Literasi informasi budaya komunitas perantau Banyumas di Bandung dalam pelestarian kesenian Banyumasan
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Literasi informasi budaya memainkan peran penting dalam melestarikan seni tradisional di era modern, terutama di antara komunitas diaspora. Komunitas Genta Sentramas, sebagai komunitas diaspora yang menonjol dan aktif terlibat dalam kegiatan budaya, perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang baik dalam literasi informasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk literasi informasi budaya yang digunakan oleh komunitas Genta Sentramas dalam mempromosikan dan melestarikan seni tradisional Banyumasan di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik purposive sampling digunakan dengan kriteria sampel adalah anggota Komunitas Genta Sentramas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literasi informasi budaya Komunitas Genta Sentramas dalam melestarikan budaya Banyumas dilakukan melalui pemanfaatan teknologi informasi. Ini termasuk media sosial dan platform digital yang memungkinkan komunitas diaspora ini untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi tentang seni tradisional, termasuk tari dan musik Banyumasan, kepada generasi muda dan masyarakat luas. Bentuk lainnya termasuk kunjungan ke situs warisan budaya lokal dan mengadakan lokakarya seni. Literasi informasi budaya tidak hanya memfasilitasi akses informasi tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam memproduksi dan mempromosikan elemen budaya mereka. Dengan demikian, literasi informasi budaya menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional Banyumasan di diaspora dan memastikan bahwa identitas budaya tetap hidup di tengah tantangan modernisasi.
Abstract
Cultural information literacy plays a crucial role in preserving traditional arts in the modern era, especially among diaspora communities. The Genta Sentramas community, as a prominent and actively engaged diaspora community in cultural activities, needs to possess a good understanding and skills in cultural information literacy. This study aims to identify the forms of cultural information literacy used by the Genta Sentramas community in promoting and preserving Banyumas traditional arts in the city of Bandung. This research employed a qualitative method. The purposive sampling technique was used with the criterion that the samples were members of the Genta Sentramas Community. The results of this study indicate that the cultural information literacy of the Genta Sentramas Community in preserving Banyumas culture is carried out through the utilization of information technology. This includes social media and digital platforms that allow this diaspora community to document and disseminate information about traditional arts, including Banyumas dance and music, to the younger generation and the wider community. Other forms include visits to local cultural heritage sites and conducting art workshops. Cultural information literacy not only facilitates information access but also encourages the community to take an active role in producing and promoting their cultural elements. Thus, cultural information literacy becomes a vital instrument in maintaining the sustainability of Banyumas traditional arts in diaspora and ensuring that cultural identity remains alive amidst the challenges of modernization.
Keywords:
Literasi informasi budaya
· komunitas lokal
· kesenian tradisional
· Komunitas Genta Sentramas
Introduction
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk kesenian tradisional yang menjadi warisan dari berbagai suku dan daerah. Setiap kesenian tradisional mencerminkan identitas budaya yang unik, yang tidak hanya mengekspresikan nilai-nilai estetika tetapi juga menggambarkan sejarah, tradisi, dan filosofi hidup masyarakat setempat. Melalui pelestarian kesenian tradisional, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan leluhur mereka, tetapi juga memperkuat jati diri dan rasa kebanggaan terhadap budaya lokal (Irhandayaningsih, 2018). Kesenian ini berperan sebagai sarana untuk mengekspresikan nilai nilai budaya kepada generasi muda dan dunia luar, yang membantu memperkokoh ikatan sosial dan menciptakan rasa saling memiliki yang mendalam terhadap tradisi dan identitas komunitas. Dengan upaya yang terus menerus dalam melestarikan dan mempromosikan kesenian tradisional, kebudayaan lokal dapat tetap relevan dan hidup di tengah tantangan globalisasi, sekaligus menjadi aset penting dalam pembangunan karakter dan daya saing bangsa. Kesenian tradisional sering kali menghadapi tantangan di tengah arus modernisasi yang mendominasi kehidupan masyarakat perkotaan. Salah satu contoh kesenian tradisional yang berpotensi punah adalah kesenian Banyumasan, yang memiliki akar budaya yang kuat di Kabupaten Banyumas. Dalam konteks ini, paguyuban Genta Sentarmas yang merupakan paguyuban perantau Banyumas yang tinggal di Kota Bandung, berperan penting dalam menjaga eksistensi kesenian tersebut. Kesenian Banyumasan tidak hanya dipandang sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai filosofis dan identitas kultural. Namun, proses pelestarian ini tidak lepas dari tantangan, terutama dalam memastikan bahwa kesenian tradisional tersebut tetap relevan dan dapat diterima oleh masyarakat di tempat baru. Literasi informasi budaya menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian ini, terutama dalam menyebarkan pengetahuan tentang kesenian Banyumasan melalui berbagai saluran informasi dan komunikasi. Melalui literasi informasi budaya, paguyuban ini dapat dapat menjadi pilar pelestarian budaya Banyumas di Kota Bandung, dengan menjadi pusat informasi budaya Banyumas, khususnya bagi para perantau dari Banyumas. Wibisono (2021), meneliti bagaimana literasi informasi budaya dapat digunakan untuk mendukung pelestarian budaya lokal melalui sistem informasi digital yang interaktif dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Literasi informasi budaya memberi peluang kepada komunitas diaspora untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Penelitian oleh