Kembali
16
1
2015 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 3 · 2 ISSN 2549-1334

PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN KINERJA PERPUSTAKAABN

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Pustakawan sekolah juga memiliki peran sentral dalam menunjang proses belajar mengajar di Sekolah. Akan tetapi, tidak sedikit dijumpai peran tersebut belum terlaksana secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi peran perpustakaan sekolah di MAN 1 Makassar. Dari observasi awal, menunjukkan bahwa ada peran yang signifikan dilakukan oleh pustakawan di sekolah ini. Data penelitian diperoleh melalui hasil wawancara terhadap pustakawan Perpustakaan MAN 1 Makassar, yaitu kepala perpustakaan dan teknisi perpustakaan, beberapa pemustaka (siswa kelas 3), beberapa guru dan pegawai di sekolah ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan mempunyai peran yang besar dan signifikan dalam meningkatkan kinerja perpustakaan MAN 1 Makassar. Selain itu Setiap kegiatan yang dilakukan di perpustakaan MAN I Makassar masih kurang maksimal karena adanya hambatan dari segi dana, sarana dan prasarana
Keywords: Pustakawan sekolah · Kinerja perpustakaan · Perpustakaan sekolah

Introduction

Perpustakaan, sebagaimana yang umum dikenal di masyarakat, merupakan sebuah lembaga yang berperan menyimpan, mengelola, dan melayankan informasi-informasi yang dimilikinya. Perpustakaan di era informasi saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan layanannya, khususnya yang berkaitan dengan diseminasi informasi yang kredibel dan akurat. Berkaitan dengan itu, firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa (4:58) yang artinya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (Al-Qur’an, 2012: 87). Penggalan ayat di atas dapat dikaitkan dengan peran pustakawan atau pengelola perpustakaan, di mana profesi pustakawan merupakan sebuah amanah yang besar, yaitu menyampaikan informasi yang dimiliki perpustakaan kepada para pemustakanya (orang yang berhak menerimanya). Dalam konteks pustakawan sekolah, pustakawan merupakan salah satu unsur penting yang harus disiapkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah (Sitorus, 2014). Namun tidak dapat dipungkiri, masih terdapat juga sekolah yang belum sepenuhnya menjalankannya. Padahal, sebagaimana yang diyakini bersama bahwa pustakawan juga memiliki peran sangat penting dalam mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Apabila peran pustakawan sekolah dapat dijalankan dengan baik, maka hal itu menandakan adanya peningkatan kinerja (Darmono, 2009). Sebaliknya, jika tidak sepenuhnya tercapai, maka hal tersebut juga menandakan belum maksimalnya peran pustakawannya, dan tentu saja dapat dijadikan sebagai pertimbangan baik untuk peningkatan selanjutnya. Di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar, berdasarkan observasi awal, kondisi perpustakaan sebelum sekarang ini masih kurang terkelola dengan baik, bahkan terabaikan sehingga tingkat kunjungan siswa sangat rendah. Akan tetapi, semenjak perpustakaan ini dikelola oleh pustakawan, kondisinya berubah dan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perubahan yang terjadi terlihat dari segi pengadaan, pengolahan koleksi, dan layanan yang telah mendukung perwujudan kinerja perpustakaan MAN 1 Makassar. Berdasarkan informasi tersebut, yang juga merupakan latar belakang penelitian ini, maka tentu saja menarik untuk dicari tahu peran apa yang telah dilakukan oleh pustakawan yang ada di MAN 1 Makassar.

Method

Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang menggambarkan secara faktual mengenai apa yang terjadi pada objek penelitian tanpa berusaha untuk membandingkan atau mengevaluasi hasil penelitian yang diperoleh. Penelitian ini dimaksudkan agar dapat menggali sedalam-dalamnya mengenai objek penelitian. b. Sumber Data Subjek penelitian sekaligus sebagai informan yang menjadi sumber data utama penelitian ini adalah pustakawan Perpustakaan MAN 1 Makassar, yaitu kepala perpustakaan dan teknisi perpustakaan, beberapa pemustaka (siswa kelas 3), beberapa guru dan pegawai di sekolah ini. c. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. d. Instrumen Penelitian Pada umumnya instrumen dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Dengan tuntutan pemahaman yang baik mengenai peran dan kinerja perpustakaan, peneliti membuat beberapa instrumen berupa kumpulan dokumen, pedoman wawancara (pokok-pokok pertanyaan), dan catatan observasi mengenai fokus penelitian ini. Dalam mendukung hal tersebut, beberapa instrumen penelitian lainnya seperti kamera, video rekaman, program komputer, dan sebagainya, juga disertakan dalam penelitian ini. e. Teknik Analisis Data Data-data yang telah diperoleh di lokasi penelitian melalui informan dan dokumentasi selanjutnya akan dianalisis dengan teknik penelitian kualitatif.

