Kembali
16
1
2019 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 2 · 3 ISSN 2597-9957

Motivasi Pengelola Dalam Mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) Di Kabupaten Bandung Barat

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi pengelola dalam mendirikan taman bacaan masyarakat. Penelitian ini dilakukan pada Taman Bacaan Masyarakat yang ada di Kabupaten Bandung Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan memalui observasi, wawancara dan melalui studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa motif tujuan pengelola mendirikan TBM adalah yaitu untuk memfasilitasi masyarakat melalui TBM, meningkatkan minat baca masyarakat serta untuk menyediakan sara na yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan untuk motif alasan pengelola mendirikan TBM yaitu dikarenakan kurangnya informasi atau pengetahuan masyarakat, untuk melestarikan budaya membaca, menambah pengetahuan anak, untuk membatasi pergaulan anak yang tidak terkontrol, tingginya angka buta aksara, serta masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

Abstract

This study aims to determine the motivation of managers in establishing community reading parks. This research was conducted at the Community Reading Park in West Bandung Regency. The method used in the study uses a qualitative approach to the type of phenomenological research. The technique of collecting data is done through observation, interviews and through library research. Based on the results of the study, it was revealed that the motives of the manager's goal in establishing TBM were to facilitate the community through TBM, increase public inter est in reading and to provide facilities that could benefit the community. As for the motives for the reason for the management to establish TBM is due to lack of information or knowledge of the community, to preserve the reading culture, increase children's knowledge, to limit uncontrolled child association, high rates of illiteracy, and still lack public awareness of the importance of education.
Keywords: Community Reading Park · Manager · Motivation · Reading Interest

Introduction

Taman Baca Masyarakat atau yang disingkat menjadi TBM merupakan sarana ruang belajar yang tujuan utamanya meningkatkan kualitas hidup dalam hal pendidikan maupun pengetahuan ditengah-tengah masyarakat sekitar wilayah TBM. Salah satu wilayah yang memiliki TBM terbanyak di daerah Jawa Barat adalah wilayah Kabupaten Bandung Barat atau yang bisa disingkat KBB merupakan Kabupaten di Provinsi Jawa Barat sebagai wilayah hasil pemekaran Kabupaten Bandung. KBB memiliki 52 TBM yang tersebar di wilayah administratifnya, bisa dikatakan cukup banyak apalagi KBB ini termasuk daerah otonom. Bisa disimpulkan masyarakat memiliki antusias yang cukup tinggi untuk membuat masyarakatnya berkualitas dengan terdapat sebuah Taman Baca Masyarakat. Berdasarkan hasil pra penelitian di lapangan menurut penasehat forum TBM di KBB, jumlah TBM yang aktif hanya ada 27 TBM. Menurut Awaludin (2019) bahwa: “…52 jumlah TBM tetapi yang jalan hanya 27 TBM di KBB ini”. Peneliti sebelumnya mengetahui jumlah TBM di KBB sebanyak 52 TBM dari ketua Forum TBM di KBB akan tetapi, data yang ada dalam forum TBM hanya berjumlah 29 TBM pada saat ini Ginanjar (2019) mengatakan bahwa: “…Jumlah TBM di KBB saat ini ada 52 TBM, tetapi kami baru mengunjungi sebanyak 29 TBM sisanya belum terkunjungi”. Dari 52 TBM tersebut dibagi ke dalam dua jenis TBM menurut keberadaan atau pendiriannya yaitu TBM Mandiri dan TBM di Satuan Pendidikan atau Lembaga dengan jenis PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), hal ini sesuai dengan buku Petunjuk Teknis TBM Kreatif Rekreatif 2018. (Kemedikbud, 2018) Sebuah TBM tidak lepas dari pengelola atau pendiri dari TBM tersebut, lalu menjadi pengelola TBM di KBB merupakan pilihan bagi sebagian masyarakat tentunya tidak semua orang mau menjadi pengelola TBM di KBB, tugas utama dari seorang pengelola TBM yaitu memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab dalam mendirikan TBM tujuannya untuk meningkatkan kualitas masyarakat sekitar TBM. Selanjutnya, menjadi pengelola TBM tidak ada ketentuan profesi karena menjadi pengelola TBM itu dari kemauan diri sendiri, selaku Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah KBB Setiady (2019) mengungkapkan