Optimalisasi Pemanfaatan Koleksi Sastra melalui Digitasi dan E-Service untuk Mendukung Pembentukan Karakter Bangsa: Studi Kasus pada 6 Perpustakaan Anggota FPPTI-DIY yang Perguruan Tingginya Memiliki Program Studi Sastra
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta; Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Abstrak
Salah satu cara untuk membentuk harkat dan martabat bangsa adalah dengan memperluas wawasan bahasa dan budaya yang dapat dilakukan dengan membaca koleksi sastra. Peran sastra tentu saja tidak dapat dijelaskan dengan bukti fisik karena karya sastra berbicara tentang jiwa, ruh, dan sesuatu yang berkaitan dengan pikiran seseorang. Namun jika disebarluaskan kepada masyarakat, karya sastra dapat melahirkan generasi penerus yang lebih kompeten, kritis, kreatif, dan yang terpenting memiliki hati nurani. Sastra berperan dalam membentuk karakter suatu bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana buku pustaka di 6 perpustakaan anggota FPPTI-DIY digunakan oleh pengguna. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan buku sastra berpengaruh terhadap pendidikan karakter? Selain itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk memberikan rekomendasi guna optimalisasi pemanfaatan buku sastra melalui digitalisasi dan e-service. Desain penelitian dirancang dengan menggunakan metode campuran. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi eksplanatori sekuensial. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung perpustakaan anggota FPPTI DIY dari 6 perguruan tinggi dengan 617.539 program studi literatur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik stratified sampling. Pengumpulan data kualitatif ditentukan dengan melihat jenis kelamin dan preferensi membaca literatur. Terdapat 4 orang pengunjung dari tiap perpustakaan, yang terdiri dari 2 pengunjung pria yang suka membaca dan 2 pengunjung wanita yang tidak suka membaca, sebanyak 24 informan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows versi 21. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan buku sastra di 6 perpustakaan anggota FPPTI-DIY, buku sastra tersebut digunakan oleh pengguna ketika ada perkuliahan yang berkaitan dengan sastra. Hal tersebut disampaikan responden dengan frekuensi datang 1-2 kali dalam seminggu dan frekuensi memanfaatkan koleksi sastra dua kali dalam seminggu. Melalui hasil analisis kuantitatif dengan pengujian hipotesis penelitian ini membuktikan bahwa kualitas, kuantitas, dan visibilitas buku berpengaruh terhadap optimalisasi penggunaan buku sastra melalui digitalisasi dan e-service pada pembentukan karakter. Peran 6 perpustakaan anggota FPPTI-DIY dalam mengoptimalkan penggunaan buku sastra, terkait pentingnya membaca literatur melalui digitalisasi koleksi sastra dan layanan elektronik dinilai sudah cukup baik dan mengatasi keterbatasan ketersediaan buku.
Abstract
One of the ways to shape the dignity of a nation is to broaden the horizons of language and culture and this can be done by reading literary collections. The role of literature, of course, cannot be explained by physical evidence because literature talks about the soul, about the spirit, and about something related to one's mind. However, if disseminated to the public, literary works can produce future generations who are more competent, critical, creative, and most importantly, have a conscience. Literature plays a role in shaping the character of a nation. This study aims to determine how the literature books in the 6 FPPTI-DIY member libraries are used by users. This research is also intended to determine whether the use of literary books has an effect on character education? In addition, this research is also intended to provide recommendations in order to optimize the use of literary books through digitization and e-service. The research design was designed using mixed methods. The strategy used in this research is sequential explanatory strategy. The population in this study were library visitors of FPPTI DIY members from 6 universities with 617,539 literature study programs. Sampling was done by using the stratified sampling technique. Qualitative data collection was determined by looking at gender and literature reading preferences. There were 4 people assigned from each library, consisting of 2 male visitors who like to read and 2 female visitors who don't like to read, as many as 24 informants. Data analysis was performed using SPSS for Windows version 21. The results of this study prove that the use of literary books in 6 FPPTI-DIY member libraries, that literary books are used by users when there are lectures related to literature. This was conveyed by respondents with a frequency of coming 1-2 times a week and a frequency of utilizing literary collections twice a week. Through the results of quantitative analysis by testing the hypothesis of this study proves that the quality, quantity, and visibility of books have an effect on optimizing the use of literary books through digitization and e-service on character building. The role of 6 FPPTI-DIY member libraries in optimizing the use of literary books, which is related to the importance of reading literature through digitizing literary collections and e-service is considered good enough and overcomes the limitations of book availability.
