SEJARAH KEPUSTAKAAN DALAM KONTEKS ISLAM : PERIODISASI PERTENGAHAN
ISI Surakarta
Abstrak
Kajian ini menggunakan metode deskriptif berupa kajian pustaka. Perpustakaan menjadi culture center terpenting, yaitu pada masa pemerintahan Abbasiyah, hasil karya terjemahan dan karang mengarang mengalami perkembangan, produksi kertas mengalami kemajuan dan penyalinan serta penterjemahan buku berkembang. Selanjutnya pada masa pertengahan peradaban Islam mengalami kemunduran dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, yaitu masa bani Umayah dan masa bani Abbasiyah, Kemunduran peradaban Islam tidak terlepas dari dunia perpustakaan. Ilmu yang telah dipaksa dihilangkan melalui pembakaran ataupun pembuangan buku-buku perpustakaan Islam sangat berdampak buruk bagi peradaban umat Islam. Akhirnya, sangatlah diperlukan suatu kesadaran bersama bagi masyarakat Islam untuk merubah pemikiran bahwa kemajuan tidak dapat dicapai tanpa usaha dan penguasaan terhadap suatu ilmu pengetahuan. Salah satu aspek yang diperlukan adalah tersedianya sumber informasi dan ilmu dari sebuah lembaga seperti perpustakaan, yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan sebagai tempat untuk penelitian untuk menemukan ilmu-ilmu baru sebagaimana dilakukkan oleh para ulama dan ilmuan Islam terdahulu pada masa kemajuan pemikiran dan peradaban Islam.
Abstract
This study uses descriptive method of literature review. The library became the culture center, namely in the reign of Abbasid, the work of translations and corals fabricated development, paper production and book copying developed. Furthermore, in the mid-civilization of Islam decline if with previous times, namely the Umayyad and the period of the Abbasids, The decline of Islamic civilization is inseparable from the library world. Science that has been eliminated through explosions or books of Islamic libraries is very bad for Islamic civilization. Finally, the resurrected victims will be used together to change the knowledge of science. One of the necessary aspects is the availability of information and information from an institution, sufficient to support activities and as a place for research to discover new sciences that were undertaken by Islamic scholars and scientists during the period of Islamic advancement and civilization.
Keywords:
Islamic Library
· Library
· Mid-Periodization
Introduction
Tradisi kepustakawanan, memiliki peran strategis dalam menjelaskan tumbuh dan berkembangnya suatu ilmu pengetahuan. Perpust akaan merupakan lembaga yang berfungsi menyimpan, melestarikan serta mentransmisikan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan, dapat menjadi ukuran bagi pencapaian dan kemajuan ilmu pengetahua n yang dicapai oleh suatu bangsa, Rifai (2003:viii). Perkembangan pemikiran dan peradaban Islam ini karena didukung oleh para khalifah yang cinta ilmu pengetahuan dengan fasilitas dan dana secara maksimal, stabilitas politik dan ekonomi yang mapan. Hal ini seiring dengan tingginya semangat para ulama dan intelektual muslim dalam melaksanakan pengembangan ilmu pengetahuan agama, humaniora dan eksakta melalui gerakan penelitian, penerjemahan dan penulisan karya ilmiah di berbagai bidang keilmuan. Kemudian ger akan karya nyata mereka di bidang peradaban artefak, Mugiyono (2013: Melalui sejarah Islam, terlihat puncak kejayaan ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Pencapaian ilmu ilmu umat Islam tidak hanya terbatas pada ilmu agama, namun juga ilmu ilmu umum. Kemajuan ilmu pengetahuan tersebut dibarengi dengan perkembangan perpustakaan pada masa itu. Khalid bin Yazid sering