Kembali
16
1
2024 Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 6 · 1 ISSN 3024-9880

PENGARUH BONUS DEMOGRAFI PADA PARTISIPASI PEMILU 2024 TERHADAP LITERASI POLITIK DIGITAL MAHASISWA ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI ISLAM UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Abstrak

Pemilihan presiden dan bonus demografi merupakan dua kata yang saling berkaitan saat ini. Pemilihan presiden yang berlangsung pada 14 Februari 2024 akan memilih presiden masa jabatan 2024-2029. Sementara itu, menurut organisasi BPS dan Bappenas, bonus demografi akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 dan berakhir pada tahun 2040. CSIS memperkirakan jumlah pemilih muda pada pemilu mendatang akan mencapai 60% dari total pemilih. Menjelang pemilu 2024, khususnya pada masa kampanye, penyebaran hoaks dan misinformasi diperkirakan akan meningkat. Mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Angkatan 2023 termasuk dalam generasi Z yang menjadi bagian dari tingginya jumlah pemilih muda pada pemilu 2024. Pemilih muda masih tergolong memiliki sifat labil dan emosian, yang menjadikan pemilih muda dapat dijadikan sasaran bagi elit politik maupun berita bohong di era digital ini, apabila pemilih muda tidak mempunyai kecakapan literasi politik digital. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bonus demografi pada partisipasi pemilu 2024 terhadap kemampuan literasi politik digital UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Angkatan 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan kesioner (Angket) yang dikirinkan melalui WhatsApp kepada 82 narasumber. Instrumen Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Sedangkan pada Teknik analisis data menggunakan Analisis Retrogresi Linier Sederhana. Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan komputer menggunakan program IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh bonus demografi pada partisipasi pemilu 2024 terhadap kemampuan literasi politik digital UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Angkatan 2023.

Abstract

Presidential election and demographic bonus are two words that are closely related today. The presidential election which will take place on February 14 2024 will elect the president for the 20242029 term. Meanwhile, according to the BPS and Bappenas organizations, the demographic bonus will reach its peak in 2030 and end in 2040. CSIS estimates that the number of young voters in the next election will reach 60% of the total voters. Approaching the 2024 election, especially during the campaign period, the spread of hoaxes and misinformation is expected to increase. UIN Islamic library and information science student Sayyid Ali Rahmatullah Class of 2023 is part of the Z generation which is part of the high number of young voters in the 2024 elections. Young voters are still classified as having an unstable and emotional nature, which makes young voters a target for political and news elites. It would be a lie in this digital era if young voters do not have digital political literacy skills. The aim of this research is to determine the effect of the demographic bonus on 2024 election participation on the digital political literacy skills of UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Class of 2023. This research uses quantitative methods. The data collection technique is using a questionnaire which was sent via WhatsApp to 82 sources. Instruments for testing the validity of data in research are often only emphasized on validity and reliability tests. Meanwhile, the data analysis technique uses Simple Linear Retrogression Analysis. The data processing carried out in this research was by computer using the IBM SPSS Statistics 25 program. The results of the research showed that there was an influence of the demographic bonus on 2024 election participation on the digital political literacy skills of UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Class of 2023.