Keywords:
optimization
· literary collection
· digitization
· e-service
· national character
Introduction
Mengapa banyak petinggi negara melakukan korupsi? Apa yang terjadi dengan masyarakat kita ketika penegak hukum dengan seenaknya melakukan pelanggaran hukum? Adakah yang salah dengan pendidikan kita ketika mereka yang berpendidikan tinggi justru melakukan tindakan yang tidak terpuji dan merugikan sesama? Persoalan di atas antara lain timbul karena tidak terjadinya integrasi antara kecakapan atau kecerdasan dengan kepribadian yang berkarakter, yakni pribadi manusia yang hidup bersama dan bagi sesamanya. Salah satu cara untuk membentuk martabat bangsa adalah memperluas cakrawala bahasa dan budaya. Seperti kita tahu, karya sastra kaya akan nilai luhur, linguistik dan artistiknya (gaya bahasa, simbolisme, dsb.). Sastra merupakan sedimentasi permenungan hidup manusia: keberhasilan, kegagalan, cinta, benci, perdamaian, perang, pengampunan, balas-dendam – semuanya dibahas secara imajinatif dan kreatif. Membaca buku-buku yang berbicara tentang pengalaman hidup dan realitas sastrawi dapat menggugah nurani. Sastra itu ibarat madu murni yang sangat mahal. Meskipun manusia bisa hidup dengan berbagai sumber pemanis rasa dari gula aren sampai gula buatan, namun ketika setetes madu saja dikecap, manisnya sangat berbeda dan memberikan sentuhan tersendiri. Sebuah survei tahun 2014 tentang minat baca perempuan Amerika menunjukkan bahwa setidaknya satu buku sebulan dibaca oleh responden yang 56% diantaranya adalah anggota klub buku (http://daily.jstor.org/feature-bookclub/). Setelah bergabung dalam kelompok membaca, mereka makin rajin membaca dan mengaku menjadi lebih manusiawi dan bahagia karena membaca berbagai buku sesuai minat masing-masing, antara lain buku-buku sastra.Peran sastra tentu saja tidak dapat dibeberkan dengan bukti-bukti fisik karena sastra berbicara tentang jiwa, tentang roh, tentang sesuatu yang berhubungan dengan batin seseorang. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat yang menghargai kesenian adalah masyarakat yang berbudaya yang tentunya akan menakar dan menilai segala sesuatu tidak dengan kekerasan, tidak dengan semena-mena, dan tidak dengan kekejaman. Seni, dalam hal ini karya sastra, dapat mengubah cara pandang masyarakat dalam menyikapi sesuatu. Dalam keindahan, orang tidak mungkin berseteru. Sastra dapat menyatukan perbedaan dan menghimpun yang tercerai-berai. Membaca sastra, seperti yang dilakukan para anggota klub buku di atas membantu memperhalus jiwa. Karya sastra apabila disebarluaskan kepada masyarakat, dapat menghasilkan generasi-generasi penerus yang lebih kompeten, kritis dan kreatif, serta, yang paling utama, memiliki hati nurani. Sastra turut berperan dalam membentuk karakter suatu bangsa. Pembentukan karakter bangsa saat ini terus menerus diperjuangkan oleh semua elemen, tidak terkecuali oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi terus-menerus memperjuangkan dan menghidupi roh keunggulan akademis dan nilai-nilai kemanusiaan demi terciptanya masyarakat yang bermartabat. Terlebih bagi Indonesia yang saat ini dilanda pelbagai krisis kemanusiaan, pendidikan karakter amatlah diperlukan. Upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan insan yang memiliki karakter tentu didukung oleh berbagai pihak, tidak terkecuali perpustakaan. Perpustakaan perguruan tinggi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergabung dalam sebuah forum, yaitu Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi ndonesia (FPPTI). FPPTI DIY yang terdiri dari 81 perpustakaan baik dari Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta. Dari 81 perguruan tinggi tersebut, ada 6 perguruan tinggi yang memiliki program studi sastra. Perpustakaan yang tergabung dalam FPPTI-DIY sebagai penyedia dan pengelola informasi diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung usaha seluruh civitas academica. Selain itu, perpustakaan tersebut diharapkan dapat mengemban tugas untuk“menyediakan dan mengelola informasiyang aktual, lengkap, dan akurat, khususnya berupa bahan pustaka, baik tercetak maupun elektronik untuk mendukung kegiatan universitas dalam proses belajar mengajar, penelitian dan pengembangan ilmu, serta pengabdiankepada masyarakat”. Informasi yangdisediakan tentunya akan mencakup semua bidang baik koleksi non-fiksi maupun fiksi yang di dalamnya termuat buku-buku sastra. Di sinilah penelitian mengenai optimalisasi pemanfaatan perpustakaan oleh para pemustaka menjadi penting. Merujuk pada latar belakang, masalah yang dikaji adalah: Bagaimanakah buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY dimanfaatkan oleh pemustaka? Bagaimana pengaruh optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra pada pendidikan karakter? Bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan bukubuku sastra melalui digitasi dan eservice mengingat pentingnya membaca sastra. Penelitian ini dilaksanakan secara bertahap dan sistematis selama 3 bulan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimanakah buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY dimanfaatkan oleh pemustaka. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah pemanfaatan buku-buku sastra berpengaruh terhadap pendidikan karakter? Selain itu untuk memberi sumbang sih bagi optimalisasi penggunaan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-service. Penelitian ini perlu dilakukan karena bermanfaat bagi berbagai pihak. Selama ini, penelitian mengenai manfaat cenderung repetitif dan normatif karena (1) keterbatasan pemanfaatan teori, (2) langkanya kajian interdisipliner. Penelitian ini merupakan gabungan antara kajian sastra dan ilmu perpustakaan. Bagi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di perguruan tinggi, penelitian ini penting demi terciptanya keadilan, kesetaraan gender, dan penegakan hak azasi manusia. Bagi perpustakaan perguruan tinggi, penelitian ini mengajak sivitas akademik untuk berpikir secara cerdas dan humanis dalam menanggapi persoalan sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya yang mau tidak mau pasti berdampak pada semua lini kehidupan. Sastra merupakan sedimentasi permenungan hidup manusia. Maka, membaca buku-buku sastra kiranya membantu memecahkan masalah dengan cara merefleksikan kembali representasi dan imajinasi persoalan kemanusiaan tersebut.
