PERANAN BUDAYA LITERASI DALAM PERILAKU PENCARIAN INFORMASI DI SMA NEGERI 1 SORKAM BARAT
Universitas Sari Mutiara Indonesia; Universitas Sari Mutiara Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan budaya literasi dalam perilaku pencarian informasi di SMA Negeri 1 Sorkam Barat. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan: Observasi, wawancara dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara kualitatif. 1) Budaya literasi membantu siswa untuk mengetahui bagaimana cara seseorang itu mengecek kebenaran informasi dari melalui berbagai sumber, 2) Model perilaku pencarian informasi sudah membantu siswa melakukan semua pola atau langkah-langkah pencarian dari tahapan memulai hingga penyajian dan sudah terpenuhi. Akan tetapi tahapan Perilaku Pencarian Model Khulthau point formulation, collection, dan presentation belum maksimal dilaksanakan.
Abstract
This research aims to determine the role of literacy culture in information seeking behavior at SMA Negeri 1 Sorkam Barat. This research method uses descriptive qualitative. Data collected using: Observation, interviews and documentation. The data was analyzed qualitatively. 1) Literacy culture helps students to know how a person checks the correctness of information from various sources, 2) The information seeking behavior model has helped students carry out all search patterns or steps from the starting stage to presentation and has been fulfilled. However, the Khulthau Model Search Behavior stages of point formulation, collection and presentation have not been implemented optimally.
Keywords:
Literacy Culture
· Information Seeking Behavior
Introduction
Pesatnya perkembangan teknologi menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai macam sumbersumber informasi yang beragam baik bentuk, format dan media. Dampak dari kemajuan teknologi jaringan internet ini menciptakan lingkup informasi yang semakin berkembang pesat dan tersebar luas dengan cepat. Seiring dengan bertambahnya waktu, kebutuhan pengguna akan informasi terus meningkat dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Perbedaan kebutuhan ini dapat diketahui dari tingkat pekerjaan dan masa pendidikan serta tingkat usia. Pada umumnya kebutuhan informasi yang dimaksud adalah untuk keperluan informasi perkantoran, penelitian, tugas perkuliahan, dan memahami informasi yang terbaru atau informasi lainnya. Pencarian informasi disesuaikan dengan kemampuan atau pengetahuan dari pengguna dan kebutuhan informasi yang diinginkan. Perkembangan teknologi informasi sangat berdampak positif bagi aspek kehidupan masyakarat dalam membantu jenis kebutuhan informasi yang telah diuraikan diatas. Dampaknya menciptakan informasi lebih mudah diakses, ditemukan oleh pengguna melalui perangkat teknologi seperti komputer/laptop dan smartphone dan didukung oleh jaringan internet. Selain itu kebiasaan membaca juga dapat membantu seseorang untuk memperluas pengetahuan dan wawasan sehingga dapat meningkatkan keterampilan literasi dalam berbagai bidang serta kebiasaan membaca juga sangat penting dalam membentuk budaya literasi pada siswa. Padmadewi dan Artini (2018:1) menyatakan bahwa “budaya literasi adalah suatu kemampuan yang mencakup kemampuan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berfikir”. Budaya literasi melingkupi kemampuan menulis dan membaca. Budaya literasi merupakan pembiasaan seseorang atau kelompok orang dalam melakukan identifikasi atau mengecek kebenaran informasi melalui berbagai sumber. Semua pemahaman tentang literasi atau sumber informasi dibutuhkan untuk membaca dan menulis. Budaya literasi membuat masyarakat ataupun seorang siswa tidak mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Sebagaimana peranan budaya literasi dalam perilaku pencarian informasi oleh pengguna, menyadarkan bahwa dalam perilaku pencarian informasi perlu membentuk keterampilan, kebiasaan dan pemahaman terhadap sumber-sumber informasi. Sikap pengguna dalam penggunaan informasi tercermin dari keberhasilan pemanfaatan teknologi dan informasi yang didapatkan. Penerapan ini menjadi suatu landasan dalam merancang dan meningkatkan kebiasaan pengguna dalam mencari dan menggunakan informasi dengan kepercayaan dan preferensi dalam mengelola informasi. Budaya literasi menjadi sangat penting yakni untuk menciptakan kebiasaan berpikir yang kritis melalui aktivitas keberaksaraan yang akhirnya akan menciptakan sebuah budaya melek informasi sehingga melalui budaya membaca, pendidikan dapat dilaksanakan (long life education), karena dengan kebiasaan