Kembali
16
1
2019 Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan Vol 7 · 1 ISSN 2540-9239

Peran Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara dalam menumbuhkan minat baca pada masyarakat

PT Chevron Pacific Indonesia

Abstrak

Minat baca masyarakat di Indonesia berada pada persentase 0,001% dan menduduki peringkat ketiga dari bawah. Hal ini sangat tertinggal jauh dengan negara-negara lain yang memiliki persentase rata-rata 0,45%-0,62%, sedangkan untuk persentase minat baca berdasarkan provinsi, Yogyakarta, menempati urutan ketiga dengan persentase 91.00 %. Berdasarkan kondisi tersebut tentunya perlu adanya tempat penyedia informasi yang mudah untuk diakses dalam meningkatkan minat membaca. Salah satu tempat penyedia informasi yaitu Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Untuk melihat hal ini, tentunya perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan peran TBM dalam mendukung penyebaran informasi di kalangan masyarakat. TBM yang akan dijadikan tempat penelitian yaitu TBM Mata Aksara. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran TBM Mata Aksara bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode penelitian deskriptif, dengan subjek penelitian TBM Mata Aksara, Yogyakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TBM Mata Aksara berperan sebagai tempat belajar, bermain, sebagai tempat belajar, praktik, sebagai tempat rekreasi, belajar, dan sebagai tempat melestarikan budaya. Kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini yaitu taman bacaan masyarakat sangat membantu dalam pemberdayaan gemar membaca khususnya anak-anak, serta memberikan dampak yang positif bagi masyarakat di lingkungan taman bacaan dalam memajukan sektor pertanian dan peternakan masyarakat sekitar taman bacaan.

Abstract

People’s reading interest in Indonesia is 0.001% and is ranked third from the bottom, lagging far behind other countries that have an average percentage of 0.45% -0.62%. While for the percentage of reading interest based on province, Yogyakarta ranks third with a percentage of 91.00%. Based on these conditions, indeed, it requires a provider of information which is easy to access to increase reading interest. One of the information providers is Taman Bacaan Masyarakat (TBM)/Community Reading Park. To find out more about this, obviously, research needs to be conducted relating to the role of TBM in supporting information dissemination among the community. The research location was Mata Aksara TBM. The purpose of this study was to determine the role of Mata Aksara TBM for the community. This study used a qualitative approach through descriptive research methods, with Mata Aksara TBM, Yogyakarta as the study subject. The data collection technique used was observation and interviews. Results of the study indicated that Mata Aksara TBM acted as a place of learning and play, as a place of learning and practice, as a place of recreation and education, and as a place to preserve culture. The conclusion from this study is that the Community Reading Park is beneficial in empowering reading interest, especially among children, and has a positive impact on the community in the TBM environment in advancing the agricultural and livestock sectors of the society around the TBM.
Keywords: Taman bacaan · Sumber belajar masyarakat · Sumber informasi · Diseminasi informasi

Introduction

Minat baca merupakan hal yang dapat menunjang berkembangnya suatu negara. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa budaya baca dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat yang berada di negara tersebut. Fithrorozi (2017) dalam Hidayah and Susilo (2017) mengatakan bahwa sesuai data UNESCO tahun 2012, Indonesia menempati tingkat minat membaca terendah kedua dibandingkan negara yang disurvei. “Minat baca perprovinsi peringkat pertama ditempati oleh Kepulauan Riau sebanyak 94,01 persen. Urutan kedua ditempati Provinsi DKI Jakarta sebanyak 93,10 persen, dan urutan ketiga Provinsi Bali mencapai 92,44 persen, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urusan keempat dengan 91,00 persen”(Marani, 2016). Zaenal (2016) menyatakan dalam penelitiannya, bahwa, “Bila dibandingkan dengan negara-negara maju, angka ini sangat terpaut jauh dengan rata–rata indeks baca di negara tersebut antara 0,45%-0,62%. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang besar, menduduki peringkat ketiga dari bawah dunia berdasar indeks baca negara-negara lainnya”. Dibandingkan negara maju, Indonesia memang tertinggal jauh. Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional RI (1977) dalam Hayati Suryono (2015) menyatakan bahwa, “(1) minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa lain bahkan dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN, dan (2) dominannya budaya tutur sebagai salah satu faktor penyebab rendah-nya kebiasaan dan kegemaran membaca masyarakat Indonesia”. Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi informasi semakin berkembang pesat. Informasi yang tersedia tidak hanya melalui buku tetapi juga melalui media radio, televisi dan internet. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut malah membuat anak-anak tidak tertarik dengan media baca seperti buku. Faktor lain yang mempengaruhi minat baca masyarakat rendah yaitu kurang memahami penggunaan internet. Sebagian dari mereka malah tidak dapat mencari informasi melalui internet, yakni dari kalangan para orang tua. Kumalasari (2019) menyatakan bahwa, “Menurut data survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna intenet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa pada 2017. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 132, 7 juta jiwa. Dari data tersebut juga diperoleh bahwa pengguna internet terbesar datang dari mereka yang berumur 19 hingga 34 tahun, yakni sekitar 49,52 persen.” Masyarakat di kalangan muda ternyata lebih banyak menggunakan internet di kesehariannya. Hal ini menjadikan aktivitas membaca secara online atau teks jarang dilakukan. Untuk itu, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk membudayakan gemar membaca di lingkungan sekitar, yang semua kalangan dapat memanfaatkan buku tanpa harus dibatasi usia, pekerjaan, budaya, dan penampilan. Dengan kata lain, semua masyarakat dapat memanfaatkan informasi yang ada di tempat tersebut. Serta masyarakat yang buta informasi dapat terpenuhi kebutuhan informasinya melalui internet. Menteri Pendidikan Nasional R.I. (2003) menyatakan bahwa, “UndangUndang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan, instrumen penunjang pemberantasan buta aksara melalui Pendidikan Non Formal (PNF) dengan program budaya baca dan pembinaan perpustakaan seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM ditujukan untuk membantu peningkatan minat baca, budaya baca dan cinta buku bagi warga belajar dan masyarakat.” Pemerintah sudah memberikan jalan agar masyarakat Indonesia gemar membaca, yakni melalui TBM. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses buku di sekitar tempat tinggalnya berada. “Taman bacaan masyarakat itu sendiri yang bermula dari taman pustaka rakyat pada tahun 50-an, merupakan bagian dari perpustakaan umum”(Sutarno N. S., 2006). Awal mula TBM berasal dari salah satu layanan di perpustakaan umum agar semua koleksi perpustakaan dapat digunakan oleh semua kalangan masyarakat. Sejalan dengan hal di atas, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat (2013) dalam Gunawan (2017) telah memfasilitasi TBM melalui penyaluran bantuan operasionalnya. Hal ini bertujuan agar masyarakat mampu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung untuk mengkomunikasikannya pada yang lain. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa TBM sebagai salah satu lembaga yang dapat membantu masyarakat Indonesia untuk dapat membaca dan menjadikan informasi untuk membantu kesehariannya. “Taman Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan suatu tempat yang sengaja dibuat dan dikelola oleh masyarakat, perorangan, lembaga dan pemerintah untuk menumbuhkan minat baca kepada masyarakat yang ada di lingkungan taman bacaan tersebut dan taman bacaan masyarakat termasuk dalam kategori perpustakaan umum” (Martini, 2018). Berdasarkan rujukan di atas, TBM berfungsi memenuhi kebutuhan informasi masyarakat melalui koleksi yang dihadirkannya. Masyarakat dapat terbantu dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi bahkan budaya melalui TBM. Kalida (2010) dalam Saraswati (2012) menjelaskan kalau, “TBM memiliki fungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat melalui program pendidikan nonformal dan informal. Ditinjau dari fungsinya, kedudukan TBM dapat mengembangkan potensi masyarakat dengan beberapa kegiatan yang diselenggarakan TBM tersebut”. Adanya program yang diadakan TBM, masyarakat dapat menggali dan mengembangkan potensi daerah bagi kemajuan lingkungannya. Salah satu TBM yang saat ini menyediakan informasi bagi masyarakat yaitu TBM Mata Aksara yang berlokasi di Jl. Umbulmartani, Ngemplak, Kota Yogyakarta. Semua kalangan dapat memanfaaatkan informasi dengan mudah, tanpa harus memakai sepatu, baju rapi, serta memiliki tidak perlu memiliki kartu pengguna di TBM ini. Tentunya TBM memiliki fungsi yang melekat dalam meningkatkan minat baca di masyarakat. Kalida (2010) dalam Saraswati (2012) pun berpendapat juga bahwa TBM memiliki fungsi, “Sebagai sumber belajar, sebagai sumber informasi, dan sebagai tempat rekreasi.” Pertama, TBM menyediakan bahan bacaaan sebagai sumber belajar masyarakat. Adanya bacaan ini, diharapkan mendukung pembelajaran masyarakat sepanjang hayat, dan dapat menambah wawasan dalam mengaplikasikan berbagai keterampilan praktis secara langsung, seperti bertani, berkebun, budidaya ikan dan lainnya. Kedua, TBM menyediakan bacaan berupa koran, tabloid, referensi booklet-leaflet atau akses internet sebagai sumber informasi untuk digunakan masyarakat. Ketiga, TBM memberikan hiburan yang mendidik dan menyenangkan, melalui tempat rekreasi dan edukasi dalam program layanannya. Selain itu, tujuan didirikannya TBM ialah, “Menumbuhkan minat membaca melalui penyediaan bahan bacaan untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan dan produktifitas baik bagi aksarawan baru maupun masyarakat umum lainnya” (Syamsuddin, Kuswara, Iskandar, Kusmiadi, 2015). TBM ditujukan bagi pembaca pemula dan masyarakat luas yang memerlukan akses informasi. Insany (2016) pun menuturkan bahwa fungsi TBM adalah, “Pertama, sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk belajar mandiri, dan sebagai penunjang kurikulum program pendidikan luar sekolah. Kedua, sebagai sumber informasi yang bersumber dari buku dan bahan bacaan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Ketiga, sebagai sumber penelitian dengan menyedikan buku-buku dan bahan bacaan lainnya dalam studi kepustakaan. Keempat, sebagai sumber rujukan yang dibutuhkan. Kelima, sebagai sumber hiburan (rekreatif) yang menyediakan bahan bacaan yang sifatnya rekreatif untuk memanfaatkan waktu senggang guna memperoleh pengetahuan.” Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa fungsi dari taman bacaan diantaranya sebagai sumber belajar, sebagai sumber informasi, sebagai tempat rekreasi, sebagai sumber penelitian, sebagai sumber rujukan dan sebagai sumber hiburan. Windy (2013) menuturkan, adanya taman bacaan masyarakat tentunya akan dapat memberikan dampak positif untuk masyarakat yang berada di sekitar taman baca masyarakat. Adapun manfaat yang didapatkan dari taman bacaan masyarakat, diantaranya: “1) menumbuhkan minat, kecintaan dan kegemaran membaca, 2) memperkaya pengalaman belajar bagi warga, 3) menumbuhkan kegiatan belajar mandiri, 4) mempercepat proses penguasaan proses penguasaan teknik, 5) membantu pengembangan kecakapan membaca, 6) menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, 7) melatih tanggung jawab melalui ketaatan terhadap aturan-aturan yang ditetapkan, dan 8) membantu kelancaran penyelesaian tugas” (Insany, 2016). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Saepudin (2017) yang memberikan pendapat, “Penguatan taman bacaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan di bidang bahan bacaan dan pelaksanaan kegiatan literasi kepada masyarakat dengan memperkaya varian koleksi bahan pustaka, menyediakan tempat yang nyaman, aman, dan menyenangkan, menyediakan sarana pendukung yang memadai, melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan membaca sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal, mengali produk unggulan yang menjadi ciri khas daerah tersebut.” TBM bermanfaat menumbuhkan minat, kecintaan, kegemaran membaca, dan memberikan pengalaman belajar bagi warga. Begitu pun dengan TBM Mata Aksara yang menyediakan fasilitas koleksi perpustakaan bagi masyarakat. Masyarakat dari anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan berbagai tujuan guna memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Dengan demikian, tentunya perlu dilakukan penelitian tentang peran dalam masyarakat.