Tren Layanan Perpustakaan Untuk Pemustaka Milenial Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Padang
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Perpustakaan dengan layanan teknologi digital telah merubah strategi dan kebijakan dalam suatu institusi perpustakaan sehingga mengalami perubahan baik dari sisi efektivitas kerja maupun perubahan mindset dalam melayani pekerjaan. Pergeseran makna dan strategi kolaboratif untuk menghadapi revolusi industri yang saat ini hangat diperbincangkan justru akan menjadi kekuatan pustakawan untuk menghadapinya dengan meningkatkan kompetensi yang lebih baik untuk dapat “berdamai” dengan teknologi informasi era revolusi industri 4.0 ini. Dengan sumber informasi dari perpustakaan sebagai sumber informasi yang dipercaya maka menjadi tugas pustakawan SMA Negeri 3 Padang untuk selalu melakukan update diri untuk melakukan kajian-kajian informasi yang semakin massif ini. Bekal utama yang harus dimiliki oleh para pemustaka adalah sikap ramah kepada semua pemustaka pada semua kondisi. Hal inilah yang selalau diharapkan dan dirindukan oleh para pemustaka di era digital dan revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi kadang sudah menggeserkan sikap sosial menjadi sikap asosial. Oleh karena itu, para pustakawan harus selalu menjadi pembeda dari kondisi kebiasaan yang ada.
Abstract
Library with digital technology services has changed strategies and policies in a library institution so that it undergoes changes both in terms of work effectiveness and mindset changes in serving the work.The shift in meaning and collaborative strategy to face the industrial revolution that is currently hotly discussed will instead be the power of librarians to deal with it by increasing better competence to be able to "make peace" with information technology in the era of industrial revolution 4.0.With the source of information from the library as a reliable source of information, it is the duty of librarians of SMA Negeri 3 Padang to always update themselves to conduct increasingly massif information studies.The main must-have for the libraries is a friendly attitude to all libraries in all conditions.This is what is expected and missed by the musicians in the digital age and the industrial revolution 4.0.The development of technology has sometimes shifted social attitudes into asocial attitudes. Therefore, librarians should always be the differentiator of existing habitual conditions.
Keywords:
Perpustakaan
· Perpustakaan sekolah
· revolusi industry
· SMA Negeri 3 Padang
Introduction
Kehadiran era revolusi industri 4.0 telah merubah layanan-layanan menjadi serba digital pada beberapa sektor publik sehingga akan mengakibatkan tergusurnya sumber daya manusia (SDM) dalam pekerjaaan rutinnya sehingga harus diimbangi dengan ide-ide hebat untuk selalu menciptakan kreativitas dengan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi disekelilingnya. Menurut Rhenald Kasali seperti dikutip oleh Itmanudin bahwa disrupsi 4.0 adalah “era yang menakutkan dan penuh dengan persaingan ketat,bagi yang tidak siap pasti terpinggirkan dan minggir” secara alamiah dari percaturan dan menjadi penonton. Kegalauan ini tentu saja hanya menjadi ketakutan saja kalau tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sdm yang akan menjadi jawaban bagi setiap perubahan yang akan terus terjadi. Revolusi industri 4.0 terus bergerak dan akan diikuti dengan perubahan-perubahan yang lain dengan hadirnya revolusi industri 5.0 Dalam layanan-layanan yang dilakukan untuk melayani customer pun mengalami perubahan baik dalam perbankan, industri ataupun layanan layanan dalam perpustakakan Dalam layanan perpustakaan mengalami perubahan user oriented yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Dengan teknologi digital akan memberikan layanan yang cepat dan lebih interaktif. Menurut Cahyono seperti dikutip oleh Bondhan Endriawan ada delapan karakter pemustaka digital yaitu : a. Mereka menginginkan kebebasan; bebas memilih sampai bebas berekspresi. Pemustaka lebih bebas menyampaikan ekspresinya. Misalnya saja mencari buku lewat OPAC dengan menggunakan smartphone/android sehingga pencarian informasi bisa dilakukan di tempat manapun b. Mereka suka merubah yang sudah standar untuk disesuaikan dengan dirinya (customize personalilize). Pemustaka lebih suka terhadap perpustakaan yang lebih mengerti mereka, baik dari sisi layanan, fasilitas ataupun pustakawan yang familiar c. Mereka suka