Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 1 ISSN 2654-6469

Kegiatan Storytelling Dalam P eningkatkan Keterampilan Berbahasa Anak Di Perpustakaan Kober Al - Qolam

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kegiatan storytelling dalam peningkatan kemampuan berbahasa anak usia 5 hingga 6 tahun di Perpustakaan Kober Al - Qolam Bandung y ang dilihat dari aspek menyimak, aspek berbicara, aspek menulis dan aspek membaca . Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang melibatkan guru dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan analisis dokumen. Analisis data melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan , bahwa penerapan kegiatan storytelling mampu meningkatkan keterampilan berbahasa di Kober Al - Qolam . Hal ini dapat dilihat pada beber apa aspek, yaitu pada aspek menyimak yaitu terjadi pada saat guru mampu menarik perhatian anak saat bercerita. P ada aspek berbicara yaitu terjadi pada saat guru memberikan stimulus berupa pertanyaan kepada anak dan anak dapat menjawab pertanyaan guru. Adap un pada aspek menulis dan aspek membaca , yaitu terjadi pada saat guru memberikan perintah kepada anak untuk menulis tokoh dalam cerita , contohnya ketika diminta menuliskan nama tokoh “Kancil”. Pada anak usia Paud mereka masih dalam tahap menulis dan membac a awal, sehingga belum mampu menulis kalimat yang kompleks, namun dengan memberikan perintah untuk menulis kata “Kancil” mampu meningkatkan keterampilan menulis permulaan bagi anak, setelah anak mengenal huruf anak bisa diajarkan untuk mengeja kata sehingg a itu mampu meningkatkan keterampilan membaca pada anak. Adapun hambatan dalam pelaksanaan kegiatan storytelling ini, yaitu keterbatasan alat peraga, media yang kurang variatif dan kurang terawat, kurangnya buku bacaan terbaru yang bisa digunakan materi da lam bercerita, keterbatasan penguasaan metode bercerita oleh storyteller, dan anak yang berada di Kober Al - Qolam tergolong anak usia dini (5 - 6 tahun), sehingga pembelajarannya perlu adanya peran orang tua agar maksimal.

Abstract

This study aims to determine the application of storytelling activities in improving the language skills of children aged 5 to 6 years at the Kober Al - Qolam Library Bandung which is seen from the listening aspect, speaking aspect, writing aspect and readin g aspect. This research is a qualitative descriptive study involving teachers and principals. Data were collected through interviews, observation and document analysis. Data analysis through data collection, data reduction, data presentation and drawing co nclusions. The results showed that the application of storytelling activities was able to improve language skills in Kober Al - Qolam. This can be seen in several aspects, namely in the listening aspect, which occurs when the teacher is able to attract child ren's attention when telling stories. In the speaking aspect, it occurs when the teacher provides a stimulus in the form of questions to the child and the child can answer the teacher's question. As for the writing aspect and the reading aspect, it occurs when the teacher gives orders to the child to write the character in the story, for example when asked to write the name of the character "Kancil". At preschool age children they are still in the early writing and reading stages, so they are not yet able t o write complex sentences, but by giving orders to write the word "Deer" can improve early writing skills for children, after children recognize letters children can be taught to spell words so that it is able to improve reading skills in children. The obs tacles in the implementation of this storytelling activity, namely the limitations of teaching aids, less varied and poorly maintained media, the lack of the latest reading books that can be used in storytelling, the limited mastery of storytelling methods by storytellers, and children in Kober Al - Qolam classified as children. at an early age (5 - 6 years), so that learning needs the role of parents to be maximized .
