Program Perpustakaan dalam Mengatasi “Library Anxiety”
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Abstrak
Library Anxiety adalah masalah umum di kalangan mahasiswa, yang mengarah pada perasaan tegang, takut, dan tidak berdaya saat menggunakan perpustakaan. Hal ini dapat menghambat kinerja akademik bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor Library Anxiety serta program perpustakaan sebagai upaya mengatasi Library Anxiety di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan menggunakan Teori Library Anxiety Constance Mellon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor penyebab Library Anxiety di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di antaranya luas gedung perpustakaan, pemustaka yang tidak mengetahui tempat layanan dan fasilitas perpustakaan, cara untuk memulai kegiatan di perpustakaan serta apa yang dapat dilakukan di perpustakaan. Untuk mengatasi hal tersebut, Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah memiliki beberapa program perpustakaan di antaranya orientasi Perpustakaan, petunjuk informasi, sosialisasi program perpustakaan, dan workshop literasi informasi.
Abstract
Library Anxiety is a common problem among college students, which leads to feelings of tension, fear, and helplessness when using the library. This can hinder academic performance for students. This study aims to determine the factors of Library Anxiety as well as library programs as an effort to overcome Library Anxiety at UIN Syarif Hidayatullah Library Center Jakarta, using Constance Mellon's Library Anxiety Theory. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques were conducted through interviews, observation, documentation and literature review. The results showed that there are factors that cause Library Anxiety at UIN Syarif Hidayatullah Library Center Jakarta, including the size of the library building, users who do not know where library services and facilities are, how to start activities in the library and what can be done in the library. To overcome this, UIN Syarif Hidayatullah Library Center has several library programs including Library orientation, information guidance, library program socialization, and information literacy workshops.
Keywords:
Library
· Library Anxiety
· programs
Introduction
Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang mendukung proses pembelajaran di suatu perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat informasi bagi seluruh civitas akademika harus mampu memenuhi kebutuhan dari permustaka sesuai dengan salah satu fungsi dari perpustakaan perguruan tinggi yaitu fungsi edukasi dimana perpustakaan harus mampu mendukung pencapaian tujuan, menyediakan bahan pembelajaran setiap program studi, menyediakan koleksi tentang strategi belajar mengajar dan materi pendukung, serta sebagai pelaksana evaluasi pembelajaran (Trimo, 1985). Salah satu yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dalam rangka memenuhi kebutuhannya, yaitu sistem temu kembali di perpustakaan. Dalam proses pencarian infromasi dengan sistem temu kembali yang ada, pemustaka perlu memahami dengan keberadaan macam-macam sumber koleksi, agar dapat menemukan koleksi yang pemustaka butuhkan namun, banyak pula pemustaka yang merasa kesulitan pada saat mengakses informasi. Dan berujung dengan perasan cemas yang pemustaka rasakan, kecemasan sendiri merupakan suatu perasaan dimana individu merasa tidak berani dalam bersikap maupun bertindak secara tegas sesuai dengan seharusnya. Kecemasan sendiri dapat dirasakan pada saat berada di perpustakaan, yang disebut dengan istilah “library anxiety”. Library anxiety pertama kali dikemukakan oleh Mellon, (1986:297), yang berpendapat bahwa rasa takut, gelisah, bingung dan perasaan negatif lainnya yang muncul ketika berada di perpustakaan yang mengakibatkan pemustaka sulit dalam memanfatkan perpustakaan. Terdapat beberapa faktor terjadinya library anxiety yaitu, luasnya gedung perpustakaan, pemustaka yang tidak mengetahui lokasi tempat berbagai layanan dan fasilitas yang disediakan perpustakaan, bagaimana untuk memulai kegiatan di perpustakaan dan yang terakhis harus melakukan apa disaat berada di perpustakaan (Mellon, (1986:297). Teori yang telah dikemukakan oleh mellon tersebut kemudian dikembangkan oleh Sharon Bostic dalam penelitiannya mengenai skala pengukuran kecemasan pemustaka ketika berada di perpustakaan. Skala pengukuran tersebut diantaranya adalah; (1) hambatan dengan pustakawan, (2) hambatan afektif, (3) hambatan kenyamanan, (4) hambatan pengetahuan, dan (5) hambatan mekanis. Hambatan dengan pustakawan terkait dengan prasangka pemustaka terhadap sikap pustakawan yang terkesan mengintimidasi, terlihat sulit untuk didekati, dan sibuk mengerjakan banyak hal yang membuat pemustaka sungkan untuk bertanya. Hambatan afektif, hambatan yang berkaitan dengan fasilitas yang ada di perpustakaan seperti zona, tata