PERPUSTAKAAN SEBAGAI CO-WORKING SPACE: MEMBANGUN KOMUNITAS PARA DIGITAL NOMAD
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengulas konsep co-working space (Co-WS) serta prinsip-prinsip dalam membangun dan pengaruhnya dalam memenuhi kebutuhan ruang kerja bersama bagi digital nomad. Selain itu, makalah ini juga membahas strategi untuk mengintegrasikan Co-WS sebagai layanan perpustakaan termasuk karakteristik pustakawan yang dibutuhkan untuk mengelola Co-WS. Penelitian ini berbasis survei literatur dalam mengulas pelbagai hal yang berkenaan dengan konsep Co-WS serta yang berkaitan dengan pengembangan Co-WS di perpustakaan. Co-WS sebagai layanan perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan interaksi sosial para digital nomad yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk belajar bersama, berbagi pengetahuan dan berkolaborasi sehingga terbangunnya jejaring antara individu maupun antar komunitas. Disain ruang Co-WS harus mengedepankan nilai keterbukaan, kolaborasi, aksesibilitas, keberlanjutan dan mengerakkan budaya komunitas. Kombinasi ruang fisik dan virtual dalam implementasi layanan Co-WS menjadi strategi terbaik dalam membantu peleburan sosial dan pembelajaran untuk mengoptimalkan pemanfaatan layanan Co-WS. Layanan Co-WS merupakan peluang dan tantangan baru bagi pustakawan yang dituntut untuk mampu menjadi manajer komunitas, sosio-profesional, sekaligus menjadi seorang pustakawan bisnis tertanam dalam pengembangan komunitas para digital nomad secara efektif.
Abstract
This article aims to review the concept of co-working space (Co-WS) as well as the principles of building and its influence in meeting the needs of a co-working space for digital nomads. In addition, this paper also discusses strategies for integrating Co-WS as a library service including the characteristics of librarians needed to manage Co-WS. This research is based on a literature survey in reviewing various matters related to the concept of Co-WS in general and related to the development of Co-WS in libraries. Co-WS as a library service aims to increase the social interaction of digital nomads who make libraries as a place to learn together, sharing knowledge, and collaborate so that networks are built between individuals and communities. The Co-WS space design must prioritize the values of openness, collaboration, accessibility, sustainability, and promote a community culture. The combination of physical and virtual space in the implementation of Co-WS services is the best strategy in helping social integration and learning to optimize the utilization of these services. Co-WS services are new opportunities and challenges for librarians who are required to be able to become community manager, as well as to become embedded business librarian in the development of an effective digital nomad community.
Keywords:
library services
· co-working space
· community
· digital nomad
· embedded business librarian
Introduction
Perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang bergerak dalam penyediaan jasa layanan informasi kepada masyarakat yang dinamis. Dengan tujuan tersebut, perpustakaan berupaya tetap eksis dan mampu menjadi sandaran dan harapan bagi pengguna untuk memperoleh informasi dalam perubahan jaman, teknologi, gaya hidup dan perubahan lingkungan yang radikal. Akibatnya, perpustakaan senantiasa terus memahami perilaku informasi dan cara belajar dari komunitas yang dilayani. Sesuai dengan hukum ilmu perpustakaan yang dicetuskan oleh Ranganathan bahwa salah satu hukumnya menyatakan bahwa “perpustakaan merupakan sebuah organisme yang terus berkembang” (McMenemy, 2007, hlm. 100). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perpustakaan akan selalu berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan yang berada di sekitar mereka. Pada abad ke-21, lingkungan telah mengalami perubahan besar di mana telah masuk dalam fase revolusi industri 4.0. Pada fase ini, perubahan besar terjadi akibat kemajuan teknologi informasi. Kehadiran teknologi telah membawa dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia. Proliferasi teknologi informasi yang berkembang membawa dampak positif sekaligus dampak negatif yang mengubah cara pandang orang, kelompok bahkan dunia usaha. Upaya untuk dapat bertahan dalam perubahan dalam revolusi industri empat titik nol (4.0) adalah meningkatkan inovasi dan kreativitas dapat memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk meningkatkan daya saing. Dengan demikian, banyak program pemerintah pada saat ini berfokus dengan bagaimana mendorong dan memotivasi masyarakat untuk terus inovatif. Usaha kreatif biasanya dilakukan oleh para anak muda kreatif, para kelompok usaha rintisan (startup), UKM (Usaha Kecil menengah) dan pola kerja fleksibel atau disebut dengan para freelance. Pada umumnya dalam usaha dibangun dalam skala kecil dan dana yang minim dalam mengakomodir kreativitas usaha mereka, salah satunya adalah minim atau