bahwa “…Tiap pengelola TBM di KBB merupakan masyarakat sekitar berbagai macam profesi dan tidak ada satupun pengelola memiliki latar belakang pendidikan dibidang ilmu perpustakaan”. Pengelola TBM juga melibatkan seorang pengelola yang tidak dapat berdiri sendiri perlu adanya bantuan dari pihak eksternal yaitu tokoh masyarakat sekitar dan juga relawan yang berperan penting mendukung kegiatan dalam mendirikan TBM, apalagi TBM mandiri yang dimana tidak terikat oleh lembaga atau pemerintah. Lalu untuk pendanaan TBM bersumber dari dana pribadi pengelola TBM ataupun pengelola TBM juga dapat bermitra atau bekerja sama dari pihak eksternal, untuk itu seorang pengelola TBM harus aktif dalam bersosialisasi untuk mendapatkan mitra ataupun bantuan dari pihak eksternal. Salah satu contoh TBM di KBB yang mendapat bantuan dari pihak eksternal seperti sumbangan dari program PerpuSeru menyumbangkan sebanyak 93 unit komputer untuk 31 titik yaitu 20 perpustakan Desa dan 11 TBM, sumbangan tersebut sangat membantu para pengguna TBM belajar menggunakan komputer dan mengakses internet serta juga bagi warga yang ada di perdesaan sehingga mereka dapat mengakses informasi dengan mudah. (Balebandung.com, 2016) Kegiatan literasi di Taman Bacaan Masyarakat Kabupaten bandung Barat (KBB) difokuskan pada tiga hal yaitu pendidikan, kesehatan dan kewirausaha. Penasehat TBM di KBB Awaludin (2019) mengatakan “ilmu-ilmu yang diperoleh dari membaca buku itu diaplikasikan dalam kehidupan seharihari, sehingga tidak hanya sebagai pengetahuan.” Dengan begitu manfaat adanya TBM selain mencerdaskan masyarakat berupa informasi dan pengetahuan juga memberi manfaat kegiatan usaha yang menghasilkan produk UMKM untuk mensejahterakan dalam segi ekomoni masyarakat sekitar. (Sari, 2019a) TBM yang aktif di KBB memiliki beragam kegiatan guna mengasah keterampilan masyarakat yang salah satunya menghasilkan produk UMKM, walaupun untuk pemasaran produknya masih terbatas akan tetapi dari keterampilan tersebut masyarakat mampu mandiri secara perekonomian. Keterampilan itu diperoleh salah satunya dari beberapa buku bacaan yang terdapat di TBM KBB artinya keberadaan TBM di KBB cukup efektif meningkatkan minat baca masyarakat sebagai pengguna TBM di KBB, serta memberikan dampak langsung berupa peningkatan atau penambahan keterampilan. Selain kegiatan literasi melalui TBM masyarakat di KBB tingkatkan keterampilan hidup menjadikannya TBM sebagai tempat pelatihan dan produksi, untuk pelatihan-pelatihan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat seperti menjahit, memasak, hingga digital marketing. Pelatihan tersebut menghasilkan beberapa TBM sudah mampu membuat karya dan produk yang kemudian dijual ke berbagai daerah melalui pemasaran secara online. (Sari, 2019b) Pengelola TBM di KBB ini pasti memiliki motivasi tertentu dalam menjalankan kegiatan literasi, tidak hanya motivasi diawal saja dalam membangun TBM tapi juga motivasi untuk mengelola menjadi TBM yang aktif karena memiliki fokus kegiatan literasi. Jadi, motivasi pengelola TBM di dasari atas tujuan tertentu untuk melakukan suatu tindakan. Adapun motivasi menurut Uno (2011) adalah: “Motivasi adalah dorongan dasar yang berada pada diri seseorang yang menggerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.” Berdasarkan hal tersebut pengelola TBM dapat dipastikan memiliki motivasi tertentu terkait dalam mendirikan serta pengelolaan TBM yang dibangun, setelah itu hal yang dilakukan pengelola selanjutnya disebut dengan tindakan. Untuk menjelaskan tindakan seseorang tersebut, Alfred Schutz membagi menjadi dua fase yakni tindakan in-order-to motive (motif untuk) yang merajuk pada masa yang akan datang dan tindakan because-motive (motif sebab) yang merajuk pada masa lalu. Pemikiran Schutz ini disebut dengan teori fenomenologi. (Kuswarno, 2009) Bertindaknya seorang pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di KBB dalam mendirikan sebuah TBM yakni yang pertama motivasi untuk mendirikan TBM atau harapan di masa yang akan datang pengelola setelah TBM didirikan sehingga TBM menjadi aktif dikelola dengan baik sesuai tujuan dan yang kedua motivasi sebab atau alasan saat di masa lalu pengelola tergerak hatinya untuk mendirikan TBM di KBB, maka dari situasi itu perlu adanya penelusuran secara langsung agar keberadaan TBM yang ada di KBB aktif dari awal didirikan hingga sekarang dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar sebagai pengunjung. Kehadiran TBM yang dikelola oleh pengelola TBM yang jelas memiliki motivasi tertentu untuk bertindak dalam mendirikan TBM pada masa lalu dan masa yang akan datang diharapkan pula dapat meningkatkan masyarakat yang datang. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak bisa lepas dari masyarakat sekitar, masyarakat sebagai pengunjung TBM juga dapat merasakan manfaatnya juga seperti meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan bagi mereka yang telah melek aksara, serta bagi masyarakat yang putus sekolah atau tamat sekolah tetapi tidak melanjutkan sebagai bekal untuk mengembangkan diri, bekerja atau berusaha secara mandiri dalam setiap aktivitas mereka dalam kehidupan di masyarakat. Berdasarkan fenomena gerakan literasi berbasis TBM dapat dipastikan adanya motivasi seorang pengelola TBM di KBB dalam mendirikan TBM untuk membangun kualitas masyarakat disekitarnya dengan latar belakang pengelola tidak memiliki pendidikan dibidang ilmu perpustakaan yang sudah dipaparkan diatas oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana motivasi dari pengelola dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat bertindak merajuk pada masa yang akan datang dan tindakan yang merajuk pada masa lalu. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian ini mengkaji tentang motivasi pengelola dalam merintis taman bacaan masyarakat. Ada tiga point dalam penelitian ini yakni motivasi, pengelola dan taman bacaan masyarakat. Mengenai pengertian motivasi jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu yaitu: usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dihendakinya atau mendapaat kepuasan dengan perbuatannya. Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati langsung tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. (Uno, 2011). Kemudian jika dilihat dari fungsinya motivasi menurut Hamalik (2004) yaitu sebagai berikut : a) Mendorong timbulnya kelakuan atau sutau perbuatan. b) Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan. c) Sebagai penggerak, artinya sebagai penggerak dalam melakukan sesutau yang diinginkan. Masih tentang motivasi menurut Thornburgh yang dikutip oleh Prayitno (1989) motivasi terdiri dari : a. Motivasi Intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri atau internal individu akan puas ketika kegiatan yang dilakukan telah mencapai hasil yang terlibat dalam kegiatan itu. b. Motivasi Ekstrinsik adalah keinginan bertinfak yang disebabkan faktor pendorong karena pengaruh rangsangan dari luar. Kemudian pengertian kedua dalam penelitian ini adalah pengelola. Pengertian pengelola berasal dari kata kelola, dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer karangan Salim & Salim (2002) pengelola berarti memimpin, mengendalikan, mengatur, dan mengusahakan supaya lebih baik, lebih maju dan sebagainya serta bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu. Menurut Kemedikbud (2006) Pengelola Taman Bacaan Masyarakat harus memiliki: a. Pengelola TBM yang diselenggarakan oleh masyarakat harus memiliki sikap peduli tanpa pamrih (relawan) untuk membantu melayani bahan bacaan dan pembimbing masyarakat membaca, berbeda dengan TBM yang dikelola oleh pemerintah. b. Pengelola diutamakan berlatar pendidikan bidang komunikas atau pendidikan yang memahami berbagai bahan bacaan serta responsif gender dan berkomitmen untuk mengembangkan minat baca masyarakat. c. Pengelola TBM diutamakan memiliki usaha ekonomi ditempat TBM, misalnya warung kopi, wartel, counter HP, dll. Ada beberapa tugas yang dilakukan pengelola taman bacaan masyarakat. Berkaitan dengan hal ini Kemedikbud (2006) tugas-tugas pengelola TBM adalah: a. Melakukan sosialisasi promosi bahan bacaan yang ada di TBM bagi masyarakat sekitar dan keberadaan TBM itu sendiri. b. Melakukan kajian sederhana untuk mendapatkan data profil masyarakat yang akan dilayani sehingga jenis bahan bacaan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan bahan bacaan masyarakat. Untuk itu pengelola TBM perlu memiliki katalog dari seluruh penerbit untuk memudahkan penelusuran dan pemesanan bahan bacaan yang diperlukan. c. Memberi layanan membaca, meminjam, melakukan berbagai aktifitas untuk meningkatkan kemampuan membaca, merangsang minat baca dan