dihubungkan dengan koleksi buku muslim paling awal. Masruri (2006:4). Khalid selama hidupnya fokus belajar ilmu pengetahuan Yu nani, khususnya ilmu kimia dan kedokteran, Khalid memiliki asisten untuk menerjemahkan buku buku dalam subjek tersebut untuk dirinya dan perpustakaannya. Dunia ilmu pengetahuan telah sedemikian besar mendapat perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, s ehingga bagi kalangan yang mampu kemudian mendirikan perpustakaan. Pada masa pemerintahan Abbasiyah, hasil karya terjemahan dan karang mengarang mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan demikian karya sastra menjadi bertambah banyak untuk koleksi di perpustakaan karena pada saat ini kerta diproduksi dengan mudah dan budaya penyalinan juga dilakukan secara intens. Selain karya sastra pemerintah juga memperhatikan ilmu keagamaan dalam penyalinan dan penterjemahan. Perpustakaan menjadi ikon kebuday aan yang sangat diutamakan. Bayt al Hikmah yang didirikan oleh Harun al Rosyid menjadi salah satu perpustakaan terbesar di masa pemerintahan dinasti Abbasiyah. Perpustakaan ini terdiri dari seluruh hasil karya ilmiah dalam bidang agama bertahan sampai pe nyerbuan bangsa Mongol ke Baghdad di bawah pimpinan Hulagu pada tahun 1258 M. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini akan dibahas mengenai kepustakawanan Islam khususnya pada periodisasi pertengahan yaitu kisaran tahun 1258 sampai 1800 M. Adapun tujuan penulisan untuk mengetahui keadaan kepustakawaan Islam pada masa pertengahan.
Method
Kajian ini menggunakan metode deskriptif berupa kajian pustaka. Kajian pustaka dipergunakan untuk mengetahui kepustakawanan Islam pada periodisasi pertengahan. Dalam kajian ini juga menggunakan sumber data sekunder, yaitu kajian terhadap literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan judul penelitian.
Discussion
1. Pengertian Kepustakawanan Islam Menurut Rifai (2003:10 ) istilah kepustakawanan islam menunjukkan dua aspek utama. Pertama, bahwa kepustakawanan islam menunjukkan aspek aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan konsep, teori, dan prinsip prinsip dalam ilmu perpustakaan. Al Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Isl am telah memberikan dasar dasar yang berkaitan dengan beragam disiplin ilmu, termasuk ilmu perpustakaan. Kedua, istilah kepustakawanan Islam menunjukkan pada tradisi atau praktik di bidang ilmu perpustakaan yang berlangsung di dunia Islam. Hal ini terbukt i dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan di kalangan umat Islam sebagai bagian dari suatu peradaban yang dibangun. Berdasarkan hasil penelitian George Makdisi (1981, 1990) dalam Rifai (2003: 12). Menurut Ramadhani (2017:79), Kepustakawana n islam merupakan pustakawan yang menunjukan aspek aspek ajaran islam yang berkaitan dengan konsep, teori dan prinsip prinsip dalam ilmu perpustakaan, dan pustakawan yang langsung bekerja di dalam lembaga perpustakaan islam. Yang di maksud dari konsep, teo ri dan prinsip prinsip perpustakaan dalam islam di sini adalah tindakan tindakan yang dilakukan oleh seorang pustakawan yang sesuai dengan ajaran islam, contohnya dalam hal pelayanan seorang pustakawan harus memiliki sifat yang ramah, tama dan sopan. Berd asarkan pemaparan tersebut dapat dipahami kepustakawanan islam merupakan tradisi di bidang ilmu perpustakaan yang menunjukkan aspek aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan konsep, teori, dan prinsip prinsip dalam ilmu perpustakaan yang berlangsung di dun ia Islam. 