INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVES (IVAA) SEBAGAI PROMOTOR GERAKAN SADAR ARSIP KESENIAN DAN KEBUDAYAAN
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Makalah ini membahas tentang upaya yang dilakukan Indonesian Visual Art Archives (IVAA) sebagai promotor gerakan sadar arsip kesenian dan kebudayaan. Hal yang melatarbelakangi gerakan ini adalah masih minimnya perhatian pemerintah dalam mengelola serta melestarikan arsip seni rupa. Padahal pekerjaan seniman dalam melakukan kerja seni tidak hanya menciptakan karya seni tetapi juga mendokumentasikan proses berkeseniannya. Namun hasil dari proses pendokumentasian inilah yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai arsip dan perlu dilakukan berbagai upaya untuk menciptakan interaksi dengan masyarakat, dan memudahkan masyarakat atau penikmat seni untuk memahami karya seni yang diciptakan oleh seniman. Berbagai upaya dilakukan IVAA dalam menumbuhkan gerakan sadar arsip kesenian dan kebudayaan pada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan Festival Arsip, dengan mengadakan beberapa kegiatan yang melibatkan interaksi antara pengunjung dan kegiatan pengarsipan.
Keywords:
arsip
· seni
· Indonesian Visual Art Archive
· diseminasi arsip
Introduction
Kesenian adalah satu unsur yang menjadi pondasi keberadaan suatu budaya. Kesenian tidak pernah lepas dan sangat erat dengan masyarakat, karena merupakam salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Seni juga dapat diartikan sebagai representasi rasa indah yang terkandung di dalam diri seseorang. Seni tersebut hadir melalui perantara alat-alat komunikasi yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Sedangkan orang yang mempunyai bakat dibidang seni dan berhasil menciptakan serta mempergelarkan karya seni disebut sebagai seniman. Seni memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah fungsi komunikatif. Fungsi ini bisa kita lihat juga pada masa revolusi 1945-1949. Seni yang dilahirkan kedalam sebuah karya seni, digunakan sebagai sarana komunikasi kepada masyarakat luas untuk tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan. Di era saat ini, profesi seniman masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat ketika diselenggarakan suatu pameran karya seni, masih banyak pengunjung yang tidak dapat memahami makna dari karya seni yang dipamerkan. Namun pada kenyataannya tanpa disadari seniman memiliki peran aktif dalam menyebarluaskan informasi seni dan budaya melalui karya seni yang dihasilkannya. di era kontemporer ini publik disuguhkan dengan karya-karya yang semakin sulit untuk dipahami. Sementara, para pegiat kesenian selalu berupaya untuk menyentuh publik dengan mengusung berbagai tema serta ruang yang begitu erat dengan realita sosial. Sebagaimana yang dilakukan para seniman di Yogyakarta yang berusaha menyampaikan kebudayaan-kebudayaan yang terdapat di Yogyakarta khususnya dan Indonesia melalui karya seni yang difasilitatori oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Berangkat dari latar belakang inilah, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Sinergi IVAA dan seniman di Yogyakarta sebagai agent dalam mendiseminasi arsip, dan seni melalui festival arsip.
Method
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam bagaimana seniman berperan serta berkontribusi dalam diseminasi seni melalui arsip pada masyarakat. Maka dari itu dibutuhkan metode penelitian yang dapat menggali lebih dalam mengenai infomasi tersebut. Peneliti memilih metode penelitian kualitatif untuk memahami lebih dalam apa yang ada dibalik sebuah fenomena dan belum banyak diketahui. Metode ini menjelaskan informasi yang lebih detail mengenai suatu fenomena yang sulit dijelaskan oleh metode kuantitatif (Ahmadi, 2014: 12). Penelitian kualitatif terbagi menjadi lima pendekatan yaitu naratif, fenomenologi, grounded theory, dan studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan naratif. Pendekatan naratif berfokus untuk mempelajari satu atau sejumlah kecil individu lalu mengumpulkan data berdasarkan cerita atau pengalaman mereka dan merangkai serta memaknai cerita maupun pengalaman tersebut secara kronologis Creswell (2007: 236).