belum sama sekali memiliki kantor atau tempat kerja yang memadai untuk kebutuhan mereka beroperasi. Ketersediaan co-working space (selanjutnya dalam artikel ini disingkat Co-WS) menjadi kebutuhan yang diperlukan oleh komunitas tersebut untuk dapat meningkatkan produktifitas kinerja mereka. Kebutuhan akan tersedianya Co-WS oleh masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data statistik dari Statista menunjukkan data hingga tahun 2018 terdapat sekitar 18.900 Co-WS yang beroperasi di seluruh dunia. Jumlah pemakai yang memanfaatkan Co-WS sebagai tempat kerjanya berkisar 1,27 juta orang di seluruh dunia (Statista, 2019). Penyediaan Co-WS dikembangkan dan dikelola dengan model bisnis profit, non-profit dan pemerintahan. Berdasarkan hasil survey dari Global Co-Working tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 82% Co-WS dikelola dengan tujuan profit, 13% non-profit, 2% dikelola oleh pemerintahan (Drestanti Inggar, Hayati, & Faqih, 2018, hlm. 514). Pertumbuhan penyedia jasa Co-WS juga memperlihatkan tren positif, pada saat ini telah ada sebanyak 200 Co-WS yang tersebar di Indonesia, terdapat peningkatan 400% dari tahun 2017, dengan hampir separuhnya lokasi berada pada daerah Jakarta dan selebihnya tersebar pada beberapa kota besar lainnya.(Luciana, 2018) Co-WS berbeda dengan ruang kantor konvensional pada umumnya, secara filosofi co-working hakekatnya sebagai sarana ruang yang lebih bersifat open space daripada ruang private yang biasa terdapat dalam ruang kantor konvensional. Dengan demikian layout ruang seperti ini dimungkinkan terjadinya kolaborasi antara komunitas dan membangun koneksi di antara komunitas lainnya. Berbeda dengan data secara global, Co-WS terutama yang terdapat di Indonesia seluruhnya dikelola secara profit. Co-WS dapat dipahami sebagai ruang kerja bersama yang dapat digunakan oleh para freelance dan startup dengan menyewa ruang tersebut untuk menjadi anggota (Drestanti Inggar dkk., 2018, hlm. 513). Di Amerika Serikat, Co-WS tidak hanya beroperasi untuk tujuan profit, namun banyak lembaga swasta maupun pemerintah menyediakan secara gratis. Salah satu lembaga yang juga menyediakan layanan Co-WS adalah perpustakaan. Sepertiga perpustakaan yang terdapat di Amerika Serikat menyediakan fasilitas Co-WS yang dilengkapi dengan meja kerja besar, mesin cetak nirkabel, ruang pertemuan untuk berkolaborasi, dan menyediakan sumber daya informasi bisnis, hasil penelitian tren pasar, data statistik, hukum dan jurnal perdagangan (trade journal). Berbeda dengan pengelolaan Co-WS profit, perpustakaan dapat memberikan akses ke sumber informasi, namun juga menyediakan tenaga pustakawan yang siap membantu para pengusaha pemula dan pekerja lepas untuk membantu mereka untuk mengembangkan diri dan usaha. Dengan demikian perpustakaan dapat dijadikan sebagai Co-WS yang sempurna untuk para komunitas (Lussier, 2017, para. 1). Dari hasil survei Co-WS memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan kinerja komunitas, data menunjukkan bahwa para pengguna sebanyak 52% mengatakan adanya peningkatan standar kerja mereka; 68% merasakan fokus dalam bekerja menjadi lebih baik; dan 64% mereka dapat menyelesaikan tugas dan proyek mereka lebih tepat waktu (Lumley, 2014, hlm. 55) Perpustakaan telah sejak lama menyediakan sarana ruang publik untuk setiap orang dapat mengakses informasi dan dapat belajar bersama, dengan memberikan fasilitas untuk pengguna. Perpustakaan bukan hanya semata-mata menghubungkan orang dengan informasi, tetapi juga berupaya untuk mengkoneksikan orang dengan orang sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan masyarakat dan sedapat mungkin mampu mendorong kesejahteraan. Namun, sarana seperti ini belum dominan diimplementasikan oleh banyak perpustakaan yang ada di Indonesia sebagai usaha dalam mendorong dan membangun komunitas baik pada perpustakaan umum maupun perguruan tinggi. Kedua jenis perpustakaan ini memiliki peluang memiliki pengguna yang berlatar belakang wirausaha dan dunia bisnis yang dapat dikembangkan komunitasnya. Pemahaman terhadap perpustakaan sebagai tempat (library as space) khususnya terkait layanan Co-WS perlu dipahami oleh para pemangku kepentingan, manajer perpustakaan, dan pustakawan untuk mendorong pembelajaran sosial diantara komunitas yang ada di sekitar mereka. Hal ini juga menjadi salah satu upaya perpustakaan untuk mendukung layanan berparadigma inklusi sosial. Layanan bersifat inklusi sosial ini, mengacu pada bagaimana cara perpustakaan untuk meningkatkan ttarah hidup dan kesejahteraan masyarakat Penelitian ini berfokus pada eksplorasi konsep Co-WS serta nilai yang menyertainya, memaparkan pengguna potensial yang membutuhkan layanan Co-WS sebagai tapmet bekerja, termasuk kakateristik pengembara digital (digital nomad). Terakhir mengulas strategi integrasi layanan Co-WS di perpustakaan untuk meningkatkan pembelajaran sosial yang efektif dan peran pustakawan dalam pengembangan komunitas para digital nomad.
