Kembali
16
1
2021 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 13 · 1 ISSN 2549-8606

Kegiatan Digitalisasi Naskah Kuno Sebagai Upaya Diseminasi Informasi (Sebuah Studi Pustaka Di Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari)

Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini berjudul "Kegiatan Digitalisasi Naskah Kuno Sebagai Upaya Diseminasi Informasi (Sebuah Studi Pustaka Di Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan Dan Yayasan Sastra Lestari)". Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan digitalisasi naskah kuno sebagai upaya pelestarian dan penyelamatan informasi serta diseminasi informasi di Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan metode penelitian komparatif. Analisis data kualitatif deskriptif dari apa yang diperoleh dari studi pustaka dan komparasi. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan model analisis data Miles and Huberman, diantaranya yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian didapati bahwa selain melakukan proses digitalisasi dan diseminasi informasi BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari juga melakukan transliterasi serta alihaksara sehingga naskah kuno yang miliki dapat dengan mudah dimengerti baik oleh peneliti maupun masyrakat umum. Sedangkan Museum Radya Pustaka Surakarta baru sampai pada tahap digitalisasi dan belum melakukan proses transliterasi serta alihaksara karena keterbatasan sumber daya manusia.

Abstract

This research entitled “Digitization of Manuscripts as Information Dissemination Efforts (A Literature Study at Radya Pustaka Museum in Surakarta, BPAD of South Sulawesi Province and the Sastra Lestari Foundation)”. The purpose of this research is to knowing the activity of digitizing manuscripts as an effort to preservation and rescue information also disseminate information at the Radya Pustaka Museum in Surakarta, BPAD South Sulawesi Province and the Sastra Lestari Foundation. Data collection was carried out with literature studies and comparative research methods. Analysis of descriptive qualitative data from what was obtained from literature and comparative studies. Data processing and analysis techniques use the Miles and Huberman data analysis model, including data reduction, data presentation, and drawing conclusions. From the results of the study it was found that in addition to digitizing and disseminating information on the BPAD of South Sulawesi Province and the Sastra Lestari Foundation, it also carried out transliteration and translation so that the manuscripts that were easily understood by both researchers and the general public. While the Radya Pustaka Surakarta Museum has only reached the stage of digitalization and has not yet carried out the process of transliteration and literacy due to limited human resources.
Keywords: diseminasi informasi · naskah kuno · Museum Radya Pustaka Surakarta · BPAD Provinsi Sulawesi Selatan · Yayasan Sastra Lestari

Introduction

Perpustakaan menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan memiliki arti institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi bagi para pemustaka¹. Sebagai tempat pelestarian bahan pustaka, salah satu koleksi khusus yang dimiliki oleh perpustakaan adalah naskah kuno atau manuskrip (manuscript). Naskah kuno menurut Gusmanda dan Malta didefinisikan sebagai hasil tulisan tangan yang berisikan informasi tentang budaya bangsa yang bernilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan². Indonesia sebagai Negara yang memiliki kekayaan sejarah dengan kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya pada eranya tentunya memiliki banyak peninggalan-peninggalan sejarah berupa benda (tangible) dan tak benda (intangible). Banyaknya kerajaan yang ada sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri menyisakan banyak sekali naskah kuno yang mengandung dan memuat cerita-cerita tentang kerajaan yang bersangkutan. Banyak penulis- penulis terkenal era kerajaan di Indonesia yang menceritakan tentang riwayat hidup seorang raja, hingga kisah runtuhnya kerajaan tersebut. Naskah kuno kini masuk dalam benda cagar budaya yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Perhatian pemerintah terhadap naskah-naskah kuno tersebut tentunya dapat membantu kelestarian dan eksistensi naskah kuno. Nyatanya baru beberapa tahun belakangan ini pemerintah mulai turut serta dalam pelestarian dan diseminasi naskah kuno. Keluarnya UU Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan merupakan titik terang bagi masalah yang terjadi di perpustakaan umum Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah mulai sadar akan pentingnya perpustakaan. Naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh perpustakaan rata-rata dituliskan dalam bahasa yang tidak dapat dibaca serta dimengerti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, misalnya menggunakan aksara jawa kuno, atau bahasa lokal pada masa pra-kemerdekaan Indonesia. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, naskah kuno dikatagorikan sebagai warisan budaya jika memiliki kriteria cagar budaya seperti yang dituliskan dalam Bab III Pasal 5 berikut: a) berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, b) mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, c) memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, d) memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Sebelum munculnya teknologi seperti sekarang ini, naskah kuno ditulis dalam berbagai bahasa serta media yang beragam pula, mulai dari batu, lontar, maupun kulit binatang. Naskah kuno yang berisikan catatan informasi dari masa lampau dituangkan dalam berbagai macam jenis media bergantung pada tingkat peradapan. Digitalisasi telah terbukti dapat meningkatkan efektifitas penggunaan informasi dengan memurnikan jangkauan, menambah umpan balik dan fleksibilitas, dan melipatgandakan saluran untuk penyebarluasan. Digitalisasi serta diseminasi naskah kuno ini diharapkan dapat membantu masyarakat agar dapat mengerti serta memahami maksud daripada dokumen- dokumen yang telah diartikan dan dialih mediakan. Sehingga naskah kuno masih akan terus eksis di zaman yang serba modern ini, sebagai salah satu penguat kepribadian bangsa. Berdasarkan hal tersebut peneliti berkeinginan untuk memfokuskan penelitian di 3 tempat berbeda yaitu, Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: a. Bagaimana digitalisasi arsip naskah kuno digunakan sebagai upaya untuk diseminasi informasi?

