Kembali
16
1
2017 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 6 · 1 Seri C ISSN 2302-3511

KEMAS ULANG INFORMASI TANAMAN OBAT-OBATAN BAGI SUKU SAKAI DI DAERAH RIAU

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

The purpose of this research are: (1) to explain what kind of medicinal plants for Sakai Tribe in Riau Region, (2) to describe how to repackage information about medicinal plants for Sakai Tribe in Riau Region. Data was collected through observation and interview with Sakai Riau Customary Chief and Sakai Riau indigenous house guard officer. The writing of this paper used qualitative descriptive method. Data obtained through observation and direct interviews with the Chief of Customs and community Sakai District Riau. Based on the research concluded the things as follows. First, the types of medicinal plants for the Sakai Tribe in Riau Region, consisting of 21 plants, Second, the way of repackaging the information of medicinal plants for the Sakai Tribe in Riau Region hasstages and the design of the book, the stages are: (1 ) Identifying user needs, (2) Collecting information and selection of information sources, (3) Selecting sources containing useful information values, (4) Evaluating the validity of information, (5) Meriview, analyzing, extracting information into information form Which is more efficient for the user, (6) repackage of information into a form appropriate to the needs of users of information, (7) Distributing information by means of promotion. The design of the book as a promotional material is: (1) Prepare the framework of writing, (2) Cover Making, (3) Preface, (4) Table of contents, (5) The content of the book, (6) Closing.
Keywords: Information Repackaging · Medicinal plants · Sakai tribe · Riau