mengkaji sesuatu dengan seksama, tidak mudah menerima begitu saja. Beragam informasi yang mereka dapat dari sumber-sumber informasi yang ada, tidak begitu saja mereka terima untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Pemustaka digital akan mengkaji dengan seksama informasi yang diperolehnya, informasi yang benar-benar ilmiah dan logis, faktual dan aktual yang akan mereka pilih d. Mereka menekankan pada kejujuran dan keterbukaaan dari lembaga yang menawari mereka produk atau pekerjaan. Pemustaka era digital lebih bersifar terbuka, obyektif terhadap layanan yang disajikan oleh perpustakaan. Mereka dapat menyukai, memberi masukan bahkan tidak memanfaatkan jasa perpustakaan apabila tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. e. Mereka mencampur "rekreasi sambil bekerja atau sebaliknya bekerja sambil rekereasi, dimana saja, kapan saja. Pemustaka era digital menginginkan suasana santai di setiap aktivitas, tidak terlalu tegang dan monoton yang sering menyebabkan kebosanan dalam mencari informasi f. Mereka generasi yang terbiasa berkolaborasi dan bersilaturahmi, berjejaring. Majuan teknologi g. Mereka menginginkan kecepatan. Dengan canggihnya teknologi superhigh way yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun, membuat pemustaka era digital menginginkan kecepatan serta keakuratan informasi yang dicari h. Mereka adalah innovator. Berdasar informasi dan pengetahuan yang melimpah di internet, pemustaka era digital dapat menjadi inovator di berbagai bidang keilmuan, karena informasi yang ada di internet bisa dicari secara lebih detail bail teknik maupun operasionalnya (cahyono 2017: 6). Dengan memahami karakteristik pemustaka era mileneal, maka perpustakaan SMA Negeri 3 Padang pun mulai mengikuti dengan layanan-layanan yang dapat mendukung aktivitas mereka. Dalam sebuah perpustakaan sekolah, keberadaan perpustakaan merupakan sumber informasi sebagai rujukan dalam setiap penyelesaian rujukan yang mereka ingin ketahui. Akses informasi secara cepat dan keakuratan yang diberikan merupakan kekuatan utama sebuah perpustakaan dalam melayani pemustaka millineal sehingga jangan sampai mereka justru mencari rujukan dari sumber informasi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan terberat justru dari media sosial yang begitu dekat dengan gerak aktifitas mereka. Generasi mileneal yang berstatus sebagai siswa SMA dalam rentang usia 16 – 20 tahun memerlukan strategi para pustakawan agar mereka menemukan "rumah kedua” saat mereka memerlukan sahabat untuk melakukan pencarian informasi yang mereka perlukan.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hal ini penulis lakukan karena terdapat beberapa hal yang memerlukan penyelidikan secara langsung terhadap informan. Menurut Jane Richie penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, dan persoalan, tentang manusia yang diteliti
Discussion
Berdasarkan penelitian penulis di perpustakaan SMA Negeri 3 Padang selama ini harus mulai dievaluasi, hal-hal apa saja yang tidak disukai oleh para pemustaka saat para pustakawan memberikan layanan. Semua yang tidak disukai oleh para pemustaka harus segera diubah menjadi semua hal yang disukai dan diperlukan oleh para pemustaka. Bekal utama yang harus dimiliki oleh para pemustaka adalah sikap ramah kepada semua pemustaka pada semua kondisi. Hal inilah yang selalau diharapkan dan dirindukan oleh para pemustaka di era digital dan revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi kadang sudah menggeserkan sikap sosial menjadi sikap asosial. Oleh karena itu, para pustakawan harus selalu menjadi pembeda dari kondisi kebiasaan yang ada. Dengan sumber informasi dari perpustakaan sebagai sumber informasi yang dipercaya maka menjadi tugas pustakawan SMA Negeri 3 Padang untuk selalu melakukan update diri untuk melakukan kajian-kajian informasi yang semakin massif ini. Dengan memahami karakteristik pemustaka millineal serta bagaimana perpustakaan untuk dapat memberikan nilai informasi yang dapat dipertanggungjawabkan harus berani menghadapi semua perubahan dan meyediakan koleksi baik cetak ataupun layanan real time untuk memenuhi kebutuhan mereka. Berdasarkan teorinya Hermawan Kartajaya bahwa setiap manusia untuk dapat menjadi unggul harus memiliki da memahami positioning, different, dan branding (PDB). Setiap pustakawan harus dapat mengevaluasi diri sendiri posisinya saat ini di mana dan seperti apa kompetensinya dibandingkan dengan pustakawan lainnya. Kemudian