Rekonstruksi Peran Perpustakaan dan Intervensi Pustakawankepada Pemustaka
IPB University
Abstrak
Pendahuluan. Dalam era teknologi informasi yang kemudian melahirkan teknologi disruptiveperpustakaan menghadapi tantangan yang sangat berat. Banyak unit-unit usaha yang akhirnyagulung tikar atau setidaknya mengurangi karyawannya akibat teknologi disruptive ini. Sebagianpekerjaan mereka sudah digantikan oleh mesin atau robot. Perpustakaan harus “menciptakan”layanan-layanan baru agar tidak termakan oleh teknologi ini. Sebagian kerja perpustakaan sudahdiambil alih oleh mesin, seperti transaksi peminjaman bahan perpustakaan pada perpustakaankonvensional dan bahkan perpustakaan digital saat ini sudah mulai beroperasi. Denganperpustakaan digital maka pemustaka memang tidak perlu lagi mendatangi secara fisikperpustakaan sebab semua layanannya sudah dapat dilakukan melalui gawai. Kajian inimerupakan kajian literatur yang membahas tingkatan layanan atau mediasi menurut Kuhlthauuntuk pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka Metode dan Pengumpulan Data. Literatur dikumpulkan dari akses ke internet dan koleksicetak perpustakaan. Analisis Data. Dari literatur yang dikumpulkan dibuatkan catatan poin penting yang kemudiandianalisis secara deskriptif. Hasil dan Pembahasan. Kuhlthau memperkenalkan layanan informasi yang disebutnya sebagaiintervensi kepada pemustaka. Menurut Kuhlthau ada dua layanan perpustakaan dasar di manapustakawan profesional terlibat dalam intervensi tersebut yaitu referensi dan instruksi bibliografi. Layanan referensi adalah mediasi kepada pemustaka untuk membantu lokasi dan penggunaansumber dan informasi. Mediasi seperti ini bisa mediasi sederhana, tetapi juga bisa mediasi yangpanjang yang melibatkan proses pencarian informasi yang rumit dan sangat panjang. Konsepzona intervensi ditentukan oleh sifat masalah pemustaka dan tahapan proses pemustakamengarah pada identifikasi tingkat mediasi dan pendidikan. Menurut Kuhlthau ada lima levelmediasi yaitu: organizer (pengatur), locator (pencari lokasi), identifier (pengidentifikasi), advisor(penasihat), dan counselor (konselor). Jika pemustaka bisa bekerja sendiri dalam mencariinformasi maka pustakawan tidak perlu melakukan intervensi untuk memediasi pemustakatersebut. Namun jika pemustaka tidak mampu melakukan pencarian sendiri maka kehadiranpustakawan untuk mengintervensi yaitu memediasi pemustaka sangat diperlukan Kesimpulan. Ada lima level mediasi menurut Kuhlthau yaitu: organizer (pengatur), locator(pencari lokasi), identifier (pengidentifikasi), advisor (penasihat), dan counselor (konselor).
Abstract
Introduction. In the era of information technology that causes the emergence of disruptive technology,libraries face very formidable challenges. Many businesses have gone bankrupt or at least reduced theiremployees due to this disruptive technology. Many of their jobs have been replaced by machines or robots. Libraries must develop new services so as not to be affected by this technology. Some libraries work hasbeen taken over by machines, such as circulation of library materials and even digital libraries are nowstarting to operate. The concept of an intervention zone is determined by the nature of the user's problemand the stages of the user process leading to the identification of mediation and education levels. Accordingto Kuhlthau, there are five levels of mediation, namely: organizer, locator, identifier, advisor, andcounselor. If the user can work alone in finding information, then the librarian does not need to interveneto mediate the user. With a digital library, users no longer need to physically visit the library because all services can be done through devices. This study is a literature review that discusses the level of service ormediation according to Kuhlthau to meet the information needs of users. Methods and Data Collection. The literature was collected from the internet and the library's print collection. Data analysis. From the collected literature, notes of important points were made which were thenanalyzed descriptively. Results and Discussion. Kuhlthau introduced an information service that he called intervention to users. According to Kuhlthau, there are two basic library services in which professional librarians areinvolved in the intervention, namely bibliographic reference and instruction. Reference services aremediation to users to assist with the location and use of resources and information. This kind of mediationcan be a simple mediation, but it can also be a lengthy mediation that involves a complex and verylengthy information search process. The concept of an intervention zone is determined by the nature ofthe user's problem and the stages of the user process leading to the identification of mediation andeducation levels. According to Kuhlthau, there are five levels of mediation, namely: organizer, locator,identifier, advisor, and counselor. If the user can work alone in finding information, then the librariandoes not need to intervene to mediate the user. However, if the user is not able to do the search on hisown, then the presence of the librarian to intervene, namely mediating the user is very necessary Conclusion. According to Kuhlthau, there are five levels of mediation, namely: organizer, locator,identifier, advisor, and counselor.