Method
Rancangan penelitian ini didesain menggunakan metode campuran (mixed methods). Metode campuran (mixed methods) melibatkan penggabungan atau penyatuan penelitian dan data kualitatif serta kuantitatif dalam penelitian. (Creswell, 2016). Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatoris sekuensial (sequential explanatory strategy), di mana strategi ini biasanya lebih condong pada salah satu proses dari tipe metoda penelitian (kuantitatif atau kualitatif) dan merupakan prosedur-prosedur yang di dalamnya peneliti ingin menggabungkan atau memperluas penemuan-penemuannya dari metoda yang lain (Cresswell 2010). Model eksplanatoris sekuensial digambarkan sebagai berikut: Pada tahap awal penelitian ini dilakukan menggunakan metoda kuantitatif yaitu melalui survei menggunakan kuesioner, dilanjutkan metode kualitatif melalui wawancara mendalam pada peserta penelitian. Data kualitatif ini diperlukan untuk menggali informasi lebih lanjut seputar pemanfaatan buku-buku sastra. Pendekatan campuran antara metode kualitatif dan kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini untuk mengurangi bias dan ketidakakuratan hasil penelitian (Polkinghorne, 1995).Penelitian ini dilakukan di 6 perpustakaan anggota FPPTI DIY, yaitu Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Respati Yogyakarta, dan Universitas Sanata Dharma. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu dari tanggal 9 September 2019 sampai dengan tanggal 09 Desember 2019.Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung perpustakaan anggota FPPTI DIY dari 6 perguruan tinggi yang memiliki prodi sastra, yaitu Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Respati Yogyakarta, dan Universitas Sanata Dharma, yang terdiri dari mahasiswa. Berdasarkan data perpustakaan tahun 2018, pengunjung perpustakaan dari 6 anggota FPPTI DIY adalah sebagai berikut: Perpustakaan Universitas Gadjah Mada adalah 14.047 orang, Universitas Negeri Yogyakarta adalah 147.084 orang, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga adalah 382.807 orang, Universitas Ahmad Dahlan adalah 52.637 orang, Universitas Respati Yogyakarta adalah 7.282 orang dan Universitas Sanata Dharma adalah 13.682 Orang. Sehingga populasi dalam penelitian ini adalah jumlah pengunjung dari 6 perpustakaan yaitu sebesar 617.539 orang. Sampel ialah bagian yang mewakili populasi, yang diambil dengan menggunakan teknik-teknik tertentu (Ali, 2014). Dalam penelitian ini untuk pengambilan data kuantitatif digunakan tabel Isaac dan Michael. Berdasarkan tabel Issac dan Michael tersebut untuk sejumlah 617.539 populasi dengan tingkat kesalahan 10%, maka sampelnya sejumlah 270 orang. Penelitian ini menggunakanStratified Sampling, yakni mahasiswa sebagai pengunjung perpustakaan anggota FPPTI DIY dari 6 perguruan tinggi yang memiliki prodi sastra. Pengambilan data secara kualitatif, ditetapkan dengan melihat dari sisi gender dan dari sisi kesukaan membaca sastra. Ditetapkan 4 orang dari masingmasing perpustakaan, yang terdiri dari 2 pengunjung laki-laki yang suka membaca dan 2 pengunjung perempuan yang tidak suka membaca. Sehingga ditetapkan 24 informan dalam penelitian ini dan selanjutnya data informan akan ditampilkan dengan kode.
