Kembali
16
1
2020 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 9 · 1 ISSN 2302-3511

PERILAKU PEMUSTAKA DALAM TELUSUR INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

In this paper discussed about information seeking behavior of library users of the State University of Padang Postgraduate Library because of a lack of knowledge in finding the information they need precisely and quickly. Because not a few postgraduate users who feel confused in finding the information needed. This research question covers how post-market visitors' information seeking behavior encompasses the stages of their activities. The purpose of writing this paper is to describe the behavior of information retrieval of postgraduate library students at Padang State University. The method of data collection is carried out on librarians and librarians through observation, interviews, and library studies in the Postgraduate Library of Padang State University. Analyzing data is done descriptively.Based on analyzing the data, it was concluded that in searching for library information in the Postgraduate Library of Padang State University there are two stages, namely: (1) behavior of the user when searching for information with the user strategy in information retrieval, which includes: starting, browsing, and extracting, (2) meanwhile, the technique of searching information on librarians in the Postgraduate Library of Padang State University shows that in conducting information search, library users use information search techniques based on words and information search techniques based on the closest words.
Keywords: optimization · competence · electronic archives

Introduction

Perpustakaan sebagai sebuah lembaga berfungsi sebagai media penyebar informasi, ketersediaan bahan pustaka yang menjadi koleksinya menjadi salah satu medianya. Koleksi itu dimanfaatkan pemustaka untuk memenuhi kebutuhan informasinya sesuai dengan fungsi perpustakaan. Menurut Sulistyo Basuki (1991:2) fungsi perpustakaan terbagi atas 5 bagian, yaitu sebagai sarana simpan karya manusia, fungsi informasi, fungsi rekreasi, fungsi pendidikan dan fungsi kultural. Berdasarkan fungsifungsi perpustakaan tersebut terdapat fungsi informasi, melalui fungsi ini perpustakaan harus memberikan informasi yang dibutuhkan pemustaka sebagai tujuan utamanya. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi, baik yang berupa perpustakaan universitas, fakutas, institusi, akademi, sekolah tinggi, maupun politeknik, ia berafiliasi dan tergabung menjadi sarana lembaga induknya. Ia harus melaksanakan fungsi dan peranannya dalam menunjang Tri Darma Perguruan Tinggi dan sebagai satu rangkaian dalam sistem pendidikan yaitu untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, pengajaran, pelaksanan program pedidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Perpustakaan Nasional RI). Pada perguruan tinggi terdapat beragam lapisan civitas akademika, salah satunya adalah mahasiswa pascasarjana. Mahasiswa ini sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang dan keahliannya. Mereka adalah agen transfer ilmu pengetahuan yang dituntut untuk dapat menghasilkan penelitian yang berkualitas dan lebih baik dimasa yang akan datang. Karena itu para pemustaka pascasarjana memerlukan infromasi yang dapat menunjang pengembangan ilmu di bidang keahliannya. Menurut Soetminah (1991: 52), penelusuran informasi disebut juga dengan istilah temu kembali informasi yang telah disimpan, yang dalam bahas inggrisnya adalah retrieval, merupakan bagian yang sangat penting dalam pelayanan perpustakaan dan informasi. Terdapat 5 model perilaku pencarian informasi yang dikemukankan oleh 5 orang ahli yaitu: 1) Model Wilson Pengguna informasi dalam model ini mempunyai kebutuhan informasi tertentu. Dari kebutuhan informasi tersebut, akan menciptakan perilaku pencarian informasi yang terdiri dari permintaan sistem informasi dan permintaan sumber informasi lain. Hasil dari perilaku pencarian informasi tersebut yaitu sukses atau gagal. Ketika proses tersebut sukses maka pengguna mendapatkan informasi, dan akan timbul rasa puas dan tidak puas yang di lanjutkan ke proses transfer informasi kepada orang lain, kemudian terjadilah kegiatan pertukaran informasi. 