Kembali
16
1
2017 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 1 · 1 ISSN 2579-3160

PROFIL PEMUSTAKA LAYANAN PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN IAIN IMAM BONJOL PADANG

Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Penelitian ini berangkat dari kesadaran bahwa perpustakaan merupakan instrumen vital bagi sebuah perguruan tinggi. Salah satu unsur penting dalam mengukur kualitas perpustakaan adalah layanan yang diberikan pada perpustakaan tersebut. Lebih jauh penelitian ini bertujuan untuk : (1) Memperoleh gambaran tentang perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. (2) Memperoleh gambaran tentang berbagai layanan yang dijalankan pada Fakultas Ushuluddin. (3) Memperoleh gambaran profil pengguna layanan perpustakaan di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Mengingat data-data skunder digunakan sebagai sumber utama yang digunakan dalam penelitian yang dijalankan. Kemudian sebagai nara sumber / informan dalam penelitian ini adalah : (1) koordinator pertpustakaan Fakultas Ushuluddin. (2) staf perpustakaan di Fakultas Ushuluddin. (3) Mahasiswa pemustaka perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Teknik pengumpulan data adalah melalui studi dokumentasi dan wawancara untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari berbagai narasumber / informan dalam penelitian yang dijalankan. Teknik pengalisaan data adalah dengan menggunakan alat bantu statistik, yakni dengan menggunakan analisa deksriptif kualitatif. Hasil penelitian ini mendapati : (1) Terdapat tiga layanan utama bagi pemustaka yang diberikan oleh perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang : (a) layanan sirkulasi (b) layanan referensi (c) layanan internet. (2) Adanya peningkatan jumlah yang signifikan dari pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang antara tahun 2015 sampai dengan 2016. (3) Pemustaka yang menggunakan layanan perpustakaan Fakulas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol padang umumnya adalah laki-laki pada tahun 2015. Sedangkan pemustaka perempuan mendominasi pengguna perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang tahun 2016.. (4) Pemustaka yang menggunakan perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang umumnya berasal dari Jurusan Psikologi Islam.

Abstract

This research departs from the awareness that libraries are vital instruments for a tertiary institution. One important element in measuring the quality of a library is the services provided at the library. Furthermore, this study aims to: (1) Obtain an overview of the Ushuluddin Faculty IAIN Imam Bonjol Padang library. (2) Obtaining an overview of the various services carried out at the Faculty of Usuluddin. (3) Obtaining an overview of the library service user profile at the Faculty of Usuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. This research uses a qualitative approach. Remember secondary data is used as the main source used in research carried out. Then as resource persons / informants in this study are: (1) library coordinator of the Faculty of Usuluddin. (2) library staff in the Faculty of Usuluddin. (3) Library library students of the Ushuluddin Faculty IAIN Imam Bonjol Padang. Data collection techniques are through documentation studies and interviews to supplement information obtained from various informants / informants in the research conducted. The data scaling technique is to use statistical tools, namely by using qualitative descriptive analysis. The results of this study found: (1) There are three main services for users provided by the Ushuluddin Faculty IAIN Imam Bonjol Padang library: (a) circulation services (b) reference services (c) internet services. (2) There is a significant increase in the number of users at the Faculty of Islamic Studies Imam Bonjol Padang IAIN between 2015 and 2016. (3) Those who use library services of the Faculty of Islamic Studies Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang are generally male in 2015. While female visitors dominates the users of the Faculty of Usuluddin IAIN Imam Bonjol Padang in 2016 .. (4) Users who use the library of the Usshuluddin IAIN Faculty of Padang generally come from the Department of Islamic Psychology.
Keywords: Library and Library Service

Introduction

Suatu Perpustakaan1 Perguruan Tinggi diarahkan sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan informasi civitas akademik, khususnya mahasiswa. Di perpustakaan, mahasiswa dapat mencari informasi sesuai dengan kebutuhan dan bidang ilmu mereka masing-masing2 . Menurut SjahrialPamuntjak3 perpustakaan perguruan tinggi adalah “ perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi, baik yang berupa Perpustakaan Universitas, Perpustakaan Fakultas, Perpustakaan Akademik, dan Perpustakaan Sekolah Tinggi”. Sedangkan menurut Fahmi4 (2009:1) Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan, “ sebuah sarana penunjang yang didirikan untuk mendukung kegiatan civitas akademik, di mana Perguruan Tinggi itu berada”. Senada dengan kedua pendapat di atas Yuven (2010:1) menyatakan bahwa, Perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT) merupakan unit pelaksana teknis (UPT) yang bersama-sama dengan unit lain melaksanakan Tri Dharma PT (Perguruan Tinggi) melalui menghimpun, memilih, mengolah, merawat serta melayankan sumber informasi kepada lembaga induk khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya5 Ketiga pendapat di atas pada dasarnya mengandung pengertian yang sama, bahwasanya Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang berada di bawah naungan suatu Perguruan Tinggi. Perpustakaan didirikan dengan tujuan untuk membantu dan mendukung Perguruan Tinggi tersebut dalam memenuhi kebutuhan informasi ilmiah sivitas akademika di Perguruan Tinggi tersebut. Karena tidak dipungkiri lagi bahwa Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi yang selalu berupaya untuk menjawab semua kebutuhan dan permintaan informasi pengguna perpustak. Perguruan Tinggi tentu memiliki alasan dan tujuan yang mendasar untuk mendirikan perpustakaan di bawah naungannya. Tujuan itulah yang menjadi sasaran yang harus dicapai oleh Perguruan Tinggi tersebut. Menurut SjahrialPamuntjak6 , “Tujuan dari Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah membantu Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam menjalankan program pengajaran”. Sedangkan dalam Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi7 disebutkan bahwa: sebagai unsur penunjang perguruan tinggi, perpustakaan merumuskan tujuannya sebagai berikut: (1) Mengadakan buku, dan pustaka lainnya untuk dipakai oleh dosen, mahasiswa dan staf lainnya bagi kelancaran program pengajaran di perguruan tinggi. (2) Mengadakan buku, jurnal dan pustaka lainnya yang diperlukan untuk penelitian sejauh dana tersedia. (3) Mengusahakan, menyimpan dan merawat pustaka yang bernilai sejarah yang dihasilkan oleh sivitas akademika. (4) Menyediakan sarana bibliografi untuk menunjang pemakaian pustaka (5) Menyediakan tenaga yang cakap serta penuh dedikasi untuk melayani kebutuhan pengguna perpustakaan, dan bila perlu, mampu memberikan pelatihan pengguna pustaka. 