Keywords: storytelling · keterampilan berbahasa · pendidikan anak usia dini

Introduction

Perpustakaan merupakan sumber pengetahuan yang penting bagi generasi muda di sekolah. Perpustakaan adalah pintu terbuka bagi setiap anak untuk kesempatan yang tak terhitung - untuk bersenang - senang, belajar, menemu kan dan berbagi. Ini tentunya sangat penting untuk membaca, belajar, mengeksplorasi identitas mereka, dan berpartisipasi dalam masyarakat yang semakin menghargai pengetahuan dan bergantung pada kemampuan untuk menemukan dan menggunakan informasi. Semua asp ek kebahasaan (membaca, menulis, mendengar, dan berbicara) dapat diperkuat di kawasan Perpustakaan (Lady, 2022). Hal ini menjadikan layanan perpustakaan mengalami perkembangan yang cepat terlebih lagi pada perpustakaan sekolah. Selin itu, adanya tuntutan p erpustakaan bukan hanya sekedar menyediakan koleksi dan melakukan layanan sirkulasi saja, tetapi sudah beranjak untuk mengusahakan fungsi perpustakaan secara general. Salah satunya layanan storytelling yang menjadi salah satu layanan yang mulai diminati di dunia pendidikan bahkan dijadikan sebuah studi kasus dibeberapa perpustakaan. Pada layanan storytelling , maka anak dapat mendengarkan cerita atau bercerita. Bercerita merupakan sebuah seni, bercerita dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai - ni lai pada anak yang dilakukan tanpa perlu menggurui sang anak (Asfandiyar, 2007). Proses bercerita menjadi sangat penting karena dari proses inilah yang menjadi pesan dari cerita tersebut agar dapat tersampaikan kepada anak. Pada saat proses bercerita berla ngsung terjadi sebuah penyerapan pengetahuan yang disampaikan pencerita kepada audience. Bercerita merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek - aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) an ak - anak (Asfandiyar, 2007). Pada layanan storytelling , maka cerita disampaikan dengan atau tanpa bantuan alat atau media pembelajaran. Cerita yang disampaikan harus mengandung pesan, nasihat, dan informasi yang dapat ditangkap oleh anak, agar anak dapat me mahami cerita serta meneladani hal atau perilaku yang baik berdasarkan dengan apa yang telah disampaikan. Melalui storytelling anak dapat mengembangkan kemampuan bahasannya, dapat mengulang cerita yang didengarnya dengan bahasa yang sederhana , sehingga ber pengaruh terhadap kemampuan kosakata dasar anak (Hajrah, 2018). Bercerita merupakan metode sekaligus materi di mana dapat diintegrasikan dengan dasar keterampilan lain, seperti berbicara, membaca, menulis, dan menyimak, termasuk untuk anak Taman Kanak Kana k. Pada saat anak mendengar cerita, mereka belajar kata - kata baru, dan pemahaman mereka tumbuh. Anak - anak mengembangkan kesadaran fonologis ketika mereka mendengar dan mengeksplorasi bunyi bahasa dalam buku. Hal ini selaras dengan keterampilan berbahasa ya ng memiliki arti serupa. Beberapa penelitian juga dilakukan di Indonesia, salah satu contohnya menurut penelitian Runtin & Poerwati (2018), dengan judul Peningkatan Kemampuan Berbahasa Lisan Anak Melalui Storytelling Berbantuan Media Gambar Pada Kelompok B 1 TK Dharma Kumara 1 Tibubeneng Tahun pelajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanaknan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II, dimana setiap tahapan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindaka n, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan observasi sebelum tindakan anak memiliki kemampuan berbahas a lisan 36%. Pada siklus I meningkat menjadi 88%. Pada siklus II kriteria ketuntasan mencapai 100%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode bercerita berbantuan media gambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan anak kelompok B1 TK Dharma Kumara I Tibubeneng. Adanya hasil penelitian sebelumnya di atas menjadikan peneliti tertarik untuk meneliti penerapan kegiatan storytelling dalam peningkatan kemampuan berbahasa anak di salah satu perpustakaan kelompok bermain, yaitu Perpustakaan Sekolah Kober Al - Qolam Bandung. Hal ini dikarenakan berdasarkan observasi dari satu kelas kelompok bermain yang terdiri dari 9 anak memiliki kemampuan berbahasa yang berbeda - beda. Ada anak yang aktif dan memiliki kemampuan berbahasa yang baik . N amun , ada j uga anak yang kurang dalam pembelajaran. Adanya ketidakmerataan