Kembali
16
1
2023 Journal Papyrus : Sosial, Humaniora, Perpustakaan dan Informasi Vol 2 · 2 ISSN 2829-0690

PERILAKU PENCARIAN INFORMASI MAHASISWA PROGRAM STUDI S1 PERPUSTAKAAN DAN SAINS INFORMASSI UKSW MENGGUNAKAN MODEL KUHLTAU

Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perilaku pencarian informasi mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan model Kuhlthau, mengetahui perilaku pencarian informasi mahasiswa, sumber informasi yang digunakan, hambatan yang dihadapi, dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku kesulitan dalam pencarian informasi mahasiswa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam mengamati perilaku pencarian informasi mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan model Kuhlthau yang melibatkan 4 informan. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan penggunaan dokumen untuk mengumpulkan data yang terpercaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi dalam konteks penelitian ini mencerminkan tahapan-tahapan dalam teori Kuhlthau, yakni inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, pengumpulan informasi dan presentasi. Sebagian besar Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi dalam penelitian ini mengikuti tahapan model pencairan informasi Kuhlthau. Mereka memulai dengan tahap inisiasi, di mana mereka tertarik pada topik dan mulai mencari informasi yang relevan. Kemudian, mereka melanjutkan ke tahap seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi, dan evaluasi. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi mengikuti urutan tahapan yang sama atau dalam urutan yang dijelaskan oleh model pencairan informasi Kuhlthau.
Keywords: Perilaku Pencarian Informasi · Model Kuhlthau · Sumber Informasi

Introduction

Kebutuhan akan informasi tidak dapat dipenuhi dengan sendirinya tanpa ada upaya untuk menemukannya (Kebutuhan Informasi Di Era Informasi – Official Website of Library and Information Science Program Airlangga University, 2020). Kebutuhan akan sesuatu mempengaruhi bagaimana orang berperilaku. Ketika masalah muncul, fenomena ini akan menyebabkan orang bertindak dengan cara yang berbeda satu sama lain. Kebutuhan akan menimbulkan perasaan yang puas, menginginkan, atau mengharapkan jika hal tersebut dapat terpenuhi. Semua interaksi dengan sistem, apakah itu pada tingkat teknis atau in telektual atau melibatkan mentalitas seperti penerapan data atau informasi yang diambil, termasuk dalam perilaku ini (Syawqi, n.d.). Peneliti memilih mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Inforrmasi sebagai subjek penelitian karena melihat kenyataan bahwa untuk Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi cenderung menggunakan internet dalam melakukan pencarian informasi (Green, 2020). Kekurangan ini juga disebabkan oleh keterbatasan bahan pustaka, cara dan pengetahuan yang dimiliki setiap orang berbeda. Model Kuhlthau, yang membagi perilaku pencarian informasi menjadi beberapa tahap, adalah yang paling mudah diterapkan. Tahapan tersebut adalah: initiation, topic selection, exploration, focus formulation, collection, dan presentation. Karena ada beberapa tahapan yang harus diselesaikan sebelum menggunakan model perilaku pencarian informasi ini, sangat mudah bagi pengguna untuk menerapkannya, khususnya mahasiswa. Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW kadang mengalami kesulitan dalam melakukan pencarian informasi. Kecenderungan mahasiswa menggunakan internet membuat mereka bergantung kepada mesin pencarian (search engine) ketika melakukan pencarian informasi. Hal itu dikarenakan keterbatasan bahan pustaka yang kadang tidak ditemukan oleh mahasiswa ketika melakukan pencarian informasi. Mahasiswa ketika melakukan pencarian informasi tidak mernggunakan model Kuhlthau Model Kuhlthau digunakan oleh para peneliti untuk membantu pekerjaan mereka. Tuntutan akan informasi untuk menutup kesenjangan pengetahuan