Method

Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka. Penelitian komparatif atau perbandingan adalah penelitian yang dilakukan dengan hasil akhir perbedaan antara dua objek atau lebih. Komparasi adalah penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisis tentang hubungan sebab akibat, yakni memilih faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan faktor lain³. Perbandingan ini bisa dilakukan pada objek berupa tokoh, pemikiran tokoh, lembaga dan/atau instansi, serta lain sebagainya. Peneliti menggunakan jenis penelitian komparasi dengan maksud menarik sebuah konklusi baru dengan membandingkan kegiatan digitalisasi yang telah ada agar diketahui perbedaan dan persamaan dari tiap lembaga yang melakukan digitalisasi naskah kuno. Zed memberikan defisini penelitian dengan studi pustaka adalah serangkaian kegiatan berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, dan mencatat serta mengolah bahan penelitian4.

Discussion

Tiga tempat yang menjadi fokus penelitian yaitu Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari melakukan digitalisasi naskah kuno dengan satu tujuan yang sama yaitu mencegah hilangnya nilai informasi yang dimiliki oleh naskah kuno akibat kerusakan dan/atau kehilangan. Ketiga lembaga ini mengedepankan naskah kuno sebagai darah kehidupan sejarah Nusantara, seperti yang dikemukakan oleh Sudarsono karena naskah kuno merupakan salah satu warisan budaya bangsa diantara berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat serta perilaku masyarakat masa lalu12. Naskah kuno merupakan peninggalan kebudayaan yang mengandung informasi yang berharga. Naskah-naskah kuno ini dapat menjadi sumber rujukan otentik yang dapat menjadi penghubung antara pemikiran masa lalu dan masa kini dengan merekonstruksi situasi dan kondisi yang ada pada peristiwa masa lampau. Kandungan isi dari naskah kuno sangat bervariasi mulai dari cerita rakyat, dongeng, hikayat, silsilah sebuah kerajaan, serat dan babad, sampai ke sejarah, perjanjian- perjanjian, surat, tatanan upacara, hukum hingga ke undang- undang. Semakin berkembangnya pengetahuan dan informasi yang melekat pada naskah kuno, maka naskah kuno sebagai entitas karier informasi menghasilkan yang disebut dengan knowledge product. Taylor menyebutkan bahwa: "A knowledge product is an artifact of information a kind of persistent retention of the knowledge of one or more individuals. Knowledge products differ from other artifacts in that their relevant and useful aspects reside primarily in the content that can be extracted from them, and as such any physical manifestation there of is usually at best a carrier medium”13. Pada proses digitalisasi naskah kuno baik di Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari menggunakan perangkat yang sama yaitu komputer, laptop, scanner, kamera digital dan double scanner camera. Bagi Museum Radya Pustaka digitalisasi arsip naskah kuno menghasilkan sebuah kebijakan yang mengharuskan museum melakukan digitalisasi demi nilai vital yang terkandung dalam sebuah naskah kuno yang harus diselamatkan untuk generasi selanjutnya. Museum Radya Pustaka sendiri belum melakukan proses trasliterasi dan alihaksara untuk memudahkan oengunjung dan peneliti dalam memahami dan mengerti kandungan isi naskah kuno yang dikoleksi. Untuk BPAD Provinsi Sulawesi Selatan agar sampai pada tahap digitalisasi naskah kuno mengalami lika-liku, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan awalnya menggunakan cara-cara manual untuk melakukan preservasi pada naskah kuno. Hingga sampai pada titik ini dimana sudah mulai dilakukannya digitalisasi serta transliterasi dan terjemahan isi daripada naskah kuno itu sendiri. BPAD Provinsi Sulawesi Selatan merasa jika digitalisasi naskah kuno tidak lagi cukup, sehingga memutuskan untuk melakukan transliterasi dan menterjemahkan isi naskah kuno agar informasi yang ada dalam naskah kuno dapat dengan mudah dibaca, dipahami dan dimengerti oleh pemustaka. Naskah