MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERDISKUSI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TEKNIK TWO STAY TWO STRAY DENGAN MENGGUNAKAN KOLEKSI REFERENSI PERPUSTAKAAN PADA SISWA KELAS XI IIS.2 SMA NEGERI 1 BULUKUMBA
SMA Negeri 1 Bulukumba
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan: 1) kualitas proses pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba Tahun Ajaran 2016/2017; dan 2) kualitas hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba Tahun Ajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMA Negeri 1 Bulukumba. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Siswa kelas XI IIS.2 berjumlah 34 orang yang terdiri atas 18 siswa perempuan dan 16 siswa laki-laki. Objek penelitian ini adalah pembelajaran keterampilan berdiskusi di kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara mendalam, angket, dan kajian dokumen. Validitas data dalam penelitian ini dikaji dengan teknik trianggulasi sumber data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskripsi komparatif dan analisis kritis. Proses penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus yang meliputi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, serta tahap analisis dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran berdiskusi pada siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Peningkatan kualitas proses pembelajaran tersebut ditandai dengan meningkatnya: 1) jumlah siswa yang aktif dalam apersepsi; 2) jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran diskusi; 3) jumlah siswa yang perhatian dan konsentrasi dalam pembelajaran; dan 4) jumlah siswa yang kerjasama dalam diskusi. Adapun peningkatan kualitas hasil pembelajaran ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang mencapai batas ketuntasan, yaitu pada siklus I ada 18 siswa yang tuntas (56%) dan pada siklus II meningkat menjadi 26 siswa yang tuntas (76%). Peningkatan yang cukup siginifikan juga terjadi pada siklus III yaitu 30 siswa tuntas (91%). Nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan yaitu 63 pada siklus I, 68 pada siklus II, dan 74 pada siklus III. Ketuntasan siswa dalam pembelajaran diskusi tersebut dinilai ketika siswa berdiskusi.
Abstract
The purpose of this research is to improve: 1) the quality of learning process of discussion skill of students of class XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba Academic Year 2016/2017; and 2) quality of learning result of discussion skill of student of class XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba of academic year 2016/2017. This research is a classroom action research conducted in SMA Negeri 1 Bulukumba. The subject of this research is the students of class XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. There are 34 students of class XI IIS.2 consisting of 18 female students and 16 male students. The object of this research is learning discussion skill in class XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Data collection techniques used in this study are observation, in-depth interviews, questionnaires, and document review. Validity of data in this study was studied with triangulation technique of data source and method triangulation. Data analysis techniques used are comparative description analysis and critical analysis. The research process is carried out in three cycles which include four stages, namely the planning stage, the implementation stage, the observation stage, and the analysis and reflection phase. Based on the results of the study can be concluded there is an increase in the quality of the process and learning outcomes discussed in the students of class XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba. Improving the quality of the learning process is characterized by increasing: 1) the number of students who are active in apersepsi; 2) the number of students active in discussion lessons; 3) the number of students whose attention and concentration in learning; and 4) the number of students who collaborated in the discussion. The improvement of the quality of learning outcomes is marked by the increasing number of students who reach the limit of completeness, that is in cycle I there are 18 students who completed (56%) and in cycle II increased to 26 complete students (76%). Significant improvement also occurred in cycle III of 30 students complete (91%). The average score of students also increased by 63 in cycles I, 68 in cycle II, and 74 in cycle III. Student completeness in the discussion lessons are assessed when students discuss.
Keywords:
Keterampilan berdiskusi
· Koleksi referensi
· Two Stay Two Stray
Introduction
Guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor dalam pengajaran atau proses belajar mengajar. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Lubis (2006: 1) menyatakan bahwa Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih, menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Menurut pengalaman peneliti sebagi guru sejarah, penilaian kami terhadap keterampilan berbicara siswa khususnya berdiskusi masih kurang. Hal ini terlihat saat siswa diberi tugas untuk mempersentasikan hasil laporan penelitian lapangan. Pada umumnya siswa malu dan tidak percaya diri ketika berbicara di depan kelas. Selain itu, cara penyampaian siswa juga kurang baik, suara kurang jelas, dan pilihan kata yang digunakan juga masih kurang variatif. Demikian juga ketika siswa diminta mendiskusikan suatu topik, hanya ada beberapa siswa saja yang mau mengemukakan pendapat. Ketika berdiskusi, hanya siswa yang aktif saja yang berbicara dan menyampaikan pendapat. Siswa yang lain hanya sebagai pendengar saja. Siswa yang lain hanya berbicara ketika ditunjuk guru untuk berbicara saja. Bahkan banyak yang masih malu dan tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi. Indikator lain yang menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa dalam diskusi masih rendah adalah kelancaran siswa dalam berbicara masih kurang, struktur kalimat dan kosakata yang digunakan juga kurang tepat. Berdasarkan hasil pengamatan kami sebagai guru di SMA Negeri 1 Bulukumba, permasalahan tentang keterampilan berdiskusi timbul karena: (1) siswa takut mengungkapkan ide kepada teman-teman; (2) siswa kurang percaya diri terhadap kemampuan berbicaranya; (3) Kebanyakan siswa saling mengharapkan sehingga menimbulkan rasa tidak ingin memulai duluan; (4) Siswa yang lain tidak mau termotivasi dari teman-tamannya yang bisa berbicara; dan (5) siswa kurang termotifasi mencari referensi sejarah di perpustakaan sekolah. Fakta-fakta di atas menunjukkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi masih kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan perbaikan yang dapat mendorong seluruh siswa untuk aktif dalam menyampaikan pendapat atau pikiran dan perasaan secara lisan. Pembelajaran akan lebih optimal jika pendekatan atau metode yang digunakan tepat. Untuk mengoptimalkan hasil belajar, terutama keterampilan berdiskusi, diperlukan pendekatan yang lebih menekankan kerjasama siswa, keaktifan, dan kreativitas siswa serta ada kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan informasi. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran seperti itu adalah dengan pembelajaran kooperatif. Anita Lie (2008: 17) juga menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif sering disebut sistem pengajaran gotong-royong. Melalui pembelajaran kooperatif, siswa akan bekerja bersama dalam kelompoknya, kemudian berdiskusi tentang suatu informasi, dan mengungkapkannya kepada kelompok lain. Salah satu teknik yang ada dalam metode pembelajaran kooperatif adalah Two Stay Two Stray dengan memanfaatkan media koleksi referensi yang ada di perpustakaan sekolah. Melalui metode kooperatif teknik Two Stay Two Stray diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya dalam kelompoknya. Melalui teknik Two Stay Two Stray ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen, masing-masing kelompok 4 siswa. Mereka mencari informasiinformasi melalui koleksi referensi di perpustakaan dan berdiskusi atau bekerja sama membuat laporan suatu peristiwa dengan tema tertentu yang disampaikan guru. Setelah selesai, dua siswa dari masingmasing kelompok akan bertamu ke kelompok lain. Dua siswa yang tinggal dikelompoknya bertugas membagi hasil kerja atau menyampaikan informasi kepada tamu mereka. Siswa yang menjadi tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri. Mereka melaporkan hal yang didapat dari kelompok lain. Kemudian siswa membuat laporan tentang hasil diskusi tersebut. Melalui penerapan metode ini, banyak hal positif yang bisa diperoleh. Salah satunya guru dapat mengefektifkan waktu pembelajaran karena dua siswa (sebagai tuan rumah) diminta tampil berbicara yaitu melaporkan secara lisan hasil diskusi kepada kelompok lain. Dua siswa lain (sebagai tamu) juga pergi ke kelompok lain untuk mendengarkan presentasi kelompok lain dan berdiskusi disana. Hal tersebut tentunya sangat berbeda ketika siswa atau kelompok maju satu per satu ke depan kelas. Waktu yang diperlukan untuk hal tersebut tentu lebih lama. Melalui metode kooperatif Two Stay Two Stray ini, siswa akan bekerja secara berkelompok mencari referensi sejarah sebanyak mungkin. Ketika melaporkan ke kelompok lain juga secara berpasangan (2 orang) sehingga diharapkan siswa tidak merasa takut dan grogi ketika mengungkapkan hasil diskusi kepada kelompok lain. Hal ini juga menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa. Keunggulan lain adalah melalui teknik Two Stay Two Stray tersebut, siswa dikondisikan aktif mempelajari bahan diskusi atau hal yang akan dilaporkan, karena setiap siswa memiliki peran dan tanggung jawab untuk mempelajari bahan tersebut bersama kelompok ketika menjadi ‘tamu’ maupun ‘tuan rumah’. Dengan demikian, pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, siswa lebih menguasai topik diskusi itu sehingga kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan. Selain itu, sumber pengetahuan siswa mengenai sejarah menjadi lebih luas dengan memanfaatkan media koleksi