membaca seseorang dapat mengembangkan diri terus menerus dalam berpikir untuk pencapaian budaya literasi. Budaya literasi perlu dikembangkan untuk meningkatkan minat baca namun tidak dianggap sebagai kebiasaan penting, data yang menyatakan bahwa kurangnya minat baca yaitu UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia khususnya siswa sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Sedangkan berdasarkan laporan tingkat kegemaran membaca (TGM) Perpustakaan Nasional tahun 2022 berdasarkan kategori Pendidikan menunjukkan bahwa SD Belum tamat/tidak sekolah TGM 59,02, SD/madrasah Ibtidaiyah TGM 57,45, SMP/Madrasah Tsanawiyah TGM 58,65, SMA/SMK/Madrasah Aliyah TGM 60,23, Diploma D1/D2/D3 TGM 65,62, Sarjana D4/S1 TGM 67,20, Pasca Sarjana S2/S3 74,47. Artinya bahwa tingkat kegemaran membaca dengan kategori Pendidikan menunjukkan nilai yang positif (Indonesia, 2022). Selanjutnya Sari (2018:1) menegaskan bahwa “kurangnya minat baca dan sumber bacaan yang berkualitas menyebabkan berkurangnya minat baca siswa, rendahnya minat baca disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, seperti kurangnya kesadaran akan pentingnya membaca dan kurangnya minat terhadap bahan bacaan yang tersedia, dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, seperti lingkungan sekolah, perpustakaan, buku/bahan bacaan, keluarga, dan pengaruh media serta kebanyakan siswa jarang mencari buku atau bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan”. Siswa lebih memilih menyelesaikan tugas melalui internet dan penggunaan smartphone juga menjadi alasan mengapa minat baca siswa sangat kurang, maka dari itu perlu diterapkan budaya literasi agar siswa lebih memahami makna yang terkandung dalam suatu bacaan. Siswa yang hidup dengan kesadaran moral rendah dimulai ketika kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Inilah yang menjadi alasan utama bagi sekolah untuk terlibat pendidikan moral. Budaya membaca mulai hilang di kalangan siswa dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat siswa lebih memilih bermain game daripada belajar. Upaya untuk meningkatkan perhatian terhadap budaya literasi siswa maka perlu adanya pengembangan dan peningkatan kualitas siswa melalui implementasi dari budaya literasi. Perwujudan ini membutuhkan peranan dari berbagai pihak salah satunya sekolah dalam meningkatkan budaya literasi siswa terhadap pencarian informasi. Peranan dari budaya literasi yaitu untuk mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi, untuk me ngupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat, untuk mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Dampak positif dari peranan ini adalah memberikan manfaat kepada siswa untuk mengetahui permasalahan dari penelitian ini yaitu bagaimana pencarian informasi yang baik dan benar. Oleh karena itu, dalam penelitian ini siswa diharapkan mampu menelusur informasi dengan baik dan benar melalui pencarian informasi yang benar guna mendorong siswa untuk mengenal, memahami, mencari, menemukan, mengevaluasi serta menggunakannya secara efektif dan efisien berdasarkan kebutuhan informasi siswa dalam perilaku pencarian informasi. Perilaku pencarian informasi merupakan konsep yang berkaitan dengan cara seseorang mencari, memproses, dan menggunakan informasi. Konsep ini penting karena informasi merupakan aset penting dalam kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Perilaku pencarian informasi meliputi proses mencari, mengumpulkan dan identifikasi informasi yang dilakukan seseorang dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi yang berkaitan dengan tugas maupun pekerjaannya. Perilaku pencarian informasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kebutuhan informasi, kemampuan teknologi, sumber informasi, faktor psikologis, dan konteks sosial. Kebutuhan informasi dapat timbul dari berbagai situasi, seperti kebutuhan informasi untuk tugas akademik, kebutuhan informasi kesehatan, atau kebutuhan informasi produk atau jasa tertentu. Kemampuan teknologi juga dapat mempengaruhi perilaku pencarian informasi. Kemajuan teknologi telah membuat informasi lebih mudah diakses melalui internet dan perangkat seluler, namun penggunaan teknologi yang tidak efisien atau kurangnya keterampilan teknologi dapat membatasi kemampuan seseorang untuk mencari dan memproses informasi dengan benar. Sumber informasi juga merupakan faktor penting dalam perilaku pencarian informasi. Sumber informasi dapat berasal dari berbagai media, antara lain buku, majalah, website, dan sumber informasi lainnya. Kemajuan teknologi terhadap perilaku perilaku pencarian informasi dapat memberikan dampak positif kepada para pelajar dalam memecahkan suatu masalah terkait dengan kebutuhan informasi pembelajaran sekolah dan lain sebagainya. Penting diketahui bahwa masalahnya adalah informasi yang tersebar diberbagai platform dan media belum sepenuhnya para siswa/pelajar mampu mengidentifikasi atau menganalisis keaslian suatu informasi. Pelajar belum memiliki kemampuan dalam membandingkan atau mengekplorasi informasi serta merumuskan informasi dengan baik sesuai kebutuhannya. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru dan tenaga pengajar dalam memberikan sosialisasi dan pemahaman terhadap para pelajar agar lebih literat dan membiasakan diri memanfaatkan informasi dengan melakukan proses perilaku pencarian informasi. Kemampuan untuk menemukan informasi yang akurat dan relevan sangat penting dalam kehidupan. Perilaku pencarian informasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era informasi yang semakin maju dan kompleks. Oleh karena itu, kemampuan untuk memahami dan mengembangkan perilaku pencarian informasi yang efisien dan efektif menjadi penting bagi setiap individu. Pencarian informasi terjadi ketika seseorang sedang mencari informasi spesifik untuk memenuhi kebutuhan informasi seseorang. Proses ini dilakukan untuk mencari informasi. Proses ini berkaitan erat dengan pembelajaran dan pemecahan masalah. Pencarian informasi merupakan keseluruhan perilaku seseorang dalam memanfaatkan sumber informasi secara aktif maupun pasif. Pencarian informasi merupakan proses yang berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam kehidupan seseorang. Pencarian informasi yang dimaksud di sini adalah bagaimana peranan budaya literasi dalam perilaku pencarian informasi di SMA N 1 Sorkam Barat.
Method
Setiap peneliti wajib menggunakan sebuah metode. Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam kajian ini adalah metode penelitian deskrptif kualitatif. Hamzah (2019:27) mengatakan bahwa “Jenis penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati dalam suatu konteks tertentu, sesuai paradigma, pendekatan dan tujuaan penelitian yang ingin dicapai”. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam kajian ini bertujuan untuk mengumpulkan data berdasarkan data yang relevan serta memberikan gambaran tentang peranan budaya literasi dalam perilaku pencarian informasi di SMA N 1 SORKAM BARAT.
Result
Peranan Budaya Literasi Menumbuhkan strategi untuk menciptakan budaya literasi disekolah juga berperan aktif di dalam menanamkan budaya literasi pada siswa diantaranya mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi, mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Peranan ini diwujudkan nyatakan dalam menumbuhkan strategi untuk menciptakan budaya literasi di sekolah. Berikut hasil penelitian dari peranan budaya literasi yaitu: a. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh area sekolah. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 meiliki pendapat yang sama antara lain: “Lingkungan fisik kondusif ramah untuk kegiatan pembelajaran dikarenakan kebersihan lingkungan sekolah dan sekitar kelas terjaga dengan baik. Dan sekolah sangat membebaskan siswa-siswinya dalam mengekspresikan karyakarya mereka serta memberikam dukungan sesuai dengan bakat yang mereka punya”. b. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat. Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 memiliki pendapat yang sama antara lain: “Sekolah membantu dengan memberikan motivasi serta apresiasi, memberikan simulasi atau latihan, bahkan pihak sekolah bakalan kasih guru pendamping yang ahli dibidang bakat saya, dan juga sekolah juga membentuk ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh setiap siswa. Dan interaksi yang biasanya dilakukan itu adalah dengan melakukan tugas kelompok bersama serta melakukan presentasi”. c. Mengupayakan Sekolah Sebagai Lingkungan Akademik Yang Literat Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademis. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 memiliki pendapat yang sama antara lain: “Siswa dalam mengikuti program literasi yaitu dengan selalu ikut berpartisipasi yang dilaksanakan oleh pihak sekolah serta rutin mengikutinya. Dan sekolah memberikan dan biasanya sebelum pembelajaran dimulai siswa dan siswi diperkenankan oleh guru untuk membaca sebagai bahan dasar diawal pembelajaran”. Perilaku Pencarian Informasi Berikut hasil penelitian dari indikator dari perilaku pencarian informasi antara lain: a. Initiation Inisiasi adalah tahapan pertama atau langkah awal suatu dorongan yang membuat sesorang mencari informasi karena kebutuhan. Upaya ini menjadi dasar agar kebutuhan informasinya dapat terpenuhi. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 memiliki pendapat yang sama antara lain: “Inisiatif siswa melakukan pencarian informasi yaitu karna ingin mengerjakan tugas. Dan siswa melakukan pencarian informasi yaitu supaya mendapatkan jawaban dari tugas, serta keingintahuan terhadap mata pelajaran dan juga untuk menambah wawasan”. b. Selection Seleksi adalah proses identifikasi informasi yang dicari berdasarkan topik kebutuhan informasi. Tahap ini merupakan tahap pemilihan sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan informasi siswa. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 memiliki pendapat yang sama antara lain: “Proses pengidentifikasian yang siswa lakukan yaitu dengan membaca teksnya secara keseluruhan dan memahami isi teks tersebut dengan demikian akan mampu atau dapat mengidentifikasikan sebuah informasi dan menemukan fakta maupun data dan informasi yang baru. Dan siswa dalam melakukan seleksi sumber informasi yang relevan yaitu dengan membandingankan buku yang satu dengan buku lainnya atau mencari disitus-situs web kemudian mencari kesimpulan dari buku serta web yang dibaca dengan demikian akan mendapat hasil yang relevan”. c. Exploration Eksplorasi merupakan tahapan membandingkan sumber-sumber informasi yang didapatkan baik dilapangan maupun hasil pencarian di internet. Hal ini bertujuan agar kebutuhan informasi dapat terpenuhi dengan informasi yang relevan. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, dan I4 memiliki pendapat yang sama antara lain: “Dengan cara mengetikkan langsung informasi yang dicari dan yang dibutuhkan, serta mengambil inti dari informasi atau kebutuhan yang dicari misalnya seperti pengerjaan tugas, pembuatan makalah. Dan siswa membandingkan informasi yang akurat dari google yaitu dengan cara membaca keseluruhan isi teks dan memilih situs yang lebih terpercaya. Dan beberapa informasi yang telah di dapatkan sangat mudah untuk dipahami namun untuk beberapa informasi lainnya juga kadang bagi saya sulit untuk dipahami sehingga saya memerlukan banyak informasi dalam membentuk pemahaman saya dalam informasi yang belum saya pahami”. d. Formulation Formulasi adalah tahapan perumusan atau fokus pada informasi yang relevan sesuai dengan topik kebutuhan informasi yang dicari. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, sedangkan I4 memiliki pendapat berbeda antara lain: I1, I2, dan I3 mengatakan bahwa: “Siswa mampu mencari informasi yang dibutuhkan dengan memilih sumber terpercaya dan relevan. Dan siswa bisa mengembangkan kemampuan dalam pencarian informasi”. Sedangkan I4 mengatakan bahwa : “Memfokuskan informasi dilakukan hanya dengan melihat dan memikirkan”. e. Collection Tahapan selanjutnya merupakan tahapan pengumpulan informasi yang didapatkan dari hasil pencarian informasi yang lengkap untuk menjawab topik kebutuhan informasi yang dicari. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, sedangkan I4 memiliki pendapat berbeda antara lain: I1, I2, dan I3 mengatakan bahwa: “Cara siswa mengumpulkan informasi itu yaitu dengan cara menyalin dan mencatat serta menambahkan bookmark dalam bentuk ketikan atau tulisan. Dan cara yang digunakan siswa untuk memyimpan dan mengelola informasi selama proses pencarian informasi itu ada”. Sedangkan I4 mengatakan bahwa : “Cara siswa mengumpulkan informasi itu hanya dengan cara mengumpulkan di catatan kecil saja. Dan cara yang digunakan siswa untuk menyimpan dan mengelola informasi selama proses pencarian informasi tidak ada”. f. Presentation. Penyajian merupakan tahapan akhir dari proses pencarian informasi. Tahapan yang mengarah pada pemanfaatan informasi yang relevan berdasarkan topik kebutuhan yang dicari yang siap disajikan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Berikut hasil wawancara dari informan I1, I2, I3, sedangkan I4 memiliki pendapat berbeda antara lain: I1, I2, dan I3 mengatakan bahwa: “Cara siswa menyajikan informasi yang ditemukan itu yaitu dengan cara mencatat atau membuat dokumen pribadi untuk menyimpan data yang ditemukan, jika dalam bentuk tugas kelompok disampaikan secara rinci serta cara lain yang digunakan yaitu dengan membuat karya ilmiah, makalah. Dan informasi yang dibutuhkan siswa terpenuhi”. Sedangkan I4 mengatakan bahwa : “Cara siswa menyajikan informasi dengan cara menarik segudang fakta dan memberikan ulasan”.
