PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM SCHOLARLY COMMUNICATION DAN PENGIMPLEMENTASIANNYA MELALUI JURNAL ELEKTRONIK
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Tulisan ini membahas bagaimana peran perpustakaan perguruan tinggi dalam scholarly communication menjadi suatu proses komunikasi ilmiah atas terciptanya karya tulis ilmiah dan dilakukan penyebarluasan atas hasil karya tersebut. Tulisan ini menekankan pada peran perpustakaan sebagai salah satu bagian yang memiliki peranan penting dalam pemerolehan informasi serta sumber data diperoleh dari perpustakaan. Pada perguruan tinggi, perpustakaan menjadi salah satu yang berperan dan memiliki posisi penting terutama dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat informasi dan pengarsipan untuk memudahkan proses temu kembali informasi ilmiah yang dibutuhkan. Perkembangan teknologi menuntut perpustakaan untuk dapat mengikuti perkembangan agar dapat menyesuaikan diri serta mampu memenuhi kebutuhan pemustaka di lingkungan sivitas akademika. Penggunaan media cetak secara bertahap berganti pada media elektronik, disinilah perpustakaan melakukan penyebaran ilmu pengetahuan dengan media-medianya serta fungsinya sebagai sarana scholarly communication. Tulisan ini akan memaparkan mengenai peran perpustakaan dalam scholarly communication dan pengimplementasiannya melalui jurnal elektronik yang akan membawa perubahan dan kemudahan terhadap scholarly communication dalam menghasilkan karya-karya baru yang berguna bagi proses pengembangan ilmu pengetahuan. Pengetahuan baru tersebut diharapkan dapat diakses, dimanfaatkan dan menjadi rujukan bagi pengembangan keilmuan di masa yang akan datang.
Abstract
This paper discusses how the role of college libraries in scholarly communication becomes a process of scientific communication for the creation of scientific papers and the dissemination of these works. This paper emphasizes the role of libraries as one of the parts that have an important role in obtaining information and sources of data obtained from libraries. In a higher education, the library plays a role and has an important position, especially in carrying out its function as an information center and archiving to facilitate the process of retrieval of needed scientific information. Technological developments require libraries to be able to follow developments in order to adapt and be able to meet the needs of users in the academic community. The use of print media has gradually changed to electronic media, this is where the library spreads knowledge with its media and functions as a means of scholarly communication. This paper will describe the role of libraries in scholarly communication and its implementation through electronic journals which will bring changes and convenience to scholarly communication in producing new works that are useful for the process of developing science. It is hoped that this new knowledge can be accessed, utilized and become a reference for scientific development in the future.
Keywords:
Scholarly Communication
· Komunikasi Ilmiah
· Jurnal Elektronik
· E-journal
· Perpustakaan Perguruan Tinggi
Introduction
Peranan perpustakaan pada perguruan tinggi sangatlah besar dampak pengaruhnya bagi pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka terutama di lingkungan sivitas akademikanya. Perpustakaan merupakan salah satu sarana mutlak yang mendukung dan menunjang terlaksananya Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dinyatakan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan perguruan tinggi. 1 Agar tujuan perpustakaan dan terlaksananya Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat dicapai, maka keberadaan perpustakaan dalam sebuah perguruan tinggi harus benar-benar diperhitungkan. Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bagian Keempat Pasal 24 Ayat 3-4 menyatakan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi diwajibkan untuk mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan diharuskan mengalokasikan dana untuk pengembangan tersebut guna memenuhi standar nasional pendidikan dan standar nasional perpustakaan. 2 Dalam proses pengembangan layanannya, perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk selalu mengembangkan layanan berkualitas sebagai dampak perkembangan dan perubahan dari dunia pendidikan tinggi yang menuntut kegiatan pembelajaran aktif, hal ini mengharuskan perpustakaan dan pustakawan untuk menguasai berbagai jenis kegiatan dan keahlian, terutama dalam scholarly communication. Saat ini para sivitas akademika yang berada pada perguruan tinggi di Indonesia sedang didorong untuk menulis diberbagai jurnal atau mengikuti berbagai konferensi yang artikelnya nanti dapat terindeks oleh pengindeks yang memiliki reputasi baik secara nasional maupun internasional. Artikel yang dulunya bersifat tercetak kini sudah beralih media bertransformasi bentuk menjadi media elektronik atau digital.
