Kembali
16
1
2018 Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 1 ISSN 2685-4791

UPAYA REVITALISASI LAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH MELALUI EVALUASI LAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH/ MADRASAH DAN KOLEKSI KITAB ISLAM DI PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH DENGAN METODE LIBQUAL

Universitas Mercu Buana; Universitas YARSI; SMKN 62

Abstrak

Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajarmengajar yangpenting dalam proses pembelajaran. Menurut Undang-Undang Perpustakaan No.43 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasipara pemustaka.Melalui perpustakaan sekolah, para guru, siswa, dan seluruh staf di sekolah dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam berbagai macam media untuk keperluan pengajaran, pengerjaan tugas sekolah, dan berbagai tugas lainnya bahkan sebagai sarana hiburan. Peranan perpustakaan sekolah didalam dunia pendidikan amatlah penting dalam jurnal berjudul “Libraries In Shools: Essential Contexts for Studying OrganizationalChange and Culture”oleh Dianne Oberg menunjukan bahwa peran utama dari perpustakaan sekolah profesional mengajar dalam kemitraan dengan guru kelas. pustakawan bekerja sama dengan guru kelas dan lain-lain untuk merencanakan, mengajar, dan menilai kemampuan literasi informasi penting dan strategi terintegrasi dengan isi kurikulum.(Obberg, 2009)Sebagai bagian integral dari suatu penyelenggaran pendidikan tingkat sekolah, perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan menyediakan bahan pustaka yang sesuai kurikulum sekolah, menyediakan fasilitas yang mampu mengembangkan minat siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca, kreasi dan imajinasi siswa (Sutarno, 2006). Di masa lalu, masa kini dan masa depan kebutuhan informasi merupakan sarana yang penting dalam rangka membantu pemustaka untuk mengatasi danmenjawab permasalahan informasi. Informasi yang cepat, tepat dan akurat sangat bermanfaat dalam membantu mengatasi masalah-masalah tersebut tetapi perpustakaan sekolah di Indonesia masih jarangdiperhatikan keberadaannya di sekolah, padahal perpustakaan adalah jantung sekolah.Perpustakaan sering kali sulit ditemukan keberadaannya di sekolah, kalaupun ada ditempatkan pada ruang yang sempit seperti UKS, gudang atau pojok-pojok gedung sekolah yang pengap dan hampir tidak terjamah. Badafal (2005)menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lainyang tidakberhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku-buku perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau sifatnya rekreatif. Jihat dilihat dari jenis perpustakaan, perpustakaan pondok pesantren merupakan bagian dari perpustakaan sekolah.Dalam penelitian ini, dipilih perpustakaan sekolah yang berbeda dari perpustakaansekolah lainnya yaitu perpustakaan pondok pesantren Assidiqiyah.Keberadan perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan minat baca bagi santri,karena perpustakaan itu adalah gudang ilmu yang sangat penting bagi pengembangan serta peningkatan kualitas pendidikan bagi santri. Perpustakaan sebagai salah satu layanan vital di sekolah, maka perlu melakukan evaluasi secara berkala sebagai upaya mengontrol dan meningkatkan kualitaslayanan perpustakaan sekolah dari waktu ke waktu apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Beberapa penelitian terdahulu terkait evaluasi layanan perpustakaan sekolah diantaranya Evaluasi Program Angkringan Buku Perpustakaan Sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015. Penulis menyatakan bahwa meskipun MAN 1 Yogyakarta telah memenuhi kategori sebagai peprustakaan yang baik, namun penulis melihat pemanfatan koleksi perpustakaan, minat baca guru dan khususnya para siswa di sekolah dan pelayanan informasi diantaranya perpustakaan dirasa masih kurang optimal. Oleh sebab itu perlu disusun strategi untuk meningkatkan kualitas layanan (Bramantyo, 2016). Demikian pula di salah satu hasil penelitian yang di lakukan di Iran tentang evaluasi perpustakaan sekolah di sebuah sekolah tingkat SD menyatakan bahwa perpustakaan di Sekolah Dasar tersebut tidak sesuai dengan standar IFLA (The International Federation of Library Associations) dalam hal ruangan, peralatan, sumber daya manusia, anggaran, koleksi dll (Biranvand & Khasseh, 2012). Hasil observasi awal penulis terhadap layanan perpustakaan Perpustakaan Assidiqiyah menunjukkan bahwa beberapa layanan perpustakaan Assidiqiyah sebagai pusat sumber belajar belum maksimal, diantaranya minimnya koleksi kitab Islam, layanan perpustakaan masih konvensional, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan kajian terhadap tentang layanan kitab Islam dan layanan umum perpustakaan beruupa evaluasi layanan perpustakaan dalam beberapa aspek yaitu kualitas akses terhadap informasi sikap petugas dalam pelayanan pencarian informasi secara individu kondisi perpustakaan seperti sarana dan prasarana, fasilitas dan sebagainya.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepuasan pemustaka terhadap kualitas layanan kitab Islam serta layanan umun perpustakaan Assidiqiyah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut akan menjadi rekomendasi bagi sekolah khususnya pengelola perpustakaan sekolah untuk mendalami tinti permasalahan yang dihadapi dan perbaikanyang harus dilakukan ke depan dalam memberikan layanan peprustakaan sekolah yang prima kepada pemustaka. Dengan demikian Perpustakaan Assidiqiyah bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai pusat sumber pengetahuan dengan memberikan layanan sesuai kebutuhan pemustaka
