Perkembangan Library Cafe dalam Mendorong Produktivitas Pemustaka di Indonesia: Studi Literatur
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Kafe perpustakaan merupakan salah satu pengembangan yang saat ini sedang dilakukan di beberapa perpustakaan di Indonesia. Namun, terdapat pandangan yang setuju dan tidak setuju dengan konsep kafe di perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perkembangan kafe perpustakaan di Indonesia. Perkembangan aplikasi kafe perpustakaan dibahas berdasarkan berbagai literatur yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yaitu studi literatur. Data diperoleh dari referensi literatur yang relevan seperti buku, jurnal, laporan kegiatan, dan website yang relevan dengan tema permasalahan. Proses analisis dilakukan terhadap data yang diperoleh, yaitu dengan melakukan reduksi data, penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Terdapat beberapa perbedaan penyebutan kafe perpustakaan, seperti library cafe, libri cafe, library cafe atau kafe perpustakaan, kafe literasi, dan kafe pustaka. Kafe perpustakaan memiliki banyak program seperti bedah buku, diskusi, konser musik dan lain-lain. Tujuan dari pengembangan library cafe adalah untuk meningkatkan kualitas perpustakaan dan jumlah kunjungan pemustaka. Kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada library cafe dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki dan meningkatkan layanan perpustakaan
Abstract
Library cafes are one of the developments currently being carried out in several libraries in Indonesia. However, there are views that agree and disagree with the concept of cafes in libraries. This research aims to identify and analyze the development of library cafes in Indonesia. The development of the library cafe application is discussed based on various available literature. This research uses a qualitative approach with a research method, namely literature study. Data was obtained from relevant literature references such as books, journals, activity reports, and websites relevant to the problem theme. The analysis process is carried out on the data obtained, namely by making data reduction, data presentation, data reduction, and drawing conclusions. There are several differences in how library cafes are called, such as library cafe, libri cafe, library cafe or library cafe, literacy cafe, and library cafe. The library cafe has many programs such as book reviews, discussions, music concerts and others. The aim of developing a library cafe is to improve the quality of the library and the number of user visits. The advantages and disadvantages contained in the library cafe can be used as a basis for improving and improving library services.
Keywords:
library cafe
· library development
· services
Introduction
Library cafe merupakan layanan baru dalam pengembangan perpustakaan saat ini termasuk di Indonesia. Hadirnya library cafe diharapkan dapat meningkatkan minat baca, meningkatkan kecerdasan pemustaka, dan memberikan kenyamanan sesuai gaya belajar pemustaka (Aliwijaya, 2023; Masiani, 2016; Nuraini, 2022). Namun, terdapat perbedaan pandangan dalam penerapan layanan kafe di perpustakaan seperti tidak semua pengambil kebijakan di perpustakaan setuju dengan adanya library cafe. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kafe di perpustakaan. Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak perpustakaan mengikuti perkembangan yang terjadi. Salah satunya, perkembangan dalam mengadopsi konsep kafe di perpustakaan atau yang kita kenal dengan library cafe. Library cafe merupakan salah satu inovasi perpustakaan yang telah hadir beberapa tahun belakangan ini (Safiyya et al., 2014). Library cafe dapat menjadi terobosan baru untuk meningkatkan minat kunjung dan minat baca masyarakat dengan memanfaatkan ruangan yang ada di perpustakaan (Elisa Pitri, 2021). Setiap perkembangan yang dilakukan tersebut selalu mengarah pada pertumbuhan kualitas layanan dari perpustakaan. Penerapan perpustakaan kafe menjadi salah satu layanan unggulan di perpustakaan karena mengikuti perkembangan terbaru agar perpustakaan tidak ditinggalkan masyarakat (Putri & Rahardjo, 2019). Namun, dalam perkembangannya terdapat perbedaan pemahaman dan konsep terhadap perpustakaan kafe. Terdapat pustakawan dan ilmuwan yang mendukung dan menggagas pendirian kafe di perpustakaan. Namun, sebagian pustakawan lainnya menganggap penerapan layanan kafe di perpustakaan akan menggeser fokus perpustakaan dari non-profit oriented menjadi profit oriented. Oleh karena itu penting untuk mengkaji perkembangan penelitian, kekurangan dan kelebihan, penerapan kafe di perpustakaan perpustakaan. Mengingat pentingnya penelitian tentang perkembangan library cafe, rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana perkembangan penerapan library cafe dalam mendorong produktivitas pemustaka di Indonesia?”. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi konsep penerapan library cafe dalam mendukung produktivitas pemustaka dan untuk menganalisis perkembangan library cafe dalam berbagai literatur di Indonesia. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Perkembangan Library Cafe dalam Mendorong Produktivitas Pemustaka di Indonesia: Studi Literatur”. Penelitian ini mendeskripsikan pengertian, fungsi, berbagai istilah yang digunakan, kelebihan, dan kelemahan dari library cafe dari berbagai sudut pandang. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada perkembangan pengetahuan tentang penerapan kafe sebagai layanan di perpustakaan untuk mendorong produktivitas pemustaka. Hal ini akan membantu mengatasi kekurangan penelitian saat ini di bidang perkembangan layanan perpustakaan dan memberikan rekomendasi dan landasan bagi perpustakaan dalam mengembangkan layanan sesuai perkembangan terkini.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yaitu studi literatur. Menurut. Studi literatur bermakna analisis literatur yang didapatkan dengan membuat ringkasan tertulis mengenai artikel dari jurnal, buku, dan dokumen lain yang mendeskripsikan teori serta informasi baik masa lalu maupun saat ini (Creswell & Poth, 2016). Penelitian ini mengorganisasikan dan mengelompokkan data pustaka yang didapatkan ke dalam topik dan dokumen tertentu sesuai kebutuhan. Sumber dan pengumpulan data pada penelitian metode studi literatur dilakukan dengan mengambil data di pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian (Moleong, 2016). Penelitian ini menitikberatkan pada pengkajian data yang diperoleh dari referensi literatur yang relevan, tanpa memerlukan investigasi di lapangan. Sumber data yang dimanfaatkan mencakup buku, jurnal, laporan kegiatan, serta situs web yang relevan dengan tema permasalahan. Analisis data dilakukan dengan cara membuat ringkasan dari sumber-sumber yang didapatkan. Proses analisis dilakukan terhadap data yang didapatkan yaitu dengan membuat reduksi data, penyajian data, reduksi data, dan pengambilan kesimpulan. Kesimpulan ditarik berdasarkan hasil evaluasi dan analisis yang memadukan informasi dari sumber literatur dengan fakta yang berada di lapangan untuk menguatkan data yang ada. Hasil penelitian diuraikan secara deskriptif dan disertai dengan ilustrasi visual guna memperkuat hasil analisis.
Result & Discussion
Library Cafe: Konsep, Istilah, Pengertian Terdapat beberapa konsep dalam perpaduan antara kafe dan perpustakaan. Konsep pertama yaitu menambahkan konsep perpustakaan di dalam kafe. Bagian yang ditambahkan di dalam kafe seperti memanjang buku, mengusung literasi, desain bergaya literasi, dan lainnya. Di dalam kafe tersebut akan terdapat ratusan buku yang tersedia gratis untuk dibaca oleh pelanggan kafe (Wind & Wardhana, 2015). Pemilik kafe ingin memberikan kesan yang berbeda dari kedai kopi lainnya dengan menyediakan buku-buku di kafenya (Lestari, 2019). Pada konsep pertama ini sering disebut kafe yang memiliki sebuah perpustakaan kecil (mini library). Di sisi lain, konsep ini juga disebut menggunakan istilah kafe buku. Kafe buku adalah kafe yang menggabungkan konsep kafe sebagai tempat bersantai dan kecintaan terhadap buku (Minati & Arfa, 2017). Suasana kafe yang nyaman dan aroma kopi akan memberikan kenyamanan bagi pelanggan untuk membaca buku (Wijaya et al., 2019). Tujuannya adalah menjadikan konsep buku dan literasi sebagai daya tarik di dalam kafe yaitu untuk mendatangkan pengunjung dan meningkatkan penghasilan. Konsep kedua dalam perpaduan kafe dengan perpustakaan yaitu perpustakaan yang dibangun di dalamnya terdapat sebuah kafe. Terdapat beberapa istilah yang digunakan di Indonesia dalam menggambarkan konsep ini seperti library cafe, libri cafe, perpustakaan kafe atau kafe perpustakaan, literacy cafe, dan kafe pustaka. Konsep ini menjadikan kafe sebagai salah satu layanan di perpustakaan yang memiliki ruangan tersendiri (Elisa Pitri, 2021; Masiani, 2016; Nashihuddin