Discussion
Disinilah perpustakaan juga turut serta ikut bertransformasi menjadi pengelola informasi, serta pengelola ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan hasil karya dari para sivitas akademikanya dengan mengolah jurnal yang telah dihasilkan. Jurnal ilmiah merupakan salah satu sarana komunikasi ilmiah yang kerap dijadikan sumber utama oleh para ilmuwan, peneliti dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu untuk memperkuat bahan tulisannya. Dengan demikian, peran perpustakaan sebagai pusat informasi serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wadah dan sarana pendukung dalam menjalankan peran sebagai scholarly communication, dan bukan hanya sebatas menampung dan menerima tulisan hasil karya ilmiah yang sudah jadi dan siap untuk disebarluaskan saja, namun juga menjadi scholarly communication yang baik bagi perpustakaan perguruan tinggi. B. Scholarly Communication Scholarly Communication merupakan istilah yang memiliki arti yaitu komunikasi ilmiah. Menurut Association of College and Research Libraries (ACRL)3, scholarly communication merupakan sebuah sistem dimana penelitian dan tulisan-tulisan berupa hasil karya ilmiah dibuat dan diciptakan, dievaluasi kualitasnya dan disebarluaskan kepada masyarakat atau komunitas ilmiah dan dipreservasikan yaitu disimpan untuk penggunaannya agar mudah di akses oleh pengguna di masa depan dan masa yang akan datang. Sistem ini meliputi cara formal komunikasi seperti halnya publikasi di jurnal peer-review. Karakteristik dari penelitian ilmiah berupa hasil dibuat sebagai barang publik agar dapat memfasilitasi penelitian dan pengetahuan dan sebagian besarnya bersifat terbuka atau open access, serta sebagian besar peneliti atau ilmuan mengembangkan dan menyebarluaskan penelitiannya tanpa mengharapkan imbalan keuangan langsung. Keberadaan scholarly communication salah satunya disebabkan mulai berkembangnya electronic environment atau lingkungan digital dalam aspek pendidikan khususnya pada proses penelitian. Komunikasi ilmiah pada dasarnya merupakan proses yang terus berlangsung agar pengetahuan bisa tumbuh, berkembang dan meluas baik di dalam maupun di luar antar disiplin ilmu yang ada.4 Scholarly communication terbagi ke dalam tiga tahapan utama yaitu, pertama, komunikasi melalui saluran informal, kedua, diseminasi awal hasil riset melalui conference dan preprint (repository), ketiga, publikasi formal melalui scholarly journal (jurnal ilmiah) yang bereputasi.5 Namun dalam hal ini scholarly communication dibatasi hanya pada bentuk publikasi ilmiah atau jurnal ilmiah, yang mana bermanfaat untuk mengeksplorasi proses scholarly communication dan menimbang nilai ragam jenis dan nilai produk yang dihasilkan. Bersamaan dengan ACRL, ODLIS atau Online Dictionary for Library and Information Science mendefinisikan scholarly communication sebagai sarana komunikasi yang dilakukan sekolompok individu dalam proses penelitian akademik dan penulisan kreatif yang kemudian hasilnya diinformasikan kepada rekan sejawat baik secara formal maupun informal, terkait hasil penelitian mereka yang telah dicapai atau diselesaikan.6 Sekelompok individu tersebut berkomunikasi dengan menulis monograf dan artikel jurnal untuk publikasi, persentasi makalah konferensi yang selanjutnya dapat diterbitkan. Salah satu tujuan dari perpustakaan akademik adalah untuk memfasilitasi komunikasi ilmiah dalam segala bentuknya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan scholarly communication adalah komunikasi ilmiah yaitu suatu proses penyampaian atau penyebarluasan informasi ilmiah dari hasil penelitian oleh seorang peneliti mengenai berbagai bidang ilmu penelitian yang telah diteliti dengan hasil berupa karya ilmiah atau jurnal. C. Fungsi dan Aspek Scholarly Communication Pada dasarnya komunikasi