PERSEPSI MASYARAKAT KELURUHAN BARU KOTA MAKASSAR TERHADAP '' GERAKAN MAKASSAR GEMAR MEMBACA"
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Gerakan Makassa Gemar Membaca (GMGM) merupakan salah satu program Pemerintah KotaMakassar yang telah dijalankan sejak beberapa tahun lalu. Program ini dimaksudkan untukmeningkatkan/menciptakan budaya kebiasaan membaca warga Kota Makassar. Penelitian inimerupakan studi kasus yang bertujuan untuk mencari tahu persepsi masyarakat terhadapGMGM ini. Penelitian ini mengambil salah satu lokasi taman baca yang ada di Kelurahan Baru,Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GMGM ini mendapatapresiasi yangtinggi oleh masyarakat Kota Makassar, khususnya di Kelurahan Baru. Namun demikian,program ini masih menyisakan beberapa kendala, seperti kesadaran masyarakat akan manfaatatau pentingnya membaca, dan juga sosialisasi program ke GMGM yang belum mencapai keseluruh lapisan masyarakat di Kelurahan Baru. Selain itu, penelitian ini juga menggambarkanbeberapa bentuk implementasi GMGM ini, di antaranya dengan mengadakan pelatihanrelawan-relawan baca, pelatihan pustakawan, lomba minat baca, sertapemasangan jaringaninternet
Keywords:
Gerakan Makassar Gemar Membaca
· Kelurahan Baru Kota Makassar
Introduction
Di era modern saat ini, perpustakaan merupakan salah satu lembaga pusat informasi yang harus memenuhi kebutuhan masyarakat yang kian hari semakin beragam. Akan tetapi, perlu juga disadari bahwa sebagian masyarakat belum mendapatkan fasilitas dan layanan perpustakaan sebagaimana mestinya. Hal ini patut menjadi perhatian bagi orang-orang yang terkait di bidang perpustakaan agar segera memikirkan dan mengembangkan perpustakaan. Maksudnya agar dapat memenuhi tugas dan fasilitas sebagai salah satu pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa, meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan personal, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Dengan kata lain, perpustakaan adalah sebuah wadah dalam proses pencerdasan bangsa. Hal ini sejalan dengan apa yang dijelaskan dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 3 yang berbunyi: “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.” Sementara itu, tujuan perpustakaan juga dijelaskan pada undang-undang tersebut pada Pasal 4 yang berbunyi: “Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.” Makassar adalah salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Makassar merupakan Ibu Kota dari Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar memiliki jumlah penduduk 8.034.776 jiwa serta luas wilayah 45.764,53 km². Dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, menjadikan Makassar berpotensi besar untuk menjadi salah satu kota dunia yang maju. Pentingnya budaya gemar membaca adalah ukuran kemajuan sebuah kota. Tingkat minat baca masyarakat, khususnya anak-anak di Kota Makassar sangat rendah dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di tanah air. Rendahnya minat baca masyarakat ini, tentulah sangat berpengaruh pada ketidakmampuan mereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana yang biasa didengar bahwa membaca adalah gerbang menuju ilmu pengetahuan. Karena itu, membaca harus menjadi kebutuhan hidup dan budaya masyarakat Kota Makassar. Untuk menjadikan Kota Makassar sebagai kota yang masyarakatnya gemar membaca, maka dibutuhkan political will dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Kota Makassar telah melahirkan kebijakan yang menjadikan gerakan membaca sebagai sebuah gerakan yang disebut “Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM)” yang dicanangkan pada tanggal 5 Juni 2005 lalu. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan kota merupakan ujung tombak pembangunan bangsa yang berhadapan langsung dengan masyarakatnya sebagai pelaku sekaligus konsumen serta pemasok dalam hubungannya dengan pengelolaan SDM. Tentunya pemerintah tidak boleh tinggal diam untuk menjadikan budaya membaca di kalangan masyarakat, dengan memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan yang lebih mudah lagi dijangkau. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada Pasal 50 disebutkan: “Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi dan mendorong pembudayaan kegemaran membaca sebagaimana diatur dalam Pasal 48 ayat (2) sampai dengan ayat (4) dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses.” Pada awalnya, perencanaan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) diragukan oleh beberapa pihak akan efektivitasnya, tetapi berkat pekerjaan dengan hati yang tulus serta kerja keras seluruh tim serta dukungan seluruh pihak, khususnya Walikota Makassar ketika itu, keraguan demi keraguan dijawab dengan hasil kerja. Sebelum program ini dicanangkan, Makassar tidak memiliki taman baca, setelah itu berdiri 150 taman baca masyarakat yang tersebar di seluruh kelurahan, kecamatan, dan pulau terpencil. Bukan hanya itu, program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) telah mencuri banyak perhatian pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan Nasional yang menjadikan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) sebagai pilot project percontohan Nasional untuk peningkatan minat baca di Indonesia (Hatta, 2010:53). Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) yang telah dicanangkan sejak tahun 2005 ini mendorong peneliti untuk mengkaji beberapa aspek mengenai program ini, dengan menjadikan taman baca kelurahan Baru sebagai lokasi penelitian. Oleh karena itu, melalui penelitian ini akan diuraikan persepsi masyarakat Kelurahan Baru Kota Makassar terhadap program GMGM dilihat dari beberapa aspek