Keywords: Demographic Bonus · Gen Z · Digital Political Literacy

Introduction

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan Indonesia akan menikmati era demografi pada tahun 2020-2035. Pada periode ini, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan akan mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Era penduduk bonus juga ditandai dengan dominasi penduduk usia produktif (15-64 tahun) dibandingkan penduduk non-produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas), yang dibuktikan dengan rendahnya rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan sendiri merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif dengan jumlah penduduk usia produktif (Astuti, Wasidi, and Sinthia 2019). Bonus demografi disebabkan oleh penurunan rasio ketergantungan pada angka kematian bayi dan kesuburan jangka panjang (jumlah kelahiran). Mengurangi proporsi penduduk muda (0-14 tahun) dan tingginya proporsi penduduk produktif (15-64 tahun) membantu mengurangi biaya investasi untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga biaya tersebut dapat dialihkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan keluarga senang. Bonus demografi pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari generasi milenial. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, rasio ketergantungan Indonesia pada tahun 2015 adalah sebesar 49,20 yang secara tidak langsung berarti proporsi penduduk usia produktif mencapai kurang lebih 67,02% dari total penduduk. Selanjutnya jika dikaitkan dengan proporsi penduduk usia produktif dengan proporsi generasi milenial pada tahun 2017 yang mencapai 33,75% dari total penduduk. Artinya kontribusi generasi milenial terhadap pembentukan struktur penduduk di usia produktif cukup tinggi, karena sekitar 50,36%. Pemilihan presiden dan bonus demografi merupakan dua kata yang saling berkaitan saat ini. Pemilihan presiden yang berlangsung pada 14 Februari 2024 akan memilih presiden masa jabatan 2024-2029. Sementara itu, menurut beberapa organisasi seperti BPS dan Bappenas, bonus demografi akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 dan berakhir pada tahun 2040. Artinya, presiden terpilih pada Pilpres 2024 akan menempatkan Indonesia pada puncak bonus demografi sejak awal 2030 (Risza 2022). Pada tingkat populasi menjelang pemilu, akan terjadi perubahan demografi yang ditandai dengan peningkatan jumlah pemilih muda (Generasi Z dan milenial) yang berusia antara 17 hingga 39 tahun. CSIS memperkirakan jumlah pemilih muda pada pemilu mendatang akan mencapai 60% dari total pemilih. Jika beralih, jumlah pemilih muda bisa mencapai 114 juta. Dengan kata lain, pemilih terbesar pada Pilpres 2024 adalah generasi Z dan generasi milenial yang mempunyai peran besar dalam premi demografi teratas. Pilpres 2024 bisa dikatakan menjadi motor penggerak atau peluang terakhir bagi bangsa Indonesia sebelum memasuki puncak peluang demografinya. Namun di sisi lain, akan menjadi bencana di ambang gangguan apabila bonus demografi ini tidak dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan dengan baik. Menjelang pemilu 2024, khususnya pada masa kampanye, penyebaran berita bohong (hoaks) dan misinformasi diperkirakan akan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya polarisasi masyarakat akibat tindakan beberapa kepentingan politik yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab. Menerapkan budaya politik digital yang baik penting bagi kondisi masyarakat dan generasi muda Indonesia saat ini dan masa depan. (Fernandes, Suryahudaya, and Okhtariza 2023). Literasi politik mengacu pada keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan setiap individu untuk berpartisipasi dalam pembangunan demokrasi suatu negara. Kurangnya pemahaman terhadap isu-isu politik dan aktivitas politik membuat masyarakat menjadi apatis menghadapi proses demokrasi dan tidak mampu mengikuti dinamika politik lingkungan (Azzahid, 2021). Hal ini penting untuk melindungi diri Anda dari berbagai masalah yang ada dan mengambil pilihan yang tepat. Penting juga untuk menyaring informasi yang masuk agar tidak langsung diterima dan berdampak buruk bagi pemilih. Literasi digital juga harus terus ditingkatkan agar setiap pemilih dapat memperoleh informasi yang akurat dan tidak tertipu. “Literasi digital itu penting sekali, bagaimana kita mengkritisi, bagaimana kita mengevaluasinya. Kita harus kritis karena pemilu ini banyak penipuan. Masyarakat yang berhak memilih, terutama remaja dan pelajar, mengetahui calon pemimpin di daerahnya dari berbagai media. Sumber informasi berupa komunikasi politik disebarkan melalui media cetak dan elektronik (Setiawan, Zaman, and Gunanto 2020). Oleh karena itu, pendidikan politik melalui media online sangat penting untuk memperkuat hak-hak politik masyarakat khususnya remaja dan pelajar. Budaya politik yang lebih tinggi melalui media online berarti kepentingan masyarakat terhadap tokoh masyarakat akan lebih terjamin. Sebaliknya, ketika pengetahuan politik di media online rendah, mungkin terdapat kekurangan informasi yang menghambat pemilih untuk mendikte tokoh politik mana yang akan memimpin daerahnya. Di sisi lain, dengan literasi politik, partisipasi politik juga dapat tumbuh di masyarakat, terutama pada saat pemilu.