referensi yang ada di perpustakaan tanpa harus mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah. Berdasarkan uraian di atas, peneliti terdorong untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas sebagai usaha perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berdiskusi dengan judul: ” Meningkatkan Keterampilan Berdiskusi Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray dengan Menggunakan Koleksi Referensi Perpustakaan pada Siswa Kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba tahun ajaran 2016/2017”? B. Tinjauan pustaka 1. Keterampilan Berbicara Berbicara merupakan salah satu bagian keterampilan berbahasa. Menurut Suharyanti (1996:5), berbicara merupakan pemanfaatan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk memberi tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan dapat dilihat (visible) agar maksud dan tujuan dari gagasan-gagasannya dapat tersampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa berbicara merupakan pengucapan bunyibunyi yang dipandang dari faktor fisik untuk mengkomunikasikan gagasannya. Lebih lanjut lagi, Marwoto dan Yant Mujianto (1998: 2) menyatakan bahwa berbicara merupakan salah satu komunikasi yang mengandalkan kekuatan dan kompetensi berbahasa, kata-kata, frasa, kalimat, paragraf, dan ujaran, dengan vokal dan penampilan yang mendukung. Hampir sama dengan pendapat tersebut, Nurhadi (1995: 342) mengungkapkan bahwa berbicara berarti mengungkapkan ide atau pesan lisan secara aktif. Jadi berbicara termasuk salah satu aspek kemampuan berbahasa yang berfungsi untuk menyampaikan informasi secara lisan. Sejalan dengan hal tersebut, Henry Guntur Tarigan (1981: 15) menyatakan dengan jelas bahwa berbicara ialah suatu kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Lebih lanjut, Henry Guntur Tarigan (1981: 15) menjelaskan bahwa berbicara adalah suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktorfaktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif dan secara luas sehingga dianggap sebagai alat yang paling penting bagi kontrol manusia. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Kemampuan berbicara perlu dimiliki oleh seseorang. Kemampuan tersebut bukanlah kemampuan genetik yang diwariskan secara turun tenurun, meskipun pada dasarnya manusia diberi anugerah agar mampu melafalkan lambing-lambang bunyi. Kemampuan berbicara secara formal tidak dimiliki oleh setiap orang. Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. (1988: 1) mengungkapkan bahwa untuk memperoleh kemampuan tersebut harus melalui segala bentuk ujian dalam bentuk latihan dan pengarahan dan bimbingan yang intensif. Ada beberapa kegiatan berbicara kedalam dua jenis yaitu: 1. Berbicara dimuka umum (Public Speaking) Jenis-jenis pembicaraannya meliputi hal-hal berikut a. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau yang melaporkan, yang bersifat informative (informative speaking) b. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persa-habatan (fellowship speaking) c. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, menga-jak, mendesak meyakinkan (persuasive speaking) d. Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative speaking) 2. Berbicara pada konferensi (converence speaking) Pembicaraan meliputi hal-hal berikut: a. Diskusi kelompok (group discussion) yang terdiri atas: 1) Tidak resmi (informal) yang meliputi: Kelompok studi (Study Group) Kelompok pembuat kebijaksaaan (police making group) Komik 2) Resmi (Formal) dibagi atas: Komprensi Diskusi Panel Simposium b. Diskusi Parlementer (parliament-ary procedure) Secara singkat Albert dalam Tarigan mengungkapkan prosedur parlementer mempunyai dua maksud utama, yaitu: 1) Meninjau serta mengarahkan urusan atau usaha secara efisien, secara tepat guna 2) melindungi hak-hak semua anggota c. Debat Berdasarkan bentuk, maksud dan metodenya, Tarigan mengklasifikasikan debat atas tipe-tipe atau kategori sebangai berikut: 1) Debat parlemtenter atau majelis (Asembly or Parlementary debating) Debat parlementer atau majelis bertujuan untuk member atau menambahi dukungan bagi suatu undang-undang tertentu dan semua anggota yang ingin menyatakan pandangan atau pendapatnya pun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat usul tersebut setelah mendapat izin dari majelis 2) Debat pemeriksaan ulang untuk mengetahui kebenaran pemeriksaan terdahulu (Cross-examination debating) Debat ini bertujuan untuk mengajukan serangkaian pertanyaan yang saling berhubungan erat antara satu dengan yang lain, yang akan menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh oleh sang penanya 3) Debat formal, konvensioanal atau debat pendidikan (formal convensional or education debating) Debat ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemu-kakan kepada sejumlah pende-ngar argumentyang menunjang atau menbantah suatu usul. Setiap pihak diberi jangka waktu yang sama bagi pembicara konstruktif dan bantahan. Marwoto dan Yant Mujianto (1988: 2) menjelaskan beberapa hal yang mendukung keterampilan berbicara diantaranya: (1) penalaran bahasa, logika, metodologi, sistematika, transformasi ipteaks (ilmu, pengetahuan, teknologi, agama, dan seni); (2) kompetensi bahasa; (3) penguasaan materi pembicaraan; (4) konsentrasi yang tinggi; (5) pelafalan kata-kata yan g jelas dan fasih; (6) ketenangan jiwa; (7) pemahaman psikologi massa serta ekspresi wajah dan anggota badan yang mendukung. 