Kembali
16
1
2023 Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 3024-9880

KOMUNIKASI ILMIAH (SCHOLARLY COMMUNICATION) MELALUI OPEN JOURNAL SYSTEM (OJS) BAGI PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu

Abstrak

Jurnal ilmiah merupakan salah satu tulisan ilmiah yang mempunyai nilai di perguruan tinggi dan merupakan sarana komunikasi ilmiah (scholarly communication). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui sejauhmana keberadaan komunikasi ilmiah melalui OJS di perpustakaan perguruan tinggi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur. Pembahasan yang akan dikembangkan dalam tulisan ini adalah mengenai bagaimana karya ilmiah yang dikemas di dalam jurnal ilmiah sehingga dapat dibaca dan diakses oleh masyarakat pembaca dan merupakan “jantung” di perguruan tinggi sehingga penting sekali dalam proses komunikasi ilmiah (scholarly communication). Salah satu open access system yang bisa mengakomodir situs journal adalah Open Journal Systems (OJS). Dengan memanfaatkan OJS, informasi mengenai jurnal dan artikel ilmiah serta segala sesuatu yang berkaitan, akan bisa diketahui semua oleh masyarakat pembaca melalui sistem ini. Perpustakaan sebagai garda terdepan pada suatu perguruan tinggi terutama dalam menyikapi masalah ini sebagai pusat diseminasi dalam hal komunikasi ilmiah (scholarly communication).

Abstract

Scientific journal is one of the scientific writings that has value in tertiary institutions and is a means of scientific communication (scholarly communication). The purpose of this paper is to find out the extent of the existence of scientific communication through OJS in college libraries. The method used in this paper is a literature study. The discussion that will be developed in this paper is about how scientific work is packaged in scientific journals so that it can be read and accessed by the reading public and is the “heart” of higher education so that it is very important in the process of scientific communication (scholarly communication). One open access system that can accommodate journal sites is Open Journal Systems (OJS). By utilizing OJS, information about scientific journals and articles and everything related, will be known to all by the reading public through this system. The library as the front guard in a tertiary institution, especially in addressing this problem, is a dissemination center in terms of scientific communication (scholarly communication).
Keywords: Scholarly Communication · Higher Eduvation Libraries · OJS

