PENERAPAN METODE BERCERITA BERBANTUAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MEMBACA MENULIS PERMULAAN BAHASA INGGRIS
Universitas Pendidikan Ganesha
Abstract
This research is classroom action research which is involved the students in II/C class SD Negeri 3 Banjar Jawa at the second semester of the academic year 2010/2011. This research implemented in three cycles and the focus of the action is in the implementation of telling story method with drawing media and involved the miter teacher directly in collaborative work to improve student’s interest and achievement in learning reading and writing English for beginners.The result of this research showed that the implementation of telling story method with drawing media is success to improve student’s interest and achievement in learning reading and writing English for beginners. Better attention, willingness, and effort of the students showed that the interest of the students is improved, and better achievement in every cycle from cycle 1, 2 and 3 is appropriate with the aims of this research.Students opinion showed that 52% of them is like the implemented of telling story method with drawing media and 70% of them declared that this method can improved their willingness in studying English especially reading and writing. It’s indicating that this method is effective. Based on the research finding, generally recommended that this method need to be implemented in the elementary school to support the improving interest and achievement of the students in learning English.
Keywords:
Telling story method
· Drawing media
· Interest and Achievement.
Introduction
Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pendidikan di Indonesia, selain diajarkan bahasa Indonesia, di sekolah juga diajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu. Tingkat literasi mencakup performative, functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987). Kemampuan berbahasa Inggris merupakan gabungan keterampilan membaca/reading,menulis/writing, mendengarkan/listening, dan berbicara/speaking. Dalam pembelajaran bahasa Inggris di SD, keempat keterampilan tersebut diajarkan untuk dapat saling mendukung satu sama lainnya. Keterampilan membaca dan menulis harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca dan menulis mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dan menulis dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, bukubuku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Selain itu, siswa akan kesulitan dalam menuangkan pikirannya tentang pembelajaran. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak berminat dalam belajar membaca dan menulis bahasa Inggris. Hal ini terpantau dari aktivitas belajar mereka dikelas. Kebanyakan siswa tidak menaruh minat pada pelajaran. Siswa lebih banyak bermain dengan teman serta menunjukkan perhatian yang tidak terfokus pada pelajaran. Metode yang digunakan oleh guru yang hanya bersifat ceramah, menyebabkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sangat minim. Sehinggakesempatan siswa untuk mengembangkan dan melatih pengetahuan berbahasa Inggris mereka selama pembelajaran sangat sedikit. Hal ini akan membawa konsekuensi, siswa hanya berusaha menghafal cacatan yang diberikan oleh guru, sehingga kemampuan daya nalar dan keterampilan-keterampilan berbahasa siswa kurang mendapat sentuhan. Pola interaksi yang terjadi selama pembelajaran bersifat satu arah, yaitu hanya dari guru kepada siswa. Kondisi ini, cenderung membuat siswa menjadi pasif, karena mereka hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan tidak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan dan mengembangkan pengetahuannya selama pembelajaran. Jadi, tidak ada hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Akibatnya pengetahuan dan keterampilan siswa dalam belajar tidak berkembang. Demikian juga halnyapada saat guru menutup pembelajaran. Gurulangsung mengakhiri pembelajarannya tanpa memberikan umpan balik atau evaluasi terhadap unjuk kerja siswa selama pembelajaran. Hal itu menyebabkan siswa merasa selalu benar dan baik mengenai apa yang mereka tampilkan selama pembelajaran berlangsung, sehingga kondisi iklim kelas bersifat monoton, yang akhirnya menyebabkan kegairahan dan semangat siswa dalam belajar menjadi rendah. Pembelajaran yang demikian, hanya akan membawa konsekuensi yang tidak baik bagi hasil belajar siswa dan minat siswa terhadap pelajaran bahasa Inggris yang cenderung jadi “momok” yang menakutkan bagi siswa, hal ini diperkuat dengan hasil kuisioner yang dijawab oleh siswa (hasilnya dapat dilihat pada lampiran). Berdasarkan uraian kendala-kendala yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris sebagaimana yang diuraikan, maka perlu adanya modifikasi pembelajaran yang mampu menjembatani semua kepentingan, termasuk pemberian kesempatan yang optimal pada siswa untuk belajar, dan pengembangan kemampuan dan keterampilan berbahasa Inggris siswa dalam pembelajaran. Setelah dilakukan refleksi terhadap profil pembelajaran bahasa Inggris sebagaimana yang berhasil direkam pada studi pendahuluan dan memang hal tersebut telah menyadari oleh guru.Namun, diakui oleh peneliti sendiri, ada hambatan bagi mereka dalam memilih model pembelajaran yang mampu menjempatani kelemahan-kelemahan tersebut, khususnya yang sesuai dengan karakteristik bahasa Inggris di sekolah dasar atau English for Children, terutama dalam misinya sebagai menunjang kemampuan perserta didik dalam berkomunikasi dan mengenal budaya internasional sejak dini. Metode bercerita berbantuan media gambar diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar membaca permulaan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas II/C semester 2.Metode pembelajaran ini berangkat dari pemikiran belajar bahasa asing haruslah menyenangkan dengan cerita-cerita yang disampaikan sesuai dengan tagihan kurikulum yang digunakan. Target pencapain tagihan yang diharapkan dari penggunaan metode bercerita berbantuan media gambar dalam proses pembelajaran ini diharapkan memberikan kesempatan belajar yang optimal bagi siswa dalam setiap pembelajaran, dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris khususnya membaca/reading dan menulis/writing dan serta meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa Inggris, sehingga mereka dapat mengembangkan dan melatih pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan-keterampilan berbahasanya selama proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga dalam pembelajaran, siswa bukan hanya belajar dari apa yang disampaikan oleh guru, tetapi juga bisa belajar dari siswa yang lainnya. Dengan demikian penguasaan konsep (pengetahuan), dan keterampilan berbahasa siswa semakin berkembang selama pembelajaran berlangsung. Penelitian ini diarahkan pada penerapan metode bercerita dan media kartu bergambar pada pelajaran membaca dan menulis permulaan pada mata pelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan guru dalam menggunakan metode mengajar, serta berusaha menemukan berbagai gagasan konseptual maupun operasional bagi pengembangan lebih lanjut dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan mendasarkan pada proses belajar mengajar yang terjadi dikelas melalui seperangkat tindakan yang telah direncanakan dan dikembangkan.