ilmiah sangatlah penting dilakukan di dalam lingkungan sivitas akademika perguruan tinggi, menurut Bjork yang dikutip Khairina7, menjelaskan terdapat dua fungsi komunikasi ilmiah, yang pertama, mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang sangat menarik ke para pemustaka yang memiliki minat yang sama, kedua, menyediakan dukungan dalam mengambil keputusan untuk administrasi perjanjian penelitian dan bantuan dana untuk penelitian. Pada dasarnya untuk publikasi ilmiah pada saat sekarang ini lebih merujuk pada fungsi kedua yaitu membantu dalam proses penelitian dan membantu proses pembaruan dalam proses penelitian, khususnya dalam era digital saat ini. Bila melihat pada kejadian dilapangan komunikasi ilmiah berfungsi sebagai penjamin kualitas keilmiahan dalam setiap kegiatan penelitian yang berkaitan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan, komunikasi ilmiah memiliki peran penting yang mana pasti membutuhkan informasi-informasi yang sudah ada sebelumnya. Semua hasil dari karya ilmiah inilah yang akan diolah oleh perpustakaan dan pustakawan untuk dilakukan proses penyimpanan dan pengarsipan secara sistematis dengan tujuan utamanya yaitu untuk memudahkan proses temu kembali informasi ilmiah yang terkait di dalamnya dengan mudah, cepat dan tepat. Kauffer dan Carley sebagaimana dikutip dan dijelaskan oleh Fjallbrant, mengungkapkan terdapat beberapa aspek yang berkaitan dengan penulisan yaitu sebagai berikut: 1. Adanya kepemilikan ide (ownership of an idea), yaitu seorang penulis memiliki hak secara ekslusif dari satu karya yang ia hasilkan. Hak ekslusif adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan dan memperbanyak karya atau ciptaannya serta memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi adanya pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta). 2. Adanya pengakuan secara sosial terhadap penulis (social recognition for the author), yaitu hasil karya berupa artikel yang telah dimuat pada suatu publikasi ilmiah seperti halnya jurnal ilmiah, maka akan berdampak secara langsung terhadap penulisnya. 3. Adanya klaim terhadap suatu penemuan baru (claiming priority for a discovery), yaitu artikel dapat dijadikan sarana bagi penulisnya untuk menyampaikan kepada para pembaca perihal perkembangan dan temuan- temuan baru yang telah diperoleh peneliti melalui satu penelitian yang dikemukakannya melalui tulisan. 4. Membangun sebuah pengakuan di kalangan penulis dan pembaca (establishing an accredited, sometimes professional, community of authors and readers), yaitu scholarly communications di kalangan akademis akan mengarah pada hasil penerbitan yang formal diperuntukkan untuk masyarakat, berupa temuan baru, serta adanya pandangan yang muncul dari karya yang dihasilkan peneliti tersebut. Yang mana akan mendeskripsikan pengakuan terhadap penulisnya dari kalangan masyarakat sesama penulis ataupun para pembacanya. Karya ilmiah yang telah dihasilkan memerlukan satu media agar dapat disebarluaskan kepada banyak orang, agar karya ilmiah dapat terorganisir dalam proses penerbitannya maka peran penerbit (publisher) menjadi sangat penting. Penerbit mengumpul beberapa artikel karya ilmiah untuk dikumpulkan dalam satu jurnal sebagai salah satu sarana bagi peneliti untuk menyampaikan hasil penelitiannya. Dengan demikian semakin terlihat jelas bahwa satu jurnal ilmiah akan selalu berkaitan erat dengan penelitian. Tahap selanjutnya merupakan tahap penerbit dan perpustakaan menetapkan dan memberikan pengesahan atau surat izin (licence). Surat izin menggambarkan perpustakaan dalam menetapkan bentuk layanan bagi para pembaca yang akan mengakses jurnal baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik. Akhir dari tahapan ini yaitu pembaca artikel akan menggunakan dan memanfaatkan koleksi jurnal yang dimiliki perpustakaan. Selanjutnya, Fjallbrant merincikan beberapa kategori kelompok kepentingan yang berkaitan satu sama lain dalam komunikasi ilmiah sebagaimana yang telah dikutip oleh Khairina, yaitu: 9 1. Para ilmuwan yang memiliki keinginan untuk menerbitkan karyanya, masuk dalam kelompok penulis dan menjadi produser utama dari satu karya. 