Method
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif-kualitatif, yaitu mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap suatu perlakuan pada wilayah tertentu mengenai pemahaman berdasarkan pengamatan terhadap suatu aspek, kemudian mendeskripsikan realitas nasional sebagai realitas subjektif melalui teknik analisis kualitatif (Arif Tiro, 2009:123). Sifat dari jenis penelitian kualitatif ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka yang dilakukan berakhir dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam. Responden diminta untuk menjawab pertanyaan umum yang diajukan oleh interviewer berdasarkan tanggapan mereka dalam mengidentifikasi dan menentukan persepsi serta perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas. Selanjutnya, interviewer akan menganalisa pernyataan-pernyataan responden melalui penggambaran secara kualitatif dengan berpedoman pada landasan teori, yaitu data yang dihasilkan selalu dikomparasikan dengan literatur yang ada. Hal ini dimaksudkan karena kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman, dan kepekaan dari interviewer atau responden (Soentoro, 2002: 54-60). ### Sumber Data Sumber data penelitian berasal dari dua jenis sumber data yaitu: data primer dan data sekunder. 1) **Sumber data primer** adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan yang erat kaitannya dengan masalah yang akan diteliti, seperti pengelola taman baca Kelurahan Baru, beberapa tokoh masyarakat, serta dari unsur pemerintahan yang terkait dengan GMGM. 2) **Sumber data sekunder** adalah sumber data yang tidak langsung dari informan, tetapi melalui penelusuran berupa data, dokumen, profil, serta unsur penunjang lainnya. ### Instrumen Penelitian Adapun instrumen yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini berdasarkan teknik yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) **Pedoman Observasi** Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin, 2009:119). 2) **Pedoman Wawancara** Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam (Sugiyono, 2009: 72). 3) **Pedoman Dokumentasi** Dokumentasi, yaitu berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang yang tertulis. Dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. Hasil penelitian dari observasi dan wawancara, akan lebih kredibel/dapat dipercaya jika didukung oleh dokumentasi (Moleong, 2008:198). Dokumentasi dalam penelitian ini adalah pengumpulan data yang bersumber dari buku-buku atau arsip, foto, dokumen dengan menggunakan catatan harian di kantor kelurahan Baru Kota Makassar. ### Teknik Analisis Data Setelah data yang telah terkumpul baik itu dalam bentuk pendataan atau unsur yang lainnya berupa dokumen kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif berdasarkan instrumen yang diperoleh dari wawancara, dokumentasi, dan observasi. Kemudian dari analisa hasil-hasil kajian tersebut selanjutnya akan ditarik kesimpulan dan beberapa saran/masukan penelitian yang tentu saja sifatnya membangun.
Result & Discussion
Implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) di Taman Baca Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) merupakan program yang amat brilian yang dirintis Pemerintah Kota Makassar di tahun 2005 lalu. Sejak dicanangkannya, meskipun masih relatif singkat, berbagai hal telah dicapai. Beberapa prestasi terlihat seperti banyaknya siswa-siswi SD, SMP, SMA/SMK Kota Makassar yang berprestasi di pentas Nasional bahkan mengikuti Olimpiade Sains Internasional. Kota Makassar juga telah beranjak ke-10 besar di Indonesia yang tadinya hanya berada pada kisaran 17-15. Jumlah taman baca terus meningkat hingga 143 taman baca di seluruh kelurahan di Kota Makassar, meningkatnya pengadaan buku serta sarana penunjang perpustakaan dan terobosan lainnya. Dalam rangka sosialisasi untuk mendukung program GMGM di Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar bekerja sama dengan Yayasan Pena Madani, Perpustakaan Kota Makassar, Dinas Pendidikan Kota Makassar, serta didukung oleh beberapa penerbit buku cetak, telah mengadakan beberapa kegiatan, antara lain: Makassar Book Fair di Pantai Losari, peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Minat Baca Siswa SMP, Pameran Buku, Lomba Lukis dan Baca Puisi, Launching Taman Baca 14 Kecamatan, Peresmian Perpustakaan Umum Kota Makassar, Pemberian Beasiswa kepada Siswa/i SLTP dan SMU, Penyerahan Bantuan Buku dari Sekretariat KORPRI Kota Makassar, Talk Show Peningkatan Minat Baca bersama Duta Baca Indonesia Bapak Tantowi Yahya, Talk Show Pelatihan Tenaga Pengelola Perpustakaan, dan penyerahan Bantuan “Motor Pintar” dan Sarana Pendukung Operasional Perpustakaan dari Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu kepada Perpustakaan Kota Makassar. Pemerintah provinsi juga berkomitmen akan menyediakan buku-buku dan membangun gedung. Sedangkan tempat atau lahan di setiap kelurahan akan disediakan oleh Pemerintah Kota. GMGM telah berkoordinasi dengan seluruh Camat se-Kota Makassar, agar mempersiapkan suatu tempat baca yang representatif sehingga budaya baca dapat tersosialisasikan bagi warga sekitar. Pada tahun 2006, pemerintah kota secara resmi melaunching penggunaan mobil perpustakaan keliling. Hingga saat ini, Perpustakaan Kota Makassar telah memiliki dua unit Mobil Perpustakaan Keliling bantuan dari