6. Bekerjasama dengan perpustakaan lain untuk mengembangkan program perpustakaan. Dari kedua pendapat di atas dapat diuraikan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi ikut serta dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pengajaran yang berlangsung di dalam sebuah Perguruan Tinggi. Perpustakaan bertugas mencari, mengumpulkan, mengolah, mengembangkan serta merawat informasi yang berupa koleksi perpustakaan (tercetak) maupun informasi dalam format elektronik. Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai pusat sumber informasi sedapat mungkin menyediakan informasi-informasi terbaru demi memenuhi kebutuhan informasi penggunanya dan kelangsungan kegiatan akademis di Perguruan Tinggi tersebut 8 Selanjutnya tugas perpustakaan perguruan tinggi yang lain adalah menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah, dan merawat pustaka serta mendayagunakannya baik bagi civitas academica maupun masyarakat luar kampusMenurut Pedoman umum pengelolaan koleksi PPT tugas PPT di rinci sbb : (1)Mengikuti perkembangan kurikulum serta perkuliahan dan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pengajaran atau proses pembelajaran (2) Menyediakan pustaka yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam rangka studi. (3) Mengikuti perkembangan mengenai program-program penelitian yang diselenggarakan di lingkungan PT induknya dan berusaha menyediakan literatur ilmiah dan bahan lain yang diperlukan bagi peneliti. (4) Memutakhirkan koleksi dengan mengikuti terbitan-terbitan yang baru baik berupa tercetak maupun tidak tercetak (5) Menyediakan fasilitas, yang memungkinkan pengguna mengakses perpustakaan lain maupun pangkalan-pangkalan data melalui jaringan lokal (intranet) maupun global (internet) dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi yang diperlukan9 . Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, sebagai sebuah perpustakaan yang ada di Perguruan Tinggi Ke-Islaman Negeri maka, perpustakaan Fakultas Ushuluddin belum lagi mampu memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Oleh karenaya peneliti berasumsi bahwa menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan kajian tentang “Profil Pengguna Layanan Perpustakaan Pada Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang”. SIGNIFIKANSI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Memperoleh gambaran tentang perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. (2) Memperoleh gambaran tentang berbagai layanan yang dijalankan pada Fakultas Ushuluddin. (3) Memperoleh gambaran profil pemustaka layanan perpustakaan di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Kegunaan penelitian ini adalah : (1) Memberikan masukan pada penentu kebijakan untuk memberikan perhatian lebih terhadap perpustakan Fakultas sebagai “jantung informasi” bagi kajian pengembangan keilmuan Ushuluddin. (2) Memberikan masukan bagi peningkatan kualitas layan perpustakaan yang dibutuhkan pada Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. (3) Kepada pengembangan kajian ilmu perpustakaan (liberary knowledge) sebagai bagian pengetahuan yang tumbuhn dan berkembang sebagai bagian ilmu pengetahuan. LANDASAN TEORI Dalam bagian ini akan dijelaskan pemustaka, fungsi, layanan, koleksi yang umum diberikan dalam perpustakaan di perguruan tinggi. Pemustaka (Pengguna Pustaka) Setelah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan disahkan, istilah pengguna atau pemakai perpustakaan diubah menjadi pemustaka, dimana pengertian pemustaka menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 1 ayat 9 adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan , sedangkan menurut Wiji Suwarno (2009:80), pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya). Istilah pengguna perpustakaan atau pemakai perpustakaan lebih dahulu digunakan sebelum istilah pemustaka muncul. Menurut Sutarno NS dalam Kamus Perpustakaan dan Informasi mendefinisikan pemakai perpustakaan adalah kelompok orang dalam masyarakat yang secara intensif mengunjungi dan memakai layanan dan fasilitas perpustakaan10 .Sedangkan pengguna perpustakaan adalah pengunjung, anggota dan pemakai perpustakaan11 . Jenis Pemustaka dapat dinyatakan sebagai : (1) Pemustaka yang belum terlibat dalam kehidupan aktif seperti pelajar dan mahasiswa. (2) Pemustaka yang mempunyai pekerjaan, informasi yang diinginkan merupakan informasi yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Perpustakaan perlu mengetahui beberapa karakteristik Pemustaka terutama dalam menunjang aktivitasnya. Penna12 mengungkapkan karakteristik tersebut adalah : (1) Individual or group yaitu apakah Pemustaka datang ke perpustakaan sebagai individu atau sebagai suatu kelompok. (2) Place of learning, yaitu tempat yang biasa digunakan oleh Pemustaka untuk membaca buku atau belajar. (3) Social situation, yaitu aspek sosial dari Pemustaka. (4) Leisure or necessity factor, yaitu apakah Pemustaka berkunjung ke perpustakaan untuk sekedar mengisi waktu luang atau karena dia membutuhkan buku atau informasi tertentu. (5) Subject of study, yaitu bidang apa yang sedang didalami Pemustaka. Apakah dia sedang menulis mengenai suatu subjek tertentu yang sangat khusus, atau sedikit lebih luas. (6) Level of study, yaitu tingkat pendidikan Pemustaka. Kebutuhan mahasiswa S1 tentu berbeda dengan kebutuhan mahasiswa tingkat S2 atau S3. (7) Motivation, yaitu sejauh mana keinginan dan antusiasme Pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan. Berikutnya menurut Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi13 mengelompokkan fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu: a. Fungsi Edukasi. Perpustakaan merupakan sumber belajar para sivitas akademika, oleh karena itu koleksi yang disediakan adalah koleksi yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, pengorganisasian bahan pembelajaran setiap program studi, koleksi tentang strategi belajar mengajar dan materi pendukung pelaksanaan evaluasi pembelajaran. b. Fungsi Informasi. Perpustakaan merupakan sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi. c. Fungsi Riset . Perpustakaan mempersiapkan bahan-bahan primer dan sekunder yang paling mutakhir sebagai bahan untuk melakukan penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Koleksi pendukung penelitian di perpustakaan perguruan tinggi mutlak dimiliki, karena tugas perguruan tinggi adalah menghasilkan karya-karya penelitian yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang. d. Fungsi Rekreasi. Perpustakaan harus menyediakan