Kembali
16
1
2022 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 14 · 1 ISSN 2549-8606

Strategi Penelusuran Informasi di Perpustakaan (Studi di Perpustakaan IAIN Manado)

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang menyediakan berbagai informasi baik yang tercetak maupun noncetak. Perpustakaan terlebih khusus perpustakaan perguruan tinggi sudah seharusnya menyediakan fasilitas yang baik bagi pengunanya. Beragam informasi telah tersedia untuk menunjang proses belajar mengajar. Oleh sebab itu keterampilan serta kemampuan dari pemustaka sangat diharapkan agar dapat memanfaatkan semua informasi yang telah disediakan. Penelitian ini akan membahas tentang strategi apa saja yang dilakukan pemustaka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan agar dapat menyelesaikan tugas yang diberikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dimana fokus utama dari metode penelitian ini adalah menjelaskan objek penelitiannya, sehingga peristiwa dan fenomena yang terjadi dapat terjawab. Hasil dari penelitian ini secara keseluruhan sesuai dengan teori yang digunakan yaitu teori David Ellis, Cox dan Hall. Sebagian besar mahasiswa melakukan tahapan-tahapan dalam teori tersebut yaitu starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Namun ada beberapa tahap yang jarang dilakukan oleh mahasiswa sebagai pemustaka. Diantaranya adalah mencari refensi lain selain referensi utama.

Abstract

A library is an institution that provides a variety of information, both printed and non-printed. Libraries, especially college libraries, should provide good facilities for their users. Various information is available to support the teaching and learning process. Therefore, the skills and abilities of the users are expected to be able to take advantage of all the information that has been provided. This study will discuss what strategies are used by users to get the information needed in order to complete the given task. This study uses a qualitative descriptive research method where the main focus of this research method is to explain the object of research, so that events and phenomena that occur can be answered. The results of this study as a whole are in accordance with the theory used, namely the theory of David Ellis, Cox and Hall. Most of the students carried out the stages in the theory, namely starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, and ending. However, there are several stages that are rarely carried out by students as users. Among them is looking for other references besides the main reference.
Keywords: startegi · penelusuran informasi · perpustakaan

