Kembali
16
1
2014 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 2 · 1 ISSN 2549-1334

PERKEMBANGAN TAMAN BACAAN DI KOTA MAKASSAR

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstract

The term „reading garden‟ refers to a dynamic and creative conceptual on reading place. The development of reading garden in Makassar city began since the beginning of 2000. There were three kinds of reading gardens; reading gardens built by the government, reading gardens established by social communities, and reading gardens maintained by individuals. The one that was built by the government increased in numbers since the government launched GMGM (Gerakan Makassar Gemar Membaca) or Makassar Love Reading Program. The presence of TBK (Reading Gardens built by the Government) is just about place for reading, the ratio between the total of reading gardens and Makassar population is not balanced. Meanwhile, the one that was established by the community is flexible, dynamic, creative, and variety in services. On the other hand, reading gardens maintained by individuals are much more flexible in which they have participated in many actions in societies. The presence of three kinds of reading gardens in Makassar city is expected to encourage the citizen to love reading
Keywords: Taman Bacaan · Perpustakaan Komunitas

Introduction

Dalam upayanya mewujudkan salah satu cita-cita bangsa, yakni mencerdasan kehidupan bangsa,sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945,pemerintah perlu memajukan perpustakaan sebagai wadah pendidikan, riset, pelestarian informasi dan rekreasi bagi masyarakat.Sejak lepasnya belenggu penjajahan, Indonesia mulai merasakandampak positif dari kemerdekaantersebutdengan tumbuhnya berbagai perpustakaan.Namun barulah setelah tumbangnya Orde Baru, perkembangan perpustakaan semakin tumbuh pesat seiring dengan udara merdeka atas hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat rakyat Indonesia.Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2013 jumlah perpustakaan desa/kelurahan yang berdiri sebanyak24.745.Tentu perbandingan jumlah perpustakaan dengan jumlah daerah atau desa belum berimbang.Belum lagi jika membandingkan dengan jumlah penduduk dengan buku bacaan yang diterbitkan setiap tahunnya.Bisa dilihat bahwa dari total 250 juta jiwa rakyat Indonesia, harianKompaspada tahun 2012 memberitakan terbitan buku di Indonesia tidak sampai18.000 judul buku setiap tahunnya.Kebijakan tentang pengembangan perpustakaan di Indonesia telah diatur pada Undang-undangNomor 43 Tahun 2007tentang Perpustakaan yang selanjutnya diterbitkankanlah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU tersebut.Undang-undang danPeraturan Pemerintah tersebut menunjukkan adanya proses perbaikan sistem perpustakaan dan perhatian pemerintah dalam mencapai kecerdasan bangsa. Hal ini jugamengukuhkan lembaga perpustakaan daerah kabupaten/kota sebagai bagian dari institusi pemerintah yang menjalankan tugas demi pencapaian cita-cita diatas.Namun perpustakaan umum di tingkat daerah masih perlu memaksimalkan perannya di tengah-tengah masyarakat agar dapat dirasakan kehadirannya.Sebenarnya telah banyak perpustakaan daerah di Indonesia yang telah membina perpustakaan yang berada pada akar rumput, yang diistilahkan sebagai taman bacaan yang merupakan konsepperpustakaan untuk rakyat (dikemukakan oleh Blasius Sudarsono). Akan tetapi taman baca yang dibina pemerintah belum memberikan dampak yang signifikan dalam pencapaiannya. Sementara itu, perkembangan Taman BacaanSwadaya atau perpustakaan yang berbasis komunitas dan mandiri menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan Taman bacaan yang dibiayai oleh pemerintah.Tulisan iniakan membahas perkembangan taman bacaan(baik yang dikelola oleh pemerintah maupun yang dikelola secara swadaya oleh komunitas atau pribadi) di Kota Makassar dan mengamati perkembangan dan aktivitas kedua jenis perpustakaan tersebut. Selain itu, penulis juga berupaya membahas tentang teknikpengelolaan dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan taman bacaan. Sementara itu, sebagaisentral perekonomian dan pendidikan di Indonesia bagian timur khususnya di Sulawesi, Kota Makassar menjadi kota metropolitan yang tumbuh dengan berbagai komunitas atau lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, budaya, ekonomi, sosial dan sebagainya. Beragamkomunitasyangtumbuhdanberkembang menjadi sebuah fenomena masyarakat Kota Makassar yang lebih hidup, kreatif dan atraktif. Sebagai contoh Pesta Komunitas Makassar 2014 pada tanggal 24-25 Mei 2014 di Monumen Mandala Makassar menghadirkan 75 komunitas yang ada di Makassar, kegiatannya merupakan respon perkembangankomunitas dalam satu dasawarsa terakhir.Bahkan tidak hanya itu, masih banyak komunitas-komunitas yang ada di Kota Makassar, khususnya yang bergerak dalam dunia pendidikan dan sosial yang kemudian membentuk taman bacaan(berbasis komunitas) untuk menunjang kebutuhan belajar anggotanya dan masyarakat disekitar taman bacaan itu berada.Meski tulisan ini lebih memfokuskan pada kedua jenis taman bacaan diatas, namun juga tetap akan membahas beberapa instansi pemerintah maupun swasta yang membentuk sebuah perpustakaaan dan taman bacaan sebagai partisipasi dan kepedulian terhadap pendidikan masyarakat.Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyadarkan seluruh unsur masyarakat betapa pentingnya keberadaan perpustakaan.2.PENGERTIAN TAMAN BACAANSebagai sebuah konsep“taman bacaan”, selama ini penamaannya diberikan bermacam-macam, sehingga muncullah Taman Baca, Taman Bacaan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Rumah Baca, Café Baca dan sejenisnya. Kedinamisan penyebutan konsep taman bacaan sesungguhnya merupakan corak khusus yang ingin ditampilkan oleh setiap “taman bacaan”, sebabtaman bacaanmemang selama ini memiliki corak khusus yang berbeda dengan perpustakaan. Muhsin Kalida dalam“Gerakan Literasi: Mencerdaskan Bangsa”, dilihat dari definisi yang dijelaskan, Taman Bacaanmemiliki kategori tujuanyang samadenganPerpustakaan (berbasis) Komunitas. Disamping itu, iajuga mengakui bahwa istilah taman baca masih diartikan sama dengan makna perpustakaan. Meskipun belum banyak pakar dalam bidang kepustakawanan menjelaskan definisi Taman Bacaan, tetapi berangkat dari tujuan tersebut, maka dapatlah kita mengidentifikasi Taman Bacaansebagai perpustakaan yang berbasis lingkungan dan komunitas.Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah suatu lembaga atau sarana yang melayani kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai ilmu pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya (Kalida, 2010: 1). Sebagai lembaga yang posisinya dekat dengan masyarakat di lingkungan tertentu, kehadirannya sangat strategis untuk melakukan proses pendidikan nonformal. Sebab itu,TBM dikatakan sebagai perpustakaan yang berada pada lingkungan masyarakat karena sasarannya adalah masyarakat disekitar lingkungan tersebut, atau sebagai perpustakaan untuk rakyat (Ratih Rahmawati, 2012:29).Stian Haklev mengemukakan bahwaTaman Bacaan merupakan istilah yang memiliki arti yangat luas.Banyaknya ruang baca yang muncul dengan beragam nama, Haklev menganggap masyarakat Indonesia selalu menggunakan isitilah Taman Bacaan untuk membicarakan pergerakan atau fenomena tersebut.Istilah TBM awalnya digunakan oleh pemerintah dalam program pemerintah di tahun 1990 dan umumnya terkait dengan pemerintah yang mendukung taman bacaan. Bagi Haklev, isitilah ini digunakanTaman Bacaan (TB) Independen. Dalam artikel “Menguji Idealisme”, Haklev menyatakan bahwa taman bacaan tumbuh dengan sangat cepat, tidak hanya di kota tetapi juga hingga kepelosok desa/kelurahan pada tahun 2001.Definisi lain dikemukakan Suharyanto (2014: 100) dalam Glosarium Istilah Perpustakaan, menunjukkan pengertian taman bacaan masyarakat (TBM) sebagai sarana atau layanan di bidang penyediaan bahan bacaan, berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multimedia lain, yang dilengkapi dengan ruang untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator. Definisi diatas secara spesifik memberikan gambaran kegiatan yang dilakukan oleh TBM, di samping menekankan peran penting pengelola TBM sebagai pendorong terlaksananya kegiatan-kegiatan tersebut.Istilah taman bacaan memang tidak disebutkandalam UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, tetapi menurut Muhsin Kalida, TBM masuk dalam kategori perpustakaan khusus. Sebagaimana dalam pasal 25 UU No 43 Tahun 2007 menjelaskan “pemerintah dan pemerintah daerah memberikan bantuan berupapembinaan teknis, pengelolaan, dan/atau pengembangan perpustakaan kepada perpustakaan khusus”.Perpustakaan khusus merupakan perpustakaan yang koleksinya khusus atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan dimana ia berada. Pemerintah melalui pemerintah daerah berkewajiban mendorong pembudayaan kegemaran membaca melalui Taman Bacaan Masyarakat. Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Bab XIII Pasal 49 tentang Pembudayaan Kegemaran Membaca telah jelas dinyatakan bahwa “Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaaan kegemaran membaca”.Sementara partisipasi masyarakat dalam menumbuhkan taman bacaan masyarakat dan rumah baca merupakan hak setiap masyarakat demi meningkatkan budaya baca masyarakat. Hal ini telah disebutkan pada Bab IIpasal 5 di Undang-undangyang sama, yaitu“masyarakat mempunyai hak yang sama untuk, a) memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan; b) mengusulkan keanggotan Dewan Perpustakaan; c) mendirikan dan atau menyelenggarakan perpustakaan; d) berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan”.Sehingga masyarakat, baik dalam komunitas maupun individu-individu berhak untuk mendorong budaya baca melalui pendirian taman bacaan, TBM, Rumah Baca, Café Baca dan semacamnya. Hal ini didukung oleh pemerintah melalui penyediaan sarana tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu, sebagaimana juga telah disebutkan pada Bab XIII Pasal 48 ayat1-4.Menurut Rahmawati (2012:46) taman bacaan masyarakat yang didirikan oleh pemerintah Indonesia dimulaisekitar tahun 1990-an dan berkembang seiring dengan pembangunan taman bacaan oleh pemerintah daerah. Walapun tidak tertutupkemungkinan bahwa tidak semua daerah di Indonesia pada tahun 1990-an telah mengenal konsep taman baca atau telah mendirikannya. Bahkan menurut Muhsin Kalida (2010:3) istilah TBM dalam tahun 2000-an memang belum populer. Kemungkinan ini dapatdilihatdari tahun pendirian perpustakaan-perpustakaan daerah/ kota di Sulawesi Selatan yang baru di mulai sekitar tahun 2000-an. Meskipun pendirian taman bacaan bukan bersumber dari perpustakaan daerah/kota, akan tetapi selama ini eksistensi dan perkembangan taman bacaan(pemerintah) sepenuhnya dibinaoleh pemerintah melalui perpustakaan daerah/kota. Kalaupun sebelumnya di Sulawesi Selatan pada tahun 2000-an telah terdapat taman bacaan yang dibina pemerintah ini mungkin tidak terlepas dari Instruksi Menteri dalam Negeri Nomor 28 tahun 1984 tentang PelaksanaanPenyelengaraan Perpustakaan dan partisipasi masyarakat secara mandiri melalui komunitas atau organisasi.Stian Haklev dalam tulisannya yang berjudul “Community Libraries in Indonesia: A Survey of Government-Supported and Independent Reading Gardens”mengungkapkan bahwa pada dasarnya TBM didirikan oleh tiga penggagas yaitu 1) taman bacaan yang didirikan oleh pemerintah atau dibiayai oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, 2) taman bacaan yang didirikan oleh donatur melalui program CSR perusahaan yang biasanya punya kepedulian pada peningkatan minat baca dan pendidikan, dan 3) taman bacaan yang didirikan oleh lembaga swadaya, komunitas lokal dan nasional maupun ormas. 3.TAMAN BACAAN BINAAN PEMERINTAH DI MAKASSARBagi masyarakat, kehadiran tamanbacaanmerupakan tuntutan kebutuhan akan adanya wadah untuk mengakses informasi yang berada di lingkungan masyarakat baik kelurahan atau desa. Perpustakaan daerah yang berada di kota/kabupaten tidak semua dapat dijangkau oleh masyarakat. Seperti halnya dengan perpustakaan kecamatan dan perpustakaan desa/kelurahan, letak perpustakaan desa/kelurahan sebenarnya juga dekat dengan masyarakat, terutama masyarakat desa/kelurahan, tetapi masih pada lingkup desa/kelurahan.Perpustakaan desa/kelurahan pada umumnya berkedudukan dibalai desa atau kantor desa/kelurahan dan menjadi pusat informasi pada desa itu. Menurut data dari BPS pada tahun 2013 jumlah desa/kelurahan yang ada di Indonesia 79.075 desa/kelurahan.Sementara menurut Dedy Junaidi dalam Murniaty (2014), perpustakaan desa/kelurahan berjumlah 24.745.Dari data tersebut, menandakan bahwa masih sangat banyak desa/kelurahan yang belum memiliki perpustakaan. Padahal hal ini telah menjadi kewajiban setiap desa/kelurahan sebagaimana di atur dalam UU No 43Tahun 2007 tentang Perpustakan dan sebelumnya Instruksi Menteri dalam Negeri Nomor 28 tahun 1984 tentang Pelaksanaan Penyelengaraan Perpustakaan.Jika dilihat dari kedekatannya dengan masyarakat, perpustakaan desa/kelurahan dan taman bacaanmemiliki persamaan, tetapi juga memiliki perbedaan. Taman bacaan (binaan pemerintah) yang berada didalam kelurahan/desa biasanya memiliki beberapa taman bacaanpada lingkup yang lebih kecil seperti pada lingkungan RT/RW dan lorong-lorong disetiap desa/kelurahan. Sementara perpustakaan desa/kelurahan pada umumnya hanya terpusat dalam satu tempat, itupun biasanya berada di kantor lurah/desa. Selain itu, ada pula perpustakaan kelurahan yang didalamnya memiliki taman baca, dengan kata lain perpustakaan dan taman bacaini berada dalam satu atap atau satu gedung. Hal ini dapat dilihat di Kota Makassar yang sebagian dari jumlah Taman Bacakecamatan/kelurahan/kepulauan(TBK) berada dalam perpustakaan kelurahan yang dibina oleh Kantor Arsip, Perpustakaan, dan Pengolahan Data Kota Makassar.Sumber: Data badan arsip, perpustakaan, dan pengolahan data kota makassarTaman bacaan yang didirikan oleh Pemerintah Kota Makassar, pada mulanya dikembangkan melalui program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) yang dicetuskan oleh Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin pada tahun 2005. Pada tahun yang sama, Badan Arsip, Perpustakaan dan Pengolahan Data (BAPPD) Kota Makassar didirikan berdasarkanPeraturan Daerah (Perda) No.11/05. PerkembanganTaman Bacaandi Makassar setiap tahunnya mengalami pertumbuhan semenjak dibentuknya BAPPD Makassar pada tahun 2005. Pada awal pendirian BAPPD dan GMGM, taman bacaandi Makassar hanya terdapat 14 unit. Pada tahun 2013 tercatat sebanyak 40 Taman Baca kecamatan/Kelurahan/Kepulauan (TBK) yang berdiri di setiap kecamatan di Kota Makassar. Hal ini merupakan sinergitas yang terjalin BAPPD dan project GMGM sebagai upaya meningkatkan kegemaran membaca masyarakat KotaMakassar. Program GMGM sepenuhnya didukung oleh BAPPD dalam mengimplementasikan tujuan dari program pemerintah Kota Makassar ini. Terutama dalam membina semua jenis perpustakaan yang ada, sertamembina pengelola taman bacaanmaupun mengembangkan sarana dan prasarana. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BAPPD Makassar yang melibatkan pustakawan/pengelola perpustakaan dan taman baca di Kota Makassar diantaranya Bimbing Teknis (BIMTEK), pelatihan pengelola perpustakaan/tamanbaca, lomba atau apresasi pustakawan/pengelola berprestasi, dan kegiatan-kegiatan lainnya.Selain itu melalui program ini, masyarakat dapat ikut berpartisipasi menyumbangkan buku-buku ke perpustakan atau ikutdalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.Dengan program GMGM, berbagai penghargaan telah didapatkan Pemerintah Kota Makassar. Ini dibuktikan dengan beberapa kota besar yang mengadopsi program ini seperti Gorontalo, Jawa Timur, Bau-Bau, Palopo, Sulbar, Papua, Pare-Pare, Palu dan lainnya.Pada tahun 2009, program ini mendapat kunjungan dari para kepala-kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi se-Indonesia yang secara langsung diterima di ruang pola Kantor Walikota.Pemerintah Kota Makassar menyampaikan bahwa tujuan program GMGM adalah agar membaca menjadi budaya di kalangan masyarakat.Program ini juga telah mendapat penghargaan pada tahun 2009 dari Mendiknas dan Perpustakaan Nasional pada tahun 2010 sebagai program percontohan nasional.Bahkan telah mendapat undangan dari Brunei Darussalam dan Malaysia untuk mempresentasikan keberhasilan program GMGM yang dicanangkan Pemerintah Makassar. Prestasi nasional yang diperoleh GMGM yaitu rekor MURI dalam kegiatan membaca terpanjang dan terbanyak tahun 2007 dan pembukaan MOS secara serentak tahun 2011 dan rekor MURI donasi buku 4.000 ribu tahun 2012.Dalam menjalankan program GMGM, pendanaannya bersumber dari pemerintah kota Makassar, tokoh masyarakat,pihak swasta, penerbit buku, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang ikut berpartisipasi aktif. Sementarapenyelenggara program ini bukan hanya berasal dari pegawai negeri tetapi relawan yang peduli terhadap aktivitas membaca dalam mengisi waktu luang masyarakat Kota Makassar. GMGM yang di dimanajeri oleh Wahyudi Muchsin ini memiliki timdengan beberapa oranganggota.Taman BacaKecamatan/Kelurahan/Kepulauan (TBK)yang telah mencapai 40 unit tersebut tersebar diberbagai kecamatan, belum termasuk taman bacaanyang berada dalam satu atap dengan Perpustakaan kelurahan/kepulauan di Makassar.Hingga pada tahun 2013 jumlah pengunjung/pembacataman baca meningkat Tabel 1. Rekapitulasi Perkembangan Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM)sebanyak 159.520 orang. Sementara koleksi TBK sampai pada tahun 2013 dari seluruh taman bacaan tersebut berjumlah 87.649. Tabel di atas menunjukkan perkembangan TBK dan perpustakaankelurahan dari tahun ke tahun.Padatahun 2010 dan 2011 terjadi penurunan pengunjung/pembaca taman baca dari tahun sebelumnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya terjadi kerusakan taman bacaan baik karena kebakaran maupun kurang terurus. Namun pada tahun 2012 terjadi peningkatan pengunjung, karena hal ini ditunjang oleh dana operasional dari BAPPD yang memberikan target capaian pengunjung kepada pengelola taman bacaan. Sementara dalam membina taman bacaan, BAPPD Makassar membentuk tim pembina disetiap taman baca yang berasal dari pustakawan/pengelola perpustakaan BAPPD Makassar. Dalam mengembangkan taman bacaan, pengelola taman bacaan menjadi salah satu unsur pembinaan yang penting bagi BAPPD Makassar. Hal ini dilihat dari kondisi pengelola taman baca yang kurang menguasai keterampilan teknis maupun strategi pengembangan dalam mengelola taman bacaan. Selain itu, pengelola taman bacaan yang berasal dari masyarakat setempat,terkadang ketika telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, taman bacaankemudian ditinggalkan. Apalagi tunjangan yang diterima oleh pengelola taman bacadari kecamatan dianggap masih rendah, sehingga pengelola taman bacaan tidak dapat berbuat banyak.Sementara pada taman bacaan yang berada dalam lingkungan kelurahan, pengelolanya merupakan usulan Lurah yang di SK-kan oleh Camat. Meskipun dari data pengunjung dan taman baca diatas tersebut mengalami peningkatan, namun hal ini masih jauh berbanding dengan total penduduk kota Makassar yang berjumlah 1.398.804 jiwa (data dari Wikipedia). Di Kota Makassar, dari data yang dikutip