Discussion
Peranan Budaya Literasi Peranan budaya literasi sangat penting diterapkan disekolah terutama untuk strategi untuk menciptakan budaya literasi positif di sekolah yaitu mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi, mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat, serta mengupayakan sekolah seabagai lingkungan akademik yang literat. Berikut adalah hasil observasi, wawancara dan dokumentasi mengenai budaya literasi: a. Observasi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti tentang budaya literasi di SMA Negeri 1 Sorkam Barat yaitu kondisi Sekolah SMA asri, bersih dan banyak juga pohon ditanam di depan setiap kelas sehingga disekitar setiap kelas sejuk, gedung sekolahnya mulai dari kantor guru hingga ruangan kelas juga masih bagus dan kokoh. Siswa SMA Negeri 1 Sorkam Barat yaitu siswa Kelas X IPA, IPS dan Siswa kelas XI IPA, IPS mampu mengekspresikan karya-karya mereka sendiri dan sekolah sangat mendukung dan membebaskan berkarya sesuai minat dan bakat siswa. Siswa SMA Negeri 1 Sorkam Barat juga sering membaca buku ditaman dan di bawah pohon. b. Wawancara Pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan informan yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Wawancara dilakukan di Kelas dan di perpustakaan. Peneliti melakukan tanya jawab langsung tatap muka kepada informan. Dari hasil wawancara mengenai budaya literasi, dapat dilihat bahwa dari lingkungan fisik kondusif ramah untuk kegiatan pembelajaran dikarenakan kebersihan lingkungan sekolah dan sekitar kelas terjaga dengan baik, sekolah sangat membebaskan siswa-siswinya dalam mengekspresikan karyakarya mereka serta memberikam dukungan sesuai dengan bakat yang mereka punya. Sekolah membantu dengan memberikan motivasi serta apresiasi, memberikan simulasi atau latihan, bahkan pihak sekolah bakalan kasih guru pendamping yang ahli dibidang bakat saya, dan juga sekolah membentuk ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh setiap siswa. Dan interaksi yang biasanya dilakukan itu adalah dengan melakukan tugas kelompok bersama serta melakukan presentasi. Siswa dalam mengikuti program literasi yaitu dengan selalu ikut berpartisipasi yang dilaksanakan oleh pihak sekolah serta rutin mengikutinya. Dan sekolah memberikan dan biasanya sebelum pembelajaran dimulai siswa dan siswi diperkenankan oleh guru untuk membaca sebagai bahan dasar diawal pembelajaran. c. Dokumentasi Peneliti dalam pengumpulan data menggunakan dokumen sebagai sumber informasi berupa dokumen tertulis seperti buku, jurnal, dan dokumen visual seperti foto. Peneliti melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian ini. Hasil dokumentasi yang peneliti gunakan adalah pendapat Ainiyah (2017) yang menyatakan bahwa budaya literasi merupakan pembiasaan masyarakat untuk mengecek kebenaran informasi melalui penelusuran literatur baik melalui buku maupun pakar yang kompeten terhadap informasi dan kajian yang dimaksud. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahap dokumentasi dapat dinyatakan bahwa siswa mampu mengecek kebenaran informasi melalui penelusuran literatur baik melalui buku maupun pakar yang kompeten terhadap informasi dan kajian yang dimaksud dan sesuai dengan pendapat Ainiyah (2017). Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara siswa dalam menelusur informasi yang mereka cari dan yang didapatkan. Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan hasil dokumentasi mengenai budaya literasi pada siswa kelas X IPA,IPS, dan XI IPA, IPS pada tahap observasi sekolah juga menyediakan buku untuk bisa digunakan siswa membaca dan mencari informasi yang siswa butuhkan meskipun para siswa cenderung menggunakan internet untuk mencari informasi. Pada tahap wawancara mengenai budaya literasi, lingkungan fisik kondusif ramah untuk kegiatan pembelajaran dikarenakan kebersihan lingkungan sekolah dan sekitar kelas terjaga dengan baik, sekolah sangat membebaskan siswa-siswinya dalam mengekspresikan karyakarya