Keywords:
Perubahan layanan perpustakaan
· mediasi Kuhlthau
· proses pencarian informasi
Introduction
Perpustakaan dan pendidikan adalahdua entitas yang sulit dipisahkan. Pendidikan tanpa dukungan perpustakaantentunya kurang berjalan dengan baik sebabbahan-bahan ajar dan bahan pengayaandalam proses belajar mengajar biasanyadisediakan oleh perpustakaan. Suatu halyang sangat sulit dilakukan bahwapembelajar (murid/mahasiswa bahkanmasyarakat) mengumpulkan sendiribahan ajar yang diperlukannya. Mungkinmereka bisa membeli bahan ajar yangmenjadi kebutuhan pokoknya, namuntentunya dalam jumlah yang sangatterbatas baik dari segi kemampuanekonomi maupun dari kemampuan menyimpan sebagai koleksi pribadi. Halini karena informasi atau literatur yangdiproduksi sangatlah banyak. Apalagidengan kemajuan teknologi digital sepertisaat ini. Namun perpustakaan sesuaidengan tugasnya dapat mengumpulkaninformasi tersebut walaupun tentu masihjuga terbatas. Namun bila dibandingkandengan kemampuan pribadi maka perpustakaan tentunya akan lebihmemiliki kemampuan dalam hal pembelian maupun kapasitas simpaninformasi tersebut. Karena itu pendidikantidak bisa terlepas dari perpustakaan. Sebaliknya, perpustakaan tentunya selaludikaitkan dengan pendidikan, baikpendidikan formal maupun pendidikannon formal yaitu sebagai sarana pendidikan sepanjang hayat (life-longlearning). Ruben memperkuat hal inidengan pernyataannya:”Libraries serveeducational need either by directly assistingschools and colleges in the formal educationprocess or by providing individuals with anopportunity to educate themselves” (Ruben,2016). Selanjutnya Harbo dan Hansenmengatakan bahwa salah satu tugasperpustakaan adalah menyediakan pemustaka untuk akses ke banyak informasi, menawarkan pelatihan literasiinformasi dan berusaha untuk menjadibagian dari lingkungan belajar (Harbo &Hansen, 2012). Upaya pendidikan selama beberapatahun telah melihat keterlibatan positifperpustakaan dalam pendidikan denganmenawarkan layanan rujukan, informasi, dan sumber pengajaran. Programbimbingan individu dan kelas pendidikan,selain akses ke kelompok orang-orangtertentu dengan keterbatasan jangkauanpendidikan sekarang banyak dilakukanoleh perpustakaan. Distribusi materisumber daya informasi ke institusi,termasuk rumah sakit, penjara, pantijompo, pusat rehabilitasi dan kelompokdengan masalah terkait pendidikan danremaja yang terlibat dalam kejahatan,pengangguran dan sejenisnya, membuatdampak yang terlihat pada pendidikanmereka (InfoScience Today, 2021). Kondisi perpustakaan Indonesia pada umumnya Di negara maju perpustakaan menjadi sebuah kebutuhan seperti halnyakebutuhan untuk konsumsi pangan yangdi Indonesia disebut sembako (sembilanbahan pokok). Alasannya adalah jikasembako merupakan kebutuhan untukmakanan fisik, maka bacaan yang ada diperpustakaan merupakan makanan kejiwaan. Mungkin seseorang bisamemenuhi kebutuhan bacaan dengancara membeli. Tapi itu sekedar bahanbacaan saja. Kita masih perlu menyelamiapa sebetulnya yang tersedia di dalamperpustakaan dan dibutuhkan olehmasyarakat. Di Indonesia kebutuhan terhadap perpustakaan tersebut masih belumseperti di negara maju. Beberapakelompok masyarakat memang sudahsangat membutuhkan keberadaan perpustakaan. Ada perkiraan bahwamasyarakat yang merasakan perpustakaanitu penting bagi kehidupannya hanyaberjumlah 7% (Perpusnas, 2006). Namundemikian kebutuhan tersebut masihterbatas kepada bahan bacaan atau literatur. Misalnya, mahasiswa membutuhkan literatur untuk menyelesaikan tugasakhirnya. Jika perpustakaan tersebutdiibaratkan sebuah kapal, maka kapalyang sangat besar tersebut hanya memuatsebagian kecil saja penumpang. Ataudengan kata lain sebuah perpustakaanyang besar hanya melayani sebagian kecilsaja pemustaka. Padahal populasi yangmestinya dilayani tersebut jumlahnyasangat besar. Kapal besar tersebutdiawaki oleh awak kapal yang kurangkompeten sehingga awak kapal tersebuttidak dapat memaksimalkan potensi