PERSONAL INFORMATION MANAGEMENT PADA FITUR SAVED POST DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM OLEH MAHASISWA UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Abstrak
Beragamnya informasi yang tersebar di media sosial instagram menjadikan seseorang memiliki keinginan dalam menyimpan, menemukan kembali informasi dengan mudah. Oleh karena itu kegiatan personal information management perlu dilakukan agar informasi yang tersimpan juga dikelola. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola personal information management pada fitur saved post di instagram oleh mahasiswa UIN SATU Tulungagung dan juga mengetahui kendala yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dipilih 6 informan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah kegiatan personal information management yang dilakukan oleh mahasiswa meliputi penemuan informasi, penyimpanan pengelompokan informasi, pemeliharaan informasi, pengelolaan arus informasi, dan juga dengan menggunakan fitur saved post memberikan efektifitas dan efisiensi sehingga membantu dalam menemukan kembali informasi. Kendala yang didapati mahasiswa adalah pada kegiatan penemuan informasi dan pengelompokan informasi.
Abstract
The variety of information spread on social media instagram makes a person have a desire to store, find back information easily. Therefore, personal information management activities need to be carried out so that the stored information is also managed. The purpose of this study is to identify personal information management patterns on the saved post feature on Instagram by UIN SATU Tulungagung students and also to find out the obstacles faced. The method used in this research is descriptive qualitative method. Informants were selected using purposive sampling technique and 6 informants were selected. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study are personal information management activities carried out by students including information discovery, information grouping storage, information maintenance, information flow management, and also by using the saved post feature to provide effectiveness and efficiency so that it helps in finding information again. The obstacles that students find are in information discovery activities and information grouping.
Keywords:
Instagram
· Personal Information Management
· Saved Post Feature
Introduction
Informasi menjadi bentuk pengetahuan yang memberikan manfaat bagi penggunanya. Informasi yang didapatkan dan digunakan untuk penggunaan pribadi atau biasa disebut informasi pribadi, yang mana menjadi pengetahuan berguna bagi penggunanya. Informasi pribadi atau personal information adalah informasi yang didapatkan atau disimpan seseorang baik langsung ataupun tidak langsung (menggunakan software atau aplikasi) untuk penggunaan pribadi (Jones & Teevan, 2007). Informasi yang bisa didapatkan tentunya beragam, seperti mengenai topik informasi pendidikan, fashion, informasi yang lagi ramai di perbincangkan atau tren, informasi terkait hobi dan masih banyak lagi. Informasi ini dapat didapatkan dari berbagai tempat atau media, masyarakat sering menggunakan media online untuk menemukan beragam informasi yang diinginkan yaitu media sosial. Jenis media sosial sendiri ada banyak yang dapat digunakan, salah satunya adalah media sosial instagram. Media sosial instagram merupakan sebuah tempat atau platform yang memberikan atau membagikan beragam informasi dalam bentuk visual seperti foto dan video yang biasa disebut dengan istilah posting-an atau unggahan, selain itu tampilan instagram sendiri menarik bagi penggunanya (Veronica, 2023). Indonesia menempati peringkat keempat pengguna aktif media sosial instagram di dunia dengan rata-rata waktu penggunaan 15,4 jam perbulannya dan pengguna terbanyak berusia 18-24 tahun atau di kalangan remaja (Yonatan, 2023). Sedangkan menurut We Are Social 2023 (Riyanto, 2023) instagram menempati peringkat media sosial kedua yang sering digunakan diindonesia dan alasan utama pengguna media sosial adalah untuk mendapatkan informasi dalam memenuhi kebutuhan pribadi seseorang. Selain itu instagram sering sekali digunakan sebagai tempat branding baik personal atau organisasi. Hal ini dapat diketahui di mana instagram dapat menjangkau jangkauan yang luas sehingga baik informasi yang didapatkan atau disebarkan dapat dengan mudah diakses oleh semua pengguna media sosial instagram. Dari sini dapat disimpulkan bahwa instagram menjadi salah satu media sosial yang sering digunakan terutama oleh remaja karena penggunaan yang mudah dan cepat untuk menemukan berbagai informasi sehingga