letak, keberadaan koleksi serta rambu-rambu perpustakaan. Selanjutnya hambatan kenyamanan dengan perpustakaan, yaitu kekhawatiran akan rasa tidak nyaman ketika berada di perpustakaan. Hambatan pengetahuan tentang perpustakaan terkait dengan pengetahuan pemustaka tentang koleksi yang ada di perpustakaan. Sedangkan hambatan mekanis, yaitu terkait dengan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan. Pada tahun 2020 Rahayuningsih dan Irhandayaningsih melakuak penelitian tentang Library Anxiety di UPT Perpustakaan Universitas Dipenogoro Semarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan yang terjadi pada mahasiswa disebabkan adanya rasa tidak percaya diri ketika mengerjakan tugastugas kuliah, rasa tidak nyaman, merasa bingung berada di dalam perpustakaan, tidak terbiasa menggunakan layanan maupun fasilitas yang ada, pustakawan yang tidak ramah dan minimnya pengetahuan pemustaka karena belum pernah mengikuti orientasi maupun bimbingan perpustakaan sebelumnya (Rahayuningsih & Irhandayaningsih, 2020). Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Muszkiewicz di perpustakaan Pustakawan Universitas Valparaiso menunjukkan bahwa kecemasan akan perpustakaan masih menjadi masalah yang terus berlanjut di kalangan mahasiswa saat ini. Pustakawan Universitas ini mengembangkan program "Kenali Pustakawan Anda" dengan tujuan membuat pustakawan lebih mudah diakses. Dengan menggunakan humor dan suasana yang santai, mahasiswa baru "diperkenalkan" kepada pustakawan melalui serangkaian fakta menarik. Program sederhana ini berhasil mengurangi kecemasan akan perpustakaan di kalangan mahasiswa baru sebelum semester pertama.(Muszkiewicz, 2017). Penelitian lain yang dilakukan oleh Akbarzadeh dan Bigdeli tentang kecemasan perpustakaan di kalangan mahasiswa Universitas Ilmu Kedokteran Kermanshah (KUMS) dengan menggunakan skala Bostick mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan gender yang signifikan. Penelitian ini merupakan langkah positif dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya informasi dan elektronik.(Akbarzadeh & Bigdeli, 2020) Library Anxiety yang dialami di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu mahasiswa masih merasakan kesulitan untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Setelah itu, pemustaka juga merasa sulit untuk mengakses koleksi online yang disediakan oleh perpustakaan karena minimnya informasi yang diberikan, sedangkan banyak mahasiswa yang membutuhkan informasi koleksi online, bahkan masih terdapat mahasiswa yang tidak mengetahui sama sekali bagaimana cara menggunakan maupun mengakses informasi tersebut. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor penyebab pemustaka merasa cemas saat berada di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan upaya Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mengatasi library anxiety melalui program yang dimiliki oleh Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yaitu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, rinci dan mendalam tentang suatu program, suatu peristiwa atau suatu kegiatan, baik pada tingkat individu, sekelompok orang, lembaga atau organisasi, untuk memperoleh pengetahuan tentang peristiwa tersebut (Rahardjo, 2017). Sumber data pada penelitian ini menggunakan sumber data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yaitu dengan melalui wawancara dan observasi, selain itu peneliti juga menggunakan sumber data sekunder berupa hasil dokumentasi, jurnal ilmiah serta skripsi. Informan sangat penting untuk mengumpulkan data penelitian. Dalam penelitian ini, purposive sampling digunakan untuk memilih informan yang memiliki pengetahuan khusus yang relevan dengan penelitian (Sugiyono, 2010). Pemilihan informan untuk penelitian ini didasarkan pada kriteria khusus yang berkaitan dengan peran dan pengetahuan mereka dalam konteks perpustakaan yang diteliti. Informan 1, yang menduduki jabatan struktural tertinggi di perpustakaan, dipilih karena dianggap memahami keseluruhan operasional dan kegiatan yang berhubungan dengan pemustaka dan pustakawan. Informan 2 dipilih karena posisinya yang memungkinkannya untuk memahami kebutuhan pemustaka terkait koleksi perpustakaan. Informan 3, sebagai pemustaka yang memainkan peran penting dalam berinteraksi dengan pustakawan layanan pemustaka setiap kali mereka berkunjung ke perpustakaan. Informan 4, 5, 6, dan 7, yang merupakan mahasiswa dari semester yang berbeda di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan anggota Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dipilih karena pengetahuan mereka tentang subjek penelitian dan keterlibatan mereka dalam operasional perpustakaan. Kelompok informan yang beragam ini memberikan perspektif yang komprehensif mengenai dinamika perpustakaan dan interaksinya dengan pemustaka. Pengumpulan data menghasilkan catatan, rekaman audio, hasil observasi, dan sebagainya. Selanjutnya, data direduksi dan disajikan, diikuti dengan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Result & Discussion