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan kejadian yang terjadi pada masa sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran empiris tentang peran TBM Mata Aksara dalam menumbuhkan minat baca pada masyarakat. Menurut Saepudin (2017), penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan rincian spesifik dari situasi, setting atau relasi-relasi sosial yang berlangsung dalam lingkup subjek penelitian. Dalam pendekatan deskriptif kualitatif, informasi atau data yang terkumpul, terbentuk dari kata-kata, gambar, bukan angka-angka. Kalau ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Penelitian ini dilakukan di TBM Mata Aksara, di mana hal ini tidak ditentukan berapa lama penelitian dilakukan. Subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah mengenai TBM dan peran taman bacaan di masyarakat, yaitu untuk mengali informasi tentang peran TBM Mata Aksara dalam menumbuhkan minat baca dalam masyarakat khususnya yang berada pada lingkungan sekitar taman bacaan. Ada beberapa metode pengumpulan data yang digunakan peneliti. Pertama, studi pustaka. Kedua, observasi, melalui pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung yang berhubungan dengan peran TBM. Ketiga, wawancara yang dilakukan kepada narasumber yang bersangkutan. Tahapan yang dilakukan dalam melakukan penelitian ini yakni peneliti mulai mencari data yang diperlukan untuk mendukung penelitian melalui observasi dan wawancara. Narasumber dalam penelitian ini yaitu pendiri TBM Mata Aksara. Hasil wawancara kemudian diolah menjadi transkrip wawancara lalu masukkan berupa berbentuk kutipan di kalimat untuk menambah keaslian penelitian. Peneliti dalam melakukan observasi, mengamati lingkungan di TBM Mata Aksara melalui melihat langsung kondisi lapangan untuk menggambarkan lokasi penelitian. Tahap selanjutnya, peneliti mengonfirmasikan hasil temuan lapangan dari sumber data yang sudah dikumpulkan lalu melakukan pengecekan pada subjek penelitian yang selanjutnya baru dikaitkan ke dalam literatur yang digunakan.

Result & Discussion

TBM Mata Aksara ini berdiri pada tahun 2009 dan diresmikan oleh Dinas Pendidikan setempat pada tahun 2012. Pendiri TBM adalah suami istri yang samasama memiliki keinginan untuk membangun gemar membaca, yakni Bapak Adi dan Ibu Heni Wardatur Rohmah. Narasumber, menuturkan bahwa awal berdirinya TBM ini : ”Awalnya koleksi yang dimiliki hanya dari koleksi pribadi yang kurang lebih berjumlah 900 judul. Perpustakaan yang ada di lantai 2 ini, merupakan gudang yang tidak dipakai. Jadi kami memikirkan bagaimana buku dan gudang bisa bermanfaat. Maka kami dirikan taman bacaan untuk masyarakat. Untuk saat ini koleksi yang dimiliki kurang lebih 6.000 eksemplar dan sebagian kadang kami sumbangkan kepada TBM bimbingan kami yang baru buka. Dulunya kami membuka TBM ini, untuk sarana baca anak-anak agar bisa membudayakan membaca sejak dini. Hal ini sudah saya praktekkan kepada anak saya, bahwasanya, jika anak-anak dihadapkan dengan buku setiap harinya kemungkinan sejak dini sudah bisa membaca” (Adi dan H. W. Rohmah, wawancara, January 28, 2017). Dari keterangan di atas tentunya dapat dikatakan bahwa koleksi awal berjumlah 6.000 eksemplar. Listiwati (2010) mengatakan bahwa, “Jenis buku pada TBM mencerminkan siapa sasaran pembaca yang dituju oleh TBM. Bagi TBM yang memiliki buku-buku terbatas pada jenis tertentu maka perlu membangun jaringan dengan TBM lain atau masyarakat sekitar dengan menggulirkan program kotak donasi buku”. TBM Mata Aksara memiliki sasaran pemustaka anak-anak, dewasa dan orang tua. Maka, koleksinya pun khusus tertuju pada pemustaka tersebut. TBM ini memang memiliki koleksi yang sedikit terbatas sehingga mereka menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, misalnya koleksi pribadi TBM Mata Aksara yang mendapatkan donasi koleksi dari beberapa lembaga. Tabel 1 Bantuan yang pernah diterima TBM Mata Aksara Sumber: Hasil penelitian, 2017 Sumpeno (2009) dalam Nurhasanah, Kamil, and Saepudin (2015) berpendapat bahwa salah satu fasilitas yang disediakan TBM Mata Aksara yaitu koleksi bahan pustaka. Fasilitas merupakan, “Salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh pendamping masyarakat dalam upaya memberdayakan masyarakat. Istilah fasilitas banyak digunakan dikalangan aktivis pembangunan masyarakat untuk menyatakan suatu bentuk intervensi atau dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas individu, kelompok atau kelembagaan masyarakat. Dengan kata lain, fasilitas merupakan komponen penting dalam suatu kegiatan, program, atau organisasi untuk mempermudah proses belajar”. Fasilitas merupakan komponen penting untuk mempermudah proses belajar. “A TBM is an institution promoting reading habits that provides space for reading, discussion, book review, writing, and other similar activities, which is equipped with reading materials, such as books, magazines, tabloids, newspapers, comics, and other multimedia materials, and supported by personnels acting as motivators” (Anna, Mannan, & Srirahayu, 2019). TBM harus menyediakan beberapa fasilitas dalam menunjang kegiatan gemar membaca, diantaranya penyediaan ruang baca, diskusi, ulasan buku, menulis, dan kegiatan lainnya menggunakan koleksi TBM. Fasilitas yang dimiliki TBM Mata Aksara diantaranya yaitu, koleksi buku, ruang baca, wifi gratis, rumah pohon, tempat praktik kolam ikan, dan motor keliling. Secara tidak langsung, fasilitas merupakan sarana pendukung untuk kemajuan TBM Mata Aksara. Adanya fasilitas tersebut telah menunjang proses belajar masyarakat sekitar untuk belajar dan mempraktikkan secara langsung. Pengunjung TBM yang sebagian besar anak-anak, lebih tertarik pada fasilitas yang disediakan taman bacaan. Mereka bisa belajar sambil bermain. Aktivitas belajar seperti ini ternyata mampu meningkatkan prestasi belajar anak-anak. Bahri (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa setelah anak-anak mengikuti kegiatan bimbingan belajar di TBM Cakruk Pintar, telah meningkatkan nilai beberapa mata pelajaran sekolah, misalnya nilai matematika. Selain itu, fasilitas motor keliling pun dimanfaatkan untuk mengunjungi sekolah yang membutuhkan koleksi bahan pustaka. Hal ini bisa menguntungkan pihak sekolah yang belum mempunyai perpustakaan. TBM Mata Aksara menawarkan prosedur peminjaman yang tidak terlalu sulit, sehingga memudahkan para murid sekolah untuk meminjam koleksi bahan pustaka. Hal ini sejalan dengan pendapat Anwar (2015) yang menyatakan bahwa tujuan dari perpustakaan keliling adalah, “Untuk mendatangi masyarakat yang tidak bisa dijangkau perpustakaan tetap, misalnya masyarakat pedesaan, sekolahsekolah yang belum ada perpustakaan, lembaga permasyarakatan, serta masyarakat lain yang membutuhkan layanan perpustakaan keliling.” Dengan kata lain, fasilitas yang disediakan TBM Mata Aksara sudah cukup memadai bila dilihat dari lokasi, penyediaan koleksi, wifi, ruang baca, motor keliling, rumah praktik, serta rumah pohon. Rumah pohon TBM Mata Aksara menyediakan ruang baca dan tempat meletakkan hasil karya dan medali yng pernah didapatkan. Selain itu, TBM Mata Aksara memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai yakni bersifat tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Adapun target capaian dari jangka pendek dan menengah sampai saat ini ada yang belum tercapai seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2 Upaya pencapaian tujuan Jangka waktu Tujuan Jangka pendek 2013 Angkringan Kebun vertikultura Kolam ikan Sekolah menulis Jangka menengah 2015 Mobil keliling, lengkap buku dan multimedia Memperluas Mitra Mata Aksara (jangkauan dan jumlah) Jangka panjang Perpustakaan Laboratorium Sanggar kegiatan kreatif Taman pendidikan budaya Sarana bermain Sumber: Hasil penelitian, 2017 TBM Mata Aksara diharapkan akan lebih baik lagi dalam melayani masyarakat yang membutuhkan informasi, dan hal ini menjadi tolak ukur keberhasilan