ini menjadikan peneliti tertarik untuk mengkaji layanan storytelling dalam peningkatan keterampilan berbahasa anak usia 5 - 6 tahun di Perpustakaan Sekolah Kober Al - Qolam Bandung yang dilihat da ri empat komponen. Komponen tersebut menurut Tarigan (2013), yaitu keterampilan menyimak ( listening skills ), keterampilan berbicara ( speaking skills ), keterampilan membaca (reading skills ), dan keterampilan menulis (writing skills). B. TINJAUAN PUSTAKA Storytelling berasal dari bahasa Inggris, jika dilihat dari susunan kata memiliki dua kata yaitu story dan telling. Story berarti cerita dan t elling berarti menceritakan, sehingga kedua padanan kata tersebut menghasilkan makna baru yaitu menceritakan sebua h cerita. Pengertian tersebut senada dengan arti storytelling menurut Echols dalam Rahmansyah & Pricilia (2018) , terdiri dari dua kata, yaitu story yang berarti cerita dan telling yang berarti mendongeng. Menggabungkan dua kata storytelling berarti penceri taan cerita atau menceritakan cerita. Storytelling menurut Claire (2011) disebut juga bercerita. Storytelling adalah upaya yang dilakukan oleh storyteller dalam menyampaikan isi perasaan, pikiran atau sebuah story kepada anak secara lisan . Storytelling tel ah didefinisikan dalam banyak cara. Di Indonesia, storytelling sering disebut juga dengan metode bercerita. Storytelling adalah kegiatan aktif, bercerita secara terstruktur dan lengkap. Jadi dari kata storytelling terdapat kata story yang artinya cerita at au kisah. Awalnya storytelling dimaksudkan untuk menghibur atau mengajarkan sesuatu kepada generasi muda. Dalam bentuk story , sehingga esensi pengajaran menjadi lebih mudah diterima oleh segala usia (Astuti & Faiqoh, 2021). Berdasarkan beberapa pendapat ya ng telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa storytelling memiliki banyak fungsi, antara lain: sebagai hiburan atau penghiburan, pendidik, sarana pewarisan nilai, protes sosial, dan juga proyeksi. Hal terpenting dalam storytelling adalah prosesnya. Hal ini dikarenakan dalam storytelling, terjadi interaksi antara storyteller dan audiennya (dalam hal ini anak - anak). Melalui storytelling , komunikasi dapat terjalin antara storyteller dan audiennya. Kegiatan storytelling itu penting bag i anak, sehingga kegiatan tersebut harus dikemas sedemikian rupa agar menarik termasuk juga tahapan dalam storytelling . Teknik - teknik yang digunakan dalam storytelling dan siapa saja yang terlibat dalam storytelling juga menentukan baik atau tidaknya story teller. Dalam menyampaikan storytelling ada berbagai jenis cerita yang storyteller kepada audien. Sebelum storytelling dimulai, biasanya storyteller sudah mempersiapkan terlebih dahulu jenis story yang akan dibawakan agar saat storytelling berjalan lancar. Menurut (Asfandiyar, 2007), berdasarkan isinya, storytelling dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis diantaranya adalah storytelling Pendidikan dan fabel. Pendapat Ahyani (2010) menyatakan bahwa cerita memiliki kemampuan untuk menciptakan lingkunga n belajar yang tepat bagi siswa PAUD. Hamilton & Weiss (2005) juga menjelaskan bahwa storytelling adalah proses mengkonstruksi cerita dalam pikiran, yang merupakan cara paling mendasar untuk memaknai dan mencakup aspek pembelajaran. Berdasarkan uraian di a tas, dapat disimpulkan bahwa storytelling adalah penyampaian materi pelajaran dengan menceritakan secara kronologis. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) yang menjadi tingkat pencapaian perkembangan berbahasa pada rentang usia 5 - 6 tahun yai tu sebagai berikut: Menerima Bahasa (Aspek Menyimak), mengerti beberapa perintah secara bersamaan. mengulangi kalimat yang lebih kompleks. Mengungkapkan Bahasa (Aspek Berbicara) menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memi liki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, memiliki pembendaharaan kata, serta mengenal symbol - simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat - predikat - keterangan), keaksaraan ( Aspek Menulis dan Membaca), menyebutkan simbol - simbol huruf yang dikenal, mengenal suara huruf awal dari nama benda - benda yang ada di sekitarnya, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama, memahami hubungan antara bunyi dan bentu k huruf, membaca nama sendiri dan menuliskan nama sendiri.

