LITERASI INFORMASI: PENINGKATAN KOMPETENSI INFORMASI DALAM PROSE PEMBELAJARAN
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstract
The development of knowledge and life became ease with the presence of information communication and technology, particularly internet. Information literacy is needed to access any form of information through the internet. Academicians are expected to be information literate. They should use and evaluate information resources, especially from the internet in any kind of learning process. The ability to be literate in library services is necessary important in order to optimize library resources and services. Besides, information literacy tells end-users to recognize information sources and can be ease to find the needed information from different and varieties sources. Many models of information literacy are implemented in many libraries in which the objective is to enhance literacy skills for library users.
Keywords:
Literasi Informasi
· Teknologi informasi
· Internet Kompetensi infomasi
· Proses pembelajaran
Introduction
Perkembangan pengetahuan dan kehidupan manusia semakin maju dengan kehadiran teknologi komunikasi dan informasi. Semakin canggihnya teknologi di bidang komputasi, informasi dan komunikasi saat ini, menyebabkan informasi semakin banyak dan beragam. Informasi dapat berupa dokumen, berita, data keuangan, laporan penelitian, data statistik dan lain-lain. informasi telah menjadi komoditi yang paling penting dalam era informasi saat ini.Perkembangan teknologi informasi yang paling nyata saat ini adalah perkembangan internet, yang merupakan jaringan global. Internet memuat berjuta-juta web sitesdan databasesserta informasi yangoverloadyang memungkinkan seorang untuk mencari dan memanipulasi informasi yang sudah ada, maupun menciptakan dan menyebarkan informasi baru. Akibatnya informasi tentang apapun, baik yang sangat berguna bagi manusia atau yang “sampah”telahtersedia melimpah di internet. Pengguna dapat mengakses beragam informasi dan meloncat dari satu situs ke situs lainnya untuk menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK atau yang biasa juga disebut dengan ICT) ini telah membuat semakin banyak pihak menyadari bahwa masalah utama yang dihadapi bukan hanya bagaimana mendapatkan akses terhadap LITERASI INFORMASI: PENINGKATAN KOMPETENSI INFORMASI DALAM PROSES PEMBELAJARANSitti Husaebah Pattah*Pengutipan: Sitti Husaebah .P(2014). Literasi informasi: peningkatan kompetensi informasi dalam proses pembelajaran. Jurnal Ilmu Perpustakaan &Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, Vol.2 No.2, hlm. 117-128.Dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin MakassarEmail: tytiek@yahoo.comABSTRACTThe development of knowledge and life became ease with the presence of information communication and technology, particularly internet. Information literacy is needed to access any form of information through the internet. Academicians are expected to be information literate. They should use and evaluate information resources, especially from the internet in any kind of learning process. The ability to be literate in library services is necessary important in order to optimize library resources and services. Besides, information literacy tells end-users to recognize information sources and can be ease to find the needed information from different and varieties sources. Many models of information literacy are implemented in many libraries in which the objective is to enhance literacy skills for library users. KEY WORDS:Literasi informasi, Teknologi informasi, Internet, Kompetensi informasi,Proses pembelajaran informasi tapi lebih pada bagaimana memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhan secara selektif. Usaha untuk memilih informasi ternyata lebih besar dari pada sekedar mendapat akses terhadap informasi (Mandala & Setiawan, 2002). Perkembangan ICT yang pesat ini juga berdampak pada penelusuran sumber informasi berbasis elektronik sebagai sebuah pekerjaan yang cukup rumit bagi pengguna yang belum terbiasa berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Hal tersebut berdampak pula pada dokumen yang dapat ditemukan serta relevansi dokumen dengan kebutuhan informasi.Dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, perkembangan ICT initelah banyak dimanfaatkanoleh sivitas akademika dalam