BAURAN PROMOSI JASA PERPUSTAKAAN (STUDI EVALUASI MODEL CIPP PADA ISI SURAKARTA TAHUN 2010-2014)
Institut Seni Indonesia Surakarta
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana context, input, process danproductdalam kaitannya dengan bauran promosi di UPT Perpustakaan ISISurakarta. Penelitianini juga bermaksud untuk mengetahui apakah keadaan context, input, process dan productbauran promosi sesuai dengan kaidah CIPP. Penelitian ini dilakukan di Institut Seni Indonesia(ISI) Surakarta.Metodologi penelitian yang diterapkan adalah metode evaluasi denganmenggunakan model evaluasi CIPP (Context,Product,Process dan Product. Data mengenaiContext,Product,Process dan Product diperoleh dengan pendekatan kualitatif. Responpengguna terhadap Product yang dihasilkan diperkuat dengan data kuantitatif denganmenyebarkan angket kuesioner kepada 97 responden. Informan yang diaktifkan adalahpustakawan, staf pustika,mahasiswa dan dosen.Ada tiga jenis bauran promosi yang dilakukanoleh PerpustakaanISI Surakarta yaitu penyuluhan/usereducation, pameran buku daninternet.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program sudah sesuai dengan yangdiharapkan.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk lebih memperbaikikegiatan promosi serta dapat digunakan sebagai referensi dalam perencanaan program promosibaru pada periode berikutnya
Keywords:
Bauran promosi perpustakaan
· Pendidikan pemustaka
· pameran buku
· internet
Introduction
Lembaga Pendidikan Tinggi Seni Tradisional dan Peran Perpustakaan dalam Mendukung Kreativitas** Lembaga pendidikan tinggi seni tradisional dapat berkembang dengan baik jika didirikan di lingkungan yang mendukung dan memberikan umpan balik yang positif. Pertumbuhan dan pengembangan seni sangat bergantung pada keberadaan inovator dan tenaga kreatif, seperti pendidik, seniman, kritikus, dan penghayat seni yang memiliki kemampuan dan sikap terbuka. Salah satu lembaga pendidikan tinggi seni di Indonesia adalah Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang memiliki visi untuk menjadi kiblat kreativitas dan keilmuwan seni-budaya bagi kemaslahatan manusia Indonesia dalam waktu 10 tahun ke depan. Untuk mencapai visi tersebut, perpustakaan menjadi unsur penunjang yang sangat penting. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai jantung kehidupan perguruan tinggi, tetapi juga sebagai tempat akumulasi hasil penelitian dan sumber informasi yang mendukung kegiatan akademik. UPT Perpustakaan ISI Surakarta memiliki tugas untuk memberikan pelayanan pustaka kepada civitas akademika, termasuk dosen dan mahasiswa, serta mendukung pelaksanaan program Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan ISI Surakarta memiliki koleksi yang beragam, mencakup buku-buku seni, karya audiovisual, dan koleksi digital. Koleksi ini disusun berdasarkan jurusan dan program studi yang ada di ISI Surakarta, yang terdiri dari Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa Desain. Meskipun perpustakaan memiliki berbagai jenis layanan dan koleksi, masih terdapat tantangan dalam meningkatkan pemanfaatan layanan oleh pengguna, terutama di kalangan dosen dan mahasiswa. Promosi perpustakaan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan minat dan pemanfaatan layanan. Berbagai bentuk promosi, seperti pameran buku, penyuluhan (user education), dan penggunaan media sosial, telah dilakukan untuk memperkenalkan koleksi dan layanan perpustakaan. Namun, meskipun upaya promosi telah dilakukan, tingkat kunjungan dan pemanfaatan layanan perpustakaan masih rendah. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi dan perbaikan dalam program promosi yang ada. Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) dapat digunakan untuk menilai efektivitas program promosi di UPT Perpustakaan ISI Surakarta. Dengan melakukan evaluasi secara menyeluruh, diharapkan perpustakaan dapat melakukan perbaikan dan pengembangan program promosi, sehingga dapat lebih dikenal dan dimanfaatkan oleh civitas akademika dan masyarakat luas. Dengan demikian, perpustakaan memiliki peran strategis dalam mendukung visi dan misi lembaga pendidikan tinggi seni, serta dalam meningkatkan kreativitas dan keilmuwan seni di Indonesia. Perpustakaan juga berfungsi sebagai pusat informasi yang menyediakan akses ke berbagai sumber daya yang diperlukan untuk mendukung penelitian dan pengembangan akademik. Dalam konteks ini, penting bagi perpustakaan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna. Penggunaan sistem digital dan perangkat lunak yang efisien, seperti SIGILIB, menjadi kunci untuk mempermudah pencarian informasi dan meningkatkan pengalaman pengguna. Selain itu, kolaborasi dengan penerbit dan penyelenggaraan pameran buku dapat memperluas jangkauan koleksi dan meningkatkan kesadaran akan keberadaan perpustakaan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan akses kepada mahasiswa baru untuk menemukan buku yang relevan, tetapi juga menjalin hubungan yang baik antara perpustakaan, penerbit, dan pengguna. Pentingnya promosi perpustakaan tidak dapat diabaikan, karena tanpa promosi yang efektif, pengguna mungkin tidak menyadari layanan dan koleksi yang tersedia. Oleh karena itu, perpustakaan perlu memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, baik cetak maupun digital, untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Penggunaan media sosial dan website sebagai alat promosi dapat membantu meningkatkan visibilitas perpustakaan dan menarik lebih banyak pengunjung. Dalam menghadapi tantangan yang ada, perpustakaan harus terus berinovasi dan mencari cara untuk meningkatkan layanan dan koleksi. Hal ini termasuk memperhatikan umpan balik dari pengguna dan melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan pendekatan yang tepat, perpustakaan dapat menjadi sumber daya yang tak ternilai bagi civitas akademika dan masyarakat, serta berkontribusi pada pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Perpustakaan ISI Surakarta juga harus memperhatikan pentingnya pelatihan bagi pustakawan dan staf untuk meningkatkan keterampilan dalam memberikan layanan yang berkualitas. Pelatihan ini dapat mencakup teknik penelusuran informasi, penggunaan perangkat lunak perpustakaan, serta cara berinteraksi dengan pengguna secara efektif. Dengan meningkatkan kompetensi pustakawan, diharapkan mereka dapat memberikan bimbingan yang lebih baik kepada pengguna dalam memanfaatkan koleksi dan layanan yang ada. Selain itu, perpustakaan perlu mengembangkan program-program yang menarik bagi pengguna, seperti workshop, seminar, dan diskusi panel yang melibatkan seniman, akademisi, dan praktisi seni. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya akan meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar di lingkungan perpustakaan. Dengan menciptakan suasana yang interaktif dan kolaboratif, perpustakaan dapat menjadi tempat yang lebih menarik bagi civitas akademika dan masyarakat. Dalam era digital, penting bagi perpustakaan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Pengembangan platform digital yang memungkinkan akses mudah ke koleksi dan layanan perpustakaan akan sangat membantu pengguna dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, integrasi dengan sistem informasi akademik di ISI Surakarta dapat mempermudah pengguna dalam mengakses sumber daya perpustakaan secara langsung dari platform akademik yang mereka gunakan. Perpustakaan juga harus aktif dalam menjalin kerjasama dengan lembaga lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama ini dapat mencakup pertukaran koleksi, program penelitian bersama, atau penyelenggaraan acara bersama yang dapat meningkatkan reputasi perpustakaan dan lembaga pendidikan tinggi seni secara keseluruhan. Dengan memperluas jaringan dan kolaborasi, perpustakaan dapat memperkaya koleksi dan layanan yang ditawarkan kepada pengguna. Akhirnya, evaluasi berkala terhadap program dan layanan perpustakaan sangat penting untuk memastikan bahwa perpustakaan tetap relevan dan memenuhi kebutuhan pengguna. Melalui survei, wawancara, dan analisis data penggunaan, perpustakaan dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk menarik dan mempertahankan pengguna. Dengan pendekatan yang proaktif dan responsif, perpustakaan ISI Surakarta dapat terus berkontribusi pada pengembangan seni dan budaya di Indonesia serta mendukung misi lembaga pendidikan tinggi seni.
