kebutuhan mereka akan informasi lebih lanjut dalam bidang mining dan cryptocurrency. Dengan latar belakang ini, peneliti ingin mencari tahu perilaku pencarian informasi miner cryptocurrency di grup Facebook Miner Indonesia, menggunakan model perilaku pencarian informasi dari Ellis (1987), yang terdiri dari enam tahapan: starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Alhusna and Masruroh (2021), menjelaskan enam tahapan perilaku pencarian informasi yang dikemukakan oleh Ellis (1987). Tahapan ini dimulai starting, sebagai pencarian awal informasi melalui sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai referensi utama. Chaining melibatkan identifikasi pola dengan menghubungkan literatur terkait dalam referensi yang ditemukan. Browsing merupakan pencarian semi terstruktur yang diarahkan pada bidang tertentu, seperti daftar isi dan indeks. Differentiating mengacu pada pengelompokan dan penyeleksian sumber informasi berdasarkan karakteristik dan kualitasnya. Selanjutnya, monitoring merupakan pemantauan perkembangan dalam bidang yang diminati, melalui metode seperti kontak informal, jurnal, atau literatur terbaru. Terakhir, extracting yaitu proses pengecekan sumber secara sistematis untuk mengambil informasi penting, biasanya melalui jurnal, indeks, abstrak, dan katalog. Peneliti menemukan beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan referensi penelitian. Media sosial banyak dijadikan sebagai objek penelitian, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hafidzan, Yusup, and Rodiah (2021), yang bertujuan untuk mengetahui tahapan perilaku pencarian informasi otomotif yang dilakukan oleh pelanggan YouTube channel AutonetMagz. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Terdapat lima orang pelanggan YouTube channel AutonetMagz yang dijadikan informan dengan karakteristik sudah berlangganan YouTube channel AutonetMagz selama enam bulan atau lebih. Temuan dari penelitian ini adalah pencarian informasi yang dilakukan oleh pelanggan YouTube channel AutonetMagz dilalui dengan berbagai tahap yang berbeda-beda sebelum mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Selain itu, penelitian selanjutnya mengenai penyebaran informasi wisata kuliner pada Instagram @bogoreatery di Kota Bogor yang diteliti oleh (Januatisa, Winoto, & Khadijah, 2022), bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyebaran informasi kuliner di Kota Bogor melalui tahap sharing, optimize, manage, dan engage pada akun Instagram @bogoreatery. Metode penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna Instagram mendapatkan manfaat dan informasi dari akun Instagram @bogoreatery. Adanya akun tersebut memberikan dampak positif bagi berbagai pihak, yaitu pelaku usaha kuliner yang usahanya dipromosikan oleh akun tersebut dan pencari informasi atau wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor. Penelitian sebelumnya terkait perilaku pencarian informasi telah dilakukan oleh Hafidzan et al. (2021) serta Januatisa et al. (2022), namun dalam konteks yang berbeda. Hafidzan et al. (2021), meneliti perilaku pencarian informasi pada pelanggan YouTube channel AutonetMagz, menggunakan teori yang sama dengan penelitian ini tetapi dengan fokus pada komunitas yang berbeda. Sementara itu, Januatisa et al. (2022), meneliti penyebaran informasi kuliner melalui akun Instagram @bogoreatery, yang lebih berfokus pada tahap penyebaran informasi dibandingkan dengan pencarian informasi. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan fokus pada perilaku pencarian informasi pada komunitas miner cryptocurrency, khususnya di grup Facebook Miner Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai dinamika pencarian informasi di komunitas digital yang memiliki minat khusus.