Method

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan bentuk pendekatan deskriptif. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian deskriptif. Peneliti an deskriptif menurut (Nazir, 2014) adalah yaitu penelitian yang mempelajari tentang masalah - masalah dalam masyarakat serta cara yang berlaku dalam masyarakat dan situasi - situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan, sikap, pandangan, serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh - pengaruh dari suatu fenomena. Penelitian deskriptif ini memiliki tujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta - fakta, sifat sifat serta hubungan antar fenomena yang dianalisis. Pen elitian ini dilakukan di Perpustakaan Kober Al - Qolam, Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret - Agustus 2021. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian adalah narasumber yang merujuk pada seseorang yang paham terkait dengan objek penelitian serta mampu memberikan penjabaran tentang topik penelitian yang diangkat (Sugiyono, 201 9 ). Informan penelitian dalam penelitian ini adalah pengelola perpustakaan dan guru di Kober Al - Qolam. Adapun informan tersebut adalah Sifa sebagai kepala perpustakaan Kober Al - Qolam sejak tanggal 2016 - sekarang. Informan kedua dan ketiga adalah Metty d an Fitri sebagai salah satu guru Kober Al - Qolam kelas B yang menagajar anak pada rentang usia anaknya 5 - 6 tahun. Analisi data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

Kelompok Bermain Al - Qolam berdiri pada bulan Juli 2011. Pada awal pendiriannya Kelompok Bermain Al - Qolam bernama POSPAUD Melati Mekar 3 berada dibawah naungan Desa Cimekar. P ada bulan Oktober 2011 POSPAUD Melati Mekar 3 berubah menjadi Kelompok Bermain (Kober) Al - Qolam yang berada di b awah naungan Yay asan Pendidikan Al - Qolam Bandung. Adapun Perpustakaan Kober Al - Qolam, didirikan pada tahun 2016 diresmikan oleh Ibu Fitri Sawitri, S.Pd., yang merupakan pendiri Kober Al - Qolam. Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara yang dilakukan dengan pustakawan, kepala sekolah dan guru, peneliti akhirnya mendapatkan hasil penelitian berupa pemaparan mengenai kegiatan storytelling sebagai salah satu teknik untuk meningkatkan perkembangan keterampilan berbahasa anak usia 5 - 6 tahun di Kober Al - Qol am. P erpustakaan Kober Al - Qolam didirikan karena adanya kesadaran dari kepala sekolah, para guru dan pustakawan mengenai keberadaan perpustakaan merupakan suatu yang sangat penting dalam menunjang pendidikan di sebuah sekolah. H al i ni menjadikan sekolah b erupaya untuk memanfaatkan sarana koleksi - koleksi perpustakaan , sehingga civitas akademik menyadari fungsi perpustakaan di sekolah. Pustakawan dan guru berkreasi dan membuat inovasi agar siswa sejak usia dini menyukai dan mendapatkan manfaat dari perpustak aan, terutama dalam hal keterampilan berbahasa salah satunya dengan menjalankan Program Storytelling . Storytelling dianggap sebagai sarana yang tepat dalam membantu meningkatkan keterampilan berbahasa anak, Hal ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut: “ Storytelling itu adalah sebuah sarana yang disukai banyak anak, menjaga anak tetap fokus, dan membuat a tmosfir ruangan menjadi lebih hidup dan anak - anak pun aktif, serta dalam perkembangan berbahasa pun sangat dipengaruhi oleh sarana ini, kita bisa melihat langsung perkembangan yang terjadi selama proses storytelling berlangsung.” (Sifa, Wawancara, Agustus, 2021). Hal yang paling penting dalam kegiatan storytelling adalah proses. Dalam storytelling , terjadi interaksi antara storyteller (pustakawan dan audiennya (murid). Melalui proses storytelling , komunikasi dapat terjalin antara storyteller dan audiennya. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa pelaksanaan storytelling itu penting bagi anak, maka pelaksanaannya di Perpustakaan Kober Al - Qolam harus dikemas sedemikian rupa agar menarik. Agar storytelling dapat disajikan dengan menarik maka diperlukan adanya tahapan - tahapan dalam storytelling , teknik yang digunakan dalam storytelling dan siapa saja pihak - pihak yang terlibat , sehingga dapat berjalan dengan lancar. Berdasarkan hasil penelitian , proses pelaksanaan storytelling di Perpustakaan Kober Al - Qolam , yaitu menentukan storyteller . Storyteller adalah orang yang bercerita yang merupakan pustakawan di Perpustakaan Kober Al - Qolam . Adapun beberapa kriteria storyteller, yaitu mampu memerankan berbagai kepribadian sebagai orang atau peran lain yang dibutu h ka dalam storytelling ; memiliki kemampuan untuk tampil ; memiliki kemampuan berbicara, memiliki rasa kepedulian terhadap audien ; mampu memahami ke butuhan audien; memiliki ke disiplin an untuk mel aksanakan storytelling sebagai seni ; m emiliki kekuatan emosional untuk mengatasi penolakan ; memiliki keyakinan terhadap talenta dan bakatnya sendiri ; suka, menikmati cerita dan proses penyampaiannya ; dan mampu menjadikan diri sendiri sebagai bagian dari au die n . Audien adalah anak - anak atau orang yang mendengarkan cerita yang dituturkan oleh storyteller . Adapun guru yang mengamati jalannya storytelling , dengan tujuan untuk memeriksa silang menggunakan form penilaian harian dalam perkembangan keterampilan ber bahasa anak. Adapun tahapan pada pelaksanaan storytelling , yaitu terdapat tiga tahapan . Ketiga tahapan tersebut, yaitu persiapan sebelum proses storytelling dimulai, saat proses storytelling berlangsung, dan proses storytelling selesai. Pada tahap persiapan , maka perlu diterapkan lima Langkah strategi pembelajaran, yaitu langkah pertama, m enetapkan tujuan dan tema cerita. Langkah kedua, m enetapkan bentuk bercerita yang dipilih, misalnya bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita, menggunaka n gambar - gambar, menggunakan papan flannel, d an lain - lain . Langkah ketiga, m enetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita sesuai dengan bentuk bercerita yang dipilih. Langkah keempat, m enetapkan rancangan langkah - langkah kegiatan bercer ita, yang terdiri dari: a) menyampaikan tujuan dan tema cerita ; b) mengatur tempat duduk ; c) melaksanaan kegiatan pembukaan ; d) mengembangkan cerita ; e) menetapkan teknik bertutur ; f) mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita ; dan g) m enetapka n rancangan penilaian kegiatan bercerita . Pada tahap persiapan sebelum proses storytelling dimulai ini juga , storyteller , yaitu pustakawan akan menarik fokus anak dengan permainan konsentrasi . Perm a inan ini bertujuan agar tercipta kontak dua arah antara st oryteller dan audie n. H al ini dikarenakan storytelling membutuhkan kontak mata antara storyteller dan audien. Tahapan selanjutnya adalah kegiatan inti yaitu proses storytelling berlangsung . Storyteller akan menyajikan cerita dengan memperhatikan kata - kata, gerak tubuh, dan permainan suara , sehingga menampilkan gambaran visual di benak anak - anak sebagai audien. Cerita yang akan diberikan adalah salah satu judul cerita yang akan diberikan selama satu hari . Intensitas pemberian cerita satu kali da lam satu hari dikarenakan sesuai dengan pengalaman yang telah dilalui oleh guru di sekolah bahwa anak hanya dapat mengingat satu materi atau tema pelajaran yang membutuhkan 4 sampai 6 kali pertemuan. Oleh karena it u, hal ini juga bertujuan untuk menghindari bias pengaruh, karena perkembangan anak pada usia tersebut sangat pesat. Tahapan terakhir adalah proses storytelling selesai dengan memberikan kesempatan kepada audien untuk dapat mengungkapkan pendapatnya secara lisan tentang cerita yang telah didengar . Selain itu juga audien diberi kesempatan untuk menunjukkannya secara visual pada kertas bergambar yang telah disiapkan. Kegiatan ini merupakan aspek operasional storytelling , yaitu memberikan pengalaman yang berma kna setelah mendengarkan storytelling . Adanya kegiatan storytelling ini ternyata mampu meningkatkan keterampilan berbahasa anak. Adanya peningkatan ini