Napitupulu, Walanda, Napitupulu, dan Walanda (2022) menunjukkan bahwa literasi informasi budaya tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai katalis untuk memperkuat pemahaman dan apresiasi terhadap warisan budaya. Literasi ini memungkinkan individu untuk mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi terkait budaya dengan lebih efektif, sehingga mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan pelestarian budaya serta menjaga keberlanjutan tradisi dalam konteks yang relevan bagi generasi saat ini dan yang akan datang. Dengan adanya literasi informasi budaya, masyarakat juga lebih siap dalam menghadapi tantangan modernisasi yang dapat mengancam kelestarian budaya lokal. Literasi informasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berkomunikasi dan terlibat di dalam masyarakat. Mananohas, Rachmawati, dan Anwar (2023) menjelaskan, dalam konteks kesehatan, literasi informasi berperan dalam meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat. Hal ini serupa dengan literasi informasi dalam konteks budaya. Dalam konteks penelitian ini, literasi informasi berperan penting dalam melestarikan kesenian tradisional Banyumasan dan berbagai informasi terkait kesenian tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang pelestarian budaya lokal telah berkembang pesat, terutama yang melibatkan peran komunitas lokal. Salah satunya dilakukan oleh Elyanta (2020) tentang peran Komunitas Aleut di Bandung dalam melestarikan bangunan cagar budaya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas lokal melalui edukasi dan wisata sejarah berperan penting dalam menjaga kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya di kota tersebut. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Mawlana (2021) tentang makna komunitas literasi di Sumenep juga menjelaskan bahwa literasi budaya dan keterlibatan komunitas dapat memperkuat pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya lokal. Penelitian oleh Yulianingsih et al. (2024) membahas peran perempuan dalam melestarikan budaya lokal suku Osing di Banyuwangi melalui literasi budaya yang diterapkan pada generasi muda. Penelitian tersebut berfokus pada kolaborasi antara studio Sapu Jagad dengan komunitas lokal untuk memperkuat nilai-nilai tradisional melalui literasi budaya. Ketiga penelitian tersebut menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas atau paguyuban dalam menjaga warisan budaya, namun belum ada yang secara spesifik meneliti bagaimana literasi informasi budaya dapat berperan dalam pelestarian kesenian tradisional oleh komunitas diaspora. Maulana, Rohanda, dan Perdana (2022) menjelaskan dalam hal ini, lingkungan seperti paguyuban berperan sebagai pilar utama dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional Banyumas. Paguyuban tidak hanya berfungsi sebagai wadah berkumpulnya anggota komunitas, tetapi juga sebagai platform yang memungkinkan transfer pengetahuan antar generasi. Melalui paguyuban, berbagai kegiatan budaya seperti latihan seni, pertunjukan, dan diskusi dapat diselenggarakan secara rutin, menciptakan ruang baru yang mendukung pelestarian budaya. Selain itu, paguyuban juga bisa memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan, misalnya dengan mendokumentasikan acara kesenian sehingga partisipasi tidak hanya terbatas secara lokal tetapi juga bisa menjangkau anggota paguyuban perantau yang tersebar di berbagai wilayah. Dengan demikian, paguyuban berperan penting dalam memfasilitasi regenerasi dan adaptasi kesenian tradisional Banyumas agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Kebaruan dari penelitian ini adalah berfokus pada literasi informasi budaya sebagai alat pelestarian kesenian tradisional Banyumasan yang dilakukan oleh komunitas perantau Banyumas di Kota Bandung. Literasi informasi budaya mengacu pada kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menyebarluaskan informasi terkait budaya lokal melalui berbagai platform, baik media tradisional maupun digital. Pendekatan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana komunitas diaspora dapat menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk melestarikan dan mempromosikan budaya mereka di luar daerah asal. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah yang ada dalam kajian literatur sebelumnya, di mana peran literasi informasi budaya dalam pelestarian kesenian tradisional belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa literasi informasi budaya yang dikembangkan oleh komunitas perantau Banyumas di Kota Bandung memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional Banyumasan. Melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, komunitas ini mampu menyebarluaskan informasi tentang kesenian tradisional Banyumasan kepada audiens yang lebih luas, baik dalam komunitas lokal maupun di luar komunitas tersebut. Joubert dan Biernacka (2015) dalam penelitiannya menyoroti bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung pelestarian warisan budaya. Literasi informasi budaya membantu komunitas diaspora dalam mendokumentasikan, mempromosikan, dan melestarikan elemen-elemen penting dari kesenian tradisional Banyumasan, seperti tarian, musik, dan seni pertunjukan lainnya. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan identitas budaya mereka sekaligus beradaptasi dengan dinamika sosial di kota tempat mereka merantau. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk literasi informasi budaya yang digunakan oleh paguyuban Genta Sentramas dalam mempromosikan dan melestarikan kesenian tradisional Banyumasan di Kota Bandung. Dengan mengkaji dinamika ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang strategi pelestarian budaya yang dapat diterapkan oleh komunitas diaspora lainnya di Indonesia, terutama dalam konteks pelestarian kesenian tradisional di lingkungan perkotaan. Penggunaan teknologi informasi dalam pelestarian budaya menjadi elemen penting dalam penelitian ini. paguyuban Genta Sentramas di Kota Bandung telah memanfaatkan berbagai media digital untuk menyebarluaskan informasi tentang kesenian tradisional mereka, termasuk melalui media sosial, situs web, dan platform komunikasi lainnya. Sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Anjani, Samidjan, dan Elfitasari (2021), penggunaan media komunikasi seperti grup obrolan atau yang popular adalah Whatsapp group terbukti efektif dalam mendukung penyebaran informasi dan diskusi di antara anggota komunitas, yang memungkinkan mereka untuk berkolaborasi lebih baik dalam pelestarian budaya. Dalam hal ini, paguyuban Genta Sentramas menggunakan pendekatan serupa untuk mendokumentasikan dan membagikan informasi tentang kesenian tradisional Banyumasan. Selain itu, peran komunitas diaspora dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional sering kali melibatkan kerjasama yang erat antara anggota komunitas dengan masyarakat setempat. Seperti yang ditunjukkan oleh Fatimah (2014) dalam penelitiannya tentang peran komunitas lokal dalam pelestarian budaya di Kyoto, keterlibatan komunitas lokal sangat penting dalam menjaga keutuhan dan keberlanjutan warisan budaya di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana komunitas perantau Banyumas bekerja sama dengan masyarakat lokal di Bandung untuk mempromosikan kesenian tradisional Banyumasan, sekaligus mempertahankan identitas budaya mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang peran literasi informasi budaya dalam pelestarian kesenian tradisional. Dengan mengkaji secara mendalam bagaimana paguyuban Genta Sentramas menggunakan teknologi informasi untuk mendukung pelestarian kesenian tradisional Banyumasan di Kota Bandung, penelitian ini juga berupaya menawarkan strategi pelestarian budaya yang relevan dan dapat diterapkan di berbagai komunitas diaspora lainnya di Indonesia.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengkaji literasi informasi budaya dalam komunitas perantau Banyumas dalam pelestarian kesenian tradisional Banyumasan di Kota Bandung. Creswell (2014), menjelaskan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti meneliti secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Menurut Prihatsanti, Suryanto, dan Hendriani (2018), studi kasus berfokus pada kasus tertentu secara mendalam sehingga dapat mengidentifikasi hubungan sosial dan proses. Desain studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi literasi informasi budaya Paguyuban Genta Sentramas untuk melestarikan kebudayaan Banyumas di Kota Bandung. Penelitian ini meneliti literasi informasi budaya untuk melestarikan kesenian tradisional Banyumasan, khususnya terkait cara anggota paguyuban mengakses, memanfaatkan, dan berbagai informasi dalam upaya melestarikan budaya Banyumas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni dan Oktober 2024 dan dilakukan di Sanggar Genta Sentramas yang terletak di Jln. BKR No. 127, Cigalereng, Kec. Regol, Kota Bandung, Jawa Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Sugiyono (2023), menjelaskan bahwa teknik pengumpulan data dengan wawancara merupakan salah satu metode dalam penelitian kualitatif apabila peneliti ingin menggali informasi mendalam dari responden. Untuk mendapatkan informasi secara mendalam, maka data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) untuk memperoleh pemahaman yang terperinci. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai pandangan, pengalaman, serta peran anggota komunitas dalam melestarikan kesenian tradisional. Teknik wawancara mendalam dipilih untuk memperoleh data yang kaya dan rinci terkait praktik budaya yang tidak dapat diukur dengan pendekatan kuantitatif. Wawancara mendalam dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yang fleksibel dengan jenis pertanyaan terbuka. Observasi atau teknik pengamatan menurut Ardiansyah, Risnita, dan Jailani (2023) adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan pengamatan langsung terhadap partisipan dan konteks yang terlibat dalam penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan dengan menghadiri pementasan kesenian Banyumas yang melibatkan anggota senior dan anggota dari generasi muda. Observasi dilakukan untuk memahami bagaimana interaksi antar anggota paguyuban dan pemanfaatan teknologi dalam publikasi pementasan yang merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya Banyumas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Moleong (2016), menjelaskan bahwa purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel di mana peneliti memilih informan berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling dalam penelitian ini peneliti memilih satu anggota paguyuban yang dianggap paling banyak memiliki pemahaman dan paling aktif terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian kesenian Banyumasan. Kriteria utama yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah keanggotaan aktif dalam paguyuban Genta Sentramas Bandung Raya. Pemilihan sampel ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang relevan dan mendalam dari informan yang paling terlibat dalam pelestarian budaya tersebut. Sugiyono (2023), menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan sejak pengumpulan data berlangsung sampai dengan pengumpulan data selesai dilakukan dalam periode waktu tertentu. Dalam penelitian ini, data dianalisis menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Teknik analisis menggunakan model Miles dan Huberman terdiri dari tiga tahap utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Latifah & Supena, 2021). Tahap reduksi data, dilakukan dengan merangkum dan memilih data yang paling relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Setiap bagian data diberi label atau kode untuk membantu mengidentifikasi tema utama yang muncul dari data, yang mencerminkan jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Selanjutnya, penyajian data dilakukan dengan mengorganisasi data dalam bentuk naratif yang memungkinkan peneliti untuk melihat pola dan tema utama. Terakhir, penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan temuan yang telah diorganisasi, guna memberikan pemahaman yang komprehensif tentang literasi informasi budaya dan kontribusi komunitas perantau Banyumas dalam pelestarian kesenian tradisional Banyumasan.