2 . Kepustakawanan Islam Periodisasi Pertengahan Perkembangan Islam, mengalami dua fase yaitu fase kemajuan dan fase kemunduran. Fase kemajuan terjadi pada tahun 650 1250 M yang ditandai dengan sangat luasnya kekuasaan Islam, ilmu dan sain mengal ami kemajuan dan penyatuan antar wilayah Islam dan fase kemunduran terjadi pada tahun 1250 1500 M. yang ditandai dengan kekuasaan Islam terpecah pecah dan menjadi kerajaan kerajaan yang terpisah pisah, Joko Winarto (201 0 . Setelah Baghdad ditaklukkan H ulagu, umat islam dikuasai oleh Hulagu Khan yang beragama Syamanism tersebut, kekuatan politikIslam mengalami kemunduran yang sangat luar biasa. Wilayah kekuasaannya terpecah pecah dalam beberapa kerajaan kecil yang tidak bisa bersatu, satu dan lainnya sal ing memerangi. Peninggalan peninggalan budaya dan peradaban Islam hancur ditambah lagi kehancurannya setelahdiserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Timur Lenk. Joko Winarto ( Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800) Keadaan perkembangan Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali walaupun tidak sebanding dengan masa sebelumnya setelah berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Mughal di India dan kerajaan Safawi di Persia. Diantara ketiga kerajaan tersebut yang terbesar dan paling lama bertahan adalah kerajaan Usmani. a) Kerajaan Usmani Kerajaan Utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina yang bernama Usmani atau Usmani Idan memproklamirkan diri sebagai Padisyah al Usman atau raja besar keluarga Usman tahun 1300 M (699 H). Kemajuan-kemajuankerajaan Usmani yaitu dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, bidang ilmu pengetahuan dan budaya misalnya kebudayaan Persia, Bizantium dan arab, pembangunan Masjid-Masjid Agung, sekolah-sekolah, rumah sakit, gedung, jembatan, saluran air villa dan pemandian umum dan di bidang keagamaan.misalnya sepertifatwa ulama yang menjadi hukum yang berlaku. Joko Winarto (201 0 b) Kerajaan Safawi Di Persia Kerajaan Syafawi, mulanya adalah sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil (Azerbaijan). Masa keemasan kerajaan Syafawit erjadi pada masa kepemimpinan Abbas Iyaitu di bidang pilitik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang pembangunan fisik dan seni. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan Syafawi menjadi salah satudari tiga kerajaan besar Islam yang diperhitungkan oleh lawan-lawannya terutama dibidang politik dan militer. Joko Winarto (201 0 c) Kerajaan Mughal di India Kerajaan Mughal adalah kerajaan yang termuda diantara tiga kerajaan besar Islam. Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530). Kemajuan kerajaan mughal diantaranya adalah di bidang seni dan budaya misalnya karya sastra gubahan penyair istana, penyair yang terkenal yaitu Malik Muhammad Jayazi dengan karyanya padmavat (karya yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia). Joko Winarto (201 0 Periode kerajaan Mamluk di Mesir (1259 1517) dianggap sebagai jaman paling cemerlang dan paling makmur di dalam sejarah Islam. Hal ini karena seorang panglim a Mamluk bernama Baybar berhasil mengalahkan bangsa Mongol yang akhirnya menjadi Sultan Mesir. Abu Syamah menjelaskan tentang pelelangan buku, Petersen ( 1 996:156). Seorang pelelang berkebangsaan Turki Al Qadhi Al Fadhil memberikan 100.000 jilid kepada seko lah yang didirikannya, al madrasah al fadziliyah. Pada masa bencana kelaparan tahun 1296, murid murid menjual buku buku itu untuk mendapatkan roti. Sebanyak 100.000 jilid lain yang juga berasal dari perpustakaan terkenal itu dikatakan telah berpindah ke pe rpustakaan rumah sakit Al Qala’un yang dibangun pada 1284. Setelah meninggalnya Barbay pada