koleksi rekreatif yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas, minat dan daya inovasi pengguna perpustakaan. e. Fungsi Publikasi. Perpustakaan selayaknya juga membantu melakukan publikasi karya yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya yakni sivitas akademik dan staf non-akademik. f. Fungsi Deposit. Perpustakaan menjadi pusat deposit untuk seluruh karya dan pengetahuan yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya. g. Fungsi Interpretasi Perpustakaan sudah seharusnya malakukan kajian dan memberikan nilai tambah terhadap sumber-sumber informasi yang dimilikinya untuk membantu pengguna dalam melakukan dharmanya. Kedua uraian di atas menyatakan bahwa fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah sebagai pusat sumber informasi yang mengelola informasi dan melayankannya kepada pengguna. Informasi ini dikemas dalam bentuk tercetak maupun elektronik yang disediakan untuk mendukung kegiatan pendidikan, peningkatan pengetahuan, serta sebagai referensi untuk keperluan penelitian. Perpustakaan Perguruan Tinggi juga dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi pengetahuan, dengan menyediakan koleksi-koleksi yang bersifat hiburan. Terdapat beberapa layanan umum yang diterapkan pada perpustakaan di perguruan tinggi, antara lain : Layanan Sirkulasi Kemudian menurut Darmono14, “Layanan Sirkulasi adalah layanan kepada pemakai perpustakaan berupa peminjaman bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan”. Dari pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pelayanan sirkulasi memiliki tugas seperti peminjaman buku, perpanjangan waktu peminjaman buku, pengembalian buku, dan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan peminjaman. Senada dengan pendapat Darmono15 , Pusat Layanan Pustaka16 , “sirkulasi merupakan pelayanan yang menyangkut peredaran bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan” Sedangkan Sutarno17 menyatakan “layanan sirkulasi adalah kegiatan melayani pemakai jasa perpustakaan dalam pemesanan, peminjaman, dan pengembalian bahan pustaka beserta penyelesaian adminstrasinya”. Kedua pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa layanan sirkulasi merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan pengguna perpustakaan berupa peminjaman, pengembalian, serta penyelesaian administrasi bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan. Berdasarkan tujuan layanan sirkulasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pekerjaan layanan sirkulasi harus dilakukan dengan cepat dan tepat dan prosedur layanan yang mudah dan sederhana sehingga keamanan bahan pustaka, serta pelanggaran dapat diatasi dengan segera. Agar tujuan tersebut dapat tecapai maka layanan sirkulasi harus melaksanakan tugas sebagaimana dinyatakan oleh Sulistiyo-Basuki18 yaitu: 1. mengawasi pintu masuk dan keluar perpustakaaan 2. Pendaftaran anggota, perpanjangan keanggotaan, dan pengunduran diri anggota perpustakaan 3. Meminjamkan serta mengembalikan buku dan memperpanjang waktu peminjaman 4. Menarik denda bagi buku yang terlambat dikembalikan 5. Mengeluarkan surat peringatan bagi peminjam buku, khususnya buku hilang atau rusak 6. Bertanggung jawab atas segala berkas peminjaman 7. Membuat statistic peminjaman 8. Peminjaman antar perpustakaan 9. Mengawasi urusan penitipan tas, jas, mantel dan sebagainya milik pengunjung perpustakaan 10. Tugas lainnya terutama yang berhubungan dengan peminjaman Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan sirkulasi memiliki tugas melakukan pendaftaran anggota, peminjaman, perpanjangan waktu pinjam dan pengembalian buku, menarik denda bagi buku yang terlambat dikembalikan, membuat statistic peminjaman serta tugas layanan terutama yang berkaitan dengan peminjaman. Layanan Referens (Jasa Rujukan)19 Menurut Darmono20 “Layanan Referensi adalah layanan yang diberikan oleh perpustakaan untuk koleksi-koleksi khusus seperti kamus, almanak, direktori, buku tahunan yang berisi teknis dan singkat. Koleksi ini tidak boleh dibawa pulang oleh pengunjung perpustakaan tetapi hanya untuk dibaca ditempat”. Pengguna datang keperpustakaan untuk mencari informasi yang beraneka ragam. Ada yang mencari data biografi seorang pahlawan atau lokasi suatu kota. Untuk dapat membantu dalam menemukan informasi yang diperlukan, perpustakaan menyediakan koleksi referensi yang terpilih dan yang tepat untuk menjawab pertanyaan pengguna perpustakaan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pelayanan referensi merupakan kegiatan untuk melayani pengguna perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan koleksi yang dimiliki perpustakaan seperti Ensiklopedia, Kamus, Almanak, Direktori dan sebagainya. Koleksi ini tidak boleh dipinjam tetapi hanya boleh dibaca ditempat. Menurut Lasa21 tujuan pelayanan referensi adalah sebagai berikut: 1. Membimbing pengguna jasa perpustakaan agar memanfaatkan semaksimal mungkin akan koleksi yang dimiliki suatu perpustakaan. Mereka diharapkan mampu mandiri dalam menggunakan sumbersumber tersebut. 2. Memilihkan sumber rujukan yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan dalam bidang tertentu. 3. Memberi pengarahan kepada pengguna untuk memperluas wawasan mereka dalam suatu topik, subjek, karena penjelasan suatu masalah diberikan beberapa sumber dengan gaya yang berbeda. 4. Mendayagunakan sumber rujukan semaksimal mungkin dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 5. Tercapainya efesiensi tenaga, biaya dan waktu. Sedangkan fungsi layanan referensi menurut Sumardji22 yaitu: (1) Informasi Memberikan jawaban atas pertanyaanpertanyaan tentang informasi yang dibutuhkan oleh para pemakai perpustakaan (2) Bimbingan kepada para pemakai perpustakaan untuk mencari bahan pustaka dalam kelompok koleksi referensi yang tepat, dan bagaimana pula cara menggunakannya untuk mencari informasi yang dikehendaki. (3) Pemilihan/Penilaian, memberikan petunjuk/pengertian tentang bagaimana cara memilih/menilai bahan pustaka dalam kelompok koleksi referensi yang bermutu dan berbobot ilmiah agar diperoleh sumber informasi yang berdaya guna maksimal. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas tujuan dan fungsi layanan pelayanan referensi memberikan bimbingan kepada pengguna tentang bagaimana cara menemukan serta cara menggunakan setiap bahan pustaka koleksi referensi. Layanan Multimedia/ Audiovisual23 Adapun tujuan dari layanan audiovisual dalam Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi24 adalah sebagai berikut: 1. Menyediakan media khusus untuk tujuan pendidikan, pengajaran, penelitian dan rekreasi 2. Memotivasi pengguna agar lebih banyak memanfaatkan fasilitas perpustakaan 3. Meningkatkan kualitas penyampaikan informasi dan pesan pendidikan 4. Meningkatkan daya ingat pengguna melalui bahan perpustakaan multi media di samping lewat bacaan. Sedangkan bahan perpustakaan multi media dan perlengkapannya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut: 1. Bahan perpustakaan yang melalui perlengkapannya hanya menampilkan citra, misalnya slaid, beningan (trancparancy) dan bahan pustaka renik. 