Peranan Pustakawan Kementerian Pertanian Sebagai Embedded Librarian Role of Librarian of The Ministry of Agriculture as Embedded Librarian
Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian
Abstrak
Keberadaan pustakawan profesional merupakan salah satu faktor keberhasilan sebuah perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi merupakan tantangan dan peluang bagi profesi pustakawan untuk mengembangkan peranannya di luar bidang kepustakawanan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pustakawan yang berkontribusi di luar perpustakaan; pejabat fungsional yang berkolaborasi dengan pustakawan; jenis kegiatan di luar perpustakaan yang dilakukan pustakawan; serta kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas sebagai "Embedded Librarian". Pengkajian ini disusun dengan metode deskriptif kuantitatif. Pengkajian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui google form kepada pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian. Wawancara juga dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam tentang peranan mereka dalam berkolaborasi dengan pejabat fungsional lain. Responden dalam kajian ini sebanyak 104. Variabel yang dikaji mencakup karakteristik responden, pejabat fungsional yang berkolaborasi dengan pustakawan, jenis keterlibatan pustakawan di luar kegiatan perpustakaan; dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menunjang peranannya sebagai pustakawan tertanam. Hasil kajian menujukkan bahwa hampir seluruh responden selain melaksanakan tugas kepustakawanan juga melakukan tugas di luar pekerjaan kepustakawanan. Sebanyak 57,9% responden mencurahkan >60% waktunya untuk melaksanakan tugas mengelola perpustakaan. Sementara 44,20% responden mencurahkan 20-40% waktunya untuk tugas di luar kepustakawanan. Pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan berbagai kelompok non-pustakawan. Pustakawan berkolaborasi paling banyak dengan pranata humas (48,4%), penyuluh pertanian (37,9%), dan peneliti (35%), sedangkan kolaborasi terendah adalah dengan widyaswara (10,5%) dan guru (9,5%). Pustakawan/ pengelola perpustakaan paling banyak terlibat dalam kegiatan promosi, diseminasi hasil penelitian, dan penerbitan, serta pengelolaan situs web. Kompetensi yang paling banyak dibutuhkan dalam menunjang peran sebagai pustakawan tertanam adalah keterampilan berkomunikasi, team work, kemampuan kolaborasi, dan literasi informasi, serta literasi media.
Abstract
The existence of a professional librarian is one of the success factors of a library. The development of information and communication technology is a challenge and opportunity for the librarian profession to develop its role outside of librarianship. The objectives of this study were to find out number of librarians who contribute outside the library; functional officials who collaborate with librarians; types of activities outside the library carried out by librarians; and competencies and skills needed in carrying out tasks as embedded librarian outside the library. This study was arranged as a quantitative descriptive study. The study was carried out from March to July 2022. Data was collected throug survey using a questionnaire distributed via Googleform to librarians/library managers within the Ministry of Agriculture. Interviews were also conducted to find out more deeply about librarian role in collaborating with other functional officials. There were 104 respondents in this study. The variables studied included the characteristics of respondents, functional officials who collaborated with librarians, types of involvement of librarians outside of library activities; skills and competencies needed to support their work as an embedded librarian. The results showed that almost all respondents apart from carrying out librarianship duties also performed tasks outside of librarianship work. Respondents as much as 57.9% devoted >60% of their time to carry out the task of managing the library. While 44.20% of respondents devoted 20-40% of their time to tasks outside of librarianship. Librarians/library managers collaborated with various non-librarian groups. Respondents collaborated the most with public relations officer (48.4%), agricultural extension workers (37.9%), and researchers (35%), while the lowest collaboration was with lecturers (10.5%) and teachers (9.5%) ). Librarians/library managers were mostly involved in promotional activities, then dissemination of research results, publishing, and website management. The competencies mostly needed to support the role as embedded librarian were communication skills, team work, collaboration skills, and information literacy, as well as media literacy.