Faktor-faktor penyebab library anxiety Luasnya Gedung Perpustakaan Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor penyebab library anxiety di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terjadi karena beberapa faktor, salah satu di antaranya yaitu faktor luasnya perpustakaan. Pemustaka merasakan kecemasan dengan luas dan besarnya gedung perpustakaan, karena bentuk perpustakaaan yang sebelumnya mereka lihat berbeda dengan perpustakaan pada masa sekolah. Hal ini seperti yang disampaikan oleh para informan berikut ini, “… Karena yang dialami dari SMA sampai fakultas tidak ada perpustakaan yang memiliki lantai yang banyak, ada peraturan untuk menitipkan barang sebelum ingin mencari buku dan setiap lantai beda sendiri kegunaannya.” (Informan 4, 2022). “… Iya merasakan kebingungan karena gedungnya luas, jadi merasa bingung bagaimana untuk melakukan kegiatan di perpustakaan seperti meminjam buku.”(Informan 5, 2022). “… Karena perpustakaan universitas dan SMA berbeda, di perpustakaan universitas memiliki lantai yang banyak dan layanan yang berbeda-beda juga setiap lantainya.”(Informan 6, 2022). “… Gedung perpustakaan ini memiliki lantai yang cukup banyak, yang terpakai 7 lantai. Informasi yang kami sampaikan kepada pemustaka terkait dengan ruang-ruang dan fasilitas itu melalui petunjuk informasi yang di tempel di dekat lift dan untuk denah perpustakaan terdapat di lantai 1 dekat pintu masuk. Petunjuk informasi yang terdapat di dekat lift, memuat informasi yang menunjukkan layanan yang terdapat di setiap lantai yang ada di perpustakaan.” (Informan 2, 2022). “… Sebelum memasuki perpustakaan terdapat denah perpustakaan yang terdapat di lantai 1, perpustakaan juga menyediakan petunjuk informasi yang berada di depan lift yang memuat informasi dan layanan yang terdapat di perpustakaan dari lantai 1 sampai 7. Tujuan adanya petunjuk informasi adalah agar pemustaka tidak merasa kebingungan Ketika ingin masuk ke dalam perpustakaan dan tidak salah pintu masuk. Lalu, terdapat petugas di front Office yaitu untuk memberikan informasi kepada pemustaka Ketika datang ke perpustakaan karena perlu juga adanya komunikasi untuk memberitahukan tujuannya ingin melakukan apa di perpustakaan.” (Informan 1, 2022). Tanggapan informan menyoroti faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan di perpustakaan. Isu-isu seperti tata letak perpustakaan yang rumit, layanan yang berbeda, dan kurangnya pemahaman tentang pengaturan perpustakaan dapat menimbulkan kebingungan dan kecemasan bagi pengguna, sehingga memerlukan upaya perpustakaan untuk memberikan panduan dan informasi. Selanjutnya pemustaka tidak mengetahui tempat layanan dan fasilitas perpustakaan, kecemasaan ini muncul dikarenakan kurang pahamnya pemustaka terhadap area yang ada di perpustakaan sesuai dengan teori tentang skala pengukuran kecemasan perpustakaan yaitu hambatan mekanisme dimana pemustaka cemas dengan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan. Dalam menggunakan fasilitas perpustakaan, pemustaka masih merasakan takut terjadi kesalahan dan bingung untuk menggunakannya, jadi mereka lebih memilih untuk segera menyelesaikan tugas mereka dan tidak mencoba fasilitas perpustakaan. Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki gedung yang besar dengan kegunaan yang berbeda setiap lantainya dan perpustakaan juga memiliki peraturannya tersendiri sebelum pemustaka akan memanfaatkannya. Perpustakaan telah menyediakan denah perpustakaan di lantai satu dan petunjuk-petunjuk informasi yang diletakkan di dinding dekat lift yang berisikan informasi mengenai keberadaan setiap lantai dan layanan yang terdapat di perpustakaan. Kekhawatiran Terhadap Tanggapan Pustakawan Pemustaka juga merasakan cemas untuk bertanya kepada pustakawan karena mereka khawatir dengan tanggapan yang diberikan oleh pustakawan. Selain itu pemustaka juga merasa bingung pada saat melakukan pencarian informasi tetapi sedang banyak pengunjung lain, hal tersebut membuat pemustaka merasa cemas koleksi yang dibutuhkan tidak ada kecemasan ini sesuai dengan pernyataan Bostick, (1993:6) tentang skala pengukuran kecemasan perpustakaan. Berikut pernyataan para informan, “… Benar adanya perasaan cemas ketika tidak mengetahui lokasi koleksi layanan maupun fasilitas perpustakaan, seperti bingung untuk mencari rak yang terdapat koleksi yang dibutuhkan dan berada di lantai berapa karena setiap lantai memiliki koleksi yang berbeda-beda.” (Informan 5, 2022). “… Lebih seringnya karena malu untuk bertanya. “ (Informan 5, 2022). “… Iya merasa bingung dan karena sudah merasa bingung jadi biasanya langsung buru-buru menyelesaikan tugas di perpustakaan dan tidak mencoba. Karena sudah merasa takut terlebih dahulu sebelum memulai.” (Informan 5, 2022). “… Iya merasa bingung dan karena sudah merasa bingung