mendukung kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dalam kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sivitas akademika dituntut untuk memiliki kemampuan untuk memperoleh dan mengelola informasi (information skills) ketika memanfaatkan fasilitas ICT.Meskipun demikianmasih banyak pengguna yang belum menggunakan atau memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber elektronik yang tersedia di internet. Mereka belum menggali dan memanfaatkannya untuk keperluan proses pembelajaran mereka. Masih banyak dari mahasiswa yang hanya memanfaatkan fasilitas internet hanya untuk sekedarjejaring sosial, game dsb.. Kalaupun mereka memanfaatkan beberapa search enginemisalnya Google, Yahoo, dll. dalam mencari sumber informasi,kebanyakan dari mahasiswa belum dapat menilai mana yang memiliki nilai informasi dan mana yang hanya sekedar sampah. Selain itu dalam mengerjakan tugas kuliah yang diberikan,beberapa mahasiswa bahkan mengeluh tidak memiliki sumber informasi untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Kalaupun ada mereka mengakses dari internet dengan mengutip beberapa sumber yang tidak layak untuk dijadikan rujukan karena tidak bisa mempertangungjawabkan legalitas tulisan tersebut.Berbagai penelitian telah dilakukan di berbagai negara untuk mengkaji bagaimana kemampuan dan keterampilan pengguna dalam memperoleh dan mengelola informasi dalam memanfaatkan fasiltas ICT. Meskipun demikian penelitian tentang topik ini masih jarang dilakukan di Indonesia dan sedang menjadi topik yang ramai dikaji untuk diterapkan di perguruan tinggi mengingat kemampuan dan keterampilan untuk mencari dan mengelola informasi sangat dibutuhkan sivitas akademika di tengah pesatnya perkembangan ICT.2.PENGERTIAN LITERASI INFORMASISecaraumumliterasi informasidiartikan sebagaikemelekan atau keberaksaraan informasi.Menurut Kamus Bahasa Inggris,literacyadalah kemelekan huruf atau kemampuan membaca dan informationadalah informasi. Jadi literasi informasi adalah kemelekan terhadap informasi. Istilah ini masih sangat asing di tengah masyarakat, meskipun demikian istilah ini biasanya dihubungkan dengan kemampuan dalam penggunaan perpustakaan dan penggunaan teknologi informasi.Istilah literasi informasi pertama sekali diperkenalkan oleh Paul G. Zurkowski, Pimpinan American Information Industry Association pada tahun 1974 dalam proposalnya yang ditujukan kepada The National Commission of Libraries and Information Science di Amerika Serikat. Paul G. Zurkowski menggunakan ungkapan tersebut menggambarkan “teknik dan kemampuan” yaitu literasi informasi, yaitu kemampuan untuk memanfaatkan berbagai alat-alat informasi serta sumber-sumber primer untuk memecahkan masalah mereka. Istilah literasi informasi ini mencakup computer literacy, library skill dan critical thinkingsebagai pendukung terhadap perkembagan literasi informasi. (Wikipedia, 2008 : 1). Definisi laindiberikan oleh Verzosa (2009) bahwa literasi iformasi dapat diartikan sebagai sebuah keahlian dalam mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan. Seseorang yang memiliki keahlian ini tahu bagaimana belajar untuk belajar karena mereka tahu bagaimana mengelola informasi, mengevaluasi, memilah-milah dan menggunakannya sesuai dengan etika yang berlaku.Adapun Doyle dalam Apriyanti (2010:11) mengungkapkan bahwa seseorang disebut memiliki keahlian literasi informasi jika orang tersebut :mampu menyadari kebutuhan informasinyamampu menyadari informasi yang akurat dan lengkap merupakan dasar dalam membuat keputusan yang benarmampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial dari suatu informasimampu membangun strategi pencarian yang tepatmampu mengakses berbagai sumber informasi termasuk teknologi dasar lainnyamampu mengevaluasi informasimampu mengelola informasi untuk mengaplikasikan/mempraktikkannyamampu mengintegrasikan informasi yang baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinyamampu menggunakan informasi dengan kritis dan untuk menyelesaikan masalahBerdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa literasi informasi merupakan kemampuan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan, mengerti bagaimana perpustakaan diorganisir, familiar dengan sumber daya yang tersedia (termasuk format informasi dan sarana penelusuran digital) pengetahuan dan teknik yang biasa digunakan dalam pencarian