Discussion
UPT Perpustakaan ISI Surakarta berupaya mendekatkan diri dengan pengguna perpustakaan. Promosi merupakan salah satu cara agar UPT Perpustakaan ISI Surakarta agar semakin diminati, dikunjungi dan dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh sivitas akademika ISI Surakarta. Beberapa program bauran promosi telah dilakukan oleh Perpustakaan ISI Surakarta antara lain program penyuluhan (user education), program pameran dan internet. a. Program Penyuluhan /User Education Kegiatan penyuluhan (user education) dilakukan oleh Perpustakaan ISI Surakarta pada acara pengenalan mahasiswa baru. Pada kegiatan ini Perpustakaan memperkenalkan pada mahasiswa baru tentang produk, layanan dan beberapa fasilitas yang dimiliki oleh Perpustakaan. Kegiatan ini bersamaan dengan kegiatan orientasi mahasiswa baru. Perpustakaan ISI Surakarta diberi jadwal untuk oleh panitia orientasi mahasiswa baru untuk memberikan penyuluhan bagi mahasiswa baru. Kegiatan pameran buku biasanya diadakan setahun sekali. Dengan diadakannya pameran buku diharapkan menambah partisipasi sivitas akademik khususnya mahasiswa dan dosen untuk lebih peduli dan menambah semangat untuk datang ke perpustakaan. Program promosi melalui internet merupakan salah satu langkah dari UPT Perpustakaan ISI Surakarta agar pengguna lebih mengenal dan memiliki daya tarik untuk berkunjung ke perpustakaan. Era digital yang telah merambah dunia perpustakaan, menuntut perpustakaan untuk lebih aktif memberikan layanan informasi secara cepat, tepat dan efisien. Program user education yang dilakukan oleh Perpustakaan ISI Surakarta menggunakan komunikasi langsung dilakukan dengan cara tatap muka dengan komunikan. Menurut Effendi, komunikasi tatap muka atau face to face communication dilakukan untuk mengharapkan perubahan tingkah laku (behavior change) dari komunikan. Komunikasi langsung lebih efektif karena saat berkomunikasi terdapat umpan balik secara langsung dari komunikan kepada komunikator. Saat komunikasi berlangsung, komunikator dapat langsung mengetahui respon komunikandalam proses komunikasi, sehingga komunikator dapat mengetahui komunikan memperhatikan dan mengerti apa yang dikomunikasikan. Gambar 1. Kegiatan user education tahun 2014 Pustakawan sebagai penyaji materi merupakan komunikator. Aristoteles menyebut karakter komunikator sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik dan maksud yang baik. (good sense, good moral character, good will). Sementara Hovland dan Weiss menyebut ethos ini credibility yang terdiri dari dua unsur yaitu expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya). (Rakhmat, 2001:256). Pustakawan yang ditunjuk sebagai penyaji materi program user education memiliki keahlian dalam menyampaikan materinya. Selain memiliki kemampuan public speaking, mereka juga memiliki keterampilan dalam menelusur informasi dan dipercaya dapat mempengaruhi mahasiswa baru agar mau berkunjung ke Perpustakaan ISI Surakarta. Seperti yang dinyatakan oleh Fiske (Fiske, 1980:79), bahwa faktor-faktor umum yang mempengaruhi efektivitas suatu komunikasi adalah: Semakin besar monopoli sumber komunikasi terhadap penerima, semakin besar kemungkinan penerima akan menerima pengaruh atau pesan tersebut. Pengaruh komunikasi yang paling besar adalah pada saat pesan yang disampaikan sesuai dengan pendapat, kepercayaan, dan watak penerima. Komunikasi dapat menyebabkan perubahan yang efektif atas masalah yang tidak dikenal, dianggap ringan, dan bukan inti, yang tidak terletak pada pusat