Prospek CDS/ISIS di Internet
Institut Pertanian Bogor
Introduction
Akhir-akhir ini kata internet menjadi sebuah kata kunci penting di bidang teknologi informasi. Internet sendiri berasal dari kata inter (antar) dan network (jaringan). Internet tersebut pada awalnya dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dikenal sebagai ARPA-net (Advanced Research Project Agency Network) pada tahun 1969 tersebut mulai marak di Indonesia pada dekade 1990an. Dimulai dari instansi pemerintah dan perguruan tinggi seperti Ipteknet BPPT, Paguyuban network ITB, UI dan lain-lain, yang kemudian diikuti oleh provider swasta seperti Indointernet, RADnet, Sistelindo Mitralintas, IDOLA-net, Wasantara-net, dan lain-lain. Internet di Perpustakaan Internet merupakan sistem jaringan antar komputer di dunia yang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Internet tersebut menjadi sangat populer bagi pencari maupun penyedia informasi termasuk perpustakaan. Ribuan perpustakaan di dunia terhubung ke internet sehingga dapat diakses oleh jutaan pemakai baik secara individual maupun organisasi. Internet di perpustakaan segera menjadi populer karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain:Dapat mengakses informasi ke sumber-sumber yang tidak terbatas sehingga pemakai sangat leluasa berkelana mencari informasi yang dibutuhkan. Pemakai dapat melakukan akses ke pangkalan data multimedia, sehingga mereka dapat memperoleh data berupa teks, audio, dan grafis yang sangat mutakhir seperti ramalan cuaca yang diperbaharui setiap jam sesuai dengan perubahan yang terjadi. Dapat memperoleh data atau informasi dari suatu negara, walaupun negara tersebut memberlakukan sensor yang sangat ketat. Dapat melakukan akses informasi dimana saja dan kapan saja seperti dari rumah, di perjalanan, pada siang hari ataupun tengah malam. Bagi penyedia informasi dapat melakukan promosi koleksi yang dimilikinya kepada pemakai baik secara nasional maupun internasional. Bagi penyedia informasi khususnya perpustakaan dapat melakukan resource sharing (pemanfaatan koleksi secara bersama). Bagi masyarakat peneliti dan dosen internet dapat digunakan sebagai sarana untuk mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya dengan berkomunikasi antar peneliti/dosen baik melalui telekonferensi maupun surat elektronik. Prospek CDS/ISIS di Internet Penelusuran informasi dengan kriteria-kriteria tertentu selalu menjadi tantangan yang menarik sesuai dengan perubahan dan kemajuan teknologi. Akhir-akhir ini penelusuran informasi di internet menjadi topik hangat di kalangan pencari dan pengelola informasi. Hal tersebut terkait dengan peluberan informasi dan kemajuan teknologi untuk memproduksi,mengumpulkan, menyimpan dan memproses informasi secara mudah dan murah. Ketika World Wide Web dikenalkan, fasilitas penelusuran pangka-lan data belum tersedia di Web. Namun dengan munculnya tuntutan produsen dan pemakai informasi maka akhir-akhir ini sudah mulai banyak diperkenalkan program aplikasi untuk penelusuran pangkalan data di internet. CDS/ISIS merupakan suatu program aplikasi bibliografis yang dibuat untuk sistem informasi bibliografi di perpustakaan, pusat informasi dan pusat-pusat dokumentasi (PUSDOKINFO, selanjutnya disebut perpustakaan). CDS/ISIS sangat populer dikalangan pustakawan mau-pun ahli-ahli Informasi dan dipakai secara luas di banyak perpustakaan. Saat ini kita mengenal banyak versi CDS/ISIS yang bisa dijalankan di - berbagai platform. Semua versi CDS/ISIS tersebut dikembangkan dan dipelihara oleh UNESCO. Namun sampai saat ini program tersebut belum dapat berfungsi sebagai DATABASE SERVER. Dengan adanya desakan para pemakai ACDS/ISIS berbagai pihak yakin. UNESCO, bakan mengembangkan CDS/ISIS seperti tuntutan para pemakai yaitu agar program ini dapat langsung diakses melalui internet. Desakan pemakai ini akan menentukan arah pengembangan CDS/ISIS ke depan. Salah satu contoh saat ini CDS/ISIS sudah