mereka serta memberikam dukungan sesuai dengan bakat yang mereka punya. Sekolah membantu dengan memberikan motivasi serta apresiasi, memberikan simulasi atau latihan, bahkan pihak sekolah bakalan kasih guru pendamping yang ahli dibidang bakat saya, dan juga sekolah membentuk ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh setiap siswa. Dan interaksi yang biasanya dilakukan itu adalah dengan melakukan tugas kelompok bersama serta melakukan presentasi. Siswa dalam mengikuti program literasi yaitu dengan selalu ikut berpartisipasi yang dilaksanakan oleh pihak sekolah serta rutin mengikutinya. Dan sekolah memberikan dan biasanya sebelum pembelajaran dimulai siswa dan siswi diperkenankan oleh guru untuk membaca sebagai bahan dasar diawal pembelajaran. Selanjutnya pada tahap dokumentasi siswa mampu mengecek kebenaran informasi melalui penelusuran literatur baik melalui buku maupun pakar yang kompeten terhadap informasi dan kajian yang dimaksud dan sesuai dengan pendapat Ainiyah (2017). Model Perilaku Pencarian Informasi Khulthau Model khulthau dapat menjadi alat yang berharga untuk perilaku pencarian informasi dikalangan siswa. Pendekatan pemecahan masalah, pembelajaran sumber daya dapat membantu siswa memahami langkahlangkah yang perlu diambil untuk mencari sumber informasi yang relevan dan dapat dipercaya. Model khulthau ini adalah model perilaku pencarian informasi yang dikembangkan oleh Carol Khulthau untuk mendukung konteks pendidikan. Model khulthau memiliki enam indikator, masingmasing indikator mempunyai serangkaian pertanyaan untuk menilai perilaku pencarian informasi dan keterampilan argumentasi. Keenam indikator tersebut adalah initiantion, selection, exploration, formulation, collection, dan presentation. Model khulthau telah digunakan dalam berbagai konteks, seperti Amerika Serikat untuk menjadi salah satu kerangka kerja yang sangat penting dalam pemahaman bagaimana orang mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi serta membantun siswa dan pemustaka mengatasi tantangan dalam mencari dan menggunakan informasi secara efektif untuk meningkatkan perilaku pencarian informasi. Berikut adalah hasil observasi, dokumentasi dan wawancara mengenai model perilaku pencarian informasi khulthau: a. Observasi Observasi yang dilakukan oleh peneliti tentang model perilaku pencarian informasi yaitu model khulthau di SMA Negeri 1 Sorkam Barat, peneliti menjelaskan apa yang dimaksud dengan model khulthau serta apa saja point dari model khultahu. Dari hasil observasi tersebut peneliti mengetahui bahwa siswa sudah melakukan pencarian informasi sesuai dengan model khulthau, meskipun masih ada beberapa perbedaan argumen di beberapa point pertanyaan, siswa terbiasa mencari informasi melalui internet dan secara tidak langsung siswa sudah menerapkan model khulthau dalam pencarian informasi yang dibutuhkan siswa. b. Wawancara Pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan informan yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Wawancara dilakukan di ruang kelas dan di Perpustakaan SMA Negeri 1 Sorkam Barat. Pertanyaan dilakukan peneliti kepada informan secara langsung tatap muka dalam mengajukan pertanyaan. Hasil wawancara mengenai model perilaku pencarian informasi dapat dilihat bahwa perilaku informasi sesuai teori khulthau telah melakukan semua tahapan pencarian informasi yakni pertama, tahap inisiasi yang mengawali siswa terdorong untuk melakukan pencarian informasi karena kebutuhan informasinya. Kedua, tahapan seleksi informasi yang didapatkan dari hasil pencarian informasi dipilih berdasarkan informasi yang relevan dan akurat. Ketiga, tahapan eksplorasi hal ini siswa terus menjelajah dan mencari sumber-sumber informasi yang benar-benar relevan sesuai dengan yang dicari atau yang dibutuhkan dengan topik permasalahan dan apakah informasi yang didapatkan dipahami. Keempat, tahapan formulasi hal ini siswa memfokuskan informasi yang relevan. Kelima, tahapan koleksi hal ini siswa