tahun 1438 M, negara besar Mamluk diperintah oleh sultan sultan yang lemah sampai Khuskadam menaiki tahta singgasana pada tahun 1461 M. Perpustakaan Islam yang te rbesar dan terkenal pada tahun 1492 adalah masjid raya Kordova. Dalam periode pertengahan, terjadi masa kevakuman ekonomi dan kultur menghadapi Eropa, perkembangsan perpustakaan Islam mengalami kesuraman. Raja raja memiliki sedikit sekali perhatian terhada p perpustakaan, mereka telah puas dengan perpustakaan perpustakaaan madrasah, Masruri (2006:82). Merinid telah membangun paling sedikit tujuh sekolah di Fez dan tempat tempat lain, sementara keluarga Hafsah telah membangun delapan madrasah di Tunis selama 1236 1300. Al Makrizi (wafat 1442) telah mencatat 73 madrasah di Kairo, termasuk perpustakaan Sultan Hasan (wafat 1361). Sultan sultan Mamluk juga membangun madrasah madrasah di Palestina dan Syiria, termasuk Zahiriyah di Damascus kira kira tahun 1366 M. Disamping itu, ada tiga perpustakaan madrasah Mesir. Pertama perpustakaan madrasah al Mahmudiyah, nama ini mengacu pada nama jamaluddin Mahmud b. Ali al istadar (wafat 799/1396). Madrasah ini didirikan dua tahun sebelum beliau meninggal. Madrasah ini dilen gkapi dengan perpustakaan yang besar dan megah, dimana ia dikenal sebagai perpustakaan terbaik di Mesir dan Syiria pada masa al Maqrizi di awal abad ke 9 H. Kedua, perpustakaan Madrasah al Jamaliyah yang dikenal sebagai perpustakaan yang kaya akan koleksi. Ketiga, perpustakaan madrasah al Asyrafiyah. Selanjutnya, pada tahun 1866 madrasah Dar al Ulum Deoband didirikan oleh ulama terkemuka terletak di jantung kota Deoband. Madrasah ini dilengkapi dengan perpustakaan yang memiliki ruangan yang luas bagi pengun jung, dibuka selam 7 jam perhari mengikuti jam buika madrasah tersebut. Perpustakaan ini memiliki koleksi 133.070 terdiri dari buku, jurnal, dan naskah yang kesemuanya terdiri dalam 16 bahasa. Selain perpustakaan madrasah, terdapat perpustakaan universitas yang didirikan oleh Ahmad Bey (1837 1855) yaitu pada universitas Masjid Zaytuna, dimana beliau mewakafkan sebuah perpustakaan besar yang bernama Koleksi Ahmadiyah. Bahkan di tempat yang terpencil, seperti Jaghbub di timur laut Lybia dan Tamhurut di Marok o Selatan, kelompok kelompok Sufi new ortodoksi Sanusiah dan Nasiriyah membangun kompleks kompleks pendidikan yang memiliki perpustakaan besar. Oleh karena itu, banyak universitas yang dilengkapi dengan perpustakaan di dunia muslim, termasuk universitas Ba rat seperti universitas Amerika di Beirut pada tahun 1863 dan Robert College di Istanbul pada tahun 1863. Pada tahun 1897, koleksi koleksi perpustakaan yang di universitas al azhar telah disatuksan di suatu perpustakaan pusat. Salah satu perpustakaan besa r Islam yang ada sekarang adalah perpustakaan masjid Nabawi. Perpustakaan ini didirikan pada pertengahan abad ke 14 H. Pembangunannya dipimpin oleh Sayid Ahmad Yasin Al Khiyari (w. 1380 H). Koleksi kitabnya sampai sekarang sudah bertambah hingga mencapai 6 0 ribu judul buku. Koleksi kitab yang ada disana antara lain: kitab Tauhid, tafsir Al Qur’an, Tajwid, Qiraat, dan ilmu ilmu Alquran, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Nawawi, kitab sejarah Islam, sejarah Makkah, sejarah Madinah, dan buku buku pelajaran bahasa Arab, kitab kitab fikih dari empat mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali), maupun kitab kitab fikih dari mazhab mazhab lain, kitab kitab ushul fikih, dan akhlak, Zuhroh (2008: 3. Bayt Al Hikmah Pada masa abad pertengan ada perpustakaa n yang sanggat terkenal yaitu Bayt al Hikmah . Keunggulan Bayt al Hikmah Koleksi