Introduction

Di era modern saat ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebutuhan kita terhadap informasi juga sangat penting untuk menunjang berbagai aspek kehidupan. Hal ini membuat kita menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan informasi itu sendiri. Sebagai sebuah lembaga yang berfungsi sebagai tempat penyedian informasi, perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi bagi pemustaka. Dalam Undang-Undang Dasar pasal 3 Nomor 43 tahun 2007 menyatakan bahwa fungsi perpustakaan adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Sebagai sarana penyedia informasi perpustakaan dituntut untuk menyediakan berbagai macam informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Maraknya infromasi yang beredar menjadi sebuah masalah dalam proses menemukan kembali informasi yang ada. Terelebih jumlah informasi yang ada kini bisa mencapai jumlah jutaan hingga milyaran. Fenomena ini menjadikan kita membutuhkan sebuah strategi yang tepat untuk menemukan informasi yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan kita. Melandasi hal di atas, maka lahirlah sebuah metode yang dinamakan dengan strategi temu kembali informasi. Yang mencakup di dalamnya salah satunya adalah mengenai strategi penelusuran informasi. Temu balik informasi merupakan sebuah istilah yang mengacu pada temu kembali dokumen atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakaan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan. Perpustakaan Instutut Agama Islam Negeri Manado adalah perpustakaan yang berada dibawah naungan kampus Institut Agama Islam Negeri Manado yang berlokasi di Jl. S.H. Sarundajang Ringroad Kota Manado Sulawesi Utara. Sebagai sebuah perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan IAIN Manado berkewajiban untuk menyediakan akses informasi bagi pemustaka. Hal ini untuk menunjang berbagai proses kegiatan terutama proses kegiatan belajar mengajar dalam kampus. Hal ini menjadikan perpustakaan harus memberikan kemudahan akses dalam proses pencarian informasi. Penelitian ini akan membahas tentang bagaimana cara yang digunakan oleh pemustaka untuk menemukan informasi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Serta strategi apa yang digunakan oleh pemustaka dalam menemukan kembali informasi di perpustakaan. B. Landasan Teori Berbagai jenis informasi telah tersedia dan bisa kita dapatkan melalui banyak sumber seperti di perpustakaan maupun yang tersedia di media, baik media cetak maupun yang tidak tercetak (online). Salah satu sarana yang tersedia untuk mengakses informasi adalah internet. Internet merupakan sebuah wadah yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dengan cara menggunakan fasilitas penelusuran yang telah disediakan mesin pencari. Hal ini perlu kita manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk menunjang kebutuhan terhadap informasi. Dalam proses penelusuran inforamasi, diperlukan strategi agar supaya bida didapatkan informasi yang sesuai dengan yang diperlukan. Pemustaka harus mempunyai strategi yang baik untuk menemukan informasi. Karena tidak semua informasi yang beredar dapat diambil sebagai informasi yang valid. Biasanya seseorang yang mempunyai kemampuan mencari informasi akan memiliki strategi dalam pelaksanaan proses pencariannya. Kemampuan yang dimiliki antara lain adalah kemampuan dalam mengidenntifikasi, mencari, menemukan, mengevaluasi dan menyeleksi serta menggunakan informasi secara efektif yang biasa disebut information literacy.1 Strategi penelusuran informasi adalah suatu ilmu yang diperlukan pada sistem temu kembali informasi agar dapat mencapai tujuan dan untuk mencapai efektifitas dalam kegiatan penelusuran. Strategi penelusuran informasi juga sebagai suatu ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat dipelajari untuk menemukan informasi. Strategi penelusuran adalah penelusuran yang dilakukan secara sistematis, dengan cara memakai kata kunci, frase, subjek dokumen, menggunakan logika Boolean, serta memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia pada masing-masing tepat penyedia informasi seperti perpustakaan dan lain sebagainya. 2 Dalam Kamus Kepustakawanan Indonesia, Lasa HS mengatakan, penelusuran informasi adalah: Penelusuran informasi pada basis data perlu memahami lingkup bidang, seleksi pada sumber-sumber basis data, membuat search statement dengan Boolean, traction dan proximity, menghilangkan publikasi dan mengevaluasi proses penelusuran.3 Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami bahwa strategi penelusuran informasi adalah suatu ilmu yang dapat dipelajari untuk menunjang kebutuhan manusia terhadap berbagai informasi dalam segala aspek kehidupan, serta menjadikan seseorang memilki kemapuan yang dapat ditingkatkan dalam mengakses informasi. Dalam pelaksanaannya, penelusuran informasi dapat dilakukan dengan menggunakan katalog manual, seperti menggunakan kartu katalog, bibliografi, indeks dan absrtak. Dan juga dapat dilakukan secara online melalui media digital atau elektornik seperti OPAC, jurnal elektronik, serta informasi lainnya yang tersedia secara elektronik dan digital. Pada katalog manual penelusuran dimulai dengan memilih laci katalog yang memuat nama pengarang, judul atau subjek karya tersebut. Sedangkan untuk penggunaan katalog online atau biasa disebut dengan online acces catalog (OPAC) pada dasarnya sama dengan penggunaan katalog manual. Penelusuran dapat dilakukan dengan cara mencari nama pengarang, judul atau subjek karya yang ditelusur. Perbedaannya terletak pada alat atau teknologi yang digunakan dan cara menggunakan alat tersebut.

Method

Penulisan penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono5, metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat post positivisme yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan data yang dilakukan secara trigulasi (gabungan). Jenis penelitian deskriptif kualitatif merupakan gabungan dari penelitian deskriptif dan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang menggambarkan karakteristik populasi atau fenomena yang sedang diteliti. Fokus utama dari metode penelitian ini adalah menjelaskan objek penelitiannya, sehingga peristiwa dan fenomena yang terjadi dapat terjawab.6 Berbeda dengan metode penelitian lain yang cenderung lebih fokus pada pembahasan kenapa suatu peristiwa atau fenomena bisa terjadi, metode penelitian deskriptif ini lebih kepada menggambarkan objek penelitian dengan detail. Metode penelitian adalah jenis penelitian yang temuannya bukan diperoleh dari bentuk hitungan. Metode ini dilakukan dengan cara memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa berupa tingkah laku manusia dalam situasi tertentu berdasarkan perspektif peneliti itu sendiri.7 Penelitian ini bersifat diskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan memanfaatkan landasan teori sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan bertujuan untuk menggambarkan, melukiskan, menerangkan, menjelaskan dan menjawab secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok atau suatu kejadian.