memenuhi kebutuhan pribadinya, selain itu juga sebagai tempat branding untuk penggunanya. Mengingat instagram adalah media sosial online selain beragam informasi yang tersebar, informasi itu sendiri juga akan terus terbaharui setiap waktunya. Seperti yang disampaikan Jones dalam Indrianti dan Heriyanto (Indrianti & Heriyanto, 2020) bahwa kita bisa mengingat informasi yang didapatkan, tetapi belum tentu hanya dengan mengingat informasi tersebut kita bisa mendapatkan kembali informasi bahkan kita tidak bisa menemukan kata kunci yang tepat untuk informasi tersebut. Maka dari itu, pengguna media sosial instagram perlu menyimpan dan mengelola informasi yang dirasa penting dengan baik sehingga tidak kesulitan dan kebingungan jika ingin menemukan kembali informasi. Adanya pengelolaan ini akan mempermudah individu dalam mengambil keputusan bagaimana file mereka akan digunakan dan merencanakan bagaimana pelestarian informasi (Maulida Zakiah et al., 2020) Kegiatan menyimpan dan mengelola informasi untuk penggunaan pribadi ini bisa disebut personal information management (PIM) atau manajemen informasi pribadi. Personal information management (PIM) adalah kegiatan yang dilakukan individu dalam memperoleh atau membuat, menyimpan, mengelompokkan, memelihara, mengambil, menggunakan dan mendistribusikan informasi yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan individu (Jones, 2007). Dengan melakukan manajemen informasi pengguna instagram mampu memanfaatkan informasi yang didapatkan dengan baik sehingga informasi tersebut berguna untuk kebutuhan pribadinya. Menariknya media sosial instagram memberikan fitur yang mana dapat membantu pengguna instagram menyimpan unggahan atau informasi yang didapatkan yaitu fitur saved post. Saved post merupakan suatu media penyimpanan informasi dari hasil penemuan informasi atau unggahan baik berupa foto, audio atau lagu, produk dan video atau yang sekarang disebut reels. Fungsi fitur saved post ini adalah alat yang memungkinkan pengguna instagram bisa menyimpan dan mengelola informasi dengan mengelompokkan informasi yang disimpan sesuai isi atau topik informasi sehingga pengguna dapat menemukan kembali informasi. Fitur saved post ini seperti halnya bookmark, pengguna bisa menandai foto milik orang lain dan menyimpannya ke dalam sebuah halaman khusus(Anjungroso, 2016). Dibandingkan dengan fitur penyimpanan informasi di media sosial lain terdapat perbedaannya pada informasi atau pengemasan informasi yang didapatkan sehingga itu mengapa setiap pengguna media memiliki alasan tersendiri dalam menggunakannya terutama di dalam media sosial Instagram, informasi dikemas menarik dengan khas Instagram dan fitur saved post atau fitur penyimpanan yang ada di Instagram mudah dalam penggunaanya. Dengan fitur ini pengguna instagram bisa memanfaatkan sebagai personal information management di dalam media sosial instagram. Beragamnya informasi yang tersebar di instagram dan keinginan menemukan kembali informasi, kegiatan menyimpan atau penggunaan fitur saved post ini menjadi salah satu kegiatan yang dipilih atau sering dilakukan oleh pengguna instagram. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara awal pada mahasiswa UIN SATU Tulungagung, peneliti mendapatkan data bahwa mahasiswa menggunakan media sosial instagram untuk memenuhi kebutuhan informasinya dan sering menjadikan informasi yang didapatkan atau disebarkan untuk berbagai hal seperti informasi pendidikan, informasi sehari-hari, informasi tren dan masih banyak lagi. Instagram menjadi media yang sangat efektif untuk digunakan sebagai media komunikasi dan dakwah karena informasi yang disampaikan dikemas secara menarik dan inovatif (Deslima, 2018). Dengan menganggap informasi itu menarik dan penting mahasiswa melakukan penyimpanan informasi tersebut menggunakan fitur saved post. Ada mahasiswa melakukan penyimpanan tanpa melakukan pengelompokan di dalam fitur saved post, namun ada juga mahasiswa yang sudah melakukan pengelompokan di fitur ini. Ketika mahasiswa melakukan penemuan kembali pada informasi yang sudah disimpan di fitur saved post akan lebih lama untuk menemukannya berbeda jika sudah dilakukan pengelompokan informasi. Permasalahan ini disebabkan karena saat melakukan penyimpanan tidak menerapkan personal information management dengan benar. Maka hal itu peneliti tertarik melakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi pola personal information management pada fitur saved post oleh mahasiswa UIN SATU Tulungagung. Selain itu dengan mengidentifikasi ini nantinya juga akan mengetahui kendala di setiap kegiatan personal information management.