2. Bahan perpustakaan yang melalui perlengkapannya hanya mengeluarkan bunyi, misalnya kaset audio, piringan hitam, cakram optic. 3. Bahan perpustakaan yang melalui perlengkapnnya menampilkan citra diserta bunyi, misalnya kaset atau cakram video melalui mesin video, film suara melalui proyektor film (Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi, 2004: 90) Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa layanan audiovisual adalah salah satu layanan yang dapat memberikan motivasi kepada pengguna untuk menggunakan layanan yang ada di perpustakaan. Layanan audiovisual juga terdiri dari berbagai macam bahan yang dapat dipakai pengguna perpustakaan sesuai dengan kebutuhannya. Di era informasi sekarang ini, perubahan dapat terjadi dalam waktu sangat cepat. Informasi menjadi sesuatu yang sangat penting. Tanpa informasi, berupa data, info atau pengetahuan dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan masing-masing, maka pengguna informasi akan kesulitan untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Tidak ada seorangpun yang tidak membutuhkan informasi. Kebutuhan informasi seseorang sangat berbedabeda sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Kebutuhan informasi setiap orang pasti berbeda-beda baik dalam tingkat kebutuhannya sampai dengan jenis informasi yang dibutuhkannya25 .Berikut ini beberapa pengertian tentang kebutuhan informasi menurut beberapa ahli. Menurut Sankarto dan Permana26 , Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan baik. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna, lebih berarti dan bermanfaat bagi penggunanya. Senada dengan pendapat di atas, Sedangkan menurut Belkin yang dikutip oleh Ishak (2006:91), ” Kebutuhan informasi terjadi ketika seseorang menyadari adanya kekurangan dalam tingkat pengetahuannya tentang situasi atau topik tertentu dan berkeinginan mengatasi kekurangan tersebut”. Sedangkan menurut Krikelas yang dikutip oleh Ishak27 , ”Kebutuhan informasi timbul ketika pengetahuan yang dimiliki seseorang kurang dari yang dibutuhkan, sehingga mendorong seseorang untuk mencari informasi”. Dikaitkan dengan lingkungan yang menyebabkan timbulnya kebutuhan, ada beberapa kebutuhan yang dikemukakan oleh Katz, Gurevitch dan Haas yang dikutip oleh Yusuf28 sebagai berikut: 1. Kebutuhan kognitif, kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. 2. Kebutuhan efektif, kebutuhan ini kaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan dan pengalaman-pengalaman emosional. 3. Kebutuhan integrasi personal (personal integrative need), kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitasdan status individu. 4. Kebutuhan integritas sosial (social integrative needs), kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, teman dan orang lain. 5. Kebutuhan berkhayal (escapist needs), kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhankebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan (diversion). 6. Sedangkan menurut Wilson sebagaimana dikutip oleh Yulianah (2009:10), Munculnya kebutuhan informasi dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi yang berkaitan kebutuhan fisiologi, efektif maupun kognitif terkait dengan peran seseorang dalam pekerjaan atau kegiatan dan tingkat kompetensi seseorang sebagimana diharapkan oleh lingkungannya. Selain pendapat di atas, Lebih jauh Ishak29 ”Kebutuhan informasi terjadi ketika seseorang menyadari adanya kekurangan dalam tingkat pengetahuannya tentang situasi atau topik tertentu dan berkeinginan mengatasi kekurangan tersebut”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi terjadi ketika seseorang menganggap bahwa pengetahuan yang ia miliki saat ini sangat kurang dari yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan satu masalah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi sangat penting dan menjadi salah satu bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, dan kebutuhan informasi timbul ketika seseorang kurang akan pengetahuan, sehingga akan mendorong seseorang untuk mencari informasi. Kebutuhan informasi seseorang terjadi karena adanya kesenjangan antara pengetahuan yang ia miliki dimana seseorang merasa bahwa informasi yang ia miliki masih kurang atau tidak memadai untuk mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Ketika seseorang menyadari bahwa apa yang diketahuinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan informasinya, maka timbul keinginan untuk memenuhi kebutuhan informasinya tersebut 30 Koleksi Perpustakaan Koleksi perpustakaan tidak terbatas hanya pada buku saja, tetapi juga meliputi segala macam cetakan, non cetak dan elektronik. Kategori bahan perpustakaan dapat dilihat berdasarkan pendapat yang dikemukakan Sutarno (2006:82), ”Koleksi perpustakaan mencakup bahan pustaka tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, bahan pustaka terekam, dan elektronik seperti kaset, video, piringan (disk), film, dan koleksi tertentu, seperti lukisan, alat peraga, globe, foto dan lain-lain”. Sedangkan menurut pendapat Yulia31 yang termasuk jenis bahan perpustakaan yang tercakup dalam koleksi perpustakaan adalah: 1. Karya cetak, seperti buku dan terbitan berseri 2. Karya non cetak, seperti rekapan suara, gambar hidup dan rekaman video, bahan grafika, dan bahan kartografi 3. Bentuk mikro seperti microfilm, mikrofis, dan mikro paque 4. Karya dalam bentuk elektronik seperti pita magnetis dan cakram atau disc. Berdasarakan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memiliki berbagai jenis koleksi yang dilayankan kepada pengguna baik koleksi dalam bentuk tercetak seperti buku dan terbitan berseri, koleksi non tercetak seperti rekaman suara, gambar hidup, dan rekaman video, bahan grafika, bahan kartografi, mikrofilm, dan mikrofis. Karya dalam bentuk elektronik seperti pita magnetis dan koleksi lainnya. Semua koleksi tersebut dapat digunakan oleh pengguna untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Mengingat datadata skunder digunakan sebagai sumber utama yang digunakan dalam penelitian yang dijalankan. Kemudian sebagai nara sumber / informan dalam penelitian ini adalah : (1) koordinator pertpustakaan Fakultas Ushuluddin. (2) staf perpustakaan di Fakultas Ushuluddin. (3) Mahasiswa pengguna layanan perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Teknik pengumpulan data adalah melalui studi dokumentasi dan wawancara untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari berbagai narasumber / informan dalam penelitian yang dijalankan. Teknik pengalisaan data adalah dengan menggunakan alat bantu statistik, yakni dengan menggunakan analisa deksriptif kualitatif.