mengumpulkan sumber informasi yang didapatkan dalam sebuah bookmark dan catatan kecil untuk di baca dan dijadikan sebagai jawaban atas permasalahan serta mengumpulkan informasi dari teman, internet. Keenam, tahapan presentasi hal ini siswa dalam menyajikan informasi yang ditemukan dimanfaatkan untuk keperluan baik tugas sekolah, makalah dan lainnya sebagainya serta titik akhir dari semua tahapan pencarian ini terpenuhinya kebutuhan siswa. Dengan demikian siswa sudah melakukan semua pola atau langkah-langkah pencarian dari tahapan memulai hingga penyajian dan sudah terpenuhi. Akan tetapi tahapan Perilaku Pencarian Model Khulthau point formulation, collection, dan presentation belum maksimal dilaksanakan. c. Dokumentasi Peneliti dalam pengumpulan data dengan menggunakan dokumen sebagai sumber informasi berupa dokumen tertulis seperti buku, jurnal, dan dokumen visual seperti foto. Peneliti melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian ini. Hasil dokumentasi yang peneliti gunakan adalah model khulthau yang terdiri dari enam indikator yaitu initiantion, selection, exploration, formulation, collection, dan presentation. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahap dokumentasi dapat dinyatakan bahwa siswa sudah menerapkan model khulthau dalam memilih dan mengevaluasi perilaku pencarian informasi yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tanpa disadari siswa sudah terbiasa melakukan pencarian informasi dengan menggunakan model khulthau, dapat dilihat dari bagaimana siswa mengawali terdorong untuk melakukan pencarian informasi, menyeleksi informasi, eksplorasi informasi, formulasi informasi, mengumpulkan sumber informasi, dan menyajikan informasi sesuai model perilaku pencarian informasi khulthau. Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan hasil dokumentasi mengenai model perilaku pencarian informasi khulthau pada siswa Kelas X dan XI pada tahap observasi dapat dinyatakan bahwa siswa sudah melakukan pencarian informasi sesuai dengan model khulthau, meskipun masih ada beberapa perbedaan argumen di beberapa point pertanyaan, siswa terbiasa mencari informasi melalui internet dan secara tidak langsung siswa sudah menerapkan model khulthau dalam pencarian informasi yang dibutuhkan siswa. Pada tahap wawancara mengenai model perilaku pencarian informasi khulthau, siswa sudah melakukan semua pola atau langkah-langkah pencarian dari tahapan memulai hingga penyajian dan sudah terpenuhi. Akan tetapi tahapan Perilaku Pencarian Model Khulthau point formulation, collection, dan presentation belum maksimal dilaksanakan. Selanjutnya pada tahap dokumentasi siswa sudah menerapkan model khulthau dalam memilih dan mengevaluasi perilaku pencarian informasi yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tanpa disadari siswa sudah terbiasa melakukan pencarian informasi dengan menggunakan model khulthau, dapat dilihat dari bagaimana siswa mengawali terdorong untuk melakukan pencarian informasi, menyeleksi informasi, eksplorasi informasi, formulasi informasi, mengumpulkan sumber informasi, dan menyajikan informasi sesuai model perilaku pencarian informasi khulthau.
Conclusion
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa: 1) Budaya literasi membantu siswa untuk mengetahui bagaimana cara seseorang itu mengecek kebenaran informasi dari melalui berbagai sumber, 2) Model perilaku pencarian informasi sudah membantu siswa melakukan semua pola atau langkah-langkah pencarian dari tahapan memulai hingga penyajian dan sudah terpenuhi. Akan tetapi tahapan Perilaku Pencarian Model Khulthau point formulation, collection, dan presentation belum maksimal dilaksanakan. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut SMA Negeri 1 Sorkam Barat mengadakan pelatihan atau sosialisasi terkait pencarian informasi khususnya bagian tahapan formulation, collection, dan presentation serta terus upgrade dan mengembangkan program-program yang inovatif dalam mendukung budaya literasi.