Method
Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. (Sugiyono, 2018) menyebutkan bahwa penelitian deskriptif merupakan metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian. Sedangkan pendekatan kualitatif menurut (Moleong, 2017) adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena yang ada tentang apa yang dialami subjek penelitian baik perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain yang dikemas secara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Dengan menggunakan jenis penelitian ini nantinya mampu melihat lebih dalam dan mengetahui pola mahasiswa UIN SATU Tulungagung dalam personal information management terutama dalam informasi yang didapat kan di media sosial instagram dengan menggunakan fitur saved post dan juga mengetahui apakah ada kendala di setiap kegiatan manajemennya. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara observasi, wawancara semi struktur dan dokumentasi. Informan yang akan dipilih pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling atau pemilihan informan dengan kriteria tertentu. Pada penelitian ini 6 mahasiswa UIN SATU Tulungagung sebagai informan dan akan di wawancarai. Mahasiswa yang akan diwawancarai merupakan mahasiswa aktif UIN SATU Tulungagung, Pengguna aktif media sosial instagram, Mengunakan Fitur Saved Post dan Penggunaannya kurang lebih satu tahun. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik milik Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Sedangkan untuk keabsahan data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber yang mana akan dilakukan pengecekan data yang diperoleh melalui informan pada informan ini dan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data dari hasil observasi, wawancara dan juga dokumentasi.
Result
Personal Information Management Pada Fitur Saved Post Di Instagram Personal information management atau manajemen informasi pribadi merupakan kegiatan yang dilakukan individu dalam memperoleh atau membuat, menyimpan, mengelompokkan, memelihara, mengambil, menggunakan dan mendistribusikan informasi yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan individu (Jones, 2007) . Kegiatan manajemen berhubungan dengan informasi yang dimiliki setiap individu, informasi yang sudah ditemukan, disimpan dan diakses kembali. Dengan manajemen informasi secara baik, maka akan membantu mempermudah dalam temu kembali informasi. Oleh karena itu dalam menyimpan informasi di fitur saved post tidak boleh asal, perlu adanya proses seleksi dan pengelolaan. Dengan melihat unggahan apakah informasi yang ada sesuai dengan kebutuhan informasi dan tentunya sesuai dengan keinginan. Pada kegiatan personal information management memiliki 3 (tiga) bagian penting dalam manajemen informasi yaitu penemuan informasi, penyimpanan dan pengelompokan, dan tingkatan meta (Jones, 2007). Pada tingkatan meta ini dibagi lagi menjadi pemeliharaan informasi, pengelolaan arus informasi dan pengukuran evaluasi. Berikut hasil dari penelitian yang didapatkan: 1. Penemuan Informasi Kegiatan penemuan informasi tentunya didasari oleh adanya kebutuhan akan informasi yang didinginkan. Dengan adanya kebutuhan yang muncul maka seseorang akan melakukan pencarian informasi untuk menemukan informasi. Mahasiswa memanfaatkan instagram untuk berbagai hal terutama dalam penemuan informasi dan setiap mahasiswa memiliki cara untuk menemukan informasi tersebut. Untuk melakukan pencarian di internet seseorang bisa menelusuri informasi dengan menentukan kata kunci yang tepat sehingga informasi mudah ditemukan (Jones, 2007). Dengan menentukan kata kunci ini juga merupakan salah satu strategi agar informasi yang diinginkan dapat ditemukan. Dari data yang didapat mahasiswa memiliki cara dalam proses pencarian informasi di dalam media sosial instagram, berikut cara mahasiswa menemukan informasi yaitu: a. Dengan kata kunci, mayoritas mahasiswa pada penelitian ini menggunakan kata kunci untuk melakukan pencarian dan penemuan informasi. Dengan bantuan fitur search atau pencarian informasi di instagram pengguna dapat dengan mudah