2) Model Krikelas Proses Model perilaku pencarian informasi Krikels dimulai dari atas ke bawah. Komponen paling atas dari model Krikelas adalah tindakan pengumpulan informasi dan pemberian informasi. Hasil dari pengumpulan informasi di arahkan untuk di arahkan untuk disimpan dalam memori, observasi langsung dan data pribadi. Tindakan pemberian informasi di dasarkan pada sumber internal dan eksternal. Sumber internal adalah memori dan data pribadi, sedangkan eksternal dibagi menjadi dua komponen yaitu kontak langsung dan rekam. Adapun komponen kontak langsung tersebut adalah hubungan tatap muka antara interpersonal seperti telepon, video call, email, dll. Sedangkan komponen rekam yaitu berupa literatur seperti buku dan jurnal. 3) Model Johnson Dalam model ini faktor latar belakang dan hubungan pribadi menjadi motivasi seseorang untuk mencari informasi. Faktor latar belakang atas demografi dan pengalaman langsung. Demografi itu terdiri antara lain usia seseorang, jenis kelamin, etnis, latar belakang pendidikan, status pekerjaan, dan kesejahteraan. Sedangkan dalam model ini pengalaman langsung seseorang juga mempengaruhi akan keperluan informasi. 4) Model Leekie Model ini terdiri dari 7 komponen yang dimulai dengan faktor penyebab pencarian informasi yaitu peran kerja dan tugas hingga hasil pencarian informasi. Model Leekie ini dibatasi untuk profesional (seperti dokter, pengacara, dan insinyur), sehingga tidak mengherankan bahwa peran kerja dan tugas dianggap sebagai motivator utama dalam mencari informasi. Dengan demikian model ini memiliki penerapan terbatas untuk pencarian infromasi dalam kehidupan seharihari. 5) Model Ellis a) Starting yaitu kegiatan yang sifatnya pencarian awal informasi seperti mengidentifikasi referensi yang dapat menjadi titik awal daur pencarian. Referensi ini termasuk sumber yang telah digunakan sebelumnya seperti sumber lain yang diharapkan menyediakan informasi yang digunakan. b) Chaining yaitu kegiatan menurut rangkaian sitasi atau bentuk hubungan referensial antar materi atau sumber sumber yang diidentifikasi selama aktivitas starting. Aktivitas ini bisa saja mundur atau maju. Aktivitas chaining mundur dilakukan apabila referensi yang dipakai adalah sumber utama. Sebaliknya, aktivitas chaining maju dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengikuti referensi menuju sumber lain yang mengacu pada sumber ahli. c) Differentiating merupakan kegiatan memilah informasi yang diperoleh dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai perbedaan ciri-ciri sumber informasi (misalnya, pengarang, cakupan, tingkat detail, dan kualitas) tersebut guna mengetahui kualitas informasi. d) Mentoring kegiatan memantau perkembangan di lapangan dengan mengikuti sumber-sumber tertentu yang telah dipilih secara teratur ( misalnya, jurnal utama, Koran, konferensi, majalah, buku, dan katalog). e) Extracting adalah aktivitas yang berhubungan dengan melanjutkan pencarian dengan menggali lebih dalam sumber informasi dan mengidentifikasi relevansi materi yang ada dengan selektif. Keberadaan informasi yang beraneka ragam menjadi suatu masalah dalam penelusuran informasi yang tersedia. Apabila jumlah informasi yang tersebar sudah mencapai jutaan sampai tak terhingga. Inilah yang melandasi diperlukannya pengamatan perilaku pemustaka agar mendapatkan informasi secar cepat, tepat dan akurat. Pengetahuan yang mendalam mengetahui perilaku pencarian informasi mahasiswa pascasarjana sangat dibutuhkan untuk meningkatkan layanan Perpustakaan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilaksanakan. Penelitian ini difokuskan pada motivasi pemustaka pascasarjana dalam melakukan pencarian informasi, karakteristik sumber informasi yang mereka butuhkan, perilaku pencarian informasinya, serta hambatan yang dialami untuk memperoleh informasi.

Method

Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode penelitian deskriptif. Menurut Nazir (2011-54), metode penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menjelaskan fenomena atau fakta yang terdapat di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku dan strategi penelusuran informasi pemustaka di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan terhadap pemustaka melalui observasi dan wawancara.