yang dimiliki cukup lengkap mulai dari buku buku agama Islam (kitab kitab tafsir, Hadits al Kutub as Sittah, teologi sampai kepada buku sains; astronomi, matematika, sejarah, k edokteran (Al Hawi oleh Muhammada bin Zakaria, Ali Abbas dengan kitab al Maliki, Ibnu Sina dengan al Qanun fi at Tibb dan sebagainya) ditambah lagi dengan kitab kitab sastra dan buku buku yang dihadirkan dari hasil terjemahan. Koleksi yang dimiliki tidak k urang dari 100.000 volume, boleh jadi sebanyak 600.000 jilid buku, termasuk 2.400 buah al Quran berhiaskan emas dan perak disimpah diruang terpisah (Nakosteen, 1996: 95). Buku buku lainya tentang ilmu ilmu hukum (fiqih), tata bahasa, retorika, sejarah, bio grafi, astronomi, dan ilmu kimia tersimpan dalam rak (peti) buku yang luas di sekitar (sepanjang) dinding, yang terbagi dalam susunan di atas rak rak buku, masing masing memiliki satu pintu dengan sebuah kunci. Di atas pintu masing masing bagian, tergantun g satu daftar buku buku yang ada di dalamnya, demikian pula peringatan (keterangan) tentang buku buku yang tidak ada dari masing masing cabang ilmu pengetahuan (Cyril Elgood dalam Nakosteen, 1996: 95). Bayt al Hikmah bukan hanya sekedar sebagai perpustakaa n saja dengan koleksi bukunya, tetapi ia berfungsi sebagai lembaga penerbitan dan lembaga penerjemahan, yang tentunya dari berbagai buku yang di terjemahkan tanpa melihat latar belakangnya dan hal ini mendapat dukungan yang tinggi dari khalifah pada waktu itu dengan menunjuk orang sebagai penerjemah dan sampai kepada pembelian buku dari daerah lain jika daerah itu belum di taklukan oleh khalifah. Di samping itu Bayt al Hikmah juga berfungsi sebagai observatorium, tempat untuk melakukan eksperimen, dan juga sebagai tempat berkumpul untuk berdiskusi, sehingga dari hasil diskusi dan penelitian ini maka akan menghasilkan ilmu baru dan nantinya akan di terbitkan menjadi buku, Fahruddin (2009:103 194) 4 . Peran Perpustakaan pada Peradaban Islam Perpustakaan pada a wal kebangkitan Islam sampai pada puncak kejayannya menujukkan suatu peran besar. Pertama, learning c enter Perpustakaan menjadi pusat diskusi untuk meraih ilmu pengetahuan. Bahkan fungsi perpustakaan tidak dapat dibedakan dengan fungsi lembaga induknya karena sama sama memberikan sumbangan pengajaran. Kedua, research c enter . Hal ini terlihat para peneliti atau ilmuwan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya melalui perjalanan dari suatu perpustakaan perpustakaan lain un tuk merumuskan dan mendapatkan penemuan penemuan baru. Peran ketiga, translate center . perpustakaan menjadi jembatan dari kebudayaan. Perpustakaan menjadi sponsor kegiatan penerjemahan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Peran keempat, pusat penyalinan buku. Alat alat percetakan pada masa modern belum terlihat pada masa itu, maka untuk mengatasi hal ini diadakan seleksi penyalinan pada tiap tiap perpustakaan. Penyalinan i tu diselenggarakan oleh penyalin penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan tulisannya. Perpustakaan Islam bahkan telah lahir dari awal Islam, terutama dari perpustakaan masjid, dimana orang orang Islam menyimpan al Qur’an dan kitab kitab tentang Islam di masjid. Masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga untuk menyampaikan informasi dari penguasa, melakukan proses peradilan, dan menanamkan aspek kehidupan intelektual Islam (dalam hal ini melalui perpustakaannya). Perpustakaan masjid merupakan as pek penting dalam perkembangan keagamaan dan peradaban Islam. Namun peran perpustakaan Islam tidak hanya diperoleh dari perpustakaan masjid, mungkin saja semua perpustakaan Islam yang didirikan pada masa itu sangatlah memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat, Zuhroh (2008). 