2. Hakikat Pembelajaran Berbicara Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 2001: 57). Lebih lanjut Oemar mengung-kapkan bahwa material meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio, dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, dan komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar,ujian, dan sebagainya. Pembelajaran bahasa secara umum adalah mengembangkan kemam-puan vertikal. Maksudnya siswa sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Semakin lama, kemampuan tersebut menjadi semakin sempurna, misalnya strukturnya semakin benar pilihan katanya semakin tepat, dan kalimat-kalimatnya semakin bervariasi. Ellis (dalam Ahmad Rofi’udin dan Darmiyati Zuchri, 2001: 7) mengemukakan ada tiga cara untuk mengembangkan kemampuan berbicara, yaitu: (1) menirukan pembicaraan orang lain (khususnya guru); (2) mengem-bangkan bentuk-bentuk ujaran yang telah dikuasai; dan (3) mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran, yaitu bentuk ujaran sendiri yang benar dan ujaran orang dewasa (terutama guru) yang sudah benar. Tompkins dan Hoskisson (dalam Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi, 2001: 8) menyatakan bahwa proses pembelajaran berbicara dengan berbagai jenis kegiatan, yaitu percakapan berbicara estetik (mendongeng), berbicara untuk menyampaikan informasi atau untuk mempengaruhi dan kegiatan dramatik. Menurut Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi (2001: 171-173) penilaian kemampuan berbicara dapat dilakukan secara aspektual atau secara komprehensif. Penilaian aspektual adalah penilaian kemampuan berbicara yang difokuskan pada aspek-aspek tertentu, sedangkan penilaian komprehensif merupakan penilaian yang difokuskan pada keseluruhan kemam-puan berbicara. Penilaian aspektual dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penilaian aspek individual dan aspek kelompok. Penilaian aspek individual dibedakan lagi menjadi aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi: (a) tekanan; (b) ucapan; (c) nada dan irama; (d) persendian; (e) kosakata atau ucapan atau diksi; dan (f) struktur kalimat yang digunakan. Aspek nonkebahasaan meliputi: (a) kelancaran; (b) pengungkapan materi wicara; (c) keberanian; (d) keramahan; (e) ketertiban; (f) semangat; (g) sikap; dan (h) perhatian. Dalam sumber yang sama, dijelaskan juga tentang penilaian kelompok antara lain meliputi: (a) pemerataan kesempatan berbicara; (b) keterarahan, pembicaraan; (c) penalaran dalam berbicara; (d) kemampuan mengungkapkan ide; serta (e) kesopanan dan rasa saling menghargai. Penilaian berbicara dilaksana-kan secara berbeda pada setiap jenjangnya. Misalnya, kemampuan menceritakan, berpidato, dan lain-lain dijadikan sebagai bentuk penilaian (Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 2008: 240). Salah satu bentuk tugas yang dipakai adalah diskusi. Tugas diskusi tidak hanya untuk mengukur kemampuan siswa tetapi juga sebagai latihan mengungkapkan pendapat atau argumentasi. Dalam diskusi, siswa mengungkapkan gagasan-gagasan, menanggapi gagasan secara kritis, dan mempertahankan gagasan sendiri dengan argumentasi secara logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu sudah tentu kemampuan dan kefasihan berbicara dalam bahasa yang bersangkutan sangat menentukan. Model penilaian yang dipergunakan, sesuai dengan pendekatan pragmatik harus mempertimbangkan unsur bahasa dan yang di luar bahasa (isi pembicaraan). Melalui pembelajaran berbicara di sekolah, siswa diharapkan dapat menyampaikan ide, gagasan, perasaan, dan pikirannya secara lisan dengan baik sesuai dengan jenjangnya masing-masing. 3. Diskusi Kata diskusi, berasal dari kata latin, discustio atau discusum yang artinya sama dengan bertukar pikiran (Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S, 1988: 37). Lebih lanjut Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. menjelaskan bahwa diskusi pada dasarnya merupakan suatu bentuk tukar pikiran yang tertaur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. Sejalan dengan pendapat tersebut, M. Atar Semi (1993: 10) menyatakan bahwa diskusi adalah suatu percakapan yang terarah yang berbentuk pertukaran pikiran antara dua orang atau lebih secara lisan untuk mendapatkan kesepakatan atau kecocokan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi. Diskusi dibedakan menjadi dua, yaitu diskusi kelas dan diskusi kelompok. Diskusi kelas melibatkan seluruh siswa dalam kelas. Diskusi ini dimaksudkan untuk membicarakan topik tertentu yang telah direncanakan. Salah satu tujuan yang diterapkan diskusi kelas adalah membantu siswa mengemukakan pendapat terutama bagi siswa yang tidak suka berbicara. Untuk mengatasi hal ini guru dapat memberikan penguatan pada siswa agar bersemangat. Diskusi ini akan lebih efektif bila siswa tidak lebih dari lima belas orang. Penataan ruang kelas berbentuk V. Diskusi kelompok menurut Moedjiono dan M. Dimyati (1992 : 54) adalah pembicaraan tentang suatu topik yang sedang menjadi perhatian bersama diantara 3 - 6 orang peserta diskusi dimana para peserta berinteraksi tatap muka secara dinamis dan mendapat bimbingan dari seorang peserta yang disebut ketua moderator. Siswa berdiskusi dengan kelompok yang berlangsung dengan suasana terbuka. Mereka bebas mengeluarkan ide-idenya tanpa merasa ada tekanan dari teman atau dari guru. Diskusi merupakan sarana yang ampuh bagi pengembangan keteram-pilan berbicara. Berlatih berdiskusi berarti berlatih berbicara. 4. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara kooperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi komunikasisosialisasi karena kooperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif dikenal sebagai strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa. Tujuan kelompok dalam pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan agar semua siswa bisa lebih baik. Setiap siswa yang pandai mengajak yang lainnya agar sukses, melalui membantu, berbagi, menasehati, menjelaskan, dan memberikan semangat. Sejalan dengan pendapat Hwang et al (2008), menurut Silberman (dalam Neni Novita Sari, 2009: 80) bahwa salah satu upaya untuk membuat peserta didik aktif sejak dini adalah dengan pembentukan tim, yaitu membantu siswa agar terbiasa satu sama lain untuk menciptakan semangat kerja sama dan saling ketergantungan. Anita Lie (2008: 55-73) menjabarkan teknik pembelajaran kooperatif ada 14 macam, yaitu: (1) mencari pasangan; (2) bertukar pasangan; (3) berpikirberpasanganberempat; (4) berkirim salam dan soal; (5) kepala bernomor; (6) kepala bernomor terstruktur; (7) dua tinggal dua tamu (two stay two stray); (8) keliling kelompok; (9) kancing gemerincing; (10) keliling kelas; (11) lingkaran kecil lingkaran besar; (12) tari bambu; (13) Jigsaw; dan (14) bercerita berpasangan. Anita Lie (2008: 61) menya-takan bahwa “Teknik belajar Two Stay Two Stray dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992)”. Anita Lie (2008: 61) menyebut teknik ini dengan teknik Dua Tinggal Dua Tamu. Menurut Anita Lie (2008: 61) teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia peserta didik. Lebih lanjut Anita Lie menje-laskan bahwa struktur Two Stay Two Stray memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu dengan yang lainnya. Lebih lanjut lagi, Anita Lie (2008: 62) menjelaskan cara menerapkan teknik Two Stay Two Stray yaitu: 1. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. 2. Setelah selesai, dua orang dari masingmasing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain. 3. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. 4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. Sejalan dengan hal tersebut, Agus Suprijono (2009: 93-94) meng-ungkapkan bahwa pembelajaran dengan metode itu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk, guru memberikan tugas yang harus didiskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari masing-masing kelompok mening-galkan kelompoknya untuk bertamu kepada anggota kelompok yang lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyaji-kan hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya msing-masing. Setelah kembali ke kelompok asal, baik peserta didik yang bertugas bertamu maupun yang bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah diselesaikan. Teknik Two Stay Two Stray dapat diterapkan dalam pembela-jaran berbicara. 5. Koleksi Referensi Pada umumnya koleksi perpustakaan ditinjau dari isinya terdiri dari dua jenis, yaitu koleksi sirkulasi (buku teks yang biasa dipinjamkan) dan koleksi referensi (koleksi rujukan). Dalam memanfaatkan perpustakaan yang harus diketahui dan dipamahi oleh para pengguna adalah memahami masingmasing fungsi dari jenis koleksi tersebut agar dalam mencari informasi di perpustakaan berjalan efektif dan efisien. Koleksi sirkulasi (buku teks) umumnya merupakan buku-buku ajar dimana setiap babnya merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan pokok bahasannya. Sehingga dalam pemanfaatannya biasanya harus dibaca secara keseluruhan. Berbeda dengan koleksi referensi, koleksi ini merupakan koleksi yang memberikan penjelasan tentang informasi tertentu. Informasi ini bersifat menyeluruh dalam lingkupnya; uraiannya padat, fungsinya memudahkan penemuan informasi dengan cepat, tepat dan benar. Koleksi ini disusun dengan sistem tertentu: sistem alfabetis (kamus, ensiklopedi), sistem kronologis (ikhtisar), sistem tabel (statistik), sistem wialayah (atlas, peta), sistem golongangolongan (bibliografi, handbook, almanak) (Lasa, 2008). Adapun jenis-jenis koleksi referensi menurut Lasa (2008) yaitu : a. Kamus Bahasa b. Ensiklopedi, merupakan cara rujukan cepat yang menjanjikan informasi mengenai setiap ilmu pengetahuan dan salah satu ilmu pengetahuan. Ensiklopedia ini merupakan gudang pengetahuan