(Setiawan et al. 2020). Selain itu, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa adalah pemilih pemula yang tidak stabil dan emosional sehingga mudah dipolitisasi dan dimanfaatkan oleh para elite sebagai barang politik untuk meningkatkan pendapatannya, statusnya dalam pemilu, mudah dimobilisasi oleh para elite politik. Di sisi lain, kita kini berada di era digital yang memungkinkan semua kalangan lebih mudah mengakses informasi melalui internet, khususnya media sosial (Pratiwi dan Purnama 2022). Mahasiswa sendiri merupakan generasi yang tidak bisa dipisahkan dari ponselnya (Ekayana 2022), sehingga mudah dipolitisasi oleh elite melalui jejaring sosial. Permasalahan ini harus segera diantisipasi agar pemilu berikutnya pada tahun 2024 dapat berlangsung dengan aman dan lancar serta jumlah warga kulit putih dapat berkurang. (Yuliandari, Muchtarom, and Widiatmaka 2023). Di sisi lain, mahasiswa merupakan generasi muda idealis yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan perlu lebih memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara agar tidak rentan terhadap politisasi elit, apalagi menjelang pemilu. lokasi, namun terdapat banyak data yang menunjukkan bahwa pelajar rentan terhadap pengaruh elit politik dan tindakan ilegal (Anggraeni dan Adrinoviarini 2020). Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN SATU TULUNGAGUNG, dimana mereka juga termasuk Generasi Z, yang akan mengikuti program bonus demografi di Indonesia yang diperkirakan akan berlangsung pada tahun 2018. Pada tahun 2030. Mahasiswa sebagai pemilih pemula, khususnya pemilih pemula, tidak stabil dan emosional sehingga mudah dipolitisasi dan dijadikan produk politik oleh para elit-elit politik. Di sisi lain, pelajar kini berada di era digital yang memungkinkan mereka mengakses informasi dengan lebih mudah melalui internet, khususnya jejaring sosial. Mahasiswa sendiri merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari ponselnya sehingga sangat rentan dipolitisasi oleh para elite melalui jejaring sosial. Literasi politik digital mempunyai peran yang sangat penting dalam memperkuat hak-hak politik masyarakat, khususnya generasi muda dan pelajar. Dengan budaya politik yang sangat digital, maka hak masyarakat untuk memiliki tokoh masyarakat akan lebih terjamin. Sebaliknya, ketika pengetahuan politik digital rendah, kurangnya informasi dapat membuat pemilih tidak bisa mendikte tokoh politik yang akan memimpin daerahnya. Melalui pengetahuan politik, partisipasi politik juga dapat tumbuh di masyarakat, khususnya pada saat pemilu. Namun demikian kajian literasi politik digital pada mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung belum diketahui. Berdasarkan paparan diatas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian mengenai, “Pengaruh Bonus Demografi Pada Partisipasi Pemilu 2024 Terhadap Literasi Politik Digital Pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung”. Penelitian terdahulu yang relevan digunakan untuk memperkuat sebuah kegiatan penelitian dari segi dari sisi teoritik. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang dapat mendukung penelitian mengenai “Pengaruh Bonus Demografi Pada Partisipasi Pemilu 2024 Terhadap Literasi Politik Digital Pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung”, yaitu : 1. Penelitian pertama berjudul “Partisipasi Generasi Z dalam Menggunakan Hak Pilih pada Pemilihan Umum 2024 di SMK Taruna Pekanbaru” ditulis oleh Muhammad Syafii Sitorus dan Siti Hazar Sitorus (Sitorus and Sitorus 2023). 2. Penelitian kedua berjudul “Literasi Politik Pemilih Pemula Menyongsong Pemilu 2024 di Pondok Pesantren Tahfizul Quran Desa Sungai Pinang” ditulis oleh Muhammad Arif dkk (Arif et al. 2023). 3. Peneltian ketiga berjudul “Pemahaman Literasi Politik Pemilih Pemula dalam Upaya Pencegahan Informasi Hoax Pemilu 2024” ditulis oleh Akhyar Anshori dkk (Anshori and Izharsyah 2023).