mencari dan menemukan informasi dengan mengetikkan kata kunci yang diinginkan. b. Menemukan di akun tujuan, selain kata kunci mayoritas mahasiswa pada penelitian ini juga menemukan informasi dengan mengunjungi akun terkait informasi yang diinginkan. Informasi yang didapatkan di akun tujuan adalah memang akun tersebut dibuat khusus untuk membahas informasi terkait sehingga pengikutnya bisa langsung tertuju ke akun itu tanpa kebingungan. c. Menemukan informasi di beranda, halaman beranda ini merupakan halaman yang menampilkan unggahan dari pengguna lain yang sudah diikuti. Sehingga informasi yang muncul adalah informasi dari tentunya sesuai dengan keinginan pengguna. d. Menemukan informasi di halaman explore, pada halaman ini informasi yang ditampilkan adalah informasi yang sering dicari, hal itu karena instagram menggunakan sistem algoritma. Algoritma instagram adalah teknologi atau parameter yang dapat menentukan konten mana yang banyak dilihat orang setiap kali pengguna instagram membuka feed (Johana, 2023). Jadi seberapa sering kita mencari dan mengunjungi tentang informasi tersebut maka informasi itu akan muncul di menu explorer dengan beragam unggahan dari berbagai pengguna instagram. Untuk menemukan informasi yang diinginkan dan sesuai kebutuhan, mahasiswa juga melakukan penemuan kembali informasi atau mencari informasi yang sama dan di tempat yang sama. Kegiatan penemuan kembali informasi yang telah dikunjungi atau ditemukan sebelumnya disebut refinding (Jones, 2007). Di mana seseorang melakukan kegiatan penemuan informasi, dan ia tanpa sengaja maupun disengaja menemukan informasi yang sudah pernah ia temukan sebelumnya. Dari data yang didapat mahasiswa melakukan penemuan kembali dengan mengetikkan kata kunci dan mengunjungi akun tujuan yang sama. Mengingat instagram adalah salah satu media sosial yang sering digunakan untuk menyebarkan informasi terkini atau informasi baru tiap waktunya. Maka di tempat penemuan informasi tersebut, secara sengaja atau tidak sengaja akan ditemukan informasi baru dan informasi lama yang sudah ditemukan sebelumnya. Hal itu terjadi baik dalam melakukan pencarian kembali lewat kata kunci atau mengunjungi akun tujuan di media sosial instagram. Proses penemuan informasi ini merupakan goal dari sebuah proses pencarian informasi. Pencarian informasi dilakukan dengan tujuan agar menemukan informasi yang sesuai kebutuhan dan setiap orang memiliki kebutuhan informasi yang berbeda-beda sesuai apa yang diinginkan. Sehingga dari bagaimana kebutuhan itu muncul akan menimbulkan tindakan pencarian, serta bagaimana strategi penemuan yang digunakan seperti melakukan penemuan dengan menggunakan kata kunci, mengunjungi akun tujuan, informasi yang ada di beranda, halaman pencarian dan juga penemuan kembali informasi yang diinginkan maka seseorang akan menemukan informasi sesuai kebutuhan yang diinginkan. 2. Penyimpanan dan Pengelompokkan Informasi Setelah menemukan informasi terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yaitu menyimpan dan mengelompokkan. Dari data yang didapat mahasiswa melakukan penyimpanan dan pengelompokan di dalam media sosial instagram dengan menggunakan fitur saved post. Pada proses penyimpanan, peneliti menemukan dua perbedaan. Ada mahasiswa yang menyimpan dengan mengelompokkan dan ada juga mahasiswa hanya menyimpan tanpa mengelompokkan. Mahasiswa yang sudah menyimpan dan mengelompokkan menyeleksi informasi tersebut sebelum menyimpan. Gambar 1 tampilan ikon fitur saved post Kegiatan menyimpan informasi dengan menyeleksi informasi yang diperoleh, kemudian informasi disimpan ke dalam sebuah folder dan diberikan label atau kategori, hal ini disebut model penyimpanan filling (Jones, 2007). Ketika seseorang melakukan penyimpanan tentu berharap tidak asal menyimpan, tetapi perlu adanya seleksi dan melakukan pengkategorian atau pengelompokan ketika menyimpannya. Dari data yang didapat mahasiswa menyeleksi informasi sebelum menyimpan di fitur saved post dengan menilai informasi apakah informasi itu masih dibutuhkan di kemudian hari, kemudian disimpan dan