dariwww.organisasi.orgjumlah kelurahan sebanyak 143 kelurahan. Sementara data KAPPD kota Makassar diatas, jumlah perpustakaan kelurahanberjumlah 83 unit, itu berarti sekitar 40% kelurahan belum memiliki perpustakaan kelurahan.Namun dengan keberadaan TBK yang berjumlah 40 unit, menambah ruang baca di setiap kecamatan dan kelurahan.Selain itu, jika diamati aktivitasnya, istilah Taman Baca Kecamatan/Kelurahan/Kepulauan (TBK) dapat dikatakansekaligus berperan menjadi Perpustakaan kecamatan/kelurahan/kepualaun, disamping karena sebagian besar TBK berada pada perpustakaan kelurahan, juga hal ini dimungkinkan sebagaimana data diatas tidak satupun perpustakaan kecamatan yang disebutkan.Beberapa kecamatan di Makassar seperti Ujung Tanah dan Tamalate, memiliki taman baca lebih dari tiga unit yang berada disetiap kelurahan pada kecamatan tersebut. Sehingga TBK tersebut, bahkan semua TBK menjadi unit yang dapat mewakili kecamatan sekaligus kelurahan dalam membuka ruang bacabagi masyarakat pada kecamatan tersebut.Meskipun tentu saja aksesdiantara kelurahan pada setiap kecamatan belum tentu dapat dijangkau seluruh masyarakat tersebut.Pemberian isitilah Taman Baca(an)seharusnya dapat menampilkan kesan layanan yang lebih dinamis dibanding perpustakaan yang selama ini dianggap kaku dan statis oleh sebagian masyarakat. Namun melihat fenomena TBK di Makassar, kesan ini belum dapat dikatakan berhasil menggeser paradigma masyarakat. Ada beberapa alasan diantaranya, TBK yang didirikan sebagian besar masih berada di gedung perkantoran pemerintah seperti kantor lurah yanglayanannya mengikuti jam kantor tersebut. Adapula yang berada dalam baruga, sekolah, mal, kantor terminal, hingga tempat pembuangan akhir sampah. Sementara belum adanya gebrakan yang dilakukan sebagian besar pengelola TBK dalam memberdayakan masyarakat menjadikan TBK belum memiliki keunggulan, jika tidak dikatakan bernasib sama dengan perpustakaan kelurahan. Bahkan yang ironi, ketika penulis akan berkunjung ke salah satu taman baca selama 4 hari berturut-turut, penulis mendapati beberapa taman baca yang selalu saja tertutup, atau taman baca lainnya yang sepi pengunjung.Hal lain yang menyebabkan yaitu kurangnya gairah pengelola taman baca di karenakan intensif dari pemerintah dianggap rendah, sehingga pengelola taman baca yang setengah hati dan jauh dari kerelaan, kemudiaan mengesampingkan pengelolaan taman baca.Disisi lain, mayoritas TBK yang ada belum menjadikan taman bacaan sebagai wadah pusat belajar masyarakat. Sejauh ini taman baca yang di bina pemerintah Kota Makassar masih berfokus dalam menyediakan ruang baca bagi masyarakat. Jika melihat kegiatan-kegiatan yang aktif dilakukan BPADD Kota Makassar dan terutama Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) yang telah banyak di contoh daerah lain, sebenarnya dapat memacu semangat para pengelola dalam mengembangkan taman bacaan di kota Makassar, agar keberadaan taman baca benar-benar menyentuh masyarakat. Meskipun demikian, sebagaimana dikatakan salah satu pustakawan BAPPD Makassar, Tulus Wulan Juni, selama iniBAPPD Makassar terus memberikan motivasi kepada setiap TBK untuk berupaya melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan inspiratif dalam memberdayakan masyarakat dan menjadi pusat belajar masyarakat. 4.TAMAN BACA BERBASIS KOMUNITASTaman Baca Kelurahan/Kecamatan/Kepulauan (TBK) yang dibina dan didirikan oleh pemerintah daerah/kota melalui Gerakan Makassar Gemar Membaca setiap tahunnya bertambah, akantetapi belum sepenuhnya dijangkau oleh masyarakat. Apalagi jika disetiap kecamatan dan kelurahan hanya terdapat satu TBK saja, sehingga taman bacaan tersebut hanya dapat diakses oleh masyarakat pada lingkungan terdekat. Keberadaan Taman Baca berbasis komunitas di Makassar perlu mendapat perhatian dari masyarakat sebagai alternatif belajar masyarakat. Taman bacaan yangdikelola oleh komunitas atau kelompok tertentu memang pada mulanya diperuntukkan untuk anggota komunitas, namun pada umumnya juga membuka ruang untuk masyarakat umum yang ingin memanfaatkan taman bacaan. Apalagi jika komunitas yang membuka taman bacaan merupakan komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial atau pemberdayaan masyarakat. Dalam tulisan ini, beberapa taman bacaan atau rumah baca yang berbasis komunitas penulis akan bahas. Pemilihan Taman bacaan tersebut pada awalnya melihat eksistensi dan sosialisasi yang intens dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Selain itu, meski eksistensinya belum sepenuhnya dapat dikatakan mewakili perkembangan taman bacaan berbasis komunitas di Kota Makassar. Namun hal ini bisa menjadi alternatif melihat perkembangan taman bacaan berbasis komunitas, sejauh penulis ketahui, beberapa taman bacaantersebut menunjukkan fenomena baru dalam mengelola taman baca.Disamping