Keywords:
Embedded librarian
· agricultural librarians
· collaboration
· competency
Introduction
Perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya cetak dan karya rekam harus dikelola dengan baik agar koleksi yang dimiliki tersusun/tersimpan secara sistematis, sehingga mudah ditemukan kembali dengan cepat dan tepat. Perpustakaan dapat dikelola oleh pejabat fungsional pustakawan atau non-pejabat fungsional (pengelola perpustakaan) maupun kombinasi keduanya. Kehandalan pustakawan dalam mengelola perpustakaan akan memengaruhi keberhasilannya dalam memenuhi kebutuhan pemustaka baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal. Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan mendefinisikan pustakawan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Special Library Association (2016) merilis 6 kompetensi inti yang harus dimiliki pustakawan, yaitu 1) Layanan informasi, pengetahuan, dan teknologi; 2) Sistem informasi, pengetahuan dan teknologi; 3) Sumber informasi dan pengetahuan; 4) Temu kembali informasi; 5) Organisasi data, informasi, dan aset pengetahuan; dan 6) Etika informasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi merupakan tantangan bagi profesi pustakawan yang harus beralih dari peran tradisional (Bonnand dan Hansen, 2012). Adanya koneksi internet memudahkan pemustaka mengakses koleksi perpustakaan dengan laptop, iPad, tablet, dan ponsel mereka dengan nyaman dari kantor, atau tempat lainnya di luar perpustakaan. Kondisi ini akan sedikit meringankan tugas pustakawan di bagian layanan, sehingga pustakawan akan memiliki waktu luang. Situasi ini dapat dimanfaatkan oleh pustakawan untuk berperan sebagai pustakawan tertanam (embedded librarian). Pustakawan tertanam adalah pustakawan yang layanannya terintegrasi dalam kelompok penelitian, pengajaran dan kegiatan lainnya. Pustakawan dapat melaksanakan lebih banyak peran kolaboratif untuk mendukung peningkatan kinerja instansi induknya. Li et al. (2012) menyebutkan salah satu ciri pustakawan tertanam adalah pustakawan bekerja erat dari waktu ke waktu dengan kelompok non-pustakawan. Ciri lainnya adalah pustakawan yang dimasukkan dalam kuliah online, mendukung pembelajaran siswa pada proses penelitian mereka. Best practice yang dilakukan pustakawan di perpustakaan Universitas Shanghai Jiao Tong adalah dengan memasukkan diri mereka ke dalam kelompok penelitian nasional. Pustakawan memberikan dukungan spesialis jangka panjang untuk kelompok tugas penelitian, dengan fokus pada peningkatan literasi informasi pengguna, menyediakan literatur dan informasi yang relevan untuk penelitian kelompok, mengatur file penelitian untuk berbagai kelompok tugas; melacak informasi terkini mengenai isu-isu yang berkembang; dan mencari penelitian serupa di tempat lain. Embedded librarian disebut juga sebagai informationist. Peran pustakawan sebagai embedded librarian telah dilakukan oleh pustakawan perguruan tinggi dan kesehatan. Pustakawan Kementerian Pertanian sudah banyak yang memiliki keterampilan sebagai informationist termasuk keterampilan literasi informasi, seperti pencarian informasi, sintesis, dan membantu dalam pengajaran siswa/mahasiswa. Pada lingkungan perpustakaan perguruan tinggi, embedded librarian disebut juga blended librarian, dimana dalam mengikuti kemajuan teknologi informasi, pustakawan perlu meningkatkan pengetahuannya dan memiliki pemahaman yang cukup tentang situs web akademis. Selain itu, mereka harus memiliki kemampuan untuk mengelola sumber-sumber di internet dengan baik, sehingga mahasiswa dan dosen dapat dengan mudah menemukan informasi berkualitas tinggi yang relevan dengan bidang studi yang sedang mereka pelajari (Almah, 2014). Kelebihan pustakawan tertanam adalah 1) kinerja pustakawan akan lebih terlihat; 2) menciptakan hubungan erat antara pustakawan dengan tim kerja lain di unit yang berbeda; 3) reputasi dan citra perpustakaan akan meningkat; 4) perpustakaan dan pustakawan lebih responsif dan proaktif dalam melayani pemustaka; dan 5) menciptakan peluang bagi pustakawan dalam menetapkan kebijakan dan rencana strategis perpustakaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Qurotianti (2020) menyimpulkan bahwa peranan pustakawan tertanam di Perpustakaan UMY sangat