menyimpan informasi sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Selain menyeleksi mahasiswa juga mengelompokkan dengan melihat isi informasi yang disimpannya. Pengelompokan informasi di sini menjadi tindakan penyeleksian informasi kemudian melakukan pelabelan informasi dan meletakkan ke folder yang sesuai dengan informasi. Jadi pengelompokan ini adalah tahap seleksi selanjutnya informasi akan disimpan, dan mahasiswa melakukan pengelompokan dengan melihat isi informasi. Gambar 2 tampilan ketika melakukan penyimpanan di fitur saved post Mengelompokkan dengan melihat isi informasi ini akan membantu mahasiswa dalam penamaan atau pelabelan pada folder di dalam saved post, misalnya informasi yang akan disimpan adalah informasi beasiswa maka nama katagori atau pelabelannya bertulisan beasiswa. Tetapi terlepas dari hal itu semua pengguna atau mahasiswa bebas akan menamai kategori seperti apa sesuai keinginannya jadi menyesuaikan apa yang diinginkan. Dengan melakukan pengelompokan ini juga memiliki tujuan, tujuannya adalah supaya informasi dapat tertata dan terlihat teratur sehingga dapat mempercepat dalam penemuan kembali informasi. Selain menyimpan dengan menyeleksi dan juga mengelompokkan dengan memberikan label atau kategori. Hal ini juga dilakukan oleh sebagian mahasiswa yang langsung menyimpan informasi tanpa ada proses seleksi atau pengelompokan. Kegiatan menyimpan informasi tanpa dilakukan proses seleksi sehingga informasi yang disimpan menumpuk kegiatan ini disebut juga piling (Jones, 2007). Pada proses ini informasi yang disimpan tidak diberikan label atau dilakukannya pengelompokan dan langsung menyimpan. Dari data yang didapat mahasiswa menyimpan informasi dan tidak mengelompokkan ini memberikan alasan bahwa karena ia tidak tahu kalo di fitur tersebut bisa dikelompokkan, karena tidak sempat, ada juga karena tidak tahu kalo di fitur tersebut bisa dikelompokkan dan ada juga karena jarang menyimpan di fitur saved post jadi sekali simpan asal simpan saja. Jadi informasi yang disimpannya berada di satu tempat dan menumpuk. 3. Tingkatan Meta 3.1 Pemeliharaan Informasi Pemeliharaan ini dilakukan di mana seseorang merawat atau memelihara koleksi informasinya setelah dilakukan penyimpanan dan pengorganisasian. Kegiatan Pemeliharaan informasi adalah bagaimana seseorang dalam memberlakukan informasi yang masih digunakannya, apakah melakukan duplikasi atau merawat informasi, dan bagaimana menyeleksi informasi yang sudah tidak digunakan lagi (Jones, 2007). Dalam melakukan pemeliharaan ini juga tentunya seseorang sudah memikirkan alasan mengapa akan melakukannya dan mengetahui seberapa penting informasi tersebut. Strategi untuk memelihara dan juga merawat file digital bisa dilakukan dengan cara penyegaran atau pembaharuan yang mana data yang disimpan dalam suatu media elektronik dijaga sehingga tidak hilang (Lina, 2014). Salah satunya yaitu dengan cara duplikasi dari satu media ke media lain atau dalam penelitian ini didapati mahasiswa menduplikasi dengan cara mengunduh atau menscrenshoot informasi menyimpannya di perangkat dan juga ada yang menaruhnya di word. Semua itu sesuai keinginan pengguna. Pada penelitian ini juga didapati penyimpanan di perangkat berbedabeda setiap mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki jangka waktu panjang dalam penyimpanannya memiliki alasan bahwa informasi tersebut penting untuk disimpan dan mudah menemukannya karena sudah tersimpan di perangkat, maka dari itu mahasiswa menyimpannya sampai dirasa informasi tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi. Mahasiswa yang menyimpannya di perangkat dengan jangka waktu pendek, memiliki alasan karena informasi tersebut memang penting digunakan pada saat itu juga dan selain itu ia juga menyimpannya bukan karena takut kehilangan informasi tersebut tetapi informasi tersebut disimpan agar mudah di cari kembali dengan cepat saat itu juga tanpa memerlukan jaringan internet. Jadi meskipun memiliki alasan berbeda mahasiswa melakukan penyimpanan atau duplikasi di perangkat ini karena agar informasi penting mudah