yang akan dicapai ke depannya, maka “TBM dituntut untuk memberikan sistem layanan yang lebih baik” (Irawati, 2015). Layanan perpustakaan dapat dipenuhi melalui koleksi perpustakaan. Begitu pun di TBM Mata Aksara, yang memiliki koleksi bahan pustaka mencapai 6.000 eksemplar. Koleksi tersebut tentunya akan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Insany (2016) menyatakan bahwa dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang pendidikan, instrumen penunjang pemberantasan buta aksara melalui Pendidikan Non Formal (PNF) ialah program budaya baca dan pembinaan perpustakaan melalui TBM. Ini ditujukan untuk membantu peningkatan minat baca, budaya baca dan cinta buku bagi warga belajar dan masyarakat. TBM Mata Aksara melalui fasilitas dan programnya telah membantu masyarakat untuk mengakses informasi. “Perpustakaan merupakan institusi yang memiliki peran dalam menyediakan informasi bagi masyarakat” (Retno, Rohmiyati, & Husna, 2015). TBM memiliki peran penting dalam meningkatkan pendidikan masyarakat. Kata peran sendiri dalam Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2019) adalah, “Perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat”, sedangkan menurut Saepudin (2017) menyatakan bahwa peran merupakan, “Gambaran dari tugas dan fungsi seseorang individu atau pun kelompok dalam masyarakat”. Berdasarkan dua arti dari kata peran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa peran merupakan tugas dan fungsi utama yang melekat dalam diri seseorang untuk dijalankan baik secara individu ataupun kelompok. TBM memiliki peran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tentunya, hal ini perlu didukung semua lapisan masyarakat yang ada di sekitar TBM. Selain itu, TBM diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik melalui penyedian sarana pembelajaran secara mandiri. “Public agencies will also promote nutritious food for thought (despite its relative unpopularity) for citizens and thereby nurture the public good” (Staff of The Worthington Library, 2010). TBM harus memiliki koleksi perpustakaan dan menyebarkan pada masyarakat sesuai kebutuhan masyarakatnya. Adapun fungsi TBM itu sendiri diantaranya, pertama, sebagai sumber belajar dengan menyediakan bahan bacaaan bagi masyarakat. Adanya sumber belajar, misalnya buku diharapkan mendukung masyarakat dalam pembelajaran sepanjang hayat, dan dapat menambah wawasan untuk mengaplikasikan berbagai keterampilan praktis secara langsung, diantaranya bertani, berkebun, budidaya ikan dan lainnya. Masyarakat menerima pemahaman atau informasi yang lebih baik mengenai cara-cara bercocok tanam, budidaya peternakan yang baik, serta cara menangani hama dalam bercocok tanam atau menangani penyakit ternak masyarakat. Kedua, sebagai sumber informasi melalui penyediaan bacaan berupa koran, tabloid, referensi booklet-leaflet dan atau akses internet yang dapat digunakan masyarakat dalam melakukan akses informasi. Masyarakat di lingkungan sekitar TBM tidak lagi ketinggalan informasi. Ketiga, TBM sebagai tempat rekreasi, dan edukasi yang disediakan untuk memberikan hiburan yang mendidik dan menyenangkan. Lingkungan di sekitar TBM banyak sekali anak-anak yang bermain. Maka, TBM menyediakan tempat bermain dan rekreasi serta belajar anakanak. TBM akan dapat menarik minat anak-anak untuk datang. Salah satu sarana yang digunakan belajar yaitu rumah pohon, alat-alat permainan tradisional, alat mengambar, dan hewan-hewan yang dijadikan sebagai contoh (kelinci, marmut, ikan, dll). TBM memiliki perkembangan pesat digambarkan Kaeding, Velasquez, and Price (2017), yakni, “Public libraries had progressed further than other libraries, however, the focus of public libraries had been on physical accessibility and different resource formats”. TBM sebagai bagian dari perpustakaan umum tumbuh berkembang melayani masyarakat meluaskan pelayanan perpustakaan. Masyarakat yang bertempat tinggal jauh pun dapat mengakses koleksi TBM. Sesuai fungsi dan tugas yang sudah dijelaskan di atas, TBM diharapkan dapat menigkatkan minat baca yang rendah di kalangan masyarakat. Selain itu, dapat meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat khususnya para petani dan