menurut Tarigan (201 3 ) dapat dilihat berdasarkan 4 komponen , yaitu keterampilan menyimak (listening ski lls), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Peran storytelling pada peningkatan komponen keterampilan menyimak (listening skills), terlihat adanya fokus anak - anak terhadap cerita yang disampaikan oleh pustakawan. Hal ini dikarenakan adanya upaya dari pustakawan sebagai storyteller dalam menarik perhatian anak sehingga bisa fokus pada cerita yang disampaikan. Upaya ini dilakukan denga n menggunakan alat peraga atau media pendukung yang menarik perhatian anak, seperti boneka, mainan atau buku cerita bergambar. Kemudian, p ada akhir cerita pustakawan sebagai storyteller memberi pertanyaan singkat seputar cerita yang sudah di bacakan . Pembe rian pertanyaan ini bertujuan agar anak - anak menyimak dan bisa menjawab pertanyaan yang diberikan . Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Anak - anak kan susah fokus ya, jadi kita harus bisa menarik perhatian anak terlebih dahulu supaya anak bis a fokus kepada cerita yang kita bacakan . D iakhir bercerita nanti ada pertanyaan singkat, misalnya siapa anak yang nakal . Kemudian, anak yang memperhatikan pasti bisa menjawabnya. Jadi anak fokus menyimak ” (Sifa, Wawancara, Agustus, 2021) Kegiatan storytelling dalam peningkatan peningkatkan keterampilan berbahasa anak pada komponen keterampilan berbicara (speaking skills) diupayakan dengan cara memberikan stimulus kepada anak berupa pertanyaan singkat tentang cerita yang sudah disampaikan oleh pusta kawan sebagai storyteller . C ara ini efektif dalam merangsang anak untuk berbicara dan bisa meningkatkan keterampilan berbicaranya, karena melalui kegiatan storytelling anak bisa mengenal kosa kata baru. Selin itu, adanya pertanyaan yang diberikan dapat meb uat anak terlibat pada kegiatan storytelling . Hal ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut: “Kita harus melibatkan anak dalam proses storytelling . Misalnya dengan memberi pertanyaan atau perintah kepada anak - anak untuk memancing anak supaya ma u berbicara.” (Metty, Wawancara, Agustus, 2021) Kegiatan storytelling dalam peningkatan peningkatkan keterampilan berbahasa anak pada komponen membaca ( reading skills ), dan keterampilan menulis ( writing skills ) dengan cara memberi kan tugas untuk menulis kan di buku bergaris dari nama tokoh atau benda yang ada di dalam cerita . Selain itu, dengan memberi kan pertanyaan seputar huruf dalam kuis yang diadakan di dalam kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak. H al ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut: “Setelah kegiatan storytelling , biasanya kita menugaskan anak untuk menulis nama tokoh dalam cerita . Nantinya ini juga akan tertera dalam form penilaian harian anak, contohnya anak - anak diminta menulis nama tokoh Kanci l di buku bergaris, nanti ada kuis tentang huruf . Nantinya anak yang bisa menulis atau menjawab pertanyaan akan mendapat bintang keaktifan.” (Sifa, Wawancara, Agustus, 2021) Adanya kegiatan storytelling mampu memberikan peningkatan menulis dan membaca permulaan, sehingga anak - anak belum bisa membaca dan menulis kalimat yang kompleks. Hal ini dikarenakan pada dasarnya anak usia 5 - 6 tahun masih dalam tahap belajar membaca dan menulis permulaan . H al ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut: “U ntuk membaca dan menulis, kan kemampuan setiap anak dalam membaca dan menulis itu berbeda - beda, tapi semuanya masih dalam tahap membaca dan menulis permulaan, belum ketahap membaca mahir, yang pasti butuh waktu untuk melihat hasil dari perkembangan keteramp ilan berbahasa ini terutama membaca dan menulis.” (Metty, Wawancara, Agustus, 2021) Kegiatan storytelling ini bisa menjadi pemacu adanya gerakan literasi sekolah di lingkungan Kober Al - Qolam . Hal ini menurut Khoeriyah, Indah, & Syam (2021) adanya berbagai inovasi program yang meningkatkan kemampuan membaca dan menulis merupakan bentuk efektivitas gerakan