Kesenjangan Digital di Era Revolusi Industri 4.0 dan Hubungannya dengan Perpustakaan sebagai Penyedia Informasi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Tulisan ini membahas bagaimana kesenjangan digital masih terjadi di era revolusi industri 4.0, padahal di era revolusi industri 4.0 ledakan informasi sedang terjadi namun kenyataannya masih saja terjadi kesenjangan digital yang ternyata tidak dapat untuk dihindari begitu saja karena efeknya yang begitu tampak dan terasa secara signifikan, serta akan membahas bagaimana hubungannya dengan perpustakaan sebagai penyedia informasi. Kesenjangan digital merupakan sebuah gap atau ketidakmerataan akses, dan pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang dapat dilihat dengan perbedaan usia, gender, wilayah geografis, tempat kerja dan lainnya. Tulisan ini menekankan pada peran hubungan perpustakaan sebagai penyedia informasi yang mana harus benar-benar memainkan perannya sebagai institusi yang bekerja dalam pengelolaan, pelayanan dan penyediaan informasi bagi pemustakanya, disinilah perpustakaan menangkap peluang dengan memanfaatkan kemajuan TIK untuk meningkatkan layanan dan penyediaan informasi yang mungkin diantaranya masih ada yang merasakan kesenjangan digital terutama bila melihat dari unsur wilayah geografis antara daerah perkotaan dan perdesaan di era revolusi indsutri 4.0 saat ini.
Abstract
This paper examines the digital occurring in the era of the fourth industrial revolution. This current era deals with an explosion of information but a digital divide turns out to be unavoidable as its impacts are so visible and significant. This paper also discusses the relation between the digital divide and the library as an information provider. The digital divide is a gap or inequality of access and use of ICT (Information and Communication Technology) based on differences in age, gender, geographical area, workplace, and others. This paper emphasizes the role of the library as a provider of information working in the field of management, service, and provision of information for its users. In this case, the library seizes opportunities by utilizing ICT development to improve services and provision of information for those who might face the digital divide particularly based on geographical areas namely urban and rural areas in the current industrial revolution era.
Keywords:
digital divide
· the fourth industrial revolution
· library
Introduction
Pada era revolusi industri 4.0 seperti pada saat sekarang ini, semua seolah-olah telah melaju dengan cepat seiring perkembangan pesat baik pada bidang teknologi informasi maupun komunikasi atau disebut dengan TIK yang mana memiliki dampak besar bagi manusia sebagai makhluk hidup yang terus berkembang. Namun perkembangan tersebut tidak menjamin terbentuknya kesetaraan akses dan pemerolehan informasi bagi semua lapisan masyarakat, hal ini mengakibatkan adanya kesenjangan digital atau sering disebut gap. Kesenjangan digital adalah sebuah bentuk ketidakmerataan akses dan pemanfaatan TIK. Padahal bila kita melihat perkembangan TIK telah membawa perubahan yang cukup besar dalam berbagai lini kehidupan. Kemajuan pada bidang komputer dan pemanfaatan internet secara signifikan semakin mempercepat perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, mencari dan melakukan sharing informasi. Dari segi informasi saat ini juga sedang terjadi ledakan informasi yang mana dapat dengan mudah dan cepat diperoleh melalui pemanfaatan internet, dan tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Ledakan informasi di era revolusi industri 4.0 inilah yang membawa dampak yang cukup signifikan terasa terutama pada institusi pengelola dan penyedia informasi, yaitu perpustakaan. Perpustakaan sebagai mana salah satu fungsinya sebagai institusi penyedia sumber informasi yang mudah diakses, cepat dan tepat oleh para