lain-lain. d. Mengumpulkan bahan bacaan (buku, leaflet, booklet, dll) dari para donator bahan bacaan baik masyarakat perorangan maupun lembaga dan juga dari lembaga pemerintah maupun swasta baik dari pusat maupun daerah. Sehingga bahan bacaan selalu kaya dan bervariasi, tidak membosankan tetapi selalu berbasis kebutuhan masyarakat setempat. e. Memberi layanan (jam buka TBM) secara optimal setiap hari sejak pagi sampai malam agar masyarakat yang tidak sempat berkunjung ke TBM pagi hari akibat kesibukan dapat dikunjungi malam hari. f. Menata bahan bacaan di ruang display bahan bacaan. Selanjutnya aspek ketiga dalam penelitian ini tentang taman bacaan masyarakt (TBM). Menurut Sutarno (2008)Taman Baca Masyarakat adalah tempat yang sengaja dibuat pemerintah, perorangan atau swakelola dan swadaya masyarakat untuk menyediakan bahan bacaan dan menumbuhkan minat baca kepada masyarakt yang berada di sekitar Taman Baca Masyarakat (TBM). Sedangkan Kemedikbud (2006) mengartikan Taman Bacaan Masyarakat adalah sebuah tempat/ wadah yang didirikan dan dikelola baik masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai sarana pembelajaran seumur hidup dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar TBM. Hadirnya taman bacaan masyarakat (TBM) memiliki beberapa tujuan. Kemdikbud (2006) menyebutkan beberapa tujuan TBM yakni : a. Membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipta masyarakat yang cerdas dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. Menjadi sebuah wadah kegiatan belajara masyarakat. c. Mendukung peningkatkan kemampuan aksarawan baru dalam pemberantasan buta aksara sehingga tidak menjadi buta aksara kembali. Selain terdapat tujuan dari TBM maka terdapat fungsi TBM untuk menyempurnakan tujuan TBM tersebut. Menurut Kemedikbud (2006), fungsi taman bacaan masyarakat adalah: a. Sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk belajar mandiri dan sebagai penunjang kurikulum program Pendidikan Luar Sekolah, khususnya program keaksaraan. b. Sumber informasi yang bersumber dari buku dan bahan bacaan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar dan masyarakat setempat. c. Sumber penelitian yang menyediakan buku-buku dan bahan bacaan lainnya dalam studi kepustakaan. d. Sumber rujukan yang menyediakan bahan referensi bagi pembelajaran dan kegiatan akademik lainnya. e. Sumber hiburan (rekreatif) yang menyediakan bahan-bahan bacaan yang sifatnya rekreatif untuk memanfaatkan waktu senggang untuk memperoleh pengetahuan/ informasi baru yang menarik dan bermanfaat. Melihat dari tujuan dan fungsi TBM yang sudah dipaparkan untuk lebih meningkatkan kualitas TBM juga melengkapinya, TBM juga memmpunyai manfaat. Menurut Kemedikbud (2006) manfaat taman bacaan masyarakat adalah: a. Menumbuhkan minat, kecintaan dan kegemaran membaca. b. Memperkaya pengalaman belajar bagi warga. c. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri. d. Mempercepat proses penguasaan proses penguasaan teknik. e. Membantu pengembangan kecakapan membaca. f. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. g. Melatih tanggungjawab melalui ketaatan terhadap aturan-aturan yang diterapkan. h. Membantu kelancaran penyelesaian tugas. Menurut keberadaan atau pendiriannya, TBM dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu: 1) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mandiri TBM mandiri yang merupakan TBM yang didirikan oleh perorangan atau komunitas. Umumnya, TBM Mandiri ini terbentuk karena kepedulian dan keinginan seseorang atau komunitas untuk memberikan akses bahan pustaka yang dimiliki kepada masyarakat sekitar. Pembiayaan pun dilakukan secara swadaya. Di TBM Mandiri, TBM tidak hanya sebagai tempat, tapi bisa memperkuat keberadaannya menjadi sebuah lembaga yang memiliki izin operasioanl atau dokumen legalitas. 2) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Satuan Pendidikan atau Lembaga TBM di Satuan Pendidikan atau Lembaga yang merupakan TBM yang berada atau menginduk di lembaga satuan pendidikan nonformal (seperti PKBM, SKB dan lainnya) atau lembaga lainnya (seperti desa, rumah ibadah, dan lainnya). TBM yang menginduk atau berada di dalam satuan pendidikan atau di sebuah lembaga menjadi bagian atau sarana/tempat atau program dari lembaga tersebut. Perizinan atau dokumen legalitas mengacu pada dokumen lembaga induk. (Kemedikbud, 2018).