Introduction

Bidang akademik mengalami perkembangan khususnya di Perguruan Tinggi dimana proses pembelajaran harus bersifat aktif dan mandiri sehingga menuntut pemustaka untuk berfikir analitis, kreatif dan naratif dalam sharing ilmu pengetahuan. Penelitian terbaru dan pemikiran yang analitis, kreatif dan naratif kemudian dipublikasikan sebagai proses diseminasi dari perkembangan pengetahuan. Perpustakaan yang dulu bersifat konvensional yang hanya mengurus masalah pengelolaan buku dan koleksi tercetak, sekarang berubah konsep dengan kehadiran internet dan media sebagai teknologi dalam penyajian informasi yang lebih modern dan dinamis bagi pemustaka. Seiring dengan isi dari Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang perpustakaan berfungsi untuk mendukung Sistem Pendidikan Nasional. Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dan kebudayaan. Perpustakaan saat ini menjadi pusat riset dan pengetahuan ilmu di Perguruan Tinggi, terutama perpustakaan perguruan tinggi yang menerapkan sistem digital dalam penyajian informasinya. Demi terlaksananya tujuan dan tugas dari perpustakaan perguruan tinggi yakni dalam memberikan pelayanan demi kelancaran program pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat pada civitas akademika universitas melalui pembaharuan koleksi baik koleksi cetak maupun koleksi digital. Hasil karya dari sebuah proses pembelajaran di perguruan tinggi yakni adanya hasil karya ilmiah dari penelitian yang ditulis dalam bentuk jurnal. Jurnal ilmiah merupakan salah satu tulisan ilmiah yang mempunyai nilai di perguruan tinggi. Ilmuwan memberi definisi bahwa jurnal ilmiah merupakan sarana komunikasi ilmiah (scholarly communication) bagai teman sejawat untuk mengembangkan proses keilmuan lebih lanjut. Perpustakaan biasanya menjadikan tulisan ilmiah sebagai bahan rujukan dalam melaksanakan tugas kuliah, menulis artikel atau tugas perkuliahan, pada saat inilah terjadi proses komunikasi ilmiah (scholarly communication). Scholarly communication atau komunikasi ilmiah merupakan sebuah proses akademisi, cendekiawan, dan peneliti berbagi dan mempublikasikan temuan penelitian mereka sehingga tersedia untuk komunitas akademik yang lebih luas dan di luarnya. (https://library.uii.ac.id/). Scholarly communication terjadi dalam literatur formal seperti artikel jurnal, prosiding konferensi, buku dan bab buku. Tahapan yang dilakukan dalam proses komunikasi ilmiah mulai dari menentukan ide atau topik untuk penulisan/penelitian, memanfaatkan perangkat penulisan, referensi, serta publikasi. Perpustakaan dapat berfungsi sebagai komunikasi ilmiah (scholarly communication) bagi peneliti di perguruan tinggi tempat perpustakaan bernaung. Terkait peraturan Dikti Nomor 152/E/T/2012 tentang publikasi ilmiah, bagi peneliti atau dosen yang melakukan penelitian, dan wajib menyumbangkan hasil penelitiannya untuk masyarakat dan kenaikan pangkat jabatan fungsional dosen maka dosen tersebut harus di upload hasil tulisannya dalam media atau aplikasi yang digunakan oleh perpustakaan sebagai pusat publikasi karya ilmiah. Begitu juga untuk mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan S1, S2 dan S3 diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke aplikasi yang digunakan oleh perpustakaan sebagai sarana komunikasi ilmiah. Kewajiban mempublikasikan tulisan ini guna meningkatkan kualitas karya ilmiah dan mengejar ketertinggalan dari negara lain. Dalam artikel ini diuraikan mengenai bagaimana pentingnya komunikasi ilmiah yang ada di perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini menjadi perbincangan yang dianggap serius bagi perguruun tinggi karena dalam proses akreditasi, perguruan tinggi membutuhkan poin yang dianggap penting dalam memperoleh nilai yang baik, khususnya masalah komunikasi ilmiah yang terjadi dalam suatu perguruan tinggi tersebut. Tulisan serupa yang menulis mengenai hal yang hampir sama dengan tulisan ini yakni: Hartono dalam tulisannya Sinergitas Perpustakaan Dalam Membangun Komunikasi Ilmiah (Scholarly Communication) Pada Era Digital. UNILIB: Jurnal Perpustakaan Vol.7 No.1 2016 dalam https://journal.uii.ac.id/unilib/. Perpustakaan Universitas Bengkulu memiliki wadah atau sarana komunikasi ilmiah (scholarly communication) dalam mempublikasikan hasil penelitian yakni melalui http://repository.unib.ac.id/. Perpustakaan juga memiliki akses IOS dengan Perpusnas RI (e-resources.perpusnas.go.id), Portal Garuda (garuda.kemdikbud.go.id), ebschohost (search.ebscohost.com), proquest (search.proquest.com) dan beberapa portal lain untuk akses e-journal dan e-book online. Perpustakaan merupakan jembatan penghubung antara pustakawan dan peneliti. Hasil penelitian dari para peneliti perlu dikelola dan disebarka. Sedangkan lembaga yang dianggap tepat ialah perpustakaan. Dengan demikian peran perpustakaan perlu ditingkatkan kembali agar dalam proses komunikasi ilmiah antara peneliti (pemustaka) dan pustakawan dapat berjalan baik dan lancar. Menurut pendapat Lewis (2007) mengatakan bahwa: “perpustakaan dapat berperan dalam komunikasi ilmiah melalui beberapa cara sebagai berikut : 1. Digitalisasi Koleksi Khusus. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi sudah melakukan digitalisasi koleksi dan hasilnya dapat diakses dengan mudah melalui media online. 2. Membangun tempat penyimpanan (repositories). Repository yang menyediakan akses dan mengarsip data serta dokumen digital yang dihasilkan dari karya-karya hasil penelitian dan untuk kepentingan perguruan tinggi dan penelitian (research). 3. Menyediakan infrastruktur untuk publikasi dengan akses terbuka (open access). Open access khususnya akses ke jurnal ilmiah, yang berhubungan erat dengan penerbit universitas, tetapi apabila penerbit universitas tidak melakukannya maka hal itu dapat dikerjakan sendiri tanpa campur tangan universitas. Pustakawan sebagai pengelola informasi atau penyaji informasi perlu serius dalam mencermati perubahan yang terjadi di masyarakat. Dalam masalah ini akan diuraikan bagaimana konsep yang dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam menyediakan komunikasi ilmiah (scholarly communication).

Method

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur. Penulis memanfaatkan informasi sekunder mengenai scholarly communication mulai dari mengumpulkan, mengembangkan gagasan, menganalisa serta membuat kesimpulan.