memang belum adanya pendataan terhadap taman bacaan yang dikelola secara mandiri oleh komunitas yang dilakukan oleh pemerintah. Ditambah bahwa belum ada semacam wadah atau forum taman baca komunitas yang terbentuk di Kota Makassar. Melalui penelusuran ke beberapa sumber seperti blog, facebook, dan pegiat literasi, hingga pesta komunitas, informasi yang penulis peroleh,beberapataman bacaanyang sering disebutkan bahkan saling menyebutkan yang penulis akan bahas. Diantara taman bacaan tersebut yaitu Kampung Buku, Rumah Baca Philoshopia, Kedai Buku Jenny dan Perpustakaan Kata Kerja. Keempatnya merupakan taman bacaan yang didirikan oleh komunitas masing-masing.a.Kampung BukuPada tahun 1999, setahun setelah tumbangnya rezim orde baru, Ininnawa Library didirikan di Perumdos Universitas Hasanuddin oleh Penerbit Inninawa.Perpustakaan Kampung Buku pada mulanya merupakan perpustakaan komunitas yang didirikan untuk kebutuhan internal Penerbit Ininnawa dan selanjutnya di bina oleh Komunitas Tanahindie.Kampung Buku yang berada di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E Makassar ini, kemudian berkembang dengan membuka kesempatan kepada masyarakat sekitar dan siapa saja yang ingin datang membaca dan berdiskusi.Selain koleksi-koleksinya yang semakin bertambah, dibukanya untuk umum merupakan salah satu upaya Ininnawa dalam mendukung minat baca masyarakat.Pada tahun 2004, Komunitas Ininnawa juga pernah mendirikan Kafe Baca Biblioholic yang manajemennya dijalankan oleh angggota Komunitas Ininnawa seperti Aan Mansyur dan anggota Ininnawa lainnya.Kafe Baca Biblioholic sebagai komunitas literasi non-profit awalnya didirikan oleh beberapa mahasiswa Universitas Hasanuddin dari berbagai jurusan.Para pengelolanya menyebut Kafe Baca Biblioholic sebagai tempat para pecinta buku di Makassar.Pada sekitar tahun 2010/2011, terjadi persoalan manajemen di internal pengelola Biblioholic, hingga akhirnya Kafe Baca Biblioholic dinyatakan bubar. Koleksi-koleksi yang di miliki Biblioholic kemudian di salurkan pada tiga komunitas/organisasi Ininnawa, diantaranya AcSI, Payo-Payo dan Penerbit Ininnawa dan komunitas lain yang memiliki ruang baca seperti Rumah Baca Philoshopia. Sebagian koleksi-koleksi Biblioholic tersebut yang disalurkan ke penerbit Ininawwa, kemudian di simpan di Perpustakaan Kampung Buku.Kampung Buku merupakan ruang publik bersama yang bertujuan menyuplai pengetahuan kepada masyarakat.Disamping sebagai ruang baca atau perpustakaan, Kampung Buku menjadi wadah berkumpul para anggota dari lembaga Tanahhindie. Lembaga nirlaba yang berdiri sejak 1999 tersebut memang mengutamakan program pada kajian dan diskusi, pameran, perisilahan, dan penerbitan yang bertopik beragam ekspresi serta perkembangan kontemporer masyarakat perkotaan. Konsep “Halaman Rumah” menjadi landasan berpikir, berdiskusi dan melakukan program-program Tanahindie. Perpustakaan ini menjadi kolaboratorium dalam meneliti kota. Ruang bacanya yang berada di halaman rumah ini merupakan salah satu unsur pembentuk kebiasaan menghabiskan waktu ebih banyak dihalaman tersebut dan menjadi ruang hidup, seperti yang digambarkan rumah kayu panggung tradisional masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat.Kegiatan-kegiatan Tanahindie yang dipusatkan di Kampung Buku berusaha menciptakan nuansa semangat gotong royong dan kolaborasi.Kehadiran perpustakaan ini ditengah-tengah masyarakat, mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitar,hal ini ditunjukkan terutama oleh anak-anak mereka yang berusia SD dan SMP yang datang membaca buku.Setiap harinya tempat tersebut di kunjungi rata-rata 10 orang.Namun jika ada kegiatan yang diadakan, jumlahnya lebih banyak, dan dominan dihadiri oleh anggota (yang berasal dari komunitas-komunitas) yang kini telah berjumlah sekitar 100-an orang.Pengelolaan Kampung Buku dijalankan oleh Anwar Jimpe Rahman yang sehari-harinya beraktivitas di tempat ini.Anwar Jimpe Rahman saat ini aktif dalam meneliti dan menulis beragam hal, telah menerbitkan buku dan menjadi editor di beberapa terbitan.Dalam mengelola ruang baca ini, Anwar dibantu istrinya, keduanya saling bergantian mengurus dan melayani pengunjung setiap harinya. Meski tata letak koleksi dan ruangnya ditampilkan apa adanya, namun keterbukaan pemanfaatannya menjadi dinamis bagi pengunjungnya. Adapun koleksi yang dimiliki oleh Kampung Buku hingga saat ini berkisar 10.000 judul, yang kebanyakan koleksinya bergenre sosial, politik, sastra dan lain-lain.Buku-buku tersebut berasal dari sumbangan individu, komunitas, instansi pemerintah dan swasta dan melalui pembelian buku-buku.Kegiatan yang sering diadakan seperti kelas merajut, pemutaran film, kelas menulis/meneliti, diskusi dan lain-lain. Kedepannya, mereka akan mengembangkan koleksi dan lebih memperluas pemanfaatannya bagi masyarakat.Suasana