Method
Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan jenis peninjuan secara luas (survey overview). Survei ini beroperasi dengan cara menelaah berbagai ide berbeda yang ditemukan dalam berbagai literatur tentang subjek tertentu (Harris, 2020, hlm. 138). Penelitian studi literatur juga dipahami sebagai ringkasan tertulis dari dokumen yang menggambarkan keadaan pengetahuan terbit di masa lampau dan terbaru yang relevan dengan topik penelitian, dan mengelola literatur ke dalam sub-topik, dan mendokumentasikan kebutuhan untuk kajian yang diusulkan (Creswell, 2011, hlm. 105). Tujuan metode ini digunakan adalah untuk mendapat pemahaman dasar dari topik, eksplorasi konsep, memperkenalkan pendekatan dan menemukan hasil penelitian terkait fokus pembahasan. Metode pengumpulan data dilakukan secara dokumentasi, melalui pencarian literatur baik berbasis sumber primer dan sekunder dari database jurnal dan website. Adapun Jenis literatur yang dipilih dan ekstraksi dari berbagai ragam seperti artikel penelitian, artikel review, artikel prosiding, statistik, buku, surat kabar, dan website professional. Analisis data secara deskriptif dengan mereduksi ide-ide dan gagasan yang relevan terdapat dalam karya, kemudian menyajikan data dan melakukan verifikasi atau penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Konsep co-working space Ruang kerja bersama (Co-WS) adalah tempat kerja bersama yang digunakan oleh para profesional dari berbagai bidang. Separuh dari mereka adalah pekerja lepas dan termasuk mereka yang ingin menghilangkan kesepian bekerja sendirian di rumah dan memulai komunikasi dengan spesialis dari berbagai industri pengetahuan (Drestanti Inggar dkk., 2018, hlm. 514). Co-WS merupakan lingkungan hibrida yang lebih mirip seperti disain rumah, tetapi dengan fungsi sebagai ruang kantor terbuka. Konsep ini memungkinkan komunitas pengusaha bekerja saling berdampingan, berbagi meja, mesin kopi, dan, mereka dapat salang berkolaborasi sehingga mendorong produktivitas kerja dan mendapat fokus yang lebih baik dengan rasa kenyamanan (Noguchi, 2017, hlm. 80). Ruang kerja bersama merupakan gabungan dari area ramah dan tempat kerja yang mudah diakses yang pada umumnya berlokasi pada stasiun kereta, perpustakaan, toko buku dan kafe. Pada prinsipnya ruang ini tersedia sebagai tempat orang untuk bertemu, berinteraksi sebagai dasar untuk meningkatkan “keuntungan pribadi” atau komunitas tertentu dengan memfasilitasi mereka ruang informal dan interaksi sosial sehingga menggambarkan ruang kerja kolaboratif yang berakar pada prinsip keterbukaan, fleksibilitas, kegunaan dan aksesibilitas.(Schopfel, Roche, & Hubert, 2015, hlm. 69) Berdasarkan sudut pandang bisnis merupakan Co-WS merupakan model kerja yang terintegrasi dan fleksibel yang berfokus pada kebutuhan pengusaha, pekerja kreatif dan berpengetahuan. Setiap ruang kerja bersama didasarkan pada lima dimensi utama yaitu kolaborasi, komunitas, keberlanjutan, keterbukaan, dan aksesibilitas. Selain ruang kerja, fokusnya adalah membangun jaringan untuk pertukaran pengetahuan, inovasi dan pendidikan lebih lanjut, yang akan membantu rekan kerja dalam kegiatan kewirausahaan mereka (Schürmann, 2013, hlm. 34). Sebagai sebuah tempat, Co-WS merupakan tempat kerja yang memiliki nilai-nilai inti yang terdiri dari kolaborasi, komunitas, keberlanjutan, keterbukaan dan aksesibilitas. Aspek kolaborasi dari Co-WS menekankan pada keinginan bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan nilai kolektif. Nilai Komunitas berfokus pada dimensi kebersamaan diikat melalui minat dan hasrat yang sama untuk berkontribusi dalam komunitas dan mendapat manfaat darinya. Nilai Keberlanjutan dari ruang kerja bersama ini menekankan pada penggunaan sumber daya secara bersama untuk keuntungan ekonomi dan ekologi. Aspek keterbukaan menjadi nilai pokok dimana, kesediaan diantara individu untuk berbagi pengetahuan, ide dan informasi diantara rekan kerja. Nilai terakhir dari Co-Ws adalah aksesibilitas. Akses ruang kerja bersama didesain secara standar yang terjangkau baik secara sosial, ekonomi dari setiap jenis pekerja (Kwiatkowski & Buczynski, 2011). Berdasarkan keseluruhan nilai yang ada, kolaborasi merupakan unsur terkuat yang mendorong aktivitas dan fenomena dari Co-WS. Bekerjasama adalah kunci bagi setiap orang dan komunitas untuk dalam saling membangun dan bekerjasama yang saling menguntungkan di antara mereka. Kolaborasi menjadi kekuatan untuk meningkatkan produktifitas dan inovasi, di mana kegiatan dan projek tertentu untuk saling kolaborasi, baik dalam bidang pekerjaan yang sama maupun lintas bidang. Nilai kolaborasi dan adanya keterbukaan menumbuhkan nilai lainnya dalam bentuk berbagi sumber daya, keterampilan, kreativitas, keahlian dan pengetahuan. Co-WS lebih dari sekedar ruang fisik, namun memiliki empat prinsip dimensi diantaranya pertama, sosio-professional yang menekankan pada menstimulasi kreativitas dan alir informasi melalui interaksi sosial. Kedua, Dimensi ekonomi dari Co-WS memungkinkan penggunaan sumber daya secara bersama dan meningkatkan efisiensi. Ketiga, dimensi budaya dari Co-WS menekankan gerakan budaya komunitas dimana etos berbagi, keterbukaan dan keinginan hidup bersama menjadi aspek penting. Ke-empat, Prinsip disain tata ruang dalam Co-WS menekankan pada bagaimana terciptanya intensitas dan kualitas interaksi sosial baik melalui saluran dunia nyata maupun virtual. (Vivien, Juliette, & Villemonte de la Clergerie Cécile, 