Discussion

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian mengenai perilaku pemustaka dalam telusur informasi di perpustakaan pascasarjana Universitas Negeri Padang. Data diperoleh dari responden yang merupakan Mahasiswa di Pascasarjana Universitas Negeri Padang yang menjadi pemustaka di perpustakaan pascasrjana dan jumlah pertanyaan sebanyak 10 (butir) soal dan disebarkan kepada 4 informan, yaitu (1) Devi, (2) Novita, (3) Vivi, (4) Rosa. Adapun cara penentuan informan yaitu dengan melihat tingkat intensitas (kemampuan) informan dalam melakukan penelusuran informasi di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. 1. Perilaku Pemustaka sebelum Melakukan Penelusuran Informasi a. Tahap Starting (memulai) Starting merupakan aktivitas-aktivitas yang memicu pada kegiatan awal penelusuran informasi yang mengacu pada pola pencarian berdasarkan bidangnya, yaitu memulai literatur yang diminati dengan menggunakan rujukan awal yang dimiliki. Pada tahap awal penelusuran informasi, hampir seluruh pemustaka dalam mencari informasi adalah dengan mempersiapkan catatan kecil untuk mencari informasi sesuai dengan kebutuhannya, ketika akan dicari di OPAC hasil tersebut sesuai dengan hasil observasi yang penulis lakukan. Tahapa ini dilakukan oleh informan Devi, Novita, dan Vivi. Hal tersebut juga dilakukan oleh informan Rosa, dalam melakukan penelusuran informasi tetapi tahap awal ini, Rosa memiliki persiapan yang berbeda dengan informan lain,tetapi mereka tetap merujuk pada tema sesuai dengan kebutuhannya masing-masing dengan informasi yang diinginkannya. Selain itu, jika pemustaka mengalami kesulitan saat mendapatkan sumber informasi maka yang pertama kali mereka datangi adalah pustakawan dan teman. Mereka bertanya pada pustakawan karena mereka menganggap bahwa pustakawan yang banyak tahu tentang koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan, selain itu teman adalah media yang dapat membantu atau bekerjasama dalam mengerjakan tugas. 2. Perilaku Pemustaka ketika Melakukan Penelusuran Informasi b. Tahap Browsing (penelusuran) Pada tahap penelusuran (browsing) penulis menganalisisa dua strategi pemustaka ketika melakukan pencarian informasi, yakni stategi pemustaka ketika menggunakan OPAC dan strategi pemustaka ketika mencari di rak koleksi. Perilaku ketika melakukan penelusuran informasi, pada tahap pertama adalah perilaku ketika menggunakan OPAC. Berdasarkan hasil penelitian, dapat penulis simpulkan bahwa langkah awal yang dilakukan pemustaka ketika mencari informasi adalah menggunakan OPAC, yakni katalog dapat ditelusuri dengan komputer yang dimiliki oleh perpustakaan untuk membantu mencari informasi untuk pemustaka. Perilaku penelusuran informasi dekat hubungannya dengan unit informasi yang merupakan sistem yang dibuat secara khusus untuk menyimpan, memelihara dan menemukan kembali informasi, karena jika tidak memahami apa yang akan dicari maka pemustaka akan salah tangkap informasi akibatnya pemustaka tidak akan mendapatkan informasi yang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan. Sementara itu, sistem yang ada di perpustakaan harus diketahui oleh pemustaka karena akan memudahkan pemustaka dalam menelusuri infromasi. Perilaku pemustaka mencari dari OPAC selanjutnya adalah mencari ke rak koleksi. Pencarian ke rak koleksi informan lakukan berdasarkan nomor kelas yang mereka catat dari OPAC. Selanjutnya setelah mereka menemukannya maka infroman melihat buku tersebut, apakah sesuai dengan informasi yang mereka inginkan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa beberapa informan menggunakan fasilitas OPAC dalam menelusuri informasi. Hal ini biasanya dilakukan apabila informan belum mengetahui letak informasi yang diinginkan atau ia telah mengetahui namun ingin melengkapi dengan sumber infromasi lain, bahwa kemampuan dalam mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menyeleksi serta menggunakan informasi secara efektif, maka seseorang akan memiliki perilaku-perilaku dalam mencari informasi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Sedangkan penelusuran langsung menuju ke rak dilakukan apabila informan telah mengetahui betul lokasi buku yang dicarinya. Selanjutnya setelah buku yang mereka inginkan ditemukan maka informan melihat daftar isi buku, apabila informasi yang mereka dapatkan sesuai dengan yang mereka butuhkan. c. Tahap Monitoring (memantau) Tahap selanjutnya adalah monitoring yaitu kegiatan memantau perkembangan