Method
Penelitian ini dilihat dari aspek pendekatan metodologis, menggunakan metode penelitian tindakan yang difokuskan pada situasi kelas, atau lazim dikenal dengan classroom action research (Suwarsih, 1994). Hal ini dipilih didasarkan atas dasar analisis masalah dan tujuan penelitian yang menuntut sejumlah informasi dan tindak lanjut yang terjadi di lapangan berdasarkan prinsip “daur ulang” yang menuntut kajian dan tindakan secara reflektif, kolaboratif, dan partisipatif. Metode ini dipilih di dasarkan atas pertimbangan bahwa dalam penelitian tindakan yang dipusatkan pada situasi sosial kelas, menuntut sejumlah informasi dan tindak lanjut secara langsung berdasarkan situasi alamiah yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran (Hopkins; 1993).Pertimbangan lainnya bahwa perumusan rencana tindakan berdasarkan situasi sosial yang ada dan berkembang dalam pembelajaran di dalam kelas membutuhkan serangkaian tindak lanjut dari situasi empirik yang mendukung bagi pelaksanaan program tindakan. Penelitian ini lebih diarahkan pada upaya melakukan inovasi terhadap situasi sosial kelas khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris, yaitu dengan cara mengembangkan suatu metode pembelajaran yang diharapkan dapat membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris secara lebih baik. Rancangan dan langkah-langkah tindakan dalam penelitian ini menggunakan pola dan langkah-langkah lazimnya penelitian tindakan kelas yang disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik fokus permasalahan penelitian. 1. Tahap Perencanaan Penyusunan rencana tindakan kelas yang akan diterapkan sesuai dengan pembelajaran membaca permulaan bahasa Inggris. Rancangan tindakan dan operasionalnya berangkat dari kondisi alamiah pembelajaran bahasa Inggris yang ada pada sekolah dasar yang dijadikan sebagai tempat pengembangan tindakan yang disusun bersama oleh peneliti dan guru. 2. Tahap Pelaksanaan tindakan Setelah rencana awal dirancang dan ditetapkan secara kolaboratif antara peneliti dan guru, maka dilakukan praktek pembelajaran di kelas dengan menggunakan model yang telah disepakati sebelumnya. 3. Tahap observasi Pada saat pelaksanaan tindakan di kelas dengan menggunakan model dan langkah-langkah yang telah disepakati, peneliti mulai mendokumentasikan proses, keadaan, dan faktor-faktor lain yang timbul dan berkembang selama pelaksanaan tindakan. Hasil dari observasi tersebut dijadikan sebagai dasar melakukan refleksi dan revisi terhadap rencana dan tindakan yang telah dilakukan, dan dijadikan sebagai dasar dalam merancang dan merumuskan rencana tindakan selanjutnya.