2. Para ilmuwan lainnya yang membaca karya berasal dari produser utama dan dikelompokkan sebagai kelompok pembaca. 3. Mahasiswa yang diposisikan sebagai pembaca. 4. Kelompok pembaca lainnya yang tertarik pada karya ilmiah dikelompokkan sebagai pembaca dan para penerbit sebagai produser kedua yang menerbitkan karya dari masyarakat ilmiah (produser utama). 5. Perpustakaan yang berperan dalam mengumpulkan dan menyebarkan jurnal ilmiah kepada para pembaca dan berfungsi sebagai fasilitator bagi para pembacanya. 6. Kelompok industri yang memanfaatkan hasil-hasil penelitian dikelompokkan sebagai konsumen lembaga akademik yang melakukan evaluasi dan seleksi staf dikelompokkan sebagai konsumen dan fasilitator produksi. 7. Kelompok agama yang mempengaruhi pelaksanaan dan pengembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-17 dan 18. D. Jurnal Elektronik Jurnal elektronik merupakan sebuah jurnal yang tersedia dalam bentuk elektronik melalui host online dan telah ada sejak akhir 1970-an tetapi pertumbuhan dan pengembangan internet dan world wide web pada tahun 1990-an yang membuatnya baru dikenal secara luas hingga sampai pada saat sekarang ini.10 Jurnal penelitian merupakan salah satu bentuk media dalam komunikasi ilmiah. Jurnal penelitian merupakan hasil dari tulisan ilmiah seorang peneliti yang telah dilaksanakan penelitian sebelumnya dan hasil penelitian tersebut dipublikasikan untuk dapat dikonsumsi oleh pemustaka yang membutuhkannya karena dianggap mempunyai nilai tinggi, biasanya hasil penelitian dikirimkan ke lembaga yang mereview dan mengolahnya selanjutnya diseminasi dan preservasi untuk dapat digunakan. Biasanya peneliti menghasilkan karya ilmiah baru berdasarkan hasil penelitian, atau hasil bacaan dan disitasi. Jurnal elektronik adalah sebuah versi digital dari jurnal cetak, atau publikasi elektronik jurnal langsung secara elektronik yang dibuat dan tersedia melalui web, email, atau cara lain yang dapat diakses melalui internet. Beberapa jurnal elektronik berbasis web secara grafis dimodelkan pada versi cetak. Meningkatnya biaya langganan jurnal cetak telah menyebabkan banyak perpustakaan akademik memilih untuk berlangganan jurnal secara elektronik.11 Jurnal elektronik saat ini menjadi trend dalam dunia pendidikan terutama dalam proses penelitian, dibandingkan versi cetak, jurnal elektronik memiliki beberapa keuntungan yang cukup signifikan seperti kemudahan dalam akses, kemudahan dalam publikasi, penghematan waktu, biaya yang cukup murah dan tidak adanya hambatan secara fisik. Secara tidak langsung jurnal elektronik memaksa peneliti untuk belajar menggunakan internet dan media elektronik untuk proses publikasi karya ilmiahnya. Melihat perkembangan digital seperti sekarang ini, pengelolaan jurnal penelitian juga sudah dilakukan secara digital melalui aplikasi Open Journal System (OJS). OJS merupakan salah satu produk open source dari Public Knowledge Project (PKP) yang khusus digunakan untuk mengelola jurnal secara online. OJS telah membuat pengelolaan jurnal ilmiah menjadi lebih mudah, praktis dan hemat biaya serta dapat menjangkau pembaca yang lebih luas. OJS sendiri memiliki fitur mulai dari proses registrasi penulis, submit naskah artikel, tahapan penyuntingan, proses editing, layout dan penerbitan. OJS dijadikan sebagai wadah dan sarana dalam scholarly communication bagi perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi yang mana pemustaka yang dilayani merupakan akademisi, peneliti