5. Faktor kemunduran dan kehancuran perpustakaan Islam Banyak versi menyebutkan tentang penyebab kehancuran perpustakaan-perpustakaan Islam. Perang saudara, Konflik Islam dan Kristen, Politik dan kesulitan ekonomi merupakan beberapa faktor yang turut mempengaruhi mundur dan hancurnya ilmu pengetahuan dan perpustakaan Islam. Sangat disayangkan, banyak dari perpustakaan itu hancur karena perang. Kemunduran dan kehancuran negara-negara Islam sangatlah berpengaruh terhadap kemunduran dan kehancuran perpustakaan-perpustakaan Islam pada masa itu. Hal ini dapat dilihat dari perjalanan sejarah perpustakaan-perpustakaan tersebut. Perpustakaan Muslim di Tripoli telah dihancurkan oleh tentara perang Salib, atas komando seorang rahib yang tak senang saat menemukan demikaian banyak Al Qur’an di sana. Perpustakaan besar Sultan Nuh Ibn Mansur seluruhnya terbakar, sesaat setelah filosof besar tersbut menyelesaikan penelitiannya. Ketika sekolompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Bagdad, tahun 1258, mereka membakar semua perpustakaan. Demikian juga hal serupa terjadi di Samarkan dan Bukhara. Di Spanyol, semua perpustakaan pribadi dan umum mengalami suatu akhir ketidakberuntungan, ketika bangsa Moor diusir oleh Pangeran Kristen tahun 1492 dan ri buan buku buku berbahasa Arab dibakar. Escorial yang didirikan oleh Philip II dan berisi sejumlah besar manuskrip dan buku buku Muslim yang diperoleh dalam penangkapan terhadap sebuah perahu Maroko, telah dibakar pada akhir Juni 1674, dan 8000 buku b uku be rbahasa Arab dihancurkan, Zuhroh (2008). Penyebab kemunduran perpustakaan Islam terdiri dari faktor internal dan eksternal. a. Faktor internal, meliputi : 1) Konflik internal di kalangan umat muslim. Konflik politik dan propaganda propaganda yang bersifat se mpalan telah banyak mempengaruhi nasib perpustakaan. Penghancuran dan pembakaran buku buku yang dianggap sebagai hal yang berhubungan dengan pemurtadan oleh penguasa. Buku buku tentang filsafat, astronomi, atau doktri purbakala telah dibuang dan dihancurka n. Banyak buku buku telah dihancurkan dan dijual denhgan harga sangat murah serta banyak koleksi koleksi istana telah menyebar di seluruh spanyol. 2) Kemunduran kerajaan kerajaan Islam. Salah satu akibat dari konflik politik antar umat islam menjadi peny ebab kemunduran kerajaan kerajaan atau masyarakat Islam. Kerajaan yang merupakan salah satu penopang utama keberlanjutan dan kemajuan koleksi perpustakaan harus berakhir dengan ketidakberdayaan kerajaan kerajaan tersebut. 3) Pencurian koleksi perpustakaan . Pencurian ini bukan hanya oleh pengunjung perpustakaan tetapi juga oleh petugas sendiri. Perugas yang diangkat terdesak oleh kebutuhan hidup, lalu mengambil koleksi koleksi manuskrip yang sangat berhjarga untuk dijual. 4) Persoalan pribadi atau keluarga . Persoalan pribadi atau keluarga menjadi faktor kemunduran perpustakaan di dunia Islam, terutama pada perpustakaa perpustakaan khusus (pribadi). Dikalangan umat islam tertadapat orang orang yang sangat gemar membaca buku. Mereka mencintai buku melebihi d ari diri dan keluarganya sehingga banyak istri istri yang merasa diabaikan dan merasa cemburu. Istri al Zuhri pernah cemburu pada buku buku karena suaminya sangat asyik membaca buku di perpustakaannya. Kecemburuan dan kekecewaan atas sikap suaminya telah m embawa petaka bagi nasib perpustakaan. Seorang istri penguasa di Mesir menangisi dan meratapi kematian suaminya sambil melemparkan buku buku yang