informasi. Termasuk pula di dalamnya kemampuan dalam mengevaluasi informasi dan menggunakannya secara efektif serta pemahaman infrastruktur teknologi dalam transfer informasi kepada orang lain, termasuk konteks sosial, politik, budaya, aspek ekonomi, aspek hukum dan dampaknya.3.KONSEP LITERASI INFORMASIKunci sukses untuk hidup di masa depan menurut laporan dari National Committee Enquiry into Higher Education (Dearing Report,1998) menekankan padapentingnya pembelajar memiliki keahlian. Keahlian atau kemampuan tersebut mencakup: kemampuan berkomunikasi, berhitung, menggunakan teknologi informasi dan belajar bagaimana untuk belajar. Adapun Coral (1998:25-29) dalam reviewnya menekankan pada pentingnya keahlian yang disebutnya information skills. Coral menyamakan istilah information skillsdengan information literacy. Menurut Coral ada dua komponen penting yang merupakan bagian dari information literacy, yaituIT skillsdan information handling skills. IT skillsmencakup:Keahlian dasar (menggunakan keyboard, mouse, printer, file/disk manajer)Software standar (word processing, Worksheet, basis data dan lain-lain).Aplikasi jaringan (email, internet, web browser)Sedangkan information handling skillsmeliputi sumber-sumber informasi, kriteria evaluasi, metode navigasi, teknik memanipulasi, presentasi. Menurutnya kedua komponen tersebut saling melengkapi. Dia menolak kecenderungan untuk menyamakan antara literasi komputer dan literasi informasi. Menurutya literasi komputer merupakan bagian dari literasi informasi atau information skills.Kehadiran internet dengan berbagai sumber elektronik dan digital membuat orang semakin menyadari pentingnya information skills, untuk dapat membantu menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhan serta memberdayakan informasi yang didapatkan. Menurut American Library Association (ALA) (2006) orang yang menjadi “melek informasi”, mereka tidak hanya menyadari atau mengenali kapan informasi dibutuhkan, tetapi juga mampu mengakses informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi serta menggunakannya secara efektif informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan atau pemecahan masalah-masalah yang sedang ditangani. Selain itu mereka juga mampu memahami seputar masalah-masalah sosial, ekonomi, dan hukum berkaitan dengan penggunaan informasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Webber dan Johnston dalam Hasugian (2008:38) bahwa sesorang yang dianggap memiliki kemampuan literasi informasi mampu menjelajahi lautan dan belantara informasi yang semakin lama semakin luas dan rumit baik saat menggunakan sumber-sumber informasi tercatak maupun sumber informasi berbasis elektronik melalui internet. Kemampuan literasi informasi menciptakan keberaksaraan berbasis keterampilan yang mencakup pada keterampilan mencari, memilah-milah, menggunakan dan menyajikan secara etis. Adapun Doherty (1999:3) menggambarkan informasi sebagai sebuah komoditi pokok untuk survive. Dia menekankan pentingnya pengguna menjadi pemakai informasi yang mandiri dan menjadi melek yang pada gilirannya menjadikan mereka sebagai pembelajar seumur hayat (longlife learner). Untuk itu pengguna perlu memiliki information skillsatau keterampilan literasi informasi.Kemampuan literasi informasi dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi sangat penting di lingkungan perpustakaan. Kemampuan literasi informasi dalam layanan perpustakaan tidak hanya dibutuhkan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya perpustakaan dalam pengajaran, pembelajaran dan penelitian, tapi juga untuk melatih pengguna untuk mengenal sumber-sumber informasi dan menemukan informasi yang sebenarnya dari berbagai sumber elektronik yang ada (Mishra, 2010) Sementara itu Standing Conference of National and University Libraries (SCONUL, 1999 : 1-12) mengeluarkan sebuah model information skillsyang dikenal dengan “the Seven Headline Skills” menguraikan bahwa information skillsdi perguruan tinggimencakup keahlian berikut ini:1.Kemampuan untukmengenali informasi yang dibutuhkan2.Kemampuan yang mengenai hal-hal berikut :Pengetahuan akan jenis sumber-sumber yang tepat, baik tercetak maupun non tercetakMenyeleksi sumber-sumber yang tepat untuk masalah yang sedang ditangani3.Kemampuan membangun strategi untuk menemukan informasi :Mengembangkan metode yang tepat dan sistematis untuk kebutuhan