Discussion

Perpustakaan sebagai pusat informasi dan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai penyalur dan penyedia informasi seharusnya menyediakan sarana penelusuran informasi yang optimal kepada pemustaka itu sendiri. Dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini, perpustakaan juga telah melakukan inovasi mengikuti perkembangan yang ada. Salah satu contohnya adalah perpustakaan telah menggunakan OPAC (Online Public Acces Catalog) sebagai sarana penelusuran informasi. Salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang menggunakan OPAC sebagai sarana penelusuran informasi adalah peprustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado. Dengan adanya OPAC pemustaka akan sangat terbantu untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan baik itu berupa buku, jurnal, artikel maupun sumber informasi lainnya yang tersedia di perpustakaan. Secara umum terdapat beberapa model dalam penelusuran informasi, yaitu: penelusuran informasi secara konvensional dan penelusuran informasi secara digital. Penelusuran informasi secara konvensional dilakukan dengan cara manual seperti menggunakan kartu katalog, bibliografi, indeks dan abstrak. Sedangkan penelusuran secara digital adalah penelusuran yang dilakukan melalui media digital seperti melalui OPAC (Online Public Acces Catalog), dan lain sebagainya yang memanfaatkan media elektronik. Dalam penelitian ini penulis menggunakan model strategi penelusuran informasi yang dikemukakan oleh David Ellis, Cox dan Hall sebagaimana yang dikutip Nelisa, adalah starting, chaining, browsing, ifferentiating, monitoring, extracting, verifying dan ending. Starting. Tahap ini menjadi yang pertama dilakukan dalam proses pencarian informasi. Pada tahap ini pemustaka memperoleh informasi awal mengenai topik yang hendak dibahas dan diteliti. Pemustaka dapat memperoleh informasi ini dari berbagai sumber, diantaranya teman ataupun dosen maupun orang-orang disekitarnya. Pemustaka dalam hal ini merupakan mahasiswa yang menjadi pengguna terbanyak perpustakaan menggunakan informasi awal yang diperoleh untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Apabila pemustaka mengalami kesulitan dalam proses pencarian informasi, biasanya pemustaka akan mendatangi pustakawan yang bertugas di perpustakaan. Karena pemustaka menganggap pustakawan adalah orang yang paling kompeten untuk ditanya, serta pustakawan memilki pengetahuan tentang informasi yang dicari dan dapat membantu. Keberadaan OPAC di perpustakaan perguruan tinggi turut menjadi faktor penyebab mudahnya penelusuran dan pencarian informasi. Namun demikian sumber informasi terbanyak yang disediakan perguruan tinggi hanya berupa buku saja. Sementara untuk sumber informasi lain seperti artikel dan jurnal belum dikelola dengan baik sehingga informasi yang didapat masih belum bisa memenuhi kebutuhan informasi secara sempurna. Chaining. Pada tahap yang kedua ini pemustaka menemukan sumber rujukan lanjutan menggunakan informasi yang terdapat pada daftar referensi inti. Pemustaka juga akan mencari referensi lain yang relevan dengan referensi utama. Mahasiswa sebagai pemustaka cenderung mencari melalui bibliografi yang terdapat pada referensi inti. Dalam tahapan ini terdapat cara untuk melacak informasi yaitu mencari melalui daftar referensi utama perpustakaan dan melalui penggunaan penulis dalam daftar referensi inti. Browsing. Tahap ini merupakan tahapn lanjutan dari informasi tentang referensi yang sebelumnya telah diperoleh. Internet merupakan sumber utama yang digunakan pemustaka untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Internet dianggap mampu memberikan jawaban paling cepat terhadap berbagai masalah dan pertanyaan dalam tugas akademik mahasiswa karena dapat diakses kapnpun dan dimanapun dengan perangkat teknologi informasi berupa handphone atau smartphne. Sayangnya hal ini tidak menjamin apakah informasi yang diperoleh melalui cara ini adalah informasi yang valid dengan sumber yang jelas atau tidak. Oleh sebab itu, dengan banyaknya informasi yang beredar saat ini, pemustaka harus bijaksana dalam menyeleksi informasi khususnya untuk kepentingan kuliah. Namun demikian buku di perpustakaan juga merupakan sumber yang biasa dirujuk oleh pemustaka. Termasuk juga berbagai ensiklopedia, kamus dan lain sebagainya. Akan tetapi saat ini tidak begitu banyak pemustaka yang menggunakan sumber ini sebagai rujukan utama dalam pembuatan tugas mereka. Berdasarkan hal ini dapat dipahami bahwa sebagian besar pemustaka yang dalam hal ini mahasiswa menggunakan berbagai sumber informasi dalam menyelesaikan tugas akademik mereka. Namun hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan koleksi perpustakaan untuk dijadikan referensi utama tugas mereka. Differentiating. Pemustaka memilih sumber informasi berdasarkan kualitas rujukan. Pemustaka akan mengambil referensi yang relevan dari semua referensi yang dikumpulkan. Pada tahap ini pemustaka membedakan sumber informasi berdasarkan ketersediaan subjek yang diinginkan. Kredibilitas juga menjadi salah satu pertimbangannya. Sejauh mana sumber informasi dapat dipercaya. Akan tetapi tahap ini juga tidak banyak dilakukan oleh mahasiswa. Biasanya mahasiswa langsung menggunakan sumber informasi yang didapat tanpa mengumpulkan semua sumber yang relevan. Monitoring. Yaitu pemantauan kegiatan memantau perkembangan dengan berkonsentrasi pada beberapa sumber yang terpilih sesuai dengan bidang yang dibutuhkan dalam peneusurannya. Dalam hal ini pemustaka berkomunikasi atau sharing dengan teman atau dosen agar dapat memecahkan persoalan dan menjawab pertanyaan. Pada tahap ini pemustaka juga menggunakan katalog dan jurnal perpustakaan. Jurnal maupun artikel adalah suatu penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan penelitian yang dilakukan dengan studi yang mendalam serta menggunakan referensi yang relevan tentang sebuah topik. Extracting. Tahap ini biasa disebut sebagai tahap merangkum.melalui tahap ini dapat diketahui strategi pemustaka ketika menggunakan sumber informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi masing-masing. Tahap ini membutuhkan keahlian pemustaka dalam mengekstrak informasi dari berbagai sumber. Pemustaka mencari informasi dari semua sumber informasi yang dianggap sesuai dengan topik dan masalah yang dibahas. Namun yang melakukan tahap ini hanyalah sebagian kecil dari pemustaka. Hal ini berarti sebagian besar mahasiswa atau pemustaka hanya menggunakan informasi yang didapat dari sumber informasi inti tanpa mencari dari sumber yang lain. Padahal tahap ini adalah tahap yang cukup penitng dimana mahasiswa menuliskan kembali semua informasi yang didapat kemudian dikembangkan sesuai dengan pemikiran dan dikaitkan dan disinkronisasikan dengan masalah atau topik yang dibahas. Verifying. Pada tahap ini pemustaka melakukan pengkajian ulang atas informasi yang telah diperoleh untuk memastikan informasi yang didapatkan sesuia dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Akan tetapi jika tahap ini tidak dilakukan, akan membuat hasil dari tugas yang dibuat menjadi tidak memuaskan dan kurang berkualitas. Karena bisa dikatakan pemustaka tidak memahami tugas yang telah dibuat. Ending. Merupakan tahap akhir dari sebuah penelusuran informasi. Pada tahap ini dapat diketahui apakah kualitas dari tugas yang diberkan memuaskan atau tidak. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa model penelusuran informasi dari David Ellis, Cox dan Hall sesuai dengan kegiatan penelusuran informasi di perpustakaan IAIN Manado. Ada beberapa tahapan yang oleh sebagian mahasiswa diabaikan dan tidak dilakukan. Diantaranya adalah mencari referensi lain selain referensi utama. Padahal referensi lain yang relevan akan sangat berpengaruh dalam proses penyelesaian serta hasil akhir dari tugas yang diberikan. Kemudian tahap merangkum dan mengumpulkan semua informasi juga masih jarang dilakukan oleh mahasiswa. Tahap ini seharusnya dilakukan karena dengan adanya raangkuman semua referensi yang terkait akan memperkaya dan dapat mengembangkan tulisan mahasiswa. Selain itu, pada tahap ini juga akan melatih pemahaman mahasiswa terhadap informasi yang diperoleh.

Conclusion

Dalam proses penelusuran informasi perlu adanya strategi yang dipahami oleh pemustaka yang dalam hal ini adalah mahasiswa. Mahasiswa perlu melakukan tahapan-tahapan yang benar agar informasi yang didapat sesuai dengan kebutuhan dan relevan dengan topik yang dibahas sehingga akan dapat dikembangkan dalam bentuk tulisan. Namun demikian, perpustakaan juga harus sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka. Dalam artian perpustakaan juga perlu menyediakan sumber informasi yang lengkap dan dapat diakses dengan mudah. Seperti menyediakan sumber informasi berupa buku, kamus, ensiklopedia, artikel maupun jurnal baik yang tercetak maupun informasi yang dapat diakses secara online yang disediakan media elektronik. Perpustakaan sebagai tempat penyedia informasi perlu menyediakan sarana temu kebali informasi yang cukup untuk berbagai jenis informasi dari berbagai sumber. Sehingga pemustaka dapat memanfaatkan semua fasilitas yang telah disediakan dengan maksimal. Hal ini tentunya berdampak pada kelangsungan proses belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan instansi terkait.