antara apa yang sudah diketahui dan apa yang masih harus dipelajari mendorong perilaku pencarian informasi (UNIVERSITAS INDONESIA PERILAKU PENCARIAN INFORMASI DOSEN Studi Kasus Di Jurusan Syari’ah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan TESIS, n.d.). Mahasiswa pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi yang mereka butuhkan dengan mengunjungi sumber informasi yang mereka sukai, seperti koleksi buku dan jurnal ilmiah, karena perpustakaan adalah tempat terdekat bagi mereka untuk mencari informasi yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas kuliah mereka. Oleh sebab itu Bagaimana Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi dalam mencari informasi? Maka dari itu Model Khulthau cukup umum untuk menjelaskan proses pencarian informasi dalam berbagai situasi. Dari model tersebut akan diketahui apakah situasi pencarian informasi Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Inforrmasi sesuai dengan tahapan atau tidak. TINJAUAN PUSTAKA Untuk melakukan suatu penelitian perlu adanya referensi dari penelitian terdahulu sebagai pendukung untuk melakukan suatu penelitian. Fungsi penelitian terdahulu sebagai acuan dan bahan pertimbangan dalam membandingkan antar variabel-variabel. Dalam penelitian terdahulu memiliki kesamaan maupun perbedaan dalam penelitiannya Pada penelitian yang dilakukan oleh Syahfitri (2020) untuk mengetahui bagaimana perilaku pencarian informasi mahasiswa prodi S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2017 dengan menggunakan model Khulthau di Taman Baca Fakultas Adab dan Humaniora UIN AR-Raniry dan apa kendala yang dihadapi mahasiswa dalam pencarian informasi, diperoleh informsasi bahwa penelitian deskriptif kualitatif dengan jumlah responden 121 orang dan menghasilkan suatu kesimpulan bahwa ketika melakukan pencarian informasi, mahasiwa S1 Ilmu Perpustakaan angkatan 2017 tidak semua menggunkan model Khulthau melainkan sesuai dengan keinginian mereka masing-masing. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dwiyana (2020) untuk mengetahui bagaimana perilaku pencarian informasi Mahasiswa Perpustakaan dan Ilmu Informasi 2016 melalui Pendekatan model Kulhthau, diperoleh informasi bahwa penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 32 orang, menghasilkan kesimpulan bahwa proses pencarian informasi dikalangan mahsiswa sudah tergolong baik dari segi menyadari pentingnya kebutuhan, mampu mengidentifikasi dan memilih informasi yang akan dicari dengan, sudah baik dari segi eksplorasi, sudah mampu memfokuskan informasi dan menjawab ketidaktahuan yang dirasakan diawal, dan sangat baik pada segi collection dan presentation. Artinya semua mahasiswa tersebut menggunakan model Khulthau dalam melakukan pencarian informasi. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Kuhlthau et.al (2008) untuk mengetahui kegunaan lanjutan Proses Pencarian Informasi Kuhlthau sebagai model perilaku informasi di lingkungan informasi baru yang kaya teknologi. Diperoleh informasi bahwa penelitian kuantitatif dan kulitatif dengan jumlah responden sebanyak 574 orang, menghasilkan kesimpulan bahwa model proses pencarian informasi tetap berguna untuk menjelaskan perilaku informasi siswa. Model ditemukan memiliki nilai sebagai alat penelitian serta untuk aplikasi praktis. Perbedaan pada penelitian yang akan dilakukan selanjutnya pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sain Informasi dengan model Kuhlthau yang lokasinya berada di Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana, perbedaan jumlah responden yang akan diteliti 4 informan (2018, 2019, 2020, dan 2021) karena dari 4 informan yang akan diteliti dapat mewakili jawaban di rumusan masalah. Persamaan pada penelitian yang akan dilakukan selanjutnya pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi dengan model Kuhlthau menggunakan metode kualitatif yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Syahfitri (2020). A. Perilaku Pencarian Informasi Perilaku pencarian informasi manusia bisa memengaruhi data akuntansi serta pengambilan keputusan, karena perilaku setiap individu pada umumnya didorong oleh kepentingan pribadi (SAINS, 2022). Perilaku pencarian informasi seseorang berbeda-beda, mereka mencari informasi sesuai dengan keinginannya. Salah satu cara para ahli mendefinisikan perilaku pencarian informasi adalah sebagai berikut. Perilaku pencarian informasi adalah aktivitas pencarian tingkat mikro, yang ditunjukkan seseorang saat terlibat dengan semua jenis teknologi informasi. Semakin tinggi kebutuhan informasi yang dibutuhkan maka semakin tinggi pula pencarian informasi yang dilakukan. Pola umum perilaku manusia yang melibatkan informasi dikenal sebagai perilaku informasi. Selama perilaku manusia membutuhkan, memikirkan, memperlakukan, mencari dan memanfaatkan informasi dari berbagai saluran, sumber dan media penyimpanan informasi lainnya, maka termasuk juga dalam pengertian perilaku informasi . Secara umum, perilaku informasi dipandang sebagai proses yang dimulai ketika seseorang menyadari bahwa dia membutuhkan informasi (Peneliti et al., 2016). Berbeda dengan proses serampangan, proses ini dilakukan dengan tujuan. Artinya, seorang pencari informasi dianggap mengetahui dan merencanakan dengan baik langkah-langkah yang diambil untuk mencari informasi. Wilson menegaskan bahwa ada sejumlah batasan perilaku informasi, seperti yang disebutkan oleh Yusuf dan Subekti. Beberapa batasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Perilaku informasi (information behavior) mengacu pada keseluruhan perilaku manusia yang berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk kebiasaan aktif dan pasif mencari dan memanfaatkan informasi. Dimungkinkan untuk mengklasifikasikan menonton televisi sebagai komunikasi antarmuka dan perilaku informasi. 2. Perilaku pencarian informasi (information searching behavior) mengacu pada upaya untuk menemukan sesuatu dengan tujuan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. 3. Ketika berinteraksi dengan sistem informasi, perilaku pencarian seseorang merupakan contoh dari perilaku pencarian informasi pada level mikro. Perilaku ini mencakup berbagai interaksi dengan sistem baik pada tingkat intelektual dan mental maupun pada tingkat interaksi dengan komputer (seperti menggunakan mouse atau mengklik link) (misalnya penggunaan strategi Boolean atau pengambilan keputusan). untuk memilih buku yang paling relevan di antara deretan buku di perpustakaan). 4. Ketika seseorang menggabungkan informasi yang dia temukan dengan pengetahuan mendasar yang sudah dia ketahui, ini dikenal sebagai perilaku pengguna informasi dan mencakup tindakan fisik dan mental. Akibatnya, perilaku pencarian informasi mengacu pada kecenderungan seseorang untuk mencari, mengevaluasi, dan menanggapi informasi. Ketika seseorang menyadari mereka membutuhkan informasi atau ketika mereka menerima dorongan dari orang lain untuk melakukannya, mereka akan terlibat dalam perilaku pencarian informasi. Wilson telah menyatakan bahwa perilaku informasi, perilaku pencarian informasi, perilaku pencarian informasi, dan perilaku penggunaan informasi adalah beberapa contoh batasan yang berlaku untuk perilaku pencarian informasi. B. Model Perilaku Pencarian Informasi Menurut Khulthau Perilaku pencarian informasi memiliki beberapa model untuk menemukan dan memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Informasi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pengguna dan merasa puas dengan hasil yang didapatkan. Berikut ada gambar yang akan akan digunakan untuk menampilkan proses perilaku pencarian informasi menurut Khulthau. Gambar 1. Model Kuhlthau, Proses Pencarian Informasi Sumber:https://www.isipii.org/artikel/kuhlthau-dan-kontribusinya-terhadappengembangan-ilmu-informasi Menurut Khulthau (1991) tahap-tahap yang perlu dilalui oleh seseorang dalam mencari informasi adalah sebagai berikut. 