yang memberikan informasi yang berarti. Ensiklopedia lebih cepat digunakan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan latar belakang yang berkaitan dengan informasi umum serta pendidikan mandiri. Pemakai menggunakan ensiklopedia untuk keperluan cabang ilmu pengetahuan, ensiklopedia tidak didesain untuk dibaca seluruhnya. Susunan ensiklopedia biasanya menurut abjad di bawah tajuk subjek. Tajuk tersebut dapat bersifat luas maupun spesifik. c. Sumber Biografi merupakan sumber informasi penting bagi tugas referensi. Sumber tersebut membe-rikan keterangan orang, khususnya mengenai tanggal lahir dan kema-tian, Kualifikasi, Pendidikan, Jabatan yang dipegang, dan sumbangan pada bidangnya, masyarakat, serta alamat orang. Sumber biografi dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Almanak, kamus biografi, direktori, ensiklopedi, dan buku panduan lain yang dapat digunakan. d. Buku Panduan merupakan kumpulan berbagai jenis informasi yang disusun secara padat dan siap pakai khusus dalam sebuah bidang. Buku panduan lazimnya digunakan sebagai sarana pemeriksa atau menguji data untuk membantu pamakai dalam tugasnya. e. Direktori adalah daftar tokoh atau organisasi atau lembaga yang disusun secara sistematik, biasanya menurut abjad atau susunan kelas, subjek dan memberikan data mengenai nama, alamat, afiliasi, kegiatan, dan sebagainya. f. Almanac dan buku tahunan memuat keterangan mengenai peristiwa, fakta dan informasi statistik, Pengertian almanak sendiri adalah ikhtisar data dan statistik yang berhubungan dengan negara, instansi, kejadian/peristiwa, subyek dan sebagainya. Informasi yang dimuat dalam almanak ini bisa bersifat informasi terbaru (current) dan dapat pula bersifat informasi masa lampau (retros-pektif). Biasanya almanak diterbitkan setahun sekali (annual), tetapi ada juga almanak yang terbit dua tahun sekali (biannial). g. Bibliografi merupakan daftar tersusun rapi yang memuat sumber primer atau sumber lain mengenai subjek atau tokoh tertentu. h. Sumber geografi (Atlas, Peta, Globe) Adalah koleksi rujukan yang khusus memuat informasi geografis dalam bentuk penyajian yang berupa atlas, peta, globe, kamus ilmu bumi (Gazetter), atau buku petunjuk (guide book). Kamus ilmu bumi berisi mengenai pengucapan kata tempat, lokasi, deskripsi secara singkat, luas daerah, jumlah penduduk, dan sebagai-nya. i. Indeks dan abstrak adalah koleksi rujukan yang berisi daftar karya tulis yang disusun secara sistematis, untuk menunjukkan dimana bahan-bahan tersebut dapat ditemukan. Karya tulis tersebut. dapat berupa artikel majalah atau terbitan berkala lainnya, bagianbagian dari buku teks, tesis, disertasi, laporan penelitian, pidato-pidato, terbitan pemerintah dan sebagainya. Abstrak merupakan suatu ringkasan atau sari karangan dari suatu penerbitan atau artikel, sering terbatas pada subyek tertentu, dengan disertai sekedar gambaran bibliografis sehingga memungkinkan artikel tersebut dapat ditemukan.
Method
1. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas dibagi dalam tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observe), serta refleksi (reflect). 2. Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 siswa. Adapun objek penelitian ini adalah pembelajaran keterampilan berdiskusi di kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba 3. Instrumen Penelitian dan Teknik analisis data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi/ pengamatan dan tes akhir siklus. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi atau pengamatan secara langsung untuk mengamati tindakan dengan meng-gunakan model pembelajaran kooperatif teknik two stay two stray dan koleksi referensi perpustakaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah análisis deskriptif komparatif dengan melihat penilaian aktivitas yang teramati dan dianalisis dengan menggunakan kriteria penilaian sesuai dengan ítem aktivitas pada lembar observasi siswa.
Result
1. Aktivitas berdiskusi Siklus 1 Perbandingan yang digambarkan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang ’tuntas’ dari 8 siswa menjadi 18 siswa. Dengan demikian, jelas bahwa nilai siswa pada siklus I lebih baik daripada nilai siswa pada pratindakan. Setelah peneliti melakukan pengamatan awal terhadap pembelajaran diskusi di kelas XI IIS.2, peneliti meminta siswa mengisi angket pasca tindakan siklus I dan jurnal refleksi siswa. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui perasaan siswa selama berdiskusi, keberanian siswa, keaktifan siswa dalam mengungkapkan pendapat atau kemampuan siswa mengemu-kakan pendapat dan memahami pendapat orang lain. Selain itu, angket pratindakan ini juga dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan keterampilan berdiskusi siswa sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Dari hasil pengisian angket diperoleh kesimpulan bahwa 96% siswa menyatakan senang praktik berdiskusi dengan kelompok kecil dan berani berkomentar dalam diskusi. Tabel 1. Perbandingan nilai pembelajaran berdiskusi pada siklus I No. Nilai Jumlah siswa Keterangan Pratindakan Siklus I 1 40 – 44 2 1 Tidak tuntas 2 45 – 49 3 4 Tidak tuntas 3 50 – 54 2 3 Tidak tuntas 4 55 – 59 6 1 Tidak tuntas 5 60 – 64 13 5 Tidak tuntas 6 65 – 69 7 8 Tuntas 7 70 – 74 1 6 Tuntas 8 75 – 80 0 4 Tuntas 9 ≥ 80 0 0 - Siswa yang menyatakan aktif dalam diskusi sebanyak 87,5% (28 siswa). Demikian juga dengan siswa yang menyatakan teknik diskusi dengan TSTS mudah sebanyak 30 siswa (94%). Sebanyak 30 siswa (94%) juga menyatakan bahwa keterampilan berdiskusinya meningkat. Akan tetapi hanya 68% (21 siswa) yang menyatakan mampu menge-mukakan pendapat dan memahami pendapat orang lain dengan TSTS ini. 2. Aktivitas berdiskusi siklus II Tabel 2. Perbandingan nilai pembelajaran berdiskusi pada siklus II No. Nilai Jumlah siswa Keterangan Pratindakan Siklus I Siklus II 1 40 – 44 2 1 0 Tidak tuntas 2 45 – 49 3 4 0 Tidak tuntas 3 50 – 54 2 3 4 Tidak tuntas 4 55 – 59 6 1 0 Tidak tuntas 5 60 – 64 13 5 3 Tidak tuntas 6 65 – 69 7 8 13 Tuntas 7 70 – 74 1 6 8 Tuntas 8 75 – 80 0 4 1 Tuntas 9 ≥ 80 0 0 4 Tuntas Perbandingan yang digambarkan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang ’tuntas’ dari 18 siswa menjadi 26 siswa. Dengan demikian, jelas bahwa nilai siswa pada siklus I lebih baik daripada nilai siswa pada pratindakan. Setelah peneliti melakukan pengamatan terhadap pembelajaran diskusi siklus II di kelas XI IIS.2, peneliti meminta siswa mengisi angket pascatindakan siklus II dan jurnal refleksi siswa. Jurnal refleksi dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan pembelajaran diskusi pada siklus II ini, dan membantu guru dan peneliti dalam melakukan perbaikan di siklus berikutnya. Angket pascatindakan dimaksudkan untuk mengetahui perasaan siswa selama diskusi, keberanian siswa, keaktifan siswa dalam mengungkapkan pendapat, dan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan memahami pendapat orang lain. Selain itu angket pascatindakan ini juga dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan keterampilan berdiskusi siswa sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Dari hasil pengisian angket diperoleh kesimpulan bahwa 97% siswa menyatakan senang praktik berdiskusi dengan kelompok kecil dan berani berkomentar dalam diskusi. Siswa yang menyatakan aktif dalam diskusi sebanyak 94% (31 dari 33 siswa). Demikian juga dengan siswa yang menyatakan teknik diskusi dengan TSTS itu mudah sebanyak 94% (31 siswa). Sebanyak 31 siswa (94%) juga menyatakan bahwa keterampilan berdiskusinya meningkat. Akan tetapi hanya 69% (23 siswa) yang menyatakan mampu mengemukakan pendapat dan memahami pendapat orang lain dengan teknik TSTS ini. 3. Aktivitas berdiskusi siklus III Tabel 3. Perbandingan nilai pembelajaran berdiskusi pada siklus III No. Nilai Jumlah siswa Keterangan Pratindakan Siklus I Siklus II Siklus III 1 40 – 44 2 1 0 0 Tidak tuntas 2 45 – 49 3 4 0 0 Tidak tuntas 3 50 – 54 2 3 4 0 Tidak tuntas 4 55 – 59 6 1 0 0 Tidak tuntas 5 60 – 64 13 5 3 3 Tidak tuntas 6 65 – 69 7 8 13 5 Tuntas 7 70 – 74 1 6 8 11 Tuntas 8 75 – 80 0 4 1 5 Tuntas 9 ≥ 80 0 0 4 10 Tuntas Perbandingan yang digambarkan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang ’tuntas’ dari 26 siswa menjadi 31 siswa. Siswa yang mendapat nilai antara 40 sampai 64 hanya 3 siswa. Dengan demikian, jelas bahwa nilai siswa pada siklus III lebih baik daripada siklus sebelumnya. Setelah peneliti melakukan pengamatan terhadap pembelajaran diskusi siklus III di kelas XI IIS.2, peneliti meminta siswa mengisi angket pasca tindakan siklus III dan jurnal refleksi siswa. Jurnal refleksi dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan pembelajaran diskusi pada siklus III ini. Angket pascatindakan dimaksudkan untuk mengetahui perasaan siswa selama diskusi, keberanian siswa, keaktifan siswa dalam mengungkapkan pendapat, dan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan memahami pendapat orang lain. Selain itu, angket pascatindakan ini juga dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan keterampilan berdiskusi siswa sebelum tindakan siklus III dan sesudah tindakan tindakan siklus III. Dari hasil pengisian angket pasca tindakan siklus III diperoleh kesimpulan bahwa 100% siswa menyatakan senang praktik berdiskusi dengan kelompok kecil dan berani berkomentar dalam diskusi. Siswa yang menyatakan berani mengungkapkan pendapat dalam diskusi sebanyak 100%. Siswa yang menyatakan aktif dalam diskusi sebanyak 94% (32 dari 34 siswa). Demikian juga dengan siswa yang menyatakan teknik diskusi dengan TSTS itu mudah sebanyak 94% (32 siswa). Ada 28 siswa (82%) yang menyatakan mampu mengemukakan pendapat dan memahami pendapat orang lain dengan teknik TSTS ini. Sebanyak 34 siswa (100%) menyatakan bahwa keterampilan berbicara dan berdiskusi setelah melakukan pembelajaran ini meningkat. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa ada peningkatan kualitas proses dan hasil yang cukup signifikan dari siklus sebelumnya. Akan tetapi, masih ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa masih ada kekurangan dalam pembelajaran ini. Fakta-fakta tersebut antara lain: (1) 5 siswa atau 15% menunjukkan sikap kurang berminat atau kurang memperhatikan guru ketika pembelajaran diskusi berlangsung; (2) 4 siswa atau 12% menunjukkan siswa belum aktif ketika berdiskusi dan 7 siswa atau 21% yang belum aktif ketika apersepsi; (3) 4 siswa atau 12% belum menunjukkan sikap kerjasama dalam kelompok; dan (4) 3 siswa atau 9% masih mendapat nilai kurang dari 65 atau masih belum mencapai batas ketuntasan. Berkaitan dengan fakta-fakta mengenai kekurangan pembelajaran tersebut, peneliti melakukan refleksi berikut: (1) adanya siswa yang kurang memperhatikan dikarenakan kurang konsentrasi dan tidak mau bekerja sama dengan teman lain; (2) ada siswa yang kurang aktif dikarenakan siswa tidak berani untuk mulai aktif bertanya dan berbicara; (3) ada siswa yang masih belum mau bekerja sama dalam kelompok karena mengandalkan kemampuan teman dalam satu kelompok saja; dan (4) ada siswa yang belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal disebabkan ketika berdiskusi tidak aktif dan tampak tidak serius dalam pembelajaran diskusi ini. Penelitian tindakan kelas ini diakhiri sampai tindakan pada siklus III, hal ini disebabkan indikator yang dirumuskan sejak awal penelitian sudah tercapai atau dapat terpenuhi. Adapun hasil pelaksanaan siklus I sampai siklus III di atas, dapat dibuat rekapitulasi seperti pada table berikut ini. Tabel 4. Rekapitulasi ketercapaian indikator penelitian siklus I, II dan III No. Indikator Persentase yang dicapai Siklus I Siklus II Siklus III 1 Keaktifan siswa selama apresepsi 44 % 64% 79% 2 Keaktifan siswa selama pembelajaran diskusi 56% 76% 88% 3 Perhatian dan konsentrasi siswa 66% 79% 85% 4 Kerjasama siswa dalam kelompok 62,5% 76% 88% 5 Ketuntasan hasil belajar siswa (siswa mampu menerapkan prinsip diskusi) 56% 76% 91% Berdasarkan data pada rekapitulasi di atas, dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan pada indikator dari pelaksanaan tindakan siklus I, II, dan III. Peningkatan yang signifikan terjadi pada dua indikator yaitu pada indikator 1, dari siklus I ke siklus III yang peningkatannya mencapai 35%. Demikian juga dengan indikator 5 dari siklus I ke siklus III yang peningkatannya mencapai 35%. Adapun peningkatan yang siginifikan pada tindakan siklus I ke siklus II terjadi pada indikator ke 2 dan 5 yang mencapai 20%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray pada pembelajaran berdiskusi siswa kelas XI IIS.2 SMA Negeri 1 Bulukumba, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran diskusi. Selain itu, data di atas menunjukkan bahwa kelima indikator penelitian telah tercapai pada siklus III.
Conclusion
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray dengan menggunakan koleksi referensi perpustakaan dalam pembelajaran berdiskusi dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran berdiskusi. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut: a. Meningkatnya jumlah siswa yang aktif dalam apersepsi. Pada kegiatan apersepsi, siswa mulai percaya diri dan tidak malu mengemukakan pendapat atau bertanya. Pada siklus I siswa yang aktif dalam apersepsi sebanyak 44% atau 14 siswa, kemudian siklus II sebanyak 64% atau 21 siswa, dan pada siklus III sebanyak 79% atau 27 siswa. b. meningkatnya jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran diskusi. Pada kegiatan diskusi, siswa aktif mengungkapkan pendapat, bertanya, dan berani mengkritik gagasan siswa lain. Pada siklus I siswa yang aktif berdiskusi sebanyak 18 siswa (56%), pada siklus II ada 25 siswa (76%), dan pada siklus III keaktifan siswa dalam berdiskusi mencapai 88% (30 siswa aktif). c. meningkatnya jumlah siswa yang perhatian dan konsentrasi dalam pembelajaran. Melalui teknik Two Stay Two Stray ini, siswa lebih memperhatikan penjelasan guru. Siswa juga tampak antusias mengikuti pembelajaran diskusi dengan teknik ini. Pada siklus I siswa yang memperhatikan pembelajaran dan konsentrasi ketika proses pembelajaran ada 20 siswa (62,5%), pada siklus II ada 25 siswa (76%), dan pada siklus III ada 30 siswa (88%). d. meningkatnya jumlah siswa yang kerjasama dalam diskusi. Kerjasama siswa benar-benar terlihat ketika mereka berdiskusi dalam kelompoknya maupun ketika siswa berdiskusi dengan kelompok lain ketika bertamu. Kerjasama siswa dalam diskusi 118 telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada siklus I, 20 siswa (62,5%) telah mampu bekerjasama dalam diskusi. Kemudian pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 25 siswa (76%) dan pada siklus III sudah 30 siswa (88%) yang mau kerjasama dalam diskusi Saran Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan, maka saran yang ingin dikemukakan peneliti sebagai berikut : 1) Bagi siswa diharapkan untuk terus melatih keterampilan berbicara melalui kegiatan diskusi 2) Diharapkan kepada guru agar dapat memaksimalkan penggunaan sarana prasarana yang tersedia untuk meningkatkan ketuntasan belajar sisiwa di sekolah. 3) Diharapkan kepada sekolah agar menyediakan sarana prasarana untuk mendukung kelancaran pembelajaran disekolah.