ditemukan di perangkat tanpa perlu lagi pergi ke aplikasi instagram. Sehingga dengan melakukan pemeliharaan ini memberikan hal positif dan mempermudah mahasiswa dalam memanfaatkan informasi dengan baik. 3.2 Pengelolaan Arus Informasi Pengelolaan arus informasi merupakan kegiatan di mana seseorang mengelola baik informasi masuk dan informasi keluar dalam kehidupan pribadinya. Dari data yang didapat mahasiswa memperhatikan arus informasi masuk dengan fokus informasi yang dibutuhkan dan juga memperhatikan sumber informasi tersebut. Jadi informasi yang disimpan didasari akan kebutuhan dan keaslian atau kebenaran informasi tersebut. Pengelolaan arus informasi masuk, dapat dilakukan dengan fokus pada informasi, memiliki strategi dalam penyeleksian informasi, dan memproses informasi tersebut (Jones, 2007). Artinya dalam pengelolaan informasi masuk, setiap individu disarankan untuk fokus pada satu informasi, menentukan strategi penemuan dan penyeleksian informasi serta melakukan pemrosesan saat itu juga. Berdasarkan asumsi tersebut dapat diketahui bahwa fokus pada informasi sesuai kebutuhan menjadi strategi untuk mengelola arus informasi masuk yang banyak dan juga beragam seiring berjalannya waktu. Dengan melakukan pemrosesan informasi pada saat itu juga akan meminimalisir membeludaknya informasi pada media penyimpanan atau pada fitur saved post. Dengan fokus informasi juga membantu mahasiswa dalam menentukan dan memilih informasi sesuai minat dan kebutuhannya. Selain itu memperhatikan sumber informasi juga merupakan hal yang penting dalam penyeleksian informasi. Di media sosial instagram informasi tersebar dari berbagi sumber baik sumber itu bisa terpercaya atau tidak. Tetapi sekarang ini sudah banyak sekali sumber terpercaya di instagram dengan melihat keaslian akun informasi tersebut namun memang meskipun informasi itu benar kita juga perlu waspada dan memperhatikan informasi dengan cermat agar informasi tersebut memang benar-benar terpercaya. Informasi keluar tolak ukurnya adalah pada individu setiap mahasiswa. Ketika individu melakukan kegiatan berkomunikasi, sharing informasi, menulis pada media, secara tidak langsung mahasiswa memberikan informasi pribadi atau informasi yang dia dapat kepada orang lain. Dari data yang didapat mahasiswa mengatur atau memilah informasi dan memikirkan apa yang akan terjadi ketika informasi tersebut dibagikan. Sehingga dalam informasi keluar mahasiswa juga memperhatikan urgensi informasi yang akan dibagikan ke orang lain, informasi bernilai manfaat dan terjamin keaslian atau kebenarannya. Pada kecanggihan teknologi informasi saat ini, aplikasi atau media sosial seperti instagram banyak digunakan orang untuk memproduksi dan mendistribusikan informasi. Hal ini juga berdampak akan rentannya privasi seseorang karena dengan teknologi saat ini jejak digital akan mudah terekam mudah didapatkan orang lain. William Jones menjelaskan terkait pentingnya pengelolaan arus informasi keluar yang mana seseorang perlu memperhatikan siapa lawan bicara atau untuk apa dan untuk siapa informasi tersebut, oleh karena itu perlu juga memperhatikan urgensi informasi, piranti digital dan juga privasi untuk keamanan (Lina, 2014). Berdasarkan asumsi tersebut dapat di simpulkan bahwa pengelolaan informasi keluar sangat penting untuk mahasiswa. Memperhatikan urgensi informasi dengan melihat nilai informasi, dan melihat sumber informasi tersebut merupakan salah satu bentuk pertimbangan mahasiswa sehingga memutuskan apakah informasi tersebut nantinya akan disharingkan atau tidak karena informasi yang ada juga harus terjamin kebenarannya, sumber yang jelas dan mempertimbangkan juga apakah informasi yang dibagikan bermanfaat bagi orang lain. Selain itu seseorang juga harus bisa membedakan informasi tersebut bersifat privasi atau tidak hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan diri sendiri. 