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Noor (2009) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia, menekankan sifat realitas yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan fenomenologi sebagai bagian dari penelitian kualitatif, sebagai disiplin ilmu fenomenologi mempelajari struktur pengalaman dan kesadaran, secara harfiah fenomenologi adalah studi yang mempelajari fenomena, seperti penampakan segala hal yang muncul dalam pengalaman kita, cara kita mengalami sesuatu dan makna yang kita miliki dalam pengalaman yang kita alami disekitar kita. Fokus perhatian fenomenologi tidak hanya sekedar fenomena akan tetapi, pengalaman sadar dari sudut pandang orang pertama atau yang mengalaminya secara langsung. (Kuswarno, 2009) Fenemenologi berusaha untuk mengungkap dan mempelajari serta memahami suatu fenomenologi beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh individu hingga tataran “keyakinan” individu yang bersangkutan. Dengan demikian mempelajari dan memahaminya haruslah berdasarkan sudut pandang, paradigma dan keyakinan langsung dari individu yang bersangkutan sebagai subjek yang mengalami langsung (first-hand experiences). Dengan kata lain penelitian fenomenologi berusaha untuk mencari arti secara psikologi dari suatu pengalaman individu terhadap suatu fenomena melalui penelitian yang mendalam dalam konteks kehidupan sehari-hari subjek yang diteliti. (Herdiansyah, 2012). Oleh karena demikian alasan peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi dalam penelitian ini didasarkan kepada faktor seperti: terdapat suatu keunikan di masyarakat KBB mengenai pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) yang mayoritas bukan lulusan bidang ilmu perpustakaan akan tetapi mau mendirikan sebuah TBM dan bisa membuat TBM yang dikelolanya menjadi maju dan aktif

Result

Pada bab ini peneliti membahas dan menganalisis tentang keseluruhan hasil temuan yang dikumpulkan dan diperoleh peneliti selama berada di lapangan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti menggunakan pedoman wawancara untuk mempermudah dalam menggali lebih jauh hasil penelitian yang sesuai dengan judul dan fokus penelitian. Hasil wawancara secara mendalam dengan informan yang telah ditentukan kriteria informan oleh peneliti, dilampirkan dalam bentuk transkip wawancara dari hasil rekaman selama penelitian di lapangan. Peneliti akan membahas hasil penelitian dari sudut pandang peneliti dan sudut pandang informan, kemudian pembahasan dari sudut pandang peneliti didapatkan dari hasil wawancara dengan informan. 1. Motif Tujuan (In Order to Motive) Pengelola dalam Mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kabupaten Bandung Barat. Motif tujuan (in order to motive) adalah motif yang dimiliki individu yang berorientasi pada masa depan yang menggambarkan maksud, rencana, harapan, minat individu untuk masa yang akan datang. Pada motif ini setiap individu memiliki tujuan yang harus dicapai dengan melakukan tindakan sesuatu sesuai dengan tujuannya. Hasil dari wawancara yang peneliti dapatkan ada beberapa motif tujuan (in order to motive) pengelola dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat adalah: 1) Memfasilitasi Masyarakat Melalui TBM Tujuan dari mendirikan Taman Baca Masyarakat adalah memfasilitasi masyarakat melalui TBM dengan informasi-informasi yang terdapat di TBM, karena di dalam TBM terdapat banyak bahan pustaka atau buku-buku yang berisikan informasi yang dapat mengembangkan SDM dari informasi tersebut. Selain itu tujuannya TBM sebagai tempat untuk berkegiataan juga bukan hanya ada buku-buku saja, tetapi ada perlengkapan tambahan seperti komputer, internet gratis, alat musik dan lain-lain. Selanjutnya, TBM sebagai tempat buku yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat mulai dari berbagi pengetahuan dan juga berbagi keterampilan yang diperoleh dari