Perpustakaan Nasional RI dan dua unit Motor Pintar dari bantuan Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Bantuan ini diharapkan bisa digunakan oleh masyarakat umum sebagai salah satu fasilitas publik Makassar. Mobil perpustakaan ini dalam koordinasi Tim GMGM dan Badan Arsip Perpustakaan dan Pengolahan Data Kota Makassar akan dijadwal oleh pihak pengelola untuk berada di tiap titik strategis di Kota Makassar, terutama di sekitar wilayah sekolah, kampus, dan tempat-tempat yang mudah dijangkau masyarakat. Mobil Perpustakaan Keliling ini dilengkapi 1.300 judul buku, untuk berbagai bidang. Mobil perpustakaan keliling ini diharapkan bisa memberi ruang bagi masyarakat Kota Makassar untuk mendapatkan buku-buku yang bisa dibaca di lokasi tersebut. Pastinya diharapkan dengan fasilitas ini, masyarakat dapat memaksimalkannya walaupun jumlahnya masih terbatas. Dari itu diharapkan masyarakat Makassar dapat memanfaatkannya secara baik. Tentunya Pemerintah Kota Makassar, dalam hal ini dari Program GMGM, hanyalah menjadi indikator dalam pelaksanaan program ini. Beberapa instrumen penting yang coba digerakkan oleh pihak Pemerintah dalam hal ini pihak Yayasan Pena Madani sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah kota untuk menjalankan program ini, diantaranya Makassar Book Fair, acara yang dilaksanakan tiap kali dalam dua minggu, di depan rumah jabatan Walikota Makassar pada setiap hari minggu pagi. Tentunya, masyarakat Kota Makassar yang sedang menikmati hari libur di Pantai, disediakan pameran buku-buku dengan diskon khusus bagi yang ingin membeli (Muchtar Tahir, Tulus Wulan Juni, Nuraeni Ma’mur, 2008:26-27). Pada awal pendirian BAPPD dan GMGM pada tahun 2005, taman bacaan di Makassar hanya terdapat 14 unit. Pada tahun 2013 tercatat sebanyak 40 Taman Baca Kecamatan/Kelurahan/Kepulauan (TBK) yang berdiri di setiap kecamatan di Kota Makassar. Hal ini merupakan sinergitas yang terjalin BAPPD dan project GMGM sebagai upaya meningkatkan kegemaran membaca masyarakat Kota Makassar. Program GMGM sepenuhnya didukung oleh BAPPD dalam mengimplementasikan tujuan dari program pemerintah Kota Makassar ini terutama dalam membina semua jenis perpustakaan yang ada, serta membina pengelola taman bacaan maupun mengembangkan sarana dan prasarana. Bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca dapat kita lihat dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan dalam penelitian ini, salah satunya ialah Tulus Wulan Juni sebagai anggota dari Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) menyatakan bahwa: “Adapun bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap Taman Baca yaitu seperti pelatihan-pelatihan relawan baca untuk meningkatkan masyarakat gemar membaca, pelatihan pustakawan bagi pengelola taman baca maupun perpustakaan, lomba-lomba minat baca bagi anak-anak dan pada saat pengadaan lomba kami memasang lambang GMGM ataupun spanduk tentang GMGM dan penyampaian kepada peserta lomba bahwa kegiatan ini dilaksanakan oleh GMGM.” Dalam rangka memperkenalkan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) kepada masyarakat, Pemerintah Kota Makassar telah mengadakan berbagai macam bentuk kegiatan, baik kegiatan yang berupa pelatihan bagi pengelola taman baca maupun kegiatan yang berbentuk lomba minat baca atau gelar minat baca bagi anak-anak dan juga pemasangan spanduk maupun baliho di kawasan taman baca. Hal ini, diperjelas oleh Yogietje Georgeson yang merupakan pengelola Taman Baca Kelurahan Baru yang menyatakan: “Bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap Taman Baca Kelurahan Baru yaitu penyelenggaraan lomba-lomba seperti lomba mewarnai dan lomba baca puisi bagi anak-anak TK dan SD, pembagian brosur kepada masyarakat dan pemasangan spanduk di kawasan taman baca agar masyarakat lebih mudah melihatnya karena lokasi taman baca sangat strategis di mana banyak orang-orang yang sering lalu lalang. Kemudian bagi pengelola Taman Baca diberikan pelatihan pustakawan dalam rangka membina pengelola dan penambahan koleksi dari APBD.” Melihat dari lokasi taman baca yang sangat strategis, di mana masyarakat sebagian melakukan aktivitasnya seperti olahraga pada saat pagi dan sore, dan ada beberapa kantor yang lokasinya sangat dekat dengan taman baca kelurahan baru, salah satunya kantor Balai Kota. Selain dari lokasinya yang strategis, Taman Baca Kelurahan Baru juga dilengkapi dengan fasilitas jaringan internet yang bertujuan untuk menarik perhatian pengunjung dan mempermudah pengunjung untuk mengakses internet. Sujarwo yang merupakan lurah Kelurahan Baru menambahkan bahwa: “Adapun bentuk-bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap taman baca kelurahan baru yaitu adanya penambahan fasilitas pada taman baca seperti pemasangan Wifi yang bertujuan untuk memudahkan pengunjung untuk mengakses internet dan penambahan sejumlah koleksi dari Badan Arsip Perpustakaan dan Pengelolaan Data (BAPPD). Selain itu ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk memperkenalkan Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) kepada masyarakat kelurahan baru, misalnya lomba membaca puisi dan lomba mewarnai bagi anak-anak TK maupun SD. Serta pemasangan spanduk dan membagikan brosur kepada masyarakat sekitar kelurahan baru.” Taman Baca Kelurahan Baru berdiri sejak Tahun 2010 sampai sekarang yang didirikan oleh BAPPD bekerja sama dengan pemerintah Kecamatan Ujung Pandang. Di mana letak taman baca kelurahan baru berada di Jln. Slamet Riyadi