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Samsu (2017) berpendapat bahwa penelitian kualitatif didefinisikan sebagai sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar ilmiah. Pendekatan studi kasus menurut Simanjuntak and Sosrodihardjo (2014), dilakukan untuk mencari tahu fakta-fakta yang ada pada subjek dan objek penelitian hingga melahirkan suatu informasi. Subjek dalam penelitian ini adalah informan yang merupakan anggota grup Facebook Miner Indonesia dengan penentuan informan sebagai sumber data menggunakan metode purposive sampling yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak empat orang anggota grup Facebook Miner Indonesia yang memiliki karakteristik, yaitu berusia 18 – 30 tahun, aktif menggunakan Facebook, dan sudah menjadi anggota grup selama enam bulan lebih. Objek penelitiannya adalah perilaku pencarian informasi para miner cryptocurrency dalam memenuhi kebutuhan informasi mining di grup Facebook Miner Indonesia. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan metode observasi non-partisipasi, di mana peneliti hanya berperan sebagai pengamat tanpa terlibat langsung dalam aktivitas kelompok. Peneliti melakukan observasi dalam grup Facebook Miner Indonesia untuk mengamati aktivitas seperti postingan dan komentar dari anggota grup. Selain itu, peneliti juga mengobservasi proses wawancara yang dilakukan melalui panggilan video (video call) dengan para informan pada tanggal 20-24 Juni 2024, di mana peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang relevan dengan penelitian ini. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian terdapat tiga tahapan analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan uji kredibilitas data dengan menerapkan teknik triangulasi sumber, seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono (2022). Teknik triangulasi lainnya seperti triangulasi teknik dan triangulasi waktu juga bisa digunakan, namun dalam penelitian ini, fokusnya adalah pada triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan memeriksa data yang diperoleh dari berbagai macam sumber untuk memastikan validitasnya. Sumber yang dimaksud adalah individu yang ahli atau memiliki pengetahuan mendalam di bidang terkait. Triangulator dalam penelitian ini adalah G. Elfansyah, seorang pakar dalam bidang mining dan cryptocurrency yang aktif di berbagai forum seperti Reddit.
Result & Discussion
Peneliti menjelaskan jawaban dari pertanyaan penelitian, termasuk analisis kebutuhan informasi seperti sumber dan lokasi perolehan informasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi, penerapan enam tahapan pencarian informasi menurut Ellis (1987)—yaitu starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting—yang dihadapi dalam proses pencarian informasi tersebut. Dibentuk pada Agustus 2018, grup Facebook Miner Indonesia merupakan komunitas yang membahas berbagai topik terkait mining dan cryptocurrency. Menurut moderator grup, G.N. Rachmatullah, grup ini didirikan untuk mewadahi masyarakat yang memiliki ketertarikan dan ingin mempelajari mengenai mining cryptocurrency. Anggota grup Facebook Miner Indonesia berasal dari beragam latar belakang, namun semuanya memiliki minat yang sama dalam bidang mining cryptocurrency. Postingan dalam grup ini mencakup informasi mengenai mining dan cryptocurrency, mulai dari panduan untuk pemula hingga tips bagi yang sudah ahli seperti cara setting aplikasi miner yang digunakan, pemilihan hardware yang dibutuhkan, dan koin-koin yang sedang mengalami profit tinggi. Selain itu, ada juga postingan mengenai jual-beli alat mining yang dilakukan oleh anggota grup yang memiliki usaha dagang hardware atau anggota yang ingin upgrade hardware atau pensiun dari mining. Informasi yang dibagikan di dalam grup tetap fokus pada topik mining cryptocurrency tanpa menyimpang dari tema grup. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota grup semakin bertambah banyak. Untuk menjaga ketertiban di dalam grup, dibuatlah peraturan-peraturan yang harus diikuti oleh setiap anggota grup. Beberapa peraturan tersebut adalah dilarang posting mengenai hal-hal yang dianggap spam serta hal-hal yang dapat memicu konflik antar anggota. Selain itu, terdapat peraturan mengenai penggunaan hashtag atau tagar yang memudahkan anggota untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Hingga Oktober 2024, jumlah anggota grup sudah menyentuh 58 ribu anggota. Perkembangan jumlah anggota grup yang bertambah drastis disebabkan oleh tren cryptocurrency. Ketika masa pandemi COVID-19, cryptocurrency banyak dibicarakan oleh masyarakat dunia terutama ketika nilai Bitcoin menyentuh angka satu miliar rupiah. Banyak masyarakat yang ingin mencoba cryptocurrency seperti membeli koin atau token crypto serta memining cryptocurrency. Kebutuhan informasi merupakan keadaan yang dialami seseorang ketika merasakan kekurangan informasi akibat dari hal yang ia kerjakan atau untuk memenuhi rasa ingin tahu. Kekurangan informasi perlu dipenuhi dengan informasi baru yang sesuai dengan kebutuhannya. Kuhlthau (1991), menjelaskan bahwa kebutuhan informasi pada ilmu informasi diartikan sebagai sesuatu yang perlahan-lahan lahir dari kesadaran yang samar-samar mengenai sesuatu yang hilang dan di tahap berikutnya menjadi keinginan untuk mencari tahu tempat informasi yang akan memberikan kontribusi pada pemahaman akan makna. Individu akan menyadari sesuatu yang hilang atau kurang pada dalam dirinya dan akan memotivasi diri untuk mengetahui sumber informasi. Motivasi merupakan dorongan pada diri individu untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku untuk mencari informasi yang dirasa kurang atau dibutuhkan. Kebutuhan informasi akan mining dan cryptocurrency terjadi ketika seseorang memiliki kekurangan informasi yang biasa terjadi saat ingin memulai atau mengikuti suatu bidang yang diminati, dalam hal ini mining dan cryptocurrency. Informasi yang dibutuhkan biasanya direkam dalam bentuk artikel atau dokumen serta disimpan di lokasi tertentu. Dalam penelitian ini, hanya beberapa faktor kebutuhan informasi miner cryptocurrency yang akan dibahas, yaitu sumber informasi dan lokasi perolehan informasi. Sumber informasi digunakan oleh miner cryptocurrency ketika mencari informasi terkait mining dan cryptocurrency. Sumber informasi yang banyak digunakan oleh keempat informan untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut adalah internet yang menyediakan informasi yang diinginkan secara lengkap dan kemudahan dalam mengaksesnya. Pencarian informasi dengan internet biasanya menggunakan platform yang ada di dalamnya seperti Google untuk mencari artikel dan forum-forum komunitas seperti Reddit dan Facebook. Selain internet, sumber informasi lain yang biasa digunakan oleh informan adalah individu. Bertanya kepada teman sejawat yang sudah berpengalaman dalam mining dan cryptocurrency bisa menjadi salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan informasi. Lokasi perolehan informasi yang digunakan oleh miner cryptocurrency berkaitan dengan sumber informasi yang mereka dapatkan. Pemilihan lokasi perolehan informasi bisa dilihat dari kemudahan dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Semua informan yang diwawancarai menggunakan perangkatnya masing-masing yang bisa mengakses internet seperti komputer, laptop, dan handphone. Untuk memenuhi kebutuhan informasi, seseorang perlu melakukan pencarian atau penelusuran terhadap informasi yang dibutuhkan. Perilaku pencarian informasi ini muncul ketika anggota grup Facebook Miner Indonesia merasakan kekurangan informasi yang diperlukan untuk memahami dan mengembangkan aktivitas mining cryptocurrency mereka. Proses pencarian informasi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada preferensi dan metode yang dipilih. Dalam penelitian ini, peneliti akan menjelaskan proses pencarian informasi miner cryptocurrency dalam memenuhi kebutuhan informasi mining dan cryptocurrency melalui enam tahapan pencarian informasi yang dikemukakan oleh Ellis tahun 1987, mulai dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring dan extracting. Pertama, Starting adalah aktivitas awal yang biasa dilakukan oleh seorang pengguna informasi ketika mulai mencari tahu tentang suatu topik tertentu. Hal ini melibatkan peninjauan literatur yang ada di bidang tersebut