TBM. Hal ini sesuai dengna pertanyaan pada saat mewawancarai Wildan Awaludin dari TBM Pengelolaan Lingkungan Cibungur, Angga Kurniawan dari TBM Gunung Ilmu dan Yuda Suhada dari TBM Citapen Berkah, sebagai berikut: Gambar 1 Buku-Buku di TBM Pengelolaan Lingkungan Cibungur Sumber: Dokumentasi Peneliti pada 18 Mei 2019 2) Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Motif lain mendirikan Taman Baca Masyarakat untuk meningkatkan minat bacanya khususnya anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, lalu dengan minat baca yang meningkat akan mencerdaskan masyarakat di sekitar TBM tersebut juga. Hal seperti yang terungkap dari hasil wawancara dengan Indra Dermawan, Lina Marlina dan Ahmad Sumpena pengelola TBM yang menyatakan “motif tujuan” dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat, pada saat wawancara yaitu sebagai berikut: “Tujuannya ya meningkatkan minat baca anak-anak, pengetahuan anak-anak kita lebih ke anak-anak fokusnya yang peduli dengan lingkungan.” (Wawancara dengan Indra Dermawan dari TBM Bening Saguling pada 22 Mei 2019) “…mudah-mudahan dengan adanya TBM Pasir Ipis bisa eumm apa eumm minat bacanya nambah…” (Wawancara dengan Lina Marlina dari TBM Pasir Ipis pada 22 Mei 2019) “Tujuannya mencerdakan masyarakat dan mencerdaskan anak bangsa, tujuan utamana mah seperti itu hehe” (Wawancara dengan Ahmad Sumpena dari TBM Sahabat Pena pada 24 Mei 2019) Gambar 2 . Kegiatan CARTULIS di TBM Pasir Ipis Sumber: Facebook @Taman Baca Pasiripis (Diakes 24 Mei 2019) 3) Bermanfaat Untuk Masyarakat Perdapat berbeda juga disampaikan oleh dua informan lainnya yaitu Fauzan Erlangi dari TBM Bhakti Mandala Muda dan Elpa Adriawan dari TBM Tali Rasa Aksara. Menurut Fauzan Erlangi dan Elpa Adriawan tujuan mereka dalam mendirikan TBM yang mereka kelola adalah bermanfaat untuk masyarakat, maksudnya agar TBM yang didirikan oleh pengelola TBM ada nilai berdaya guna dari masyarakat sekitar TBM supaya masyarakat bisa produktif yang difokuskan pada tiga hal kegiatan literasi TBM di KBB yaitu pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan. Dengan begitu pengelola berusaha membantu masyarakat yang perlu bantuan melalui TBM dengan saling bekerjasama. Berikut pernyataannya motif tujuan dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat, sebagai berikut: “Ya tujuan awalnya itu untuk eumm agar ya kita berdaya guna di masyakarat gitu.” (Wawancara dengan Fauzan Erlangi dari TBM Bhakti Mandala Muda pada 22 Mei 2019) “Ya untuk ya supaya anak-anak ya masyarakat bisa produktif karna kan di TBM ini berliterasi ada literasi pendidikan, kesehatan dan ekonomi nah implementasinya kalo ketika anak sudah membaca buku tentang kesehatan mereka langsung mempraktekan euuh tentang pendidikan ya salah satunya tadi ketika anak yang tidak sekolah mereka langsung lanjut melanjutkan sekolah gitu kemudian di bidang ekomoninya ya tadi anak-anak yang atau masyarakatnya.” (Wawancara dengan Elpa Adriawan dari TBM Tali Rasa Aksara pada 23 Mei 2019). 2. Motif Alasan (Because Motive) Pengelola dalam Mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat. Motif alasan (because motive) adalah daya dorongan yang ada pada diri manusia untuk melakukakn sesuatu yang disebabkan oleh suatu hal yang berkaitan dengan masa lalu. Adanya motif alasan karena seseorang khawatir atas kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di masa lalu yang membuat seseorang harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kejadian tersebut, agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Hasil dari wawancara yang peneliti dapatkan ada beberapa motif alasan (because motive) pengelola dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat adalah: 1) Kurangnya Informasi Pengetahuan Setelah informan memberikan pertanyaan mengenai motif tujuan (in order to motive), kemudian informan memberikan pernyataan mengenai motif alasan (because motive). Menurut Wildan Awaludin dari TBM Pengelolaan Lingkungan Cibungur untuk motif alasan dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat karena masyarakat kurangnya informasi pengetahuan disebabkan jauh dari perkotaan untuk itu Wildan berinisiatif mendirikan TBM di lingkungannya agar masyarakat mengetahui informasi pengetahuan melalui bahan bacaan yang terdapat di TBM. Berikut pernyataan Wildan mengenai motif alasan mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat, sebagai berikut: “…masyarakat kurangnya informasi terus butuh eeh butuh informasi karna apa karna masyarakat disini jauh dari perkotaan dan pengetahuan ya perlu adanya pengetahuan pengetahuan ya kita akhirnya mendirikan taman bacaan.” (Wawancara dengan Wildan Awaludin dari TBM Pengelolaan Lingkungan pada 12 April 2019) 2) Melestarikan Budaya Membaca Buku Selain itu ada menurut pendapat dari Angga Kurniawan dari TBM Gunung Ilmu mengenai motif alasan dalam mendirikan Taman Baca Masyarakat adalah untuk melestarikan budaya membaca buku di masyarakat sekitar TBM yang memang harus dipertahankan meskipun untuk mencari informasi di zaman yang canggih ini dapat memalui jaringan internet. Dengan melestarikan budaya membaca buku, masyarakat akan mengetahui arti dari buku sesungguhnya yang kita baca. Berikut pernyataan Angga tentang hal tersebut: “…pengen ya jangan di ilangin aja eeeh apa ya namanya eeeh baca bukunya itu jangan di ilangin gitu. Maksutnya budaya baca bukunya jangan sampe ilang walaupun banyak yang ngomong lah tinggal ngegoogling lah tinggal ke mbah google ya tapi kan arti buku itu lho gitu yang jangan sampe ilang.” (Wawancara dengan Angga Kurniawan dari TBM Gunung Ilmu pada 20 Mei 2019) 3) Menambah Pengetahuan Anak-Anak Pendapat berbeda datang dari dua informan yaitu yaitu Indra Dermawan dari TBM Bening Saguling, Lina Marlina dari TBM Pasir Ipis mengenai motif alasan dalam mendirikan TBM yaitu untuk menambah pengetahuan anak-anak di sekitar TBM, karena TBM yang dikelola oleh Indra dan Lina lebih difokuskan kepada anak-anak sekitar TBM sebagai generasi penerus bangsa agar sejak dini sudah mengetahui berbagai pengetahuan ilmu yang didapat dari bahan bacaan yang terdapat di TBM. Berikut pernyataan Indra dan Lina mengenai motif alasan mendirikan Taman Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung Barat, sebagai berikut: “Tujuannya yang melatar belakanginya itu untuk menambah pengetahuan anak-anak.” (Wawancara dengan Indra Dermawan dari TBM Bening Saguling pada 22 Mei 2019) “Ya awalnya kan membaca ya begitu ya memang dari apa ya dari seneng aja gitu gimana ya ke tarik aja gini gini kebetulan saya kan megang PAUD gitu jadi euum mungkin ada donasi buku-buku kaya gitu ya jadi eum untuk nyalurin ke anak-anak lebih gampang kaya model kebetulan TBM yang saya pegang ini eumm apa sasarannya kan anak-anak.” (Wawancara dengan Lina Marlina dari TBM Pasir Ipis pada 22 Mei 2019) 4) Pergaulan Yang Tidak Terkontrol Di sisi lain menurut Fauzan Erlangi dari TBM Bhakti Mandala Muda motif alasan dalam mendirikan TBM karena pergaulan anak muda di lingkungan sekitar yang sudah tidak terkontrol seperti bergaul di jalanan secara brutal dan minum-minuman alkohol secara terang-terangan kepada orangtua tidak merasa malu. Maka dari masalah itu Fauzan ingin membentuk pola dan paradigma masyarakat sekitar lingkungannya menjadi sadar pendidikan yang baik dengan itu Fauzan mendirikan TBM Bhakti Mandala Muda untuk memangkas generasi yang tidak baik dalam bergaul melalui pendekatan dalam berkegiatan di TBM, berikut pernyataan Fauzan tentang hal tersebut: “…kita dulu berprosesnya gitu sama teman-teman karena di perkampungan saya itu pergaulannya sudah bebas gitu ya sudah tidak dapat di kontrol ya generasi-genarasi tua lah eum itu kita berinisiatif bagaimana kita memangkas generasi agar apa? Agar pergaualannya tidak sama seperti generasi saya