pemustaka harus menangkap peluang dan benar-benar memainkan perannya serta dapat memanfaatkan kemajuan TIK untuk meningkatkan pelayanan informasi bagi pemustaka. Walaupun masih menjadi pertanyaan mengapa di era revolusi industri 4.0 masih saja terjadi kesenjangan digital, tapi ternyata hal ini memang tidak dapat dihindari begitu saja dan inilah momentum perpustakaan untuk menjawab pertanyaan sekaligus membuktikan perannya dalam penyediaan informasi yang dibutuhkan. Disinilah peranan perpustakaan sebagai penyedia informasi benar-benar dapat memainkan perannya dan mengimplementasikan seluruh sumber daya dan tenaga yang dimiliki untuk dapat mengurangi kesenjangan digital di era revolusi industri 4.0 ini. Dirasa menyedihkan memang di saat kita sudah beranjak ke revolusi industri 4.0 akan tetapi masih saja terdapat beberapa kelompok masyarakat yang merasakan kesenjangan digital. Peranan perpustakaan sangatlah besar dampak pengaruhnya bagi pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka terutama pada kalangan yang masih merasakan kesenjangan digital. Perpustakaan merupakan salah satu sarana mutlak yang mendukung dan menunjang pembelajaran sepanjang hayat, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 1 Ayat 1 bahwa Perpustakan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.1 Dan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 1 Ayat 6 bahwa Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi.2 Sehingga dapat dikatakan dalam penyediaan informasi perpustakaan tidaklah membeda-bedakan pemustaka apalagi dari segi umur, jenis kelamin, suku, ras, agama dan status sosial- ekonomi seperti yang terjadi umumnya dalam kesenjangan digital. Dalam proses penyediaan informasi, perpustakaan dituntut untuk selalu memberikan dan mengembangkan layanan berkualitas sebagai dampak perkembangan dan perubahan serta mengurangi kesenjangan digital yang terjadi di era revolusi industri 4.0 seperti pada saat sekarang ini, disinilah perpustakaan memanfaatkan perkembangan teknologi dan menunjukkan bagaimana perannya sebagai penyedia informasi, sehingga image perpustakaan yang hanya sebuah perpustakaan konvensional yang hanya berisi buku- buku atau disebut gudang buku perlahan dan otomatis telah bergeser seiring perkembangan zaman dan transformasi perpustakaan yang telah menunjukkan perannya yang sebenarnya.
Result & Discussion
B. Revolusi Industri 4.0 Istilah revolusi industri 4.0 sekarang sudah banyak di dengar dimana-mana. Dunia yang saat ini memasuki era revolusi 4.0 terutama terasa pada bentuk digitalisasi dalam semua lini kehidupan manusia atau dikenal dengan istilah fenomena disrupsi. Fenomena disrupsi pada awalnya terjadi di bidang industri di seluruh dunia, yang mana berupa trend dalam dunia industri dalam menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Dimana kecanggihan semakin terlihat jelas yaitu segala jenis pekerjaan manusia akan bergantung pada robot, pada dasarnya konsep ini di inisiasikan untuk mempermudah pekerjaan manusia, padahal efek sampingnya manusia akan perlahan-lahan tergantikan oleh sang robot tersebut. Pada dasarnya dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi, karena terjadinya perubahan yang memberikan efek dan pengaruh besar baik dalam ekosistem dunia maupun tata cara kehidupan. Revolusi industri 4.0 juga diyakini dapat meningkatkan perekonomian dan kualitas kehidupan secara signifikan. Salah satu hal terbedasr di dalam revolusi industri adalah Internet of Things.Internet of Things atau disingkat dalam IoT memiliki kemampuan dalam menyambungkan dan memudahkan proses terjadinya komunikasi antara mesin, perangkat, sensor dan manusia melalui jaringan internet. Selain itu, ada juga istilah Big Data. Big Data juga memiliki peran penting dalam revolusi industri 4.0 yang mana seluruh informasi dapat tersimpan di cloud computing. C. Perpustakaan sebagai Penyedia