tersebutMengerti prinsif-prinsif pembuatan dan perkembangan database4.Kemampuan mencari dan mengakses informasi:Mengembangkan teknik-teknik penelusuran yang tepatMengembangkan teknik-teknik penelusuran yang tepatMenggunakan teknologi komunikasi dan informasiMenggunakan layanan indeks dan abstrak yang tepat, sitiran dan data base5.Kemampuan membandingkan dan mengevalausi informasi yang dihasilkan dari sumber-sumber yang berbeda:Mengetahui masalah bias dan otoritas pengarangMengetahui masalah bias dan otoritas pengarangMengetahui cara mengekstrak informasi yang dibutuhkan secara tepat 6.Kemampuan mengorganisir, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi kepada orang lain dalamcara yang tepat sesuai kondisi:Mensitir daftar rujukan dalam sitiran atau tesisMensitir daftar rujukan dalam laporan atau tesisMenggunakan informasi untuk pemecahan masalah yang ditanganiMengkomunikasikandengan efektif denganmenggunakan sumber yang tepatMengerti hal-hal yang berhubungan dengan hak cipta dan plagiat7.Kemampuan menggabungkan dan membangun informasi yang ada untuk dapat menciptakan pengetahuan yang baruBeberapa konsep literasi informasi informasi tersebut di atas dapat dipilih untuk menjadi model literasi informasi yang dapat digunakan dalam menilai atau mengevaluasi tingkat kompetensi literasi informasi untuk mengetahui sejauhmana kemampuan literasi dari mahasiswa atau pemustaka kita.4. UNSUR-UNSUR LITERASI INFORMASIBeberapa jenis literasi menurut Eisenberg, Lowe, Spitzer (2004 : 7) yang berperan dalam elemen-elemen literasi informasi, yaitu:a.Literasi gambar (Visual Literacy), yaitu suatu kemampuan untuk memahami dan menggunakan gambar termasuk pula kemampuan untuk berfikir, belajar, serta mengekspresikan gambar tersebut. literasi visual dibedakan menjadi 3 yaitu visual learning, visual thinking, dan visual communication.b.Literasi media (Media Literacy), yaitu suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisa, dan memproduksi informasi untuk hasil yang spesifik menurut National Leadership Conference on Media Literacy.c.Literasi computer (Computer Literacy), yaitu suatu kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi dokumen dan data menggunakan perangkat lunak pengolah kata, pangkalan data dan sebagainya.d.Literasi digital (Digital Literacy), yaitu suatu keahlian yang berkaitan dengan penguasaan sumber dan perangkat digital. Mereka yang mampu mengejar dan menguasai perangkat –perangkat digital mutakhir dicitrakan sebagai penggenggam masa depan, dan sebaliknya yang tertinggal akan semakin sempit kesempatannya untuk meraih kemajuan.e.Literasi jaringan (Network Literacy), yaitu suatu kemampuan untuk dapat mengakses, menempatkan, dan menggunakan informasi dalam dunia berjejaring misalnya internet, pengguna harus menguasai keahlian ini. Menurut Eisenberg (2004), karakteristik orang yang melek jaringan adalah:1)Memiliki kesadaran akan luasnya penggunaan jasa dan sumber informasi berjejaring2)Memiliki pemahaman bagaimana sistem informasi berjejaring diciptakan dan dikelola.3)Dapat melakukan temu balik informasi tertentu dari jaringan dengan menggunakan serangkaian alat temu balik informasi.4)Dapat memanipulasi informasi berjejaring dengan memadukannya dengan sumber lain dan meningkatkan nilai informasinya untuk kepentingan tertentu.5)Dapat menggunakan informasi berjejaring untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang terkait dengan pengambilan keputusan, baik untuk kepentingan tugas maupun pribadi, serta menghasilkan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup.6)Memiliki pemahaman akan peran dan penggunaan informasi berjejaring untuk memecahkan masalah dan memperingan kegiatan dasar hidup. Kelima jenis literasi tersebut di atas berkolaborasi jadi satu membentuk sebuah keterampilan dan menjadi bagian dari elemen-elemen literasi informasi. Information Literacymerupakan satu istilah yang bersifat inklusif. Dengan menguasainya maka sejumlah keahlian di atas dapat dicapai dengan lebih mudah. Hubungan antara informasi literasi dengan elemen–elemennya adalah saling melengkapi dan tidak terpisahkan namun bukan merupakan suatu prosedur.5. KOMPETENSI LITERASI INFORMASIKompetensi literasi informasi merupakan kemampuan literasi seseorang yang diukur berdasarkan beberapa indikator kinerja yang terdapat dalam standar literasi informasi. Seseorang bisa disebut memiliki