atau mencari informasi melalui orang-orang yang ahli di bidang tersebut. Pada saat anggota Miner Indonesia mencari tahu topik terkait mining dan cryptocurrency, mereka sebenarnya sudah merasakan kebutuhan akan informasi. Langkah awal yang dilakukan oleh hampir semua informan dalam mencari informasi adalah dengan mengakses informasi di internet dengan topik yang sudah ditentukan yaitu informasi mining dan cryptocurrency melalui perangkatnya masing-masing. Kemudian para miner akan diarahkan ke berbagai sumber informasi seperti artikel mengenai mining dan cryptocurrency, video YouTube serta forum-forum yang berkaitan dengan mining dan cryptocurrency. “Yang melatarbelakangi tentu saya ingin mendapatkan penghasilan tambahan dan yang saya lihat cryptocurrency atau mining ini adalah salah satu metode yang bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa saya harus menghabiskan waktu saya, jadi saya bisa sambil bekerja.” (Rio, wawancara, 20 Juni 2024) Menurut Rio, kebutuhan informasi mengenai mining dan cryptocurrency adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. R melihat mining ini sebagai metode yang cukup mudah untuk menambah penghasilan karena tidak mengganggu waktunya ketika ia sedang bekerja. Sebagai triangulator dalam penelitian ini, G. Elfansyah, menyatakan bahwa minat banyak orang terhadap dunia mining sering kali dipicu oleh alasan ekonomi, seperti mencari penghasilan tambahan. Banyak yang bergabung ke dalam grup karena terdampak pandemi seperti menganggur dan work from home sehingga memiliki banyak waktu luang. Pada tahap awal pencarian informasi yaitu starting, Ellis (1987) menjelaskan bahwa tahap ini merupakan titik awal dalam pencarian informasi, di mana seseorang biasanya didorong oleh latar belakang dan minat tertentu untuk mencari informasi yang relevan. Hal ini selaras dengan Hafidzan et al. (2021), yang menunjukkan bahwa informan mencari informasi di YouTube channel AutonetMagz memiliki latar belakang yang serupa, yaitu untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan dalam bidang otomotif. Dalam penelitian ini, empat informan mengungkapkan bahwa keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan serta rekomendasi dari teman sejawat menjadi faktor pendorong utama bagi mereka untuk mengeksplorasi dunia mining cryptocurrency. Selain itu, rasa ingin tahu terhadap perkembangan harga koin digital juga memperkuat kebutuhan informasi mereka. Sejalan dengan hasil wawancara, G. Elfansyah mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat yang terjun ke dalam industri ini didorong oleh faktor ekonomi. Dengan demikian, tahap starting dalam pencarian informasi mining cryptocurrency dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi dan rasa ingin tahu, mirip dengan temuan Hafidzan et al. (2021), mengenai pencarian informasi otomotif. Kedua, Chaining adalah aktivitas menelusuri serangkaian kutipan atau mengikuti hubungan antar bahan informasi. Aktivitas ini ditandai dengan cara mengikuti atau mengaitkan daftar literatur yang ada pada referensi utama. Informasi mining dan cryptocurrency biasa didapatkan dari video, artikel dan postingan di dalam grup Facebook Miner Indonesia. Postingan yang beredar di dalam grup biasanya mengenai alat atau perangkat yang digunakan untuk mining, aplikasi yang diperlukan untuk mining atau koin-koin yang sedang memiliki profit bagus. Berdasarkan informasi tersebut, para informan mungkin akan melakukan pencarian lebih mendalam atau memilih untuk tidak melakukannya. Postingan yang diunggah ke dalam grup Facebook Miner Indonesia biasanya berupa foto atau video yang disertai oleh caption. Di dalam caption ini selain berisi informasi dari postingan tersebut, biasanya terdapat link yang mengarahkan ke website lain seperti online shop, video YouTube, dan artikel berita. Selain itu, di dalam grup ini terdapat fitur hashtag atau tagar yang mengelompokkan postingan ke dalam kategori tertentu untuk memudahkan pencarian informasi yang dibutuhkan oleh anggota. “Pasti mencari tahu