Result & Discussion

Hasil Penelitian Pada bagian ini akan dijelaskan tentang beberapa hal, diantaranya: (1) kunjungan perbulan pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. (2) karakteristik pemustaka berdasarkan jenis kelamin. (3) Jumlah pemustaka berdasarkan layanan yang diberikan. (4) karakteristik pemustaka berdasarkan asal jurusan mereka. Lebih jauh dijelaskan pada uraian berikut ini : TABEL 1 GAMBARAN JUMLAH PEMUSTAKA BERDASARKAN KUNJUNGAN PERBULAN TAHUN AKADEMIK 2015 DAN 2016 N o. Tahun Akade mik Bulan Juml ah Persent ase 1 2015 Januari 148 2,80 2 Februa ri 609 11,40 3 Maret 430 8,10 4 April 136 2,60 5 Mei 330 6,30 6 Juni 956 18,25 7 Juli 495 9,45 8 Agustu s 402 7,68 9 Septe mber 98 1,87 10 Oktobe r 656 12,53 11 Novem ber 326 6,22 12 Desem 651 12,43 ber Jumlah 5237 100 N o. Tahun Akade mik Bulan Juml ah Persent ase 1 2016 Januari 334 3,66 2 Februa ri 720 7,89 3 Maret 567 6,20 4 April 868 9,51 5 Mei 1028 11,26 6 Juni 586 6,42 7 Juli 743 8,14 8 Agustu s 617 6,76 9 Septe mber 856 9,37 10 Oktobe r 1114 12,20 11 Novem ber 849 9,30 12 Desem ber 849 9,30 Jumlah 913 1 100 Sumber : Buku Daftar Tamu Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang Berdasarkan data pada Tabel 1 di atas diperoleh gambaran bahwa, jumlah kunjungan pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2016. Sungguhpun demikian jumlah kunjungan pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang bersifat fluktuatif dari bulan ke bulan. Kemudian kunjungan pemustaka mencapai puncaknya di tahun 2015 adalah pada bulan Juni. Semenstara kunjungan pemustaka mengalami kemuncak di tahun 2016 pada bulan Oktober. TABEL 2 KARAKTERISTIK PEMUSTAKA BERDASARKAN JENIS KELAMIN TAHUN AKADEMIK 2015 DAN 2016 N o Tahun Akademik Juml ah Persent ase 1 2015 a. Laki – Laki b. Peremp uan 4381 856 83,65 16,35 Jumlah 5237 100 2 2016 a. Lakilaki b. Peremp uan 3584 5547 39,25 60,75 Jumlah 9131 100 Sumber : Buku Daftar Tamu Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang Berdasarkan Tabel 2 di atas diperoleh gambaran karakteristik pemustaka berdasarkan jenis kelamin bahwa, pada tahun 2015 pemistaka yang umumnya menggunakan perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang adalah mahasiswa. Dimana jumlah pemustaka yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 83,65%. Sedangkan pemustaka perempuan pada tahun yang sama sebanyak 16,35 %. Sedangkan pada tahun 2016 terjadi perubahan pemustaka berdasarkan jenis kelamin. Di mana mahasiswi mendominasi pengguna perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Kemudian jumlah pemustaka yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 60,75 %. Sedangkan jumlah pemustaka yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 39,25 peren. Artinya telah terjadi perubahan pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang dari pemustaka perempuan menjadi pemustaka laki-laki32 . TABEL 3 GAMBARAN JUMLAH PEMUSTAKA BERDASARKAN LAYANAN PERPUSTAKAAN TAHUN AKADEMIK 2015 DAN 2016 N o Tahun Akademik Jum lah Persen tase 1 2015 a. Layanan Sirukulas i b. Layanan Referensi c. Layanan Internet 4368 737 132 83,41 14,07 2,52 Jumlah 5237 100 2 2016 a. Laya nan Sirkul asi b. Laya nan Refer 3875 5069 187 42,44 55,51 2,05 32 Berdasarkan wawancara pada beberapa orang mahasiswa Na dari jurusan Psikologi Islam, Bk mahasiswa Perbandingan Agama, S dan M mahasiswa jurusan Tafsir Hadis dan Program khusus srta L mahasiswa Aqidah Filsafat diperoleh informasi ”... masih terbatasnya jumlah buku yang tersedia. Kemudian terbatasnya ruang baca dan belum adanya internet yang memadai, serta tidak terpisahnya ruang baca membuat kami malas dan segan untuk memanfaatkan perpustakaan di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Walau bagaimanapun pelayanan dari para pustakawan sudah sanga baik dan membantu untuk kelancaran pencarian informasi”. (Wawancara dilakukan antara tanggal 10-26 Januari 2017 di perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Ima Bonjol Padang). ensi c. Laya nan Intern et Jumlah 9131 100 Sumber : Buku Daftar Tamu Fakultas Ushuluddin Berdasarkan Tabel 3 di atas, diperoleh informasi bahwa pada tahun 2015 umunya layanan yang digunakan pemustaka pada Fakultas Ushuluddin adalah layanan sirkulasi, yakni sebanyak 83,41%. Kemudian pengguna layanan referensi sebanyak 14,07 %. Berikutnya pengguna layanan internet sebanyak 2,52%. Sedangkan pada tahun 2016 jenis layanan yang umum digunakan oleh pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang adalah layanan referensi, sebanyak 55,51 %. Kemudianpemustaka yang menggunakan layanan sirkulasi sebanyak 42,44 %. Manakala pemustaka yang menggunakan layanan internet sebanyak 2,05%33 . 33 Berdasarkan wawancara dengan Bapak Nasrul Maqdis selaku koordinator pustakawan Fakultas ushuluddindiperoleh informasi bahwa, “....pengguna layanan internet masih sedikit, lebih disebabkan jumlah komputer yang menggunakan internet yang juga masih sedikit. Di mana dari lima buah komputer yang tersedia. Hanya tiga buah yang ada internet yang bisa digunakan. Kemudian dua internet lagi masih rusak dan tidak bisa digunakan. Malangnya lagi dua komputer digunakan untuk urusan administrasi perpustakaan. Sehingga hanya satu yang relatif bisa digunakan oleh pemustaka. Sehingga besar harapan kami pihak pimpinan Fakultas dapat meningkatkan jumlah komputer yang berinternet, sehingga makin banyak mahasiswa yang bisa memanfaatkan layanan ini di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang”. (Wawancara dilakukan di perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN TABEL 4 KARAKTERISTIK PEMUSTAKA BERDASARKAN JURUSAN TAHUN AKADEMIK 2015 DAN 2016 N o Tahun Akademi k Jumla h Persentas e 1 2015 a. Jurusan Perbandin gan Agama b. Jurusan Ilmu TafsirHadis Program Khusus c. Jurusan Aqidah Filsafat d. Jurusan Psikologi Islam 1264 1253 