penting sebagai fasilitator dan pembimbing yang membantu mahasiswa dan dosen dalam memenuhi kebutuhan akademik mereka. Hal ini menjadikan pekerjaan pustakawan tidak terbatas hanya pada peminjaman dan pengembalian buku, melainkan juga mencakup peran sebagai instruktur dan penyelesaian masalah bagi mahasiswa yang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugas kuliah mereka. Selain itu, pustakawan juga berperan sebagai mitra bagi dosen akademik dalam mendukung proses penyusunan penelitian. Pustakawan tertanam fokus pada membangun hubungan kolaboratif yang kuat, untuk menyelesaikan masalah secara tepat waktu, menyelesaikan tugas bekerja sama dengan pengguna, mengajarkan keterampilan literasi informasi dan menumbuhkan kebiasaan memanfaatkan sumber daya perpustakaan (Lin, 2010). Lebih jauh Carlson & Kneale (2011) mengemukakan kepustakawanan tertanam membawa pustakawan keluar dari konteks perpustakaan tradisional dan menempatkannya dalam situasi yang memungkinkan koordinasi dan kolaborasi yang erat dengan peneliti atau pengajaran. Dengan demikian, pustakawan tertanam berpindah dari peran pendukung menjadi kemitraan dengan klien mereka. Hal ini memungkinkan pustakawan untuk mengembangkan koneksi dan hubungan yang lebih kuat dengan orang-orang yang mereka layani. Partisipasi dan kolaborasi adalah inti dari konsep ini, di mana kolaborasi menjadi salah satu faktor terpenting. Kementerian Pertanian saat ini memiliki hampir 130 orang pejabat fungsional pustakawan dan tenaga pengelola perpustakaan (nonfungsional) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kedudukan dan fungsi pustakawan di Kementerian Pertanian rata-rata berada di bawah eselon 4, kecuali pustakawan di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Selain mengelola perpustakaan, sebagian besar pustakawan juga diberi tugas lain di luar perpustakaan, seperti dilibatkan di bagian keuangan (PUMK), bagian publikasi, pameran, dan beberapa pustakawan juga dilibatkan untuk membantu pejabat fungsional lain, seperti membantu peneliti dalam mengumpulkan data penelitian di lapangan, maupun di laboratorium. Keterlibatan pustakawan dalam kegiatan penelitian sejalan dengan pendapat Bracke (2017) bahwa pustakawan pertanian perlu mengembangkan peran baru dan bekerja dengan peneliti untuk menetapkan standar dan memenuhi kebutuhan pengelolaan data dan kegiatan lainnya. Selain dengan peneliti, pustakawan juga dapat bekerjasama dengan pejabat fungsional lainnya. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui 1) jumlah pustakawan yang berkontribusi dalam kegiatan di luar perpustakaan; 2) pejabat fungsional yang berkolaborasi dengan pustakawan; 3) jenis/bentuk kegiatan di luar perpustakaan yang dilakukan pustakawan; dan 4) kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas di luar perpustakaan.
Method
Pengkajian ini merupakan pengkajian deskriptif kuantitatif. Pengkajian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui google form. Populasi dalam pengkajian adalah pejabat fungsional pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian sebanyak 130 orang. Penentuan sampel berdasarkan KrejcieMorgan, dimana responden sebanyak 104. Variabel yang dikaji mencakup (1) karakteristik pustakawan mencakup jenis kelamin, umur, pendidikan, jenjang jabatan fungsional, curahan waktu pustakawan di perpustakaan dan di luar perpustakaan; (2) pejabat fungsional (peneliti, penyuluh, dosen, pranata humas, dan lain-lain) yang berkolaborasi dengan pustakawan; (3) jenis keterlibatan pustakawan di luar kegiatan perpustakaan, yaitu manajemen keuangan, pemeliharaan situs web, kerja sama dengan fungsional lainnya, membantu di lab, penerbitan publikasi intern, diseminasi hasil penelitian, pameran, dan lain-lain; dan (4) keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaannya sebagai pustakawan tertanam meliputi keterampilan berkomunikasi, media literacy, team work, collaboration skill, literasi informasi, computer literacy, management skill (finance), dan lain-lain. Selanjutnya untuk mengetahui lebih mendalam tentang peranan pustakawan dalam berkolaborasi dengan pejabat fungsional lain dilakukan wawancara dengan beberapa responden.Data yang telah terkumpul ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.