lebih detail, setelah saya pelajari itu memang tidak semudah yang dibayangkan. Mencoba tutorial-tutorialnya juga belum tentu bisa langsung berhasil gitu. Jadi memanfaatkan forum di sana-sini, tanya ke sana kemari yang memang sudah berpengalaman sebelumnya. Karena saya fokusnya di mining, menggunakan alat, jadi pengaturan miningnya pun saya cari mana yang lebih cocok, mana yang lebih efisien. Carilah sumbernya ke berbagai macam anggota yang berpengalaman.” (G. N. Rachmatullah, wawancara, 24 Juni 2024) Menurut Rachmatullah informasi mengenai mining dan cryptocurrency perlu dipelajari walaupun tidak semudah yang terlihat. Bagi dia, walaupun sudah mengikuti tutorial yang ada, belum tentu hasilnya akan sama dengan tutorial. Untuk memenuhi kebutuhan informasi dari tutorial tersebut, dia melakukan pencarian melalui berbagai forum dan bertanya-tanya kepada anggota yang lebih berpengalaman. Informasi yang dia butuhkan lebih ke arah penggunaan alat mining seperti cara setting mining yang sesuai dan efisien dengan alat yang dimiliki. Menurut G. Elfansyah, banyak anggota yang berinteraksi dengan postingan miliknya serta postingan anggota lain yang sudah berpengalaman. Selain itu, ada juga yang mengirim pesan pribadi untuk bertanya-tanya secara langsung. Pada tahap chaining yang dijelaskan oleh Ellis (1987) bahwa pencarian informasi dilakukan lebih mendalam untuk memperoleh informasi yang lebih akurat dengan cara mengaitkan daftar literatur yang ada pada rujukan inti. Hasil wawancara menunjukkan bahwa keempat informan melakukan pencarian lebih mendalam untuk mendapat rincian lebih lanjut terkait alat yang diperlukan untuk mining, software yang digunakan serta settingan mining yang bagus. Mereka mencari informasi ini melalui postingan yang relevan di grup Facebook. G. Elfansyah menambahkan bahwa banyak anggota grup yang berinteraksi dengan postingan miliknya untuk menggali informasi lebih dalam. Hal ini menunjukkan bahwa tahap chaining ini penting bagi para miner cryptocurrency untuk memperoleh informasi yang lebih mendetail dan akurat, berbeda dengan Hafidzan et al. (2021). Dalam penelitiannya, tiga dari lima informan tidak melakukan tahapan chaining, karena mereka merasa informasi yang didapat sudah cukup terpercaya. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk melakukan chaining bisa bervariasi tergantung pada persepsi orang-orang terhadap kredibilitas informasi yang diterima, di mana para miner cryptocurrency dalam penelitian ini menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi dalam verifikasi informasi dibandingkan dengan informan dalam penelitian Hafidzan et al. (2021). Ketiga, Browsing adalah tahap kegiatan yang mencari sumber-sumber informasi yang memiliki potensi dalam informasi yang dibutuhkan. Pencarian informasi bisa dilakukan dengan menggunakan buku, artikel, atau internet yang mudah diakses dan memiliki informasi yang lebih beragam. Sumber informasi yang banyak digunakan di internet untuk melakukan pencarian adalah search engine seperti Google serta media sosial seperti Facebook. “Informasi yang didapatnya itu campur ya, kadang dari YouTube, kadang dari website luar. Dari dalam negeri sendiri seperti grup Facebook. Waktu itu Twitter lagi rame-ramenya juga. Itu juga lumayan banyak orang-orang yang ngasih tips and tricks di situ. Jujur kalau misalkan saya cari buku, jarang sih. Andaikan ada, biasanya informasi sudah kelewat lumayan jauh.