1. Initiation Tahap ini muncul ketika individu menyadari kebutuhan akan informasi spesifik. Tahap awal ini ditandai oleh perasaan ketidakpastian, yang mendorong usaha untuk mengaitkan situasi saat ini dengan pengalaman masa lalu yang relevan dalam rangka mencari informasi. 2. Topic Selection Pada tahap ini, pencari informasi mulai merasa optimis karena informasi yang mereka temukan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Mereka mulai mengarahkan pemikiran mereka untuk mempertimbangkan informasi yang telah ditemukan dengan menggunakan berbagai kriteria, seperti kepentingan pribadi, persyaratan tugas yang harus diselesaikan, sumber informasi yang tersedia, dan ketersediaan waktu. Selain itu, mereka juga mulai berdiskusi dengan teman-teman dan menerapkan pendekatan yang lebih terstruktur dalam memilih informasi. 3. Prefocus Exploration Setelah menyelesaikan tahap seleksi, pengguna informasi merasa bingung dan tidak yakin karena keraguan mereka semakin meningkat. Keraguan ini muncul karena konsep yang mereka miliki tentang kebutuhan informasi tidak relevan dengan informasi yang telah mereka peroleh. Untuk mengatasi situasi tersebut, mereka mulai mengarahkan pola pikir mereka untuk mencari titik orientasi yang dapat membantu mereka menemukan sudut pandang yang sesuai dengan kepentingan mereka. 4. Focus Formulation Tahap ini memiliki peranan penting, karena ketidakpastian mulai hilang dan keyakinan diri mulai meningkat. Pikiran mereka telah terfokus untuk memilih ide-ide dari informasi yang telah mereka kumpulkan untuk membentuk topik yang sedang mereka fokuskan. 5. Information Collection Pada fase ini, pengguna berinteraksi dengan komponen sistem yang paling kuat dan efektif. Tugasnya adalah mencocokkan informasi yang dikumpulkan dengan kebutuhan sambil mengidentifikasi informasi yang berkaitan dengan kebutuhan. 6. Search Closure Tahap ini menandai kesimpulan dari pencarian informasi, yang akan memiliki dua hasil: puas atau tidak puas. Artinya, teori Khultau memiliki enam tahapan: inisiasi, pemilihan topik, eksplorasi prafokus, perumusan fokus, pengumpulan informasi, dan penutupan pencarian. Khultau menjelaskan enam tahapan, dari awal proses pencarian informasi sampai pada titik di mana informasi yang diinginkan ditemukan.

Method

Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kualitatif, yaitu suatu pendekatan penelitian yang menghasilkan materi deskriptif berupa tuturan atau tulisan dan tingkah laku yang dapat dilihat pada subjek itu sendiri. Dalam penelitian kualitatif, fokusnya adalah pada karakteristik yang paling signifikan dari karakter barang atau jasa (Dr et al., n.d.). Fenomena sosial atau lingkungan sosial yang terdiri dari pelaku, peristiwa, tempat, dan waktu diselidiki dan dilanjutkan dalam penelitian kualitatif. Teknik wawancara, observasi, dan penggunaan dokumen banyak digunakan dalam penelitian kualitatif (Busetto et al., 2020). Untuk mendapatkan data yang terpercaya, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin mengamati secara langsung fenomena dan kejadian di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan gambaran komprehensif tentang perilaku pencarian informasi Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW dengan menggunakan model Kuhltau. Penelitian ini dilakukan di lokasi yang sesuai dengan informan. Mahasiswa dari Program Studi Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi di UKSW dipilih oleh penulis untuk memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana mereka mencari informasi, karena mereka masih aktif dalam proses belajar. Lebih mudah untuk melakukan dan mengamati wawancara ketika dilakukan di lokasi yang tepat. Penelitian dilakukan sepanjang bulan Januari-April 2023. Fokus penelitian memiliki dua tujuan, dan penting untuk menetapkannya sebelum memulai penelitian kualitatif apa pun. Penelitian dapat