Result & Discussion
Karakteristik Responden Pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian berjumlah 130, sedangkan sampel dalam pengkajian ini sebanyak 104 orang. Karakteristik responden yang dikaji antara lain jenis kelamin, umur, pendidikan, dan jenjang fungsional. Karakteristik responden disajikan pada Tabel 1 dan 2. Jenis Kelamin dan Umur Lebih dari separuh responden (58,65%) berjenis kelamin perempuan. Umur responden dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu <30, 30-40, 40-50, dan >50 tahun. Sebanyak 35,58% responden berusia 41-50 tahun, rentang usia ini dikategorikan berada dalam puncak usia produktif. Ukkas (2017) menyatakan bahwa pegawai dengan tingkat usia produktif yaitu 15-50 tahun dapat beradaptasi dengan cepat pada tugas yang baru serta mudah memahami dan menggunakan teknologi. Mencermati data pada Tabel 1 terlihat bahwa 67,31% responden berusia di atas 41 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa umur pustakawan/pengelola perpustakaan relatif tua walaupun masih produktif. Pendidikan dan Jenjang Fungsional Pendidikan yang dimaksud dalam pengkajian ini adalah pendidikan formal (sekolah dan akademik) yang dilalui secara reguler pada jenjang-jenjang tertentu, seperti SLTA, Diploma, S1, S2, dan S3. Pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian memiliki pendidikan formal yang bervariasi (Tabel 2). Sebanyak 53 responden (50,96%) responden berpendidikan S1, 26 orang (25%) berpendidikan Diploma, 20 orang (19,24%) berpendidikan S2, 3 orang (2,88%) berpendidikan S3, dan hanya 2 orang (1,92%) berpendidikan SLTA. Menurut Pamungkas, Hamid, dan Prasetya (2017) pendidikan adalah salah Tabel 1. Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dan umur Karakteristik responden Frekuensi Persentase Jenis kelamin Laki-laki 43 41,35 Perempuan 61 58,65 Umur <30 tahun 8 7,69 30-40 tahun 26 25,00 41-50 tahun 37 35,58 50 tahun 33 31,73 Tabel 2. Sebaran responden berdasarkan pendidikan dan jenjang fungsional Karakteristik responden Frekuensi Persentase (%) Pendidikan terakhir S3 3 2,88 S2 20 19,24 S1 53 50,96 Diploma 26 25,00 SLTA 2 1,92 Jenjang Fungsional Pustakawan Ahli Utama 2 1,92 Pustakawan Ahli Madya 11 10,58 Pustakawan Ahli Muda 26 25,00 Pustakawan Ahli Pertama 24 23,08 Pustakawan Penyelia 7 6,73 Pustakawan Mahir 15 14,42 Pustakawan Terampil 7 6,73 Pengelola Perpustakaan 12 11,54 satu faktor yang memiliki dampak pada kemampuan dan prestasi para pegawai. Pustakawan Ahli Muda merupakan jenjang fungsional terbanyak, yaitu 26 orang (25%), diikuti Pustakawan Ahli Pertama sebanyak 24 orang (23,08%), sementara yang terendah adalah Pustakawan Ahli Utama sebanyak 2 orang (1,92%). Curahan Waktu Pustakawan/Pengelola Perpustakaan Selain melaksanakan kegiatan dalam pengelolaan perpustakaan, pustakawan/pengelola perpustakaan diberi tugas tambahan di luar tugasnya. Dari 104 responden, sebanyak 95 orang (91,35%) menyatakan bahwa mereka melakukan tugas di luar pekerjaan kepustakawanan (Gambar 1). Pustakawan/pengelola perpustakaan memberikan curahan waktu yang bervariasi dalam melakukan tugas di dalam dan luar pekerjaan kepustakawanan. Gambar 2 dan 3 memperlihatkan curahan waktu pustakawan/pengelola perpustakaan dalam pengelolaan perpustakaan dan di luar kegiatan perpustakaan. Gambar 2 memperlihatkan bahwa 55 orang (57,9%) pustakawan/pengelola perpustakaan mencurahkan waktunya >60% untuk melaksanakan tugas mengelola perpustakaan mulai dari pengembangan koleksi sampai melakukan pelayanan perpustakaan. Hal ini hampir sebanding dengan 42 orang (44,20%) pustakawan/ pengelola perpustakaan yang mencurahkan waktunya di Gambar 2. Persentase curahan waktu pustakawan dalam pengelolaan perpustakaan luar tugas kepustakawanan 