dengan berkonsentrasi pada beberapa sumber terpilih sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelusurannya. Kegiatan ini selalu memantau atau mencari informasi-informasi terbaru. Informasi terbaru hasil carian ini biasanya ditandai dengan tahun kelahiran informasi tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui hubungan informal (Sharing dengan teman), agar dapat memecahkan masalah dan menjawab pertanyaa. Dari hasil penelitian pada tahap monitoring ini informan sering menanyakan kembali terhadap kekeliruan informasi. d. Tahap Extracting (merangkum) Tahap terakhir yaitu tahapan extracting. Pada tahap merangkum ini, dapat diketahui perilaku informan ketika menggunakan sumber informasi untuk memenuhi kebutuhan infromasi sesuai dengan keinginannya masing-masaing. Kegiatan ini mengambil salah satu informasi yang berguna dalam sebuah sumber informasi tertentu. Biasanya memilih tema, topik, atau informasi manapun yang dianggap sesuai dengan pilihannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa informan ketika mencari informasi dari buku, informan langsung membaca bukunya terlebih dahulu guna mengetahui infromasi yang masih ada, kemudian pemustaka membaca secara keseluruhan untuk mengetahui informasi yang ada, kemudian pemustaka pemustaka membaca secara keseluruhan untuk mengetahui informasi yang akan diambil, lalu pemustaka mencatat informasi yang penting sesuai kebutuhan pemustaka. Dari hasil penelitian pada tahap informan mendapatkan informasi dari buku, kemudian setelah mendapatkan informasi dari buku informan merangkum materi tersebut sehingga lebih jelas dan ringkas lagi informasinya. 3. Strategi Penelusuran Informasi Pemustaka di Perpustakaan Pascasarjanan Universitas Negeri Padang Agar mengetahui stategi dalam menelusuri informasi yang dilakukan oleh pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi, penulis melakukan wawancara terhadap beberapa informan yang dianggap dapat memberikan informasi kepada penulis. Penelitian dilakukan kepada beberapa informan dalam melakukan penelusuran informasi di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Berikut ini pendapat dari beberapa informan. Pada tahap awal penelusuran informasi, keempat informan dalam menelusuri informasi adalah dengan menggunakan teknik penelusuran berdasarkan kata.Hal yang dilakukan oleh keempat informasi dalam menelusuri informasi adalah mereka menggunakan stategi penelusuran infromasi dengan mencari berdasarkan kata dari judul yang sesuai dengan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, jika pemustaka mendapatkan informasi yang tidak sesuai atau belum menemukan informasi yang mereka cari, informan Devi, Novita, dan Rosa mencari informasi di rak lain dengan melihat judul yang serupa dan mengandung informasi yang mereka cari (penelusuran berdasarkan kata terdekat dengan kata carian) Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi yang dilakukan pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi adalah menggunakan teknik penelusuran informasi berdasarkan kata dan strategi penelusuran informasi berdasarkan kata terdekat dengan informasi. Keempat informasi dalam penelusuran informasi menggunakan strategi pencarian informasi berdasarkan kata sesuai dengan judul buku yang mereka butuhkan, sementara itu informan Devi, Novita dan Rosa, jika mereka mendapatkan sumber informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, maka mereka menggunakan teknik penelusuran dengan menggunakan kata terdekat.

Conclusion

1. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut yaitu Pertama, perilaku pemustaka ketika melakukan penelusuran informasi dengan stategi pemustaka dalam penelusuran informasi, yang mencakup: starting, browsing, dan extracting Kedua, teknik yang dilakukan pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Negeri Padang adalah teknik penelusuran informasi berdasarkan kata dan teknik penelusuran informasi berdasarkan kata terdekat. 2. SARAN Agar penerapan arsip elektronik berjalan dengan baik, sebaiknya Instasi SKPD Pemerintahan Kota Bukittinggi: (1) meningkatkan kualitas jaringan agar agar ketika menginput arsip menjadi cepat dan menambah sarana dan prasarana dalam penerapan arsip elektronik baik itu dari segi perlengkapan maupun peralatan; (2) meningkatkan kesadaran akan pentingnya arsip; (3) meningkatkan sumber daya manusia dengan melakukan kegiatan pelatihan dan pendidikan serta menambah personil yang ahli dibidang arsip dan teknologi