sistem nilai penerima itu. Komunikasi akan lebih efektif jika sumber dipercaya memiliki keahlian, status yang tinggi, objektif, atau disukai, tetapi yang paling utama adalah sumber memiliki kekuasaan dan dapat diidentifikasikan. Konteks sosial, kelompok atau kelompok referensi akan menjadi penengah dalam komunikasi dan mempengaruhi apakah komunikasi akan diterima atau ditolak. Program Pameran Buku Pameran merupakan salah satu kegiatan bauran promosi yang dilakukan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Adapun kegiatan yang diadakan adalah berupa pameran buku. Pameran adalah salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilakukan perpustakaan untuk menarik perhatian orang banyak. Pameran juga merupakan cara yang paling jitu untuk mempublikasikan keberadaan perpustakaan kepada pengguna dan calon pengguna. Kegiatan pameran perpustakaan dimaksudkan untuk menampilkan apa yang dimiliki oleh perpustakaan dan apa yang dilayankan oleh perpustakaan. Semua itu dilakukan secara fisik dan visual. Pada prinsipnya pameran tidak saja ‘menginformasikan’ secara tertulis melainkan juga menyajikan apa yang dimiliki dan dilayankan perpustakaan langsung kepada pengguna. Ada kalanya melakukan kegiatan pameran menjadi cara yang paling murah dalam rangka melakukan promosi (Mustofa, 1996:110). Dari hasil penelitian diketahui bahwa tujuan diadakannya pameran buku adalah memberikan keleluasaan dan kemudahan pada pengguna untuk memilih dan membeli buku-buku yang dibutuhkan dengan harga yang wajar, memenuhi kebutuhan informasi pengguna untuk mempercepat proses belajar, menjalin hubungan yang baik antara perpustakaan, penerbit, distributor dan pengguna perpustakaan serta menunjang kegiatan belajar mengajar di Perpustakaan ISI Surakarta. Sasaran yang dituju adalah civitas akademik khususnya mahasiswa dan dosen. Pameran merupakan suatu bentuk dalam usaha jasa pertemuan. Yang mempertemukan antara produsen dan pembeli namun pengertian pameran lebih jauh adalah suatu kegiatan promosi yang dilakukan oleh suatu produsen, kelompok, organisasi, perkumpulan tertentu dalam bentuk menampilkan display produk kepada calon relasi atau pembeli. Adapun macam pameran itu adalah: show, exhibition, expo, pekan raya, fair, bazaar, pasar murah. Sulistyo Basuki (Basuki, 1990:137) menyatakan tujuan pameran adalah: 1) Memperluas lingkungan pengaruh dan jasa perpustakaan 2) Merangsang minat umum pada buku dan baca 3) Menarik masyarakat bukan anggota perpustakaan serta mendorong mereka agar menjadi anggota perpustakaan 4) Menarik perhatian orang yang semula tidak tertarik. Mungkin banyak orang tidak berhenti sebentar di perpustakaan hanya untuk membaca pamlet, brosur dan sebagainya yang dibuat oleh perpustakaan. Namun, kelompok ini mungkin tertarik pada pameran aneka warna yang menarik perhatian. 5) Menunjukkan informasi apa saja yang tersedia di dalam bentuk cetak serta bentuk lain seperti kaset, piringan hitam, film strip dan sejenisnya mengenai topik yang sedang hangat di kalangan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pameran buku sering diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Ada beberapa media yang digunakan dalam mempromosikan program pameran buku. Antara lain spanduk, poster dan melalui internet. Gambar 2. Salah satu spanduk promosi perpustakaan Dari hasil penelitian diketahui bahwa pustakawan memiliki kemampuan yang baik dalam melakukan program pameran buku. Beberapa pustakawan bertugas menghubungi penerbit dan distributor buku, mempersiapkan