20-40% (Gambar 3). Data ini mengindikasikan bahwa pustakawan/pengelola perpustakaan sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan kegiatan kepustakawanan di samping tugas lain yang diberikan oleh pimpinan. Hal ini sejalan dengan pendapat Intarti (2019) yang menyatakan bahwa pustakawan diharapkan selain terampil di dalam mengelola kegiatan rutin kepustakawanan sebagai garda depan perpustakaan, juga melakukan kegiatan tambahan dan kegiatan tak terduga yang diberikan pimpinan. Sementara Priyanto (2016) menyatakan bahwa pustakawan perlu menjalani profesinya dengan penuh dedikasi, namun juga harus aktif dalam melibatkan diri di luar profesi dan rutinitas sehari-hari. Pustakawan harus Gambar 3. Persentase curahan waktu pustakawan/pengelola perpustakaan di luar tugas kepustakawanan terus membangun kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Oleh karenanya pustakawan harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan evolusi zaman yang sedang berlangsung, menambah ilmu pengetahuan dan melatih keterampilan, agar mampu merespon hal-hal yang mendadak dengan bijak. Kolaborasi Pustakawan/Pengelola Perpustakaan dengan Pejabat Fungsional Lain Pustakawan/pengelola perpustakaan dalam melaksanakan tugas di luar kegiatan kepustakawanan berkolaborasi dengan berbagai pejabat fungsional lain, seperti peneliti, penyuluh, dosen, widyaswara, pranata komputer, pranata humas, pengelola keuangan, perencana, guru, dan fungsional lainnya. Gambar 4 memperlihatkan kolaborasi pustakawan/pengelola perpustakaan Kementerian Pertanian dengan pejabat fungsional lain Hasil kajian menunjukkan bahwa pustakawan/ pengelola perpustakaan Kementerian Pertanian paling banyak berkolaborasi dengan pranata humas (48,4%), kemudian penyuluh pertanian (37,9%), peneliti (35,8%), dan kolaborasi terendah adalah dengan widyaswara (10,5%), serta guru (9,5%). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh beberapa responden berikut. Yang pertama saya berkolaborasi dengan dosen tentunya ya karena saya mengajar di sana. Kemudian kalau yang untuk penulisan itu saya dengan pejabat fungsional yang lain misalnya dengan yang editor bu Gambar 4. Kolaborasi pustakawan dengan pejabat fungsional lain ...kemudian kalau untuk yang lainnya dengan pranata humas saya seringnya membantu mereka juga sih misalnya ada sumber-sumber informasi yang harus dipromosikan gitu bu...seperti itulah bu kegiatankegiatan terkait kepustakawanan. (Responden 1) Untuk kegiatan di luar pengelolaan perpustakaan saya dilibatkan dalam pengelolaan website, kemudian medsos ya berkolaborasi dengan pranata humas, terus dengan peneliti dan analisis kebijakan dalam kegiatan penelitian. (Responden 2) Wah…banyak ya…salah satunya dengan pejabat pranata humas di PPID, kemudian di publikasi sebagai redaksi pelaksana dengan peneliti, terus di diseminasi berkolaborasi dengan peneliti juga. (Responden 3) Kolaborasi pustakawan/pengelola perpustakaan dengan widyaswara dan guru relatif sedikit, karena Kementerian Pertanian hanya memiliki Pusat/Balai Latihan Pertanian dan Sekolah Menengah Pembangunan Pertanian yang terbatas jumlahnya. Sebanyak 28 responden (29,5%) menyatakan berkolaborasi dengan jabatan fungsional lainnya, diantaranya: Analis Kebijakan, Medik/Paramedik Veteriner, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Pengawas Bibit Ternak, Analis Keuangan, Arsiparis, dan lain-lain. Sebagaimana dinyatakan responden berikut. Selain sebagai pengelola perpustakaan, saya diberi tugas dalam pengelolaan keuangan sebagai pejabat pengadaan. Selain itu, juga berkolaborasi dengan pejabat fungsional Medik Veteriner. (Responden 4) Tugas saya selain sebagai pustakawan juga diserahi tugas dalam pengelolaan