Keywords: Perpustakaan Sekolah · Kepuasan · Layanan · Ponpes AsshiddiqiyahLibQual+TM

Introduction

Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajarmengajar yangpenting dalam proses pembelajaran. Menurut Undang-Undang Perpustakaan No.43 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasipara pemustaka.Melalui perpustakaan sekolah, para guru, siswa, dan seluruh staf di sekolah dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam berbagai macam media untuk keperluan pengajaran, pengerjaan tugas sekolah, dan berbagai tugas lainnya bahkan sebagai sarana hiburan. Peranan perpustakaan sekolah didalam dunia pendidikan amatlah penting dalam jurnal berjudul “Libraries In Shools: Essential Contexts for Studying OrganizationalChange and Culture”oleh Dianne Oberg menunjukan bahwa peran utama dari perpustakaan sekolah profesional mengajar dalam kemitraan dengan guru kelas. pustakawan bekerja sama dengan guru kelas dan lain-lain untuk merencanakan, mengajar, dan menilai kemampuan literasi informasi penting dan strategi terintegrasi dengan isi kurikulum.(Obberg, 2009)Sebagai bagian integral dari suatu penyelenggaran pendidikan tingkat sekolah, perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan menyediakan bahan pustaka yang sesuai kurikulum sekolah, menyediakan fasilitas yang mampu mengembangkan minat siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca, kreasi dan imajinasi siswa (Sutarno, 2006). Di masa lalu, masa kini dan masa depan kebutuhan informasi merupakan sarana yang penting dalam rangka membantu pemustaka untuk mengatasi danmenjawab permasalahan informasi. Informasi yang cepat, tepat dan akurat sangat bermanfaat dalam membantu mengatasi masalah-masalah tersebut tetapi perpustakaan sekolah di Indonesia masih jarangdiperhatikan keberadaannya di sekolah, padahal perpustakaan adalah jantung sekolah.Perpustakaan sering kali sulit ditemukan keberadaannya di sekolah, kalaupun ada ditempatkan pada ruang yang sempit seperti UKS, gudang atau pojok-pojok gedung sekolah yang pengap dan hampir tidak terjamah. Badafal (2005)menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lainyang tidakberhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku-buku perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau sifatnya rekreatif. Jihat dilihat dari jenis perpustakaan, perpustakaan pondok pesantren merupakan bagian dari perpustakaan sekolah.Dalam penelitian ini, dipilih perpustakaan sekolah yang berbeda dari perpustakaansekolah lainnya yaitu perpustakaan pondok pesantren Assidiqiyah.Keberadan perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan minat baca bagi santri,karena perpustakaan itu adalah gudang ilmu yang sangat penting bagi pengembangan serta peningkatan kualitas pendidikan bagi santri. Perpustakaan sebagai salah satu layanan vital di sekolah, maka perlu melakukan evaluasi secara berkala sebagai upaya mengontrol dan meningkatkan kualitaslayanan perpustakaan sekolah dari waktu ke waktu apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Beberapa penelitian terdahulu terkait evaluasi layanan perpustakaan sekolah diantaranya Evaluasi Program Angkringan Buku Perpustakaan Sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015. Penulis menyatakan bahwa meskipun MAN 1 Yogyakarta telah memenuhi kategori sebagai peprustakaan yang baik, namun penulis melihat pemanfatan koleksi perpustakaan, minat baca guru dan khususnya para siswa di sekolah dan pelayanan informasi diantaranya perpustakaan dirasa masih kurang optimal. Oleh sebab itu perlu disusun strategi untuk meningkatkan kualitas layanan (Bramantyo, 2016). Demikian pula di salah satu hasil penelitian yang di lakukan di Iran tentang evaluasi perpustakaan sekolah di sebuah sekolah tingkat SD menyatakan bahwa perpustakaan di Sekolah Dasar tersebut tidak sesuai dengan standar IFLA (The International Federation of Library Associations) dalam hal ruangan, peralatan, sumber daya manusia, anggaran, koleksi dll (Biranvand & Khasseh, 2012). Hasil observasi awal penulis terhadap layanan perpustakaan Perpustakaan Assidiqiyah menunjukkan bahwa beberapa layanan perpustakaan Assidiqiyah sebagai pusat sumber belajar belum maksimal, diantaranya minimnya koleksi kitab Islam, layanan perpustakaan masih konvensional, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan kajian terhadap tentang layanan kitab Islam dan layanan umum perpustakaan beruupa evaluasi layanan perpustakaan dalam beberapa aspek yaitu kualitas akses terhadap informasi sikap petugas dalam pelayanan pencarian informasi secara individu kondisi perpustakaan seperti sarana dan prasarana, fasilitas dan sebagainya.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepuasan pemustaka terhadap kualitas layanan kitab Islam serta layanan umun perpustakaan Assidiqiyah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut akan menjadi rekomendasi bagi sekolah khususnya pengelola perpustakaan sekolah untuk mendalami tinti permasalahan yang dihadapi dan perbaikanyang harus dilakukan ke depan dalam memberikan layanan peprustakaan sekolah yang prima kepada pemustaka. Dengan demikian Perpustakaan Assidiqiyah bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai pusat sumber pengetahuan dengan memberikan layanan sesuai kebutuhan pemustaka