sound dan perlengkapan. Semua pustakawan dijadwalkan menjaga stand pameran buku. Mustofa (1996:110) menyatakan bahwa tujuan pameran adalah untuk menarik perhatian pengguna atau calon pengguna perpustakaan dan menunjukkan layanan atau apapun yang dimiliki yang menarik untuk mereka. Berdasarkan kedua tujuan tersebut, pustakawan harus kreatif menyuguhkan sesuatu yang dapat menarik pengguna perpustakaan agar datang dan mau memanfaatkan apa yang akan dipamerkan. Dengan mendatangkan penerbit buku, selain menarik minat sivitas akademika untuk datang ke acara pameran buku di Perpustakaan ISI Surakarta, juga sebagai upaya untuk mempromosikan perpustakaan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Eric Jennings dan Kathryn Tvaruzka pada tahun 2010. Penelitian ini berjudul Quick and Dirty Library Promotions That Really Work. Eric dan Kathryn menjelaskan beragam cara promosi yang dilakukan Perpustakaan di Universitas Wisconsin. Perpustakaan itu ialah Perpustakaan McIntyre. Perpustakaan mengembangkan alat-alat pemasaran dengan biaya yang murah untuk membangun hubungan positif dengan mahasiswa, fakultas dan staf. Pustakawan dapat membangun hubungan positif tersebut dengan mengadakan pameran buku. Buku memang masih menjadi koleksi yang memiliki daya tarik sendiri bagi peminatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi hambatan dalam program pameran buku adalah pengunjung pameran yang jauh dari target, dana yang sedikit dan tempat pameran yang kurang memadai. c. Program Internet Latar belakang diadakannya program internet dalam bentuk kegiatan sosialisasi layanan web adalah untuk mempromosikan OPAC dan website Perpustakaan ISI Surakarta. Dengan adanya teknologi baru, Perpustakaan ISI Surakarta berusaha melakukan inovasi baru yaitu dengan mengganti katalog manual menjadi katalog elektronik, dimana sistem pencarian dan akses temukembali informasi berbasis secara komputer. Selain itu Perpustakaan ISI Surakarta juga menciptakan website yang berisi tentang kegiatan yang diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta seperti adanya kegiatan pameran buku, judul artikel terbaru dan beragam kegiatan Perpustakaan ISI Surakarta yang dapat diakses oleh sivitas akademik ISI Surakarta. Memang harus diakui, perkembangan teknologi mengalami perkembangan yang signifikan. Teknologi baru di bidang komputer dan informasi berkembang merambah segala kehidupan termasuk perpustakaan. Salah satu perkembangan teknologi yang banyak dimanfaatkan adalah internet. Internet memberikan jalan yang mudah untuk mendistribusikan informasi, seseorang bisa dengan mudah mempublikasikan informasi untuk kemudian diakses oleh orang lain tanpa melalui proses pelatihan yang panjang. Tidak diperlukan keahlian yang mendalam tentang komputer untuk dapat menggunakan internet. Tidaklah mengherankan, begitu internet hadir, jumlah data dan informasi yang bisa diakses oleh pengguna internet terus meningkat dengan pertumbuhan yang luar biasa. Internet juga sudah menjadi salah satu sarana promosi utama (melengkapi keberadaan media massa konvensional), terbukti dengan makin banyaknya perusahaan, organisasi, maupun individu yang mempublikasikan informasi tentang mereka dalam bentuk website. Semua jenis usaha dari mulai jual-beli mobil sampai jual-beli peniti, dari mulai mencari kerja sampai mencarijodoh, dapat kita temui di internet. Inovasi-inovasi baru seperti kehadiran friendster dan teknologi blog membuat informasi yang ada di internet semakin meledak (Pendit: 2007, 179).