kuno yang dimiliki oleh BPAD Provinsi Sulawesi Selatan sendiri ditulis dalam bahasa lontara yang kemungkinan banyak dari masyarakat Sulawesi Selatan sendiri tidak mengerti. Sedangkan untuk Yayasan Sastra Lestari kegiatan digitalisasi naskah kuno kesusastraan Jawa sudah sejak awal yayasan ini berdiri, namun tanpa diikuti proses diseminasi informasi. Sehingga semua arsip sususastraan Jawa yang telah didigitalisasikan disimpan dalam bank data dari Yayasan Sastra Lestari, hingga tahun 2009 Yayasan Sastra Lestari mulai membangun jaringan website sendiri untuk kegiatan diseminasi informasi arsip secara digital. Yayasan Sastra Lestari juga melakukan alihaksara naskah kuno koleksi yang dimiliki dari aksara Jawa menjadi aksara latin. Hal ini ditujukan agar kandungan informasinya dapat terselamatkan, dapat mudah diakses, mudah dicari dan diindeks14. 1. Museum Radya Pustaka Surakarta Dari jurnal karya Intan Prastiani ini penulis mendapatkan informasi seputar diseminasi dan cara-cara yang dilakukan oleh Museum Radya Pustaka Surakarta agar informasi yang dimiliki oleh naskah kuno tidak hilang dan dapat terus dinikmati secara umum dari generasi ke generasi. Perkembangan zaman yang pesat seperti sekarang ini membuat Museum Radya Pustaka Surakarta harus memutar otak agar museum tetap diminati dan tidak ditinggalkan penggunanya, untuk mengikut perkembangan zaman tersebut Museum Radya Pustaka Surakarta membuat kebijakan digitalisasi muncul dari seluruh karyawan museum. Untuk memudahkan proses digitalisasi ini, Museum Radya Pustaka Surakarta melakukan kerjasama dengan pihak lain. Kegiatan digitalisasi merupakan upaya untuk menyelamatkan informasi karena kondisi naskah kuno sudah mulai rapuh. Setiap instansi pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai ketika membuat suatu kebijakan. Museum Radya Pustaka Surakarta memiliki tujuan berupa penyelamatan fisik naskah dengan melakukan digitalisasi, menyelamatkan isi naskah serta memudahkan akses kepada generasi muda. Proses digitalisasi yang dilakukan oleh Museum Radya Pustaka Surakarta diharapkan membawa banyak manfaat, tidak hanya untuk museum tetapi juga untuk pengunjung dan penikmat meseum. Manfaat yang dapat dirasakan dengan adanya proses digitalisasi manuskrip di Museum Radya Pustaka diantaranya untuk: 1) memberikan kemudahan akses kepada pengunjung atau peneliti, 2) menyelamatkan baik fisik maupun informasi manuskrip, 3) membaca naskah lebih mudah karena dapat dilakukan, dan 4) lebih cepat, praktis, dan ekonomis15. Proses digitalisasi naskah kuno di Museum Radya Pustaka Surakarta terbagi menjadi 3 yaitu tahap pra-digitalisasi, tahap digitalisasi, serta tahap pasca digitalisasi. Naskah-naskah yang telah diditalisasi diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan informasi dan memudahkan akses. Pengguna dapat mencari tahu informasi manuskrip melalui hasil digital naskah yang telah dipublikasikan. Namun sejauh ini pihak Museum Radya Pustaka belum dapat melakukan publikasi hasil digital naskah, dikarenakan masih terdapat faktor penghambat seperti pada peralatan, dana dan sumber daya manusia. Dalam melakukan proses digitalisasi ini tentunya ditemukan kendala baik teknis maupun non-teknis. Berikut ini adalah kendala yang dihadapi oleh Museum Radya Pustaka Surakarta dalam melakukan digitalisasi: a Kondisi fisik naskah kuno; seperti yang diketahui objek yang akan digdigitalisasikan adalah naskah kuno yang dari segi umur sudah sangat tua. Umur tua dari naskah kuno inilah yang membuat media yang digunakan untuk naskah kuno menjadi rentan dan mudah rusak, tingkat kerusakan yang dimiliki pun beragam dari rusak ringan hingga berat. Macam-macam kondisi fisik naskah kuno ini juga berpengaruh pada waktu pengerjaan digitalisasi, semakin berat kerusakan yang dialimi oleh naskah kuno maka semakin lama proses digitalisasi berlangsung. b. Keterbatasan SDM; sumber daya manusia adalah faktor penentu dalam proses digitalisasi. Museum Radya Pustaka