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode studi kasus. Penelitian studi kasus adalah strategi penelitian dimana peneliti menyelidiki secara cermat dari suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu (Stake dalam Cresswell, 2009). Dengan penelitian metode studi kasus ini, peneliti berusaha untuk memahami pendapat pengguna layanan kitab Islam dan dan layanan koleksi umum terhadap layanan koleksi kitab Islam dan layanan koleksi umum Perpustakaan Assidiqiyah dengan menggunakan empat dimensi yang berdasarkan LibQual+TM.Penentuan sampel penelitian ini dengan menggunakan teknikinsidental sampling, yaituteknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan penliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono,2014).Dalam metode ini pengambilan sampel dari populasi adalah anggotaperpustakaan Pondok Pesantren Assidiqiyah JakartaBaratyang terdiri dari gurudan siswa/iAliyah, yang menggunakan layanan perpustakaan. Teknik pengumpulan sampel menggunakan rumus Taro Yamane dalam Riduwan(2013) sebagai berikut : n=NN.d²+1Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d² = Presisi yang ditetapkanBerdasarkan jumlah anggota perpustakaan Pondok Pesantren Assidiqiyah Jakarta Barat yang terdaftar sebagai anggota berjumlah 333 anggota, yang terdiri dari guru dan siswa/i Aliyah dan Tsanawiyah. Pada jumlah populasi tersebut maka penulis akan mengambil dengan kesalahan sebesar 10% yang terdiri dari :a.GuruJumlah keseluruhan guruAssidiqiyahsebanyak 32 orang,maka akan diambil sampel sebanyak: (1) 201841n=NN.d²+1=3232.0,1²+1=3232.0,01+1=320,32+1=321,32=24,24242424=24respondenb.Siswa/iJumlah keseluruhan siswa/i AliyahAssidiqiyah Jakarta sebanyak 299 orang, maka akan diambil sampel sebanyak:n=NN.d²+1=299299.0,1²+1=299299.0,01+1=2992,99+1=2993,99=74,93734335=75respondenAdapun metode pengumpulan data yang digunakanpenelitidalam penelitian ini adalah:1.Wawancara, penulis melakukandua belas pertanyaanwawancara dengan narasumber untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Adapun narasumber meliputi: siswa/i, guru, dan pustakawan Pondok Pesantren Assidiqiyah. 2.Observasi, penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data secara langsung dari objek penelitian. Objek penelitian ini adalah responden layanan koleksi umum dan layanan kitab Islam Pondok Pesantren Assidiqiyah Jakarta.3.Kuesioner, penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data melalui kuesioner yang diberikan kepada siswa/i dan guruPondok PesantrenAssidiqiyah.Waktu pelaksanaan kuesioner adalah 10 hari dari 21–30 November 2016. Kuesioner layanan umum yang disebar dalam penelitian ini mencakup pertanyaan yang diadopsi dari empat dimensi berdasarkan LibQual+TM, yaitu Service Affect, Personal control, Information Access, dan Library as Place. Dalam kuesioner ini responden diminta untuk menentukan harapan minimum (minimum expectation),harapan sesungguhnya (desired),dan kenyataan yang diterima (perceived)dengan menggunakan skala 1(sangat tidak puas)–9(sangat puas).Dalam kuesioner kitab Islam, menentukan kualitas layanan kitab Islamdengan cara menghitung jawaban/skala 1 (sangat tidak setuju) –4 (sangat setuju). Teknik Pengolahan Data dengan caramengumpulkan data yang diperoleh dari kuesioner dengan cara memberikan bobot penilaiandari setiap pernyataan berdasarkan skala likert. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator variabel tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Pengolahan data ini dilakukan dengan tujuan untuk menyederhanakan penyajian seluruh data yang terkumpul. Identitas yang telah diisi oleh responden yang kemudian dicari persentasenya untuk di analisa, adapun teknik pengolahan datanya menggunakan rumus prosentase sebagai berikut (Sudijono, 2005) :Rumus :𝑷=𝑭𝑵×𝟏𝟎𝟎%Keterangan :P : Persentase yang dicariF : Frekuensi jawabanN : Jumlah jawaban subjek/sampel yang diolah. .Observasi, penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data secara langsung dari objek penelitian. Objek penelitian ini adalah responden layanan koleksi umum dan layanan kitab Islam Pondok Pesantren Assidiqiyah Jakarta.3.Kuesioner, penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data melalui kuesioner yang diberikan kepada siswa/i dan guruPondok PesantrenAssidiqiyah.Waktu pelaksanaan kuesioner adalah 10 hari dari 21–30 November 2016. Kuesioner layanan umum yang disebar dalam penelitian ini mencakup pertanyaan yang diadopsi dari empat dimensi berdasarkan LibQual+TM, yaitu Service Affect, Personal control, Information Access, dan Library as Place. Dalam kuesioner ini responden diminta untuk menentukan harapan minimum (minimum expectation),harapan sesungguhnya (desired),dan kenyataan yang diterima (perceived)dengan menggunakan skala 1(sangat tidak puas)–9(sangat puas).Dalam kuesioner kitab Islam, menentukan kualitas layanan kitab Islamdengan cara menghitung jawaban/skala 1 (sangat tidak setuju) –4 (sangat setuju). Teknik Pengolahan Data dengan caramengumpulkan data yang diperoleh dari kuesioner dengan cara memberikan bobot penilaiandari setiap pernyataan berdasarkan skala likert. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator variabel tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Pengolahan data ini dilakukan dengan tujuan untuk menyederhanakan penyajian seluruh data yang terkumpul.Identitas yang telah diisi oleh responden yang kemudian dicari persentasenya untuk di analisa, adapun teknik pengolahan datanya menggunakan rumus prosentase sebagai berikut (Sudijono, 2005) :Rumus :𝑷=𝑭𝑵×𝟏𝟎𝟎%Keterangan :P : Persentase yang dicariF : Frekuensi jawabanN : Jumlah jawaban subjek/sampel yang diolah. Dalam penelitian ini peneliti menentukanhasiltinggi rendahnya kepuasan pengguna terhadap layanan perpustakaan AssidiqiyahJakarta dengan menggunakan skala likertdan memberikan penilaian skor 1 sampai dengan untuk layanan koleksi umum dan 1 sampai dengan 4 untuk layanan kitab Islamdengan bobot penilaian sebagai berikut :Tabel 1 Bobot Skor Skala LikertLayanan koleksi umumBobotSkorKeteranganSangat Tidak Puas (STP)Normal(N)Sangat Puas (SP)Skala123456789Fatmawati (2013)menyebutkan LibQual+TM dapat mengidentifikasi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses)yang dilihat dari persepsi pemustaka. Peneliti akan mengukur kepuasan pemustaka terhadap layanan kitab Islammelalui harapan dan persepsi pemustaka. Yang dimaksud dengan harapan pemustaka adalah tingkat layanan yang dibutuhkan oleh pemustaka, sedangkan persepsi pemustaka adalah tingkat layanan yang diterima oleh pemustaka. Kesenjangan (gap) antara harapan dan persepsi inilah yang disebut dengan kualitas layanan. Berdasarkan uraian diatas metode yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan perpustakaan ini dikenal dengan istilah LibQual+TMyang dirancang oleh Association Research Library (ARL). penulis tertarik untuk mengetahui sejauh mana harapan dan persepsisiswa terhadap kualitas layanan kitab Islamdan layanan umumperpustakaan Assidiqiyah menurut siswa Assidiqiyah dengan metode LibQual+TMyang dilihat dari segi Access to information (akses terhadap informasi), Affect of service (sikap petugas dalam pelayanan), Personal control (pencarian informasi secara individu), dan Library as place (kondisi perpustakaan seperti sarana dan prasarana, fasilitas dan sebagainya).Analisis data ini dilakukan berdasarkan pada data yang telah diperoleh oleh peneliti melalui kuesioner yang telah disebar selama masa penelitian terhadap responden. Dari analisis data ini akan diperoleh gambaran mengenai kualitas layanan umumPerpustakaan Asshiddiqiyahberdasarkan gambaran dari pengguna. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu statistic deskriptif. Maksud dari analisis deskriptif iniadalah untuk membuat data menjadi lebihbermakna dan komunikatif, sehingga data lebih mudah untuk dipahami pembacanya. Langkah dalam menganalisis data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1.Menghitung hasil skor masing-masing dari harapan minimum (minimum expectation), harapan sesungguhnya (desired), dan kenyataan yang diterima(perceived) untuk masing-masing pernyataan dalam kuesioner.2.Menghitung skor rata-rata dari setiap harapan minimum (minimum expectation),harapan sesungguhnya (desired), dan kenyataan yang diterima (perceived).3.Membandingkan skor rata-rata harapan minimum (minimum expectation), harapan sesungguhnya (desired), dan kenyataan yang diterima (perceived) sebagaipetunjuk dalam skor kesenjangan (gap score) untuk mengetahui kualitas layanan umumPerpustakaan Asshiddiqiyah.Untuk mengetahui skor kesenjangan tersebut diperlukan rumus seperti dibawah ini :AG (Adequacy Gap)= P(Perceived)–M(Minimum)SG (Superiority Gap)= P(Perceived)–D(Desired)1.AG yaitu Adequacy Gap adalah selisih antara skor persepsi dengan skor harapan minimum menciptakan kesenjangan yang mengindikasikan bagaimana jarak atas atau bawah harapan minimum pemustaka, maka dari itu diperoleh dari rumus: P (Perceived) –M (Minimum).2.SG yaitu Superiority Gap adalah selisih skor persepsi dengan skor harapan ideal menciptakan kesenjangan yang mengindikasikan bagaimana jarak atas atau bawah harapan yang diidealkan pemustaka, maka dari itu diperoleh rumus: P (Perceived) –D (Desired).Setelah peneliti melakukan penghitungan menggunakan rumus LibQual+TM diatas maka dapat disimpulkan:1.Apabila skor SG (Superiority Gap) menunjukkan nilai positif, hal ini menunjukkan bahwa layanan yang diberikan telah melebihi harapan pemustaka, dapat diartikan pula bahwa pemustaka sangat puas terhadap layanan yang diterimanya. 2.Apabila skor SG (Superiority Gap) menunjukkan nilai negatif, hal ini menunjukan bahwa kualitas layanan yang diberikan berada padawilayah batas toleransi(zone of tolerance).3.Apabila skor AG (Adequacy Gap) menunjukkan nilai negatif, hal ini menunjukkan bahwa layanan yang diberikan belum memenuhi harapan pemustaka, dapat diartikan pula bahwa pemustaka belum puas terhadap layanan yang diterimanya.Apabila skor AG (Adequacy Gap)menunjukan nilai positif , hal ini menunjukan bahwa layanan yang diberikan cukup memuaskan harapan pemustaka, dapat diartikan pula pemustaka cukup puas terhadap layanan yang diterimanya.