kompetensi literasi informasi jika memenuhi standar tersebut. Terdapat beberapa standar yang dibuat oleh perkumpulan organisasi perpustakaan dari berbagai Negara seperti Association of Colege & Research Libraries (ACRL) dan The Australian and New Zealand Institue for Information Literacy(ANZIL).Pada tahun 2000 ACRL menyetujui tahap akhir dari Information Literacy Standards for Higher Education yang dikembangkan oleh ACRL Task Force on Information Literacy Competency Standards. Lembaga ini menghasilkan kerangka kerja yang dapat membantu dan memandu perkembangan literasi seseorang. Standar ini mencakup 5 komponen, 22 indikator kinerja dan lebih dari seratus penjelasan untuk mnjelaskan beberapa pengertian ke dalam sekumpulan kemampuan yang dibutuhkan selama penelitian.Adapun 5(lima) komponen dan 22 indikator kinerja dari Information Literacy Standard for Higher Educationtersebut menurut Neely (2006:35-137) adalah sebagai berikut:a.Standar 1. mahasiswa yang information literatemenentukan kebutuhan informasiIndikator kinerja 1.1. mahasiswa yang information literate menggunakan gagasannya mengenai informasi yang dibutuhkanIndikator kiberja 1.2. mahasiswa yang information literate mengidentifikasi berbagai jenis sumber informasi yang potensialIndikator kinerja 1.3. mahasiswa yang information literate mempertimbangkan nilai dan manfaat informasi yang diterimaIndikator kinerja 1.4. mahasiswa yang information literate mengevaluasi kembali sifat dan tingkat kebutuhan informasib.Standar 2. mahasiswa yang information literate mengakses informasi yang dibutuhkan secara efisien dan efektifIndikator kinerja 2.1 mahasiswa yang information literate memilih metode atau sistem temu balik informasi yang paling cocok untuk mengakses informasi yang dibutuhkanIndikator kinerja 2.2. mahasiswa yang information literate membuat dan mgerjakan disain strategi penelusuran yang efektifIndikator kinerja 2.3. mahasiswa yang information literate menemukan kembali informasi online atau manual dengan menggunakan berbagai metodeIndikator kinerja 2.4. mahasiswa yang information literate menyeleksi strategi pencarian informasi jikadibutuhkanIndikator kinerja 2.5. mahasiswa yang information literate menyeleksi, menyimpan dan mengelola informasi dan sumber informasic.Standar 3. mahasiswa yang information literate mengevaluasi informasi dan sumber informasi secar kritis dan menggabungkan informasi terpilih ke dalam pengetahuan sebelumnya. Indikator kinerja 3.1. mahasiswa yang information literate merangkum informasi utama dari informasi yang dikumpulkanIndikator kinerja 3.2. mahasiswa yang information literate mengeluarkan dan menggunakan kriteria untuk mengevaluasi informasi dan sumber informasiIndikator kinerja 3.3. mahasiswa yang information literate menyatukan gagasan utama untuk membuat konsep baruIndikator kinerja 3.4. mahasiswa yang information literate membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya untuk menentukan nilai tambah, pertentangan, atau karakteristik lain dari informasi.Indikator kinerja 3.5. mahasiswa yang information literate menetapkan apakah pengetahuan baru tersebut berpengaruh terhadap nilai individu dan mengambil langkah untuk perbedaan tersebut.Indikator kinerja 3.6. mahasiswa yang information literate menyetujui pemahaman dan penafsiran orang lain atau para ahli mengenai informasi dengan cara berdiskusiIndikator kinerja 3.7. mahasiswa yang information literate menetapkan apakah pertanyaan awal dapat diperbaikid.Standar 4. mahasiswa yang information literate sebagai individu atau anggota kelompok menggunakan informasi secara efektif untuk menyelesaikan tujuan tertentu.Indikator kinerja 4.1. mahasiswa yang information literate menggunakan informasi yang baru dan informasi sebelumnya untuk merencanakan dan menciptakan hasil penelitian atau kinerja.Indikator kinerja 4.2. mahasiswa yang information literate memperbaiki proses pengembangan untuk hasil atau kinerjaIndikator 4.3. mahasiswa yang information literate menyampaikan hasil atau kinerja secara efektif kepada orang laine.Standar 5. mahasiswa yang information literate memahami aspek hukum, sosial, ekonomi yang berkaitan dengan penggunaan dan akses informasi secara etika dan legalIndikator kinerja 5.1. mahasiswa yang information literate memahami berbagai etika, hukum, aspek social-ekonomi yang melingkupi informasi dan teknologi