yaitu tepatnya di kantor Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang. Dari beberapa hasil wawancara dengan informan di atas, yang menunjukkan bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap taman baca kelurahan baru, tidak terlepas dari kekurangan, ada beberapa hal yang masih perlu dikembangkan dalam taman baca kelurahan baru seperti misalnya gedung penyimpanan bahan koleksi belum memadai begitu juga dengan koleksi bukunya yang masih kurang. Hal ini diungkapkan oleh pengelola taman baca, Yogietje Georgeson menyatakan bahwa: “Mengenai tempat penyimpanan koleksi di taman baca Kelurahan Baru belum memadai karena untuk saat ini kami masih menumpang di Kantor Kelurahan Baru dan ruangannya sangat kecil untuk penyimpanan koleksi dan mengenai jenis koleksi di taman baca masih kurang, akan tetapi tiap tahunnya selalu ada penambahan koleksi sebanyak 60 judul buku dari kantor BAPPD.” Dalam proses implementasi program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap taman baca memang masih terdapat kekurangan baik dari segi koleksi maupun gedung, akan tetapi mengenai persoalan gedung atau tempat penyimpanan bahan koleksi taman baca, maupun jenis koleksinya yang masih kurang, tim Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) masih mengupayakan agar lebih efektif. Tulus Wulan Juni menyatakan bahwa: “Untuk saat ini persoalan yang masih belum terselesaikan yaitu masalah gedung ataupun tempat penyimpanan koleksi, untuk saat ini gedung yang kami gunakan sebagai tempat penyimpanan koleksi, itu masih belum efektif, akan tetapi kami mengusahakan agar lebih efektif. Dan mengenai koleksi di tiap taman baca ataupun perpustakaan, tiap tahunnya ada penambahan koleksi buku di taman baca maupun perpustakaan kelurahan.” Kegiatan yang dilakukan untuk menyukseskan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) ini di antaranya lomba karya tulis ilmiah, story telling, bimbingan teknis bagi pengelola taman baca, gelar minat baca, wajib kunjung perpustakaan, wisata baca, gelar minat baca, perpustakaan minat baca, pengelolaan perpustakaan umum Kota Makassar, pembinaan taman baca serta beberapa kegiatan yang bekerja sama dengan mitra. Pemerintah Kota Makassar merupakan ujung tombak pembangunan bangsa yang berhadapan langsung dengan masyarakat sebagai pelaku sekaligus sebagai konsumen dalam pengelolaan sumber daya alam. Untuk mensukseskan program pemerintahan tentunya dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam mensukseskan program tersebut. Begitu juga dengan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) dibutuhkan berbagai pihak terutama masyarakat kota Makassar itu sendiri sebagai konsumen dalam program ini. Jika dukungan dan kerjasama telah diperoleh maka program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) akan dapat jauh lebih efektif dan berkesinambungan. Selain itu, tentunya diperlukan strategi percepatan terwujudnya masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Strategi adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki untuk mencapai tujuan akhir digunakan sebagai acuan dalam menata kekuatan serta menutup kelemahan yang diterjemahkan menjadi program kegiatan. Adapun penyusunan strategi yang dianggap penting oleh pemerintah Kota Makassar dalam memperkenalkan program GMGM, yaitu: 1) **Mengenal Khalayak** Mengenal khalayak merupakan langkah awal pemerintah Kota Makassar dalam usaha menciptakan komunikasi yang efektif. Khalayak yang dimaksud yaitu mengidentifikasi pihak-pihak mana saja yang menjadi target sasaran dari program GMGM. Pengenalan khalayak dari proses mensosialisasikan program GMGM dapat dilihat dari beberapa pihak yang menjadi informan dalam penelitian sebelumnya. Keterangan tersebut antara lain diperoleh dari Walikota Makassar pada saat itu, Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin, yang menyebutkan bahwa: “Sasaran pembinaan minat baca adalah seluruh anggota masyarakat, termasuk diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, perguruan tinggi, organisasi sosial, organisasi profesi, tokoh-tokoh masyarakat serta lembaga pemerintah dan swasta. Dengan menjadikan seluruh masyarakat sebagai sasaran gerakan ini, maka minat baca dan kecintaan masyarakat terhadap buku diharapkan tumbuh dan berkembang di semua lapisan masyarakat. Namun penekanan diberikan kepada generasi yang sedang tumbuh yaitu usia anak-anak, usia sekolah dasar, usia sekolah lanjutan, dan usia dewasa” (Ibnu Hambali, 2010). Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa yang menjadi khalayak dari program GMGM adalah seluruh lapisan masyarakat Kota Makassar, namun penekanannya saat ini lebih kepada generasi muda yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang wawasannya seperti usia sekolah dasar, usia sekolah lanjutan, dan usia dewasa. Spesifikasi sasaran sosialisasi program GMGM ini diharapkan dapat membuat pemerintah kota untuk lebih berkonsentrasi dalam mensosialisasikan program ini, yang mana telah disebutkan bertujuan untuk mewujudkan masyarakat cerdas dengan membaca. Sesuai dengan hasil tersebut di atas, maka dapat dilihat bahwa dalam proses mengenal khalayak terjadi suatu interaksi, di mana khalayak dapat dipengaruhi oleh komunikator tetapi komunikator juga dapat dipengaruhi oleh komunikan atau khalayak. Dalam penelitian sebelumnya, khalayak dapat didefinisikan dari beberapa segi. Dari segi pengetahuan khalayak misalnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan, dapat ditemukan khalayak yang tidak memiliki pengetahuan, memiliki banyak dan ahli tentang masalah yang disajikan. Sedangkan dari segi sikap khalayak terhadap isi pesan yang disampaikan dapat ditemukan khalayak yang setuju, ragu-ragu, dan yang menolak. Teknik pengidentifikasian khalayak berdasarkan segi pengetahuan, sikap dan tingkat pemikiran tidak berlaku secara mutlak untuk seluruh organisasi/lembaga. Setiap organisasi/lembaga memiliki kebebasan untuk menetapkan teknik pengidentifikasian khalayaknya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan di masing-masing organisasi/lembaga tersebut. Dengan adanya pengenalan terhadap khalayak yang jelas, diharapkan agar mempermudah proses sosialisasi program GMGM sehingga dapat mewujudkan masyarakat Kota Makassar yang cerdas dan gemar membaca. 