Result

Analisis Data Evaluasi Layanan Secara Keseluruhan Perolehan analisis data evaluasi layanan secara keseluruhan didapatkan dari hasil penghitungan skor rata-rata pada persepsi / perceived (P), harapan minimum/ minimum, dan harapan yang diinginkan /Desired (D). Berdasarkan perolehan analisis data evaluasi layanan secara keseluruhan maka diperoleh hasil sebagai berikut: P (perceived) = 6.3 M (minimum) = 4.6 D (desired) = 7.5 Sehingga akan diperoleh: AG (Adequacy Gap) = Perceived (P) – Minimum (M) = 6.3 – 4.6 = 1.7 SG (Superiority Gap)= Perceived (P) – Desired (D) = 6.3– 7.5 = – 1.2 Tabel 1. Hasil Analisis Secara Keseluruhan Nilai Rata-Rata Layanan Umum 26 Butir Pernyataan Persepsi (Perceived) Harapan Minimum/ Layanan yang Diterima (Minimum) Harapan Layanan yang Diinginkan (Desired) Adequacy Gap (AG) Superiority Gap (SG) Rata-rata 6.3 4.6 7.5 6.3 – 4.6 = 1.7 6.3 – 7.5 = -1.2 Sumber: Hasil kuesioner Dari hasil diatas skor AG (Adequacy Gap) menunjukkan nilai positif yaitu 1.7, hal ini berarti bahwa layanan yang diberikan perpustakaan Asshiddiqiyah sudah memenuhi harapan pemustaka, dapat diartikan juga bahwa pemustaka puas terhadap layanan yang diterimanya. Sedangkan hasil skor SG (Superiority Gap) menunjukkan nilai negative yaitu -1.2, hal ini berarti layanan perpustakaan Asshiddiqiyah berada pada wilayah batasan toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Analisis Berdasarkan Dimensi LibQual+TM Kualitas Layanan dapat dijabarkan seperti berikut: 3.1.1 Dimensi Service Affects (SA) Service effect yaitu kemampuan, sikap dan mentalitas pustakawan dalam melayani pemustaka. Kualitas layanan perpustakaan akan menjadi semakin baik apabila pustakawan mempunyai kemampuan sebagai perantara/penengah yang profesional bagi pemustakanya. Berikut adalah hasil dimensi service effect perpustakan Assidiqiyah Jakarta: Berdasarkan hasil penghitungan adequacy gap pada dimensi Service Affects, didapatkan hasil adequacy gap positif yaitu 2.5, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baik atau cukup puas. Sedangkan pada hasil superiority gap negatif yaitu -0.3, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada wilayah batas toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Semua indikator dalam dimensi ini mendapatkan hasil adequacy gap positif, artinya pemustaka cukup puas dengan indikator pada dimensi service affect. Kepedulian, ketanggapan, Dimensi Kualitas Persepsi (Perceived) Harapan layanan yang diterima (Minimum) Harapan layanan yang diinginkan (Desired) Adequacy Gap (AG) Superiority Gap (SG) Affect of Service 7.4 4.9 7.7 7.4 – 4.9 = 2.5 7.4 – 7.7 = - 0.3 jaminan/kepastian dan keandalan pustakawan perpustakaan Asshiddiqiyah sudah memenuhi kepuasan pemustaka. Hal ini diperkuat juga oleh hasil observasi dan wawancara peneliti bahwa pustakawaan Asshiddiqiyah memberikan keramahan terhadap pemustaka, mampu dan tanggap dalam membantu pemustaka yang kesulitan mencari koleksi yang dibutuhkan. Menurut Fatmawati (2013) contoh empati/kepedulian adalah memberikan perhatian yang bersifat individual atau pribadi kepada pemustaka dan berupaya untuk memahami keinginan/kebutuhan pemustaka yang meliputi juga kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik. 3.1.2.Dimensi Library as Place (LP) Library as place yaitu perpustakaan dianggap sebagai sebuah tempat yang mempunyai kemampuan untuk menampilkan sesuatu secara nyata berupa fasilitas fisik, bagaimana perpustakaan dalam memanfaatkan ruang, peralatan, ketersedian sarana komunikasi dan petugas. Berikut adalah hasil dimensi library as place perpustakaan Assidiqiyah Jakarta: Tabel 2. Nilai Rata-Rata Dimensi Library as Place Untuk dimensi Library as Place, hasil adequacy gap menunjukkan hasil positif yaitu 1.4, yang berarti bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baik atau cukup puas. Sedangkan pada hasil superiority gap negatif yaitu -1.6, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada wilayah batas toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Meskipun hasil adequacy gap positif, tetapi dalam dimensi ini terdapat tiga butir pertanyaan yang mendapat hasil negatif. Hasil itu terletak pada indikator berwujud (tangibles), ruang yang bermanfaat (utilitarian space) dan berbagai makna (symbol). Tidak adanya OPAC, e-journals, online database, ruang diskusi, peralatan komputer yang kurang memadai menjadikan ketiga indikator ini mendapat hasil negatif. Hasil tersebut diperkuat dengan wawancara beberapa responden. Mereka mengatakan fasilitas perpustakaan Asshiddiqiyah harus diperbanyak seperti penambahan komputer di perpustakaan dan dibuat ruangan khusus diskusi bagi pemustaka. 