Conclusion
Dari berbagai sumber dapat diketahui bahwa publikasi peneliti Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Produk intelektual bangsa Indonesia, terutama dalam bentuk publikasi ilmiah masih tergolong minim. Bahkan, kondisi tersebut masih sekitar 25 persen dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dibandingkan dengan negara lain di Asia, khususnya dengan Jepang, China, Korea Selatan, dan India, jumlah publikasi Indonesia masih sangat tertinggal. Data Pusat Penelitian Perkembangan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Pappiptek-LIPI) menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2001-2010, lembaga penelitian dan pengembangan Korea Selatan, KAIST, menghasilkan jumlah publikasi internasional terbesar, yaitu 20.183 publikasi. Lalu, diikuti lembaga JST Jepang (13.604) dan CSIRO Australia (11.611). Sementara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki 417 publikasi ilmiah. Fakta tersebut, diantaranya disebabkan oleh budaya menulis yang belum berkembang di masyarakat pada umumnya dan perguruan tinggi khususnya. Atau juga lantaran rendahnya kemauan dan kemampuan menulis hasil-hasil penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat dalam berkala ilmiah yang bermutu. Tidak mengherankan jika kemudian diseminasi hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui terbitan berkala ilmiah nasional dan internasional masih rendah. Pengembangan budaya dan kemampuan terutama motivasi menulis, menjadi suatu tantangan dan permasalahan yang harus segera dapat diatasi. Di sisi lain, pengelolaan terbitan berkala ilmiah juga bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Ada dua permasalahan umum yang dihadapi para pengelola terbitan berkala ilmiah, yaitu (1) ketersediaan naskah bermutu dan (2) keberlanjutan pengelolaan terbitan berkala ilmiah. Naskah bermutu sangat terbatas karena pada umumnya para peneliti belum mempunyai komitmen yang cukup untuk mempublikasikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui terbitan berkala ilmiah. Motivasi melakukan penelitian belum diimbangi dengan tanggung jawab moral sebagai peneliti untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitiannya yang sangat berguna bagi masyarakat luas baik untuk kepentingan praktis maupun pengembangan teoretis. Dengan menulis di terbitan berkala ilmiah, peneliti akan mendapatkan banyak masukan dan sekaligus kesempatan untuk lebih mengembangkan penelitian pada masa-masa mendatang. Sementara itu, para pembaca (peneliti lain, dosen, mahasiswa, dan masyarakat luas) juga belum menempatkan keingintahuan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan yang mendasar. Penggunaan acuan hasil-hasil penelitian mutakhir untuk keperluan penelitian lanjutan ataupun untuk penyusunan proposal program-program pengabdian dan pengembangan masih sangat terbatas. Kondisi ini menyebabkan sulitnya memasarkan terbitan berkala ilmiah tersebut meskipun dengan harga yang ditekan untuk sekadar menutup ongkos produksi. Ketersediaan naskah bermutu di satu sisi dan keberlanjutan pengelolaan terbitan berkala ilmiah di sisi lain, menjadi sebuah lingkaran setan yang dihadapi oleh para pengelola terbitan berkala ilmiah. Tantangan semacam ini pun terjadi pada berkala ilmiah yang telah terak reditasi. Meskipun telah terakreditasi, banyak terbitan berkala ilmiah yang masih kesulitan dalam mendapatkan naskah berkualitas dan mempertahankan keberlanjutan penerbitan. Hal ini menunjukkan bahwa akreditasi saja tidak cukup untuk menjamin kualitas dan keberlangsungan terbitan berkala ilmiah. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih komprehensif untuk meningkatkan budaya menulis dan mempublikasikan hasil penelitian di kalangan peneliti Indonesia. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan mengadakan pelatihan menulis bagi peneliti dan akademisi, serta memberikan insentif bagi mereka yang berhasil mempublikasikan karya ilmiah di jurnal terakreditasi. Selain itu, kolaborasi antara lembaga penelitian, universitas, dan penerbit juga perlu ditingkatkan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung publikasi ilmiah. Dengan demikian, diharapkan jumlah publikasi ilmiah Indonesia dapat meningkat dan berkontribusi lebih besar dalam kancah penelitian global. Program penyuluhan/user education bertujuan mengenalkan produk dan layanan Perpustakaan ISI Surakarta bagi mahasiswa baru ISI Surakarta dalam bentuk ceramah/ penyuluhan. Dengan pembagian tugas dan persiapan yang matang, sarana dan pendukung yang memadai, pustakawan sebagai pelaksana program berupaya mengajak mahasiswa baru untuk mengenal dan menjadi anggota Perpustakaan ISI Surakarta. Bentuk komunikasi yang dilakukan pelaksana program adalah komunikasi langsung. Respon mahasiswa juga cukup baik. Meskipun pada pelaksanaan program, komunikasi kurang begitu efektif karena ada yang mengantuk, ada yang lelah karena mengikuti materi orientasi mahasiswa baru, tetapi pelaksanaan program berjalan dengan lancar. Anggaran program user education berasal dari lembaga. Program user education perlu diadakan tiap tahun bagi mahasiswa baru agar mereka mengenal lebih jauh tentang beragam pelayanan dan fasilitas Perpustakaan ISI Surakarta. Kekurangannya hanya pada penyampaian materi pada program user education terlalu singkat, sehingga materi kurang tersampaikan secara maksimal dan feedback pun kurang dapat ditampung oleh pustakawan. Program pameran buku memberikan keleluasaan dan kemudahan pada pengguna untuk memilih dan membeli buku-buku yang dibutuhkan dengan harga yang wajar, memenuhi kebutuhan informasi pengguna untuk mempercepat proses belajar, menjalin hubungan yang baik antara perpustakaan, penerbit, distributor dan pengguna perpustakaan serta menunjang kegiatan belajar mengajar di Perpustakaan ISI Surakarta. Kegiatan ini melibatkan semua pustakawan dengan didukung sarana dan prasarana yang memadai. Program pameran buku disebarkan melalui media pendukung antara lain spanduk, brosur dan internet. Banyak pengunjung pameran yang hadir membeli buku, atau sekedar memberi masukan tentang judul buku yang sesuai untuk kebutuhan mereka agar dipesan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Penerbit buku yang diundang banyak yang datang pada acara pameran buku yang diadakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta. Kegiatan yang paling utama adalah pengadaan buku oleh Perpustakaan sendiri. Anggaran pameran buku setiap tahun berasal dari lembaga. Adapun hambatan yang ditemui adalah pengunjung pameran yang jauh dari target, minimnya anggaran dan tempat pameran yang kurang memadai. Ada masukan agar Perpustakaan ISI Surakarta mengadakan pameran buku di tempat lain seperti di Pendopo Ageng atau di Teater Besar. Perpustakaan ISI Surakarta juga melakukan program promosi melalui internet. Adapun bentuk kegiatan yang pernah dilakukan adalah Program Sosialisasi Layanan Web. Pada kegiatan ini Perpustakaan ISI Surakarta melakukan promosi OPAC Sigilib dan website Perpustakaan ISI Surakarta dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen yang diundang oleh perpustakaan. Dengan dipandu staf pustakawan, mahasiswa dan dosen berlatih teknik penelusuran informasi Sigilib dan mengenal website perpustakaan. Pelaksanaan program berlangsung lancar, didukung oleh sarana dan prasar ana yang memadai. Komunikasi juga dapat berlangsung secara maksimal karena materi diberikan kepada mahasiswa dan dosen dalam jangka waktu yang cukup lama. Anggaran program internet berasal dari lembaga. Tidak ada hambatan yang berarti dalam kegiatan ini. Program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan pemahaman pengguna terhadap layanan yang disediakan oleh Perpustakaan ISI Surakarta, serta mendorong mereka untuk lebih aktif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.