setelah menyadari posisinya, pustakawan milenial harus memiliki pembeda dengan pustakawan yang lain. Dengan demikian, pustakawan yang memiliki pembeda tersebut dapat memanfaatkannya untuk memberikan layanan prima kepada para pemustaka. Dalam berbagai kesempatan pembeda tersebut harus dibranding dan disampaikan kepada masyarakat umum. Dengan menjadi pustakawan Milenial yang Prima dan Unggul di Era Digital dan Revolusi industri 4.0 (Moh Rohmadi, 2019). Produktivitas pustakawan milenial di era digital sangat dirindukan oleh para pemustaka. Khusunya penguasaan sumbersumber belajar yang diperlukan oleh semua dosen, mahasiswa dan tendik di abad XXI. Komitmen untuk terus belajar dan menguasai literasi digital akan dapat menjadi pembeda bagi seluruh generasi pustakawan milenial yang kreatif, inovatif, produktif, dan berkarakter. (Moh Rohmadi, 2019). Maka salah satu syarat untuk berperan dalam era saat ini adalah profesionalisme pustakawan menjadi kata kunci untuk kedudukan pustakawan yang semakin baik. Pengembangan profesi pustakawan yang dilakukan secara berkelanjutan akan meningkatkan kompetensi pustakawan. Maka dalam menjalankan aktivitas sehari hari, pustakawan hendaknya selalu aktif dalam melakukan aktivitas yang dapat memperkuat kompetensinya sebagai pustakawan. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pustakawan adalah melakukan sebagai “teman curhat” pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi secara digital terhadap jurnal elektronik ataupun buku elektronik dan pembimbingan literasi informasi untuk aktivitas aktivitas penulisan karya ilmiah bagi civitas akademika. Banjir informasi mengakibatkan para pemustaka kebingungan dalam memilih sumber-sumber yang dapat dipercaya sehingga pustakawan dapat lebih berperan sebagai partner dalam mengerjakan sumber-sumber informasi ini. Peran ini tidak dapat dilepaskan diri dari tugas pokok dan fungsi pustakawan. Pustakawan dalam era teknologi digital menurut Noorika adalah: 1. Pustakawan sebagai mediator antara masyarakat dengan sumber-sumber informasi, terutama sumber informasi yang berasal dari internet. 2. Pustakawan sebagai partner masyarakat, mitra sejajar dalam menghadapi perkembangan teknologi dan lubernya informasi saat ini. 3. Pustakawan sebagai information specialist yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan penyediaan informasi dan keahlian dalam mendayagunakan engan penyediaan informasi dan keahlian dalam mendayagunakan sumbersumber informasi. 4. Pustakawan sebagai services manager atau manajer layanan informasi, yakni berperan atau manajer layanan informasi, yakni berperan dalam merancang dan melaksanakan strategi dalam mengevaluasi sumber informasi yang berasal dari internet. 5. Pustakawan sebagai gerbang baik menuju masa depan maupun masa lalu. 6. Pustakawan sebagai knowledge management atau menajemen ilmu pengetahuan, pustakawan dituntut untuk mengubah mindset dari pola melayani menjadi pola kemitraan, pustakawan berkonttribusi bagi institusi bukan terfokus pada disiplin ilmu pengetahuan,
Conclusion
Pemustaka milenieal merupakan potensi bagi perpustakaan untuk semakin mengembangkan kekuatan perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi kredibel sehingga kualitas yang baik sebuah perpustakaan dapat menjadi salah satu penarik pemustaka milineal untuk selalu berkunjung ke perpustakaan. Dalam era digital perpustakaan SMA Negeri 3 Padang dapat mengefektifkan semua layanan yang dapat mendukung belajar mengajar pemustaka dan mempermudah mereka dalam mengakses informasi. Kekurangcermatan dan keprofesionalan pustakawan akan mudah menjadi “konsumsi” pemustaka manakala pemustaka millineal tidak mendapatkan layanan sebagaimana yang mereka harapkan. Menjadi pustakawan yang dirindukan oleh para pemustaka menjadi suatu penegasan bagi diri pustakawan untuk dapat berubah menghadapi pemustaka mileneal. Semua itu harus dimulai dengan niat sepenuh hati untuk memberikan layanan sepenuh hati. Dengan memaksa diri sendiri dan menjadi teladan bagi diri sendiri adalah contoh terbaik bagi pustakawan milenial di era digital. Dengan kehadiran mereka akan menambah kesemarakan iklim akademis yang merupakan tugas sebuah perguruan tinggi untuk menghasilkan sarjana milineal yang tanggap dan tangguh dalam menghadapi setiap perubahan yang akan terus terjadi. Tugas ini akan menjadi salah satu tugas besar bagi pustakawan untuk selalu cepat menghadirkan dan tepat dalam memberikan informasi bagi setiap layanan bagi mereka.