jadi biasanya langsung buru-buru menyelesaikan tugas di perpustakaan dan tidak mencoba. Karena sudah merasa takut terlebih dahulu sebelum memulai.” (Informan 5, 2022). “… Iya masih merasakan bingung, seperti kalau lagi cari koleksi buku dan pengunjungnya lagi banyak takut juga koleksi yang dibutuhkan tidak ada.” (Informan 7, 2022). “… Karena perpustakaannya juga luas dan lantainya banyak jadi masih ada perasaan bingung untuk mencari koleksi yang dibutuhkan.” (Informan 7, 2022). Kurangnya Pengetahuan Tentang Perpustakaan Faktor yang ketiga ialah kecemasan tentang bagaimana untuk memulai kegiatan di perpustakaan, dimana setiap pemustaka yang memiliki latar belakang, pengetahuan serta pemahaman literasi yang berbeda dalam pemanfaatan perpustakaan, terjadi perubahan bentuk juga layanan perpustakaan pada masa sekolah dan perkuliahan. Seperti pada masa sekolah pemustaka merasa koleksi yang dimiliki perpustakaan hanya sedikit sedangkan di perpustakaan universitas memiliki koleksi yang tidak sedikit di setiap lantainya. Hal tersebut membuat adanya kebingungan yang dialami oleh pemustaka karena takut untuk memulai kegiatan di perpustakaan. Pemustaka merasa takut salah dan bingung untuk menggunakan fasilitas yang ada di perpustakaan karena setiap lantai juga berbeda kegunaannya. Selain itu pemustaka juga merasakan bingung untuk melakukan kegiatan di perpustakaan jika tidak menemukan koleksi yang dibutuhkan dan tidak mengetahui selanjutnya harus melakukan kegiatan seperti apa di perpustakaan. Kecemasan ini biasanya dialami oleh pemustaka baru atau mahasiswa baru dikarenakan masih sangat awamnya mereka tentang perpustakaan, seperti yang dikemukakan oleh Sharlon Bostick, (1993:6) ini termasuk dalam hambatan pengetahuan perpustakaan dimana pemustaka merasa cemas tentang cara meminjam, menjadi anggota dan lain sebagainya. Berikut pernyataan para informan, “… Suasana perpustakaan yang berbeda dari SMA ke perpustakaan universitas, yaitu kalau perpustakaan sekolah cakupannya lebih kecil koleksinya juga sedikit tetapi kalau di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lantainya banyak dan koleksinya juga.” (Informan 6, 2022). “… Perasaannya itu bingung, tidak mengetahui bagaimana cara-caranya menggunakan perpustakaan, takut salah juga dan karena setiap lantai berbeda layanannya.” (Informan 5, 2022). “… Iya pada saat itu merasakan bingung untuk melakukan kegiatan di perpustakaan walaupun sudah terdapat petunjuk arah tetapi terkadang masih ada perasaan bingung ketika di dalamnya.” (Informan 7, 2022). “… Ada perasaan bingung untuk melakukan kegiatan di perpustakaan karena pada saat itu saya membutuhkan salah satu koleksi untuk keperluan tugas tetapi saya tidak mendapatkannya jadi agak bingung harus bagaimana mencarinya lagi di perpustakaan.” (Informan 4, 2022). Kurang Percaya Diri Faktor terakhir yang menyebabkan kecemasan pemustaka ialah apa yang harus dilakukan ketika berada di perpustakaan, pemustaka merasa kurang percaya diri dalam bertanya kepada pustakawan, khawatir dengan tanggapan yang diberikan oleh pustakawan tetapi mereka juga merasa butuh untuk menggunakan perpustakaan. Pemustaka juga merasa bingung harus melakukan apa serta ke mana tujuannya karena perpustakaan yang luas, kemudian kalau pemustaka merasa tidak mendapatkan informasi yang mereka butuh kan ingin segera keluar dari perpustakaan. Hal ini seperti yang disampaikan para informan, “… Kalau bertanya ke pustakawan takut jawabannya kurang ramah. Jadi terkadang merasa cemas kalau ingin bertanya.” (Informan 5, 2022). “… Kalau berada di perpustakaan yang membuat panik adalah untuk bertanya takut tanggapan pustakawan kurang baik jadi karena hal tersebut saya merasakan cemas tetapi saya juga butuh untuk menggunakannya.” (Informan 6, 2022). “… Kalau ke perpustakaan, takut tanggapan pustakawan kurang baik kalau misalnya bertanya dan karena perpustakaan juga luas jadi bingung juga mau ke mana.” (Informan 7, 2022). Pada dasarnya pemustaka dapat melakukan banyak hal di perpustakaan, terlebih Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki banyak fasilitas dan koleksi yang menunjang untuk kebutuhan pemustaka namun dikarenakan kurangnya rasa percaya diri dan rasa tidak nyaman pemustaka, membuat mereka menjadi tidak mengeksplor fasilitas apa saja yang ada di perpustakaan, kejadian ini sesuai dengan skala pengukuran kecemasan pemustaka yang dikembangkan dari teori yang diciptakan oleh Mellon, (1986:297) yaitu hambatan kenNo. Faktor Library Anxiety Upaya Pusat Per ustakaan Dalam Mengatasinta Hasil Wawancara 1 Luas Gedung Perpustakaan Orientasi Perpustakaan Program orientasi perpustakaan mengatasi kecemasan pemustaka pemustaka karena luas gedung perpustakaan yang memiliki lantai tidak sedikit. Pemustaka setuju kegiatan ini membantu atasi kekhawatiran mereka. (Informan 6, 2022). 