2015, hlm. 13) Aspek sosial, kolaborasi dan berbagi pengetahuan merupakan aspek penting yang menjadi target dalam pemanfaatan sarana Co-WS. Kantor bersifat informal menjadi karakteristik utama dalam mendisain ruang kerja bersama yang berusaha mendorong setiap individu dan komunitas untuk saling berkolaborasi dan menghasilkan jaringan antara komunitas yang mungkin dihasilkan melalui pertemuan, percakapan informal yang tidak terduga atau tidak sengaja sangat berpotensi terjadi di dalam Co-WS. Secara sederhana co-working sebagai tempat merupakan ko-lokasi kerja dari sekelompok individu yang heterogen dengan tempat kerja yang sama (Kojo & Nenonen, 2017, hlm. 5). Kata kunci utama dari konsep ruang kerja bersama mengedepankan komunitas, kolaborasi, dan konektifitas, dengan demikian komunitas dapat berkembang atau melahirkan komunitas baru untuk mendorong inovasi dan kreativitas yang kuat. Pengguna potensial Co-WS: Melayani para digital nomad Istilah “digital nomad” diperkenalkan pertama kali oleh Makimoto dan Manners dalam bukunya berjudul “Digital Nomad” pada tahun 1997, istilah ini digunakan untuk manifesto dari perubahan gaya hidup revolusioner yang dipengaruhi oleh munculnya kemajuan teknologi internet (Thompson, 2018, hlm. 43). Pengembara digital atau digital nomad adalah orang yang hidup secara nomaden (atau bepergian sesuka hati) dan bekerja secara digital saat bepergian. ‘Desain gaya hidup’ membahas bagaimana seseorang bisa hidup, tetapi tidak membahas bagaimana seseorang bekerja. ‘Remote work’ membahas bagaimana seseorang dapat bekerja saat bepergian, tetapi itu tidak membahas bagaimana seseorang hidup. “digital nomad” mencakup kedua sisi bagaimana seseorang hidup dan bekerja (Backe, 2018, hlm. 17). Lebih lanjut Backe menjelaskan bahwa terdapat dua karakteristik utama dari seorang digital nomad, yaitu hidup sebagai nomaden, di mana seorang digital nomad bekerja di luar rumah dan suka bekerja di tempat yang disukainya; dan karakter kedua adalah, seorang digital nomad bekerja secara digital di mana setiap aktifitas pekerjaannya didominasi oleh pendayagunaan teknologi informasi. Berdasarkan data statistik dari Deskmag tahun 2019 (Deskmag, 2019, hlm. 22) tentang sebaran anggota pengguna Co-WS tahun 2019 berdasarkan jenis profesi. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa pengguna dari Co-WS berasal dari banyak ragam profesi. IT menjadi jenis profesi yang paling banyak menggunakan ruang kerja bersama, disusul dengan profesi penulis, marketing, periklanan yang jika di akumulasi memperoleh rata-rata 30% dari seluruh profesi yang menggunakan Co-WS. Ketiga kelompok profesi tertinggi menunjukkan konsistensi atau tren peningkatan penggunaan fasilitas. Profesi yang memungkinkan pekerjaan dilakukan jarak jauh (remote worker) memiliki kecenderungan menggunakan ruang kerja bersama sebagai kantor mereka. Digital nomad adalah pekerja jarak jauh yang sering dipekerjakan di bidang teknologi seperti desain web, pemrograman, atau pemasaran online (Thompson, 2018, hlm. 43). Perilaku dan karakteristik mereka mewakili generasi C (Gen-C) yang sudah terlahir atau familiar dalam ekosistem digital (Nashihuddin, Kartiko, & Farida, 2019, hlm. 7). Para digital nomad tidak terpengaruh oleh konteks sosial-spasial (Müller, 2016, hlm. 345). Para pekerja seperti ini memilih lokasi mereka berdasarkan pertimbangan waktu luang, bukan pekerjaan. Beberapa manfaat yang mempengaruhi para digital nomad memilih menggunakan Co-WS dibandingkan dengan ruang publik yang lain di antaranya adalah memiliki kesempatan untuk bergaul dan ber-jejaring dengan sesama profesi atau minat yang sama, adanya dorongan untuk pengembangan diri karena didukung oleh komunitas, bebas dari rasa persaingan, bagaimana terjadi pada kantor secara formal, para digital nomad dapat mendapat akses ruang secara lebih murah dan fleksibel (Grassin, 2017). Walau di banyak kasus (preferensi) para digital nomad menggunakan lebih dari satu jenis ruang selain dari Co-WS di antaranya seperti kafe, makerspace, dan bahkan perpustakaan. Disain Co-WS sangatlah fleksibel yang bergantung dari kebutuhan komunitas yang menjadi pelanggan. Perpustakaan sebagai co-working space Ruang kerja bersama merupakan kebutuhan mendesak banyak pengusaha muda, pekerja virtual, dan pekerja lepas. Mereka tidak lagi ingin bekerja sendirian di rumah untuk mencari interaksi sosial sebagai bagian dari kebutuhan mereka untuk meningkatkan kemampuan, relasi dan kolaborasi. Tempat kerja yang dinamis dengan cepat menjadi alternatif yang profesional dan menarik untuk kafe, restoran, pusat startup dan perpustakaan. Perlu juga dicatat bahwa hampir setengah dari pekerja milenial yang bekerja adalah pekerja lepas menurut studi “Freelancing in America: 2017”(Upwork and Freelancers Union commissioned Edelman Intelligence, 2017). Di Indonesia sendiri, data statistik pekerja lepas menurut perhitungan dari situs freelance.com terdapat 900.000 freelance yang terdaftar. Lebih lanjut pertumbuhan freelance di Indonesia mengalami peningkatan pesat peringkat ke-tiga secara global dan peringkat ke-dua di Asia dalam platform mereka dan hasil analisa menunjukkan bahwa freelance Indonesia akan menjadi pusat industri freelancing di Asia (Jamaludin, 2016). Berdasarkan usia pekerja freelance Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 72% berumur antara 18-30 tahun. Untuk status kerja freelance sebanyak 44% merupakan pekerja tetap di organisasi dan menjadikan freelance sebagai tambahan income, 22% fulltime sebagai freelance, 16% sebagai pelajar dan 18% sebagai ibu rumah tangga.