peternak yang ada di sekitar lingkungan TBM dalam meningkatkan kualitas produk pertanian dan peternakan daerah tersebut. TBM hadir dalam rangka meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Windy (2013) yang mengatakan bahwa salah satu manfaat yang di dapatkan dari TBM yaitu menumbuhkan minta baca masyarakat. Masyarakat dalam proses peningkatan minat baca memerlukan perhatian yang serius serta dorongan dari pemerintah sekitar supaya dapat berjalan dengan baik. Selain itu, program-program yang diselenggarakan dapat membantu menyebarluaskan informasi di kalangan masyarakat. TBM Mata Aksara ditujukan kepada masyarakat untuk membantu meningkatkan budaya membaca. Furlong (2015) malah menyebutkan bahwa perpustakaan mentransmisikan nilai budaya membaca pada masyarakat. Maka, hal ini dapat ditunjang melalui kemudahan pemustaka mengakses informasi (Sujarwo, 2015). Mereka sebagai pengunjung, dalam memanfaatkan informasi yang dibutuhkan tidak harus memiliki kartu anggota sehingga kebutuhan informasi masyarakat dapat terpenuhi selama 24 jam. Adapun program yang ada di TBM Mata Aksara diantaranya penyediaan koleksi, ruang baca, tempat bermain, peminjaman koleksi, praktik langsung, pembuatan karya bersama anak-anak, program penumbuhan minat dan bakat. Program praktik dan penumbuhan minat bakat dilakukan melalui pendekatan sebagai berikut, 1) melakukan praktik langsung mengenai budidaya ternak & pertanian dengan melibatkan masyarakat sekitar khususnya para petani dan peternak, 2) membuat karya seperti pembuatan kliping yang dikumpulkan dari hasil gambar yang dibuat, 3) mengenalkan anak-anak sesuai minat dan bakat, 4) mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Berdasarkan layanan yang disediakan tersebut, akan memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat. Pertama, sebagai tempat belajar dan bermain. TBM Mata Aksara memanfaatkan lahan yang ada untuk dibuat tempat membaca yang didesain sedemikian rupa agar terlihat menarik, seperti halnya membuat rumah pohon yang digunakan anak-anak membaca. Anak-anak begitu tertarik untuk datang ke sana. Selain itu, di depan ruang membaca lantai satu disediakan kelinci sebagai sarana belajar dan mengenal binatang bagi anak-anak. Narasumber mengatakan, “Anak-anak di sini tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar membuat karya dari bahan bacaan yang mereka baca, mulai dari tulisan sampai gambar. Setelah itu, kami kumpulkan dan kami buat dalam bentuk kliping” (Adi, Wawancara, January 28, 2017). Gambar 1. Hasil karya anak-anak TBM Mata Aksara Sumber: Hasil penelitian, 2017 TBM Mata Aksara, tidak hanya memberikan informasi namun juga menghasilkan karya seperti kliping. Anakanak menjadi semangat untuk belajar di lingkungan TBM. Kedua, TBM Mata Aksara sebagai tempat belajar dan praktik. Masyarakat dapat belajar sekaligus praktik langsung di lapangan. Kegiatan ini dilakukan para petani yang ingin membudidayakan ikan serta cara menanam agar baik seperti apa. Dengan kata lain, peran TBM adalah memfasilitasi layanan sekaligus mempraktikan setiap pembelajaran. Narasumber menuturkan, “TBM Mata Aksara ini, dapat dimanfaatkan semua umur. Para petani ingin mencari informasi tentang cara menangani ikan. Jika hujan turun, lalu petani tersebut mencari informasi pada saat itu juga akan kami layani. Kami memiliki prinsip informasi sepanjang masa. Jadi, kapan pun mereka butuhkan kami akan layani. Kemudian, kami juga tidak hanya menyediakan informasi yang disediakan tetapi juga memberikan praktik langsung, agar masyarakat yang kurang menguasai materi bisa lebih paham, misal untuk anakanak kami mengajari praktik membuat kue, praktik membuat telur asin dan kerajinan tangan lain-lain” (Adi, Wawancara, January 28, 2017). Gambar 2. Kegiatan belajar Sumber: Dokumentasi TBM Mata Aksara, 2017 Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa TBM Mata Aksara memiliki berbagai kegiatan dalam menumbuhan kreativitas anak-anak serta praktik bagi masyarakat. Selain itu, untuk membantu meningkatkan pengetahuan khususnya di bidang usaha seperti budidaya ikan dan lain-lain. Masyarakat menerima dampak positif dalam memecahkan permasalahan yang ada khususnya bagi para petani