yang memang membutuhkan sarana komunikasi ilmiah seperti halnya jurnal elektronik tersebut. E. Pengimplementasian Scholarly Communication Melalui Jurnal Elektronik Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Seperti yang telah diketahui bahwa jurnal merupakan sarana komunikasi ilmiah berupa hasil dari penelitian para ilmuwan yang dituangkan didalamnya. Namun, pada jurnal tercetak sendiri memiliki hambatan perihal biaya penerbitan sehingga perpustakaan dan pemustaka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi bisa memanfaatkannya. Selain itu, perlu waktu yang cukup lama agar jurnal tercetak sampai ke tangan pemustaka karena disebabkan proses penerbitan yang memerlukan waktu yang cukup lama mulai dari penerimaan tulisan ilmiah dari peneliti, penilaian karya ilmiah, editing, persiapan proses pencetakan, pendistribusian dan lain sebagainya. Akan tetapi, di era digital saat ini tampaknya jurnal tercetak telah tergeser menjadi jurnal elektronik dan telah menjadi wadah dan sarana komunikasi ilmiah bagi peneliti. Scholarly communication pada dasarnya berupa scholarly research yang berfokus pada hasil penelitian berupa jurnal atau karya ilmiah dari hasil kegiatan atau penelitian pada lingkungan akademik yaitu sivitas akademikanya, yang mana dengan tujuan utamanya untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah karena pada umumnya kajian seperti ini berada dalam konteks krisis scholarly communication dimana banyak perguruan tinggi merasa sangat terbebani dengan harga langganan jurnal ilmiah yang semakin lama semakin meningkat naik drastis setiap saat untuk pembiayaannya. Bila melihat peran perpustakaan sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi, maka perpustakaan memiliki kewajiban untuk memfasilitasi dan memberikan sarana komunikasi ilmiah bagi para peneliti tersebut, dan tentunya berperan dalam menciptakan wadah komunikasi ilmiah yang berbasis elektronik, sehingga perpustakaan tidak hanya sekedar menerima jurnal, artikel atau karya ilmiah yang telah siap untuk dikonsumsi namun juga menjadi wadah sarana untuk keberlangsungan scholarly communication tersebut. Saat ini kecanggihan teknologi membuat seseorang mampu untuk menyebarkan dan mengumpulkan informasi secara mandiri. Namun, perpustakaan sebagai lembaga resmi yang berada di lingkungan sivitas akademika harus menyikapi sebagai pendukung dalam scholarly communication. Untuk itu Lewis yang di kutip Khairina12, mengatakan bahwa perpustakaan dapat berperan dalam scholarly communication dengan melalui beberapa cara, yaitu sebagai berikut: 1. Melakukan digitalisasi koleksi khusus. Saat ini beberapa perpustakaan perguruan tinggi sudah melakukan digitalisasi koleksinya dan hasilnya dapat diakses dengan mudah oleh para pemustakanya. 2. Membangun tempat penyimpanan (repositori) yang menyediakan akses dan mengarsip data serta dokumen digital yang dihasilkan dari karya-karya hasil penelitian dan untuk kepentingan perguruan tinggi tersebut misalnya seperti skripsi, tesis, karya ilmiah, artikel ilmiah, hasil penelitian dan lainnya. 3. Menyediakan infrastruktur untuk publikasi dengan akses terbuka (open access), khususnya akses ke jurnal ilmiah. Perpustakaan dengan perguruan tinggi sangatlah memiliki ketergantungan, dimana perpustakaan dikatakan sebagai jantungnya universitas sehingga perpustakaan memang diharuskan menghasilkan karya-karya yang mana ini menjadi bahan untuk terbentuknya komunikasi ilmiah dan menjadikannya terus berkembang di lingkungan sivitas akademika. Pada perguruan tinggi perpustakaanlah yang menjadi komponen dalam menghidupkan dunia keilmuan yang saling di dukung antara dosen, mahasiswa, administrasi, pustakawan dan lainnya yang antara satu sama lain yang berada di lingkungan sivitas akademika dalam mendukung proses pengembangan ilmu