informasiIndikator kinerja 5.2. mahasiswa yang information literate mengikuti hukum, peraturan, kebijakan institusi, etika yang berhubungan dengan akses dan penggunan informasiIndikator kinerja 5.3. mahasiswa yang information literate menyatakan dalam penggunaan informasi sumber informasi dalam menyampaikan hasil atau kinerja.Selanjutnya kerangka kerja standar ANZIL dibuat berdasarkan 4 (empat) prinsip yaitu :1.menggunakan pemahaman pribadi untuk membuat pengertian dan pengetahuan baru2.memperoleh kepuasan dan penyelesaian pribadi dari penggunaan informasi secara bijak 3.Secara individu maupun kelompok mencari dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan masalah pribadi, professional, dan social4.menunjukkan tanggung jawab sosial untuk komitmen terhadap pebelajaran seumur hidup dan berprtisipasi dalam masyarakatEmpat prinsip tersebut di atas selanjutnya dijadikan 6 prinsip dasar dari standar yang didukung olh kemampuan literasi informasi yang dipahami dan digunakan oleh individu. Standar ANZI ini menjelaskan bahwa seseorang disebut memiliki kompetensi literasi informasi jika :1.mengetahui kebutuhan informasi dan menentukan kebutuhan informasi2.menemukan inormasi yang dibutuhkan secara efektif3.kritis dalam mengelola informasi dan proses pencarian informasi4.mengelola informasi dengan cara mengumpulkan dan menggabungkannya5.menggunakan informasi baru dan pengetahuan sebelumnya dengan membuat konsep baru atau menciptakan pemahaman baru6.menggunakan informasi dengan pemahaman dan pengetahuan mengenai aspek budaya,etika, ekonomi, hukum dan sosial yang berhubungan penggunaan informasi (Bundy dalam Aryanti, 2010 : 17).6. PENTINGNYA LITERASI INFORMASIPerkembanganteknologi informasi telah membawa perubahan drastis dalam pengadaan, organisasi, manajemen dan penyebarluasan informasi (Mishra, 2010). Meskipun demikian menurut Walker dan Jones (1993), kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini tidak selalu mempermudah proses penemuan kembali informasi, bahkan mungkin mempersulit penelusuran. Di sisi lain, perkembangan teknologi berkaitan erat dengan perubahan sikap atau perilaku dan kemampuan pengguna dalam mencari informasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkannya. Bagi beberapa end-userberinteraksi langsung dengan sistem informasi merupakan hal yang rumit. Menurut Mishra (2010), hal ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah informasi serta kualitas informasi yang tidak jelas yang sampai kepada pengguna. Selain itu informasi diterima dalam berbagai media (multimedia) termasuk gambar, akuistik maupun teks. Orang juga mulai mempertanyakan keabsahan atau keaslian, validitas dan realibitas informasi yang diperolehnya. Untuk membuat temu kembali informasi menjadi efektif dan jelas, orang dituntut untuk “melek informasi (information literate)”, karena itu diperlukan kemampuan untuk mendapatkan dan mengelola informasi (information skills).7. KEGIATAN LITERASI INFORMASI DI PERPUSTAKAANDalam meningkatkan kualitas pendidikan, perpustakaan harus mampu berperan dalam membantu pemakai untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Pemakai seharusnya menjadi pemakai informasi secara efektif serta mampu mendapatkan informasi secara tepat untuk segala kebutuhan dalam kehidupan pribadi maupun profesi mereka. Untuk itu pemakai dituntut untuk menjadi melek informasi. Dalam lingkungan perguruan tinggi misalnya, kualitas lulusan yang dihasilkan dalam sebuah masyarakat informasi dapat diukur menurut Breivick (1989) dengan melihat apakah mahasiswa mampu mengarahkan diri menjadi pembelajar seumur hidup. Menurutnya perpustakaan merupakan tempat pengetahuan di mana disiplin ilmu berhubungan, merupakan lingkungan informasi yang dibutuhkan oleh para mahasiwa dalam hidup mereka untuk bekerja dan merupakan lingkungan alami untuk pemecahan masalah dalam dunia imformasi yang tidak terbatas. Perpustakaan dan pustakawan dapat membantu mereka mengajarkan kemampuan untuk berpikir kritis.Rekonstruksi proses pembelajaran tidak hanya menambah kemampuanberpikir pemakai/ mahasiswa, tapi juga memberikan kekuatan pada mereka untuk pembelajaran seumur hidup dan kemampuan kerja yang efektif serta menjadi warga negara yang bertanggung jawab (ALA, 1989 : 1). Di era digital saat ini pengguna menghadapi perubahan dalam belajar. Teknologi informasi memungkinkan mahasiswa untuk distance