Result & Discussion

**Peran Pustakawan Perpustakaan MAN 1 Makassar Dalam Meningkatkan Kinerja Perpustakaan** Memiliki perpustakaan sekolah yang ideal dan dapat dijadikan sebagai percontohan merupakan dambaan bagi setiap sekolah. Hal itu dikarenakan, perpustakaan ideal tentu saja mendukung penuh peran sekolah sebagai lembaga pendidikan. Namun demikian, tidak sedikit sekolah yang belum sanggup untuk mencapai hal tersebut. Hal yang sama pernah dialami oleh Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar yang mana sekolah tempat berdirinya perpustakaan ini merupakan salah satu madrasah unggulan di kota Makassar. Bagi sekolah madrasah ini, perpustakaan ideal adalah keinginan sekaligus salah satu cara untuk lebih mengunggulkan eksistensi yang telah diperolehnya. Oleh karena itu, keberadaan pustakawan yang handal di perpustakaan ini menjadi salah satu syarat agar hal tersebut dapat terwujud. Perpustakaan MAN 1 Makassar memiliki dua tujuan yaitu, pertama, mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT agar senantiasa menjadi siswa yang disiplin dan memiliki budi pekerti yang baik, dan kedua, menumbuhkembangkan minat baca pemustaka (siswa-siswi). Selain tujuan, perpustakaan MAN 1 Makassar juga memiliki visi dan misi. Adapun visinya yaitu untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, semangat kebangsaan dan cinta tanah air, sehingga dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab berdasarkan sistem pendidikan Nasional yang berlandaskan Pancasila dan UU Dasar 1945. Sementara misi perpustakaan MAN 1 Makassar yaitu sebagai berikut: 1) Mengembangkan minimal kemampuan dan kebiasaan membaca khususnya serta mendayagunakan tulisan dalam segala sektor kehidupan. 2) Mengembangkan kemauan mencari dan mengolah serta memanfaatkan informasi. 3) Mendidik siswa agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat dan berhasil guna meletakkan dasar-dasar ke arah belajar mandiri. 4) Memupuk dan mengembangkan minat dan bakat siswa dalam segala aspek. 5) Menumbuhkan penghargaan siswa terhadap pengalaman imajinatif. 6) Mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi atas tanggung jawab dan usaha sendiri. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya di latar belakang penelitian bahwa beberapa tahun sebelumnya Perpustakaan MAN 1 Makassar belum dapat dikatakan terkelola dengan baik. Namun, saat ini, ketika perpustakaan dikelola oleh para pustakawan yang memang telah lama memiliki pengalaman di bidang ini, tujuan, visi, dan sebagian besar misi perpustakaan MAN 1 Makassar hampir sebagian besar telah tercapai. Untuk lebih mengetahui seperti apa peran pustawan dalam mewujudkan kinerja perpustakaan ini, maka secara garis besar peneliti membahas peran tersebut melalui empat indikator kinerja berikut ini: 1) **Indikator Kinerja Masukan (Input)** Indikator masukan (input) mencakup tiga indikasi utama yaitu: a) **Sumber daya manusia** Perpustakaan MAN 1 Makassar saat ini dikelola oleh tiga orang yaitu kepala perpustakaan, pustakawan, dan seorang teknisi perpustakaan pada bagian sirkulasi. Berkat pengalaman yang lama dalam bidang kepustakawanan, kegiatan-kegiatan dapat dijalankan dengan baik dan lancar. Sebagai contoh kegiatan pengadaan buku yang sebelumnya tidak dilaksanakan dengan proses seleksi. Namun saat ini hal-hal tersebut telah terstruktur dengan baik. Kegiatan-kegiatan lainnya di antaranya: - Mengadakan inventarisasi yang sebelumnya tidak pernah dilaksanakan, mengadakan buku DDC terjemahan bahasa Indonesia, DDC Islam, dan tajuk subjek PNRI. - Memberikan nomor klasifikasi pada semua bahan pustaka sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan menyelesaikannya secara cepat dan tepat (tidak memakan waktu yang banyak). - Menciptakan ruangan baca yang bersih, rapi dan nyaman agar para pemustaka betah di dalam perpustakaan. b) **Informasi** Pustakawan MAN 1 Makassar telah berperan sebagai fasilitator dan mediator informasi serta berperan dalam implementasi kurikulum dengan cara mengganti semua buku terbitan tahun 90-an sesuai dengan kurikulum saat ini yang diterapkan Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar melalui pembelian dan sumbangan. c) **Kebijakan** Pustakawan MAN 1 Makassar telah membuat kebijakan tertulis yang diterapkan dengan cara membuat alur sirkulasi menjadi terarah dengan menempatkan satu pengelola yang khusus menangani peminjaman dan pengembalian, satu pengelola yang khusus menangani bebas pustaka dan denda perpustakaan dan aturan tertulis yaitu tata tertib dan peraturan perpustakaan. 