Result & Discussion
Penelitian tentang manfaat membaca karya sastra dan cara berpikir kritis dalam berbagai disiplin ilmu sudah banyak dilakukan (untuk menyebut diantaranya, Cai 2008, McDaniel 2004, Coiro 2003, dan Morrow 1992). Perilaku pembaca buku-buku sastra dan bagaimana mereka memperoleh akses belum banyak diteliti. Penelitian mengenai hubungan pembaca dan perpustakaan dilakukan oleh Martin yang mengkaji dinamika komunitas pembaca buku sastra di sebuah Perpustakan Federal di Amerika (1996). Di Indonesia, penelitian yang sejenis dilakukan antara lain oleh Nurmala Sari mengenai minat baca mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Patimura Ambon (2010). Dalam penelitian tersebut ditemukanbahwa “mahasiswa program studibahasa dan sastra Indonesia dan daerah membutuhkan perhatian terhadap minat baca buku pelajaran sastra. Peran dosen, orang tua, peran mahasiswa, serta lingkungan sangatpenting untuk mendukung masalah ini”.Namun penelitian tersebut tidak secara khusus menyebutkan peran perpustakaan. Jika dikaitkan dengan penelitian yang akan dilakukan, permasalahan mengenai minat baca khususnya bukubuku sastra menjadi urgent untuk mendapatkan prioritas. Perpustakaan mengambil peran penting dalam memperhatikan dan merawat minat baca. Dari segi koleksi, perpustakaan harus memperhatikan kuantitas dan kualitas buku-buku sastra. Dari sisi kenyamanan membaca, perpustakaan dapat menyediakan sarana akses terhadap koleksi sastra dan menyediakan ruang baca yang nyaman sehingga kepuasan pemustaka dapat tercapai. Jika kepuasan pemustaka tercapai, niscaya akan meningkatkan minat terhadap buku-buku yang disediakan perpustakaan. Rahayuningsih (2013) meneliti kepuasan pemustaka terhadap kualitas jasa layanan menggunakan metode libqual+TM studi kasus di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma. Terdapat 3 dimensi yang diteliti, yaitu Affect of Service (Kinerja Petugas dalam Pelayanan), Information Control(Kualitas Informasi dan Akses Informasi) dan Library as Place (Sarana Perpustakaan). Hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa skor “persepsi” sudah memenuhi “harapan minimum” namun belum memenuhi “harapan ideal”. Itu berarti bahwa “pandanganpemustaka mengenai kualitas Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD) yang mereka ketahui dan rasakan selama ini”, sudah memenuhi “tingkat minimum layananyang dapat diterima oleh respondensebagai pemustaka” namun belum memenuhi “tingkat layanan yangsesungguhnya diinginkan olehresponden sebagai pemustaka”.Berdasarkan analisis kesenjanganAdequacy Gap (AG), diketahui bahwapemustaka Perpustakaan USD “cukup puas” terhadap kualitas layananperpustakaan. Dan berdasarkan analisis kesenjangan Superiority Gap(SG), diketahui bahwa pemustaka Perpustakaan USD menilai kualitas layanan perpustakaan dalam posisi“baik” atau berada dalam batastoleransi. Dimensi yang kurang memenuhi harapan pemustaka adalahLibrary as Place diikuti Information Control, dan dimensi yang paling memenuhi harapan pemustaka adalahAffect of Service. Bertumpu dari hasil-hasil penelitian yang sudah ada, penelitian ini secara khusus mengkaji sejauh mana buku-buku sastra dimanfaatkan oleh pemustaka dan bagaimana pengaruh buku-buku sastra terhadap pendidikan karakter dan bagaimana perpustakaan mengoptimalisasi perannya untuk meningkatkan gairah baca, terutama buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY.Analisis Penggunaan Perpustakaan Anggota FPPTI-DIYPerpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian tak terpisahkan dari universitas yang melaksanakan pelayanan perpustakaan. Visi dan Misi Perpustakaan disusun dan muara akhirnya adalah untuk memberikan pelayanan prima (excellent service) sehingga tercapai kepuasan pemustaka. Di perpustakaan, layanan prima menjadi kewajiban tenaga perpustakaan. Hal itu nyata ditegaskan dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 pasal 32 ayat a yang berbunyi“Tenaga perpustakaan berkewajibanmemberikan layanan prima terhadappemustaka”. Dengan demikian tenagaperpustakaan perlu memiliki ketrampilan dan pengetahuan disamping penampilan fisik yang menyenangkan. Layanan prima tentu sarat dengan manfaat seperti yang dikatakan oleh Achmad (2012) bahwa koleksi, fasilitas dan jasa yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemustaka agar aset perpustakaan yang cukup mahal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup pemustaka. Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Universitas Negri Yogyakarta, Univeritas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Respati Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma melayani pemustaka yang bervariasi, baik dari jenis program studi, jenis kelamin, usia, daerah asal, serta kebiasaan membaca. Hal ini menuntut perpustakaan untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua jenis pemustaka. Koleksi yang disediakan oleh 6 perpustakaan tersebut baik dalam bentuk cetak maupun digital tentu saja menunjang kegiatan belajar mengajar termasuk rekreasi, sehingga perpustakaan tersebut juga menyediakan buku-buku fiksi yang dapat dinikmati oleh seluruh pemustaka. Selain itu, mereka juga memberikan berbagai macam pelayanan. Pelayanan yang diberikan selalu dikembangkan sesuai dengan dinamika yang terjadi, terlebih dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi.Hubungan Kualitas Buku dengan Optimalisasi Pemanfaatan Bukubuku Sastra melalui Digitasi dan Eservice pada pembentukan karakter bangsaKualitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-servicebagi pemustaka di 6 Perpustakaan anggota FPPTI DIY. Hasil yang sama terkait kualitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-service juga ditunjukan dari data hasil wawancara. Kualitas buku pada penelitian ini mengacu pada indikator yang berupa cakupan koleksi, variasi tema, isi, dan kemutakhiran. Pada indikator cakupan koleksi merupakan ketersediaan juduljudul buku dan jurnal yang berbentuk cetak maupun elektronik. Hasil analisis terhadap 24 informan menunjukkan bahwa buku-buku sastra dalam bentuk cetak dan elektronik dirasa cukup untuk pemustaka dalam memenuhi kebutuhan belajar dan membantu pembentukan karakter. Berikut beberapa pernyataan dari pemustaka tentang ketersediaan judul buku-buku sastra tercetak atau elektronik dalam memenuhi kebutuhan belajar dan membantu dalam pembentukan karakter.“Ya, sesuai kebutuhan dan sesuai juga dengan minat baca sastrapembentukan karakter saya”.(PSB5, 1)“Iya, karena judul buku yangtersedia membantu saya dalammengerjakan tugas”. (LTB2, 1)“Ya, karena terkadang adabeberapa judul sastra yang menggambarkan kepribadiansaya”. (PSB3, 1) Masih pada cakupan koleksi sebagai salah satu indikator kualitas buku sastra, hasil yang berbeda terjadi pada ketersediaan judul jurnal sastra dalam bentuk cetak dan elektronik. Hasil analisis terhadap 24 informan menunjukkan bahwa tidak cukup tersedia jurnal sastra dalam bentuk cetak dan elektronik. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh beberapa informan yang menyatakan bahwa:“Tidak, karena saya belummenemukan maupun membaca jurnal sastra. Harapan saya dari diri saya untuk komitmen menyukai membaca dan harapan kedua di perpustakaan tersedia jurnal sastra versihardfile”. (PTB4-3)“Tidak, Perpustakaan UINharusnya menambahketersedian jurnal”. (LSB6-3) Indikator selanjutnya yang dianalisis adalah variasi dari keberagaman tema buku-buku sastra. Hasilnya menunjukkan bahwa keberagaman tema buku-buku sastra memperkaya kebutuhan dan menambah kecintaan terhadap sastra. Dari analisis tersebut diperoleh beberapa temuan bahwa keberagaman tema dari buku-buku sastra memberikan beberapa manfaat bagi pemustaka antara lain 1) membantu membangun karakter, 2) memperkaya, menambah kecintaan buku dan tidak membuat bosan, 3) sastra dengan tema sejarah budaya bangsa meningkatkan karakter, 4) merangsang minat baca, 5) menambah referensi dan 6) menambah prespektif. Berikut pernyataan informan terkait keberagaman tema buku-buku sastra yang memperkaya dan menambah kecintaan terhadap sastra:“Ya, sangat beragam danmembuat saya ingin membacasetiap karya sastra yang ada”.