learningdan pembelajaran berbasis web. Di era ini lulusan yang terpelajar bukanlah orang yang mempunyai banyak informasi, tapi orang yang mengetahui bagaimana mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkannya.Perpustakaan sebagai salah satu komponen perguruan tinggi, perlu terlibat dalam proses pembelajaran, diantaranya membuat program peningkatan information skillsatau information literacy skillsbagi pemakai yang lebih mengarah pada pembentukan mereka untuk melek informasi. Di sini perpustakaan memiliki peran penting melalui pengajaran information skillsyang dapat diimplementasikan dalam program literasi informasi. Strategi yang dapat dilakukan menurut Ragains (2006:8), misalnya mengajarkan pada pemakai bagaimana orang yang memiliki information skills dalam penelusuran informasi : a.Merumuskan sebuah penelusuran tentang sebuah topik dengan menggunakan kata kunci, kata benda dan informasi signifikan lain tentang topik tersebut. b.Melakukan penelusuran dan menilai hasil yang diperoleh. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan kata kunci atau kata benda yang telah dirumuskan berkaitan dengan topik yang dibutuhkan. Selanjutnya hasil penelusuran yang diperoleh dengan menggunakan kata kunci ataupun kata benda dinilai atau dievaluasi apakah informasi tersebut relevan dengan permintaan.c.Memodifikasi penelusuran dengan menggunakan istilah-istilah yang lebih luas, lebih sempit atau istilah yang berkaitan.Modifikasi teknik penelusuran perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal, terutama jika setelah melakukan penilaian hasil penelusuran ditemukan bahwa informasi yang diperoleh banyak yang tidak relevan. Modifikasi tersebut misalnya ketika melakukan penelusuran pemakai dapat menggunakan sebuah istilah yang lebih luas dari kata kunci yang telah dirumuskan untuk topik yang dicari jika ingin memperbesar hasil temuan. Temuan yang relevan dengan topik akan jadi banyak akan tetapi ketepatannya (precision) hanya sedikit. Selanjutnya jika ingin memperoleh hasil temuan yang paling tepat meskipun sedikit dapat menggunakan istilah yang lebih sempit. Modifikasi juga dapat dilakukan dengan menggabungkan antara istilah yang lebih sempit dan istilah yang lebih atau istilah yang lebih sempit dengan istilah yang luas ketika melakukan penelusuran.d.Membatasi hasil penelusuran berdasarkan tanggal, bahasa, format dan parameter lainnya.Untuk memperoleh hasil penelusuran yang benar-benar relevan dan pemintaan, seorang yang memiliki information skillsakan membatasi hasil penelusurannya ketika menelusur informasi sebuah topik. Misalnya ketika melakukan penelusuran, pemakai membatasi tahun dokumen yang akan dimunculkan, misalnya hanya terbitan tahun 2010-2012. Contoh lainnya adalah membatasi format dokumen (PDF, Doc (dokumen), teks, gambar, video dll.), misalnya saat penelusuran hanya dokumen dalam format PDF yang ingin ditampilan dalam hasil penelusuran. Selanjutnya dalam batasan bahasa, seorang penelusur dapat membatasi bahasayang ingin ditampilkan dengan hanya memilih bahasa tertentu misalnya hanya dokumen bahasa Inggris yang ingin ditampilkan dalam hasil penelusuran. Pembatasan hasil penelusuran ini memungkinkan sistem temu balik informasi untuk memangkas dokumen atau informasi yang tidak relevan muncul dalam hasil penelusuran sehingga penelusur dapat memperoleh hasil penelusur yang relevan dengan topik yang dicari.e.Mengevaluasi modifikasi penelusuran yang telah dilakukan serta strategi pembatasan hasil penelusuran. Evaluasimodifikasi penelusuran penting untuk memperoleh hasil penelusuran yang benar-benar relevan dengan permintaan pada sistem temu balik informasi. Penelusur dapat menilai modifikasi mana daam penelusuran informasi yang lebih efektif, misalnya penggunaan istilah sempit dari sebuah kata kunci tentang topik yang dicari ataukah kombinasi antara istilah yang lebih luas dan lebih sempit atau gabungan antara istilah yang revan dengan istilah yang lebih sempit hasilnya menunjukkan lebih relevan dengan kebutuhan. f.Mengirim hasil penelusurang.Menentukan keluasan sumber-sumber pada sebuah topik dan mengidentifikasi sumber-sumber lain untuk dicari.Dalam penelusuran informasi, pemakai dapat menelusur berbagai sumber informasi, bukan hanya terbatas pada satu sumber. Dariberbagai sumber informasi yang telah digunakan dalam penelusuran, pemakai dapat menilai misalnya bahwa