894 1783 24,14 23,92 17,07 34,05 Jumlah 5237 100 2 2016 a. Jurusan Perbandin gan Agama b. Jurusan Ilmu TafsirHadis Program Khusus c. Jurusan Aqidah Filsafat 879 2569 653 5030 9,63 28,14 7,15 55,08 Jurusan Psikologi Islam Jumlah 9131 100 Sumber : Buku Daftar Tamu Fakultas Ushuluddin Berdasarkan data pada Tabel 4 di atas, diperoleh gambaran bahwa pada Tahun 2015 dan 2016 umumnya mahasiswa pemustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang berasal dari Jurusan Psikologi Islam. Adapun jumlah mereka sebanyak 34,05 % dan 55,08%. Sedangkan pada tahun 2015 mahasiswa pemustaka yang berasal dari Jurusan Perbandingan agama sebanyak 24,14%. Sedangkan mahasiswa pemustaka yang berasal dari Jurusan Tafsir Hadis dan Program Khusus sebanyak 23,92%. Pada kelompok mahasiswa pemustaka yang berasal dari Jurusan Aqidah Filsafat sebanyak 17,07%. Kemudian pada tahun 2016 diperoleh data bahwa mahasiswa pemustaka dari Jurusan Perbandingan Agama sebanyak 9,63%. Kemudian mahasiswa pemustaka yang berasal dari Jurusan Tafsir Hadis dan Program Khusus sebanyak 28,14%. Berikutnya mahasiswa pemustaka yang berasal dari Jurusan Aqidah Filsafat sebanyak 7, 15 %34 . Pembahasan Pemustaka berkunjung ke perpustakaan karena adanya suatu kebutuhan yang ingin Kemudian selain itu, untuk mengatahui lebih jauh tentang kebutuhan pemustaka, dapat juga dilakukan survey atau penelitian yaitu: berkaitan dengan status diri, apakah yang pemustaka kita itu masih single atau sudah menikah, atau usia untuk siap menikah, dari penggolongan itu saja, kita sebagai pengelola perpustakaan bisa melakukan analisis berkaitan dengan sikap dan perlakuan kita terhadap para pemustaka berkaitan dengan tingkat pendidikan dari pemustaka, ada yang berpendidikan hingga mencapai gelar guru besar. Pemustaka kita apakah tergolong sebagai pemustaka yang aktif, atau pemustaka yang pasif. Pemustaka aktif tentu dia akan menemukan sesuatu yang menarik di tempat diskusi. Selain itu perpustakaan juga bisa dimanfaatkan untuk pencarian bahan melalui internet. Mengingat fakultas Ushuluddin juga telah menggunakan WIFI gratis. Sehingga dapat memudahkan pecarian bahan melalui internet” (Wawancara dilakukan antara tanggal 08-17 Januari 2017). Sungguhpun pemustaka mengalami peningkatan dari aspek kuantitatif. Namun hendaknya perpustakaan tidak hanya dimanfaatkan pada saat pencarian tugas mata kuliah semata. Namun juga hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang menunjang perluasan pengetahuan dan informasi serta wawasan berfikir mahasiswa. Hasil wawancara denagn staf pustakawan di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol padang mendapati “....Perpustakaan hendaknya dimanfaatkan secara maksimal oleh para dosen untuk mencari literatur tambahan serta ide bagi pengembangan ilmu pengetahuan atau materi kuliah yang mereka ampu. “....Hal ini dirasakan perlu karena masih terbatasnya jumlah dosen yang memanfaatkan perpustakan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang.”. perpustakaan. Dia aktif melakukan peminjaman buku, aktif membaca, aktif mencari informasi dan senang berkunjung di perpustakaan di sela waktu luangnya, situasi demikian membuat pengelola perpustakaan perlu untuk meningkatkan layanan itu. Kelompok yang demikian sering dikatakan sebagai pemustaka yang cinta pada perpustakaan.sedangkan bagi pemustaka yang pasif, perlu kita analisis lebih jauh, apa yang membuat pemustaka hanya datang ke perpustakaan hanya untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan. Bagaimana caranya agar perpustakaan menjadi salah satu kebutuhan untuk dikunjungi. Dibutuhkan kreativitas pengelola perpustakaan untuk menciptakan sesuatu yang menjadi daya tarik buat pemustaka. Ada pula pemustaka yang datang ke perpustakaan dengan tujuan untuk mendapatkan ketenangan, dengan duduk dan diam di perpustakaan. Aktivitas membacanya sedikit, tetapi dia menikmati suasana di perpustakaan, dengan dukungan hawa yang sejuk di perpustakaan dan suasana yang nyaman dan tenang. kelompok yang lain lagi barangkali adalah dari golongan pegiat literasi. Kelompok ini aktif melakukan studi pustaka di berbagai perpustakaan untuk mencari berbagai sumber informasi yang kemudian dituangkan kembali dalam sebuah tulisan. Kelompok pegiat literasi dewasa ini semakin tumbuh dan berkembang di Indonesia, mereka membentuk satu wadah dalam topik yang khusus maupun juga terbuka untuk semua tema. Sehakikinya sebuah perpustakaan di perguruan tinggi perlu memiliki, landasan Hukum, merupakan dasar atau pedoman serta peraturan dalam pendirian perpustakaan di perguruan tinggi dan sebagai persyaratan berdirinya perpustakaan antara lain: Undangundang no 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undangundang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Pemerintah no. 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 0686/U/1991 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi, Surat Keputusan Dirjen Dikti no. 162/1967 tentang Persyaratan Minimal Perguruan Tinggi Surat Edaran Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Badan Adminitrasi Kepegawaian Negara no. 53649/MPK/1988, dan No. 15?SE/1988, Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Nagara Tentang Angka Kredit bagi Jabatan Pustakawan No. 18/MENPAN/1988, Surat Keputusan MENPAN No. 33 Tahun 1998, Revisi Keputusan MENPAN no. 132/KEP/M.PAN/12/200235. Tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Sungguh demikian keberadaan perpustakaan Fakultas Ushuluddin memiliki landasan hukum yang kuat untuk menjalankan pelayanan bagi pengguna di Perguruan Tinggi Ke-Islaman ini. Berdasarkan PP No. 30 Tahun 1990 pasal 34 PPT sebagai unit pelaksana teknis merupakan salah satu unsur penunjang sebagai kelengkapan bagi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, kedudukannya di luar lingkup fakultas dan