yangada pada kapal besar tersebut. Begitu jugahalnya di perpustakaan. Pustakawan yangditugaskan sebagian besar kurangkompeten, sehingga banyak fasilitas diperpustakaan besar tersebut tidak dapatdimanfaatkan secara maksimal. Ketiga,Kapal tersebut dipimpin oleh kaptenkapal yang kurang kompeten sehinggaarah dan jalannya kapal tersebut tidakselalu ke arah yang benar. Begitu jugaperpustakaan besar yang dipimpin olehseorang kepala perpustakaan yang tidakkompeten dan tidak kredibel. Tidakpunya kemampuan kepemimpinan yangbaik. Tidak memiliki pengetahuan danketerampilan manajemen di bidangperpustakaan. Dengan kepala yangdemikian tentu saja perpustakaan tersebutsulit diharapkan dapat membawa perpustakaannya ke arah tujuan perpustakaan yang benar. Dengan demikian perpustakaan yang besar dandilengkapi fasilitas yang modern tersebuttidak dapat memberikan layanan yangsesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Sebagai contoh, mayoritas praktikperpustakaan di Indonesia sekarang iniadalah melayani peminjaman bahanperpustakaan. Kegiatan back office darilayanan ini adalah pengadaan/ pembelianbahan perpustakaan dan pengolahanbahan perpustakaan sampai bahan perpustakaan tersebut siap digunakanoleh pemustaka. Sampai di sini parapustakawan sering merasa sudah puaskarena sudah memberikan layanan kepada pemustaka dengan baik. Dalamterminologi Kuhlthau layanan seperti inijustru berada pada level layanan (istilah Kuhlthau: level mediasi) terendah ataudisebut “organizer”. Dalam hal ini pustakawan hanya menyediakan koleksiyang dibutuhkan oleh pemustaka danmengaturnya (mengolah sampai menempatkannya di rak dan melengkapinyadengan alat telusur yang baik) sehinggadapat ditemukan kembali dengan mudah. Dalam keadaan seperti ini maka interaksipustakawan dengan pelanggannya sangatminim atau bahkan tidak terjadi interaksisama sekali. Dan ini yang sebagian besarterjadi di perpustakaan di Indonesia. Kebutuhan informasi pemustaka Pemustaka menggunakan perpustakaan karena mereka memiliki kebutuhanakan informasi. Kebutuhan informasitersebut timbul karena adanya kesenjanganpengetahuan yang dimiliki pemustakadengan kebutuhan pemenuhan informasiyang diperlukannya dalam menyelesaikansebuah persoalan. Sebagai contoh, dalammenyusun karya ilmiahnya seorangmahasiswa tingkat akhir merasa memilikimasalah karena pengetahuannya yangkurang atau tidak memadai dalam halmencari dan menemukan informasi yangmereka butuhkan. Oleh sebab itu, timbulkebutuhan untuk memenuhi kekuranganpengetahuan tersebut. Kebutuhan informasi mengharuskan mahasiswaberinovasi mencari dan menemukaninformasi yang relevan dengan kebutuhannya guna menyelesaikan masalahnya (Jamaluddin & Tommeng,2021). Sejalan dengan pernyataan Jamaluddin dan Tommeng, Zha dkk yangmengutip Marchionini (1995) menyatakan:“ketika individu mengalami kesenjangankognitif yang mencegah mereka memahami situasi tertentu, mereka akanberusaha mencari informasi untukmengubah keadaan pengetahuan merekadan memenuhi kebutuhan informasimereka” (Zha, Wang, Yan, Zhang, &Zha, 2015). Lima level Mediasi Kuhlthau Di era teknologi informasi sekarangini maka masyarakat (baca: pemustaka)dihadapkan kepada situasi yang sangatrumit. Katz mengatakan bahwa ada satupersoalan besar mengenai informasi saatini yaitu informasi tersebut sangat banyak. Menurutnya bahkan tidak terhitungjumlah artikel, materi diskusi, buku danbahkan program televisi yang diproduksisetiap hari. Orang menamakan kondisi inisebagai “information overload” (Katz, 2002). Menurut Roth seorang ilmuwan ataupeneliti menghabiskan kira-kira 20%25% waktu kerjanya hanya untuk mencariinformasi (Roth, 1974). Dalam kondisiinformation overload tersebut maka untukmembantu pemustaka dalam hal pencarian informasi diperlukan layanankonsultasi. Carol Collier Kuhlthau (Kuhlthau,1994) memperkenalkan layanan informasiyang disebutnya sebagai intervensi kepadapemustaka yaitu merujuk secara khususpada situasi di mana pustakawan berinteraksi