2) **Menyusun Pesan** Setelah mengenal khalayak dan situasinya, maka langkah selanjutnya dalam perumusan strategi yaitu menyusun pesan dengan menentukan tema dan materi. Syarat utama dalam mempengaruhi khalayak dari pesan yaitu kemampuan membangkitkan perhatian. Dalam hal ini dapat diperkuat dari teori Schram bahwa pesan harus dapat dituliskan dan disampaikan sedemikian rupa sehingga pesan itu dapat menarik perhatian yang ditujukan. Teknik penyusunan pesan tentang program GMGM, sebagaimana pesan yang pada umumnya terdiri dari pesan dan lambang, dalam penyusunan pesan lebih banyak berisi tentang himbauan yang bersifat umum kepada masyarakat untuk ikut serta dalam mensosialisasikan program tersebut. Salah satu contoh isi pesan atau kalimat dapat dilihat pada media outdoor seperti spanduk dan baliho Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) yang terpasang di pinggir jalan maupun di sekitaran taman baca yang berisikan seperti “Budaya baca dimulai dari keluarga” dan “Mewujudkan masyarakat cerdas dengan membaca”. Isi pesan tersebut bersifat praktis dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Dalam penggunaan gambar maupun lambang, baliho Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) menggunakan lambang/logo gambar ayam jantan yang merupakan simbol budaya dan falsafah hidup orang Bugis-Makassar. Bentuk gambar diambil dari foto kegiatan GMGM selama ini serta foto kegiatan membaca seorang anak yang menjadi simbol bahwa program GMGM ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda yang sedang tumbuh dan sebagai generasi penerus. Sesuai dengan hasil tersebut, maka pada penyusunan pesan berdasarkan data yang diperoleh, terlihat bahwa pesan yang disampaikan mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat Kota Makassar pada umumnya karena menggunakan bahasa dalam dialek daerah khas Makassar. Hal ini dirancang untuk lebih mengakrabkan diri dengan masyarakat. 3) **Menetapkan Metode** Untuk mencapai efektivitas dari suatu strategi komunikasi selain bergantung kepada kemantapan isi pesan, yang diselaraskan dengan kondisi khalayak dan sebagainya, maka juga turut dipengaruhi oleh metode-metode penyampaian kepada sasaran. M. Reski Mulia mengatakan bahwa penetapan metode dapat dilihat dalam bentuk pesan yang disampaikan di baliho maupun spanduk yang terpasang di setiap sudut kota, hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: - Bekerja sama dengan pengelola perpustakaan umum Kota Makassar. Mendirikan taman baca di 14 kecamatan tahun 2006. Di tahun 2007 ada penambahan 10 taman baca kecamatan dan di tahun 2009 penambahan 6 taman baca kecamatan. - Mengadakan kerjasama dengan pihak swasta dengan mensosialisasikan GMGM dengan mengadakan Talk Show peningkatan minat baca bersama duta baca Indonesia Bapak Tantowi Yahya pada tanggal 14 September 2006. - Mengadakan dompet buku GMGM. Hal ini dimaksud untuk menambah jumlah koleksi buku di setiap taman baca yang telah didirikan. Karena pada satu taman baca idealnya memiliki 3000 hingga 5000 judul. Dengan adanya program dompet buku di tahun 2009 baik di perpustakaan kota maupun di taman baca kecamatan terhitung sebanyak 77.636 eksemplar. - Menggelar pesta buku 2008 pada 5-9 September 2008 di Makassar Exhibition Center (Ex Goro), yang disponsori oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Telkomsel, Fajar, dan Makassar Promosindo. - Sosialisasi GMGM dengan adanya layanan perpustakaan keliling dan motor pintar masing-masing bertugas untuk mengelilingi Kota Makassar dan mengunjungi sekolah-sekolah, tempat-tempat ibadah, pemukiman penduduk, maupun di fasilitas umum lainnya. - Melakukan kampanye langsung dengan mengundang duta baca ke sekolah-sekolah. Dari hasil tersebut maka penetapan metode yang digunakan oleh pemerintah Kota Makassar dalam mensosialisasikan program ini yaitu dengan menggunakan metode informatif dan edukatif. Metode informatif yaitu metode yang digunakan untuk menginformasikan program-program yang telah dijalankan serta kesuksesan yang telah dicapai sesuai dengan data-data yang benar. Sedangkan metode edukatif yaitu salah satu usaha mempengaruhi khalayak dari suatu pernyataan umum yang dilontarkan, dapat diwujudkan dalam bentuk pesan yang berisi fakta-fakta, bersifat mendidik, dapat dipertanggungjawabkan dari segi kebenarannya dengan tujuan mengubah tingkah laku manusia ke arah yang diinginkan. Dari kedua metode yang digunakan kita dapat mengambil kesimpulan bahwa inti dari metode-metode tersebut adalah untuk mempengaruhi khalayak atau masyarakat. 