Result & Discussion
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literasi informasi budaya memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga kelestarian kesenian tradisional Banyumasan di kalangan anggota paguyuban Genta Sentramas di Bandung. Literasi informasi budaya tidak hanya dipahami sebagai kemampuan teknis untuk mengakses informasi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi tersebut dalam konteks pelestarian budaya. Keterampilan ini menjadi krusial bagi paguyuban perantau yang berada jauh dari daerah asal mereka, di mana akses langsung terhadap sumber daya budaya asal mereka mungkin terbatas. Literasi informasi budaya dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya adalah dengan memaksimalkan pemanfaatan internet sebagai sumber belajar kesenian Banyumas maupun sebagai sarana untuk diseminasi kesenian Banyumas, yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan kesenian Banyumas. Bentuk lain dari literasi informasi budaya yang diterapkan adalah dengan melakukan tour budaya atau mengunjungi tempat bernilai budaya lokal, yang dapat menjadi sumber informasi untuk memperoleh pengetahuan terkait kesenian Banyumas. Hal tersebut memungkinkan diseminasi informasi terkait kesenian Banyumasan sekaligus sebagai bentuk pendokumentasian budaya Banyumas untuk menjaga budaya tersebut tetap lestari. Pemanfaatan internet, khususnya media sosial dapat menjadi sarana promosi budaya dan meningkatkan apresiasi terhadap kesenian Banyumas, sehingga dapat mendukung keberlanjutan seni tradisional Banyumas. Hal tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan, melestarikan, dan mewariskan budaya Banyumas kepada generasi yang akan datang. Informan menekankan bahwa literasi informasi budaya bukan hanya sekadar mendapatkan informasi tentang budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Hal ini menekankan pentingnya literasi informasi budaya dalam menghubungkan paguyuban perantau dengan akar budaya mereka, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan nilai nilai yang terkandung dalam kesenian tradisional Banyumasan tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan modern. Literasi informasi budaya berperan sebagai jembatan yang memungkinkan paguyuban perantau untuk tetap terhubung dengan perkembangan budaya Banyumasan meskipun mereka berada jauh dari daerah asal. Meskipun dipisahkan oleh jarak fisik dari sumber budaya Banyumasan, akses ke informasi yang memadai melalui berbagai platform digital dan media sosial memungkinkan paguyuban ini untuk terus mendapatkan wawasan tentang inovasi atau perubahan dalam kesenian tradisional Banyumasan. Misalnya, teknologi komunikasi seperti grup obrolan (WhatsApp group), media sosial, dan situs web yang dikelola oleh komunitas, membantu mereka untuk berbagi informasi dan mempromosikan kegiatan yang berhubungan dengan budaya Banyumasan. Literasi informasi budaya dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai media adaptasi di mana komunitas dapat menyesuaikan kesenian tradisional dengan konteks modern sambil tetap menjaga esensinya. Literasi informasi budaya memberikan kekuatan bagi paguyuban Genta Sentramas untuk tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi juga berperan aktif dalam memproduksi dan menyebarluaskan informasi terkait budaya mereka. Mereka dapat mendokumentasikan kesenian Banyumasan melalui berbagai format digital, seperti video, foto, dan tulisan yang kemudian dibagikan secara luas kepada komunitas mereka atau bahkan masyarakat umum. Dengan demikian, literasi informasi budaya tidak hanya memastikan bahwa tradisi ini tetap dikenal di kalangan komunitas Banyumas, tetapi juga memperluas jangkauannya kepada audiens yang lebih luas. Upaya ini membantu mempertahankan relevansi kesenian Banyumasan dalam masyarakat yang semakin terpengaruh oleh globalisasi dan modernisasi, di mana budaya tradisional sering kali terpinggirkan. Selain pemahaman literasi informasi, hasil wawancara juga menunjukkan bahwa teknologi memainkan peran krusial dalam mendukung upaya pelestarian budaya di komunitas perantau Banyumas. Informan menyatakan bahwa media sosial seperti Whatsapp group dan Facebook merupakan sarana utama yang digunakan untuk mendapatkan dan berbagi informasi terkait kesenian tradisional Banyumas. “Kami biasanya lewat grup WhatsApp, Facebook juga” (T. Tasno, Wawancara, 11 Oktober 2024) Dengan adanya teknologi, komunitas ini mampu menjembatani jarak fisik yang memisahkan mereka dari sumber informasi utama di Banyumas. Salah satu informan mengatakan bahwa tanpa teknologi, komunitas ini mungkin akan kesulitan mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan kesenian tradisional Banyumasan. Teknologi tidak hanya membantu dalam penyebaran informasi, tetapi juga menjadi alat komunikasi yang memfasilitasi diskusi antara anggota komunitas yang tersebar di berbagai lokasi. Sebelum adanya media digital, komunitas diaspora harus mengandalkan kunjungan langsung atau hubungan personal dengan orang-orang di kampung halaman untuk mendapatkan informasi terkait kesenian tradisional. Kini, dengan hadirnya teknologi digital, seluruh informasi tentang kesenian tradisional dapat diakses dengan lebih cepat dan efisien. Salah satu informan menegaskan bahwa tanpa teknologi, komunitas ini mungkin akan kesulitan mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan kesenian tradisional Banyumasan. Media sosial memungkinkan mereka untuk memperoleh informasi secara real time, termasuk tren terbaru dalam pelestarian seni atau perubahan dalam bentuk pertunjukan kesenian Banyumasan. Teknologi juga berperan tidak hanya sebagai alat penyebaran informasi, tetapi juga sebagai platform komunikasi yang efektif. Komunitas ini menggunakan media sosial untuk berbagi ide, berdiskusi, dan merencanakan kegiatan budaya yang relevan dengan pelestarian kesenian Banyumasan. Diskusi yang berlangsung di grup WhatsApp, misalnya, memungkinkan anggota komunitas yang tersebar di berbagai lokasi untuk tetap berpartisipasi secara aktif dalam upaya pelestarian budaya. Fitur-fitur yang ada pada platform komunikasi digital, seperti obrolan grup, unggahan foto dan video, serta forum diskusi, telah mempermudah anggota komunitas dalam mendokumentasikan kegiatan budaya serta berbagi