bertanggungjawab langsung kepada rektor/ketua/direktur maka struktur organisasi dan tata kerjanya seperti di bawah ini: Struktur organisasi PPT dapat dikategorikan dalam 2 (dua) bentuk yaitu : Struktur organisasi Makro artinya kedudukan PPT dalam struktur lembaga / institusi. Struktur organisasi Mikro artinya kedudukan /struktur intern unit perpustakaan dengan segala bagian dan unit kerja /kegiatannya. Untuk struktur organisasi mikro ini menimal mencakup 3 bagian yaitu : (1) bagian pelayanan teknis; (2) bagian pelayanan pengguna / pemustaka dan (3) bagian tata usaha36 . Sesuai dengan perkembangan jenis dan bentuk layanan serta peningkatan pemanfaatan teknologi informasi maka struktur organisasi dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kemudian dalam konteks keberadaan fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang maka, perpustakaan ini menjadi unit pelaksana teknis yang menunjang keberadaan perpustakaan pusat yang ada di Perguruan Tinggi Islam Negeri di Sumatera Barat. Selanjutnya di perpustakaan jenis apapun sumber daya manusia merupakan unsur yang sangat penting karena merupakan ujung tombak dan ujung kekuatan proses pemberian dan penerimaan informasi dari sumber informasi dalam hal ini pengelola perpustakaan dan pemanfaat informasi atau pengguna, sekarang pemustaka. (1) Pemustaka / Pengguna/ User, Perpustakaan tidak akan ada artinya apabila tidak ada pengunjung yang memanfaatkan atau menggunakan bahan pustaka/koleksinya yaitu user / pemustaka. Pemustaka adalah pengguna perpustakaan yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan ( UU No 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 9). Jumlah personal yang datang ke perpustakaan merupakan tolok ukur keberhasilan suatu perpustakaan. Terdapat 2 katagori pemustaka yaitu potential user (adalah jumlah civitas academica yang ada pada PT) dan actual users (merupakan civitas academica yang memanfaatkan perpustakaan = pemustaka yang datang ke perpustakaan = pemustaka riil). (2) Tenaga Pengelola Perpustakaan / Pustakawan, Dalam Bab VIII Pasal 29 (1) UU No 43 tahun 2007 menyatakan bahwa tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. (2) pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan. (3) tugas tenaga teknis perpustakaan sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dirangkap oleh pustakawan sesuai dengan kondisi perpustakaan yang bersangkutan. (4) ketentuan mengenai tugas, tanggungjawab, pengangkatan, pembinaan, promoasi, pemindahan tugas, dan pemberhentian tenaga yang berstatus pegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) ketentuan mengenai tugas, tanggungjawab, pengangkatan, pembinaan, promoasi, pemindahan tugas, dan pemberhentian tenaga yang berstatus non pegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh penyelenggara Berdasarkan SNI maka terdapat tiga kategori pengelola perpustakaan yaitu : (1) tenaga administrasi, pegawai yang bekerja di unit perpustakaan tetapi tidak perpendidikan di bidang perpustakaan; (2) tenaga teknis perpustakaan, pegawai yang berpendidikan serendahrendahnya diploma dua di bidang ilmu perpustakaan dan informasi atau yang disetarakan, dan diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan; (3) pustakawan perguruan tinggi, pegawai yang berpendidikan serendah-rendahnya sarjana di bidang ilmu perpustakaan dan informasi atau yang disetarakan, dan diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan.Jumlah sumber daya manusia yang diperlukan dihitung berdasarkan perbandingan satu pustakawan, dua tenaga teknis perpustakaan dan satu tenaga administrasi. Pada aspek sumberdaya manusia maka, keberadaan tenaga pustakawan yang tersedia pada Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang masih sangat terbatas. Mengingat jumlah mahasiswa yang telah mencapai lebih kurang 987 orang sedangkan tenaga pustakawan yang tersedia hanya 2 orang. Sementara perpustakaan yang terdesia ada dua buah di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Di mana satu perpustakaan memberikan pelayanan umum dan satu perpustakaan lagi khusus bagi pengguna (mahasiswa) yang ingin merujuk skripsi yang mereka butuhkan dalam penulisan karya ilmiah akhir mereka. Bab X pasal 39 (1) Pendanaan perpustakaan menjadi tanggung jawab penyelenggara perpustakaan. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah mengalokasikan anggaran perpustakaan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Untuk pelaksanaannya tergantung dari masing-masing lembaga sehingga perolehan dana dapat dijabarkan berasal dari : APBN, APBD/DIPA, APB SENDIRI (INTERN), Yayasan, Donatur, Sponsorship, Masyarakat. Lebih lanjut pada pasal 40 disebutkan bahwa : (1) Pendanaan perpustakaan didasarkan pada prinsip kecukupan dan berkelanjutan. (2) Pendanaan perpustakaan bersumber dari: (a) anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah; (b) sebagian anggaran pendidikan; (c) sumbangan masyarakat yang tidak mengikat; (d) kerja sama yang saling menguntungkan; (e) bantuan luar negeri yang tidak mengikat; (f) hasil usaha jasa perpustakaan, dan/atau (g) sumber lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. Dan dalam pengelolaan dana perpustakaan dilakukan secara efisien, berkeadilan, terbuka, terukur, dan bertanggung jawab.(Pasal 41). Berdasarkan SNI anggaran perpustakaan sekurang-kurangya 5% dari total anggaran perguruan tinggi diluar belanja pegawai38 . Sungguhpun demikian dana anggaran yang terbatas menjadi sebuah fakta tersendiri bagi perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang, di mana tunjangan dana anggaran bagi penyelenggaraan perpustakaan hanya diperoleh dari DIPA Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Oleh karenanya perlu adanya tobosan inovatif yang tentunya dapat membantu penganggaran kegiatan perpustakaan di Perguruan Tinggi KeIslaman ini.