3.1.3 Dimensi Personal Control (PC) Personal control yaitu suatu konsep yang membuat pemustaka dapat melakukan sendiri apa yang diinginkannya dalam mencari informasi tanpa bantuan pustakawan. Berikut adalah hasil dimensi personal control perpustakaan Assidiqiyah Jakarta: Tabel 3. Nilai Rata-Rata Dimensi Personal Control Dimensi Kualitas Persepsi (Perceived) Harapan layanan yang diterima (Minimum) Harapan layanan yang diinginkan (Desired) Adequacy Gap (AG) Superiority Gap (SG) Personal Control 6.1 4.5 7.5 6.1 – 4.5 = 1.6 6.1 – 7.5 = - 1.4 Hasil adequacy gap berikutnya pada aspek dimensi Personal Control menunjukkan hasil positif yaitu 1.6, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baik atau cukup puas. Sedangkan pada hasil superiority gap negatif yaitu -1.4, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada wilayah batas toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Hal ini diperkuat oleh observasi peneliti terhadap pemustaka perpustakaan Asshiddiqiyah, bahwa banyak pemustaka melakukan penelusuran informasi sendiri. Kejelasan petunjuk tentang tata cara menggunakan fasilitas perpustakaan juga membuat pemustaka menjadi mudah menggunakannya. Selain itu penataan koleksi yang tersedia juga memudahkan pemustaka untuk proses temu kembali informasi. Hasil wawancara dengan beberapa responden juga mengatakan bahwa tata letak dan penataan koleksi membuat mereka mudah mencari informasi yang dicari. Meskipun hasil adequacy gap positif, tetapi dalam dimensi ini terdapat tiga butir pertanyaan yang mendapat hasil negatif. Hasil itu terletak pada indikator berwujud (tangibles), ruang yang bermanfaat (utilitarian space) dan berbagai makna (symbol). Tidak adanya OPAC, e-journals, online database, ruang diskusi, peralatan komputer yang kurang memadai menjadikan ketiga indikator ini mendapat hasil negatif. Hasil tersebut diperkuat dengan wawancara beberapa responden. Mereka mengatakan fasilitas perpustakaan Assidiqiyah harus diperbanyak seperti penambahan komputer di perpustakaan dan dibuat ruangan khusus diskusi bagi pemustaka 3.1.4. Dimensi Information Access (IA) Information access yaitu menyangkut tentang ketersediaan bahan perpustakaan yang memadai, kekuatan koleksi/bahan pustaka yang dimiliki, cakupan isi/ruang lingkup, aktualitas, bimbingan pustakawan, maupun tingkat kecepatan waktu akses informasi di perpustakaan. Berikut adalah hasil dimensi Information access perpustakaan Assidiqiyah Jakarta dimensi Information access perpustakaan Assidiqiyah Jakarta: Tabel 4. Nilai Rata-Rata Dimensi Information Access Dimensi Kualitas Persepsi (Perceived) Harapan layanan yang diterima (Minimum) Harapan layanan yang diinginkan (Desired) Adequacy Gap (AG) Superiority Gap (SG) Personal Control 5.1 4.0 7.0 5.1 – 4.0 = 1.1 5.1 – 7.0 = - 1.9 Pada dimensi Information Access menunjukkan hasil adequacy gap positif yaitu 1.1, yang bermakna bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baik atau cukup puas. Sedangkan pada hasil superiority gap negatif yaitu -1.9, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada wilayah batas toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Hal ini diperkuat oleh observasi peneliti terhadap perpustakaan Asshiddiqiyah tentang ketersediaan koleksi sesuai dengan kebutuhan/keperluan pemustaka. Mengacu pada hasil data keperluan pemustaka mengunjungi perpustakaan yaitu sebagai tugas sekolah yakni 69%, peneliti menyimpulkan bahwa perpustakaan sudah memenuhi kebutuhan pemustaka. Selain itu alat bantu katalog juga membantu pemustaka dalam membantu pencarian informasi yang dicari. Seperti yang dikatakan Abdul Rahman Saleh (1996) bahwa selain kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkannya dari perpustakaan. Pertanyaa-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus dijawab secara spesifik pula. Meskipun hasil adequacy gap positif, tetapi dalam dimensi ini terdapat satu butir pertanyaan yang mendapat hasil negatif. Hasil itu terletak pada indikator kenyamanan individu pemustaka (Convenience). Menurut Fatmawati (2013) kenyamanan individu pemustaka (Convenience) mencakup kenyamana waktu yang dibutuhkan dalam mendapatkan informasi dan ketiadaan hambatan dalam mengakses informasi pada saat dibutuhkan. Hasil observasi dan wawancara peneliti terhadap pemustaka waktu jam layanan perpustakaan perpustakaan Assidiqiyah menjadi hambatan saat pemustaka ingin mencari informasi yang mereka butuhkan. Karena jam layanan perpustakaan Assidiqiyah sangat singkat yaitu jam 07.00 – 13.00 WIB. Padahal idealnya menurut SNI (2009) adalah waktu yang diberikan perpustakaan tehadap pemustaka minimal 8 jam per hari. Ini yang membuat indikator kenyamanan individu pemustaka (Convenience) mendapatkan hasil negatif. 