(Wiku, 2015). Penelitian lain yang menggambarkan karakteristik para statrtup kreatif yang memakai layanan Co-WS di Kota Bandung menunjukkan bahwa didominasi oleh kalangan milenial dan mereka memiliki motivasi pemilihan tempat karena faktor jam kerja yang fleksibel dan faktor komunitas (Pramedesty, Murdowo, Sudarisman, & Handoyo, 2018, hlm. 60). Kondisi ini semakin memperkuat fakta bahwa ruang kantor bersama harus menjadi peluang dan target untuk pustakawan, karena pekerja milenial adalah generasi dewasa yang paling mungkin telah mengunjungi perpustakaan umum menurut survei 2016 (Geiger, 2017) yang dilakukan oleh Pew Research Center. Survei ini menunjukkan bahwa 53% generasi milenial telah berkunjung ke perpustakaan umum dalam 12 bulan terakhir, dan ini bisa menjadi cara yang tepat untuk menangkap 47% lainnya atau menunjukkan nilai sumber daya bisnis dan program di perpustakaan kepada kelompok yang sudah memiliki persepsi positif terhadap perpustakaan. Ada manfaat yang diperoleh dari bergeser-nya layanan perpustakaan yang berorientasi bisnis dari ruang fisik perpustakaan langsung ke Co-WS yaitu, menjadikan perpustakaan menjadi pusat pembelajaran yang potensial untuk menangkap dan menyediakan sarana bagi komunitas yang memiliki jiwa wirausaha serta mendorong pengguna lain untuk terlibat dalam komunitas yang tercipta melalui penyediaan co-working di perpustakaan. Selain itu, umumnya perpustakaan memiliki jaringan yang luas dalam hal promosi dan pendanaan yang kuat. Selaras dengan filosofi dari Co-WS yang mengedepankan aspek sosial ketimbang sebatas ruang kantor, perpustakaan sejak awal berdiri tidak hanya sekedar untuk menyediakan akses informasi akan tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan intelektual dalam komunitas dan organisasi (Robertson & Reese, 1999, hlm. 663). Hal ini menegaskan bahwa perpustakaan dan Co-WS memiliki visi dan tujuan yang sama untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran sosial agar dapat saling berkolaborasi antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok. Walaupun selama ini perpustakaan telah menggunakan tata ruang dan perabotan dengan menyediakan sarana belajar pribadi dan kelompok untuk pengguna. Namun demikian, perlu menciptakan interaksi sosial yang lebih kuat melalui penyediaan ruang dengan prinsip-prinsip Co-WS yang memungkinkan terbangunnya kolaboraasi di di dalam komunitas. Gambar 2. Sociogram pengembangan komunitas Co-WS di perpustakaan sebagai pusat pembelajaran (Schopfel dkk., 2015, gbr. 1) Gambar 2 mengilustrasikan konsep kolaborasi dan pusat pembelajaran dalam perpustakaan yang terlihat pada bagian (A), Mengadopsi konsep ruang terbuka dan bekerja bersama dapat menciptakan hubungan interaksi antara individu dan kelompok yang saling terbuka. pada gambar ini peleburan tidak terjadi secara maksimal antara kelompok termasuk menarik individu lain untuk bekerjasama. (B) Co-WS dan perpustakaan bergabung menjadi tempat ketiga yang inovatif. Interaksi pada ilustrasi ini menunjukkan peningkatan interaksi dan menciptakan tautan atau keterhubungan kelompok lain dan menarik individu untuk bekerjasama. Dimungkinkan juga menarik komunitas dan individu dari luar perpustakaan dengan menghadirkan komunitas luar untuk datang dan bekerjasama dalam fasilitas Co-WS perpustakaan. Peran pustakawan sangat erat untuk mendorong peleburan sosial yang membuka peluang besar untuk terciptanya komunitas baru. Pentingnya kemampuan untuk meningkatkan pembelajaran sosial maka mendorong profesionalitas untuk menciptakan profil baru bagi pustakawan yang harus memiliki kompetensi dan untuk mengelola acara dan kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan sekaligus menjadi mediator dalam mendukung komunitas. Dengan demikian, dukungan dari pustakawan beserta fasilitas co-working menjadi lebih padu untuk meningkatkan kolaborasi tersebut. Jika di lingkungan perpustakaan akademik dapat membentuk terciptanya komunitas kerja bersama di kampus dan untuk mendorong kolaborasi penelitian dan pengembangan kewirausahaan sambil menunjukkan nilai ekonomi perpustakaan dan mengekspresikan cara baru untuk ruang perpustakaan. Untuk memastikan layanan Co-WS di perpustakaan dapat berjalan dengan efektif dan sesuai dengan kebutuhan komunitas terdapat 4 langkah antara lain: 1) mengidentifikasi ruang kerja bersama yang tepat untuk perpustakaan, termasuk relevansi koleksi dan staf yang dimiliki dengan kebutuhan komunitas-komunitas potensial. 2) Memahami dan mempelajari secara mendalam komunitas yang dipilih sesuai kriteria untuk memperoleh informasi yang valid melalui keterlibatan langsung dalam agenda komunitas. Tahapan ini penting untuk menemukan layanan ruang yang tepat untuk ditawarkan kepada orang yang tepat. 3) Setelah mendapat pengguna ruang yang sesuai, perlu adanya seorang manajer komunitas dan tim untuk mendorong agar ruang kerja bersama dapat dimanfaatkan secara maksimal termasuk sumber daya koleksi yang tersedia. 