Conclusion

Sesungguhnya pemustaka berkunjung ke perpustakaan karena adanya suatu kebutuhan yang ingin dipenuhi. Walaubagaimanapun keberadaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imem Bonjol Padang telah meneuhi tiga kebutuhan pemustaka, antara lain : (1) Need for information , merupakan suatu kebutuhan akan informasi yang bersifat umum. (2) Needs for material and facilities, merupakan kebutuhan untuk mendapatkan buku-buku atau bahan pustaka lain, serta kebutuhan akan fasilitas perpustakaan yang menunjang kegiatan belajar. (3) Needs for guidance and support, merupakan kebutuhan untuk mendapatkan bimbingan atau petunjuk yang memudahkan pengguna mendapatkan apa yang diinginkan. Namun masih perlu adanya survey atau penelitian yaitu: berkaitan dengan status diri, apakah yang pemustaka kita itu masih single atau sudah menikah, atau usia untuk siap menikah, dari penggolongan itu saja, kita sebagai pengelola perpustakaan bisa melakukan analisis berkaitan dengan sikap dan perlakuan kita terhadap para pemustaka, berkaitan dengan tingkat pendidikan dari pemustaka, Kemudian apakah pemustaka kita tergolong sebagai pemustaka yang aktif, atau pemustaka yang pasif. Pemustaka aktif tentu dia akan menemukan sesuatu yang menarik di perpustakaan. Dia aktif melakukan peminjaman buku, aktif membaca, aktif mencari informasi dan senang berkunjung di perpustakaan di sela waktu luangnya, situasi demikian membuat pengelola perpustakaan perlu untuk meningkatkan layanan itu. Kelompok yang demikian sering dikatakan sebagai pemustaka yang cinta pada perpustakaan.sedangkan bagi pemustaka yang pasif, perlu kita analisis lebih jauh, apa yang membuat pemustaka hanya datang ke perpustakaan hanya untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan. Bagaimana caranya agar perpustakaan menjadi salah satu kebutuhan untuk dikunjungi. Dibutuhkan kreativitas pengelola perpustakaan untuk menciptakan sesuatu yang menjadi daya tarik buat pemustaka. ada pula pemustaka yang datang ke perpustakaan dengan tujuan untuk mendapatkan ketenangan, dengan duduk dan diam di perpustakaan. Aktivitas membacanya sedikit, tetapi dia menikmati suasana di perpustakaan, dengan dukungan hawa yang sejuk di perpustakaan dan suasana yang nyaman dan tenang. kelompok yang lain lagi barangkali adalah dari golongan pegiat literasi. Kelompok ini aktif melakukan studi pustaka di berbagai perpustakaan untuk mencari berbagai sumber informasi yang kemudian dituangkan kembali dalam sebuah tulisan. Kelompok pegiat literasi dewasa ini semakin tumbuh dan berkembang di Indonesia, mereka membentuk satu wadah dalam topik yang khusus maupun juga terbuka untuk semua tema. REKOMENDASI Sebuah kebutuhan yang mendesak bagi peningkatan kualitas layanan bagi pengguna di perpustaaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang adalah optimalisasi jalinan kerjasama yang intens antar dan inter perpustaaan yang ada di IAIN Imam Bonjol Padang dan utamanya dengan perpustakaan lain di luar IAIN Imam Bonjol Padang. sehingga peningkatan kualitas pelayanan semakin baik. Seiring ketersediaan buku yang terbatas di perpustaaan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Dengan demikian inter liberary loan menjadi sebuah kebutuhan mendasar bagi bentuk konkrit interaksi inter dan antar perpustaan yang ada di lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang dan luar lembaga Pendidikan Tinggi Islam Negeri di Sumatera Barat ini. Seperti diketahui bersama bahwa iptek kom bud telah berkembang sejalan dengan hasil karya rekam dan tulis serta meningkatnya kebutuhan masyarakat, sehingga dibutuhkan sarana penyedia informasi yaitu perpustakaan. Namun demikian disadari bersama bahwa tidak satupun perpustakaan yang mampu memberikan pelayanan terhadap semua kebutuhan pemustaka. Sementara pada sisi lain mahalnya harga buku serta terbatasnya tenaga kepustakawanan, maka diperlukan kerjasama baik dengan sesama bidang studi atau bidang lain. Kerjasama pada dasarnya dapat dilakukan oleh perpustakaan sesuai dengan UU No. 43 tahun 2007 Bab XI pasal 42 yang berbunyi : (1) Perpustakaan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan layanan kepada pemustaka. (2) Peningkatan layanan kepada pemustaka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan jumlah pemustaka yang dapat dilayani dan meningkatkan mutu layanan perpustakaan. (3) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan peningkatan layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan memanfaatkan sistem jejaring perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Adapun dasar dibentuknya kerjasama adalah : peningkatan kebutuhan masyarakat akan informasi; perkembangan karya cipta manusia; peningkatan aktivitas pengelola informasi; keterbatasan sumber dana; keterbatasan sumber daya informasi ; keterbatasan SDM; keterbatasan akses; keterbatasan infrastruktur dan sebagainya