pengetahuan. Biasanya peneliti, dosen atau mahasiswa menghasilkan satu karya ilmiah atau lebih seperti halnya mahasiswa yang menghasilkan tugas akhir dalam bentuk skripsi, tesis atau disertasi yang mana hasil karya tersebut masuk dalam kelompok penelitian ilmiah yang terdapat pengembangan metode penelitian, teknik analisa serta interpretasi data yang menghasilkan suatu karya. Karya-karya tersebut dapat dituangkan kembali dalam bentuk artikel dan dimasukkan kedalam jurnal ilmiah yang ada. Proses komunikasi ilmiah di perpustakaan dimulai dari peneliti melakukan pengambilan serta analisis data, lalu dimuat dalam sebuah tulisan. Tulisan tersebut kemudian akan di review. Setelah itu akan masuk dalam percetakan atau sebuah manajemen jurnal dimana tulisan tersebut akan dimuat. Setelah itu proses selanjutnya menentukan bagaimana tulisan tersebut akan diterbitkan, apakah secara open access atau komersil. Baru kemudian masuk ke dalam perpustakaan untuk dijadikan koleksi. Perpustakaan menjadi tempat terakhir dimana tulisan tersebut akan dikonsumsi. Namun, saat ini perpustakaan perguruan tinggi sudah dapat secara mandiri dalam menyediakan wadah untuk proses komunikasi ilmiah. Sehingga penulis yang ingin mengkomunikasikan hasil penelitiannya dapat langsung menyerahkan naskahnya pada perpustakaan atau mengirimkan pada sistem jurnal elektronik yang sudah dibuat oleh perpustakaan perguruan tinggi. Sebagai contoh, seperti halnya yang sudah terjadi saat ini pada lingkungan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang mana mahasiswanya diharuskan membuat karya ilmiah yang kemudian dilakukan proses submit ke jurnal yang telah terindeks. Sebelum melakukan submit artikel, tentunya mahasiswa melakukan presentasi atau pemaparan hasil karya tersebut, sehingga akan timbul komunikasi ilmiah secara dua arah, baik antara dosen dan mahasiswa, dan sesama mahasiswa. Kegiatan ini juga menghasilkan proses pengkoreksian atau editing yang mana bermanfaat untuk proses perbaikan menuju hasil karya ilmiah yang lebih baik sebelum dilakukan submit nantinya. Sebelum akhirnya di dapatkan hasil yang baik, tak lupa proses utamanya peneliti membutuhkan informasi serta kajian dari penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya terkait dengan karya ilmiah baru tersebut, dan informasi ini didapatkan melalui perpustakaan baik dari segi koleksi buku ataupun artikel jurnal yang terdapat pada perpustakaan UIN Sunan Kalijaga tersebut. Pada perpustakaan UIN Sunan Kalijaga saat ini juga sudah melakukan proses komunikasi ilmiah dan sudah melakukan digitalisasi atas hasil karya ilmiah yang dihasilkan oleh sivitas akademikanya, kemudian menyimpannya kedalam repositori dan elektronik jurnal yang telah dimilikinya dengan menyediakan akses secara mudah dan cepat bagi para pemustakanya. Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga juga menyediakan berbagai pilihan e-journal yang dapat secara mandiri untuk pemrosesannya dengan berbagai disiplin ilmu seperti halnya Al-Athfal yaitu Jurnal Pendidikan Anak, Al-Ahwal yaitu Jurnal Hukum Keluarga Islam, Adabiyyat yaitu Jurnal Bahasa dan Sastra, Al-Mazahib yaitu Jurnal Pemikiran Hukum, Golden Age yaitu Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Usia Dini, IJID yaitu International Journal on Informatics for Development dan lainnya. Dari penjelasan dapat dipahami bahwa komunikasi ilmiah akan terus berlangsung melalui sitasi dan pembacaan terhadap karya ilmiah untuk kepentingan penelitian dan kajian yang dilakukan selanjutnya. Disinilah perpustakaan berperan menjadi lembaga yang berkepentingan dalam memberi wadah atau sarana, menfasilitasi, mendiseminasi dan mempreservasi karya ilmiah tersebut. Namun, perpustakaan harus tetap senantiasa meningkatkan kolaborasi bersama dengan fakultas yang memiliki disiplin ilmu