(PSB2-5)“Ya, sebab pengkayaan bacaan sastra khususnya seejarah dapat meningkatkan karakter budayabangsa”. (LTB3-5)“Iya, membuat saya makin mencintai dunia sastra”. (LSB4,5) Hasil analisis yang positif juga ditujukan pada dua indikator lain bahwa perpustakaan memiliki koleksi dengan kejelasan isi dan tingkat kemutakhiran yang baik. Hal ini seperti yang disampaikan beberapa informan sebagai berikut:“Sangat jelas dan cukup up to date karena ada layanan usulan koleksi juga apabila belum adabukunya”. (LSB4, 6-7)“Jelas, karena setiap buku memiliki berbagai macam dan cukup up to date karena banyak buku-buku baru”. (LSB2, 6-7) Selain hasil analisis secara menyeluruh dari semua responden penelitian ini juga mencoba melakukan analisis pada empat tipe pemustaka. Empat tipe tersebut terbagi menjadi 1) laki-laki suka membaca (LSB), 2) lakilaki tidak suka membaca (LTB), 3) perempuan suka membaca (PSB) dan 4) perempuan tidak suka membaca (PTB). Hasil analisis menunjukkan beberapa temuan terkait dengan kualitas buku. Perbedaan dilihat dari aspek suka dan tidak membaca, walaupun keempat tipe tersebut samasama menunjukkan bahwa kualitas perpustakaan sudah baik namun bagi tipe pemustaka yang suka membaca baik laki-laki dan perempuan mereka memberikan beberapa catatan bahwa perlu terus adanya peningkatan terutama untuk menyediakan koleksi buku dan jurnal sastra lama. Sedangkan bagi tipe pemustaka yang tidak suka membaca baik laki-laki maupun perempuan mereka tidak mengetahui secara spesifik bagaimana kualitas buku atau jurnal jenis sastra karena mereka tidak mengaksesnya. Harapannya ada upaya dari perpustakaan untuk mencoba membantu meningkatkan ketertarikan membaca terhadap koleksi sastra.Hubungan Kuantitas Buku dengan Optimalisasi Pemanfaatan Bukubuku Sastra melalui Digitasi dan EserviceKuantitas Buku berpengaruh pada Optimalisasi Pemanfaatan Bukubuku Sastra melalui Digitasi dan Eservice bagi pemustaka di 6 Perpustakaan anggota FPPTI DIY.Pernyataan tersebut didukung pula dengan hasil analisis yang lebih spesifik tentang kuantitas buku pada indikator yang berupa jumlah dan penampilan koleksi. Jumlah koleksi merupakan kecukupan jumlah judul buku-buku sastra dan kecukupan jumlah eksemplar buku-buku sastra. Berdasarkan hasil analisis data wawancara terhadap 24 responden diketahui bahwa jumlah judul dan eksemplar buku-buku sastra untuk memenuhi kebutuhan belajar dan pembentukan karakter sudah dianggap cukup. Berikut beberapa pernyataan informan tentang kuantitas dilihat dari sudut pandang jumlah koleksi.“Cukup membantu saya dalammengerjakan tugas”. (LTB2-8)“Sangat mencakup kebutuhanbelajar dan dalam pembentukankarakter”. (PSB2-8)“Jumlah eksemplar buku-buku sastra sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan belajarsaya”. (LTB4-9) Sedangkan penampilan koleksi adalah kelengkapan halaman bukubuku sastra dan kondisi fisik bukubuku sastra. Hasil analisis terhadap indikator ini menunjukkan bahwa baik kelengkapan maupun kondisi fisik dari buku sastra yang ada cukup lengkap dan terjaga dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar dan pembentukan karakter bagi pemustaka. Hasil analisis data tersebut juga didukung oleh kutipan wawancara berikut ini:“Sejauh saya membacasemuanya lengkap dari bukuyang berbagai seri”. (LSB1-10)“Sejauh ini baik, karena fisiknyamembuat saya tidak bosanuntuk membaca”. (LTB1-11) “Cukup baik, beberapa coverbuku ada yang rusak namunbanyak juga yang sangat baik”.(LSB5-11) Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara menunjukkan bahwa kuantitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-servicedengan kuantitas buku yang mengacu pada indikator berupa jumlah dan penampilan koleksi. Analisis kuantitas juga dilakukan pada setiap tipe pemustaka. Analisis ini menunjukkan beberapa temuan, dari keempat tipe pemustaka tipe perempuan suka baca menjadi tipe yang paling detail mengetahui kondisi kuantitas dari buku dan jurnal sastra. Tipe pemustaka perempuan suka baca menyatakan bahwa secara kuantitas perpustakaan sudah dengan baik mengakomodir ketersediaan dari jumlah buku namun kurang memperhatikan penampilan dari koleksinya. Menurut tipe pemustaka ini beberapa buku yang kondisi cover buku buruk dan mengalami kehilangan beberapa halaman tidak dicoba untuk diperbaiki dan ditarik untuk digantikan dengan koleksi yang terbaru. Temuan berikutnya berasal dari tipe pemustaka yang tidak suka membaca baik responden laki-laki maupun perempuan bahwa mereka hanya mengetahui kuantitas buku untuk jenis buku dari bidang studi yang mereka ambil sedangkan untuk jenis sastra mereka tidak megetahui secara pasti.Hubungan Visibilitas Buku dengan Optimalisasi Pemanfaatan Bukubuku Sastra melalui Digitasi dan EserviceVisibilitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan bukubuku sastra