3.2 Hasil Analisi Data Layanan Kitab Islam Pada butir pertanyaan nomor 1 dari Tabel 5 tentang manfaat kelengkapan koleksi kitab Islam dapat membantu mengerjakan tugas, mayoritas responden sebanyak 59% menjawab setuju dan sangat setuju. Namun demikian, jumlah responden yang menjawab tidak setuju pun cukup besar yakni pada kisaran 41% . Hal ini harus menjadi evaluasi tersendiri bagi pengelola layanan kitab Islam untuk lebih melengkapi koleksi layanan Islam. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada beberapa pemustaka koleksi kitab Islam cukup membantunya karena kurikulum agama di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah sudah berkaitan dengan koleksi yang ada di perpustakaan. Contohnya bidang tafsir, hadits, akhlak dan tasawuf, fiqih Islam, nahwu dan sharf. Saat ini koleksi kitab Islam yang tersedia adalah Fath Al-Bayan (Tafsir), Al dimensi Information access perpustakaan Assidiqiyah Jakarta: Tabel 4. Nilai Rata-Rata Dimensi Information Access Dimensi Kualitas Persepsi (Perceived) Harapan layanan yang diterima (Minimum) Harapan layanan yang diinginkan (Desired) Adequacy Gap (AG) Superiority Gap (SG) Personal Control 5.1 4.0 7.0 5.1 – 4.0 = 1.1 5.1 – 7.0 = - 1.9 Pada dimensi Information Access menunjukkan hasil adequacy gap positif yaitu 1.1, yang bermakna bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baik atau cukup puas. Sedangkan pada hasil superiority gap negatif yaitu -1.9, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada wilayah batas toleransi (zone of tolerance). Artinya kualitas layanan berada diantara tingkat minimum yang dapat diterima dan tingkat harapan yang diinginkan (desired). Dengan kata lain persepsi pengguna masih berada pada area kepuasan, dapat diartikan bahwa pengguna puas terhadap layanan yang diberikan. Hal ini diperkuat oleh observasi peneliti terhadap perpustakaan Asshiddiqiyah tentang ketersediaan koleksi sesuai dengan kebutuhan/keperluan pemustaka. Mengacu pada hasil data keperluan pemustaka mengunjungi perpustakaan yaitu sebagai tugas sekolah yakni 69%, peneliti menyimpulkan bahwa perpustakaan sudah memenuhi kebutuhan pemustaka. Selain itu alat bantu katalog juga membantu pemustaka dalam membantu pencarian informasi yang dicari. Seperti yang dikatakan Abdul Rahman Saleh (1996) bahwa selain kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkannya dari perpustakaan. Pertanyaa-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus dijawab secara spesifik pula. Meskipun hasil adequacy gap positif, tetapi dalam dimensi ini terdapat satu butir pertanyaan yang mendapat hasil negatif. Hasil itu terletak pada indikator kenyamanan individu pemustaka (Convenience). Menurut Fatmawati (2013) kenyamanan individu pemustaka (Convenience) mencakup kenyamana waktu yang dibutuhkan dalam mendapatkan informasi dan ketiadaan hambatan dalam mengakses informasi pada saat dibutuhkan. Hasil observasi dan wawancara peneliti terhadap pemustaka waktu jam layanan perpustakaan perpustakaan Assidiqiyah menjadi hambatan saat pemustaka ingin mencari informasi yang mereka butuhkan. Karena jam layanan perpustakaan Assidiqiyah sangat singkat yaitu jam 07.00 – 13.00 WIB. Padahal idealnya menurut SNI (2009) adalah waktu yang diberikan perpustakaan tehadap pemustaka minimal 8 jam per hari. Ini yang membuat indikator kenyamanan individu pemustaka (Convenience) mendapatkan hasil negatif. 3.2 Hasil Analisi Data Layanan Kitab Islam Pada butir pertanyaan nomor 1 dari Tabel 5 tentang manfaat kelengkapan koleksi kitab Islam dapat membantu mengerjakan tugas, mayoritas responden sebanyak 59% menjawab setuju dan sangat setuju. Namun demikian, jumlah responden yang menjawab tidak setuju pun cukup besar yakni pada kisaran 41% . Hal ini harus menjadi evaluasi tersendiri bagi pengelola layanan kitab Islam untuk lebih melengkapi koleksi layanan Islam. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada beberapa pemustaka koleksi kitab Islam cukup membantunya karena kurikulum agama di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah sudah berkaitan dengan koleksi yang ada di perpustakaan. Contohnya bidang tafsir, hadits, akhlak dan tasawuf, fiqih Islam, nahwu dan sharf. Saat ini koleksi kitab Islam yang tersedia adalah Fath Al-Bayan (Tafsir), Al Al-Maraghi, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Kabair, dll. Pada butir pertanyaan nomor 5 tentang ketanggapan pustakawan terhadap pemustaka dengan jumlah responden 83% menjawab setuju. Hasil wawancara peneliti dengan beberapa responden, pustakawan sudah cukup membantunya ketika