informasi dengan cara yang lebih dinamis. Dengan demikian, teknologi tidak hanya memperluas akses terhadap informasi budaya, tetapi juga menciptakan ruang partisipasi yang inklusif bagi seluruh anggota komunitas, baik yang berada di Banyumas maupun di luar daerah. Penggunaan teknologi dalam pelestarian budaya memungkinkan komunitas perantau Banyumas untuk mencapai audiens yang lebih luas, baik di kalangan masyarakat Banyumas sendiri maupun di luar komunitas mereka. Dengan memanfaatkan platform seperti Facebook, komunitas ini dapat menyebarluaskan informasi tentang kesenian tradisional Banyumasan ke masyarakat umum, termasuk mereka yang mungkin belum familiar dengan kesenian tersebut. Ini memungkinkan kesenian tradisional Banyumasan untuk terus dikenal dan diapresiasi oleh generasi muda, yang mungkin lebih terbiasa dengan konten-konten digital. Sebagai tambahan, teknologi juga memfasilitasi kolaborasi antar komunitas budaya lainnya yang memiliki tujuan serupa dalam pelestarian kesenian tradisional. Interaksi ini memungkinkan pertukaran ide, pengalaman, dan praktik terbaik dalam pelestarian budaya, yang semakin memperkuat upaya komunitas perantau Banyumas dalam menjaga kelestarian kesenian tradisional mereka di tengah arus modernisasi. Meskipun teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pelestarian budaya, komunitas perantau Banyumas juga dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Beberapa informan mengungkapkan bahwa tidak semua anggota komunitas memiliki kemampuan yang cukup dalam menggunakan teknologi digital, terutama yang terkait dengan penggunaan perangkat lunak atau aplikasi tertentu. Keterbatasan literasi digital ini menciptakan hambatan dalam upaya penyebaran informasi budaya yang lebih luas, terutama di kalangan anggota komunitas yang lebih tua atau kurang familiar dengan teknologi modern. Misalnya, beberapa anggota mengalami kesulitan dalam menggunakan platform media sosial seperti Facebook atau WhatsApp, yang padahal menjadi alat utama dalam berbagi informasi mengenai kesenian tradisional Banyumasan. Kurangnya pemahaman tentang cara menggunakan platform ini membuat mereka terkendala dalam berpartisipasi aktif dalam diskusi atau menerima informasi penting yang dibagikan di komunitas daring. Selain tantangan dalam hal penguasaan teknologi, ada juga permasalahan terkait dengan keterbatasan konten dan sumber informasi yang tersedia di media sosial. Beberapa informan merasa bahwa informasi yang mereka dapatkan dari platform digital seperti Facebook atau WhatsApp sering kali kurang mendalam dan tidak memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kesenian tradisional Banyumasan. Meskipun media sosial sangat efektif dalam menyebarkan informasi secara cepat, konten yang disajikan cenderung bersifat dangkal atau terbatas dalam ruang lingkupnya. Hal ini menyebabkan beberapa anggota komunitas merasa bahwa mereka tidak mendapatkan cukup wawasan atau pemahaman mendalam tentang aspek-aspek sejarah, nilai filosofis, atau teknik pertunjukan kesenian tradisional Banyumasan melalui platform digital ini. Keterbatasan informasi tersebut memperlihatkan bahwa media sosial, meskipun berperan penting dalam penyebaran informasi, tidak selalu dapat menggantikan sumber pengetahuan yang lebih kaya, seperti buku, artikel ilmiah, atau narasumber ahli. Tantangan lain yang dihadapi adalah kurangnya konten digital berkualitas tinggi yang secara mendalam membahas kesenian tradisional Banyumasan. Sering kali, komunitas hanya mengandalkan unggahan foto atau video singkat tentang pertunjukan atau latihan kesenian, tanpa ada penjelasan yang lebih terperinci mengenai latar belakang, sejarah, atau makna dari kesenian tersebut. Hal ini menyebabkan keterbatasan dalam transfer pengetahuan kepada anggota komunitas, terutama bagi generasi muda yang belum familiar dengan kesenian tradisional ini. Minimnya konten yang mendalam juga dapat mengakibatkan berkurangnya minat dan keterlibatan anggota komunitas, karena mereka tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk memahami dan mengapresiasi kesenian tersebut secara menyeluruh. Kesenjangan dalam literasi digital ini juga berdampak pada keterlibatan anggota komunitas yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka yang lebih terbiasa dengan teknologi cenderung lebih aktif terlibat dalam diskusi dan berbagi informasi, sementara yang lain tertinggal karena keterbatasan kemampuan atau akses teknologi. Ini menciptakan kesenjangan dalam tingkat partisipasi dan keterlibatan antara anggota komunitas, di mana hanya sebagian kecil yang mampu memanfaatkan teknologi secara efektif untuk pelestarian budaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengatasi kesenjangan ini, seperti melalui pelatihan literasi digital atau penyediaan panduan penggunaan teknologi yang lebih mudah dipahami, agar seluruh anggota komunitas dapat berpartisipasi dengan lebih efektif dalam upaya pelestarian budaya Banyumasan. Upaya peningkatan literasi digital di kalangan anggota komunitas perantau Banyumas menjadi penting untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam pelestarian kesenian tradisional. Dengan literasi digital yang lebih baik, anggota komunitas dapat mengakses informasi yang lebih luas, berpartisipasi aktif dalam diskusi budaya, serta memproduksi dan menyebarkan konten budaya yang lebih berkualitas. Hal ini juga dapat memperkuat jaringan antar anggota komunitas, yang pada akhirnya akan mendukung upaya pelestarian budaya tradisional Banyumasan di tengah dinamika masyarakat modern yang semakin bergantung pada teknologi. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa partisipasi generasi muda dalam upaya pelestarian kesenian tradisional Banyumasan masih belum maksimal. “Yaa ada anak-anak muda, usia 20an, tapi ya begitu, nggak terlalu aktif. Padahal kan ya sebenarnya ingin ada yang meneruskan yang sudah tua tua” (T. Tasno, Wawancara, 11 Oktober 2024) Padahal, generasi muda memiliki potensi besar dalam melestarikan seni tradisional, tetapi arus globalisasi yang kuat sering membuat mereka lebih tertarik pada budaya barat (Nurhasanah, Siburian, & Fitriana, 2021). Untuk itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengedukasi dan melibatkan mereka dalam kegiatan pelestarian seni tradisional, termasuk melalui paguyuban di perantauan. Meskipun sudah ada inisiatif dari komunitas untuk melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan budaya, minat generasi muda terhadap kesenian tradisional masih tergolong rendah. Hal ini menjadi perhatian yang serius karena generasi muda memegang peranan penting dalam menjaga keberlangsung budaya di masa depan. Salah satu penyebab utama dari rendahnya minat ini adalah pergeseran preferensi budaya di kalangan generasi muda, di mana mereka lebih tertarik pada budaya populer dan modern yang lebih mudah diakses melalui media sosial dan internet, ketimbang budaya tradisional yang dianggap kurang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, gaya hidup perkotaan yang serba cepat dan dinamis juga turut memengaruhi minat generasi muda, sehingga mereka kurang memiliki waktu dan ketertarikan untuk mendalami kesenian tradisional. Kondisi ini menimbulkan tantangan yang besar bagi komunitas perantau Banyumas dalam upaya mereka untuk memastikan kelangsungan kesenian tradisional Banyumasan di masa depan. Tanpa keterlibatan yang aktif dari generasi muda, ada kekhawatiran bahwa kesenian tradisional ini akan semakin terpinggirkan dan mungkin saja hilang seiring waktu. Menghadapi situasi ini, komunitas perantau telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat generasi muda agar lebih terlibat dalam pelestarian budaya. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah dengan melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan seni yang diselenggarakan oleh paguyuban, baik sebagai peserta aktif dalam latihan tari maupun sebagai panitia dan pengelola acara. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda tentang bagaimana kesenian tradisional ini dipraktikkan, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka. Kegiatan seperti latihan tari dan pementasan seni di sanggar telah menjadi wadah penting dalam memperkenalkan kesenian tradisional Banyumasan kepada generasi muda. Di dalam sanggar, generasi muda tidak hanya belajar tentang gerakan-gerakan tarian tradisional, tetapi juga mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, seperti filosofi, makna simbolis, serta sejarah kesenian tersebut. Melalui pengalaman ini, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal akar budaya mereka dan mengapresiasi nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur mereka. Seperti yang disebutkan oleh salah satu informan, melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan seni adalah kunci untuk menjaga hubungan mereka dengan budaya leluhur mereka, meskipun mereka tinggal di lingkungan perkotaan yang lebih modern. Dengan demikian, kegiatan seni tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa bangga terhadap identitas budaya mereka sendiri. Selain melalui latihan dan pementasan, komunitas perantau Banyumas juga berusaha meningkatkan keterlibatan generasi muda dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai alat untuk menarik minat mereka. Teknologi informasi, seperti media sosial dan platform digital, menjadi sarana yang lebih relevan bagi generasi muda untuk mengakses informasi budaya. Komunitas ini, misalnya, menggunakan media sosial untuk membagikan rekaman video pementasan tari atau wayang. Melalui konten digital yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, komunitas berharap dapat menumbuhkan minat mereka terhadap kesenian tradisional Banyumasan. Ini sejalan dengan pemikiran bahwa adaptasi budaya ke dalam bentuk digital dapat menjadi strategi efektif dalam menarik perhatian generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital dan teknologi. Tidak hanya itu, paguyuban ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bentuk-bentuk baru dari kesenian tradisional yang sesuai dengan zaman. Misalnya, mereka didorong untuk mengeksplorasi bagaimana tarian atau musik tradisional Banyumasan dapat dikombinasikan dengan elemen modern tanpa menghilangkan esensi dari seni tersebut. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi generasi muda untuk merasa terlibat dalam proses pelestarian budaya, di mana mereka tidak hanya menjadi penerus tradisi, tetapi juga berkontribusi dalam mengembangkan budaya tersebut agar tetap relevan di era modern. Dengan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas mereka, komunitas perantau berharap bahwa mereka akan merasa lebih terhubung dengan budaya tradisional dan lebih termotivasi untuk melestarikannya. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan dalam melibatkan generasi muda dalam pelestarian budaya cukup besar, komunitas perantau Banyumas tidak menyerah dalam mencari strategi yang lebih efektif. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan budaya, baik melalui cara-cara tradisional seperti latihan seni maupun melalui inovasi digital, merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa kesenian tradisional Banyumasan tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. Dengan keterlibatan yang lebih aktif dari generasi muda, diharapkan kesenian tradisional Banyumasan dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Selain itu, paguyuban perantau Banyumas di Bandung juga telah menunjukkan inisiatif yang luar biasa dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pelestarian kesenian tradisional Banyumasan. Kolaborasi ini bukan hanya bersifat internal di kalangan anggota paguyuban, tetapi juga melibatkan pihak eksternal, seperti komunitas budaya lainnya. Melalui berbagai program seperti pentas seni tradisional, workshop kesenian, dan diskusi budaya, paguyuban Genta Sentramas berupaya memperkenalkan kesenian tradisional Banyumasan kepada generasi muda yang mungkin belum terlalu familiar dengan budaya tersebut. Selain itu, paguyuban Genta Sentramas juga aktif bekerja sama dengan komunitas budaya lain dan tempat wisata yang berada di Bandung. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan budaya Banyumasan, tetapi juga untuk menciptakan sinergi dengan budaya budaya lokal lainnya di Bandung. Misalnya, mereka sering mengadakan acara bersama dengan komunitas budaya Sunda, di mana kesenian tradisional Banyumasan dan Sunda dipentaskan dalam satu acara. Acara seperti ini menjadi momen yang sangat penting untuk menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang beragam, serta menciptakan pemahaman lintas budaya di antara komunitas yang berbeda. Sinergi ini juga membuka peluang bagi paguyuban Genta Sentramas untuk belajar dari komunitas budaya lain dalam hal strategi pelestarian budaya. Dengan saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik, komunitas perantau dapat memperbaiki dan mengembangkan metode pelestarian budaya yang lebih efektif. Kolaborasi lintas komunitas ini juga memperkuat identitas budaya paguyuban Genta Sentramas. Di kota besar seperti Bandung, yang menjadi melting pot berbagai budaya dari seluruh Indonesia, penting bagi komunitas diaspora untuk tetap mempertahankan identitas budaya mereka sambil berinteraksi dengan budaya lain. Melalui kerjasama dengan komunitas budaya lainnya, paguyuban Genta Sentramas dapat memperkenalkan dan mempromosikan kesenian tradisional mereka kepada audiens yang lebih luas, sambil tetap menjaga integritas dan esensi dari budaya Banyumasan itu sendiri. Hal ini tidak hanya membantu melestarikan budaya Banyumasan di kalangan masyarakat Banyumas sendiri, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya tradisional secara lebih luas di Indonesia. Pelestarian budaya, dalam konteks ini, bukanlah upaya yang dilakukan secara terisolasi, melainkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan berbagai komunitas budaya dan pihak-pihak lain yang memiliki visi dan tujuan yang sama. Kolaborasi dengan komunitas budaya lain juga memungkinkan terciptanya berbagai program yang lebih inklusif dan beragam. Sebagai contoh, komunitas perantau Banyumas telah berpartisipasi dalam berbagai festival budaya di Bandung, di mana mereka menampilkan kesenian tradisional Banyumasan di hadapan audiens yang lebih luas, termasuk turis dan masyarakat umum. Acara-acara semacam ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan budaya Banyumasan kepada masyarakat yang mungkin belum familiar dengan tradisi tersebut, sekaligus memperkuat jaringan antar komunitas budaya. Di samping itu, partisipasi dalam acara bersama ini membantu membangun rasa saling menghormati dan menghargai antar komunitas budaya, yang pada akhirnya memperkuat solidaritas dan kebersamaan di antara masyarakat yang beragam. Keterlibatan paguyuban Genta Sentramas dalam pelestarian kesenian tradisional Banyumasan juga terlihat dari berbagai kegiatan yang mereka lakukan secara rutin, seperti latihan tari tradisional dan pentas seni yang dilakukan secara berkala. Keberadaan paguyuban ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah berkumpul bagi para perantau, tetapi juga sebagai tempat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya lokal. Program-program seperti ini membantu menjaga semangat kebersamaan di antara para anggota dan memperkuat identitas budaya mereka, meskipun mereka hidup jauh dari kampung halaman. Selain itu, Genta Sentramas juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk komunitas budaya lain dan tempat wisata, untuk memperluas jangkauan pelestarian budaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa literasi informasi budaya memiliki potensi besar untuk menjadi alat yang sangat efektif dalam menjembatani kesenjangan antara generasi tua dan muda dalam hal pelestarian budaya, terutama dalam konteks kesenian tradisional Banyumasan. Dalam era digital yang serba cepat, teknologi dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai budaya tradisional dalam format yang lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. Salah satu tantangan utama dalam pelestarian budaya adalah perbedaan cara pandang dan minat antara generasi yang lebih tua, yang mungkin lebih terbiasa dengan cara-cara tradisional dalam melestarikan budaya, dan generasi muda yang lebih terbiasa dengan teknologi modern dan budaya global. Dengan adanya literasi informasi budaya, kesenian tradisional dapat diadaptasi dan dipromosikan melalui platform digital yang akrab dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Penggunaan teknologi digital memungkinkan paguyuban Genta Sentramas untuk menyampaikan informasi tentang kesenian tradisional Banyumasan dalam format yang lebih interaktif dan menarik. Misalnya, media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dapat dimanfaatkan untuk menampilkan tarian, musik, atau pertunjukan seni tradisional Banyumasan dalam bentuk video pendek yang dinamis dan visual. Konten semacam ini dapat dikemas dengan elemen-elemen visual yang menarik, seperti penggunaan grafis, animasi, dan narasi modern yang lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Tidak hanya itu, konten digital tersebut juga dapat memanfaatkan tren populer seperti traditional dance challenges atau kolaborasi dengan influencer yang memiliki audiens muda. Dengan demikian, kesenian tradisional Banyumasan dapat disampaikan dalam bentuk yang tetap otentik, tetapi juga relevan dengan preferensi dan gaya hidup generasi muda. Selain itu, platform digital juga memberikan ruang untuk interaktivitas yang lebih tinggi, di mana generasi muda tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga bisa berpartisipasi aktif dalam pelestarian budaya. Misalnya, mereka dapat mengikuti tantangan untuk menirukan gerakan tari Banyumasan, mengunggah video mereka sendiri, atau berkolaborasi dengan seniman lokal untuk menciptakan versi modern dari pertunjukan tradisional. Keterlibatan aktif seperti ini dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap budaya lokal, serta membuka ruang bagi inovasi budaya yang tetap menghormati nilai-nilai tradisional. Dengan begitu, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tugas generasi tua, tetapi juga menjadi proses yang dinamis dan inklusif, melibatkan berbagai pihak, termasuk generasi muda yang mungkin lebih terhubung dengan budaya digital. Dalam proses penyebaran informasi, paguyuban Genta Sentramas menggunakan berbagai strategi termasuk dengan memanfaatkan teknologi untuk memastikan bahwa informasi tentang kesenian tradisional Banyumasan dapat diterima oleh semua anggotanya, termasuk generasi muda. Strategi ini dianggap cukup efektif karena selain memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda, kegiatan-kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan dan identitas budaya di kalangan anggota. Informan menekankan bahwa melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan budaya adalah kunci untuk memastikan bahwa mereka tetap terhubung dengan akar budaya mereka, meskipun terpengaruh oleh kehidupan modern di kota besar seperti Bandung. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan dalam menjaga kelestarian budaya di perantauan cukup besar. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh komunitas perantau Banyumas adalah keterbatasan akses terhadap sumber informasi langsung tentang seni tradisional Banyumas. Informan menyebutkan bahwa karena jarak geografis yang jauh, mereka tidak dapat langsung mengakses sumber daya budaya yang ada di Banyumas, sehingga harus mengandalkan informasi yang disediakan melalui teknologi atau dari sesama anggota paguyuban. Kondisi ini memaksa mereka untuk lebih kreatif dalam mencari informasi dan memastikan bahwa informasi yang didapatkan dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan lainnya adalah perbedaan tingkat literasi informasi di kalangan anggota paguyuban, di mana tidak semua anggota memiliki kemampuan yang sama dalam mencari dan menggunakan informasi budaya. Meskipun terdapat banyak tantangan, paguyuban Genta Sentramas sebagai paguyuban perantau dari Banyumas yang menetap di Bandung telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam melestarikan kesenian tradisional Banyumasan. Dengan memanfaatkan teknologi dan melibatkan generasi muda, paguyuban ini berusaha untuk menjaga agar kesenian tradisional mereka tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Upaya ini tidak hanya penting untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk membangun identitas kolektif di antara anggota paguyuban. Di masa depan, tantangan yang ada perlu diatasi dengan lebih banyak dukungan dalam bentuk pelatihan literasi digital dan peningkatan akses terhadap sumber informasi budaya, sehingga komunitas ini dapat terus melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional Banyumasan untuk generasi yang akan datang.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian, penelitian ini berhasil mengidentifikasi berbagai bentuk literasi informasi budaya yang digunakan oleh Paguyuban Genta Sentramas di Kota Bandung untuk mempromosikan dan melestarikan kesenian tradisional Banyumasan. Bentuk literasi informasi budaya tersebut diantaranya adalah dengan memaksimalkan fungsi internet untuk belajar dan menyebarluaskan kesenian tradisional Banyumas, melakukan tour budaya, dan mengadakan latihan seni di sanggar Genta Sentramas. Paguyuban ini memanfaatkan teknologi digital, terutama melalui media sosial dan grup percakapan online, sebagai sarana utama dalam mengakses, menyebarkan, dan menjaga informasi terkait kesenian tradisional mereka. Literasi informasi budaya memungkinkan mereka untuk tetap terhubung dengan warisan budaya meskipun berada jauh dari Banyumas. Dengan demikian, teknologi telah menjadi elemen penting dalam menjembatani keterbatasan geografis dan menjaga kesinambungan informasi budaya. Selain itu, literasi informasi budaya berperan signifikan dalam upaya pelestarian kesenian tradisional Banyumasan. Teknologi memberikan kemudahan bagi paguyuban untuk mengakses informasi secara cepat dan menyebarkannya ke anggota paguyuban serta khalayak yang lebih luas. Namun, tantangan dalam pemanfaatan teknologi masih terlihat, terutama karena tidak semua anggota paguyuban memiliki keterampilan digital yang memadai. Kendati demikian, paguyuban ini telah melakukan upaya konkret untuk mengatasi tantangan tersebut dengan melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan seni yang diadakan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa literasi informasi budaya tidak hanya berperan dalam pelestarian kesenian tradisional, tetapi juga memengaruhi keterlibatan masyarakat setempat dalam mendukung dan menghargai kesenian Banyumasan. Melalui pemanfaatan teknologi dan kegiatan seni yang melibatkan generasi muda, paguyuban ini mampu menarik perhatian masyarakat terhadap pentingnya melestarikan budaya tradisional. Proses pelibatan generasi muda ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran budaya dan membangkitkan minat mereka untuk terlibat aktif dalam pelestarian kesenian tradisional di masa mendatang. Secara keseluruhan, literasi informasi budaya terbukti menjadi instrumen penting dalam mendukung upaya pelestarian dan promosi kesenian tradisional Banyumasan. Meskipun ada tantangan dalam penerapan teknologi dan keterlibatan generasi muda, paguyuban Genta Sentramas terus berupaya untuk menjaga identitas budaya mereka di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, perlu adanya langkah strategis dengan mengadakan program pelatihan digital bagi anggota paguyuban untuk meningkatkan keterampilan dalam menggunakan teknologi digital. Langkah lainnya adalah dengan menjalin kolaborasi dengan institusi budaya, dinas pariwisata, dan pemerintah untuk mendukung pendanaan, pelatihan, dan promosi kesenian tradisional. Selain itu, menciptakan konten budaya yang menarik dan relevan di media digital yang populer di kalangan generasi muda, seperti Tiktok atau Instagram dapat menarik minat generasi muda untuk ikut berperan dalam melestarikan kesenian tradisional. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan teknologi, kesenian tradisional Banyumasan diharapkan dapat terus berkembang dan tetap hidup di tengah arus modernisasi di Kota Bandung. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih fokus pada peran generasi muda dalam pelestarian kesenian tradisional melalui literasi informasi budaya, serta strategi yang efektif untuk meningkatkan minat mereka. Penelitian juga dapat mengeksplorasi lebih dalam tentang kesenjangan literasi digital di kalangan anggota paguyuban, dengan tujuan mengembangkan program pelatihan teknologi yang lebih efektif. Selain itu, penelitian bisa memperluas subjek ke paguyuban perantau di kota-kota lain untuk melihat apakah ada perbedaan strategi pelestarian berdasarkan konteks sosial yang berbeda. Terakhir, disarankan melakukan studi yang mengukur dampak literasi informasi budaya terhadap keberlanjutan kesenian tradisional secara kuantitatif, guna memahami pengaruhnya terhadap keterlibatan masyarakat dalam melestarikan budaya.