Result & Discussion
Sinergi IVAA dan Seniman Yogyakarta dalam Diseminasi Arsip Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah salah satu lembaga yang bergerak dibidang penelitian, kepustakaan, dan dokumentasi. Koleksi yang dimiliki mencakup arsip bentuk khusus seperti rekaman fotografis dan audiovisual mengenai alur kerja berkarya seniman dan dokumentasi kegiatan seni seperti katalog event-event seni lokal maupun mancanegara, portofolio seniman, hingga karya video yang didapatkan dari data-data aktivitas seni yang terjadi. IVAA berperan sebagai fasilitator yang memotivasi masyarakat untuk mengolah informasi seni dalam bentuk arsip. Indonesia Visual Art Archive (IVAA) menjadi penggerak kesadaran mengarsipan berbagai rekam jejak berkesenian secara independen di Yogyakarta karena memahami bahwa arsip seni rupa merupakan salah satu khasanah budaya bangsa yang wajib dilestarikan dan melihan masih minimnya perhatian pemerintah dalam mengelola serta melestarikan arsip seni rupa tersebut. Proses pengadaan arsip dilakukan melalui dua cara yaitu mencari langsung dan memperoleh arsip dari pihak luar seperti pelaku seni ataupun galeri seni. Tim yang terlibat dalam proses penerimaan yaitu tim yang bertugas menganalisis tema-tema yang digunakan sebagai landasan pengumpulan arsip. Tim ini terdiri atas tim rekam dan pengumpulan, tim arsip digital dan distribusi online, serta kepala bidang arsip. Untuk arsip yang didapatkan melalui pihak luar, alur pertama adalah pembuatan surat perjanjian kerjasama atau MOU, hal ini dibutuhkan karena hak cipta arsip tetap berada pada pelaku seni, oleh karena itu harus ada kesepakatan tentang perlakuan arsip tersebut kedepannya. MOU berisi tentang hak akses terhadap arsip tersebut, apakah boleh dipublikasikan atau tidak dan status arsip tersebut diberikan atau dipinjamkan. Dalam upaya mendekatkan hasil kerja pengarsipan kepada publik, IVAA rutin menyelenggarakan diskusi dengan mengundang berbagai seniman. kegiatan yang dilakukan secara tatap muka antara lain exhibition arsip, workshop, diskusi, launching buku dan mengadakan kegiatan festival arsip seni. Dalam penyelenggaraan kegiatan festival arsip, IVAA tidak berjalan sendirian, namun menggandeng beberapa seniman di Yogyakarta untuk terlibat dan turut andil pada kegiatan tersebut. Seniman yang terlibat dalam kegiatan pameran dipilih berdasarkan pada bentuk karya para seniman, bagaimana karya-karya yang dimiliki, apakah sesuai dengan tema yang diusung untuk kegiatan pameran arsip seni. Proses penyeleksian dilakukan oleh Direktur Artistik dan Direktur Festival Arsip dengan meminta pertimbangan dari panitia Festival Arsip juga pendiri IVAA. Berbagai proses dilakukan agar tujuan dari kegiatan festival arsip dan maksud dari karya seni dapat tersampaikan pada masyarakat khususnya yang berkunjung langsung pada kegiatan festival tersebut. Selain itu juga terlibat beberapa pengelola ruang seni, komunitas board game, kolektif peneliti musik, dan beberapa lembaga pemerintah yang menangani tentang kearsipan. Sehingga kegiatan festival arsip ini tidak hanya merupakan pameran arsip, namun ada penampilan dan juga diskusi-diskusi oleh pihak yang ahli dibidangnya masing-masing, serta berbagai pihak yang terlibat mulai dari perencanaan, persiapan dan pelaksanaan kegiatan Festival Arsip. Mengenalkan Arsip melalui Festival Arsip Berdasarkan latar belakang dan penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh IVAA adalah untuk lebih mendekatkan dunia arsip dan kearsipan kepada masyarakat luas melalui kegiatan Festival Arsip. Oleh karena itu untuk mengajak publik terlibat aktif dalam kegiatan Festival Arsip, diselenggarakan sembilan belas agenda pendukung yang menghadirkan interaksi antara kegiatan seni, pengarsipan dengan pengunjung festival. Masing-masing kegiatan membahas hal yang berbeda, sehingga tidak menimbulkan kejenuhan bagi pengunjung. Kegiatan–kegiatan yang