Method

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan Indonesia akan menikmati era demografi pada tahun 2020-2035. Pada periode ini, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan akan mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Era penduduk bonus juga ditandai dengan dominasi penduduk usia produktif (15-64 tahun) dibandingkan penduduk non-produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas), yang dibuktikan dengan rendahnya rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan sendiri merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif dengan jumlah penduduk usia produktif (Astuti, Wasidi, and Sinthia 2019). Bonus demografi disebabkan oleh penurunan rasio ketergantungan pada angka kematian bayi dan kesuburan jangka panjang (jumlah kelahiran). Mengurangi proporsi penduduk muda (0-14 tahun) dan tingginya proporsi penduduk produktif (15-64 tahun) membantu mengurangi biaya investasi untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga biaya tersebut dapat dialihkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan keluarga senang. Bonus demografi pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari generasi milenial. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, rasio ketergantungan Indonesia pada tahun 2015 adalah sebesar 49,20 yang secara tidak langsung berarti proporsi penduduk usia produktif mencapai kurang lebih 67,02% dari total penduduk. Selanjutnya jika dikaitkan dengan proporsi penduduk usia produktif dengan proporsi generasi milenial pada tahun 2017 yang mencapai 33,75% dari total penduduk. Artinya kontribusi generasi milenial terhadap pembentukan struktur penduduk di usia produktif cukup tinggi, karena sekitar 50,36%. Pemilihan presiden dan bonus demografi merupakan dua kata yang saling berkaitan saat ini. Pemilihan presiden yang berlangsung pada 14 Februari 2024 akan memilih presiden masa jabatan 2024-2029. Sementara itu, menurut beberapa organisasi seperti BPS dan Bappenas, bonus demografi akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 dan berakhir pada tahun 2040. Artinya, presiden terpilih pada Pilpres 2024 akan menempatkan Indonesia pada puncak bonus demografi sejak awal 2030 (Risza 2022). Pada tingkat populasi menjelang pemilu, akan terjadi perubahan demografi yang ditandai dengan peningkatan jumlah pemilih muda (Generasi Z dan milenial) yang berusia antara 17 hingga 39 tahun. CSIS memperkirakan jumlah pemilih muda pada pemilu mendatang akan mencapai 60% dari total pemilih. Jika beralih, jumlah pemilih muda bisa mencapai 114 juta. Dengan kata lain, pemilih terbesar pada Pilpres 2024 adalah generasi Z dan generasi milenial yang mempunyai peran besar dalam premi demografi teratas. Pilpres 2024 bisa dikatakan menjadi motor penggerak atau peluang terakhir bagi bangsa Indonesia sebelum memasuki puncak peluang demografinya. Namun di sisi lain, akan menjadi bencana di ambang gangguan apabila bonus demografi ini tidak dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan dengan baik. Menjelang pemilu 2024, khususnya pada masa kampanye, penyebaran berita bohong (hoaks) dan misinformasi diperkirakan akan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya polarisasi masyarakat akibat tindakan beberapa kepentingan politik yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab. Menerapkan budaya politik digital yang baik penting bagi kondisi masyarakat dan generasi muda Indonesia saat ini dan masa depan. (Fernandes, Suryahudaya, and Okhtariza 2023). Literasi politik mengacu pada keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan setiap individu untuk berpartisipasi dalam pembangunan demokrasi suatu negara. Kurangnya pemahaman terhadap isu-isu politik dan aktivitas politik membuat masyarakat menjadi apatis menghadapi proses demokrasi dan tidak mampu mengikuti dinamika politik lingkungan (Azzahid, 2021). Hal ini penting untuk melindungi diri Anda dari berbagai masalah yang ada dan mengambil pilihan yang tepat. Penting juga untuk menyaring informasi yang masuk agar tidak langsung diterima dan berdampak buruk bagi pemilih. Literasi digital juga harus terus ditingkatkan agar setiap pemilih dapat memperoleh informasi yang akurat dan tidak tertipu. “Literasi digital itu penting sekali, bagaimana kita mengkritisi, bagaimana kita mengevaluasinya. Kita harus kritis karena pemilu ini banyak penipuan. Masyarakat yang berhak memilih, terutama remaja dan pelajar, mengetahui calon pemimpin di daerahnya dari berbagai media. Sumber informasi berupa komunikasi politik disebarkan melalui media cetak dan elektronik (Setiawan, Zaman, and Gunanto 2020). Oleh karena itu, pendidikan politik melalui media online sangat penting untuk memperkuat hak-hak politik masyarakat khususnya remaja dan pelajar. Budaya politik yang lebih tinggi melalui media online berarti kepentingan masyarakat terhadap tokoh masyarakat akan lebih terjamin. Sebaliknya, ketika pengetahuan politik di media online rendah, mungkin terdapat kekurangan informasi yang menghambat pemilih untuk mendikte tokoh politik mana yang akan memimpin daerahnya. Di sisi lain, dengan literasi politik, partisipasi politik juga dapat tumbuh di masyarakat, terutama pada saat pemilu.