Introduction

Kegiatan menanam dan mengobati menggunakan tanaman sudah sering dilakukan oleh masyarakat Suku Sakai yang berasal dari Daerah Riau tepatnya di Desa Kesumbo Ampai, mereka selalu menggunakan tanaman sebagai obat ketika sakit, dan itu sangat membantu kesehatan mereka hingga saat sekarang ini. Resep pengobatan dari Suku Sakai ini sangat berguna bagi masyarakat umum dalam kegiatan pengobatan, karena selain alami tanaman-tanaman tersebut sudah ada disekeliling kita yang telah banyak di sia-siakan oleh masyarakat karena ketidaktahuan informasi tersebut. Menurut (NS, 2005, hal. 65) informasi dapat diartikan secara sempit yaitu penerangan, keterangan, kabar, berita, dan pesan. Sedangkan secara luas dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan, misalnya informatika dan sistem informasi. Sedangkan menurut (Wicaksono, 2004, hal. 12) Informasi adalah sesuatu yang kita bagi melalui beragam media komunikasi (Information is something that we share). Informasi sama dengan pengetahuan yang dibagi atau telah dikomunikasikan melalui berbagai media (Information is share knowledge). Dapat disimpulkan informasi adalah ilmu pengetahuan, keterangan, kabar, berita yang kita publikasikan menggunakan berbagai media komunikasi. (Rosawidyawan,2012) menjelaskan secara harfiah, Kemas Ulang Informasi atau Information Repackaging adalah mengemas informasi kembali, atau mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk lainnya. Menurut (Fatmawati,2016) Kemas ulang informasi merupakan kegiatan penataan ulang yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan kemas ulang informasi adalah Kemas ulang informasi adalah mengemas kembali informasi atau mentransfer dari satu bentuk ke bentuk lain dengan kemasan yang lebih menarik. Dalam jurnalnya (Fatmawati, 2014, hal. 2) menurut Agada, tujuan kemas ulang informasi adalah untuk menempatkan, menemukan kembali, mengevaluasi, menginterpretasikan dan mengemasinformasi tentang subjek tertentu dalam rangka efektifitas dan efisiensi waktu, tenaga,biaya yang semua diperuntukkan bagi pengguna. Menurut kenyataannya kegiatan kemas ulang informasi masih belum diterapkan sepenuhnya baik di perpustakaan, media sosial, media cetak dan media elektronik. Salah satu informasi yang membutuhkan kegiatan kemas ulang adalah informasi mengenai tanaman obat-obatan, kesehatan dan berbagai informasi lainnya. Bahkan masih banyak informasi yang berbeda disatukan dalam satu buku atau majalah langganan dan mengakibatkan sulitnya pengguna informasi dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Menurut (Nugroho, 2008) Kemas ulang informasi dalam bahasa Inggris adalah repackaging information (pengemasan informasi), pengemasan informasi adalah salah satu kegiatan jasa informasi yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai. (Pudjiastuti,2013) Kemas ulang informasi adalah mengemas informasi kembali, atau mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk lainnya. Kemas ulang informasi bisa berupa perubahan bahasa satu ke bahasa lain, misalnya terjemahan, intepretasi, dan bisa pula berupa perubahan fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis, risalah, bahkan anotasi. Jadi intinya, Informasi dikemas ulang agar dapat secara langsung dimanfaatkan pemakai atau pengguna informasi tanpa harus mengumpulkan, memilih atau mengolah terlebih dahulu pemakainya (manfaat langsung pakai). Menurut (Nugroho, 2008)Tujuan utama kemas ulang informasi adalah untuk menyajikan informasi ke dalam bentuk kemasan agar informasi tersebut lebih dapat diterima, lebih mudah dimengerti,dan dimanfaatkan pengguna. Sementara menurut Agada (1995) dalam jurnal (Fatmawati, 2014)tujuan kemas ulang informasi adalah untuk menempatkan, menemukan kembali, mengevaluasi, menginterpretasikan dan mengemas informasi tentang subjek tertentu dalam rangka efektifitas dan efisiensi waktu, tenaga, biaya yang semua diperuntukkan bagi pengguna. Menurut (Nugroho, 2008) Beberapa tahapan dalam proses pengemasan informasi yaitu : (a) Mendaftar dan mengidentifikasi tujuan;(b) Memeriksa atau mensurvei profil pemakai dan kebutuhan informasinya atau menganalisis kebutuhan informasi pemakai;(c) Memilih sumber-sumber yang mengandung informasi berguna; (d) Mengevaluasi validitas dan reliabilitas informasi; (e) Mereview, menganalisis, mensintesa dan mengekstrak informasi kedalam bentuk informasi yang lebih efektif dan efisien bagi pemakai; (f) Mengemas kembali informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pemakai; (g) Menyebarkan informasi dengan cara promosi, pendidikan pemakai dan memasarkan informasi tersebut;(h) Mengevaluasi timbal balik dari pemakai. (Fatmawati, 2014) Saat ini dengan berkembangnya teknologi informasi di bidang perpustakaan dokumentasi dan informasi, bentuk kemasan informasi dapat dilakukan dengan lebih bervariasi. Tidak melulu secara tercetak saja namun juga dapat dikemas secara digital, misalnya: CD edukatif, CD teknologi tepat guna, buku elektronik (e-book), majalahelektronik (e-journal), maupun kliping elektronik (e-klip).Berbagai kemasan informasi dibuat sesuai dengan kebutuhan informasi bagi pemakai.Selanjutnya berbagai macam sumber informasi di perpustakaan dapat dikemas denganberagam bentuk, antara lain: (1) Bibliografi, biasanya diterbitkan oleh perpustakaan atau badan penerbit dengantujuan untuk disebarkan kepada perpustakaan lain sebagai bahan rujukan bagipencari informasi baik secara tercetak atau terekam. Jenis bibliografi ada duamacam yakni bibliografi umum dan khusus; (2) Sari karangan, biasanya memuat keterangan seperti latar belakang, tujuan, sasaran,metode, kesimpulan dan saran yang terdapat pada dokumen aslinya. Jenis sarikarangan yang dibuat bisa sari karangan indikatif maupun sari karangan informatif; (3) Jasa penyebaran informasi ilmiah mutakhir, meliputi SDI (Selected Disseminationof Information/terseleksi) dan CAS (Current Awareness Services/terbaru) berupalembar informasi maupun paket informasi. Melalui layanan ini diharapkanpengguna selalu memperoleh informasi mutahir secara teratur dan terus menerussesuai dengan bidang minat dan spesialisasinya. Informasi tersebut kemudiandikemas menjadi majalah kesiagaan informasi; (4) Pangkalan data, dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:(a) Pangkalan data lokal, untuk memenuhi kebutuhan informasi melalui server lokalbaik berupa soft file maupun CD ROM;(b) Pangakalan data online, berisi berbagai publikasi yang disajikan dalam website.Misalnya: ProQuest, EBSCO, IEEE database; (5) Media pandang dengar (audio visual). Kemasan informasi ini berbentuk gambar dansuara sehingga lebih menarik. Media pandang dengar umumnya dapat berupa profil perpustakaan, program pendidikan pemakai, serta media promosi jasa layananperpustakaan. Misalnya: CD interaktif, VCV, DVD, audio-video cassete; (6) Multi media. Sasaran pengguna pada bentuk pengemasan multi media ini umumnyaadalah kelompok. Misalnya pada saat ada pameran perpustakaan, pengunjungdisuguhkan beragam informasi mengenai jasa layanan perpustakaan serta petunjukcara mengaksesnya; (7) Kumpulan abstrak, diawali dengan menelusur, menscan data bibliografis danabstraknya berdasarkan bidang ilmu yang berasal dari sumber informasi ilmiah.Selanjutnya kumpulan abstrak tersebut dikemas dalam bentuk majalah abstrak; (8) Indeks artikel, terdiri dari indeks artikel jurnal dan indeks artikel majalah.Kumpulan indeks artikel tersebut kemudian bisa dijadikan majalah indeks; (9) Prosiding, kumpulan makalah yang dihimpun dari hasil seminar, diskusi panel, lokakarya, sarasehan, workshop, simposium, semiloka, maupun temu ilmiah lainnya; (10) Publikasi cetak lainnya. Sebagai media promosi dan penyebaran informasi untukmemperkenalkan jasa perpustakaan yang dapat diberikan kepada pengguna. Antaralain: (a) Selebaran, lembaran kertas yang disebarkan kepada pengguna, biasanya berisipublikasi koleksi terbaru; (b) Newsletters, merupakan terbitan penting karena lebih fleksibel dalam hal topik yang dicakupnya dan bentuk isi atau kandungannya; (c) Leaflet, sehelai kertas berupa lembaran tunggal dan biasanya dilipat menjadi empat atau beberapa halaman; (d) Pamflet, penerbitan insidental dengan jumlah satu halaman dan disebarluaskansecara cuma-cuma kepada pengguna yang datang ke perpustakaan; (e) Brosur, buku tipis biasanya tidak lebih dari 12 halaman dan isi informasinyalebih lengkap daripada selebaran dan leaflet. Misalnya: pedoman perpustakaan,daftar majalah/jurnal, informasi koleksi khusus, tambahan koleksi buku baru; (f) Poster, plakat berisi sebuah informasi mengenai perpusdokinfo dan dipasangsecara umum di papan pengumuman; (g) Banner, secara umum didefinisikan sebagai poster, memiliki ukuran lebih besar dua sampai dengan empat kali ukuran poster atau memiliki lebar danpanjang melebihi ukuran poster A3, A2, A1 dan A0; (h) Spanduk, kain rentang berisi informasi perpusdokinfo dan disebarkan dengantujuan agar diketahui masyarakat secara umum. Menurut (Putra, 2013, hal. 1) secara umum, pengertian dari tanaman obat atau obat herbal adalah obat yang berasal dari seluruh atau sebagian dari tumbuhtumbuhan. Namun sebenarnya, istilah herbal ini memiliki arti tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayuatau tanaman yang bersifat perdu. Obat herbal juga disebut sebagai phytomedicine atau obat botani. Salah satu tujuan dari pengobatan herbal adalah membantu tubuh mengembalikan keharmonisan atau keseimbangan tubuh. Pembuatan kemas ulang informasi ini bertujuan untuk (1) menjelaskan apa saja jenis tanaman obat-obatan bagi Suku Sakai di Daerah Riau; (2) mendeskripsikan cara-cara dalam pengemasan ulang informasi tentang tanaman obat-obatan menjadi suatu kemasan yang menarik.