“ (M. Riansyah, wawancara, 23 Juni 2024) Menurut Riansyah, sumber informasi yang digunakannya itu beragam, terkadang YouTube dan website luar. Selain itu, dia menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk mencari informasinya. Bagi dia, mencari informasi mining dan cryptocurrency tidak bisa melalui buku karena informasi yang tersedia sudah ketinggalan zaman. Sejalan dengan pendapat Riansyah, G. Elfansyah sebagai triangulator mengatakan bahwa tahap browsing dalam pencarian informasi mining dan cryptocurrency lebih mudah dilakukan melalui internet ketimbang dokumen cetak seperti buku. Perkembangan informasi mining dan cryptocurrency yang selalu update tiap hari menjadi alasan pemilihan internet lebih baik daripada buku. Tahap browsing, berdasarkan Ellis (1987), ditandai dengan penelusuran informasi secara semi terstruktur, di mana individu mencari informasi di tempat-tempat yang berpotensi memiliki informasi yang diminati. Dalam penelitian ini, keempat informan melakukan tahap browsing dengan memanfaatkan berbagi platform internet seperti Google, YouTube, Facebook, Twitter, dan Reddit. Mereka juga menggunakan toko online seperti Tokopedia dan Facebook Marketplace untuk mencari barang yang dibutuhkan. Informan lebih memilih menggunakan internet ketimbang sumber lainnya, seperti buku, karena informasi mining dan cryptocurrency selalu berkembang. Selaras dengan pernyataan G. Elfansyah yang menambahkan bahwa pencarian informasi mining dan cryptocurrency lebih efisien melalui internet ketimbang dokumen cetak, yang tidak dapat diperbarui secara berkala. Perkembangan informasi yang pesat dalam bidang ini menjadi alasan kuat bagi para miner cryptocurrency untuk memilih internet sebagai sumber informasi utama. Sejalan dengan temuan Hafidzan et al. (2021), yang menunjukkan semua informan dalam penelitiannya melakukan pencarian informasi melalui internet, khususnya Google dan YouTube. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa anggota grup Facebook Miner Indonesia lebih cenderung memilih platform interaktif yang memungkinkan diskusi dan pertukaran informasi secara real-time. Dengan demikian, pada tahap browsing, pemilihan internet sebagai sumber informasi didasarkan atas kemudahan akses dan ketersediaan informasi yang selalu diperbarui. Keempat, Differentiating adalah aktivitas membandingkan informasi yang telah didapat dengan informasi dari sumber lainnya. Informasi yang didapat akan disaring berdasarkan tingkat kepentingan, ketepatan, dan relevansinya dengan kebutuhan informasi sehingga dapat memilih informasi yang paling tepat dan relevan. Anggota grup Facebook Miner Indonesia akan menemukan informasi atau postingan yang beragam di dalam grup. Selanjutnya informasi tersebut akan mereka saring bersamaan dengan informasi serupa dari sumber lain untuk dibandingkan. “Oh iya pernah ngebandingin, dan kadang-kadang saya kurang tahu juga ya kenapa tapi kalau misalkan yang di grup itu informasinya kurang. Maksudnya kurang tuh cuma ngasih 80% informasi gitu. Untuk sisanya, biasanya saya cari sendiri lagi. Pertama sih pasti buka Google dulu ya, baca dari website-website rekomendasi Google. Kalau misalkan dari situ kurang biasanya ke YouTube, video pendek YouTube sih. Dan kalau misalkan enggak ada, biasanya pilihan terakhir saya tuh Reddit atau enggak Twitter.” (M. Riansyah, wawancara, 23 Juni 2024) Riansyah mengatakan jika informasi yang berasal dari grup Facebook itu kurang dan tidak bisa memenuhi kebutuhan informasinya. Untuk memenuhi kebutuhan informasinya, Riansyah melakukan pencari informasi ke sumber informasi lain seperti Google, YouTube, Reddit dan Twitter. Menurut G. Elfansyah, melakukan pembandingan informasi mining dan cryptocurrency dengan sumber informasi lain diperlukan karena terdapat perbedaan seperti pengemasan informasi untuk memudahkan miner membaca dan memahami suatu informasi, sedangkan informasi dari Facebook hanya berupa teks deskripsi disertakan oleh foto saja. Menurut Ellis (1987), differentiating adalah kegiatan untuk membedakan sumber informasi yang ada untuk menyaring informasi berdasarkan kualitas rujukannya. Dalam penelitian ini, keempat informan melakukan penyaringan informasi yang didapat dengan membandingkan informasi dari berbagai sumber. Mereka sering kali membandingkan informasi yang didapat dari postingan di grup Facebook dengan informasi dari Google, YouTube, Reddit, Twitter dan grup Facebook lainnya. Selain itu, obrolan dengan teman sejawat menjadi sumber informasi pembanding yang penting. Setelah informasi dari berbagai sumber dikumpulkan, keempat informan akan membandingkan dan memilih informasi