2) **Indikator Kinerja Keluaran (Output)** Indikasi dalam indikator kinerja keluaran (output) adalah setiap kegiatan yang ada di perpustakaan selalu mencapai tujuan yang di inginkan oleh perpustakaan yang bersangkutan. Dalam hal ini, pustakawan berperan secara maksimal sehingga kegiatan yang ada di Perpustakaan MAN 1 Makassar dapat mencapai hasil yang diharapkan yaitu membuat pemustaka rajin berkunjung ke perpustakaan. Adapun peran yang telah dilakukan pustakawan MAN 1 Makassar dalam mencapai hal tersebut adalah sebagai berikut: - Menjadi mediator dalam pembelajaran, dan pembimbing pembelajaran, serta fasilitator dalam pembinaan minat baca. - Menata buku di rak sesuai dengan nomor klasifikasi sehingga pemustaka dapat mencari informasi yang dibutuhkan dengan mudah. - Memberikan tempat belajar yang menarik dengan menata ulang ruangan baca mulai dengan proporsional dan enak dipandang serta membuat dekorasi yang dapat menarik pemustaka, menata ruang baca serta memberikan fasilitas yang menarik seperti TV. 3) **Indikator Kinerja Hasil (Outcome)** Indikasi dari indikator kinerja hasil (outcome) adalah setiap kegiatan yang dilakukan harus selalu terkait dengan visi dan misi perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti, dinyatakan bahwa semua kegiatan yang ada di perpustakaan selalu terkait dengan visi dan misi perpustakaan MAN 1 Makassar. Adapun kegiatan yang dimaksud peneliti dalam indikator ini yaitu sebagai berikut: - Memimpin kampanye minat baca dengan menyediakan sumber informasi yang relevan dan disukai oleh pemustaka baik nonfiksi maupun fiksi. - Membuat perlengkapan bahan pustaka. - Menyediakan berbagai sumber referensi seperti kamus, ensiklopedia dan mengarahkan para siswa untuk menjaga koleksi referensi dengan baik. 4) **Indikator Kinerja Dampak (Impact)** Indikasi dari indikator dampak (impacts) adalah pengaruh positif yang ditimbulkan pada setiap tingkatan indikator. Indikator kinerja dampak yang diperoleh dari ketiga indikator sebelumnya yang mencakup kegiatan pengadaan, pengolahan dan pelayanan adalah pustakawan telah memberikan pengaruh bagi pengelola perpustakaan sehingga mereka termotivasi untuk memiliki etos kerja yang baik agar pengelolaan perpustakaan dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Sesuai dengan uraian keberhasilan indikator di atas, maka dapat dikatakan bahwa kinerja perpustakaan MAN 1 Makassar saat ini dapat dikatakan cukup baik. **b. Kendala-Kendala Yang Dialami Pustakawan Dalam Meningkatkan Kinerja Perpustakaan** Kendala merupakan rintangan yang dapat terjadi kapan saja pada setiap orang ketika dituntut untuk mencapai tujuan, visi dan misi organisasinya. Hal tersebut juga telah dialami pustakawan Perpustakaan MAN 1 Makassar. Adapun kendala-kendala yang dimaksud juga dikategorikan berdasarkan empat indikator kinerja sebagai berikut: 1) **Indikator Kinerja Masukan (Input)** a) **Sumber daya manusia** Tidak semua petugas yang ada di perpustakaan ini memiliki kemampuan yang baik. Tentu saja dalam usahanya mencapai sasaran yang telah ditentukan, setiap pihak harus dibekali dengan kemampuan yang profesional agar dalam setiap pekerjaannya tidak mendapat kesulitan yang berat. Hal ini tentu menjadi tugas pimpinan agar bagaimana setiap para petugasnya dalam meningkatkan kemampuannya masing-masing. b) **Informasi** Kendala utama yang menghambat penyediaan sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka di perpustakaan MAN 1 Makassar adalah respon dari pihak madrasah itu sendiri. Memang hal ini sering terjadi, di mana pihak sekolah dengan perpustakaan terkadang tidak memiliki hubungan harmonis satu sama lain. c) **Kebijakan** Kebijakan dibuat untuk dipatuhi demi kelancaran setiap urusan suatu lembaga. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan kondisi yang ada di perpustakaan MAN 1 Makassar di mana para pemustaka masih belum melaksanakan tata tertib yang telah ditetapkan perpustakaan dengan sebaik-baiknya seperti ketertiban dalam meminjam buku dan surat kabar, serta ketertiban dalam menjaga kondisi perpustakaan yang tidak bising. 2) **Indikator Kinerja Keluaran (Output)** Kendala yang dialami pustakawan dalam indikator ini yaitu ada tiga poin: - Dana yang diperuntukkan bagi perpustakaan MAN 1 Makassar hanya dapat digunakan untuk membeli buku teks pelajaran dan pendukung bahan ajar, sehingga koleksi pengayaan yang banyak dicari pemustaka kurang. - Keinginan pustakawan untuk mentransformasi kegiatan pengolahan secara manual ke elektronik (otomasi perpustakaan) belum direspon oleh pihak madrasah. - Keterbatasan fasilitas utama seperti rak buku , rak penitipan barang, AC, komputer, dan meja pegawai. 3) **Indikator Kinerja Hasil (Outcome)** Pada indikator ini, kendala yang dialami pustakawan adalah: - Pustakawan yang bekerja di perpustakaan MAN 1 Makassar mengalami kesulitan dalam mengolah bahan pustaka. Hal itu disebabkan, karena kurangnya pengetahuan pengelola lainnya mengenai hal tersebut. - Pengelola perpustakaan bersikap kurang responsif kepada para pemustaka sehingga ada beberapa koleksi perpustakaan yang mengalami kerusakan. 4) **Indikator Kinerja Dampak (Impact)** Dampak dari semua kendala yang dialami pustakawan pada setiap tingkatan indikator kinerja yang lainnya adalah menghambat pustawan dalam mencapai tujuan, visi dan misi perpustakaan MAN 1 Makassar secara maksimal sehingga tidak terjadi peningkatan kinerja yang juga mengakibatkan peran pustakawan tidak sangat signifikan.