dan peternak. Bagi anak-anak, mereka menjadi lebih kreatif dan aktif dalam proses belajar. Ketiga, TBM Mata Aksara sebagai tempat rekreasi dan belajar bagi anak-anak, seperti penyediaan tempat bermain seperti rumah pohon, dan tempat bermain lainnya. Anak-anak lebih tertarik untuk belajar sambil bermain. Narasumber menyatakan bahwa. “Anak-anak selain membaca buku, juga diberikan motivasi untuk membuat karya, seperti kumpulan gambar-gambar yang lalu dijadikan kliping. Mereka jadi semangat untuk belajar dan membaca. Kegiatan yang kita lakukan bukan hanya menyediakan informasi saja. Selain itu, anak-anak untuk menarik minat belajar, kami buatkan taman bermain sehingga anak-anak tertarik untuk bermain dan belajar” (Adi, wawancara, Januari 28, 2017). TBM selain sebagai tempat untuk belajar juga dapat dilakukan untuk bermain. Adapun fasilitas rumah pohon dapat dilihat pada gambar di bawah ini Gambar 3. Rumah pohon TBM Mata Aksara Sumber: Hasil penelitian, 2017 TBM Mata Aksara menarik minat belajar anak-anak untuk belajar sambil bermain. Ini akan memberikan pengalaman belajar, meningkatkan minat belajar, serta menanamkan budaya baca sejak usia dini. Keempat, TBM sebagai tempat pelestarian budaya. Hal ini dilakukan agar budaya yang dulu pernah populer tidak hilang akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Anak-anak dengan belajar pelestarian budaya akan belajar mengenal permainan yang dulu pernah ada, seperti permainan egrang, klereng, membatik dan permainan tradisional lainnya. Kelima, TBM membantu penyediaan informasi dengan mendatangi pembaca secara langsung menggunakan motor keliling. Upaya ini dilakukan agar informasi dapat disebarluaskan dan memfasilitasi lembaga yang tidak memiliki perpustakaan. TBM bekerjasama dengan instansi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah, dalam penyebaran informasi melalui kunjungan langsung ke sekolah menggunakan perpustakaan keliling. Narasumber mengatakan, “Kami bekerja sama dengan sekolahsekolah, menggunakan perpustakaan keliling. Mereka bisa meminjam bahan bacan dengan catatan guru yang mengorganisir dan bertanggung jawab. Selain itu, kami juga bermitra dengan Perpustakaan Arsip Daerah DIY serta didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk mensinergikan program-program di kampus agar menjadi suatu program yang bisa saling mendukung dan saling berjalan” (Adi, Wawancara, January 28, 2017). Sesuai keterangan di atas, koleksi pribadi TBM Mata Aksara bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintahan, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta (BPAD DIY). Hal ini menunjukan bahwa koleksi yang disediakan TBM memiliki peran bagi masyarakat untuk mensinergikan programprogram yang ada di kampus. Adapun struktur organisasi TBM Mata Aksara dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Struktur organisasi TBM Mata Aksara Sumber: Hasil penelitian, 2017

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa TBM Mata Aksara berperan meningkatkan minat baca bagi anak-anak dan memberikan informasi bagi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari fungsi TBM sendiri sebagai sumber belajar, sebagai sumber referensi dan sumber rekreasi. TBM Mata Aksara sebagai sumber belajar bagi masyarakat dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dan manfaat bagi masyarakat. Program yang ditawarkan, seperti peminjaman buku, praktik, pengenalan budaya sejak dini, pembuatan karya ilmiah dan lomba. TBM Mata Aksara sebagai sumber informasi. Masyarakat dapat menambah wawasan khususnya bagi petani ataupun peternak melalui penyediaan koleksi tentang pertanian dan peternakan, koleksi teknik budidaya, dan lain-lain. TBM Mata Aksara berperan sebagai tempat rekreasi dan sumber hiburan, misalnya penyediaan tempat bermain seperti rumah pohon, aneka permainan tradisional (egrang), dan alat-alat musik tradisional. Selain itu, TBM dapat dijadikan sebagai tempat berkumpul dan silaturahmi antar masyarakat di sekitar lingkungan TBM Mata Aksara. Penelitan selanjutnya akan berfokus pada peran TBM di mata masyarakat. Hal ini diperlukan untuk menyempurnakan peran dan fungsi TBM sendiri dalam penyediaan sumber informasi bagi masyarakat.