Surakarta hanya memiliki satu petugas yang memahami dan bisa melakukan proses digitalisasi naskah kuno. Sedangkan koleksi naskah kuno yang dimiliki oleh Museum Radya Pustaka sebanyak ±400 naskah kuno, akan memakan waktu yang cukup lama agar semua naskah kuno ini selesai didigitalisasikan. c. Gangguan peralatan; peralatan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi proses digitalisasi. Peralatan digitalisasi yang dimiliki oleh Museum Radya Pustaka Surakarta sering mengalami gangguan, mulai dari baterai kamera yang cepat habis, lampu panel yang sering mati dan lain sebagainya. Hal-hal teknis seperti ini akan menghambat proses digitalisasi. d. Kunjungan penelitian; karena merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kota Surakarta, Museum Radya Pustaka Surakarta banyak dikunjungi oleh masyakarat umum maupun para peneliti. Banyaknya kunjungan penelitian ini membuat petugas harus melayani dan meninggalkan proses digitalisasi yang sedang berlangsung. Dalam upayanya melakukan digitalisasi, Museum Radya Pustaka Surakarta belum bisa melayangkan hasil digitalisasi naskah kuno ke publik karena terbentur oleh dana, peralatan serta sumber daya manusia yang dimiliki masih kurang. Selain itu juga belum dilakukannya transliterasi atau penerjemahan transkrip naskah kuno ke bahasa yang mudah dimengerti (re: bahasa Indonesia), sehingga pengunjung atau menikmat museum akan kesulitan mengerti dan memanfaatkan informasi yang dimiliki oleh naskah kuno tersebut. Selain itu juga diseminasi informasi naskah kuno menjadi sedikit terhambat karena orang- orang perlu berkunjung terlebih dahulu ke Museum Radya Pustaka Surakarta untuk mendapatkan akses ke naskah kuno digital. 2. BPAD Provinsi Sulawesi Selatan Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Museum Radya Pustaka Surakarta, BPAD Provinsi Sulawesi Selatan juga ingin memaksimalkan lembaganya dalam hal preservasi dan konservasi naskah kuno atau manuskrip. BPAD Provinsi Sulawesi Selatan menjalankan fungsinya sebagai lembaga penghimpun, penyimpan dan menyebarluaskan informasi yang dimiliki. Karena kondisi fisiknya yang sudah rentan BPAD Provinsi Sulawesi Selatan melakukan laminasi untuk mempertahankan fisik naskah kuno. Laminasi digunakan agar nilai dari fisik naskah kuno tersebut tetap dapat dilindungi. Perawatan berkala pun perlu dilakukan agar kondisi fisik dari naskah kuno tetap terjaga, fumigasi dilakukan 2 kali dalam satu tahun. Perkembangan teknologi yang sekarang ini terjadi BPAD Provinsi Sulawesi Selatan yang awalnya melakukan preservasi ke dalam bentuk microfilm kini juga melakukan alih media ke dalam bentuk elektronok atau digitalisasi untuk melindungi naskah kuno dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Selain itu juga digitalisasi ini membantu pengguna untuk mencari informasi yang dibutuhkan. BPAD Provinsi Sulawesi Selatan melakukan transliterasi naskah-naskah kuno yang dimiliki sehingga pengunjung (masyarakat umum maupun peneliti) dapat dengan mudah memahami kandungan informasi yang terdapat dalam naskah kuno. Sayangnya dalam karya yang ditulis oleh Hijrana Bahar ini tidak ada keterangan apakah bentuk digital dari naskah kuno sudah dapat diakses melalui media daring atau online, hal seperti ini dapat mempengaruhi diseminasi informasi naskah kuno yang sudah didigitalkan. Karena menjadi sayang apabila bentuk digital dari naskah kuno yang sudah ada tidak dimaksimalkan dengan sebaik mungkin agar bisa dinikmati oleh semua orang kapan dan dimana saja. Selain itu kendala yang dihadapi oleh BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dalam melakukan digitalisasi adalah dana serta sarana dan prasanara untuk proses digitalisasi. 