yang beragam, peneliti, ilmuan pada bidang terkait untuk dapat dijadikan sebagai reviewer bagi tulisan yang telah dikirimkan. Pustakawan juga harus memiliki kompetensi dalam melakukan komunikasi ilmiah sehingga dapat secara tidak langsung mempromosikan keterlibatan perpustakaan yang dikelolanya. Diharapkan perpustakaan perguruan tinggi kedepannya membentuk tim pustakawan untuk membangun citra baru dan jika semua proses sudah berjalan, maka perpustakaan sudah dinyatakan benar-benar menjadi sarana dan wadah untuk terjalinnya scholarly communication melalaui pemanfaatan jurnal elektronik yang telah dibuatnya. 13 F. Permasalahan Yang Terjadi Terkait Scholarly Communication Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Setelah melihat pengimplementasian scholarly communication melalui jurnal elektronik pada perpustakaan perguruan tinggi dan telah diambil sebuah contoh yaitu pada lingkungan Pascasarjana dan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dapat disimpulkan dari yang ada bahwa ternyata pada realitasnya scholarly communication dikatakan tidak dapat berdiri sendiri, karena ia saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan diatas maka terdapat beberapa aspek penting yang menjadi permasalahan yang terjadi terkait proses berlangsungnya scholarly communication, yaitu sebagai berikut: 14 1. Digitalisasi koleksi Yaitu aspek yang yang berhubungan dengan jenis koleksi apa saja yang hendak diproses menjadi file berbentuk digital untuk dapat diakses, yang mana dilakukan kontrol terhadap kualitas isi tulisan ilmiah yang dilakukan sebelum dan sesudah tulisan tersebut diterbitkan. Kualitas kriteria memiliki variasi di setiap bidang keilmuannya dengan melihat metode, validitas, terpercaya (reliability) pada kasus penelitian, adanya bukti dan dokumentasi sumber, ketepatan, kualitas tulisan serta cara penyampaiannya dan kontribusi dalam bidang keilmuannya. Bagi perpustakaan perguruan tinggi, jenis koleksi yang dikeluarkan oleh sivitas akademika menjadi prioritas utama seperti halnya disertasi, tesis, artikel jurnal para dosen, prosiding, hasil penelitian dan lainnya. 2. Open Access Open access telah memberikan kemudahan bagi para peneliti untuk membaca, mengunduh (download), mengcopy, menyebarkan serta mencetak artikel dan material lainnya secara gratis dari media internet. Sehingga saat ini peneliti lebih banyak merujuk secara langsung dengan mencari artikel yang sesuai dengan kebutuhannya dan menghindari cara berlangganan secara pribadi, dan mengunjungi perpustakaan menjadi pilihan terakhir ketika pemerolehan informasi dari internet tidak menyanggupi atau tidak terpenuhi akan kebutuhannya. 15 3. Hak Cipta Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Bagian Kelima Pasal 1516 menyatakan bahwa yang tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan. Kemudian pemustakaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan secara wajar dari sang pencipta. Pada lingkungan perpustakaan perguruan tinggi biasanya terdapat bentuk-bentuk kebijakan yang telah ditetapkan pada suatu perguruan tinggi untuk memperkuat karya-karya ilmiah yang akan dipublikasikan oleh perpustakaan perguruan tinggi yaitu: a. Adanya kebijakan rektor dalam bentuk Surat Keputusan Rektor (SK-Rektor) untuk penyerahan karya ilmiah sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi yang bersangkutan. b. Adanya formulir penyerahan tugas akhir yang melindungi hak pencipta tetapi untuk hak penyebaran informasinya dapat dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi yang bersangkutan. c. Adanya pembatasan perihal fotocopy hasil karya ilmiah seperti halnya skripsi, tesis atau disertasi. Yang mana bila terdapat permintaan secara full text maka dapat merujuk pada permintaan secara langsung dan mandiri kepada lembaga yang bersangkutan, karena