Method

Penulisan makalah ini menggunakan metodedeskriptifkualitatif yaitu terdiri dari pengamatan (observasi) dan wawancara (interview). Data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung dengan masyarakat Suku Sakai Daerah Riau. Teknik yang dilakukan dalam wawancara menggunakan teknik terstruktur sebagian yaitu dimulai dengan suatu pancingan secara umum dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dirancang. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Kusumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau dan objek penelitian adalah tanaman obat-obatan dan Suku Sakai di Desa Kusumbo Ampai. Sumber data di peroleh dari Kepala Adat dan Pengurus Lembaga Adat Suku Sakai di Desa Kusumbo Ampai. (Yasin, 2011, hal. 45) Instrumen tergantung kepada jenis data yang akan dikumpulkan. Ada dua jenis data: (1) data kuantitatif dan (2) data kualitatif. Karena itu, instrumen juga terdiri dari dua macam, yaitu instrumen untuk mengumpulkan data kuantitatif dan instrumen untuk mengumpulkan data kualitatif. Penelitian ini dilakukan menggunakan instrumen kualitatif yaitu observasi dan wawancara langsung dengan masyarakat Suku Sakai Daerah Riau. Observasi dan wawancara ini dibantu menggunakan alat perekam audio guna membantu mencatat interaksi lisan antar yang diteliti, serta foto guna mendokumentasikan kegiatan dan rekaman video guna melanjutkan kelebihan dari foto dan rekaman audio.