dibatasi terlebih dahulu oleh pilihan fokus. Kedua, keputusan dibuat untuk memenuhi kriteria inklusi-eksklusi atau mencakup pengungkapan data lapangan yang baru diperoleh (Kassiani Nikolopoulou, 2022). Karena banyaknya fenomena yang terkait dengan tempat, pelaku, dan tindakan dalam bidang studi ini, tetapi tidak semua fenomena ini diteliti, fokus penelitian berfungsi sebagai pembatasan. Dengan demikian, menarik garis yang disebut fokus penelitian untuk memutuskan penelitian mana yang akan diikuti. Penetapan fokus adalah penentuan fokus dalam bahasa Indonesia. Hal ini digunakan untuk membatasi penelitian, dan menentukan fokus bertujuan untuk mencapai tujuan penelitian (Mathematics, 2016). Karena keterbatasan kemampuan, waktu, sumber daya, dan kapasitas peneliti, mereka fokus pada isu-isu yang diidentifikasi. Model Kuhlthau digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis Perilaku Pencarian Informasi mahasiswa Program Studi Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi di UKSW. Subjek dan Objek Penelitian Individu yang dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian atau studi diambil dari kelompok yang lebih besar sebagai subjek penelitian. Peserta penelitian adalah empat mahasiswa dari Program Studi Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi di UKSW, yang mewakili berbagai tahun akademik, karena keempat informan ini dapat memberikan kontribusi dalam memecahkan masalah yang ada. Sifat dari objek, orang, atau situasi organisasional yang menjadi pusat perhatian berfungsi sebagai subjek penelitian (Change et al., 2021). Variabelvariabel yang diamati di lokasi penelitian adalah apa yang disebut sebagai objek penelitian. Sifat, jumlah, dan kualitas situasi dapat melibatkan tindakan, perilaku, pendapat, perspektif penelitian, manfaat dan kerugian, simpati dan perasaan antagonis, kondisi mental, dan proses. Objek penelitian ini adalah Perilaku Pencarian Informasi mahasiswa Program Studi Sarjana Perpustakaan dan Sains Informasi UKSW menggunakan model Kuhlthau.

Discussion

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap informan yang diteliti, terdapat sejumlah perilaku yang dapat dideskripsikan berdasarkan teori Kuhlthau dalam enam tahapan sebagai berikut: Tahap Inisiasi (Initiation): Pada tahap ini, mahasiswa menyadari pentingnya informasi dan menentukan topik atau subjek yang akan dicari sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagian besar mahasiswa mengumpulkan terlebih dahulu topik atau subjek sebelum mencari informasi, sementara ada juga yang langsung mencari informasi tanpa persiapan. Mereka menggunakan artikel jurnal, buku, dan sumber online seperti internet untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Tahap Seleksi (Topic Selection): Pada tahap ini, pengguna informasi mulai melakukan seleksi informasi yang sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka menggunakan media cetak seperti buku dan jurnal, serta sumber online seperti situs web resmi, Google Scholar, dan Portal Garuda. Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi sering mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku, dan jika informasi yang dibutuhkan tidak tersedia di sana, mereka mencari informasi melalui internet dengan menggunakan kata kunci atau keyword. Tahap Eksplorasi (Prefocus Exploration): Setelah melalui tahap seleksi, pengguna informasi mengalami kebingungan dan keraguan yang semakin meningkat karena konsep yang ada dalam pikiran mereka tidak relevan dengan informasi yang ditemukan. Mereka mulai menemukan titik orientasi dengan membaca dan memeriksa sumber informasi yang dipilih. Pengguna informasi menggunakan katalog online (OPAC), daftar pustaka, daftar isi di perpustakaan, dan melakukan penelusuran informasi dengan mengetik kata kunci di mesin pencari seperti Google. Tahap Formulasi (Focus Formulation): Pada tahap ini, pengguna informasi memilih ide-ide dari informasi