yang kondusif dan terbuka merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki Kampung Baca. Selain itu, letaknya yang berdekatan dengan kantor kelurahan, dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berdiskusi maupun musyawarah. Bahkan tempat tersebut sering diadakan pemutaran film dan teater yang dimeriahkan masyarakat setempat.Perlahan-lahan, selain menjadi ruang baca dan diskusi, Kampung Buku mulai memberdayakan masyarakat melalui kelas-kelas yang mengembangkan kreatifitas masyarakat, seperti kelas merajut. Pada tanggal 10-12 Oktober 2014 yang lalu Tanahindie bersama Komunitas Quiqui, The Ribbing Studio dan didukung program Rumah Budaya Nusantara 2014 Direktorat Sejarah dan Nilai-nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Keudayaan Republik Indonesia mengadakan Bom Benang 2014, Festival dan Workshop Craft yang bertema “Benang di Halaman (Yarn On Yard)”. b.Rumah Baca PhiloshopiaRumahBaca Philoshopia yang terletak di Jalan Toddopuli didirikan pada tahun 2008 oleh Philoshopia Institute.Philosopia Institute merupakan lembaga yang didirikan dengan tujuan penelitian, pelatihan, meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat, sebagai tempat belajar non formal, bertukar wacana atau diskusi, mengasah kreatifitas anak muda Makassar dan tempat berkumpul komunitas.Kata Philosphia diambil dari bahasa Yunani, secara etimologi berasal dari dua kata yakni philo yaitu cinta dan shopia yaitu kebijaksaan, yang berarti cinta kebijaksanaan.Dari makna kata itulah yang kemudian menjadi semangat untuk berbagi sehingga didirikan rumah baca tersebut.Rumah Baca Philosphia yang didirikan pada November 2008 ini pada awalnya beralamat di Jalan Poltek No 2 yang berada disamping danau Universitas Hasanuddin, yang pada saat itu masih bernama “Café Baca Philoshopia”.Karenaadanya kendala dalam pendanaan dan mencari tempat yang layak dan strategis, pengelolanya kemudian berinisiatif memindahkan dan membangun kembali Rumah Baca Philosphia, yang sekarang bertempat di Jl. Toddopuli XI Nomor 4 Makassar.Pada mulanya mereka juga memiliki café yang dinamakan biblioholik, tetapi nasibnya hanya berlangsung hingga 2010 karena masa kontrakannya habis. Sebagian besar anggota komunitas dan pengelola rumah baca ini berasal dari mahasiswayang umumnya mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar.Rumah Baca Philoshopia merupakan tempat yang terbuka bagi kalangan masyarakat yang ingin memanfaatkannya untuk membaca, meminjam buku, dan kegiatan-kegiatan intelektual dan kreatif secara gratis.Untuk menjadi anggota Rumah Baca atau biasa disebut sebagai Sobat Philo, Rumah Baca Philosphopia membuka pendaftaran dengan beberapa persetujuan dan peraturan yang di berlakukan oleh pengelola rumah baca. Adapun peraturannya yaitu dengan menyetor uangsebesar Rp. 50.000,-sebagai jaminan menjadi anggota, setelah itu nantinya dapat meminjam buku paling banyak tiga buah, dan uang tersebut akan dikembalikan ketika berhenti menjadi anggota. Selain itu, peraturan yang diterapkan yaitu membatasi peminjaman selama 10 hari, jika ingin memperpanjang peminjaman dapat di laporkan ke pengelola untuk registrasi ulang, merawat dan menjaga buku, dan jika terjadi kerusakan maupun kehilangan, peminjam harus mengganti dengan judul yang sama atau membayar 3 kali lipat dari harga buku yang hilang. Adapun jumlah koleksi-koleksi yang dimiliki Rumah Baca Philoshopia berjumlah 3678 eksmplar dari beragam genre, diantaranya yang dominan filsafat, agama, sosial, politik, budaya, hukum, ekonomi, novel, sastra dan bahasa, sejarah dan komik. Koleksi tersebut didapatkan melalui pengadaan lembaga atau komunitas Philoshopia sebagai lembaga yang menaungi rumah baca ini.Selain itu, juga sebagian berasal dari sumbangan anggota, komunitas/lembaga seperti buku-buku Biblioholic (yang telah bubar) dan masyarakat yang menyumbang buku atau koleksi pustaka lainnya.Pengadaan koleksi juga meminta usulan para Sobat Philo untuk memenuhi bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung.Rumah baca ini membuka layanan setiap hari, mulai dari pukul 10.00-21.00 WITA.Disamping itu, juga rutin mengadakan diskusi bulanan, bedah buku, jurnal, dan film, mengikuti lapak buku/pameran, apresiasi seni, sekolah menulis, dan lain-lain.Selain itu juga bekerjasama dengan berbagai lembaga dalam menyelenggarakan pelatihan di Sulawesi Selatan dan Barat seperti pelatihan budidaya rumput laut, budidaya tambak, dan kegiatan lain yang sesuai kebutuhan masyarakat yang dituju. Pendanaan kegiatan Rumah Baca Philoshopia tersebut berasal dari Philoshopia Institute.Pengelola perpustakaan berasal dari mahasiswa yang berkeinginan menjadi pengelola dan anggota Philoshopia Institute, diantaranya Ilham, Halia Asriyani, Syahril, Fian dan lain-lain. Sementara untuk jumlah pengunjung yang mengakses bahan pustaka, setiap harinya rata-rata kurang dari 10 orang.Sebab pengunjungnya masih didominasi oleh mahasiswa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Makassar.Hal ini dikarenakan respon masyarakat untuk memanfaatkan Rumah Baca masih kurang.Meskipun demikian masyarakat sekitar menyambut baik rumah baca Philosphia dan kegiatan-kegiatan yang diadakan hingga malam hari.Kedepannya mereka berupaya mengajak lebih banyak pengunjung ke tempat tersebut.c.Kedai Buku JennyKedaibuku Jenny beralamat di Perumahan Budi Daya Permai (BDP) Blok S No. 5Tamalanrea, Perintis Kemerdekaan, Makassar.Kedai Buku Jenny didirikan pada tahun 2010, namun baru aktif pada tahun 2012, sebab sebelumnya beriorientasi bisnis