3. Yayasan Sastra Lestari Yayasan Sastra Lestari merupakan salah satu yayasan nirlaba yang fokus dalam upaya penyelamatan akses dan kandungan informasi karya-karya sastra yang ada di seluruh Nusantara, khususnya karya sastra Jawa. Yayasan Sastra Lestari kemudian membangun sebuah website (www.sastra.org) sebagai wujud nyata dari kegiatan pendokumentasian arsip digital naskah kuno kesusastraan Jawa, dengan tujuan agar diseminasi informasi melalui kegiatan digitalisasi dapat mendukung akses informasi yang lebih baik dari arsip naskah kuno kesusastraan Jawa. Pembangunan website ini disedikasikan sebagai salah satu sumber informasi digital yang kredibel, tempat data-data primer kesusastraan Jawa dapat dibaca, ditelusuri dan dikaji secara mandiri oleh penggunanya16 (Wibowo, 2018: 5). Dalam proses alih media tersebut Yayasan Sastra Lestari menggunakan alat- alat seperti computer, scanner, kamera, laptop dan double scanner camera. Kegiatan diseminasi ini dimulai pada tahun 2009 dengan membangun website. Naskah kuno yang dimiliki oleh Yayasan Sastra Lestari memuat informasi tentang obat- obatan, puisi, cerita rakyat, piwulang atau ajaran moral, kebudayaan, kesenian, sejarah atau babad, karawitan dan adat istiadat. Penulisan naskah-naskah ini menggunakan aksara Jawa, baik yang menggunakan tulisan tangan (charik) ataupun cetakan. Dalam pengolahannya Yayasan Sastra Lestari mengelompokkan naskah-naskah kuno tersebut dalam beberapa jenis seperti agama dan kepercayaan, bahasa dan budaya, adat dan tradisi, kamus dan ensiklopedi, wayang, kisah cerita rakyat, piwulang dan karawitan. Namun hanya terfokus pada karya sastra Jawa yang lahir pada pada abad ke-19. Dikelompokkannya berbagai jenis naskah kuno tersebut tidak terlepas dari beragamnya pengetahuan serta informasi yang dimiliki dan melekat pada setiap naskah kuno hasil kebudayaan suku Jawa secara berkelanjutan. Media yang digunakan dalam karier arsip digital naskah kuno adalah menggunakan citra digital atau foto dengan menggunakan format Joint Photographic Experts Group (JPEG)17. Selain melakukan digitalisasi Yayasan Sastra Lestari juga melakukan transliterasi dengan mengalihaksarakan naskah kuno yang semula aksara Jawa menjadi aksara latin. Tujuannya agar naskah kuno dapat dengan mudah diakses, dicari dan diindeks, kemudian agar kandungan informasi yang dimiliki dapat diselamatkan. Selain itu pula, dilakukannya digitalisasi oleh Yayasan Sastra Lestari untuk memudahkan pengguna atau peneliti dalam mengakses dan memanfaatkan arsip digital naskah kuno kesusastraan Jawa. Yayasan Sastra Lestari dalam diseminasi informasi arsip digital naskah kuno memiliki beberapa tujuan yaitu, yaitu untuk preservasi dan konservasi naskah kuno, karena masih banyaknya naskah kuno yang belum terkelola dengan baik sehingga ketika naskah kuno selesai diteliti oleh Yayasan Sastra Lestari maka timbul rasa keinginan untuk merawatnya. Namun bukan dengan cara mengkoleksi naskah kuno tersebut, melainkan dengan menyerahkannya kepada lembaga yang lebih berwenang seperti Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Proses diseminasi informasi yang dilakukan oleh Yayasan Sastra Lestari selalu memperhitungkan dampak positif dan negative yang dihasilkan, yaitu dengan memperhatikan aspek security atau keamanan karena jika nantinya website Yayasan Sastra Lestari menjadi website yang dapat memberikan layanan dua arah pengguna dapat memberikan pertanyaan atau memberi kritik serta saran kapanpun dan di manapun pengguna berada melalui website secara langsung membuat informasi menjadi mudah untuk dicuri atau diretas. Hal ini dibuktikan dengan adanya plagiasi atau pencurian hak cipta atas data milik Yayasan Sastra Lestari yang digunakan oleh pihak lain tanpa mencantumkan credit atau sumber data. Diketahui bahwa usaha diseminasi informasi naskah kuno yang dilakukan oleh Yayasan Sastra Lestari menunjukkan hasil yang cukup signifikan, selain itu juga website milik Yayasan Sastra Lestari merupakan database yang credible. Ditambah website ini menyediakan hasil digital dari naskah kuno yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, Yayasan Sastra Lestari juga menyediakan transliterasi agar kandungan dari naskah kuno dapat dengan mudah dipahami oleh banyak orang.