3.3 Pengukuran dan Evaluasi Dalam kegiatan personal information management, kegiatan pengukuran digunakan untuk melihat keberhasilan suatu elemen-elemen dari penerapan personal information management seperti pencarian, penyimpanan, pengelompokan, pemeliharaan informasi dan pengelolaan arus informasi (Jones, 2007). Pada kegiatan pengukuran seseorang juga menilai, mengumpulkan informasi yang sekiranya dapat membantunya untuk mengukur keefektifan, keefisienan dan juga kepuasan dari penerapan personal information management (Larasati & Prasetyawan, 2020). Dengan adanya fitur saved post ini memberikan manfaat yang baik dari segi efektifitas maupun efisiensi. Dari data yang di dapat dengan menggunakan fitur saved post ini memberikan efektifitas karena dapat menemukan kembali informasi dengan mudah sedangkan dari segi efisiensi, mahasiswa bisa mendapatkan kembali informasi dengan waktu singkat. Pada penelitian ini ada hal yang paling menonjol dari data yang didapatkan adalah waktu penemuan atau efisiensi setiap mahasiswa berbeda-beda, karena tidak semua mahasiswa pada penelitian ini menerapkan kegiatan seperti pengelompokan, pemeliharaan informasi. Tetapi terlepas dari itu semua mahasiswa sudah memanfaatkan fitur ini dengan baik karena menggunakannya untuk menyimpan informasi dan memudahkan penemuan kembali. Selanjutnya adalah evaluasi. Evaluasi penting dilakukan karena evaluasi juga merupakan proses untuk mengukur sebuah kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai tujuan (Larasati & Prasetyawan, 2020). Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam evaluasi adalah menyeleksi dan melakukan penghapusan informasi yang sudah disimpan sebelumnya di fitur saved post. Dari data yang didapat mahasiswa juga melakukan penghapusan informasi yang sudah tidak digunakan lagi di fitur saved post dengan cara unsaved unggahan. Melihat informasi di media sosial instagram selalu terupdate, memungkinkan jika mahasiswa akan menyimpan begitu banyak informasi, jadi dengan menghapus informasi lama yang sudah disimpan akan mengatur informasi yang disimpannya. Sehingga informasi yang disimpan fokus pada informasi yang masih digunakan dan mengurangi banyaknya informasi yang disimpan agar tidak menumpuk. Tetapi ada juga mahasiswa yang tidak melakukan penghapusan informasi karena tidak sempat dan juga sudah jarang menggunakan media sosial Instagram, selain itu mahasiswa malas untuk memilah informasi yang sudah disimpannya. Dengan tidak melakukan penghapusan tentunya informasi yang disimpan begitu banyak, terus bertambah dan tentunya menumpuk. Sehingga hal ini sebenarnya juga mempengaruhi lama waktunya untuk penemuan kembali di fitur saved post. Adanya fitur saved post ini adalah untuk membantu pengguna instagram dalam menyimpan informasi. Dengan kemudahan penggunaannya seharusnya pengguna memanfaatkannya dengan baik. Permasalahan yang dijumpai pada mahasiswa selama menggunakan saved post bukan berasal dari media penyimpanannya tetapi berasal dari diri mahasiswa. Karena malas menyeleksi, mengelompokkan, menghapus informasi yang sudah tidak digunakan. Hal itu akan menimbulkan kendala penemuan kembali informasi di fitur saved post. Namun meskipun tidak melakukan salah satu kegiatan yang ada dalam manajemen ini, mahasiswa sudah memanfaatkan fitur ini dengan menyimpan informasi. Sehingga menemukan informasi kembali yang disimpannya dengan mudah. Dengan mudah di sini bukan artian waktu tapi tempat penyimpanannya yaitu fitur saved post. Mahasiswa tidak perlu menyimpan di tempat lain dan bisa menyimpannya di dalam media sosial instagram. Selama menggunakan fitur saved post setiap mahasiswa juga memiliki pendapatnya masing-masing, selain kelebihan atau manfaat untuk menemukan kembali informasi. Mahasiswa memberikan pendapatnya tentang kekurangan yang didapati selama penggunaannya yaitu: 1. Ketika unggahan informasi dihapus oleh pemilik akun maka unggahan yang disimpan juga ikut hilang. Hal ini memang bukan ranah pengguna informasi lain yang menyimpannya jika informasi tersebut di hapus pemilik aslinya, jadi mau tidak mau jika menginginkan informasi tersebut pengguna bisa mencarinya kembali tetapi dari sumber yang berbeda. 