mining dan cryptocurrency yang sesuai dengan kebutuhannya. G. Elfansyah menekankan pentingnya membandingkan sumber informasi, mengingat perbedaan yang signifikan dalam kualitas informasi yang tersedia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa differentiating merupakan langkah krusial bagi miner cryptocurrency untuk memastikan akurasi dan relevansi informasi yang mereka terima. Hal ini sejalan dengan temuan Hafidzan et al. (2021), yang menyatakan bahwa tiga dari lima informan secara aktif melakukan tahap ini untuk mencari informasi tambahan yang sesuai kebutuhan. Sementara itu, dua informan lainnya memilih untuk tidak melakukan karena merasa satu sumber informasi sudah cukup memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, perbedaan dalam pendekatan differentiating ini menggambarkan variasi miner cryptocurrency dalam mengakses dan mengevaluasi informasi. Kelima, Monitoring adalah aktivitas pemantauan terhadap perkembangan yang terjadi dalam bidang yang diminati dengan cara mengikuti sumber informasi secara teratur. Anggota grup Facebook Miner Indonesia akan mengikuti perkembangan sumber informasi melalui yang diposting oleh anggota lain serta memantau informasi terbaru atau up-to-date yang beredar di dalam grup. “Ya, saya melakukan pemantauan karena dalam grup Miner Indonesia itu banyak orang yang jualan hardware di sana. Jadi mereka misalnya udah mau berhenti mining atau mereka memang punya hardware nya aja gitu. Mereka jual di sana dan saya juga pantau, kemungkinan mana yang saya butuh. Saya pantau seminggu empat kali ada kayaknya, saya cari di situ.” (Rio, wawancara, 20 Juni 2024) Menurut Rio, ia melakukan pemantauan untuk memenuhi kebutuhan informasinya mengenai alat mining. Dia mengikuti perkembangan jual beli alat mining yang terjadi di dalam grup. Menurutnya alat mining yang dijual oleh anggota lain karena alasan pensiun melakukan mining atau anggota tersebut memang memiliki persediaan alat mining yang banyak. Rio cukup rutin memantau grup yaitu empat kali dalam seminggu. Berdasarkan G. Elfansyah, monitoring perlu dilakukan jika miner serius dalam menekuni mining cryptocurrency. Contoh kasus yang pernah terjadi adalah koin Ethereum yang tidak akan bisa dimining lagi. Para miner cryptocurrency harus mempersiapkan diri dengan mencari informasi lain mengenai koin alternatif yang dapat dilakukan mining. Monitoring, berdasarkan Ellis (1987), adalah kegiatan memantau perkembangan yang terjadi dalam bidang yang diminati secara teratur. Dalam penelitian ini, keempat informan melakukan pemantauan informasi secara aktif dengan cara mengecek perkembangan terbaru di grup Facebook Miner Indonesia, terutama melalui scrolling postingan. Informasi yang dipantau mencakup jual beli alat mining, postingan setting miner, serta pertanyaan-pertanyaan dari anggota lain. Informasi yang beredar di dalam grup Facebook Miner Indonesia cukup up-to-date. G. Elfansyah menekankan bahwa pemantauan informasi mining suatu keharusan bagi miner cryptocurrency yang serius untuk tidak ketinggalan perkembangan terbaru di bidang ini. Temuan ini menunjukkan bahwa tahap monitoring sangat penting untuk terus mendapatkan informasi terkini. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Hafidzan et al. (2021), di mana tiga dari lima informan tidak secara aktif mengikuti perkembangan setiap video dari channel AutonetMagz, sementara dua informan lainnya melakukan secara rutin. Dari perbandingan ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun metode dan platform berbeda, kebutuhan untuk memantau informasi terbaru tetap menjadi prioritas orang-orang yang tertarik dalam bidang masing-masing. Terakhir, tahap extracting adalah aktivitas untuk menyeleksi dan memanfaatkan informasi yang diperoleh sesuai kebutuhan. Anggota grup Facebook Miner Indonesia mengumpulkan informasi terkait mining dan cryptocurrency dari berbagai sumber, memilih informasi yang relevan. Menurut Ellis (1987), enam tahapan perilaku pencarian informasi tidak harus dijalani secara