et al., 2019; Nuraini, 2022; Safiyya et al., 2014). Di sisi lain, terdapat beberapa perpustakaan yang menggabungkan library cafe dengan layanan tertentu di perpustakaan seperti mobil kafe literasi keliling (feeling) dan digital library cafe (Nashihuddin et al., 2019; Purnamasari et al., 2022). Mobil kafe literasi keliling datang menjangkau pemustaka yang tidak dapat datang langsung datang ke perpustakaan seperti di sekolah (Purnamasari et al., 2022). Meskipun terjadi perbedaan dalam istilah dan pelaksanaan library cafe namun tetap memiliki tujuan dan pandangan yang sama yaitu untuk membexrikan pelayanan dan memenuhi kepuasan pemustaka secara maksimal. Konsep kedua yaitu kafe yang dijadikan sebagai layanan di perpustakaan merupakan fokus pembahasan dalam penelitian ini dengan menggunakan istilah library cafe. Library cafe memiliki beberapa pengertian yang telah disebutkan dalam penelitian sebelumnya. Pada dasarnya library cafe adalah perpaduan atau penambahan layanan antara perpustakaan dengan konsep kafe. Menurut Masiani (2016) library cafe yaitu perpustakaan yang didesain dengan suasana kafe di dalamnya, menyediakan makanan dan minuman ringan di perpustakaan, suasana yang santai dan nyaman dengan tetap mengutamakan fungsi perpustakaan (Masiani, 2016). Sejalan dengan hal tersebut, Benawi (2012) menyampaikan library cafe dijadikan sebagai pusat informasi yang begitu fleksibel dengan perancangan sesantai mungkin dengan berkombinasi kafe (Benawi, 2012). Dalam hal desain, Lubis & Azhar (2023) menyampaikan library cafe mengedepankan suasana yang santai dan menyenangkan. Salah satu tujuan utama dibangunnya library cafe adalah rekreasi sebagaimana disampaikan oleh Puspitasari (2017) bahwa library cafe merupakan tempat yang telah didesain sebagai tempat rekreasi oleh masyarakat yang tidak dijumpai pada perpustakaan konvensional. Pada intinya, pengembangan layanan library cafe hadir untuk menarik perhatian pemustaka untuk berkunjung ke kafe perpustakaan (Lestari, 2019). Dari beberapa pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa library cafe merupakan salah satu layanan perpustakaan yang mengadopsi konsep kafe dengan tujuan untuk meningkatkan kunjungan pemustaka dan tetap memperhatikan beberapa aspek seperti kenyamanan, rasa santai, ketersediaan makanan dan minuman di dalamnya. Tujuan Library Cafe Terdapat beberapa perpustakaan yang mengembangkan layanan library cafe di Indonesia seperti: a) Digital Library Cafe (Digilib Cafe) FISIPOL UGM; b) Libri Cafe Unsyiah; c) Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang; d) Mobil Kafe Literasi Keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan lainnya. Pengembangan awal library cafe memiliki pandangan yang berbeda-beda. Namun, pengembangan tersebut berlandaskan pada perkembangan kebutuhan dan gaya belajar pemustaka saat ini. Berdasarkan pengertian yang telah dijabarkan pada pembahasan sebelumnya, tujuan dari adanya library cafe yaitu sebagai: 1) Penyediaan makanan dan minuman bagi pemustaka yang sedang dalam proses pembelajaran di perpustakaan. 2) Penyediaan space yang nyaman dan santai bagi pemustaka. 3) Pusat informasi yang fleksibel dalam transfer pengetahuan. 4) Memberikan ruang yang menyenangkan bagi pemustaka. 5) Tempat rekreasi bagi pemustaka untuk menghindari rasa bosan di perpustakaan. 6) Memberikan citra baru bahwa perpustakaan bukan hanya sekedar tempat membaca. 7) Menarik perhatian pemustaka untuk berkunjung dan meningkatkan tingkat kunjungan di perpustakaan. 8.) Menumbuhkan minat baca dan tingkat literasi pengunjung secara terus menerus. 9) Menyediakan sarana untuk berinteraksi antar pemustaka. Kegiatan Library Cafe Kegiatan dan fokus utama dari setiap library cafe berbeda-beda disesuaikan dengan tujuan dari perpustakaan tersebut. Perbedaan kegiatan juga diakibatkan oleh kebutuhan pemustaka yang berbeda-beda. Salah satu kegiatan yang dilakukan di dalam cafe library adalah pertemuan antara penulis dan pembaca. Suasana perpustakaan yang syarat dengan keilmuan dan kafe dengan kondisi santai tepat sebagai tempat untuk membedah buku. Seringkali, tempat ini dijadikan juga sebagai tempat untuk launching buku baru agar lebih dekat dengan pembacanya. Bedah buku, launching buku, dan pertemuan antara penulis dengan pembaca sering diadakan di library cafe (Minati & Arfa, 2017; Nashihuddin et al., 2019; Nuraini, 2022; Puspitasari, 2017). Kegiatan lain yang sering dilaksanakan