4) Terakhir, melakukan evaluasi dan survei terhadap pemakai Co-WS di perpustakaan. Umpan balik ini penting untuk memperoleh ide baru, pengembangan program dan strategi promosi terkait layanan Co-WS (Tully, 2018, hlm. 82) Riset yang dilakukan oleh Bilandzic & Foth dalam memahami motivasi dan hambatan pemakai Co-WS untuk pembelajaran sosial melalui pendekatan etnografi terhadap sekelompok komunitas di ruang Perpustakaan Nasional Queensland, Brisbane, Australia. Hasil penelitian tersebut menghasilkan empat dimensi dalam mendesain Co-WS secara hibrida yang memadukan ruang fisik dan virtual di mana masing-masing dimensi dapat meningkatkan perpustakaan sebagai pusat interaksi sosial dan pembelajaran bersama (Bilandzic & Foth, 2013, hlm. 268). Keempat dimensi tersebut adalah: 1. Pengguna perpustakaan atau sekelompok pengguna yang berbagi ruang perpustakaan secara bersamaan untuk berbagai aktivitas dengan intensitas tinggi (inside the library at the same times); 2. Pengguna perpustakaan saat ini dan pengguna yang terlibat dalam pertemuan intensitas tinggi yang relevan di tempat lain di luar perpustakaan (inside-outside the library at the same time); 3. Pengguna perpustakaan saat ini dan aktivitas pengguna sebelumnya di perpustakaan .(inside the library at different times); 4. Pengguna perpustakaan di berbagai tempat pertemuan dengan intensitas tinggi (inside-outside the library at different times). Gambar 3. Strategi hibrida untuk meningkatkan interaksi sosial di perpustakaan (Bilandzic & Foth, 2013, gbr. 5) Perpustakaan sebagai tempat pertemuan yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik hanya sekedar pertemuan spontan atau kenalan hingga pertemuan dengan kepentingan bersama. Aabo dkk. (2010, hlm. 25) melakukan survei terhadap berbagai perpustakaan umum untuk melihat peran perpustakaan sebagai sebuah tempat pertemuan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat enam kategori perpustakaan yaitu perpustakaan sebagai tempat pertemuan orang yang beragam, sebagai ruang publik, sebagai tempat kegiatan bersama kolega, sebagai tempat pertemuan resmi dan sebagai pertemuan virtual. Interaksi sosial dalam berbagai jenis pertemuan memiliki variasi dan tingkat interaksi yang berbeda-beda. Terkait tingkatan interaksi, Audunson memperkenalkan pertemuan sosial dengan intensitas rendah dan tinggi (2005, hlm. 430). Pertemuan intensitas rendah menunjukkan situasi sosial di mana individu dihadapkan pada keberagaman dan perbedaan budaya, sosial, nilai-nilai, atau minat yang berbeda di antara mereka. Sebaliknya situasi intensitas tinggi menggambarkan sebagai tempat dimana mereka bertemu dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki kesamaan minat, hobi atau bidang tertentu. Pada Gambar 3 mengilustrasikan bahwa dimensi pertama interaksi sosial dapat dilakukan dalam lingkungan perpustakaan secara fisik, dengan menyediakan ruang-ruang kerja bersama terbuka dan ruang untuk berkolaborasi dan saling belajar bersama di antara individu atau kelompok pada waktu yang bersamaan. Kelompok disini merupakan komunitas tertentu yang secara aktif memanfaatkan layanan ruang kerja bersama di perpustakaan dan juga secara aktif menggunakan sarana pembelajaran sosial atau platform online komunitas untuk dapat terhubung dan bertatap muka dengan komunitas lain yang memiliki kesesuaian minat. Secara sederhana, setiap komunitas yang ada di perpustakaan dapat saling berinteraksi dan mengembangkan komunitas yang lebih besar berkat bantuan teknologi pembelajaran sosial secara virtual. Disamping itu dalam dimensi kedua, beberapa kelompok dapat saling berkolaborasi dengan komunitas lain yang berada di lingkungan luar perpustakaan pada waktu yang sama, di mana kolaborasi antara mereka dilakukan melalui berbagai platform online pembelajaran sosial, salah satunya seperti Meetup.com (http://meetup.com). Meetup adalah layanan yang digunakan untuk mengatur grup online yang menyelenggarakan acara tatap muka untuk orang-orang dengan minat yang sama. Aplikasi sosial ini membantu orang untuk dapat menemukan kegiatan pertemuan lokal yang terdekat, sehingga memungkinkan membangun komunitas lokal secara mudah dan efektif. Selain meetup aplikasi komunitas telah banyak dikembangkan oleh pada developer diantaranya adalah Pathable (pathable.com), Panion (panion.com), Eventbrite, (eventbrite.com). Terdapat juga aplikasi komunitas dan event yang dikembangkan oleh developer lokal seperti Sebangsa-Komunitas (sebangsa.com) yang sudah diluncurkan pada tahun 2014. Aplikasi seperti ini sering juga disebut dengan digital platform untuk memberdayakan komunitas dan group. Pemanfaatan platform digital untuk membangun komunitas dan memfasilitasi Co-WS (kombinasi ruang fisik-virtual) menjadi strategi untuk memaksimalkan peleburan sosial dan pembelajaran bersama. Pada dimensi ketiga, grup pengguna perpustakaan yang sama sebelumnya berada di dimensi satu, melakukan kerja bersama di lain waktu di dalam ruang perpustakaan. Interaksi pada dimensi ini mengilustrasikan terjadinya pembelajaran sosial antara pengguna perpustakaan yang telah memanfaatkan ruang perpustakaan sebelumnya dan kemudian saling berhubungan dengan pengguna di perpustakaan di kemudian hari. Pengguna dalam dimensi ketiga ini telah menjadi pengguna potensial yang memanfaatkan secara berkelanjutan layanan ruang co-working di perpustakaan. Pengguna dalam dimensi ini menjadikan ruang perpustakaan memiliki nilai aksesibilitas sebagai destinasi pertemuan yang sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan mereka untuk berkolaborasi. Dimensi ke-empat merupakan dimensi pengguna di mana interaksi terjadi dengan intensitas tinggi dan telah melewati proses kolaborasi yang lebih mendalam dengan berbagai kelompok baik yang ada di perpustakaan maupun yang berada di luar. Grup pengguna ini tentunya memiliki jangkauan modal sosial yang lebih besar dibandingkan komunitas awal. Pada dimensi ini juga menjadi target akhir bagi perpustakaan untuk memfasilitasi interaksi sosial baik dengan intensitas rendah maupun tinggi. Kombinasi layanan ruang co-working dan pemanfaatan teknologi pembelajaran sosial virtual menjadi kunci sukses untuk pengembangan komunitas dan serta jejaring. Embedded business librarian dalam layanan co-working space Nilai dasar dari layanan Co-WS di perpustakaan tetap mengedepankan pengembangan komunitas bisnis melalui kolaborasi dan pembelajaran sosial. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Komunitas bisnis merupakan kelompok yang memiliki persamaan nilai dalam mengembangkan usaha dan ekonomi. Komunitas bisnis kecil pada umumnya menyentuh kelompok pemilik usaha kecil, startup, solopreneurs, freelance, professional, job seekers (pencari kerja), atau seluruh kelompok yang menginvestasikan segala sesuatu untuk mata pencarian hidup dan perkembangan ekonomi secara umum. Komunitas bisnis menjadi subjek bagi perpustakaan untuk dapat mengembangkan komunitas dengan tujuan agar lembaga perpustakaan dapat berkontribusi secara maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat yang berasas inklusi sosial melalui gerakan literasi. Co-WS yang ditanamkan ke dalam layanan perpustakaan dapat mendorong komunitas bisnis untuk belajar bersama dan didukung dengan sumber daya informasi perpustakaan untuk meningkatkan literasi mereka. Pustakawan harus berperan aktif untuk memperkuat koneksi diantara komunitas dan sumber daya tersebut termasuk penyediaan fasilitas ruang. Layanan ruang kerja bersama di perpustakaan bukanlah sekedar memberikan layanan tempat yang dapat didayagunakan oleh komunitas bisnis, namun pustakawan perlu terlibat langsung dalam komunitas tersebut. Dengan demikian seyogyanya, pustakawan berupaya untuk meninggalkan perpustakaan secara “fisik” termasuk aktifitas pekerjaan pustakawan akan tetapi berusaha terintegrasi dalam komunitas dengan pelbagai aktifitas dialog yang selanjutnya ikut berkontribusi dalam perkembangannya, pustakawan ini sering disebut dengan embedded librarian/pustakawan tertanam(Alvarez, 2016b, hlm. xii). Pustakawan tertanam merupakan sebuah inovasi yang mengerakkan pustakawan keluar dari perpustakaan dan menciptakan model baru tentang perpustakaan dan profesional informasi dengan penekanan pada relasi yang kuat antara pustakawan dan sekelompok orang yang membutuhkan keahlian informasi pustakawan.(Shumaker, 2012, hlm. 4). Secara sederhana pustakawan tertanam dapat didefinisikan sebagai pustakawan yang mencoba memahami kebutuhan informasi komunitas tertentu dengan cara mejadi partisipan dalam komunitas tersebut. Secara logis dapat juga dianalogikan sebagai pustakawan referensi yang proaktif, antisipasi, dan kolaboratif dalam memahami dan membantu kebutuhan informasi pengguna. Empat kunci utama mengidentifikasi terkait dengan prinsip kepustakawanan tertanam adalah membangun hubungan yang kuat dengan anggota kelompok pengguna tertentu, fokus memahami pekerjaan dan kebutuhan informasi kelompok komunitas, aktif berkontribusi untuk pencapaian tujuan komunitas dan menjadi anggota integral yang tidak terpisahkan dari kelompok (Pun, 2015, hlm. 422). Selain itu, Reale juga mendeskripsikan karakteristik pustakawan tertanam yaitu membangun relasi kemitraan dengan komunitas; memberikan layanan langsung kepada pengguna; berpartisipasi dalam aktifitas komunitas; memahami layanan ruang dan mengenal disiplin bisnis, profesional, pencari kerja dalam komunitas potensial di sekitar perpustakaan(2016, hlm. 9). Kehadiran pustakawan tertanam adalah berperan aktif dalam menjalin mitra dan kolega yang setara dengan anggota komunitas tertentu (Alvarez, 2016b, hlm. 10). Konsep utama dari pustakawan tertanam adalah berfokus pada partisipasi aktif dan kolaborasi dalam komunitas dengan tujuan menjalin hubungan yang erat dengan para pengguna perpustakaan (Reale, 2016, hlm. 9; Si, Xing, Zhou, & Liu, 2012, hlm. 176). Secara keseluruhan tujuan dari penempatan pustakawan tertanam ke dalam komunitas adalah fokus dan konsisten pada pembelajaran dan pemahaman komunitas bisnis pada tingkatan yang bermakna serta memposisikan perpustakaan sebagai organisasi dan terintegrasi dengan komunitas. Beberapa keuntungan penyediaan layanan pusat bisnis dan ruang kerja bersama di perpustakaan adalah agar memudahkan para pustakawan bisnis tertanam untuk mendapat akses cepat serta menjadi host bagi komunitas bisnis tanpa perlu mendatangi mereka di luar lingkungan perpustakaan. Pada umumnya komunitas usaha kecil dan para digital nomad tidak memiliki sumber daya ruang kerja yang memadai, ketersediaan rung kerja bersama menjadi daya tarik bagi mereka untuk mendatangi dan menggunakan fasilitas yang ada. Melihat seberapa besar dedikasi dan kontribusi perpustakaan sebagai pusat bisnis serta fasilitas yang melekat dengan kebutuhan tersebut, telah dilakukan penelitian oleh Macdonald di mana studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana peran pusat bisnis di perpustakaan sebagai kunci keberhasilan dan pelayanan perpustakaan umum kepada komunitas wirausaha. Melalaui survei kuesioner kepada 88 perpustakaan umum di Amerika Serikat dengan tertanam layanan pusat bisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% responden merasa bahwa pusat bisnis di perpustakaan umum berkontribusi sangat esensial untuk layanan yang diberikan kepada komunitas wirausaha (2015, hlm. 344). Lebih lanjut, penelitian ini juga