literasi sekolah. Selain itu, kegiatan storytelling ini juga merupakan bentuk juga sesuai dan mendukung dari kurikulum Kober Al - Qolam . Selain itu, storyte lling juga masuk kedalam pelaksanaan RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian) dan RPPM (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan) yang dijadwalkan seminggu sekali . Berdasarkan hasil penilain pembelajaran juga menunjukkan jika storytelling mampu memb erikan stimulus pada anak agar kemampuan berbahasanya semakin meningkat. Anak menjadi memiliki kemampuan menyimak, berbicara, menulis dan membaca melalui kosa kata yang diperoleh dan diskusi tanya jawab pada storytelling . Hal ini nantinya akan menjadikan p eran perpustakaan sebagai sumber belajar bagi guru dan siswa (Syam, Indah & Fadhli, 2021). Adapun hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan storytelling adalah adanya alat peraga dan media yang kurang variatif dan kurang terawat . Hal ini menjadikan pelaksanaan storytelling menjadi kurang maksimal dan menjadikan beberapa anak - anak sebagai audiens tidak fokus dalam menyimak . Dalam meminimalisir keterbatasan alat peraga dan media, guru dan pustakawan meningkatkan kerjasama dengan me ningkatkan pemeliharaan alat peraga. K urangnya buku bacaan terbaru yang bisa digunakan materi dalam bercerita dan keterbatasan penguasaan metode bercerita oleh storyteller juga menjadi kegiatan storytelling kurang maksimal . Dalam meminimali sir kendala ini, maka storyteller harus lebih mempersiapkan bahan cerita atau materi yang akan di sampaikan kepada anak - anak . Selain itu, storyteller aktif mengikuti gugus pelatihan se b agai upaya dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menerapkan metode bercerita. Hambatan lainnya adalah anak yang berada di Kober Al - Qolam tergolong anak usia dini (5 - 6 tahun), sehingga pembelajarannya tidak hanya bisa dilakukan di kober saja tetapi juga dirumah melalui peran orang tua. Dalam mengatasi permasalahan ini maka pustakawan dan guru melakukan kerjasama dengan orang tua siswa agar ikut aktif dalam mendukung pembelajaran anak baik di sekolah maupun di rumah.

Conclusion

Perpustakaan Kober Al - Qolam megadakan kegiatan s torytelling yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa anak usia 5 - 6 tahun . Kegiatan ini dilakasanakan selama seminggu sekali yang ternyata sudah mendukung kurikulum, RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian) dan RPPM (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan) . Adapun storyteller atau orang yang bercerita merupakan pustakawa n di Perpustakaan Kober Al - Qolam. Dalam pelaksanaan kegiatan storytelling ini memiliki tiga tahapan, yaitu persiapan sebelum proses storytelling dimulai, saat proses storytelling berlangsung, dan proses storytelling selesai. Pelaksanaan kegiatan s torytelling ini ternyata mampu mengembangkan keterampilan berbahasa anak usia 5 - 6 tahun terutama pada komponen keterampilan menyimak ( listening skills ), keterampilan berbicara ( speaking skills ), keterampilan membaca (reading skills ), dan keterampilan menul is (writing skills). Adapun hambatan dalam pelaksanaan kegiatan s torytelling ini, yaitu keterbatasan alat peraga, media yang kurang variatif dan kurang terawat, k urangnya buku bacaan terbaru yang bisa digunakan materi dalam bercerita , keterbatasan penguasa an metode bercerita oleh storyteller , dan anak yang berada di Kober Al - Qolam tergolong anak usia dini (5 - 6 tahun), sehingga pembelajarannya perlu adanya peran orang tua agar maksimal. Adapun saran dalam penelitian ini adalah pihak sekolah dapat terus menin gkatkan dan menambah koleksi buku serta keterampilan bercerita storyteller , sehingga pelaksanaan storytelling dapat berjalan dengan maksimal. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya dapat memperdalam penelitian tentang pengelolaan dan pemilihin media atau sarana efektif untuk kegiatan storytelling bagi anak usia dini umur 5 - 6 tahun di perpustakaan.