Conclusion

1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat diambil simpulan bahwa naskah kuno sebagai arsip vital nasional sudah mulai diperhatikan secara serius baik oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta. Perkembangan teknologi informasi yang pesat sekarang ini membantu lembaga-lembaga terkait dalam hal preservasi dan konservasi naskah kuno. Digitalisasi merupakan jawaban dari hampir seluruh masalah yang dihadapi oleh perpustakaan dan juga museum dalam hal diseminasi informasi, khususnya disesminasi informasi isi kandungan dari naskah kuno yang dimiliki. Tujuan dari digitalisasi sendiri selain agar proses temu kembali berjalan dengan mudah adalah diseminasi informasi. Dimana dengan alih media dari konvensional ke bentuk digital akan mudah bagi pemustaka untuk mengakses naskah kuno. BPAD Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Sastra Lestari tidak hanya melakukan proses digitalisasi tetapi juga melakukan transliterasi serta alihaksara yang bertujuan untuk memudahkan pemustaka (peneliti ataupun masyarakat umum) agar lebih mudah memahami isi dari naskah kuno yang ada. Sedangkan Museum Radya Pustaka belum melakukan transliterasi, kegiatan baru berpusat pada digitalisasi serta diseminasi informasi melalui bantuan media virtual karena keterbatasan pada sumber daya manusia profesional yang dimiliki oleh museum untuk melakukan transliterasi dan alihaksara. 2. Saran Lembaga atau institusi yang memiliki naskah kuno sebaiknya tidak hanya sekedar melakukan digitalisasi terhadap naskah kuno, tetapi juga melakukan transliterasi dan alihaksara agar isi dari naskah kuno tersebut dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat zaman sekarang. Terutama untuk tujuan penelitian dan pengembangan rekonstruksi sejarah Nusantara. Dengan demikian masyarakat zaman sekarang dapat mengerti dan mengetahui bagaimana nenek moyang Nusantara hidup dan mendapatkan sedikit gambaran tentang kehidupan dan kebudayaan masa lampau.