keuangan kegiatan...jadi saya banyak berkolaborasi dengan analis pengelolaan keuangan. (Responden 5) Jenis Keterlibatan Pustakawan/Pengelola Perpustakaan Saat berkolaborasi dengan berbagai pejabat fungsional lain, pustakawan/pengelola perpustakaan menjalankan peranannya sebagai pustakawan dalam mendukung kegiatan pejabat fungsional lain tersebut. Namun, ada juga yang tidak melakukan peranannya sebagai pustakawan, mereka mendukung dan melakukan berbagai kegiatan yang hanya terkait dengan jabatan fungsional lain tersebut. Gambar 5 memperlihatkan bahwa pustakawan/ pengelola perpustakaan paling banyak terlibat dalam kegiatan promosi (khususnya pameran) sebanyak 40%, diikuti diseminasi hasil penelitian (35,8%), penerbitan (30,5%), dan pengelolaan situs web (28,4%). Kegiatan pameran biasanya diselenggarakan pada saat ada eveneven nasional yang seperti Hari Pangan Sedunia, Milenial Indonesia Agripreneurs, dan sebagainya. Menurut Fridani, Sukarelawati dan Kusumadinata (2015), pameran adalah salah satu teknik penyuluhan yang bisa digunakan dalam memanfaatkan situasi yang ada sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu pameran juga berfungsi sebagai sarana promosi dan iklan yang bertujuan untuk mengenalkan produk atau layanan kepada masyarakat dengan harapan mereka akan tertarik dan membelinya. Pada kegiatan kepustakawanan, pustakawan juga melakukan promosi dengan menyelenggarakan pameran koleksi perpustakaan dan berbagai layanan dan fasilitas perpustakaan. Gambar 5. Jenis keterlibatan pustakawan/pengelola perpustakaan Kolaborasi pustakawan dengan pranata humas paling banyak, karena pustakawan/pengelola perpustakaan biasanya dilibatkan dalam berbagai kegiatan kehumasan seperti pameran, promosi institusi, pengelolaan dan layanan informasi publik. Dengan pranata humas saya seringnya membantu mereka juga misalnya ada sumber-sumber informasi yang harus dipromosikan gitu bu...membuat apa ya berita atau promosi-promosi kegiatan terkait kepustakawanan. (Responden 1) Peran saya dalam berkolaborasi dengan berbagai pejabat fungsional tidak menutup kemungkinan sebagai pustakawan, misalnya di publikasi itu kami mencermati abstrak, bagaimana kata kuncinya. Menyusun indeks kan biasanya di terbitan akhir, suka ada kumpulan indeks atau abstraknya…di samping itu juga mengedit sitasi, cara penulisan daftar pustaka. (Responden 2) Hal ini sejalan dengan Bennet (2013) yang menyatakan bahwa seorang pustakawan tertanam secara profesional bekerja sama dalam tim kerja yang membutuhkan pengetahuan dan keahliannya. Salah satu contoh dalam penerbitan publikasi di institusi induknya, seorang pustakawan dapat berperan sebagai journal manager, editor, reviewer, dan lain-lain. Pustakawan/pengelola perpustakaan banyak berkolaborasi dengan penyuluh, karena penyuluh ada di setiap unit pelaksana teknis (UPT) yang ada di seluruh provinsi, sehingga pustakawan/pengelola perpustakaan banyak dilibatkan dalam pencarian informasi, pembuatan materi penyuluhan, bahkan turut serta ke lapangan untuk melakukan penyuluhan. Kalau dengan penyuluh kita sering berkolaborasi dengan ada layanan literasi. Saya di situ sebenarnya sebagai fasilitator yang menghubungkan antara apa ya penyuluh dengan sumber-sumber informasi yang ada di kantor kami... jadi sebenarnya seperti informasi dari text to context apa yang ada di perpustakaan kita pelajari bersama kemudian didiskusikan dengan penyuluh (Responden 1) Pustakawan juga banyak dilibatkan dalam kegiatan penelitian, terutama dalam melakukan pengumpulan data di lapangan. Hal ini dinyatakan oleh Responden 2. Keterlibatan saya dalam penelitian sebagai enumerator, menggali data dengan wawancara, menganalisis data…selain itu tentunya mencari referensi