melalui digitasi dan eservice bagi pemustaka di 6 Perpustakaan anggota FPPTI DIY. Hasil analisis ini didukung pula dengan hasil analisis kualitatif melalui wawancara dengan 24 informan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa visibilitas akses yang berupa kenyamanan, kemudahan, kecepatan dan peralatan mengakses informasi mendukung optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-service.Kenyamanan mengakses informasi adalah kondisi ketiadaan hambatan dalam mengakses informasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hambatan dalam mengakses buku-buku sastra di perpustakaan. Ada kemudahan yang paling sering diungkapkan oleh pemustaka yaitu mudah dalam mencari karena tersedia komputer beserta jaringan internet, terdapat papan informasi yang jelas dan jumlah eksemplar buku tersedia banyak. Berikut beberapa kutipan wawancara yang mendukung hasil temuan tersebut:“Tidak mengalami hambatan untuk mengakses di perpus”.(PSB1-12)“Tidak ada, karena tersedia jaringan internet”. (LSB3-12)“Tidak, karena sudah ada papaninformasi yang jelas”. (PSB3-12) Kemudahan mengakses informasi terjadi jika katalog yang tersedia mudah dipahami dan digunakan pemustaka. Berdasarkan hasil analisis wawancara menunjukkan bahwa katalog digital yang tersedia cukup mudah dipahami ketika digunakan untuk mencari informasi. Kemudahan tersebut dirasakan pemustaka ketika proses penggunaan katalog melalui komputer. Dengan berbagai fitur pencarian sehingga pemustaka cukup menuliskan kata kunci dan akan muncul keterangan lokasi dan ketersediaan buku dengan detail.“Membantu sekali, karena sayalebih mudah menemukan suatujudul buku”. (LTB2-13)“Sangat mudah, karenakomputer yang disediakan memuat informasi pencarian buku, Cuma ada beberapa kekurangan yaitu adanya buku tidak sesuai katalog digital”.(PTB4-13)“Katalog digital sangatbermanfaat dan kemudahannyameringankan”. (PTB5-14) Indikator ketiga untuk visibilitas akses berupa kecepatan mengakses informasi. Kecepatan akses informasi merupakan keakuratan data pada sistem penelusuran informasi dan keteraturan serta kebenaran susunan koleksi di rak. Hasil analisis melalui wawancara untuk indikator ini menunjukkan bahwa sistem penelusuran informasi perpustakaan cukup akurat dan teratur. Namun hasil tersebut memberikan beberapa catatan bahwa perlu adanya peningkatan dan perbaikan karena ada beberapa kasus seperti nomor rak sering hilang atau copot yang perlu segera diganti agar tidak menyusahkan pemustaka. Berikut beberapa kutipan wawancara yang mendukung hasil temuan tersebut:“Sangat teratur, karena penetapan buku sesuai urutandan rapi”. (LTB2-15)“’Keteraturannya terkadangmembuat saya kebingungan karena terlalu banyak koleksisastra”. (PSB2-15)“Koleksi tertata rapi dan sesuaidi rak rak memudahkan dalampencarian”. (LSB4-16) Indikator visibilitas yang terakhir berupa peralatan mengakses informasi ditunjukan dengan ketersediaan komputer dan hotspotuntuk mengakses informasi. Berdasarkan analisis kualitatif melalui wawancara menyatakan bahwa ketersediaan komputer bersertahotspot telah memadai. Hal ini didukung dengan pernyataan dalam kutipan wawancara berikut:“Sangat memadai, karena sayabisa memanfaatkan fasilitas lain di perpustakaan menggunakankomputer”. (LTB2-17)“Cukup baik. Tidak pernah adamasalah terkait dengan akses internet”. (LTB3-18) “Cukup baik, namun perluditingkatkan kecepatanaksesnya”. (PSB3-18) Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara menunjukkan bahwa visibilitas akses berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra melalui digitasi dan e-service. Dengan visibilitas akses yang mengacu pada indikator berupa kenyamanan, kemudahan, kecepatan dan peralatan mengakses informasi. Pemustaka mengalami kondisi ketiadaan hambatan dalam mengakses buku-buku sastra di perpustakaan karena tersedia komputer beserta jaringan internet, terdapat papan informasi yang jelas dan jumlah eksemplar buku tersedia banyak. Kemudahan mengakses informasi juga dirasakan pemustaka dengan disediakannya katalog komputer. Kecepatan mengakses Informasi dirasakan pemustaka dengan adanya sistem penelusuran informasi perpustakaan cukup akurat dan teratur. Dan dari sisi peralatan mengakses informasi ditunjukan dengan ketersediaan komputer dan hotspotuntuk mengakses informasi secara memadai.