langsung dengan siswa/mahasiswa sebagai pemustaka yangsedang dalam proses mencari informasi. Menurut Kuhlthau ada dua layananperpustakaan dasar di mana pustakawanprofesional terlibat dalam intervensitersebut yaitu referensi dan instruksibibliografi. Layanan referensi adalahmediasi kepada pemustaka untuk membantu lokasi dan penggunaan sumber dan informasi. Mediasi seperti inibisa mediasi sederhana, tetapi juga bisamediasi yang panjang yang melibatkanproses pencarian informasi yang rumitdan sangat panjang. Sedangkan instruksibibliografi adalah pendidikan kepadapemustaka dalam hal penggunaan alatbelajar, sumber, dan konsep informasidan strategi untuk menemukan danmenggunakan alat dan sumber informasi. Konsep zona intervensi ditentukanoleh sifat masalah pemustaka dan tahapanproses pemustaka mengarah pada identifikasi tingkat mediasi danpendidikan. Menurut Kuhlthau ada limalevel mediasi yaitu: organizer (pengatur),locator (pencari lokasi), identifier(pengidentifikasi), advisor (penasihat), dancounselor (konselor). Jika pemustaka bisabekerja sendiri dalam mencari informasimaka pustakawan tidak perlu melakukanintervensi untuk memediasi pemustakatersebut. Namun jika pemustaka tidakmampu melakukan pencarian sendirimaka kehadiran pustakawan untuk mengintervensi yaitu memediasi pemustaka sangat diperlukan. Selanjutnya Daland dan Hidle melengkapi penjelasan Kuhlthau padamasing-masing level mediasi tersebutsebagai berikut (Daland & Hidle, 2016;Kuhlthau, 1994): Level 1: Pengatur (Organizer) • Pengatur adalah level 1 atau palingbawah, di mana tidak ada kontak langsung yang dibuat antara pustakawandan pemustaka. Perpustakaan telah Gambar 1. Mediasi pustakawan kepada pemustaka menurut Kuhlthau (1994) Gambar 2. Proses pencarian informasi dan intervensi mengatur koleksi sedemikian rupasehingga memungkinkan pemustaka dapat menggunakannya secara mandiri. • Dalam hal ini, peran pustakawan hanyamenyediakan koleksi sumber informasiyang terorganisir untuk akses independen. • Peran pengatur, bagaimanapun, mendasari semua tingkat mediasi lainnya. Tanpa pengatur tidak akan adaakses ke sumber untuk belajar atauuntuk tujuan lain. Tuntutan peranpengatur cenderung menuntut pustakawan lainnya untuk meningkatkan akses dan membimbingpenggunaan bahan informasi yang tersedia. Di Amerika level pekerjaan ini banyak dilakukan oleh asisten perpustakaan(library assistant) dan teknisi perpustakaan(library technician). McKay mengatakanbahwa di Amerika asisten perpustakaan(library assistant) mengerjakan pekerjaanklerikal. Pustakawan (librarian) dan teknisiperpustakaan (library assistant) mengawasimereka. Tugas mereka termasuk mengatur koleksi, mengumpulkan dendauntuk bahan perpustakaan yang terlambatdikembalikan atau hilang, memeriksamasuk dan keluar buku, DVD, dan bahanperpustakaan lainnya kepada pemustaka,dan melakukan shelving buku setelahdigunakan oleh pemustaka. Asistenperpustakaan juga menjawab telepon ataumengatur berkas (file), serta melakukantugas administrasi rutin lainnya. Merekajuga biasa disebut juru tulis perpustakaan,asisten teknis, dan asisten sirkulasi. Sedangkan teknisi perpustakaan (librarytechnician) adalah paraprofesional yangbekerja di bawah pengawasan pustakawan. Tugas mereka bervariasi tergantungkepada ukuran fasilitas tempat merekabekerja. Mereka dapat memesan danmengatur koleksi perpustakaan, meminjamkannya kepada pemustaka, danmembantu menempatkan kembali koleksiitu ketika dikembalikan. Beberapa teknisiperpustakaan mengajari pelanggan caramenggunakan bahan perpustakaan (McKay, 2018). Level 2: Penunjuk Lokasi (locator)• Level ini mengandaikan bahwa adasatu jawaban yang benar untuk pertanyaan yang diajukan. Pertanyaandisampaikan di meja referensi, melaluiemail atau telepon, dan sering kalibersifat sederhana. Pertanyaannyamungkin berkisar dari alat manajemenreferensi ke lokasi sebuah buku diperpustakaan. • Level ini merupakan citra pustakawanpaling stereotip yang dibayangkanbanyak