Conclusion

Setelah melakukan penelitian tentang peran pustakawan dalam mewujudkan kinerja perpustakaan di MAN 1 Makassar, maka peneliti memperoleh beberapa kesimpulan yaitu: 1) Pustakawan mempunyai peran yang besar dan signifikan dalam meningkatkan kinerja perpustakaan MAN 1 Makassar. 2) Kendala-kendala yang dialami pustakawan dalam mewujudkan kinerja perpustakaan MAN 1 Makassar pada umumnya diakibatkan oleh pihak madrasah yang masih belum meluangkan perhatian besar terhadap perpustakaan, sehingga meskipun seluruh indikator kinerja telah terpenuhi, tidak akan terjadi peningkatan kinerja sebab, sumber daya manusia di perpustakaan MAN 1 Makassar tidak seimbang, informasi yang dibutuhkan pemustaka pun belum memadai, kebijakan yang ada masih belum sepenuhnya dipatuhi. Selain itu, setiap kegiatan yang dilakukan di perpustakaan MAN 1 Makassar masih kurang maksimal karena adanya hambatan dari segi dana, sarana, dan prasarana. **b. Saran** 1) Pihak madrasah seharusnya lebih memperhatikan perpustakaannya agar seluruh komponen yang ada di madrasah saling berintegrasi dengan baik. 2) Perlunya ikatan harmoni antara perpustakaan dan pihak sekolah demi tercapainya visi dan misi sekolah. 3) Mempertahankan peran yang saat ini telah sangat baik, bahkan kalau bisa ditingkatkan lagi ke depannya. 4) Pihak perpustakaan dapat terus berusaha untuk meyakinkan kepada pihak sekolah akan pengadaan sistem otomasi perpustakaan. 5) Peningkatan dapat lebih baik lagi apabila para pihak perpustakaan aktif mengikuti seminar tentang kepustakawanan yang diadakan oleh lembaga-lembaga yang terkait.