berurutan. Setelah miner merasa cukup dengan informasi yang didapat, mereka melakukan tahap extracting untuk menerapkan informasi tersebut. Selanjutnya, mereka dapat melanjutkan ke tahap monitoring untuk mendapatkan pembaruan informasi, atau ke tahap differentiating untuk membandingkan informasi dengan hasil yang telah diterapkan. Informan pada penelitian ini sudah melakukan proses extracting saat sedang mengumpulkan sumber-sumber informasi tersebut. “Semua informasi yang menurut saya bermanfaat pasti saya terapkan. Saya coba gitu dari tips para anggota, saya coba terapkan. Seperti dulu tuh ada Ravencoin kalau tidak salah yang saya ingat tuh profitnya lagi tinggi-tingginya, lumayan untuk mencari cuan. Saya coba mining Ravencoinnya. Terus cari informasi mengenai cara settingan untuk mengefisiensikan hash rate yang didapat. Sampai akhirnya saya mengalami profit yang cukup signifikan.” (G.N. Rachmatullah, wawancara, 24 Juni 2024) Rachmatullah mengatakan jika informasi yang menurutnya bermanfaat, ia akan langsung mencoba mempraktikkannya. Salah satu informasi yang ia butuhkan yaitu settingan mining untuk koin yang sedang memiliki profit tinggi. Ia akan mencari informasi setting yang menurutnya bisa mendapatkan efisiensi yang bagus untuk hash rate yang dimiliki. Hasil wawancara dengan G. Elfansyah mengatakan bahwa miner cryptocurrency yang akan melakukan tahap extracting ini walaupun hanya memiliki satu buah alat mining saja. Pada tahap terakhir pencarian informasi, yaitu extracting, Ellis (1987) menjelaskan bahwa kegiatan ini diperlukan ketika ingin menyusun tinjauan literatur atau memanfaatkan informasi yang sudah didapatkan. Dalam penelitian ini, tiga informan memanfaatkan informasi yang sudah dikumpulkan dengan cara mempraktikkannya langsung pada alat mining yang dimiliki. Namun, satu informan tidak melakukan tahap extracting karena belum menemui informasi yang dibutuhkan dan tidak memiliki alat mining untuk menerapkan informasi yang dimilikinya. G. Elfansyah juga meneruskan bahwa tahap extracting ini akan dilakukan oleh miner cryptocurrency setelah memiliki perlengkapan yang diperlukan. Dari sudut pandang peneliti, tahap extracting tidak selalu harus dilakukan di akhir proses pencarian informasi. Sebenarnya miner cryptocurrency sudah bisa memulai tahap ini saat melakukan chaining atau browsing. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam proses pencarian informasi, di mana informasi bisa diterapkan kapan saja setelah diperoleh. Dalam penelitian Hafidzan et al. (2021), semua informan tidak melakukan tahapan extracting setelah menemukan informasi otomotif yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka tidak melakukan seleksi lebih lanjut terhadap sumber informasi yang telah didapatkan. Ini menunjukkan perbedaan pendekatan antara informan dalam penelitian ini dan informan Hafidzan et al. (2021), di mana pendekatan yang lebih aktif dalam extracting dapat memberikan pemahaman dan menerapkan informasi yang lebih baik.
Conclusion
Perilaku pencarian informasi yang dikemukakan oleh Ellis (1987) memiliki enam tahapan, yaitu starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Sebagian besar informan melakukan semua tahapan ini. Informan melakukan tahap starting dengan melakukan pencarian informasi awal sesuai dengan kebutuhan informasinya. Pada tahap chaining, informan melakukan pencarian lebih mendalam untuk memenuhi kebutuhan informasi yang masih dirasa kurang. Di tahap browsing, informan menggunakan internet seperti Google, YouTube, Facebook, dan Reddit untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Dalam differentiating, informan membandingkan informasi yang didapat dalam Facebook dengan sumber informasi lain. Tahap monitoring dilakukan oleh informan dengan memantau postingan grup secara berkala. Dan pada tahap extracting, informan memanfaatkan informasi yang telah diperolehnya dengan cara mempraktikkannya pada alat mining yang dimiliki. Tahap extracting bisa dilakukan ketika telah menemukan informasi yang dibutuhkannya.