dikembangkan kearah ISIS versi windows (yaitu WINISIS). Walaupun CDS/ISIS yang ada sekarang belum dikembangkan kearah DATABASE SERVER, namun penelusuran informasi melalui internet ke pangkalan data CDS/ISIS sudah bisa dilakukan. Banyak pihak telah me- ngembangkan program interface untuk akses ke Web. Beberapa pihak yang telah mengembangkan program interface tersebut adalah WWISIS dari BireremoWaisISIS dari CCHC ISISWWW dari Nienhaus Websis dari the Infocentre Dan lain-lain Bahkan ITB telah melakukan ujicoba integrasi pangkalan data CDS/ISIS menjadi Web-based. Secara sederhana usaha ini diilustrasikan sebagai berikut:Isis dipakai seperti apa adanya, hanya seluruh data diletakkan di Novell Server supaya memudahkan transfer data ke Web dalam bekerja. Data ASCII dari ISIS diletakkan di Web. Pada Web Server dijalankan program untuk melakukan search dari file ASCII Text. Informasi ISIS dapat dengan mudah ditelusuri melalui internet dengan cara memasukkan kata kunci. User internet menggunakan Netscape/browser akan memperoleh tayangan data yang cocok dengan keyword. Beberapa lembaga/perorangan mencoba membuat Dynamic Software yang merupakan jembatan antara Web Server dengan Data ISIS. Salah satu contoh software Dynamic disini adalah WEBSIS yang dibuat dengan bahasa C. Websis disini menjembatani antara Web Server dan data CDS/ISIS (lihat gambar). Pengguna mengirim kata kuncinya (pertanyaannya) melalui Web ke Web Server yang kemudian ditransfer ke Websis. Kemudian Websis melakukan penelusuran standar menurut CDS/ISIS. Hasil penelusuran tersebut dikembalikan. oleh Websis ke pemakai atau ditayangkan dalam Web sehingga seolah-olah pemakai melakukan penelusuran ke Web Server. kebanyakan program interface tersebut dapat diperoleh secara gratis dari internet melalui proses FTP (download). Anda tinggal memutuskan program interface yang mana yang sesuai dengan kebutuhan dan platform yang tersedia pada komputer (Web server) anda. Beberapa interface tersebut bisa jalan pada platform:Digital ULTRIX Digital ALPHA HP 9000/816 HP-UX 09.04 IBM AIX 3.2.5 Linux SUN os 4.1.3 SUN Solaris 2.4 KENDALA Implementasi program interface Web untuk akses ke pangkalan data CDS/ISIS bagi perpustakaan tidak terlalu mudah. Beberapa ken-dala antara lain adalah:a. Kendala hardware Perpustakaan biasanya sangat sulit ak-ses ke Web Server, apalagi memiliki Web Server sendiri. Dalam hal ini akses mem-punyal pengertian mengelola file-file yang ada di Web server. Paling banter per-perpustakaan hanya bisa menjadi pelanggan internet dari hanya bisa mejalankan Web Browser. Dalam keadaan seperti ini sa-ngat sulit bagi perpustakaan untuk men-jadi penyedia data, dalam hal ini data perpustakaan yang disimpan dalam CDS./ISIS. b. Sumberdaya Manusia Tidak banyak perpustakaan yang memiliki SDM yang menguasai pengetahuan Teknologi Informasi maupun dasar-dasar pemrograman yang balk. Selain pengua-saan terhadap pengetahuan teknologi informasi dan pemrograman, SDM tersebut dituntut untuk me-miliki minat dan per-hatian yang besar terhadap teknologi infor-masi. c. Infrastuktur Secara umum kondisi infrastruktur tekno-logi informasi di Indonesia belum meng-gembirakan. Misalnya masih sering terjadi pemutusan arus, listrik tiba-tiba, saluran te-lepon yang belum "bersih", jaringan kom-puter yang belum siap dan sebagainya-dan sebagainya. d. Budaya Sering kita menghadapi teknologi Informasi canggih, namun kebiasaan kebi-asaan kita belum beru-bah. Misalnya saja, mematikan komputer belum mengikuti pro-sedur yang benar, dan sebagainya. e. Dana Pada akhirnya, dana merupakan faktor yang menjadi kendala pada pengem-bangan teknologi informasi, khususnya dalam implementasi program interface Ke Web server tersebut. Masih banyak per-perpustakaan yang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan dana sekedar membeli koleksi perpustakaan. Belum ter-pikirkan bagi mereka untuk sekedar meng-gunakan komputer pribadi (PC), apalagi untuk Internet.