yang relevan dengan penelitian sampai pada penulisan hasilnya. Schulte (2012); Freiburger dan Kramer (2009) menyebutkan bahwa pustakawan tertanam membantu kelompok penelitian untuk mengidentifikasi literatur yang relevan tentang subjek penelitian. Federer (2013) melihat pustakawan tertanam sebagai peneliti informationist yang bekerja dengan kelompok peneliti tertentu atau mengerjakan proyek dari awal hingga akhir penelitian. Keterlibatan pustakawan/pengelola perpustakaan pada kegiatan manajemen keuangan (PUMK, bendahara) adalah terendah. Pada kolaborasi ini pustakawan tidak menjalankan peranannya sebagai pejabat fungsional pustakawan, namun membantu kegiatan terkait dengan pengelolaan keuangan. Sebagaimana dinyatakan responden berikut. Tugas saya sebagai pemegang uang muka kerja (PUMK) ...membuat surat perjalanan dinas, perjanjian kontrak, pokoknya yang terkait dengan pengelolaan keuangan kegiatan. (Responden 5). Hal yang sama juga dinyatakan Responden 4 yang berkolaborasi dengan pejabat fungsional Medik Veteriner. Saya terlibat dalam pengelolaan surat-surat hasil pengujian obat dan vaksin hewan. Saya mengirimkan hasil pengujian ke dinas-dinas peternakan. Keterampilan dan Pengetahuan yang Dibutuhkan Pustakawan/Pengelola Perpustakaan sebagai Pustakawan Tertanam Berdasarkan analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar pustakawan/pengelola perpustakaan di Kementerian Pertanian sebagian besar bersifat embedded, artinya selain melakukan kegiatan kepustakawanan mereka juga berkolaborasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan jabatan fungsional lain. Untuk dapat melaksanakan kegiatan tersebut secara optimal, tentunya dibutuhkan kemampuan-kemampuan tertentu terkait dengan kegiatan tersebut di luar kompetensi pustakawan. Gambar 6 memperlihatkan kemampuan/keterampilan yang dibutuhkan/diusulkan pustakawan/pengelola perpustakaan untuk melakukan kegiatan di luar kegiatan perpustakaan untuk mendukung institusi induknya. Kompetensi yang paling banyak dibutuhkan dan diusulkan adalah keterampilan berkomunikasi (66,3%), diikuti team work (58,9%), kemampuan kolaborasi (53,7%), dan literasi informasi (53,7%), serta literasi media (47,4%). Kalau dengan pranata humas...otomatis kemampuan dalam hal berkomunikasi karena dalam membuat video itu perlu kita ngomong jadi ya komunikasi kita harus bagus kemudian juga harus mampu menguasai teknologi untuk misalnya editing kecil-kecilan....sedangkan sebagai dosen tentunya kompetensi yang dibutuhkan adalah kemampuan mengajar, penguasaan materi dan kemampuan berkomunikasi. (Responden 1) Hal ini senada dengan Mitchel yang dikutip oleh Sumarni (2020) bahwa kompetensi yang harus dimiliki pustakawan adalah pengetahuan luas di bidang teknologi, pemahaman mengenai struktur metadata, dan kemampuan komunikasi yang baik. Peningkatan kompetensi pustakawan/pengelola perpustakaan dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat), bimbingan teknis dan sejenisnya, baik yang diadakan oleh Kementerian Pertanian, Perpustakaan Nasional, maupun institusi lainnya. Keterampilan berkomunikasi sangat penting bagi pustakawan, selain untuk memberikan pelayanan prima bagi pemustaka, juga untuk lancarnya dalam bekerjasama dengan pejabat fungsional lain. Nashihuddin dan Aulianto (2015) menyatakan bahwa kemampuan berkomunikasi yang efektif adalah elemen kunci untuk kesuksesan seorang pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka dan menjalin kerjasama dengan pihak lain. Sementara menurut Jaguszewski & Williams (2013) komunikasi merupakan aspek penting untuk menjadi pustakawan penghubung yang sukses. Gambar 6. Kompetensi/keterampilan yang dibutuhkan pustakawan/pengelola perpustakaan sebagai pustakawan