orang ketika mendengar kataperpustakaan. Sebuah pertanyaan ditanyakan di meja sirkulasi, danpustakawan memberikan jawaban yang sederhana dan meyakinkan. • Asumsi yang mendasari level ini adalahbahwa sistemnya pasti, pertanyaannyasederhana, dan ada satu jawaban yangbenar • Locator memiliki nilai yang terbatasketika ada tidak jelasan, ambiguitasatau ketidakpastian Pada level ini pustakawan sudah melakukan intervensi kepada pemustakadalam bentuk menjawab pertanyaan yangsimpel. Dalam terminologi Katz disebutsebagai menjawab pertanyaan referensisederhana atau ready reference (Katz W. A.,2002). Dalam petunjuk teknis Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya pekerjaanini masih dilakukan oleh pustakawantingkat keterampilan (Perpusnas, 2015). Pustakawan pada tingkat ini masih setaradengan library assistant dan atau librarytechnician di Amerika. Level 3: Pengidentifikasi (identifier)• Pengidentifikasi mengharapkan pertemuan antara pustakawan denganpemustaka. Sejumlah sumber yang terkait dengan subjek yang sedangdibahas disajikan pada pertemuantersebut. • Sumber informasi ini direkomendasikan sebagai kumpulaninformasi tanpa pemeringkatan. Sumber mungkin dari berbagai format dan kedalaman. • Biasanya, ketika pengguna datang kekoleksi dengan topik umum, mencariinformasi dari sejumlah sumber, satupencarian komprehensif disimpulkandan “kumpulan" informasi diidentifikasi sebagai relevan dengan subjektanpa ada saran tentang pendekatanatau saran apa pun dari melanjutkandialog dengan mediator. Level 3 yang disebut identifier inisama dengan layanan menjawab pertanyaan specific-search question menurutWilliam Katz (Katz W. A., 2002). Selanjutnya Katz mengatakan bahwamenjawab pertanyaan ini selalu denganmemberikan dokumen, daftar sitasi,buku, laporan dan bahkan sumber dariinternet. Dalam petunjuk teknis jabatanfungsional pustakawan layanan seperti inidisebut dengan memberikan layananpenelusuran informasi kompleks dandikerjakan oleh pustakawan ahli muda. Pendidikan untuk menduduki jabatanpustakawan tingkat keahlian ini adalahminimal sarjana di bidang ilmu perpustakaan atau sarjana non perpustakaan ditambah dengan diklatcalon pustakawan tingkat keahlian(Perpusnas, 2015). Level 4: Penasihat (advisor) • Penasihat tidak hanya mengidentifikasisumber pada suatu topik, tetapi jugamerekomendasikan urutan penggunaan sumber, biasanya dari umum kespesifik atau konkret ke abstrak,dengan beberapa pertimbangan untukformat dan kedalaman sumber. Pengguna mengajukan pertanyaan kompleks atau meminta informasi tentang suatu topik, dan penasihatmerekomendasikan cara menavigasiinformasi dengan menggunakan sumber a, kemudian sumber b, lalusumber c, dan seterusnya. • Penasihat tidak hanya orang yangmemiliki pengetahuan tentang sumber informasi yang tersedia diperpustakaan, tetapi juga tahu bagaimana dan kapan informasi tersebut digunakan. • Penasihat adalah orang yang memilikipengetahuan tentang proses penelitian. Hanya dengan mengetahuidan memahami proses penelitian, pustakawan akan dapat mengetahuibagaimana menjelajahi lanskap informasi dan, yang lebih penting,bagaimana mengarahkan pemustaka ke arah yang benar. Level mediasi ini dalam Katz disebut sebagai menjawab pertanyaanyang bersifat penelitian (research query). Katz mengatakan “a research is usuallyidentified as that coming from an adult specialistwho is seeking detailed information to assist inspecific work” (Katz W. A., 2002). Sedangkan dalam petunjuk teknis jabatanfungsional pustakawan layanan inidisetarakan dengan layanan bimbinganpenggunaan sumber referensi yangdikerjakan oleh pustakawan ahli madya(Perpusnas, 2015). Level 5: Konselor (counselor) • Di sini, asumsi yang mendasari adalahbahwa pemustaka sedang belajar dariinformasi dalam proses yang konstruktif, saat pencarian informasiberlangsung. Tidak ada jawaban yangbenar dan tidak ada urutan pasti untuksemua. Konselor membuat dialog danmengharapkan pemustaka untuk kembali secara