Informasi Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dinyatakan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Dengan penjelasan seperti yang telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan jelas bahwa salah satu fungsi perpustakaan adalah sebagai penyedia informasi.3 Perpustakaan sebagai penyedia informasi meliputi berbagai macam fungsi yang beragam yang mungkin belum banyak diketahui dan dipahami, karena kebanyakan orang menganggap perpustakaan hanya sebelah mata, padahal lebih dari itu seperti halnya fungsi dalam segi layanan yang mana didasarkan pada kebutuhan pemustaka, fungsi akses didasarkan pada layanan pemberian informasi perpustakaan dan mengakomodir kebutuhan informasi apa yang dibutuhkan, fungsi sumber belajar sebagai media meningkatkan produktivitas pembelajaran dan memberikan sumber informasi dan sumber pembelajaran yang lebih ilmiah dan up-to-date serta lebih luas, fungsi pustakawan dalam pemberian pelayanan atas informasi dan memberikan pendidikan sharing knowledge atas informasi yang dimiliki dan dibutuhkan oleh pemustaka serta membantu pemustaka dalam hal pencarian informasi dan pemecahan permasalahan yang sedang terjadi, yang kesemuanya menyatu dalam peran perpustakaan sebagai penyedia informasi. D. Kesenjangan Digital Kesenjangan digital atau sering disebut digital divide mendeskripsikan beragam bentuk kesenjangan dalam pemanfaatannya baik dalam suatu negara atau antar negara. Kesenjangan digital dapat dikatakan sebagai suatu masalah yang terjadi di masyarakat sehingga menimbulkan adanya gap atau ketimpangan dan perbedaan yang menyebabkan ketidakseimbangan. Ledakan informasi dan perkembangan teknologi dan komunikasi di era revolusi industri 4.0 mempengaruhi beragam tatanan dan lini kehidupan masyarakat. Kesenjangan digital seolah-olah melahirkan dan memperburuk permasalahan kesenjangan yang telah ada sebelumnya, terutama di negara berkembang dan daerah-daerah yang relatif tertinggal. Jika dapat menganalisis dan membagikan arahan kesenjangan misalnya kepada sebuah kelompok, kesenjangan digital dapat dihubungkan dengan salah satunya perbedaan sosial ekonomi antara si kaya dan si miskin, jika kepada suatu generasi yaitu usia misalnya si tua dan si muda, jika kepada gender misalnya perempuan dan laki-laki, dan jika kepada suatu letak berupa tata letak geografisnya misalnya pada perkotaan dan pedesaan. Pada dasarnya kesenjangan digital berupa suatu gap antar kelompok masyarakat yang tidak dapat menikmati teknologi digital yaitu mengakses internet sebagai alat untuk beraktivitas, bekerja, berkreasi serta menikmati keuntungan-keuntungan yang didapat dari teknologi digital, yang mana terdapat kelompok masyarakat yang sama sekali tidak dapat merasakan itu karena infrastruktur yang sama sekali tdak terjangkau oleh teknologi tersebut. Menurut ILO, kesenjangan digital adalah The latest world employment report finds that, given its different speed odiffusion in wealthy and poorcountries, the information and communications technology (ICT) revolution is resulting in a widening global digital divide. Definisi ini menyatakan bahwa kesenjangan bukan hanya terjadi di tingkat bisnis dan geografis saja, tetapi juga mencakup kesenjangan di tingkat sosial ekonomi.4 Menurut Syopiansyah, kesenjangan digital menunjukkan ketidakmerataan akses dan pemanfaatan TIK yang dapat dilihat dengan perbedaan usia, gender, wilayah geografis dan juga tempat kerja. Dalam konteks yang lebih luas, kesenjangan digital dapat melemahkan sebuah negara untuk ikut bersaing secara global karena signifikannya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam memenangi persaingan.5 E. Penyebab Terjadinya Kesenjangan Digital Kesenjangan digital sebenarnya merupakan masalah besar dan tidak bisa diabaikan begitu saja, dan menjadi lebih rumit lagi bila mengkaji beberapa faktor-faktor permasalahan seperti yang dijelaskan menurut Yohanis yang dikutip oleh Sri Ariyanti yaitu:6 1. Infrastruktur Infrastruktur merupakan fasilitas pendukung kelancaran dalam mengakses suatu teknologi, dikatakan infrastruktur adalah faktor paling mutlak karena orang yang mempunyai infrastruktur yang memadai akan mendapatkan kemudahan seperti halnya orang yang mempunyai akses komputer ke internet, otomatis akan mempunyai wawasan yang lebih luas dari pada mereka yang sama sekali tidak memiliki akses. 