tertanam. Kemampuan berkolaborasi sangat dibutuhkan pustakawan/pengelola perpustakaan. Kolaborasi adalah tindakan berbagi keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman dengan orang lain dengan tujuan membangun komunikasi dan kerjasama. Di lingkungan perguruan tinggi dan universitas, pustakawan dapat berperan di dalam kelas atau dalam lingkungan virtual. Sementara dalam kelompok bisnis, pustakawan bisa berada di laboratorium atau kantor penelitian. Di rumah sakit mereka bersama dokter dan perawat (Husna, 2019). Di perpustakaan khusus pertanian, pustakawan bisa membantu atau berkolaborasi dengan penyuluh pertanian, widyaiswara, dosen, dan pejabat fungsional lainnya. Literasi media merupakan salah satu kompetensi yang dibutuhkan oleh pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian. Hal ini terkait dengan pentingnya keberadaan media di era globalisasi saat ini. Media sosial contohnya dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai alat komunikasi melainkan sumber informasi, promosi, dan penyebarluasan informasi. Karena itu, jika seseorang memiliki kemampuan literasi media, ia akan mampu meningkatkan kompetensinya dalam hal pemahaman dan penerapan pengetahuan serta keterampilan dalam menginterpretasikan pesan/ informasi (Septiani, 2014). Seperti yang dikemukakan responden berikut. Kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan menginterpretasikan konteks ke dalam script yang kemudian disusun dalam bentuk video...ini perlu penguasaan literasi media. (Responden 2) Hmm..mungkin ya salah satunya bukan hanya kompetensi sebagai pustakawan…tapi update teknologi terbaru, mengikuti perkembangan teknologi… pokoknya tidak hanya kepustakawanan saja tapi juga harus update dengan teknologi..literasi media.. teknologi digital. (Responden 3) Kemampuan literasi media menjadi sangat berharga dalam menghadapi beragam informasi yang tersedia di media konvensional dan media baru seperti media sosial. Media sosial memiliki ciri khas yang memungkinkan penyebaran informasi melintasi berbagai wilayah dunia tanpa batasan geografis dan waktu, seperti yang disoroti oleh Hunter dalam tulisan Nasrullah (2015) yang menggambarkan dunia tanpa rahasia, di mana media baru seperti media sosial telah membuat informasi menjadi lebih mudah diakses dan terbuka.
Conclusion
Pustakawan/pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian telah menjalankan peranannya sebagai pustakawan tertanam. Hampir seluruh pustakawan/ pengelola perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian selain melaksanakan tugas kepustakawanan juga melakukan tugas di luar pekerjaan kepustakawanan. Sebanyak 57,9% pustakawan/pengelola perpustakaan mencurahkan >60% waktunya untuk melaksanakan tugas mengelola perpustakaan mulai dari pengembangan koleksi sampai melakukan pelayanan perpustakaan. Di sisi lain 44,20% pustakawan/pengelola perpustakaan mencurahkan 20-40% waktunya untuk tugas di luar kepustakawanan. Pustakawan/pengelola perpustakaan Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan berbagai kelompok fungsional non-pustakawan. Kolaborasi paling banyak adalah dengan pranata humas (48,4%), penyuluh pertanian (37,9%), dan peneliti (35%), sedangkan kolaborasi terendah adalah dengan widyaswara (10,5%) dan guru (9,5%). Pustakawan/pengelola perpustakaan paling banyak terlibat dalam kegiatan promosi, kemudian diseminasi hasil penelitian (35,8%), penerbitan (30,5%), dan pengelolaan situs web (28,4%). Kompetensi yang paling banyak dibutuhkan dalam menjalankan peranannya sebagai pustakawan tertanam adalah keterampilan berkomunikasi (66,3%), diikuti team work (58,9%), kemampuan kolaborasi (53,7%), literasi informasi (53,7%), dan literasi media (47,4%).