berkala untuk membangun kembali dialog berdasarkankonstruksi yang muncul • Inilah situasi yang diinginkan jika atauketika pustakawan dapat tetap berhubungan dengan pemustaka. Level mediasi di sini sudah sangatkompleks. Pustakawan bahkan mestinyaterlibat secara aktif dalam pekerjaan atauriset pemustaka yang dilayaninya. Pustakawan lebih tepat dikatakansebagai mitra dari pemustaka. Contohlayanan yang seperti ini antara laindisebutkan dalam SKKNI sebagai menyusun tinjauan literatur (Menteri Ketenagakerjaan RI, 2019). Pekerjaanseperti ini tentu hanya bisa dilakukan olehpustakawan ahli utama. Sebagai mitra dari pemustaka tingkat lanjut pustakawantingkat ini juga dapat mengerjakan hal-halseperti melakukan kajian interdisiplin,menyusun pemetaan Kuhlthau menggambarkan mediasi tersebut dalam bentuk peta dalamhubungannya dengan level pendidikanatau kemampuan (baca: kompetensi) sertabentuk intervensi yang diberikan sepertiyang tergambar pada peta berikut(Kuhlthau, 1994). Gambar 3. Peta intervensi untuk mediasi menurut Kuhlthau (1994)Dalam gambar tersebut di atas terlihat bahwa semakin tinggi levelmediasi membutuhkan kompetensi yangsemakin tinggi pula. Pada level mediasiterendah yaitu organizer atau pengaturpada zona 1 diperlukan level pendidikan(baca: kompetensi) pengatur denganintervensi layanan tunggal. Sedangkanpada level mediasi tertinggi yaitu counseloratau konselor pada zona 5 memerlukanlevel pendidikan konselor yang memungkinkan orang tersebut memberinasihat-nasihat dalam penemuan informasi yang dibutuhkan oleh pemakai(biasanya pemustaka level tinggi pulaseperti mahasiswa tingkat doktoral ataumungkin juga seorang profesor). Level kompetensi yang dibutuhkanuntuk memberikan layanan atau intervensi mediasi menurut Kuhlthau inidapat disandingkan dengan peta kompetensi sesuai dengan jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional IndonesiaKKNI seperti pada gambar 2 berikut. Gambar 4. Posisi level mediasi Kuhlthau terhadap Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Pada gambar tersebut dapatdijelaskan bahwa level operator dapatdikerjakan oleh tenaga teknis perpustakaan, dalam hal ini bisa sajadengan tenaga tingkat SLTA. Kasusseperti ini bisa saja terjadi di perpustakaandesa yang masih sederhana. Sedangkanmediasi level organizer dan locator dapatdikerjakan oleh pustakawan tingkatketerampilan yaitu mulai dari pustakawanterampil, pustakawan mahir dan pustakawan penyedia. Pada level inipustakawan memiliki pendidikan setidaknya level diploma bidang perpustakaan. Level mediasi identifier dapat dikerjakanoleh pustakawan tingkat keahlian denganjabatan pustakawan ahli pertama sampaimuda. Pada level ini pendidikan pustakawan hendaknya sudah pada levelsarjana atau diploma IV. Level mediasiadvisor dapat dikerjakan oleh pustakawantingkat keahlian dengan jenjang pustakawan ahli madya. Tingkat pendidikan pustakawan pada levelmediasi ini sebaiknya tingkat magister,atau jika sarjana maka harus dilengkapidengan pengalaman yang panjang sertadengan pendidikan dan pelatihan yangcukup. Sedangkan level mediasi counselordapat dikerjakan oleh pustakawan tingkatkeahlian dengan jenjang pustakawan ahliutama. Dalam gambar tersebut juga jelasbahwa untuk dapat memberikan layanandengan level mediasi counselor diperlukanpendidikan tingkat doktor. Kalaupunpendidikan pustakawan tersebut barutingkat magister maka diperlukanpengalaman panjang atau dapat ditempuhdengan pendidikan non gelar yang dapatmembekali pustakawan tersebut sehinggakemampuannya dapat disetarakan denganpendidikan formal tingkat doktor. Layanan Perpustakaan Masa Kini dan Masa Depan Perpustakaan masa kini dan masa depan tidak bisa hanya melayani kebutuhan dasar pemustaka saja (dalamterminologi Kuhlthau disebut levelmediasi Organizer), namun mereka harusjuga bisa mengembangkan layananlayanan yang bersifat personal yaitudengan level mediasi di atasnya. Dengankemajuan teknologi informasi sepertisekarang ini layanan mediasi