di library cafe adalah menonton film bersama dan kemudian melakukan talkshow atau bedah film. Film merupakan salah satu media untuk menyebarkan pengetahuan. Bedah film memberikan gambaran tentang isu atau pengetahun yang ingin disampaikan oleh si pembuat film. Bedah film dilakukan baik untuk menguatkan argumen yang ada di film maupun memberikan kritik terhadap film tersebut. Kondisi keilmuan yang terjadi dalam bedah film membutuhkan tempat yang sesuai. Library cafe biasanya dijadikan sebagai tempat nonton bareng dan dilanjutkan dengan bedah film (Minati & Arfa, 2017; Nuraini, 2022). Terdapat banyak kegiatan lainnya yang dilakukan di library cafe. Kegiatan tersebut diselenggarakan baik oleh perpustakaan itu sendiri atau pihak lain yang bekerjasama dengan perpustakaan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat beberapa kegiatan library cafe seperti: Nonton bareng, Bedah film, Bedah buku, Launching buku dan temu penulis, Pagelaran dan pameran seni, Diskusi & sharing, Konser music, Mendongeng dan kelas mewarnai, Workshop. Promosi dilakukan dalam rangka mengajak pemustaka untuk menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. Kebanyakan dari kegiatan tersebut dipublikasikan menggunakan sosial media kepada pemustaka (Nuraini, 2022; Puspitasari, 2017). Promosi melalui media sosial menjadi salah satu hal penting bagi perpustakaan dalam menjangkau dan mengajak pemustaka (Harahap, 2021; Suharso & Pramesti, 2020; Theodora, 2021). Kelebihan dan Kekurangan Library Cafe Penerapaan kafe di perpustakaan dalam penelitian sebelumnya menyampaikan terdapat beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut merupakan nilai tambah positif bagi perpustakaan dalam meningkatkan layanannya. Menurut Razi (2019) beberapa kelebihan dari adanya library cafe yaitu: a) Fasilitas baik; b) terbuka terhadap saran; c) mampu mengarahkan pemustaka; d) rekreatif; e) meningkatkan motivasi; f) mendukung kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut, Retno (Syahfitri et al., 2023) berdasarkan mengatakan bahwa beberapa keunggulan dari library cafe yaitu: 1) Suasana tenang dan kondusif sehingga lebih focus. 2) Fasilitas akses ke berbagai informasi dan bahan Pustaka. 3) Didesain menciptakan lingkungan yang ideal untuk berpikir dan membaca. 4) Tempat yang cocok untuk mengakses literatur elektronik seperti tesis atau disertasi Penerapan kafe di perpustakaan juga memiliki beberapa kekurangan yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya. Kekurangan library cafe menurut Masiani (2016) antara lain: a) Potensi kerusakan lebih cepat pada buku dan koleksi perpustakaan akibat makanan dan minuman; b) Keharusan adanya tenaga tambahan selain pustakawan untuk mengurus pemesanan makanan dan minuman; c) Kebutuhan anggaran yang besar untuk menyediakan fasilitas, desain, dan interior perpustakaan. Nuraini (2022) juga menambahkan kelemahan library cafe biasanya tidak memiliki ruangan yang terlalu besar berakibat pada kurang nyaman bagi pemustaka. Pada dasarnya, kelebihan dan kelemahan library cafe yang telah disebutkan bisa jadikan sebagai dasar dalam memperbaiki dan meningkatkan layanan perpustakaan.
Conclusion
Terdapat dua konsep utama yang melibatkan perpaduan antara kafe dan perpustakaan. Konsep pertama adalah memasukkan unsur perpustakaan ke dalam kafe dan konsep kedua adalah membangun kafe di dalam perpustakaan. Kafe berfungsi sebagai salah satu layanan di perpustakaan dengan ruangannya sendiri kita kenal dengan library cafe. Library cafe memiliki beberapa tujuan utama, seperti menyediakan makanan dan minuman, menciptakan ruang santai dan nyaman, menjadi pusat informasi yang fleksibel, meningkatkan minat baca dan literasi pemustaka, dan menarik perhatian pemustaka untuk meningkatkan kunjungan ke perpustakaan. Kegiatan yang sering diadakan di library cafe meliputi bedah buku, pertemuan antara penulis dan pembaca, nonton bareng, bedah film, pameran seni, diskusi, konser musik, dan berbagai jenis workshop. Terdapat kelebihan dalam penerapan library cafe, seperti fasilitas yang baik, meningkatkan motivasi pemustaka, dan mendukung kegiatan pembelajaran. Namun, terdapat kekurangan library cafe seperti potensi kerusakan buku akibat makanan dan minuman, kebutuhan tenaga tambahan, dan anggaran yang besar untuk menyediakan fasilitas. Kelebihan dan kekurangan ini dapat dijadikan dasar untuk meningkatkan dan memperbaiki layanan library cafe di perpustakaan.