Discussion

1. Jenis Tanaman Obat-obatan Suku Sakai di Daerah Riau Berdasarkan observasi dan wawancara terdapat 21 Jenis tanaman obatobatan Suku Sakai di Daerah Riau yang diketahui, tetapi masih banyak lagi jenis tanaman yang terdapat di dalam hutan yang belum terlihat, 21 macam yang boleh di ketahui yaitu: Daun Keladi Hutan, Daun Usap, Daun Sikududuk, Daun Tombo, Buah Limau Paga, Daun Coco Bebek, Kunyit Bolai, Urek Petoga, Akar Kukunyit, Daun Binahong, Bunga Pukul 4, Tapak Dara, Petundu, Petalo Bumi, Dudukung Anak, Putri Malu, Akar Bolu, Kumis Kucing, Akar Tiga, Bakung, Selasih. Proses Pengemasan Ulang Informasi tentang Tanaman Obat-obatan bagi Suku Sakai di Daerah Riau. Pengemasan ulang informasi tentang tanaman sebagai obat-obatan bagi suku Sakai ini dilakukan dengan cara melakukan penelitian langsung ke Desa Kusumbo Ampai dengan melakukan survei lapangan ke dalam hutan di Desa Kusumbo Ampai dan mewawancarai narasumber yang bekerja sebagai petugas penjaga rumah Adat Suku Sakai tersebut. Proses yang dilakukan untuk mengemas ulang informasi tentang tanaman obat-obatan bagi Suku Sakai meliputi beberapa tahapan, yaitu :(a) Melakukan identifikasi kebutuhan pengguna yaitu dengan melihat ketertarikan masyarakat luas yang bukan penduduk Suku Sakai terhadap tanaman obat-obatan; (b) melakukan pemeriksaan pengumpulan informasi serta pemilihan sumber informasi yaitu dengan mendata kemauan masyarakat terhadap tanaman obat - obatan serta memberikan informasi yang tepat sesuai kebutuhan pengguna; (c) memilih sumber-sumber yang mengandung nilai informasi yang berguna, sumber informasi dipilih berdasarkan hasil observasi lapangan serta wawancara terhadap beberapa narasumber dan informasi yang didapat dari beberapa jurnal dan artikel ilmiah; (d) mengevaluasi validitas informasi yaitu setelah melakukan wawancara terhadap narasumber selanjutnya langsung mengevaluasi kebenaran dari penjelasan narasumber dengan melihat langsung ke lapangan untuk mencari tanaman obat-obatan tersebut; (e) Mereview, menganalisis, mengekstrak informasi kedalam bentuk informasi yang lebih efektif dan efisien bagi pemakai yaitu setelah melakukan wawancara dan observasi selanjutnya adalah mereview kembali informasi-informasi yang didapat serta memilih dan mengelompokkan informasi berdasarkan kebutuhannya; (f) Mengemas kembali informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pemakai, yaitu mengemas informasi tersebut dalam bentuk buku yang menarik dengan tujuan agar setiap pengguna informasi dapat tertarik dan bersemangat membacanya untuk semua usia; (g) terakhir yaitu menyebarkan informasi dengan cara promosi mulai dari perpustakaan, media sosial, brosur dan sebaginya. Sebelum membuat produk dalam bentuk buku penulis membuat rancangan buku yang akan dibuat. Tujuan penulis membuat rancangan ini agar dapat memudahkan penulis dalam mengerjakan pembuatan buku, rancangan ini dibuat sebagai pedoman penulis dalam membuat buku. Proses rancangan pembuatan buku adalah sebagai berikut : 1. Menyusun kerangka penulisan Menyusun kerangka penulisan adalah rencana kerja yang memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan secara teratur. Fungsi dari penyusunan kerangka penulisan adalah untuk memperlihatkan pokok bahasan dan memudahkan punyusunan penulisan sehingga lebih baik dan teratur. Kerangka penulisan buku dapat dilihat pada bagan berikut. Bagan Rancangan Isi Buku Kemas Ulang Informasi Cover Kata Pengantar Daftar Isi Sekilas Tentang Suku Sakai Riau di Desa Kusumbo Kepala Adat Suku Foto Rumah Adat Suku Pengertian Tanaman Herbal Kelebihan Menggunakan Tanaman Herbal Jenis-Jenis Tanaman Herbal Penutup 2. Pembuatan cover Cover merupakan bagian depan buku yang berfungsi untuk melindungi bagian dalam buku serta memberikan daya tarik kepada pembaca dan juga dapat memberikan identitas dari keseluruhan buku. Cover dari produk penulis dominan berwarna coklat, didalam cover terdapat judul dari kemas ulang informasi, nama, nomor induk mahasiswa penulis serta nama Universitas Negeri Padang. Cover dapat dilihat pada gambar dibawah ini Gambar 1. Cover Buku Kemas Ulang Informasi Judul Cover Isi Singkat Buku 3. Kata Pengantar Kata pengantar merupakan bagian penting dalam pembuatan buku atau makalah, kata pengantar merupakan bagian awal buku yang di dalamnya terdapat ucapan puji syukur dan terimakasih penulis terhadap pihak-pihak yang terkait serta mencakup isi dari keseluruhan buku dan tujuan dari pembuatan buku. Gambar 2. Kata Pengantar Dalam kata pengantar dilampirkan ucapan puji syukur kepada Allah Swt. Dan terimakasih kepada pihak yang telah membantu 4. Daftar isi Daftar isi merupakan lembaran halaman yang menjadi petunjuk poko isi buku yang dilengkapi dengan nomor halaman. Daftar isi ini sangat berguna bagi pembaca untuk mengetahui secara garis besar isi buku tersebut. Pada pembuatan buku kemas ulang ini daftar isi sangat penting untuk mempercepat pencarian informasi di dalam buku. Rancangan Daftar isi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 3. Rancangan Daftar Isi Buku Isi pokok buku merupakan inti dari sebuah buku, didalamnya terdapat banyak informasi tentang penjelasan yang terkait dengan semua tanaman obatobatan. Salah satu isi pokok buku dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 4. Isi Pokok Buku (Jenis-jenis Tanaman Obat-obatan Khas Suku Sakai) Dilanjutkan dengan pembahasan jenis-jenis tanaman 6. Penutup Bagian penutup merupakan akhir kata di bagian belakang buku, di dalamnya terdapat kesimpulan dan saran penulis bagi pembaca. Rancangan penutup dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 5. Penutup (Simpulan dan saran)