menangkap bentuk pola layanan bisnis yang ditawarkan seperti; lokakarya, seminar, kelas, sesi konsultasi dengan agensi bisnis, dan sesi bantuan penelitian oleh pustakawan. Peran pustakawan tertanam bukan sebatas penyediaan informasi bagi komunitas seperti para pustakawan referensi bisnis lakukan, namun mereka terlibat langsung dalam segala kegiatan proyek komunitas bisnis berjalan. Dengan demikian terdapat perbedaan dari kedua konsep kepustakawanan tersebut yang mana hubungan pustakawan referensi bisnis dengan komunitas bersifat transaksional, sedangkan pustakawan tertanam fokus pada transaksi selama proyek komunitas berlangsung dan menggunakan pendekatan interaksional (Alvarez, 2016b, hlm. 9; Shumaker, 2012, hlm. 12). Dalam memahami bagaimana pustakawan tertanam mengelola hubungan dengan komunitas bisnis serta pengembangannya, Alvarez menjelaskan lima tahapan menjadi tertanam dalam komunitas bisnis yaitu: 1) membuat daftar organisasi bisnis yang potensial seperti kontak organisasi pengusaha, kamar dagang, pusat usaha kecil, pengembangan karir dan asosiasi pedagang lokal dan rotary club. 2) Melakukan kontak dengan organisasi bisnis tersebut dan mengajukan permohonan untuk diberi kesempatan hadir dalam pertemuan dan event yang diselenggarakan, selanjutnya meminta waktu untuk mempromosikan sumber daya perpustakaan yang relevan kepada mereka. 3) Mempersiapkan presentasi terkait sumber daya perpustakaan yang singkat, menarik dan interaktif. Memperkenalkan sumberdaya yang unik, menarik dan relevan seperti langganan database jurnal bisnis, pelatihan teknologi pengembangan bisnis, pemanfaatan sarana ruang kolaboratif dan ruang pertemuan, bantuan referensi untuk penelitian tren dan penelitian bisnis. 4) Melakukan Call to Action (CTA) atau tindak lanjut dari penawaran layanan yang kepada komunitas. 5) Menjaga dan meningkatkan jejaring dengan komunitas bisnis. Pentingnya mempertahankan eksistensi pustakawan tertanam dalam komunitas bisnis dengan secara berkelanjutan dan selalu menghadiri sebanyak mungkin event dan kegiatan komunitas bisnis untuk mendapat sebanyak mungkin peluang yang ada (2016a). Proses tertanam dalam sebuah komunitas membutuhkan proses panjang dan penuh hambatan. Menjadi tertanam pada tingkatan lebih lanjut bukanlah sekedar layanan pen-jangkauan (outreach services) yang terbatas pada promosi layanan perpustakaan. Bagaimanapun, tertanam menunjukkan hubungan “berakar” dalam sebuah komunitas, memiliki hubungan kuat, dan berkontribusi langsung terhadap pengembangan komunitas menjadi inti dalam prinsip kepustakawanan tertanam. Beberapa perpustakaan umum yang memiliki misi yang kuat dalam membangun komunitas, telah melakukan rekrutmen dan peluang karir untuk posisi sebagai pustakawan komunitas. Pustakawan komunitas bertanggung jawab untuk mengembangkan, menjalankan dan evaluasi program kerjasama dengan berbagai komunitas untuk peningkatan penggunaan sumber daya perpustakaan secara maksimal dan berkontribusi terhadap perkembangan kesejahteraan masyarakat. Salah satu perpustakaan umum seperti Perpustakaan Umum Halton Hills, Kanada melakukan rekrutmen dengan membuka peluang pada posisi pustakawan komunitas dengan kualifikasi inti adalah minimal lulusan magister ilmu perpustakaan dan diutamakan memiliki gelar sarjana bidang pemasaran, hubungan masyarakat, atau komunikasi (iSchool-University of Toronto, 2019)
Conclusion
Perkembangan pekerja digital nomad serta meningkatnya kebutuhan akan kehadiran Co-WS telah memberikan peluang baru bagi perpustakaan untuk meningkatkan peran mereka sebagai pusat pembelajaran dan mendorong masyarakat memperoleh pengalaman dalam pembelajaran sosial bagi para digital nomad. Konsep Co-WS sendiri adalah sebuah ruang yang memfasilitasi orang untuk saling berinteraksi, pembelajaran sosial dan mendorong kolaborasi di antara individu yang terlibat dalam komunitas. Perlu adanya peran khusus dari pustakawan dalam mengoptimalkan layanan Co-WS sehingga berpengaruh terhadap pengembangan komunitas para digital nomad. Alih-alih menjadi layanan transaksional, Co-WS di perpustakaan merupakan arena bagi pustakawan untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan komunitas digital nomad sekaligus menjadi agen perubahan dalam kesuksesan bisnis para digital nomad. Peran sebagai “pustakawan bisnis tertanam” (embedded business librarian) merupakan peran baru yang hadir untuk menjangkau dan melibatkan pengguna bisnis baru seperti freelance, startup, dan pengusaha mandiri. Penciptaan ruang kerja bersama di perpustakaan memungkinkan pustakawan ikut terlibat dalam membangun kemitraan dan jejaring komunitas sekaligus memberikan informasi yang relevan dan menarik sesuai dengan bidang bisnis mereka, termasuk penyediaan Co-WS untuk mendukung kolaborasi individu dan komunitas. Menanamkan layanan perpustakaan dengan menyediakan ruang Co-WS mentransformasi profil pustakawan yang dituntut memiliki kemampuan dalam mengelola acara kegiatan pendidikan wirausaha, penyuluhan, seminar, lokakarya, bahkan termasuk menjadi pembicara dalam komunitas bisnis dengan menyajikan data, hasil penelitian dan perkembangan bisnis lokal. Dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi learning common bagi setiap orang untuk dapat belajar tidak hanya secara mandiri akan tetapi juga difasilitasi ruang belajar bersama yang terbuka, berkolaborasi dan pada akhirnya perpustakaan dapat berperan aktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang kreatif dan inovatif.