ada di perpustakaan ke dalam kolam besar yang berada di tengah tengah rumahnya. b. Faktor eksternal kemunduran pe rpustakaan Islam, meliputi : 1) Serangan tentara salib. Perang salib ini bermula dari penyerbuan Tentara Romawi, Gergia, dan Perancis yang dipimpin oleh Raja Armanus (Raja Romawi) ke wilayayh muslim. Pasukan muslim berhasil menghalau tentara Romawi dan menawa n raja Romawi di Zahwah. Kekalahan inilah yang menimbulkan kedengkian di kalangan orang orang Kristen. Menurut al Sibai (1992) dalam Rifai (2003:78) perang Salib membawa petaka besar yakni hancurnya perpustakaan perpustakaan islam dan sebagian besar kolek si perpustakaan islam justru dibawa ke Eropa. Banyak karya karya penting diyterjemahkan ke dalam bahasa Latin. 2) Invasi pasukan Tartar terhadap negeri negeri Islam. Penyerangan pasukan Tartar telah menghancurkan perpustakaan perpustakaan di berbagai kota. H ulaghu Khan menyerbu kota Baghdad dengan melakukan perampasan, pembakaran penghancuran, dan pembunuhan assal. Kebrutalan para tentara terlihat ketika mereka membuang seluruh buku buku yang terdapat di perpustakaan perpustakaan umum ke sungai Daljah sehingg a sungai tersebut penuh dengan buku buku. Air sungai sampai berbulan bulan berwarna hitam pekat akibat airnya bercampur dengan tinta buku buku yang ditenggelamkan. Ketiga, bencana alam. Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan longsor menyebabkan mal apetaka kehidupan, terutama tempat tempat ibadah atau masjid yang di dalamnya terdapat bayak koleksi atau perpustakaan besar.
Conclusion
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan masjid pada periode awal Islam, yang berfungsi s ebagai pusat belajar , sebagai pusat penelitian , pusat penterjemahan , pusat penyalinan dan penerbitan . Pada masa pertengahan ini perpustakaan masjid nantinya sebagai pelopor menjadi perpustakaan madrasah dan universitas . Pada masa pertengahan ini peradab an Islam mengalami kemunduran dibandingkan dengan masa masa sebelumnya, yaitu masa bani Umayah dan masa bani Abbasiyah, Kemunduran peradaban Islam tidak terlepas dari dunia perpustakaan. Ilmu yang telah dipaksa dihilangkan melalui pembakaran ataupun pembua ngan buku buku perpustakaan Islam sangat berdampak buruk bagi peradaban umat Islam. Hal ini diperburuk dengan tidak adanya upaya lagi untuk mengembalikan peran penting dari perpustakaan tersebut. Mengingat bahwa membaca adalah bagian ter penting sebagai a lur masuknya ilmu pengetahuan yang mendorong generasi terdahulu umat Islam untuk mendirikan fasilitas yang bisa menampung bahan bacaan karya karya ulama atau ilmuan pada waktu itu kini telah hilang. Bagaimanapun penyebab dan tingkat kerusakan terhadap duni a ilmu pengetahuan dan pendidikan yang telah ditimbulkan oleh perusakan terhadap perpustakaan perpustakaan penting Islam yang baik dilakukan oleh bangsa Mongol, tentara Salib, orang orang Kristen Barat, Turki, ataupun jamaah yang fanatik terhadap salah sat u aliran tertentu atau karena kebakaran, sangatlah besar pengaruhnya terhadap keberadaan ilmu pengetahuan dan perpustakaan Islam. Akhirnya, sangatlah di butuhkan sebuah kesadaran bersama bagi umat muslim Islam untuk merubah mind set bahwa kemajuan tidak d apat diraih tanpa usaha dan penguasaan terhadap suatu ilmu pengetahuan dan teknologi . Salah satu aspek yang diperlukan adalah tersedianya sumber informasi , referensi dari sebuah lembaga seperti perpustakaan, yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelaja ran dan sebagai tempat untuk penelitian guna menemukan ilmu ilmu baru sebagaimana dilakukkan oleh para ulama dan ilmuan Islam terdahulu