Result & Discussion

Teknologi Informasi dan komunikasi sebagai bagian penunjang dalam sistem layanan di perpustakaan terutama dalam membantu proses berjalannya komunikasi ilmiah (scholarly communication). Ribuan bahkan jutaan artikel dapat dimuat secara cepat dengan hitungan menit maupun detik melalui media online dengan menggunakan media teknologi informasi seperti internet. Bisa melakukan kontak langsung dengan penulis artikel serta dapat mengunduh secara fulltext. Perpustakaan sebagai pusat informasi juga memiliki fungsi sebagai pengumpul dan penyebar berbagai jenis karya ilmiah dan kemudian dikomunikasikan kembali kepada pemustaka melalui media komunikasi ilmiah. Fungsi dari komunikasi ilmiah itu sendiri adalah dapat menjamin kualitas keilmiahan setiap kegiatan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Segala hal terkait kepemilikan, penghargaan dan keberlangsungan karya ilmiah, merupakan cakupan dari komunikasi ilmiah. Tujuan adanya pengarsipan karya ilmiah melalui komunikasi ilmiah adalah memberi kemudahan dalam proses temu balik informasi ilmiah. Komunikasi ilmiah, teknologi informasi dan perpustakaan merupakan tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mengutamakan pada akses dan penyebarannya. Meskipun sudah menjadi sistem yang sudah mapan tetapi komunikasi ilmiah perlu terus melakukan reformasi agar sebagai alur sistem dapat terus berjalan baik. (Naibaho, 2015). Ada beberapa komponen yang berkaitan erat dalam sistem komunikasi ilmiah (scholarly communication) pada gambar 1. Berdasarkan gambar 1 dapat diuraikan bahwa perpustakaan merupakan komponen penting dalam sistem komunikasi ilmiah (scholarly communication). dalam sistem komunikasi ilmiah. Perpustakaan sebagai penyaji pemasar hasil penelitian para ilmuwan atau peneliti dan kemudian menyediakan literatur kepada komunitas yang menjadi pemustaka sehingga dapat ditelusur secara online. Scholary Communication Komunikasi ilmiah adalah bagian dari ilmu informasi yang berkaitan dengan penciptaan, penerbitan, penyebaran, dan penemuan penelitian ilmiah, terutama kaitannya dengan jurnal dan buku yang mengalami proses penelaahan sejawat (bahasa Inggris: peer review). (Fruin dalam acrl.libguides. com diakses tanggal 10 Juni 2023 pukul 11.30 WIB). Sementara itu, American Library Association (ALA) mendifinisaikan komunikasi ilmiah sebagai suatu sistem dimana penelitian dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya diciptakan, dievaluasi dari segi kualitas, disebarluaskan kepada masyarakat ilmiah, dan diawetkan untuk penggunaan masa depan. Sistem ini meriputi cara formal komunikasi, seperti publikasi di jurnal peer review. Salah satu karakteristik mendasar dari penelitian ilmiah adalah bahwa hasil penelitian tersebut dibuat sebagai barang publik untuk memfasilitasi penelitian dan pengetahuan. Penelitian ada yang sifatnya terbuka, baik langsung melalui proyek penelitian yang didanai oleh pemerintah namun ada juga yang swadaya tanpa mengharapkan imbalan. Dengan demikian, yang dimaksud sebagai komunikasi ilmiah adalah suatu proses penyampaian hasil penelitian oleh peneliti melalui tulisan yang dimuat dalam jurnal ilmiah. Kaitannya dengan tugas perpustakaan sebagai lembaga pengelola dan pusat informasi dan ilmu pengetahuan, perpustakaan bertugas memfasilitasi atau memberikan sarana komunikasi ilmiah bagi para peneliti tersebut. Seiring dengan pendapat ini, maka komunikasi ilmiah merupakan sistem yang di dalamnya terdapat proses menciptakan hasil penelitian dan karya ilmiah lainnya, proses evaluasi, proses penyebarannya ke masyarakat ilmiah. Jadi, perpustakaan tidak semata-mata hanya menerima jurnal-jurnal yang telah siap untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam hal ini, perpustakaan perguruan tinggi semestinya tidak hanya menerima atau mengadakan jurnal-jurnal ilmiah yang sudah siap untuk dibaca oleh para mahasiswa, dosen, maupun para peneliti. Melainkan juga menjadi wadah ataupun sarana untuk keberlangsungan komunikasi ilmiah tersebut. Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Scholarly Communication Perpustakaan perguruan tinggi dapat membangun wadah komunikasi ilmiah (scholarly communication), dengan upaya membuat portal jurnal akademik yang bekerjasama dengan akademisi seluruh bidang ilmu. Perpustakaan perguruan tinggi terlibat dalam proses penciptaan jurnal ilmiah melalui wadah komunikasi ilmiah. Dengan demikian tampak jelas peran perpustakaan sebagai “organizing, disseminating, and providing access to information, librarians and archivists act as gatekeepers of knowledge for countless students, researchers, and professors (Sugitomo, 2012). Perpustakaan perguruan tinggi dalam komunikasi ilmiah biasanya sebagai information consumer (pengguna informasi), yaitu mengkoleksi dan mengorganisasi informasi ilmiah agar mudah ditemukan kembali (retrieved) oleh civitas akademi (mahasiswa, dosen, peneliti). Dalam hal ini perpustakaan perguruan tinggi banyak berfokus pada program pendidikan pemakai (library instruction) yang bertujuan untuk mensosialisasikan library collection/resources dan strategi penelusurannya terutama yang bersifat online atau elektronik. Peran ini baru bersinggungan dengan wilayah scholarly communication, yaitu discovery dan dissemination. Pada setiap perguruan tinggi tentunya mempunyai lembaga yang berfungsi dalam pengelolaan dan diseminasi informasi, terutama informasi ilmiah seperti jurnal, prosiding, tugas akhir, serta karya ilmiah lain. Lembaga tersebut dijalankan perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi memiliki definisi menurut ALA from the National Center for Education Statistics (NCES), an Academic Library is defined as the library associated with a degree-granting institution of higher education. Dari NCES perpustakaan perguruan tinggi yaitu perpustakaan yang terkait dengan lembaga yang memberi gelar pendidikan tinggi. Definisi lain ALA tentang perpustakaan perguruan tinggi yaitu academic libraries serve college universities, their students, staff, and faculty. (Untoro dalam http://jurnal.iainponorogo.ac.id/). Dapat diartikan bahwa perpustakaan perguruan tinggi memberikan pelayanan kepada perguruan tinggi atau universitas, mahasiswa, staf dan fakultas.stakaan perguruan tinggi menyediakan kumpulan bahan tercetak atau bahan pustaka lain yang telah terorganisir untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Perpustakaan jurusan, fakultas, universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, akademi serta lembaga tinggi lain merupakan contohnya. Berdasarkan uraian di atas, perpustakaan perguruan tinggi dapat diartikan sebagai perpustakaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi, dengan tugas melayani masyarakat perguruan tinggi, serta dituntut ahli dalam memenuhi berbagai kebutuhan informasi, terutama informasi ilmiah bagi mahasiswa, dosen, maupun seluruh sivitas akademika. Peran utama perpustakaan telah bergeser dari semula mengutamakan kegiatan pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, maupun pelestarian menjadi peran diseminasi informasi (dissemination of information). Penilaian terhadap perpustakaan demikian tidak lagi didasarkan pada kepemilikan (holdings) ataupun jumlah koleksi, juga luas gedung ataupun ruangan, tetapi bergeser kepada keterjangkauan (access) dan transaksi, baik langsung maupun tidak langsung. Peran perpustakaan dalam diseminasi informasi ilmiah termasuk salah satu kegiatan dari komunikasi ilmiah (scholarly communication). Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana peran perpustakaan perguruan tinggi dalam komunikasi ilmiah, sehingga perpustakaan mampu mengambil peran yang utama, terlibat dalam beragam aktivitas yang bersifat keilmiahan maupun berkontribusi pada riset bagi perguruan tinggi sebagai pendukung universitas. Hal ini tentu dapat meningkatkan kualitas dari sumber referensi dan sumber informasi di perpustakaan, sehingga perpustakaan menjadi acuan dalam mencari informasi dan referensi ilmiah. Scholary Communication di Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi juga dapat menjadi wadah bagi jurnal-junal yang terbit secara cetak kemudian ingin diterbitkan secara elektronik. Perpustakaan juga mengambil tanggung jawab atas berjalannya komunikasi ilmiah melalui jurnal elektronik. Selama ini perpustakaan hanya menerima jurnal-jurnal yang telah siap untuk digunakan. Dalam pengelolaan pengetahuan, tentu menjadi salah satu tugas perpustakaan untuk mengelola komunikasi ilmiah yang ditulis oleh para peneliti atau akademisi. (Mamidi, 2001). Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat terlihat jelas bahwa peran perpustakaan sebagai tempat dan sarana komunikasi ilmiah seperti halnya portal jurnal akademik bagi peneliti dan akdemisi. Melalui jurnal elektronik yang ada maka akan terjalin dengan luas komunikasi ilmiah yang ada di perpustakaan perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah memiliki situs jurnal akademik sebagai alat komunikasi ilmiah adalah sebagai berikut : 1. Universitas Indonesia (UI) dengan laman website http://journal.ui.ac.id/ 2. Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan laman website http://journal.itb.ac.id/ 3. Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan laman website http://jurnal.ugm.ac.id/ 4. Universitas Airlangga dengan laman website http://e-journal.unair.ac.id/ 5. Universitas Diponegoro dengan laman website http://ejournal.undip.ac.id/ 6. Universitas Brawijaya dengan laman website http://jurnal.ub.ac.id/ 7. Universitas Lampung dengan laman website http://journal.unila.ac.id/ 8. Universitas Bengkulu dengan laman website https://ejournal.unib.ac.id/ Banyak perguruan tinggi di Indonesia yang sudah menggunakan OJS (Open Journal Systems) dengan aplikasi dalam pengelolaan jurnalnya. Dengan menggunakan OJS, informasi tentang dunia luas dapat diketahui semua oleh pemustaka. Perguruan tinggi yang sudah memanfaatkan OJS dalam menampilkan jurnal-jurnal ilmiah, akan memperoleh banyak manfaat salah satunya adalah kemudahan akses dan para pencari informasi akan mengetahui ketersediaan jurnal bidang tertentu suatu universitas. Penyediaan Konten Informasi Digital di Perpustakaan Universitas Bengkulu a. Repository Lembaga Repository lembaga Universitas Bengkulu dikelola oleh LPTIK UNIB dan Perpustakaan UNIB. Database repository UNIB dapat diakses di laman http://repository.unib.ac.id/. Pada laman ini menyimpan hasil karya tulis ilmiah hasil penelitian dari peneliti, mahasiswa, dosen, tendik dan civitas akademika Universitas Bengkulu. Jenis dokumen yang tersimpan dalam repository.unib.ac.id ini adalah seperti Laporan Penelitian Dosen, Skripsi, Tesis, Disertasi, Prosiding, Makalah, Paten, Artikel Jurnal, dan sebagainya. Hasil penelitian dapat diupload ke laman ini sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi para peneliti sebagai bahan rujukan komunikasi ilmiah (scholarly communication). Berikut contoh laman repository.unib.ac.id (Gambar 2 dan 3). b. Perpustakaan Digital Perpustakaan digital merupakan institutional atau site yang dikembangkan sendiri oleh pengembang perangkat lunak UNIB melalui aplikasi SLiMS. Database perpustakaan digital ini dapat diakses di laman lib.unib.ac.id. Pada laman ini menyimpan upload data e-journal dan e-book yang dikumpulkan oleh perpustakaan UNIB. e-book dan e-journal yang dimiliki dapat diakses oleh pemustaka melalui laman ini sehingga dapat bermanfaat juga bagi para pemustaka yang melakukan penelitian (Gambar 4). c. Open Journal Systems (OJS) Universitas Bengkulu OJS yang ada di Universitas Bengkulu dan sudah terpublikasi tersedia dalam laman https://ejournal.unib.ac.id/. Pembaca dapat mengakses situs ini secara langsung melalui media online. Jurnal yang ada berasal dari banyak disiplin ilmu, mulai dari Matematika, Kimia, Fisika, Ilmu Sosial, Pertanian, Hukum dan sebagainya. Peneliti yang hendak melakukan penelitian dapat mengakses pada laman ini secara gratis (Gambar 5).

Conclusion

Scholarly communication atau komunikasi ilmiah merupakan sebuah proses akademisi, cendekiawan, dan peneliti berbagi dan mempublikasikan temuan penelitian mereka sehingga tersedia untuk komunitas akademik yang lebih luas. Komunikasi ilmiah merupakan proses akademik, dimana akademisi dan peneliti berbagi dan mempublikasikan hasil penelitian dan pemikiran mereka sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas. Salah satu publikasi yang sangat penting di perguruan tinggi adalah jurnal. Untuk mengelola sebuah jurnal online dibutuhkan software. Open journal systems (OJS) dipandang software yang cocok untuk mengelola jurnal secara online. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai ujung tombak dalam penyebaran informasi dan media dalam kumikasi ilmiah (scholarly communication). beberapa alamat atau situs yang bisa didatangi di Universitas Bengkulu dalam sarana komunikasi ilmiah seperti repository.unib.ac.id, lib.unib.ac.id kemudian akses OJS melalui laman ejournal.unib.ac.id.