terendahatau level organizer bisa saja digantikanoleh mesin. Namun layanan dengan levelmediasi di tingkat atas yang bersifatpersonal tidak mungkin digantikan olehmesin. Layanan-layanan tersebut antaralain: 1. Bimbingan penelusuran informasi,yaitu literasi yang memungkinkanpeserta didik dapat mengembangkanstrategi pencarian dan pemanfaatanberbagai alat penemuan sumber informasi spesifik pada sebuah bidangilmu. Di sini peserta didik diberibimbingan cara-cara penggunaan basisdata untuk menemukan sumber informasi terbaik guna menyelesaikantugas-tugasnya yang terkait denganpendidikan dan penelitian. Mahasiswadiarahkan agar dapat menetapkan kebutuhan informasinya dan dibimbinguntuk membuat strategi pencarian yangefektif untuk menghasilkan serangkaianhasil penelusuran yang relevan. 2. Bimbingan dalam menyusun pertanyaan dan mengevaluasi informasi, yaitu literasi yang memungkinkanpeserta didik untuk menganalisis,mengevaluasi, menafsirkan dan berpikirkritis tentang informasi. Bimbinganini akan memberikan kesadaran akan tujuan, kekuatan dan kelemahanberbagai sumber informasi dan mempertimbangkan berbagai pertanyaan yang dapat digunakan untukmembantu mereka mengevaluasi informasi yang akan digunakan. 3. Bimbingan dalam menciptakan informasi, adalah literasi yang memungkinkan peserta didik untukmemadukan ide dan menangkap pengetahuan baru. Pustakawan memberikan beberapa tips untuk memulaimenyusun informasi baru dengan membuat presentasi yang efektif danmemberikan kesempatan untuk menjelajahi berbagai perangkat lunakpresentasi. 4. Bimbingan dalam memahamiinformasi, adalah literasi yang memungkinkan peserta didik untukmenemukan makna dan menerapkan konteks. Pustakawan hendaknya dapatmemberikan ikhtisar tentang manfaat,fungsi-fungsi, dan aplikasi sebuahbuku elektronik. Dengan demikiandiharapkan peserta didik dapat memanfaatkan koleksi buku yang tersedia secara daring (Online) denganefisien dan efektif yaitu menggunakanfungsi-fungsi seperti menandai danmemberi catatan (anotasi). 5. Bimbingan penulisan daftar pustaka (referensi) adalah literasiyang memungkinkan peserta didik untuk menghargai pekerjaan oranglain, membangun analisis mereka sendiri atas pengetahuan yang ada. Pustakawan perlu memperkenalkan konsep plagiarisme dan memberikanpanduan tentang cara mengutip secaraefektif. Peserta didik juga perludikenalkan dengan aplikasi yang berguna untuk proses ini. Pustakawanperlu memberikan tip tentang bagaimana cara menghindari plagiarisme,mengenalkan tujuan referensi, danmemberikan kesempatan untuk berlatihreferensi dalam gaya penulisan dilingkungan perguruan tingginya. Peserta didik perlu diberikan gambaran umum tentang perangkat lunak manajemen referensi (misalnya Mendeley) dan cara memanfaatkannyasebagai referensi dengan cepat danefisien. 6. Bimbingan cara mengomunikasikan informasi, adalah literasiyang memungkinkan peserta didik mampu membuat ringkasan dan menyebarkan hasil pekerjaan dan gagasannya secara efisien melaluimedia-media yang tersedia, misalnyamelalui blog, infografis, dan lain-lain. 7. Konsultasi informasi. Di negaramaju tugas ini diberi nama readersadviser. Tugas dari konsultan informasi ini adalah memberikan bimbingan kepada mahasiswa baik strata satu (S1), dua (S2) maupun tiga(S3) dalam pelacakan informasi untukkepentingan penelitiannya. Agar layanan-layanan yang menjadituntutan pemangku kepentingan perpustakaan masa kini dapat disediakandengan baik oleh perpustakaan, makapustakawan yang menjadi motor utamaperpustakaan selain memiliki kompetensidasar kepustakawanan dia juga harusmemiliki kemampuan lain seperti berikut:1. Kemampuan dan penguasaan terhadapteknologi informasi dan komunikasi. Kemampuan ini tentunya akan mendukung tugas-tugas pustakawanyang semakin memerlukan teknologiinformasi dan komunikasi. Pekerjaanpekerjaan perpustakaan yang sangatdasar pun saat ini memerlukan kompetensi TIK tersebut. Apalagitugas-tugas terkait dengan repositori;bimbingan