4) **Seleksi dan Penggunaan Media** Penggunaan media sebagai alat penyalur informasi dalam rangka mempengaruhi masyarakat. Pemerintah Kota Makassar juga melibatkan seluruh jenis media yang ada baik lokal maupun nasional. Selain itu, informasi mengenai GMGM dapat juga kita akses melalui situs resmi Pemerintah Kota Makassar (www.makassar.go.id). Situs ini dikelola oleh bagian humas yang berisikan hal-hal yang menyangkut kota Makassar. Maka dalam penyeleksian penggunaan media, setiap instansi atau lembaga dituntut untuk mampu membina hubungan yang baik dengan media karena selain berfungsi sebagai saluran publikasi, media juga mempunyai kekuatan sebagai pembentuk opini yang efektif. Selain itu, penggunaan media sebagai saluran informasi juga memiliki pengaruh yang besar dalam mensukseskan suatu program kegiatan. Hal ini disebabkan karena media mampu menjangkau sebagian besar khalayak tanpa mengenal batas. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, semakin banyak pula media yang dapat dijadikan sebagai pilihan untuk mempublikasikan sebuah program kegiatan. Media-media tersebut pada umumnya ada dua jenis yaitu, media cetak dan elektronik (Ildayanti Hatta, 2010: 64-70). Namun dari sekian banyaknya media, tidak berarti bahwa semua media dapat dijadikan sebagai saluran publikasi dalam menginformasikan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) kepada masyarakat, untuk itu dilakukan seleksi dalam pemilihan media. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan Tulus Wulan Juni yang mengatakan bahwa: “Sebelum kami menjadikan media sebagai saluran dalam mempublikasikan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), terlebih dahulu kami melakukan seleksi pada media tersebut. Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penyeleksian media yaitu dari segi luasnya jangkauan, dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap media tersebut.” Jadi penggunaan media dalam mensosialisasikan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam kesuksesannya, namun tentunya dilakukan seleksi dalam penggunaan media untuk melihat hal-hal yang menjadi pertimbangan baik dari segi luasnya jangkauan maupun tingkat penerimaan masyarakat terhadap media tersebut. Selain dari empat strategi di atas, tentunya dibutuhkan kerjasama antara pemerintah kota Makassar dengan masyarakatnya. Sebagai konsumen dari program ini, masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam setiap bentuk kegiatan yang diadakan oleh tim Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), di mana sasaran dari program ini adalah masyarakat Kota Makassar itu sendiri yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan mencerdaskan masyarakat dengan gemar membaca, khususnya bagi generasi muda. ### Persepsi Masyarakat Kelurahan Baru Kota Makassar terhadap Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) Salah satu faktor yang memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran membaca masyarakat adalah minat baca yang tinggi. Minat baca adalah sebuah keinginan yang kuat disertai dengan usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang punya minat baca yang kuat akan diwujudkan dalam kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan, kemudian membacanya atas kesadaran diri. Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) adalah salah satu bentuk komitmen pemerintah Kota Makassar untuk mencerdaskan masyarakat Kota Makassar sejak tahun 2005 lalu. Hal ini terus dilanjutkan oleh Pemerintah Kota saat ini. Persepsi konsumen berkaitan erat dengan kesadarannya yang subjektif mengenai realitas, sehingga apa yang dilakukan oleh seorang konsumen merupakan reaksi terhadap persepsi subjektif nya, bukan berdasarkan realitas yang objektif. Jika seorang konsumen berpikir mengenai realitas, itu bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi merupakan pikirannya mengenai realitas yang akan memengaruhi tindakannya, seperti keputusan membeli (Mufli, 2006:91). Berikut ini akan dipaparkan beberapa persepsi yang ada di tengah masyarakat mengenai program GMGM, khususnya dampak dan implementasinya di Taman Baca Kelurahan Baru Kota Makassar. Hasil wawancara dengan salah satu pengunjung di Taman Baca Kelurahan Baru, Miftahuddin mengatakan bahwa: “Sangat bagus program pemerintah ini (GMGM), dengan adanya taman baca dan perpustakaan sudah membantu masyarakat dalam pencarian informasi, apalagi taman baca didukung dengan adanya fasilitas Wifi yang memudahkan kami untuk mengakses internet.” Rendahnya minat baca masyarakat pada umumnya, saat ini pantaslah kita renungkan, karena kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari kemajuan masyarakatnya. Maka dari itu perlu adanya kerja sama antara pemerintah Kota Makassar dengan masyarakatnya untuk mensukseskan program GMGM karena tujuan dari program ini adalah menjadikan masyarakat Makassar sebagai masyarakat yang gemar membaca, masyarakat yang menyadari betul pentingnya buku sebagai pusat pengetahuan dan informasi serta menumbuhkan berbagai bentuk aktivitas yang dapat dilakukan pada anak-anak dengan cara menumbuhkan budaya baca pada anak-anak. Sekilas wawancara di atas menunjukkan apresiasi terhadap program ini. Ali Syariati dalam bukunya menjelaskan tentang definisi masyarakat, yaitu sejumlah perorangan yang mempunyai keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara harmonis dengan maksud untuk bergerak maju ke arah tujuan bersama (Syaria’ati, 2002:107). Masyarakat maju adalah masyarakat yang mampu menjadikan pilar membaca sebagai bagian penting dalam kehidupannya karena itu program GMGM sangat positif dan harus ditingkatkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa masyarakat mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan maju atau tidaknya segala sesuatu yang diperuntukkan oleh mereka, masyarakat merupakan konsumen dari program tersebut. Menurut Puadi selaku Ketua RW 1 Kelurahan Baru, mengatakan bahwa: “Dengan adanya program Gerakan Makassar Gemar Membaca, sehingga didirikan Taman Baca kelurahan Baru, ini sangat bagus bagi masyarakat, hanya saja minat baca masyarakat masih kurang, jarang sekali masyarakat yang mau berkunjung ke perpustakaan kelurahan. Jadi perlu dikembangkan sosialisasinya mengenai manfaat dari perpustakaan itu sendiri atau manfaat minat baca.” Haeruddin S., salah seorang warga di Kelurahan Baru mengatakan bahwa: “Program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) ini, bagus untuk dimasyarakatkan, dengan tujuan untuk menggiatkan minat baca masyarakat terutama bagi anak-anak, karena minat baca bagi anak-anak sangat penting untuk menambah pengetahuan mereka. Hanya ada perlu beberapa yang harus dikembangkan, seperti sosialisasi agar program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) lebih insentif dan lebih dikenal oleh masyarakat.” Dari hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, kita dapat melihat bahwa masyarakat sangat merespon dengan baik dengan adanya program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) ini. Namun program ini tidak seutuhnya berjalan dengan baik, tetapimasih perlu lebih dimasyarakatkan lagi untuk menggiatkan minat baca masyarakat, terutama bagi anak-anak untuk menambah pengetahuan mereka. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan oleh pemerintah Kota Makassar saat ini, dalam hal ini, mengenai sosialisasi yang belum menyeluruh, karena masih ada beberapa masyarakat yang belum tahu tentang adanya program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM). Selanjutnya, informan lain, Hasri mengatakan bahwa: “Program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) sangat bagus hanya saja masih kurang sosialisasi mengenai gerakan ini sehingga masih kurang masyarakat yang tahu tentang adanya perpustakaan atau taman baca kelurahan dan perlu beberapa penambahan koleksi di taman baca dan perpustakaan, seperti buku-buku yang berkaitan dengan keterampilan, karena masyarakat lebih membutuhkan buku-buku yang bisa menghasilkan sesuatu, contohnya buku tentang kerajinan tangan dan tentang pertanian agar masyarakat lebih tertarik menggunakan taman baca ataupun perpustakaan.” Selain dari sosialisasi yang perlu ditingkatkan agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengenal dengan adanya program Gerakan Makassar Gemar Membaca, juga yang perlu diperhatikan oleh pemerintah kota Makassar adalah mengenai penambahan jenis koleksi bagi taman baca yang berhubungan dengan buku-buku yang bisa menghasilkan dan menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam sesuatu hal dan perlu ada kegiatan-kegiatan yang bisa mendorong minat baca bagi anak-anak. Yohana Moling, juga seorang warga di kelurahan ini mengatakan bahwa: “Kurangnya minat baca bagi masyarakat adalah merupakan tugas bagi pemerintah bagaimana kemudian mendorong minat baca masyarakat terutama bagi kalangan anak-anak. Untuk itu perlu adanya kegiatan-kegiatan untuk mendorong minat baca anak-anak seperti adanya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan membaca, dan kegiatan-kegiatan seperti itu sangat bagus bagi anak-anak untuk menambah minat mereka dalam hal membaca.” Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh tim Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), akan lebih mudah dalam menarik perhatian masyarakat untuk menjadikan taman baca maupun perpustakaan kelurahan sebagai tempat pencarian informasi. Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu masyarakat akan dapat mengenal Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) sebagai program yang bertujuan untuk menjadikan budaya baca bagi masyarakat kota Makassar. Akan tetapi kurangnya kesadaran masyarakat dengan hal-hal yang berkaitan dengan membaca merupakan tugas bagi pemerintah kota Makassar bagaimana kemudian menciptakan sesuatu yang dapat menarik perhatian masyarakat. Selain dari taman baca dan perpustakaan ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh pemerintah kota Makassar untuk menciptakan hal yang lebih menarik dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Puadi menambahkan bahwa: “Perlu ada beberapa yang harus ditingkatkan dalam program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM). Karena masih ada beberapa masyarakat yang belum sadar dengan hal-hal semacam itu. Jadi perlu ada sesuatu yang bisa memotivasi masyarakat dalam hal penggunaan taman baca ataupun perpustakaan. Perpustakaan keliling salah satu contohnya yang dapat merangsang masyarakat untuk menggunakan fasilitas perpustakaan karena perpustakaan keliling biasanya ada pemutaran film, jadi itu sangat merangsang masyarakat dalam penggunaan fasilitas perpustakaan keliling.” Selain dari taman baca dan perpustakaan kelurahan, perpustakaan keliling merupakan salah satu yang paling mudah dijangkau. Maka dari itu pemerintah kota, dalam hal ini Tim Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) lebih meningkatkan hal-hal seperti perpustakaan keliling. Informasi dari para informan menunjukkan apresiasi yang sangat baik dengan kehadiran program ini meskipun masih menyisakan beberapa hal yang perlu dibenahi. Tulus Wulan Juni menyatakan