2. Kekurangan skill (SDM) Sumber daya manusia adalah hal yang paling berpengaruh di dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi karena sejatinya SDM dapat membagikan keilmuannya untuk masyarakat. 3. Kekurangan isi (konten) materi bahasa Indonesia Konten berbahasa Indonesia menentukan bisa tidaknya seorang dalam pemahaman akses internet, yang mana konten dapat disesuaikan dengan daerah masing-masing, misalnya di daerah pedesaan yang rentan berbahasa indonesia bahkan berbahasa kesehariaan mereka sesuai suku dan adat istiadat mereka. 4. Kurangnya pemanfaatan akan internet itu sendiri Tidak memanfaatkan internet secara baik sehingga tidak menghasilkan apapun dari internet, dan tidak mendapatkan keuntungan apapun. Menurut Kemly Camacho yang dikutip oleh Dyah, A. Djoko, dan Alb. Joko Santoso terdapat tiga aspek utama yang saling berhubungan dan merupakan fokus yang perlu diperhatikan dalam kesenjangan digital yaitu: 1. Akses/Infrastruktur (Access/Infrastructure) yaitu perbedaan kemampuan antar individu dalam perolehan akses atau infrastruktur TIK yang menyebabkan perbedaan distribusi informasi 2. Kemampuan (Skill and Training) yaitu perbedaan kemampuan antar individu dalam memanfaatkan atau menggunakan akses dan infrastruktur yang telah diperoleh. Selanjutnya adalah perbedaan antar individu dalam upaya pencapaian kemampuan TIK yang dibutuhkan untuk dapat memanfaatkan akses dan infrastruktur. 3. Isi informasi (Content/Resource) yaitu perbedaan antar individu dalam memanfaatkan informasi yang tersedia setelah seseorang dapat mengakses dan menggunakan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhannya.7 F. Dampak Positif dan Negatif Kesenjangan Digital Jika ditelaah dengan baik maka kesenjangan digital memiliki dampak positif dan negatif. Bagi sebagian orang yang belum terbiasa mengenal pastinya akan termotivasi untuk ikut serta ambil bagian dalam peningkatan dan pemanfaatan teknologi informasi yang mana dapat menyatukan dan mengumpulkan berbagai informasi, data dan sumber untuk dimanfaatkan sebagai ilmu pengetahuan dan informasi tentunya dengan menggunakan teknologi informasi seperti komputer dan telekomunikasi lainnya yang mana akan terus berkembang dan memiliki peranan penting di kehidupan manusia. Dampak positifnya telah memudahkan manusia berkomunikasi antara satu dengan lainnya serta memperoleh informasi dengan cepat tentunya dengan adanya teknologi berupa komputer dan lainnya. Menurut Retno Setyowati, dampak positif dari kesenjangan digital adalah TIK memberikan kesempatan berwiraswasta, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, dan biaya yang termasuk murah. Internet juga dianggap memberdayakan perempuan, yang merupakan setengah penduduk suatu negara bahkan memberikan kemudahan untuk bekerja di tempat sendiri misalnya dirumah.8 Selain dampak positif tentunya yang paling terasa adalah dampak negatifnya yang begitu signifikan, menurut Budi Santoso, dampak negatif dari kesenjangan digital adalah mereka yang kaya dan mampu mengikuti perkembangan teknologi akan memiliki sumber daya baru yaitu penguasaan informasi digital, sedangkan mereka yang karena kondisi ekonominya tetap atau semakin tertinggal dan semakin jauh dari kemampuan untuk menguasai informasi.9 Bagi mereka yang mampu menghasilkan dan memanfaatkan teknologi memiliki peluang lebih besar dalam hal pengembangan dan pengelolaan sumber daya ekonomi, sementara yang tidak