sangat bersinggungan dengan arsip dan seni adalah sebagai berikut: a. Pertunjukan “Catatan Musik Indonesia Populer 1930-2016”, yang bertujuan untuk menunjukan pada masyarakat bagaimana musik digunakan sebagai alat negara dan agenda kebudayaan, serta memperlihatkan bagaimana musik digunakan sebagai salah satu sarana untuk menunjukan jati diri suatu bangsa; b. “Mata dan Kuasa”, kegiatan ini mengajak pengunjung untuk belajar mengarsipkan foto-foto yang dimiliki; c. Workshop “Bongkar pasang lini masa sejarah seni rupa Indonesia”, bertujuan mengajak pengunjung untuk mengkritisi lini masa yang telah disusun IVAA; d. “Belajar di Ruang Arsip”, pengunjung diberikan pengetahuan tentang pengolahan dan pengelolaan arsip secara umum; e. Workshop “Bermain-main dengan Pita Seluloid”, yang mengajak pengunjung untuk mengkolase dan mengintervensi antara media visual dengan audionya sehingga dapat menghasilkan film baru; f. Workshop “Merangkul dan mendorong warga: Mengkritisi seni sebagai alat pemberdayaan”, sesuai dengan namanya yaitu untuk mengajak pengunjung berpikir kritis terhadap isu seni yang digunakan sebagai alat pemberdayaan. g. “Seni berpolemik”, mempertemukan publik untuk membicarakan arsip dan dinamikanya; h. “Pechhakucha Night” kegiatan ini melibatkan komunitas dan lembaga yang bergerak dibidang seni,budaya, dan arsip. Menampilkan cara keja pengarsipan masing-masing kepada pengunjung yang hadir; i. “FGD dari narasi ke narasi”, membahsa tentang persoalaan bekerja dengan arsip, hingga tentanf representasi yang sering terjadi pada karya berbasis arsip; j. “Pertunjukan wayang sasak”, selain menampilkan pertunjukan, dilakukan juga praktik kegiatan pengarsipan/penulisan sejarah melalui wayang; k. “Memecah Kaca Vitrin”, membicarakan posisi museum sebagai pengumpul benda-benda etnografi dan mengkritiknya, serta menggambarkan praktik-praktik pengarsipan yang dilakukan oleh museum. Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas IVAA dan seniman yang terlibat dalam kegiatan festival arsip menjadi agen diseminasi arsip kepada masyarakat luas. Karena dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan dan mengajak para seniman untuk turut andil dalam proses pendekatan arsip pada masyarakat. Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan IVAA, saat ini siapapun dan dimanapun bisa membuka dan mengakses berbagai macam arsip seni melalui situs yang dikembangkan oleh IVAA, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video.
Conclusion
Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang dokumentasi, penelitian, kepustakaan, dan pengelolaan kelas belajar seni sekaligus mempromosikan eksplorasi artistik, IVAA menyadari kurangnya perhatian dari pemerintah dalam mengelola serta melestarikan arsip seni rupa. Selain itu dengan menyadari bahwa arsip berfungsi dan peran yang sangat penting bagi kehidupan baik secara pribadi, organisasi, berbangsa dan bernegara, dan juga berfungsi sebagai sumber dokumentasi dan sumber informasi, sebagai pengingat dalam lingkungan organisasi, sebagai bahan atau alat pembuktian (bukti otentik), serta sebagai bahan dasar perencanaan dan pengambilan keputusan, maka IVAA mengadakan kegiatan Festival Arsip dengan maksud dan tujuan untuk mendekatkan arsip kepada masyarakat dengan melibatkan seniman, pengelola ruang seni, komunitas board game, kolektif peneliti musik, dan beberaoa lembaga pemerintah yang menangani tentang kearsipan. Festival yang diselenggarakan tidak terbatas pada pameran semata, namun juga diupayakan terjadinya interaksi antara para pegiat seni, arsip dengan pengunjung yang hadir. Dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, IVAA dan seniman yang terlibat dalam kegiatan festival arsip telah menjadi agen diseminasi arsip kepada masyarakat khususnya pengunjung festival, karena pengunjung dikenalkan lebih dekat dengan dunia pengarsipan bahkan melakukan praktik secara sederhana.