pada dasarnya lembaga dianggap sebagai institusi yang memiliki tanggungjawab terhadap penyalahgunaan karya tersebut. d. Adanya pengkategorian lebih lanjut perihal kelompok pemustaka yang dapat mengunduh atau meng- download file secara digital. Yang mana dapat dibagi bab-bab mana saja yang dapat diunduh, baik bagi sivitas akademika atau pun masyarakat secara luas. 4. Akses Internet Pada dasarnya internet telah menggiring seluruh kelompok masyarakat memperoleh informasi yang dibutuhkan secara cepat dan murah. Kondisi mudahnya pengaksesan informasi memberi dampak ketergantungan yang secara signifikan terasa dan memberikan efek-efek yang secara tidak langsung ada yang menguntungkan dan ada pula yang bersifat merugikan. 5. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia di perpustakaan sudah pasti adalah pustakawan, yang mana ia akan bertugas untuk mengelola dan mendistribusikan informasi kepada para pemustakanya terutama pada sivitas akademika di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi. Pustakawan dituntut untuk memiliki kemampuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan pemustakanya sehingga proses scholarly communication dapat terlaksana dengan baik apabila keinginan dan kebutuhan pemustakanya dapat terpenuhi. Scholarly communication di zaman seperti sekarang ini sangat bergantung pada kemampuan teknologi informasi dalam menjalankannya. Selanjutnya terdapat standar kompetensi menurut European Computer Driving Licence (ECDL) yang dibutuhkan oleh seorang pustakawan adalah sebagai berikut: 17 a. Konsep dasar teknologi informasi (Basic concepts of IT) b. Menggunakan komputer dan mengorganisir file-file (Using the computer and managing files) c. Mampu mengolah kata (Word processing) d. Lembar kerja (Spreadsheet) e. Pangkalan data (Database) f. Presentasi (Presentation) g. Informasi dan komunikasi internet dan email (Information and communication internet and email) Namun, pada intinya selain kompetensi diatas, kompetensi lainnya yang mutlak harus dimiliki pustakawan adalah kemampuan berkomunikasi. Yang mana pustakawan nantinya akan memberikan layanannya kepada para pemustaka dengan layanan yang bersifat terbuka. Pustakawan harus memahami kebutuhan informasi pemustaka dan harus dapat memenuhinya, oleh karena itu hubungan interpersonal antara pemustaka dan pustakawan mutlak terjadi di setiap saat dan tidak dapat dihindari, karena hal tersebut menjadi salah satu acuan kepuasan pemustaka atas layanan yang diberikan oleh pustakawan dan perpustakaannya.
Conclusion
Sejatinya, perpustakaan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam proses berjalannya scholarly communication, yaitu dengan menyediakan wadah berupa portal jurnal elektronik. Jurnal elektronik merupakan salah satu bentuk trend atas perkembangan teknologi di bidang pendidikan terutama di lingkungan peneliti dan akademisi. Kedepannya diharapkan perpustakaan dapat membuat dan mengimplementasikan portal jurnal yang dapat mendorong serta merangkul peneliti dan akademisi sebagai peer-review tulisan pada jurnal elektronik tersebut dan akan menghasilkan scholarly communication yang baik pada perpustakaan. Perpustakaan pun terlibat dalam proses penciptaan jurnal ilmiah sehingga perpustakaan dalam hal ini telah berperan dalam memfasilitasi dan menjadi wadah untuk proses scholarly communication tersebut. Pustakawan harus ikut ambil peran dalam scholarly communication dan harus memahami kebutuhan informasi pemustaka serta harus dapat memenuhinya, agar dapat berlangsungnya komunikasi ilmiah yang baik, oleh karena itu hubungan interpersonal antara pemustaka dan pustakawan mutlak terjadi di setiap saat dan tidak dapat dihindari, karena hal tersebut menjadi salah satu acuan kepuasan pemustaka atas layanan yang diberikan oleh pustakawan dan perpustakaannya.