2 Pemustaka Tidak Mengetahui Lokasi Tempat dan Fasilitas Perpustakaan Petunjuk Informasi Petunjuk informasi terdiri dari rincian tentang lokasi layanan di setiap lantai, yang dipajang di dinding dekat lift, dan petunjuk - yamanan dengan perpustakaan dimana rasa khawatir dan tidak nyaman disaat informasi tersebut membantu mereka untuk memudahkan dalam melakukan pencarian informasi dan menemukan koleksi yang mereka butuhkan. (Informan 6, 2022). 3 Bagaimana Untuk Memulai Kegiatan di Perpustakaan Ask Librarian Perpustakaan memiliki program yang mirip dengan ask librarian di layanan referensi yang bermanfaat untuk membantu dalam menemukan informasi yang seusai dengan kebutuhan dan bertanya kepada pustakawan juga dapat dilakukan melalui - e-mail maupun media sosial perpustakaan dengan menyediakan contact person pustakawan yang dapat dihubungi oleh pemustaka. (Informan 2, 2022). Untuk program tersebut sangat membantu dan mengatasi bagi pemustaka untuk menemukan informasi yang mereka butuhkan, namun terkadang pemustaka masih merasa cemas untuk bertanya karena beranggapan pustakawan yang kurang ramah. (Informan 7, 2022. 4 Harus Melakukan Apa Ketika Berada di Perpustakaan Sosialiasi Sosialisasi merupakan program perpustakaan yang fokus kepada bagaimana cara penggunaan koleksi online yang dimilik perpustakaan dengan melakukan pelatihannya secara tersendiri, perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki program sosialisasi yang dilakukan untuk memberikan informasi yang dimiliki berlama-lama di perpustakaan. Pada tabel 1 dapat dilihat matrix factor-faktor apa saja yang menyebabkan munculnya library anxiety pada pemustaka Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Upaya Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dalam Mengatasi library anxiety Pemustaka Kecemasan yang pemustaka rasakan membuat pustakawan perlu melakukan upaya untuk menangani rasa cemas tersebut. Program-program yang telah dijalankan yaitu orientasi perpustakaan, petunjuk / informasi, Orientasi Perpustakaan Program ini dilakukan agar pemustaka mengetahui dan dapat memanfaatkan la yanan serta fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan. Pada program ini, pemustaka pertama kali diperkenalkan dan memperoleh pemahaman tentang perpustakaan, termasuk layanan yang tersedia di perpustakaan, sumber informasi yang relevan, penggunaan sumber informasi, proses layanan serta aturan pemustaka di perpustakaan (Alam, 2014). Program orientasi perpustakaan ini diadakan salah satunya untuk mengatasi salah satu faktor penyebab library anxiety yang dikemukakan oleh Mellon, (1986:297) yaitu, pemustaka tidak mengetahui lokasi tempat berbagai layanan dan fasilitas yang disediakan perpustakaan. Kegiatan orientasi ini diadakan bukan hanya luring saja tetapi juga daring. Orientasi perpustakaan dilakukan setiap penerimaan mahasiswa baru dan perpustakaan mengadakan orientasi untuk mengenalkan perpustakaan di masa awal perkuliahan. Berikut pernyataan para informan, “… Orientasi perpustakaan yaitu mengenalkan perpustakaan secara menyeluruh kepada pemustaka kegiatan ini diadakan setiap ada penerimaan mahasiswa baru.” (Informan 2, 2022). “… Orientasi perpustakaan yaitu untuk mengenalkan kepada pemustaka apa saja yang ada di perpustakaan, bagaimana caranya untuk bisa menggunakan perpustakaan.” (Informan 3, 2022). “… Jadi diadakan orientasi perpustakaan yang menjelaskan tentang perpustakaan dan juga mengajarkan bukan hanya perpustakaan itu apa, kenapa harus ke perpustakaan apa penting untuk mahasiswa, bagaimana untuk menjadi anggota, hak dan kewajiban mahasiswa apa sebagai anggota kemudian mau apa ada di mana di perpustakaan, kemudian siapa yang akan melayani di perpustakaan bahwa ada profesi pustakawan, ada profesi staf perpustakaan, kemudian fasilitas yang tersedia bukan hanya offline tetapi juga yang online, dan juga yang terdapat di perpustakaan semua harus diinformasikan di awal.” (Informan 1, 2022). Pemustaka menyetujui apabila kegiatan tersebut membantu pemustaka untuk mengatasi kekhawatiran pemustaka dalam memberikan informasi kepada pemustaka mengenai fasilitas yang dimiliki perpustakaan, cara penggunaan perpustakaan, aturan yang dimiliki perpustakaan, layanan yang terdapat di perpustakaan. Hal tersebut disampaikan oleh informan berikut ini, “... Menurut aku iya mengatasi kak, soalnya kecemasannya garagara ke tidak tahuan akan perpustakaan karena jarang berkunjung ke perpustakaan.” (Informan 5, 2022). ”... Dapat mengatasi kecemasan di perpustakaan karena pustakawan memberikan orientasi perpustakaan kepada pemustaka bagaimana cara memanfaatkan layanan yang ada di perpustakaan, menggunakan layanan tersebut, memanfaatkan bahan pustaka, memudahkan pemustaka untuk mencari informasi, bagaimana prosedur yang digunakan untuk meminjam bahan pustaka, otomatis hal tersebut dapat meminimalisir maupun mengurangi bahkan dapat menghilangkan kecemasan di perpustakaan. Selain itu sikap dari pustakawan juga dapat bertolak belakang bisa juga mengurangi atau