yang dikumpulkan untuk membentuk topik yang sedang ditekuni. Setelah yakin dengan informasi yang dipilih, mereka menyusun makalah sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh dosen. Mahasiswa menyimpan informasi yang telah dikumpulkan dalam sebuah folder dengan tujuan memudahkan pencarian kembali informasi di masa yang akan datang. Informasi disusun dalam bentuk makalah atau presentasi sesuai dengan kerangka yang telah ditentukan. Tahap Pengumpulan Informasi (Information Collection): Pada tahap ini, pengguna informasi mencocokkan informasi yang dikumpulkan dengan kebutuhan mereka dan mengidentifikasi informasi yang relevan. Mahasiswa menyimpan informasi yang telah dikumpulkan dalam folder khusus untuk memudahkan akses di masa depan. Presentasi (search closure): Pada tahap presentasi (search closure) dalam proses pencarian informasi, mahasiswa mempresentasikan informasi yang telah mereka temukan kepada orang lain. Dalam presentasi tersebut, mereka menggunakan hard copy atau PowerPoint (PPT) sebagai media penyajian. Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa merasa puas dengan informasi yang mereka temukan, namun mereka tetap mencari informasi yang relevan jika tidak puas. Mereka lebih mengandalkan sumber-sumber resmi seperti PDF dan buku daripada blog. Presentasi dilakukan dalam bentuk softfile menggunakan PPT. Dalam pencarian informasi, Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi menghadapi beberapa kendala, antara lain: Penggunaan Judul: Judul yang tidak mencakup kata kunci atau tidak akurat dapat menyulitkan dalam menemukan sumber informasi yang relevan. Hal ini juga dapat membuat orang mengira isi informasi tersebut tidak relevan, sehingga kurang tertarik untuk membacanya. Bahasa yang Sulit Dipahami: Bahasa ilmiah atau bahasa asing dalam buku atau jurnal dapat menjadi kendala bagi mahasiswa. Kesulitan memahami bahasa tersebut menyulitkan pemahaman terhadap isi materi secara keseluruhan. Koleksi Bahan Pustaka Tidak Memadai: Kurangnya jumlah, jenis, atau kualitas bahan pustaka di perpustakaan dapat menghambat pencarian informasi. Beberapa sumber informasi yang diperlukan mungkin tidak tersedia di perpustakaan. Jaringan Internet yang Buruk: Koneksi internet yang tidak memadai di perpustakaan membuat mahasiswa lebih memilih mencari informasi di tempat lain dengan koneksi yang lebih baik, seperti di kost atau menggunakan paket data pribadi.

Conclusion

Model pencairan informasi Kulthau menjelaskan enam tahapan dalam proses pencarian informasi: inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi, dan evaluasi. Mayoritas informan dalam penelitian ini mengikuti urutan tahapan tersebut. Mereka mulai dengan tahap inisiasi, merasa tertarik pada topik, dan mencari informasi yang relevan. Kemudian, mereka melakukan tahap seleksi untuk memilah informasi yang relevan dan tidak relevan. Selanjutnya, mereka melanjutkan ke tahap eksplorasi untuk mencari informasi lebih dalam dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang topik. Pada tahap formulasi, mereka mulai merumuskan pemikiran dan ide-ide mereka tentang topik tersebut. Tahap koleksi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tambahan yang diperlukan guna memperdalam pemahaman. Pada tahap evaluasi, informan mengevaluasi informasi yang telah dikumpulkan untuk memastikan relevansi dan keandalannya. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua Mahasiswa Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi mengikuti urutan tahapan yang sama atau sesuai dengan model pencairan informasi Kulthau. Terdapat variasi dalam proses pencarian informasi, tergantung pada konteks dan tujuan pencarian informasi individu. Beberapa informan, terutama yang memiliki pengalaman dan keterampilan pencarian informasi yang lebih baik, mungkin tidak perlu melakukan tahap inisiasi karena sudah terbiasa dan langsung melangkah ke tahap seleksi atau tahap lainnya.