Conclusion
Penelitian ini secara khusus mengkaji sejauh mana buku-buku sastra dimanfaatkan oleh pemustaka, bagaimana pengaruh kualitas, kuantitas dan visibilitas buku-buku sastra terhadap pendidikan karakter dan bagaimana perpustakaan mengoptimalisasi perannya untuk meningkatkan gairah baca, terutama buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY. Berdasarkan hasil analisis penelitian, dapat disimpulkan bahwa: 1. Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY, bahwa buku-buku sastra dimanfaatkan oleh pemustaka ketika ada tugas kuliah yang berkaitan dengan sastra. Hal ini disampaikan oleh responden dengan frekuensi kedatangan 1 - 2 kali seminggu dan frekuensi pemanfaatan koleksi sastra 2 kali seminggu. Pemustaka memperoleh sumber bacaan dari toko buku, baru setelahnya secara berurutan perpustakaan, teman, dan media daring. Pemustaka yang senang membaca menjadikan toko buku sebagai sumber utama yaitu toko buku lebih cepat dalam mendapat rilis atau menyediakan terbitan karya sastra terbaru dalam jumlah yang besar. Sedangkan hal yang berbeda dilakukan oleh responden dengan frekuensi kedatangan lebih dari 2 kali seminggu, responden jenis ini memanfaatkan buku-buku sastra tidak hanya sekedar untuk memenuhi tugas kuliah namun juga karena pada dasarnya mereka tertarik dengan sastra. 2. Terdapat tiga hal yang berimplikasi terhadap penggunaan buku-buku sastra di 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY yaitu kualitas, kuantitas dan visibilitas. Melalui hasil analisis kuantitatif dengan menguji hipotesis penelitian ini membuktikan bahwa kualitas, kuantitas, dan visibilitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku sastra melalui digitasi dan e-service pada pembentukan karakter. 3. Peran 6 Perpustakaan anggota FPPTI-DIY dalam mengoptimalisasi pemanfaatan buku-buku sastra, yaitu terkait dengan pentingnya membaca sastra melalui digitasi koleksi sastra dan e-service sudah dianggap cukup baik dan mengatasi keterbatasan dari ketersediaan buku. Pemustaka mengalami kondisi ketiadaan hambatan dalam mengakses buku-buku sastra di perpustakaan karena tersedia komputer beserta jaringan internet, terdapat papan informasi yang jelas dan jumlah eksemplar buku tersedia banyak. Kemudahan mengakses informasi juga dirasakan pemustaka dengan disediakannya katalog komputer. Kecepatan mengakses Informasi dirasakan pemustaka dengan adanya sistem penelusuran informasi perpustakaan cukup akurat dan teratur. Dan dari sisi peralatan mengakses informasi ditunjukan dengan ketersediaan komputer dan hotspot untuk mengakses informasi secara memadai.SaranBerdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan, peneliti memberikan saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan pijakan bagi 6 perpustakaan anggota FPPTI-DIY yang diteliti.1. Dari 270 responden terdapat 137 responden (50,7%) berkunjung memanfaatkan jasa dan fasilitas perpustakaan sebanyak 1 - 2 kali, mereka lebih senang memperoleh informasi melalui toko buku. Berdasarkan kondisi tersebut, maka pihak perpustakaan perlu melakukan berbagai upaya upaya yaitu: a. Perpustakaan meningkatkan motivasi pemustaka dengan berbagai kegiatan yang lebih beragam dan menarik sehingga pemustaka tidak datang ketika ada tugas. b. Perpustakaan lebih aktif mengunakan berbagai media promosi untuk memberikan informasi kepada pemustaka terkait koleksi terbaru yang dimiliki perpustakaan sehingga menarik minat pemustaka datang ke perpustakaan.2. Melalui hasil analisis kuantitatif dengan menguji hipotesis penelitian ini membuktikan bahwa kualitas, kuantitas, dan visibilitas buku berpengaruh pada optimalisasi pemanfaatan buku sastra melalui digitasi dan e-service pada pembentukan karakter. Sementara hasil analisis data kualitatif, ada beberapa masukan terkait kualitas, kuantitas dan visibilitas koleksi sastra dalam rangka pembentukan karakter bangsa. Untuk itu pihak perpustakaan perlu melakukan berbagai upaya yaitu: a. Terkait dengan kualitas koleksi, perpustakaan diharapkan untuk: 1) Menambah ketersediaan judul jurnal sastra dalam bentuk cetak dan elektronik untuk memenuhi kebutuhan pemusaka dalam rangka pembentukan karakter. 2) Menambah keberagaman tema buku-buku sastra untuk memperkaya kebutuhan dan menambah kecintaan terhadap sastra sehingga dapat membantu pembentukan karakter. 3) Selalu meng-update koleksi sastra baik isi dan kemutakhirannya. 4) Menyesuaikan jumlah judul dan eksemplar buku-buku sastra untuk memenuhi kebutuhan belajar dan pembentukan karakter dengan jumlah pemustaka yang menggunakan, sehingga pemustaka merasa tercukupi kepuasan dan harapannya. b. Terkait dengan kuantitas koleksi, perpustakaan diharapkan untuk: 1) Memperhatikan kelengkapan maupun kondisi fisik dari buku sastra yang ada dengan memperbaiki buku yang rusak dan dan using. c. Terkait dengan visibilitas koleksi, perpustakaan diharapkan untuk: 1) Mempertahankan ketersediaan komputer beserta jaringan internet untuk mengakses koleksi. 2) Selalu melakukan pemeliharaan terhadap katalog digital yang tersedia sehingga memberikan kepuasan kepada pemustaka saat mengakses informasi. 3) Sistem penelusuran informasi di rak juga perlu diperhatikan agar pengguna mudah mencari koleksi yang dibutuhkan.