Result & Discussion
Berdasarkan hasil penelitian siklus I pada pelaksanaan tindakan, penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dengan materi pembelajaran yang disajikan adalah kinds of weather mampu menarik perhatian siswa untuk lebih berusaha membaca dan menulis bahasa Inggris. Hal ini dapat diamati dari perilaku siswa dimana pada saat diberikan cerita dan gambar siswa memperhatikan dengan seksama dan berusaha menjawab pertanyaan walau masih didominasi oleh beberapa siswa saja. Jadi, pada saat penerapan metode bercerita berbantuan media gambar pada siklus I mulai dari tindakan pertama dan kedua kelihatan terus ada peningkatan hasil belajar membaca dan menulis serta minat siswa terhadap pelajaran bahasa Inggris. Dengan memperhatikan hal-hal yang disarankan diharapkan pada siklus II dapat lebih mengatur waktu dan menarik perhatian siswa pada pembelajaran yang berlangsung. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I maka pada siklus II dilakukan tindakan pembelajaran untuk dapat lebih meningkatkan hasil belajar dan minat siswa, peningkatan pembelajaran dilakukan dengan pola pembelajaran yang lebih baik dari yang sebelumnya yaitu menambah gambar huruf selain gambar yang terkait dengan cerita yang disampaikan sesuai dengan materi . Berdasarkan tindakan dan analisis yang dilakukan maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat diuraikan sebagai berikut: pada siklus II materi yang disajikan yaitu tentang at the park/taman. Pada saat penerapan Metode Bercerita Berbantuan Media Gambar pada siklus II mulai dari tindakan pertama, kedua sampai tindakan ketiga anak kelihatan terus ada peningkatan. Hal ini bisa juga dilihat dari hasil pengamatan observer yang menunjukkan peningkatan pada setiap indikator minat siswa, baik perhatian, kemauan dan usaha. Hal yang lebih baik terjadi lagi pada pelaksanaan siklus III dengan meteri public places, dimana siswa seluruhnya menunjukkan peningkatan baik dari segi hasil belajar maupun minatnya. Siswa berlomba-lomba unjuk tangan untuk menjawab pertanyaan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan baik disekolah maupun yang dikerjakan dirumah dengan baik. Berdasarkan hasil observasi aspek minat pada siklus I, II dan III terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada aspek perhatian, kemauan dan usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris di kelas.Hal ini dapat dilihat dari diagram minat pada aspek perhatian, kemauan dan usaha pada akhir siklus III dimana kategorinya sudah bergeser dari kategori kurang ke kategori tinggi/keras dan sangat tinggi/keras, seperti pada diagram berikut. Gambar 1 Diagram Minat Siswa pada Akhir Siklus III Sedangkan derdasarkan hasil analisis data hasil belajar dan minat siswa pada siklus I , siklus II dan siklus III yang terus meningkat, dimana sebagian besar hasil belajar siswa berada pada kategori sangat baik dan sisanya pada kategosi sangat baik. Peningkatan tesebut dapat dilihat pada diagram berikut: Gambar 2. Diagram 2 Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I, II dan III Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar membaca dan menulis permulaan bahasa Inggris siswa kelas II/C SD 3 Banjar Jawa Singaraja. Sedangkan, untuk penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dalam pembelajaran bahasa Inggris, salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dan peningkatan minat siswa pada pelajaran bahasa Inggris. Setelah dilakukan tiga kali siklus dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dengan melibatkan dua SK dengan empat KD, maka hasil dari pelaksanaan tindakan dalam hubungannya dengan peningkatan hasil belajar dan minat siswa secara keseluruhan menunjukkan adanya peningkatan. Dalam penelitian ini penerapan metode bercerita berbantuan media bergambar dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu: 1) pemilihan tema dan judul yang tepat; 2) waktu penyajian yang sesuai; 3) suasana (situasi dan kondisi); 3) media dan alat bercerita yang tepat; 4) teknik bercerita yang benar; dan 5) evaluasi setelah bercerita. Melalui penerapan metode bercerita berbantuan media gambar sesuai dengan tahapan tersebut dalam penelitian tindakan ini dapat meningkatkan minat dan hasil belajar membaca (reading) dan menulis (writing) permulaan Bahasa Inggris siswa kelas II/C SD 3 Banjar Jawa Singaraja.
Conclusion
Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh selama pelaksanaan tindakan penerapan metode bercerita berbantuan media gambar, yang dilanjutkan dengan analisis data, dan refleksi terhadap proses pelaksanaan tindakan, dapat di simpulkan beberapa temuan seperti berikut: Pertama, metode bercerita berbantuan media gambar berhasil meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Inggris.Perbedaan nilai indikator minat yang meningkat pada setiap siklus menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan minat belajar Bahasa Inggris mulai dari peningkatan pada indikator perhatian, kemauan belajar dan keinginan belajar Bahasa Inggris. Kedua, penerapan metode bercerita berbantuan media gambar berhasil meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris siswa khususnya pada aspek membaca/reading dan menulis/writing permulaan dilihat dari perbedaan hasil pra-tes dan pasca-tes yang dicapai oleh siswa. Ketiga, penerapan metode bercerita berbantuan media gambar dengan tahapan sebagai berikut: (1) Pemilihan tema dan judul yang tepat, (2) Waktu penyajian yang sesuai, (3) Suasana (situasi dan kondisi), (4) Media dan alat bercerita yang tepat, (5) Teknik bercerita yang benar, dan (6) Evaluasi setelah bercerita, dapat meningkatkan minat dan hasil belajar Bahasa Inggris khusunya aspek membaca/reading dan menulis/writing permulaan.