sumber database universitas A mencakup bidang sains dan teknologi, kesehatan, dan filsafat; database jurnal elektronik C memuat subyek bidang kesusasteraan, komunikasi, ilmu perpustakaan, ilmu hukum dan psikologi; database jurnal elektronik F memuat kajian filsafat, kajian keislaman, agama, dan pendidikan, dsb. Berdasarkan penilian ini penelusur dapat menentukan bahwa jika ingin mencari sebuah topik tentang kajian keislaman, maka ia tidak akan mencarinya pada database universitas A & database e-journal C karena keduanya tidak memiliki koleksi tentang topik tersebut. Penelusur akan mencari topik yang dicari tersebut pada database e-jounal F, karena databasetersebut mencakup kajian keislaman.Selanjutnya perpustakaan juga seharusnya memiliki peran dalam pengembangan kurikulum yang dilakukan di perguruan tinggi. Sebagaimana dikatakan Behrens (1994:316), keterlibatan perpustakaan dalam pengembangan kurikulum harus diimplementasikan melalui program pendidikan yang terintegrasi dengan kurikulum dan ditujukan untuk membentuk mahasiswa yang melek di bidang informasi. Untuk itu menurut Ragains (2006:5), perpustakaan dapat melakukan kerjasama dengan fakultas dalam implementasi kegiatan information skillsdalam kurikulum. Ia menganggap bahwa pustakawan seharusnya berperan sebagai spesialis subyek untuk itu menyarankan perpustakaan menjadi penghubung subyek dan spesialisasi. Beberapa kegiatan dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam rangka kerja sama dengan fakultas untuk implementasi kegiatan information skills dalam kurikulum, yaitu :a.Mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh universitas, fakultas dan jurusanb.Mengunjungi jurusan-jurusan. Cara ini merupakan yangterbaik untuk bertemu dengan mahasiswa dan fakultas untuk mengetahui pertanyaan dan minat mereka.c.Mempelajari penelitian fakultas dan kegiatan pengajarannya.d.Menghubungi fakultas pada setiap tahun akademik baru untuk menjadwalkan orientasi perpustakaan, tour dan instruksi perpustakaan dan menyampaikan layanan-layanan yang ditawarkan perpustakaan. Selain itu perpustakaan juga dapat mengirimkan email pada fakultas tentang layan yang tersedia di perpustakaan.e.Mendeskripsikan layanan-layanan instruksi perpustakaan, fakultas harus mengetahui bahwa ada program instruksi perpustakaan yang dapat dimanfaatkan.f.Bekerja sama dengan dosen pada beberapa mata kuliah tertentu misalnya metodologi penelitian, di mana pustakawan dapat mengambil bagian Dalam mengajarkan mahasiswa teknik penelusuran informasi berbasis internet atapun penelusuran informasi yang dibutuhkan dalam sebuah topik ketika melakukan penelitian.Kolaborasi seperti yang disebutkan di atas merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam rangka meningkatkan kompetensi informasi dalam proses pembelajaran.8. PENELITIAN TENTANG LITERASI INFORMASIPenelitian tentang literasi informasi belakanganini semakin marak dilakukan bahkan menjadi tren dalam kajian ilmu perpustakaan dan informasi. Di beberapa negara penelitian tentang topikini sudah lama dilakukan. Techataweewan, Woraratpanya, Sanrach (2009) mengkaji tentang integrasi literasi informasi ke dalam tutorial berbasis web kerja sama antara fakultas dan pustakawan di Thailand. Ia menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui interview individu dengan metode Focus Discussion Group(FGD). Ia menemukan bahwa integrasi literasi informasi dalam kurikulum sangat penting untuk mendukung pendeka
Conclusion
Kemampuan literasi informasi merupakan sebuah keterampilan hidup yang perlu dimiliki oleh setiap sivitas akademika. Memiliki keterampilan ini berarti telah memiliki keahlian untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar perlu memperkenalkan dan mengajarkan pemustakanya keterampilan-keterampilan yang terkait dengan akses dan pemanfaatan sumber informasi. Berbagai model literasi informasi dapat diterapkan perpustakaan dalam meningkatkan kompetensi literasi informasi sivitas akademikanya agar mereka dapat sukses dalam kegiatan akademiknya. Selain itu perlu dilakukan adanya kolaborasi antara pustakawan dan fakultas dalam mengintegrasikan kegiatan literasi informasi dalam kurikulum perguruan tinggi baik sebagai sebuah mata kuliah ataupun menjadi materi kuliah atau topic bahasan bagian dalam sebuah mata kuliah terutama yang berkaitan dengan metode penelitian dan penulisan karya ilmiah.