pemustaka kesulitan mencari koleksi yang dia butuhkan. Karena petunjuk tentang koleksi kitab Islam belum terdapat di perpustakaan Asshiddiqiyah. Seperti memberi tahu letak keberadaan koleksi kitab Islam yang tersedia, judul kitab apa yang harus dia cari terkait tugas yang dia dapat dari sekolah. Pada butir pertanyaan nomor 6 tentang reliabilitas pustakawan terhadap koleksi kitab Islam dengan jumlah responden 76% menjawab setuju. Hasil wawancara peneliti dengan responden pustakawan cukup mempunyai wawasan tentang pemahaman kitab Islam karena pustakawan perpustakaan Asshiddiqiyah berasal dari lulusan pesantren tersebut yang mengabdi kepada Pondok Pesantren. Sehingga pemustaka tidak ragu dan percaya bertanya kepada pustakawan. Bahkan tidak jarang pemustaka yang meminta bantuan dalam mengerjakan tugas yang diberikan dari sekolah. Pada butir pertanyaan nomor 7 tentang kemudahan susunan/klasifikasi koleksi dengan jumlah responden 84% menjawab setuju. Wawancara peneliti terhadap responden, susunan koleksi kitab Islam memang memudahkan para pemustaka. Karena koleksi kitab Islam perpustakaan Asshiddiqiyah ditata ke dalam subyek tertentu. Rak khusus kitab Islam pun dipisahkan dengan rak koleksi umum yang pada akhirnya memudahkan pemustaka. Penataan rak koleksi sangat diperlukan di perpustakaan, karena membantu pemustaka dalam penelusuran bahan pustaka yang dibutuhkan secara mudah dan cepat. Dari hasil yang didapatkan dari responden, peneliti menyimpulkan frekuensi terbanyak dari masing-masing pertanyaan tentang bagaimana kualitas kitab Islam perpustakaan Asshiddiqiyah. Hasil diatas dapat disimpulkan kualitas layanan kitab Islam sudah mempunyai layanan yang baik. Tetapi dari 7 pertanyaan diatas, hasil kurang memuaskan terdapat pada data nomor 4 yaitu tentang keberagaman koleksi.

Conclusion

Berdasarkan hasil analisis data evaluasi layanan perpustakaan secara keseluruhan diperpustakaan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta dengan metode LibQual maka didapatkan kesimpulan:1.Dilihat dari harapan dan persepsi pemustaka pada dimensi Service Affects menunjukan hasil adequacy gappositif yaitu 2.5, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baikatau cukup puas.Sedangkan pada hasil superiority gapnegatif yaitu -0.3, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada batas toleransi.2.Dilihat dari harapan dan persepsi pemustaka pada dimensi Library as Place menunjukanhasiladequacy gappositif yaitu 1.4, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustakatelah menunjukan hasil yang baikatau cukup puas.Sedangkan pada hasil superiority gapnegatif yaitu -1.6, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada batas toleransi (zone of tolerance).3.Dilihat dari harapan dan persepsi pemustaka pada dimensi Personal Control menunjukanhasiladequacy gappositif yaitu 1.6, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baikatau cukup puas.Sedangkan pada hasil superiority gapnegatif yaitu -1.4, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada batas toleransi (zone of tolerance).4.Dilihat dari harapan dan persepsi pemustaka pada dimensi Access to Information menunjukan hasil adequacy gappositif yaitu 1.1, yang menunjukkan bahwa pelayanan pustakawan terhadap harapan minimum pemustaka telah menunjukan hasil yang baikatau cukup puas.Sedangkan pada hasil superiority gapnegatif yaitu -1.9, yang menunjukan bahwa kualitas layanan perpustakaannya berada pada batas toleransi (zone of tolerance).5.Persepsi pemustaka terhadap kualitas layanan koleksi kitab Islam pondok pesantren Asshiddiqiyah sudah cukup baik. Berdasarkan hasil persentase dengan menggunakan frekuensi terbanyak, hanya satu butir pertanyaan agar pustakawan Asshiddiqiyah mengevaluasi kembali, yaitu tentang keberagaman koleksi kitab Islam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa saranagar perpustakaan menjadi lebih baik, diantaranya:1.Perpustakaan perlu menambah jam operasi perpustakaan. 2.Disediakan sarana dan prasarana seperti komputer dan internet sebagai penunjang kebutuhan informasi.3.Untuk memudahkan pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan hendaknya perpustakaan memberikan bimbingan literasi informasi.4.Pemberian simbol atau poster yang menginspirasi pemustaka untuk membaca dan belajar.5.Menyediakan ruang khsusus berdiskusi, agar para pemustaka bisa saling sharing informasi yang mereka dapatkan diperpustakaan.6.Menyediakan sistem pencarian informasi berbasis online (OPAC). Agar memudahkan para pemustaka mencari informasi.7.Memperbanyak variasi koleksi kitab Islam, karena perpustakaan Asshiddiqiyahhanya memiliki 6 subyek dari 13 judul kitab Islam