menghilangkan kecemasan dapat pula menambah dan memberi kecemasan di perpustakaan.” (Informan 6, 2022). “... Menurut saya dengan adanya orientasi perpustakaan dapat mengatasi kecemasan yang berlebih. Karena dengan memberitahukan pengenalan awal perpustakaan membuat kita lebih berani dalam artian tidak canggung ketika memasuki perpustakaan.” (Informan 7, 2022). Petunjuk / Informasi Petujuk / informasi merupakan salah satu program yang ada di Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Petunjuk / informasi merupakan informasi-informasi yang dibuat mengenai keberadaan layanan di setiap lantai yang terpasang di dinding dekat lift dan petunjuk yang dibuat secara jelas yang menunjukkan nomor kelas suatu buku. Perpustakaan telah menyediakan petunjuk / informasi dalam bentuk cetak yang terpajang di setiap ruangannya. Namun seharusnya petunjuk / informasi yang diadakan dapat lebih menjelaskan lagi informasi yang disampaikan mengenai kegunaan dari setiap ruang. Selain itu pustakawan juga dapat lebih menjelaskan lagi mengenai petunjuk / informasi yang ada, misalnya mengenai langkah-langkah dalam memanfaatkan perpustakaan. Upaya ini dilakukan untuk membantu pemustaka dalam mencari kebutuhan yang mereka butuhkan dan sebagai upaya mengurangi rasa khawatir pemustaka. Hal ini yang sesuai dengan pendapat Bostick (1993:6) mengenai hambatan afektif yaitu kekhawatiran pada zona-zona dan tata letak koleksi di perpustakaan. Berikut yang disampaikan para informan, “… Petunjuk-petunjuk informasi yang kami sediakan memuat informasi setiap lantai yang terdapat di perpustakaan yang terpasang di dekat lift. Jadi ketika pemustaka masuk ke dalam tidak cemas ingin ke mana tujuannya.” (Informan 3, 2022). “… Jadi kami membuat petunjuk informasi sebisa mungkin dengan sangat rinci, sampai nomor kelas, letak rinci dari suatu buku kami buatkan.” (Informan 2, 2022). “… Perpustakaan juga menyediakan petunjuk informasi yang berada di depan lift yang memuat informasi dan layanan yang terdapat di perpustakaan dari lantai 1 sampai 7. Tujuan adanya petunjuk informasi adalah agar pemustaka tidak merasa kebingungan Ketika ingin masuk ke dalam.” (Informan 1, 2022). Pemustaka menyatakan bahwa adanya petunjuk / informasi dapat mengatasi kecemasan yang mereka alami dalam menemukan koleksi yang dibutuhkan. Petunjuk / informasi tersebut membantu mereka dalam melakukan pencarian informasi dan menemukan koleksi yang dibutuhkan. Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menempel dan menggantung papan petunjuk / informasi di berbagai sudut. Petunjuk tersebut dapat membantu pemustaka dalam mengetahui lokasi koleksi, serta membantu pemustaka yang merasa malu untuk bertanya langsung kepada pustakawan. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh para informan berikut ini, ”... Menurut saya, iya dapat mengatasi kecemasan pemustaka di perpustakaan karena biasanya untuk pemustaka yang jarang berkunjung ke perpustakaan kan memiliki kebingungan bagaimana cara memanfaatkan layanan di perpustakaan hal tersebut dapat memudahkan pemustaka yang baru berkunjung maupun jarang berkunjung. Jadi pemustaka tersebut mungkin bagi yang malu bertanya dapat melihat petunjuk informasi. Cuma petunjuk tersebut harus ditempel ataupun dipajang ditempat yang ideal yang mudah dilihat dan juga sering dilalui pemustaka kayak di depan lift juga bisa ataupun kalau perpustakaannya skala kecil di lobby ataupun koridor atau di depan pintu bisa.” (Informan 6, 2022). “... Iya mengatasi Ka, soalnya jadi mengetahui lokasinya dari informasi yang ditempel di dekat lift.” (Informan 5, 2022). ”... Yaa. Dapat membantu untuk pemula, tapi alangkah baiknya program petunjuk itu diikuti dengan penjelasan oleh pustakawan agar informasi di program petunjuk lebih jelas lagi.” (Informan 7, 2022). Program “Ask Librarian” Ask librarian biasa disebut dengan tanya pustakawan, merupakan suatu layanan yang memungkinkan pemustaka dapat bertanya referensi dengan pustakawan maupun staf perpustakaan. (Ilmi, 2022). Ask Librarian dapat membantu pemustaka dalam menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya yaitu yang dapat digunakan sebagai keperluan tugas maupun penelitian, dengan cara pemustaka dapat bertanya kepada pustakawan secara langsung, melalui e-mail, maupun chatting melalui contact person yang di sediakan perpustakaan. (Suharso, Arifiyana, & Wasdiana, 2020). Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki program yang mirip dengan ask librarian yang berada di layanan referensi yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka, untuk membantu dalam menemukan informasi yang seusai dengan kebutuhan dan bertanya kepada pustakawan juga dapat dilakukan melalui e-mail maupun media sosial perpustakaan dengan menyediakan contact person pustakawan yang dapat dihubungi oleh pemustaka. Kegiatan ini juga berupaya untuk menghilangkan stigma atau prasangka negatif pemustaka kepada pustakawan, yang dimana pemustaka merasa jika pustakawan terlihat sulit untuk didekati dan juga sibuk sendiri. Hal ini juga sesuai dengan skala kecemasan yang dikemukakan Bostick, (1993:6) yaitu hambatan dengan pustakawan. Berikut yang disampaikan oleh para informan, “… Untuk program ask librarian dapat bertanya langsung ketika bertemu langsung di perpustakaan dan bisa juga melalui media sosial dan e-mail.” (Informan 1, 2022). “… Program ask librarian di perpustakaan yaitu kalau merasakan cemas tidak menemukan informasi yang dibutuhkan dapat bertanya kepada pustakawan.” (Informan 3, 2022). “… Terdapat petunjuk untuk ask librarian pada layanan referensi yang di peruntukkan untuk mahasiswa dapat bertanya mengenai informasi referensi yang dibutuhkan.” (Informan 2, 2022). Dengan adanya program yang menyerupai ask librarian yang terdapat di UIN Syarif Hidayatullah yang berada di layanan referensi ini dapat membantu pemustaka dalam mencari koleksi yang dibutuhkan, tetapi terkadang pemustaka tidak ingin bertanya karena khawatir dengan respon yang diberikan oleh pustakawan. Berikut yang dipaparkan oleh para informan, “... Iya Ka kalau ini mengatasi juga kak, tapi terkadang ada rasa malas buat nanyanya dan takut akan responsnya akan tidak baik”. (Informan 5, 2022). ”... Pasti kak, kalau soal ask librarian itu kan sudah pasti tugas inti pustakawan melayan pemustaka secara langsung bertanya kebutuhan informasi apa yang dibutuhkan oleh pemustaka, jadi hal tersebut tentu dapat mengatasi kecemasan di perpustakaan.” (Informan 6, 2022). ”... Sangat membantu kita sebagai pemustaka. Tapi terkadang kita sebagai pemustaka malu dan takut jika bertanya langsung ke pustakawan, karena persepsi kita sebagai orang awam bahwa seorang pustakawan itu galak dan cenderung jutek.” (Informan 7, 2022). Program Sosialisasi Sosialisasi juga menjadi program yang dimiliki Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kegiatan ini, pemustaka diajarkan cara penggunaan koleksi online yang dimiliki perpustakaan. Diadakannya program tersebut agar pemustaka yang merasakan kesulitan maupun kebingungan dalam menggunakan koleksi online yang dimiliki perpustakaan dapat mengikuti pelatihan sehingga dalam mengakses informasi tidak lagi merasa cemas dan program tersebut dilakukan oleh perpustakaan secara luring maupun daring. Kegiatan sosialisasi dapat membantu dalam mengurangi rasa cemas di dalam diri mereka mengenai perpustakaan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mellon (1986: 279) yaitu faktor kecemasan perpustakaan. Dimana kekurang tahuan pemustaka mengenai apa yang harus dilakukan ketika berada di perpustakaan. Berikut pemaparan para informan, “… Program sosialisasi kita fokuskan untuk bagaimana penggunaan e-resources, jadi koleksi-koleksi yang sifatnya digital/ online itu kita buat sosialisasi atau pelatihannya sendiri.” (Informan 1, 2022). “… Kita melakukan program sosialisasi koleksi online yang memuat informasi bagaimana cara penggunaan koleksi tersebut. Untuk koleksi online kita memuat informasi bagaimana cara penggunaan koleksi tersebut yang terdapat di perpustakaan.” (Informan 3, 2022). “… Membuat pengumuman informasi-informasi yang sebisa mungkin kami sebarkan dari berbagai saluran seperti media sosial dan secara langsung kami informasikan di tiap ruang yang ada di gedung ini.” (Informan 2, 2022). Program sosialisasi yang diadakan oleh Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membantu pemustaka yang tidak mengetahui tentang tatatata cara berkunjung ke perpustakaan, memanfaatkan layanan-layanan yang ada dengan adanya program sosialisasi memudahkan juga untuk bagaimana cara memanfaatkan layanan serta. “….wah bagus si tuh kak ngaruh banget, soalnya emang itu yang dibutuhi pemustaka kalo berkunjung.” (Informan 5, 2022). “….Menurut saya bisa sih kak mengatasi kecemasan di perpustakaan, untuk alasannya sama seperti point2 sebelumnya sih kak, kan masih bingung untuk memanfaatkan layanan-layanan yang ada dengan adanya program sosialisasi memudahkan juga untuk bagaimana cara memanfaatkan layanan, bahan pustaka di perpustakaan lalu prosedur yang digunakan atau yang dilalui untuk memanfaatkan bahan pustaka tersebut bagaimana sih step by step nya” (Informan 6, 2022). “….Iyaa, sangat membantu dalam mengatasi kecemasan. Terlebih orang yang memberi atau menyampaikan materi dan praktek caracara penggunaan koleksi online perpustakaan dilakukan dengan baik dan pembawaan yang bagus.” (Informan 7, 2022). Workshop Literasi Informasi Program workshop literasi informasi merupakan kegiatan pelatihan yang diadakan oleh perpustakaan. Pada program ini, pemustaka diajarkan mengenai cara menggunakan perpustakaan dan melatih kemampuan menulis akademik. Topik-topik yang diberikan pada program ini yaitu penelusuran informasi, temu kembali, literature review, melakukan kutipan, manajemen referensi, bagaimana mencari topik yang terbaru dan sebagainya. Program ini dilakukan secara luring maupun daring dan menyajikan topiktopik yang relevan dengan kebutuhan pemustaka. Dengan adanya pelatihanpelatihan tersebut dapat memperdalam pengetahuan dan keahlian pemustaka mengenai literasi informasi sehingga pemustaka akan merasa percaya diri dengan kemampuannya serta tidak merasa cemas. Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin melakukan seminar maupun workshop yang bermanfaat bagi pemustaka. Namun jumlah pemustaka yang datang tidak banyak. Seharusnya pustakawan bisa melakukan upaya untuk meningkatkan animo pemustaka untuk hadir dan mengikuti kegiatan workshop maupun seminar yang diadakan oleh perpustakaan. Berikut pemaparan dari para informan, “… Kami memberikan pelatihan-pelatihan tentang temu Kembali informasi, menelusur informasi yang tepat, penulisan karya ilmiah, literature review dan topik-topik lainnya yang dapat melatih keahlian dan menambah pengetahuan pemustaka. Sehingga dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh perpustakaan dapat membantu pemustaka lebih percaya dengan kemampuannya dan tidak merasa kurang atau merasakan cemas.” (Informan 2, 2022). “… Workshop yang kita lakukan seperti bagaimana meminjam, mengembalikan buku, menelusur informasi dan melatih keahlian pemustaka.” (Informan 3, 2022). “… Workshop Literasi Informasi, topik-topiknya bermacammacam mulai dari menelusur informasi, manajemen referensi, bagaimana melakukan kutipan, cara mencari topik-topik yang terkini (tren). Kita tayangkan juga workshop itu di Youtube agar bisa ditonton ulang untuk pemustaka.” (Informan 1, 2022). “… Workshop Literasi Informasi, topik-topiknya bermacammacam mulai dari menelusur informasi, manajemen referensi, bagaimana melakukan kutipan, cara mencari topik-topik yang terkini (tren). Kita tayangkan juga workshop itu di Youtube agar bisa ditonton ulang untuk pemustaka.” (Informan 1, 2022). Workshop yang telah dilakukan akan dibagikan ulang oleh perpustakaan melalui kanal youtube perpustakaan, agar dapat dimanfaat kembali oleh pemustaka. Berdasarkan dengan informasi yang didapatkan oleh informan kegiatan workshop membantu pemustaka dalam mengurangi kekhawatiran pemustaka mengenai pengetahuan tentang perpustakaan. Berikut pemaparan dari informan 1, “… Workshop Literasi Informasi, topik-topiknya bermacammacam mulai dari menelusur informasi, manajemen referensi, bagaimana melakukan kutipan, cara mencari topik-topik yang terkini (tren). Kita tayangkan juga workshop itu di Youtube agar bisa ditonton ulang untuk pemustaka.” (Informan 1, 2022). Kurangnya pemahaman dan pengetahuan pustaka menjadi alasan mengapa kegiatan workshop ini dilakukan. Program ini diharapkan dapat mengatasi kekhawatiran pemustaka dikarenakan topik-topik yang diangkat seputar literasi informasi yang berguna pada masa perkuliahan. Berikut pemaparan dari para informan, ”....Menurut aku, mengatasi juga sih Ka soalnya jadi bisa menambah pengetahuan aku juga dan jadi tidak bingung karena sudah diadakan program workshop.” (Informan 5, 2022). ”....Iya dapat mengatasi maupun mengurangi kecemasan di perpustakaan karena dapat memberikan pemahaman kepada saya dan juga pengetahuan baru tentang literasi informasi yang berguna pada masa perkuliahan jadi menurut saya bisa kak mengatasi kecemasan.” (Informan 6, 2022). ”....Menurut saya, untuk sebagian orang cara ini akan mampu mengatasi kecemasan di perpustakaan.” (Informan 7, 2022). Terlebih dengan topik-topik yang diangkat oleh perpustakaan seputar literasi informasi yang juga sangat berguna pada saat masa perkuliahan. Kegiatan ini termasuk kedalam upaya perpustakaan dalam mengurangi library anxiety yang dimana merujuk kepada teori yang dikemukakan oleh Bostick, (1993:6) tentang skala kecemasan perpustakaan.
Conclusion
Library Anxiety yang dialami oleh pemustaka terjadi dikarenakan beberapa faktor, yaitu diantaranya, pemustaka merasakan cemas karena luasnya gedung perpustakaan, pemustaka merasakan kebingungan untuk menemukan lokasi koleksi, layanan dan fasilitas yang ingin mereka gunakan, bingung untuk memulai kegiatan maupun ketika berada di perpustakaan dan pemustaka juga merasakan cemas dan takut bertanya kepada pustakawan. Untuk mengatasi library anxiety, Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah melakukan beberapa upaya. Program perpustakaan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi library anxiety, yaitu di antaranya adalah orientasi perpustakaan, Petunjuk informasi, Ask librian, Sosialisasi dan Workshop literasi informasi. Salah satu faktor penyebab library anxiety adalah kecemasan dalam bertanya pada pustakawan. Oleh karena itu, pustakawan perlu lebih meningkatkan pendekatan kepada pemustaka. Apabila melihat pemustaka yang terlihat kebingungan, pustakawan perlu berinisiatif mendatangi pemustaka tersebut dan bertanya tentang apa yang pemustaka butuhkan. Selain itu, perpustakaan perlu membuat program khusus dalam mengatasi library anxiety.