memiliki teknologi tersebut harus menerima keterbatasannya saja. Akibatnya dapat disimpulkan yang kaya akan semakin kaya, yang miskin tetap miskin. Yang pintar akan semakin pintar dan yang tidak mampu memanfaatkan akan tetap seperti itu. G. Peran Perpustakaan dalam Mengurangi Kesenjangan Digital Di Era Revolusi Industri 4.0 Seperti yang telah diketahui bahwa kesenjangan digital masih saja terjadi di era revolusi industri 4.0 maka disini perpustakaan harus benar-benar memanfaatkan, mengambil peluang dan memainkan perannya sebagai institusi yang bergerak dalam pengelolaan dan penyediaan informasi. Disatu sisi hal ini menjadi tantangan bagi perpustakaan agar dapat berkembang menjadi lebih baik dan lebih berkualitas terutama dalam penyediaan informasi. Kesenjangan dalam hal ini mengacu kepada mereka yang dapat mengakses TIK dan mereka yang tidak dapat melakukannya. Ketidakseimbangan ini pada umumnya bisa bersifat fisik yaitu tidak mempunyai akses terhadap komputer atau perangkat TIK lainnya atau yang bersifat keterampilan yang diperlukan untuk dapat berperan serta menjadi pengguna media digital. Bila mengkaji pada permasalahan kesenjangan digital pada perbedaan sosial-ekonomi dapat dicontohkan pada si kaya dan si miskin, dan bila pada letak geografisnya yaitu perkotaan dan pedesaan, maka pedesaan lah yang mengalami kesenjangan digital, untuk itu persebaran perpustakaan di desa saat ini juga sudah dilakukan walaupun masyarakat belum benar-benar memanfaatkannya, dan memang belum melek akan informasi. Pada akhirnya kesenjangan digital akan menggambarkan beragam kesenjangan dalam pemanfaatan telematika akibat perbedaan pemanfaatannya antar kota bahkan antar negara. Pentingnya peran perpustakaan seiring terjadinya revolusi industri 4.0 serta merta membuat perpustakaan harus berkembang dan berkolaborasi yang dapat mengakselerasi manfaatnya salah satunya yaitu dengan telecenter. Pada dasarnya telecenter merupakan pusat informasi berbasis internet yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Pembangunan telecenter dapat mengidentifikasi potensi, kondisi, dan kebutuhan masyarakat sehingga dapat memberikan layanan yang optimal sesuai dengan kebutuhan spesifik penggunanya. Telecenter juga dikatakan sebagai sarana untuk mempercepat akses informasi sehingga akan mempermudah penyebaran pengetahuan, hal ini akan membuka peluang untuk memberdayakan masyarakat. Perpustakaan sangat dibutuhkan oleh telecenter sebagai sentra penyedia informasi dan pengetahuan bagi masyarakat. Dalam hal ini perpustakaan berperan tidak hanya dalam penyediaan informasi tapi juga memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Pada perpustakaan desa biasanya diadakan kegiatan- kegiatan untuk meningkatkan daya saing dan taraf perekonomian masyarakat juga kegiatan agar masyarakat melek informasi. Biasanya perpustakaan desa juga melakukan kegiatan bus perpustakaan keliling yaitu berkeliling desa untuk berbagi pengetahuan dan membebaskan masyarakat membaca buku yang mana akan menghasilkan informasi dan pengetahuan baru, melaksanakan kegiatan yang menarik yang merangsang masyarakat untuk datang, melakukan interaksi secara langsung dengan masyarakat, memanfaatkan TIK dan mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut seperti halnya kegiatan keterampilan. Kegiatan keterampilan ini bisa dilakukan dengan mencari tahu terlebih dahulu apa kebiasaan dan kegemaran masyarakat sekitar lalu melaksanakan kegiatan sesuai kebiasaan mereka dengan memodifikasi kegiatan tersebut dan memasukkan nilai edukasi, selanjutnya kegiatan literasi agar masyarakat melek informasi dan terbiasa melakukan budaya membaca, melaksanakan kegiatan edukasi dan hiburan sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat seperti halnya melaksanakan nonton film bersama di perpustakaan tentunya dengan film yang mendidik dan memiliki nilai