bahwa, “Masyarakat menyambut baik dengan adanya program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), hanya saja kami masih ada kendala untuk sarana dan prasarana yang masih terbatas atau masih kurang. Yang berkunjung baik perpustakaan maupun taman baca tiap tahun ada peningkatan tapi belum maksimal.” Dengan peningkatan jumlah pengunjung baik di perpustakaan maupun taman baca, membuktikan bahwa program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) ini, telah sukses dalam mendorong minat baca masyarakat kota Makassar (Irsan, 2014: 1-17). Selain itu, Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) telah menjadi sumber ide untuk wilayah lainnya, hal ini berdasarkan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa: Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) telah menjadi sumber ide oleh wilayah lainnya seperti, Wilayah Soppeng, Pangkep, Takalar, Palopo, Luwuk, bahkan sampai ke Jawa Barat (Ildayanti Hatta, 2010: 58). Dari beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) ini, ternyata juga terdapat masukan dari masyarakat mengenai program ini, untuk pemerintah kota Makassar. Misalnya, sosialisasi yang secara menyeluruh, sosialisasi tentang manfaat dari gemar membaca, pengadaan jenis koleksi yang berhubungan dengan profesi masyarakat dan pengadaan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan program ini. Sehingga dengan adanya hal-hal semacam itu, khususnya sosialisasi secara menyeluruh dan bentuk-bentuk kegiatan yang diadakan, dapat menarik perhatian dan menambah minat baca masyarakat. Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) telah menjawab dan merupakan sebuah solusi dalam hal menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat. Dengan budaya baca yang kuat mendorong seseorang untuk tidak lekas berpuas diri, dengan membaca seseorang dapat mengasah serta meningkatkan kemampuan otaknya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Yohana Moling menambahkan bahwa: “Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM), merupakan solusi yang sangat bagus bagi kami dalam mengembangkan pengetahuan dengan membaca, dalam artian memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah kota Makassar seperti perpustakaan dan taman baca yang ada di kelurahan.” Minat baca di Indonesia dapat dikatakan masih rendah, apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Jangankan negara Jepang ataupun Singapura, dengan negara Malaysia saja kita kalah. Dalam penelitiannya, Primanto Nugroho menyatakan bahwa minat baca rendah karena daya “mengunyah” bacaan menjadi suatu yang berguna di masyarakat kita masih rendah. Hal ini disebabkan waktu yang mereka miliki untuk membaca sangat sedikit, dan sebagian besar waktunya dipergunakan untuk bekerja. Hasil penelitian lain juga pernah memperlihatkan bahwa secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability). Rendahnya minat baca di kalangan masyarakat membuat mereka tidak mempunyai kebiasaan membaca yang baik, sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Bila diperhatikan, maka terlihat hal yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh World Bank tentang minat baca di Indonesia yang rendah. Laporan pendidikan yang dikeluarkan oleh World Bank yang terdapat dalam “Education in Indonesia–From Crisis to Recovery” (1998) menggambarkan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia (Supriyanto, 2006:287). Saat ini masih ada beberapa kelompok masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya membaca bagi kehidupan sehari-hari. Untuk merubah pemikiran masyarakat ke arah yang lebih positif terhadap minat baca, maka pemerintah kota Makassar, sebagai pelaku dan konsumen serta pemasok dalam pengelolaan SDM, agar kiranya dapat meningkatkan lagi proses dalam mensosialisikan program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) kepada masyarakat kota Makassar
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang diungkapkan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) **Implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM)** terhadap Taman Baca Kelurahan Baru adalah dengan adanya pelatihan-pelatihan relawan baca untuk meningkatkan masyarakat gemar membaca, pelatihan pustakawan bagi pengelola taman baca maupun perpustakaan, lomba-lomba minat baca bagi anak-anak, penambahan jenis koleksi buku setiap tahunnya, dan pengadaan Wifi. Dari semua bentuk implementasi Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) terhadap Taman Baca merupakan wujud dari kerja keras tim yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung ke taman baca dan memanfaatkan semua fasilitas sebagaimana mestinya. Strategi komunikasi yang diterapkan oleh tim Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) sebagai alat untuk membantu proses dalam mensosialisasikan program ini kepada masyarakat Kota Makassar sehingga dapat mewujudkan masyarakat cerdas dengan membaca. 2) Masyarakat Kelurahan Baru mengapresiasi program Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) karena dapat mendorong minat baca masyarakat. Namun demikian, tentu masih ada sebagian masyarakat yang belum menyadari manfaat dan pentingnya minat baca, sehingga yang perlu ditingkatkan dalam program ini agar lebih efektif adalah menyangkut sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di Kota Makassar mengenai manfaat dari gemar membaca. Hal ini penting untuk mewujudkan masyarakat Kota Makassar sebagai masyarakat yang maju, berpendidikan, dan bermartabat.