penggunaan berbagai aplikasi, seperti penggunaan aplikasi antiplagiarisme; penggunaan buku danjurnal elektronik dan lain-lain sangatmemerlukan pengetahuan dan kemampuan TIK. 2. Kemampuan melakukan penelitian/pengkajian. Dalam hal ini kemampuandan penguasaan metodologi penelitiansangat diperlukan, terutama untukmendukung tugas-tugas pustakawanyang berhubungan dengan analisisinformasi. Misalnya saja, pustakawanharus mampu meneliti tren arah penelitian di universitasnya, melakukanpemetaan bidang ilmu yang menjadiobyek penelitian para mahasiswa dandosen di universitasnya. Kemampuanini sangat diperlukan ketika pustakawanmelakukan Collaborative Partnershipdengan dosen dan atau profesor. Tidak sedikit pustakawan di perguruantinggi yang terlibat penelitian bersamadengan dosen senior dan profesor. Bahkan banyak pustakawan yang menjadi nara sumber ketika profesor akan menerbitkan publikasi ilmiahnya. Banyak juga pengalaman pustakawanyang membantu profesor dalam mengajar (co-teaching), terutama terkaitmetodologi penelitian, dengan memberikan materi literasi informasikepada mahasiswa. 3. Kemampuan berkomunikasi secaraprima. Kemampuan berkomunikasi yang prima baik secara lisan (oralcommunications) maupun tulisan (writtencommunications) harus dimiliki olehpustakawan, terutama ketika harusmenyampaikan informasi hasil penelitiannya kepada para pemangkukepentingan di universitasnya. 4. Kemampuan mengajar. Pustakawanharus dibekali dengan kemampuan mengajar, terutama dalam menyampaikan bimbingan dan juga dalam melakukan literasi informasikepada peserta didik. Tanpa kemampuan mengajar yang baik walaupun pustakawan tersebut menguasai teknik-teknik literasi diaakan kesulitan dalam menyampaikannya kepada para peserta didik,apalagi peserta didik di lingkunganuniversitas. 5. Kemampuan menulis. Kemampuan inisangat diperlukan dalam menyampaikanhasil-hasil kajiannya, terutama yangterkait dengan kebutuhan informasipara pemangku kepentingan perpustakaan universitasnya. 6. Kemampuan mengemas informasi. Produk-produk dan jasa perpustakaanseperti abstrak, indeks, tinjauanliteratur, pathfinder, panduan literaturdan informasi sekunder lainnya akansangat memerlukan kemampuan ini. 7. Kemampuan menyusun rencana strategis. Artinya pustakawan harusmampu menyusun rencana strategisperpustakaannya dalam menyiapkanlayanan yang akan diberikan kepadapara pemangku kepentingannya. Setiap kelompok pemangku kepentingan tersebut tentu memilikikebutuhan informasi yang berbedadan harus dipenuhi oleh pustakawandi perpustakaan perguruan tinggi. 8. Kemampuan mengelola informasi. Mengelola informasi sebagai pengetahuan (knowledge) dan memanfaatkannyasecara optimal untuk menghasilkanpublikasi ilmiah bermutu dan terbaru. 9. Kemampuan melakukan telaah sistemkepustakawanan. Kegiatan itu dapatdiartikan pustakawan sebagai pengendali mutu dalam operasionalperpustakaan, membantu kepala perpustakaan dalam monitoring danevaluasi manajemen perpustakaan,agar perpustakaan dapat terus berkembang maju (continuous improvement) memenuhi tuntutan parapemangku kepentingan.
Conclusion
Sesuai dengan level mediasi Kuhlthau, maka pustakawan hendaknyadalam bekerja harus menyesuaikan diridengan tingkatan kompetensinya. Seorang pustakawan dengan jenjangpustakawan utama atau yang bergelardoktor hendaknya mengerjakan pekerjaandengan level pekerjaan pada tingkatnya. Perpustakaan yang mempekerjakan pustakawan utama atau pustakawan yangbergelar doktor dengan pekerjaanpekerjaan level di bawahnya, makaperpustakaan tersebut dapat dikatakanmerugi karena mempekerjakan tenagayang over qualified. Kondisi ini dapatberdampak kepada kebijakan pemerintahdalam mengatur penjenjangan pustakawandi mana pekerjaan-pekerjaan pustakawanyang tinggi sekalipun dapat dikerjakan olehpustakawan dengan jenjang yang lebihrendah. Dengan demikian dapat memunculkan kesimpulan bahwa jabatanpustakawan tidak perlu jenjang yang tinggikarena jenjang rendah pun dapat menyelesaikannya.