edukasi. Dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan dan pembangunan telecenter maka nantinya kesenjangan digital otomatis akan berkurang bila keduanya dijalani dengan baik oleh masyarakat karena masyarakat akan terbiasa dan ketagihan dengan apa yang sudah dilakukannya seperti halnya memperoleh informasi baru. Misalnya, kebiasaan masyarakat pada suatu desa adalah menjahit, maka perpustakaan membuat kelas keterampilan yang mana informasinya bisa di dapat dari buku-buku yang ada di perpustakaan dan melalui akses memanfaatkan telecenter. Disini pustakawan dapat terjun langsung bercengkrama pada masyarakat dan melakukan sharing informasi, melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, memotivasi masyarakat serta mengadakan penyuluhan akan pemanfaatan dan dampak positif-negatif dari kegiatan dan penggunaan serta pemanfaatan akses informasi baik dari perpustakaan maupun internet. Dari penjelasan dapat dipahami bahwa kesenjangan digital terjadi karena ketidakseimbangan akses dan pemanfaatan TIK yang diakibatkan oleh beberapa faktor seperti halnya infrastruktur, kekurangan skill atau SDM, kekurangan konten, dan kurangnya pemanfaatan akan internet itu sendiri, dan untuk mengurangi kesenjangan digital maka berikut akan dipaparkan beberapa solusi yang bisa dilakukan yaitu: 1. Menyiapkan masyarakat untuk bisa menerima, memutuskan dan memilih informasi yang telah tersedia, baik itu di perpustakaan atau pun melalui internet. Hal ini dilakukan agar masyarakat nantinya terbiasa untuk bisa mengelola informasi dengan baik, karena dengan kemajuan di revolusi industri 4.0 seperti pada saat sekarang ini masyarakat akan mendapat kemudahan akses untuk menggunakan dan memperoleh informasi. 2. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas TIK yang merata antara area perkotaan dan pedesaan, sehingga setiap masyarakat yang ingin mengakses informasi dapat tercapai dengan tersedianya fasilitas yang memadai, sehingga harus semakin memaksimalkan adanya telecenter.
Conclusion
Sejatinya, perpustakaan sebagai institusi pengelola dan penyedia informasi memiliki peranan dan hubungan yang mutlak erat kaitannya dengan masih adanya kesenjangan digital di era revolusi industri 4.0 seperti pada saat sekarang ini. Dimana kebutuhan akan TIK yang berkembang semakin pesat harusnya dapat dirasakan oleh semua golongan masyarakat tanpa adanya kesenjangan atau gap antar individu, baik antara si kaya dan si miskin, atau antar masyarakat perkotaan dan pedesaan yang mana di realitanya terdapat perbedaan kesempatan atas akses TIK dan penggunaan internet untuk beragam aktivitasnya. Jadi sebenarnya kesenjangan digital akan menggambarkan beragam kesenjangan dalam pemanfaatan telematika akibat perbedaan pemanfaatannya baik antar kota maupun antar negara. Hal ini sebenarnya bukanlah masalah mudah sehingga perlu ditanggapi dengan keseriusan untuk mengurangi kesenjangan digital yang akan berkembang lebih besar. Pengembangan upaya dan antisipasi perihal kesenjangan digital benar-benar harus dilakukan mengingat kecepatan dan kompleksitas perubahan yang cenderung tak terduga dan sulit diperkirakan. Kedepannya diharapkan pemerintah dapat lebih memperhatikan masyarakat di pedesaan agar hak-hak pemanfaatan TIK dan akses komunikasi dapat dirasakan pada setiap golongan masyarakat. Dan selanjutnya untuk pemerintah, baik itu perangkat desa ataupun lainnya dapat bekerjasama dengan perpustakaan dan pustakawan untuk penyediaan informasi dan melakukan pengembangan-pengembangan untuk mengurangi kesenjanagan digital yang masih saja terjadi di era revolusi industri 4.0 ini, serta perpustakaan terus melakukan kegiatan-kegiatan keterampilan, pemberdayaan masyarakat, motivasi untuk masyarakat, penyuluhan dampak-positif internet dan teknologi serta selalu memberikan citra positif agar perpustakaan dapat dipercaya oleh masyarakat terutama untuk mengurangi kesenjangan digital.