Conclusion

Jenis-jenis tanaman obat-obatan bagi Suku Sakai di Daerah Riau terdiri dari 21 jenis tanaman yaitu: (a)Daun Keladi Hutan, (b)Daun Usap, (c)Daun Sikududuk, (d)Daun Tombo, (e) Buah Limau Paga, (f) Daun Coco Bebek, (g)Kunyit Bolai, (h)Urek Petoga, (i) Akar Kukunyit, (j)Daun Binahong, (k)Bunga Pukul 4, (l)Tapak Dara, (m)Petundu, (n)Petalo Bumi, (o) Dudukung Anak, (p)Putri Malu, (q)Akar Bolu, (r)Kumis Kucing, (s)Akar Tiga, (t)Bakung, (u)Selasih. Beberapa proses tahapan dan rancangan. Pembuatan kemas ulang informasi tersebut adalah: (a)Melakukan identifikasi kebutuhan pengguna, (b)Melakukan pengumpulan informasi serta pemilihan sumber informasi, (c)Memilih sumbersumber yang mengandung nilai informasi yang berguna, (d)Mengevaluasi validitas informasi, (e)Meriview, menganalisis, mengekstrak informasi kedalam bentuk informasi yang lebih efisien bagi pemakai, (f)Mengemas kembali informasi kedalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna informasi, (g)Menyebarkan informasi dengan cara promosi. Rancangan pembuatan buku sebagai bahan promosi yaitu: (a)Menyusun kerangka penulisan, (b)Pembuatan Cover, (c)Kata Pengantar, (d)Daftar isi, (e)Isi pokok buku, (f)Penutup. Kemas ulang informasi ini sangat bermanfaat bagi seluruh kalangan agar dapat memanfaatkan informasi ini dengan sebaik-baiknya dan dapat melestarikan lingkungan alam kita agar terhindar dari polusi udara dengan menanam tanaman obat-obatan di pekarangan rumah dan memanfaatkan tanaman tersebut sebagai obat-obatan terpercaya.