Conclusion

Perkembangan taman bacaan di Kota Makassar di mulai pada awal tahun 2000-an. Terdapat tiga jenis taman bacaan di Kota Makassar, diantaranya taman bacaan yang dibina pemerintah Kota Makassar melalui Badan Arsip, Perpustakaan, dan Pengolahan Data Kota Makassar dan Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), taman bacaan yang di didirikan dan dikelola secara swadaya atau mandiri oleh komunitas/lembaga, dan taman bacaan yang didirikan dan dikelola secara mandiri/independen oleh personal/pribadi. Taman bacaan yang dibina pemerintah disetiap kecamatan dan kelurahan semakin meningkat, terhitung 40 TBK sudah didirkan. Namun TBK sejauh ini masih sekedar sebagai ruang baca, sementara peningkatan pengunjung yang dilaporkan oleh BAPPD Kota Makassar masih perlu dievaluasi. Sebab beberapa kesempatan penulis secara tidak formal melihat kebanyakan taman bacaan yang sebagian besar berada di kantor lurah masih sepi pengunjung, ditambah bahwa hasil pengamatan penulis beberapa taman bacaan terkadang tertutup. Selain itu pengelola taman bacaan belum mampu melakukan kegiatan yang melibatkan masyarakat atau memberdayakan masyarakat. Hal ini juga disampaikan oleh salah satu pustakawan BAPPD Kota Makassar yang mengemukakan bahwa BAPPD Makassar baru pada tahap memberi motivasi/memancing pengelola taman bacaan untuk melalukan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan sosial.Taman baca berbasis komunitas menampilkan konsep yang berbeda dengan taman baca yang dbina oleh pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari pengelolaannya yang flexibel, dinamis dan kreatif. Taman bacaan berbasis komunitas di Makassar aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan anggota komunitas maupun masyarakat sekitar yang berada dilingkungan taman bacaan. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan cukup beragam, diantaranya diskusi, pemutaran film, kelas menulis, pelatihan-pelatihan, mengikuti event-event yang diadakan komunitas lain dan lapakan-lapakan, serta masih banyak kegiatan lainnya. Di tengah-tengah berkembangnya teknologi informasi, taman bacaan berbasis komunitas membuka ruang sosial baru dengan berbagai kegiatan kreatif, inspiratif dan semarak. Hal tersebut ditunjukkan keempat taman bacaan atau perpustakaan berbasis komunitas yaitu Perpustakaan Kampung Buku, Rumah Baca Philoshopia, Kedai Buku Jenny,dan Perpustakaan Kata Kerja.Sementara taman bacaan yang didirikan oleh personal/pribadi juga dikelola secara flexibel, dinamis dan mandiri. Fenomena yang menarik ditunjukkan taman bacaan Kedai Baca Sipakainga 43, yang awalnya mendirikan taman bacaan untuk kaum marjinal seperti PKL dan tukang ojek. Taman bacaan ini berkembang dan dimanfaatkan berbagai strata sosial, seperti mahasiswa hingga politisi. Seperti halnya dengan taman bacaan yang berada disudut kota atau pinggir jalan yang membuka ruang baca bagi masyarakat melalui bacaan Koran dan majalah. Meskipun diantaranya beriorientasi laba, akan tetapi masyarakat sekitar sangat antusias mendatangi tempat tersebut untuk membaca. Sementara untuk memaksimalkan peran taman bacaan di tengah-tengah masyarakat kota Makassar, pengelola taman bacaan perlu melakukan kerjasama dan membangun kemitraan, agar tujuan meningkatkan minat baca masyarakat Kota Makassar dapat tercapai dengan perlahan-lahan. Sebab selama ini terkesan taman bacaan masih berjalan sendiri-sendiri, apalagi antusias dukungan terhadap program pengembangan minat baca masyarakat masih kurang. Meskipun demikian, taman bacaan berbasis komunitas dan pribadi, telah menunjukkan nuansa baru yang inspiratif dan kreatif dan berkonstribusi bagi perkembanganminat baca masyarakat. Demikian halnya taman bacaan yang dibina oleh pemerintah, yang telah berupaya dalam menambah jumlah taman bacaan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki, bahkan berjanji akan mendirikan taman bacaan disetiap lorong di Kota Makassar. Olehnya perlu membangun kerjasama diantara ketiga jenis taman bacaan diatas, sehingga pada akhirnya antusias masyarakat memanfaatkan taman bacaan dan minat baca semakin meningkat.