(Setiawan et al. 2020). Selain itu, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa adalah pemilih pemula yang tidak stabil dan emosional sehingga mudah dipolitisasi dan dimanfaatkan oleh para elite sebagai barang politik untuk meningkatkan pendapatannya, statusnya dalam pemilu, mudah dimobilisasi oleh para elite politik. Di sisi lain, kita kini berada di era digital yang memungkinkan semua kalangan lebih mudah mengakses informasi melalui internet, khususnya media sosial (Pratiwi dan Purnama 2022). Mahasiswa sendiri merupakan generasi yang tidak bisa dipisahkan dari ponselnya (Ekayana 2022), sehingga mudah dipolitisasi oleh elite melalui jejaring sosial. Permasalahan ini harus segera diantisipasi agar pemilu berikutnya pada tahun 2024 dapat berlangsung dengan aman dan lancar serta jumlah warga kulit putih dapat berkurang. (Yuliandari, Muchtarom, and Widiatmaka 2023). Di sisi lain, mahasiswa merupakan generasi muda idealis yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan perlu lebih memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara agar tidak rentan terhadap politisasi elit, apalagi menjelang pemilu. lokasi, namun terdapat banyak data yang menunjukkan bahwa pelajar rentan terhadap pengaruh elit politik dan tindakan ilegal (Anggraeni dan Adrinoviarini 2020). Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN SATU TULUNGAGUNG, dimana mereka juga termasuk Generasi Z, yang akan mengikuti program bonus demografi di Indonesia yang diperkirakan akan berlangsung pada tahun 2018. Pada tahun 2030. Mahasiswa sebagai pemilih pemula, khususnya pemilih pemula, tidak stabil dan emosional sehingga mudah dipolitisasi dan dijadikan produk politik oleh para elit-elit politik. Di sisi lain, pelajar kini berada di era digital yang memungkinkan mereka mengakses informasi dengan lebih mudah melalui internet, khususnya jejaring sosial. Mahasiswa sendiri merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari ponselnya sehingga sangat rentan dipolitisasi oleh para elite melalui jejaring sosial. Literasi politik digital mempunyai peran yang sangat penting dalam memperkuat hak-hak politik masyarakat, khususnya generasi muda dan pelajar. Dengan budaya politik yang sangat digital, maka hak masyarakat untuk memiliki tokoh masyarakat akan lebih terjamin. Sebaliknya, ketika pengetahuan politik digital rendah, kurangnya informasi dapat membuat pemilih tidak bisa mendikte tokoh politik yang akan memimpin daerahnya. Melalui pengetahuan politik, partisipasi politik juga dapat tumbuh di masyarakat, khususnya pada saat pemilu. Namun demikian kajian literasi politik digital pada mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung belum diketahui. Berdasarkan paparan diatas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian mengenai, “Pengaruh Bonus Demografi Pada Partisipasi Pemilu 2024 Terhadap Literasi Politik Digital Pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung”. Penelitian terdahulu yang relevan digunakan untuk memperkuat sebuah kegiatan penelitian dari segi dari sisi teoritik. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang dapat mendukung penelitian mengenai “Pengaruh Bonus Demografi Pada Partisipasi Pemilu 2024 Terhadap Literasi Politik Digital Pada Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung”, yaitu : 1. Penelitian pertama berjudul “Partisipasi Generasi Z dalam Menggunakan Hak Pilih pada Pemilihan Umum 2024 di SMK Taruna Pekanbaru” ditulis oleh Muhammad Syafii Sitorus dan Siti Hazar Sitorus (Sitorus and Sitorus 2023). 2. Penelitian kedua berjudul “Literasi Politik Pemilih Pemula Menyongsong Pemilu 2024 di Pondok Pesantren Tahfizul Quran Desa Sungai Pinang” ditulis oleh Muhammad Arif dkk (Arif et al. 2023). 3. Peneltian ketiga berjudul “Pemahaman Literasi Politik Pemilih Pemula dalam Upaya Pencegahan Informasi Hoax Pemilu 2024” ditulis oleh Akhyar Anshori dkk (Anshori and Izharsyah 2023). pada Generasi Z dinilai memiliki pengaruh terhadap kemampuan literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, apabila jawaban yang disampaikan sesuai dengan teori mudhok dan teori terpaan media.