2. Kurangnya fasilitas seperti pembedaan penyimpanan lama dengan yang baru. Hal ini juga menjadi kekurangan yang ada pada fitur saved post meskipun pengguna sudah melakukan kegiatan manajemen informasi pengguna juga mengalami pencarian yang harus scroll sedangkan informasi yang disimpannya banyak dan penting. 3. Peletakan menu saved post yang kurang menjangkau dengan mudah. Hal ini juga menjadi kekurangan saved post untuk saat ini yang peletakannya masih di antara menu pengaturan dan menu lainnya sehingga pengguna tidak bisa mengakses menu ini sekali klik. KENDALA PADA KEGIATAN PERSONAL INFORMATION MANAGEMENT Pada penelitian ini ditemukan kendala pada kegiatan personal information management. Kendala tersebut ditemukan pada kegiatan penemuan informasi dan pengelompokan informasi. Berikut kendala yang didapati mahasiswa ketika melakukan penemuan informasi: 1. Jaringan internet. Instagram merupakan media sosial yang bisa digunakan dengan bantuan internet. Tanpa internet, penggunaan media sosial baik instagram maupun media sosial lainnya informasi tidak dapat diperbarui. Ketika jaringan internet yang digunakan buruk akan memperlambat pencarian dan penemuan informasi sehingga upaya yang perlu dilakukan dengan menggunakan jaringan yang kuat. Dengan menggunakan jaringan yang kuat dan efisien akan membantu kesuksesan dalam penggunaannya (Paramaditya et al., 2023). Hal akan mampu memproses dengan cepat agar informasi yang di perlukan mudah ditemukan dan menghemat waktu. 2. Kata kunci. Didapati juga kendala pada kata kunci yang kurang dan kadang tidak sesuai. Unggahan informasi di Instagram kebanyakan menggunakan kata kunci yang lebih dari satu untuk menjangkau audiens. Kata kunci ini juga bisa berarti tagar atau hastag yang digunakan. Hal itu mengapa dalam penemuan informasi perlunya cara untuk mengatasi kendala tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan langsung mengunjungi atau menfollow akun yang membahas informasi yang diinginkannya, selain itu juga dengan menambahkan kata kunci tambahan atau lebih spesifik. Dengan menentukan kata kunci yang spesifik akan mendeteksi, memunculkan informasi yang diinginkan (Perdana et al., 2015). Selanjutnya kendala yang dihadapi mahasiswa pada pengelompokan. Pada penelitian ini yang mendapati kendala pengelompokan adalah mahasiswa yang tidak mengelompokkan informasi di fitur saved post. Informasi yang tidak dikelompokkan oleh mahasiswa berada di satu tempat sehingga informasi yang di simpan menumpuk. Hal ini mengakibatkan penemuan kembali menjadi lama. Upaya untuk mengatasi kendala ini perlunya melakukan pengelompokan dan seleksi ketika penyimpanan sehingga informasi berada di tempat sesuai dengan isi atau topik informasi sehingga mempercepat penemuan kembali informasi. Namun mahasiswa tidak mengalami kendala yang serius karena masih bisa menemukan informasi tersebut.
Conclusion
Berdasarkan hasil analisis penelitian tentang personal information management pada fitur saved post di media sosial instagram, maka peneliti menemukan bahwa ketika mahasiswa melakukan penemuan informasi, mahasiswa melakukan dengan menggunakan kata kunci, menemukan di akun tujuan, di beranda, dan di halaman explore. Pada kegiatan penyimpanan dan pengelompokan mahasiswa melakukan penyimpanan filing dan piling. Kemudian dalam kegiatan tingkatan meta yang terdiri dari pemeliharaan informasi mahasiswa menyimpan dengan back-up ke perangkat dan memiliki jangka penyimpanan di perangkat berbeda-beda setiap mahasiswa. selanjutnya kegiatan pengelolaan arus informasi, selain fokus informasi dan urgensi informasi, mahasiswa juga memperhatikan sumber informasi. Kemudian terakhir kegiatan pengukuran dan evaluasi menunjukkan bahwa dengan menggunakan fitur saved post memberikan efektifitas dan efisiensi sehingga membantu dalam menemukan kembali informasi. Dari hasil yang didapatkan juga didapati kendala pada kegiatan personal information management yaitu kegiatan penemuan informasi dan pengelompokan informasi. Tetapi kendala ini tidak menjadi kendala yang serius karena baik penemuan informasi atau penemuan kembali informasi, mahasiswa masih bisa mendapatkan informasi yang di inginkan sesuai kebutuhan.