git, otomatis kita masuk ke ranah-ranah eum usianya dibawah saya gitu ya dibawah saya bagaimana caranya membentuk pola dan paradigm yang sudah terbentuk itu menjadi paradigm kita sadar untuk pendidikan sadar akan kapasitas SDM kita gitu mengolah agar apa? Ya pola piker kita berkembang tidak hanya eum apa tidak hanya kita bergaul dijalanan, bergaul kita di apa eum di masyarakat secara sudah brutal gitu dalam artian kata brutal itu eum dulunya eum kalo minum minuman itu udah cuek sama orang tua juga tidak di eum gak sembunyi-sembunyi gitu tapi ya Alhamdulillah sekarang karna dulu pendekatanya sangat lama sekali hampir 1 setengah tahun untuk berubah pola seperti itu Alhamdulillah sekarang sudah gak ada bahkan dia malu gitu malu kalo melakukan hal semacam itu secara terang-terangan karna apa? Karna eum kita kan memangkas generasi agar tidak seperti kita gitu.”(Wawancara dengan Fauzan Erlangi dari TBM Bhakti Mandala Muda pada 22 Mei 2019) 5) Tingginya Angka Buta Aksara Motif alasan dalam mendirikan TBM di KBB selanjutnya menurut Elpa Adriawan dari TBM Tali Rasa Aksara, karena tingginya angka buta aksara di lingkungannya dan juga menyebabkan minat baca masyarakat khususnya anak-anak hilang. Oleh karena itu Elpa mendirikan TBM Tali Rasa Aksara untuk mengumpulkan anak-anak agar lebih tergerak minimal ingin belajar membaca di TBM, berikut pernyataannya: “Ya seperti tadi yang di ceritakan eumm ya angka buta aksara di lingkungan sini tuh tinggi juga terus eumm apa minat baca masyarakat anak-anak pun mulai hilang ya akhirnya kalo anak-anak di kumpulkan euu menjadi lebih lebih apa lebih tergerak.”(Wawancara dengan Elpa Adriawan dari TBM Tali Rasa Aksara pada 23 Mei 2019) 6) Mencerdakan Masyarakat Menurut Ahmad Sumpena dari TBM Sahabat Pena motif alasan mendirikan TBM untuk mencerdaskan masyarakat di sekitarnya, maksud mencerdaskan masyarakat disini dengan mendirikan TBM Sahabat Pena masyarakat tersadarkan pentingnya membaca buku sejak dini untuk menambah ilmu pengetahuan. Sehingga dengan membaca akan menjadi masyarakat yang cerdas. Berikut pernyataan Ahmad mengenai hal tersebut: “Tujuannya mencerdakan masyarakat dan mencerdaskan anak bangsa, tujuan utamana mah seperti itu hehe.” (Wawancara dengan Ahmad Sumpena dari TBM Sahabat Pena pada 24 Mei 2019) 7) Kurangnya Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya Pendidikan Pendapat lainnya menurut Yuda Suhada dari TBM Citapen Berkah untuk motif alasan dalam mendirikan TBM di KBB karena kurang kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya pendidikan, dimana terlihat dari kondisi masyarakat tentang kecanduan internet yang tidak terkontrol menjadikan masyarakat perlu adanya edukasi mengenai kesadaran pendidikan dengan mendirikan TBM masyarakat menyadari pentinya pendidikan. Berikut pernyatan dari Yuda adalah: “…ada keprihatinan masalah euuh lingkungan sekitar pendidikannya rendah, kemudian karna tadi yah anak-anak banyak sosial masyarakat perkembangannya ya itu yah perlu ada edukasilah di masyarakat tentang kecanduan game, kecanduan internet kaya gitu-gitu.” (Wawancara dengan Yuda Suhada dari TBM Citapen Berkah pada 24 Mei 2019)

Conclusion

Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai motivasi pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dapat disimpulkan bahwa untuk motif tujuan (in order motive) pengelola mendirikan TBM adalah untuk memfasilitasi masyarakat melalui TBM, meningkatkan minat baca masyarakat serta untuk menyediakan sarana yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan untuk motif alas an (in order to motive) pengelola mendirikan TBM yaitu dikarenakan kurangnya informasi atau pengetahuan masyarakat, untuk melestarikan budaya membaca, menambah pengetahuan anak, untuk membatasi pergaulan yang tidak terkontrol, tingginya angka buta aksara, serta dikarenanya masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.