Result

Jenis Kelamin Responden Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi islam angkatan 2023, yang berjumlah 82 orang. Data mengenai karakteristik responden ditampilkan pada tabel berikut : Tabel 1. Jenis Kelamin Responden Sumber : Data Primer yang diolah, 2024 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa 60 responden adalah berjenis kelamin perempuan dengan presentasi 73% dan 22 responden berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 27%. Berdasarkan proporsi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah responden perempuan dalam penelitian ini lebih banyak dibandingkan responden laki-laki. Untuk lebih jelasnya gambar jenis kelamin responden dapat dilihat pada diagram berikut Usia Responden Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan responden berdasarkan usia : Tabel 2. Usia Responden Sumber : Data Primer yang diolah, 2024 Berdasarkan Kelompok usia diatas memberikan gambaran bahwa dari sampel yang diambil sebanyak 82 responden pada kalangan generasi z terdapat kelompok usia yang mendominasi adalah responden yang berusia 19 tahun yaitu sebanyak 55 orang (67%). Komposisi kelompok responden dengan usia 17 tahun yaitu sebanyak 2 orang (3%). Kelompok usia 18 tahun yaitu sebanyak 15 orang (18%). kelompok usia 20 tahun yaitu sebanyak 9 orang (11%). Semestara itu, kelompok usia 21 tahun yaitu sebanyak 1 orang (1%). Untuk lebih jelasnya gambar usia responden dapat dilihat pada diagram berikut : Analisis Depkriptif Pengujian statistik deskriptif digunakan untuk memberikan informasi mengenai ciri-ciri 2 variabel yaitu bonus demografi pada partisapan dan literasi politik digital dengan tujuan untuk mengetahui deskriptif data penelitian ketika malakukan survei pada responden. Berikut merupakan tabel rekapitulasi responden yang telah disebarkan sebanyak 82 responden. Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Kuesioner Variabel X Sumber : Data Primer yang diolah, 2024 Sumber : Data Primer yang diolah, 2024 Hasil Uji Prasyarat 1. Uji Validalitas Uji validitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan butir pernyataan dalam mendefinisikan variabel. Teknik pengujian dalam penelitian ini menggunakan r hitung. Hasil r hitung dari output SPSS dalam setiap pernyataan kita bandingkan dengan r tabel df=n-2 dan menghitung taraf signifikansi 5% atau 0.05. Untuk menganalisis kevalidan setiap butir kuesioner yaitu dengan melihat r tabel dimana jumlah responden (n) dalam penelitian ini berjumlah 33 responden. df = n-2 = 33-2 = 31 Maka r tabel dalam penelitian ini sebesar 0.355. Jika nilai r hitung lebih besar besar dari r tabel maka item tersebut valid, sebaliknya jika nilai r hitung lebih kecil dari r tabel maka item tersebut tidak valid. Selanjutnya dengan menghitung taraf signifikansi (sig.2-tailed). Jika nilai signifikansi kurang dari 0.05 maka item tersebut valid, sebaliknya jika signifikansi lebih dari 0.05 dikatakan tidak valid. Tabel 4. Data Hasil Uji Validitas Variabel X Berdasarkan tabel uji validitas dengan jumlah 19 pertanyataan terdapat 19 pernyataan yang memenuhi kriteria valid karena memiliki r hitung lebih besar dari r tabel. Dalam penelitian ini r tabel sebesar 0.355. Jika nilai r hitung lebih besar besar dari r tabel maka item tersebut valid, Selanjutnya dengan menghitung taraf signifikansi (sig.2-tailed). Seluruh nilai signifikansi pada 19 pernyataan diatan kurang dari 0.05 Jika nilai signifikansi kurang dari 0.05 maka item tersebut valid. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa pernyataan berikut dinyatakan valid. Berdasarkan tabel uji validitas dengan jumlah 19 pertanyataan terdapat 19 pernyataan yang memenuhi kriteria valid karena memiliki r hitung lebih besar dari r tabel. Dalam penelitian ini r tabel sebesar 0.355. Jika nilai r hitung lebih besar besar dari r tabel maka item tersebut valid, Selanjutnya dengan menghitung taraf signifikansi (sig.2-tailed). Seluruh nilai signifikansi pada 19 pernyataan diatan kurang dari 0.05 Jika nilai signifikansi kurang dari 0.05 maka item tersebut valid. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa pernyataan berikut dinyatakan valid. Tabel 5. Data Hasil Uji Validitas Variabel Y 2. Uji Reabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur kestabilan dan konsistensi respoden dalam menjawab pernyataan dalam kuesioner. Untuk menguji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan cronbach’s alpha dengan nilai alpha 0.60. Jika nilai alpha lebih besar dari hasil output maka dikatakan reliabel. Sebaliknya jika nilai alpha lebih kecil dari hasil output maka dinyatakan tidak reliabel. Berikut hasil dari uji reabilitas : Hasil Uji Variabel X (Bonus Demografi Pada Partisipan) Diketahui bahwa nilai cronbach’s adalah 903, berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa nilai alpha lebih besar dari 0.60. maka hasil output dapat dikatakan reliabel. Uji Reablitias Variabel Y ( Literasi Politik Digital ) Diketahui bahwa nilai cronbach’s adalah 925, berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa nilai alpha lebih besar dari 0.60. maka hasil output dapat dikatakan reliabel. 3. Uji Normalitas Pada tahap selanjutnya, dilakukan uji normalitas data sebagai persyaratan analisis dalam melakukan pengajuan hipotesis. Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Analisis korelasi dalam penelitian ini mensyaratkan bahwa data variabel harus berdistribusi normal atau mendekati normal. uji normalitas digunakan Teknik One Sample Kolmogorav-Smirnov Test, yaitu dengan membandingkan hasil signifikansi uji Ks dengan taraf signifikansi tertentu. Dalam penelitian ini digunakan signifikansi = 0,05 kemudian menetapkan hasil uji berdasarkan kriteria : Data bersumber dari populasi yang berdistribusi normal: jika signifikansi yang diperoleh > 0.05 Tabel 5. Uji Normalitas a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan SPSS dapat diketahui nilai signifikasi 0,049. Karena nilai Sig. 0,049 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal. 4. Uji Linieritas Tabel 6. Uji Linearitas Uji linearitas dalam penelitian ini untuk melihat apakah ada hubungan antara variabel Bonus Demografi Pada Partisipan (X) terhadap variabel Literasi Politik Digital (Y). Jika nilai probalitasnya > 0.05, maka dikatakan hubungan antara variabel X dengan Y adalah linier. Berikut ini tabel uji linaritas data penelitian: berikut adalah tabel hasil analisis pengujian linieritas. Berdasarkan hasil uji linieritas menggunakan SPSS diketahui bahwa nilai sig. Deviation from Linearity 0,060 lebih besar dari 0,05 yaitu 0,060 > 0,05. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa terdapat suatu hubungan yang linier antara variabel X “Bonus Demografi Pada Partisipan” dan variabel Y “Literasi Politik Digital”. 5. Uji Korelasi Analisis korelasi bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain (Sarjono, 2013). Berikut merupakan hasil uji korelasi dari penelitian ini : Tabel 7. Uji Korelasi **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Berdasarkan tabel tersebut, hasil dari nilai signifikasi pada varaiabel X “Bonus Demografi Pada Partisipan” 0,000 < 0,005 dan nilai signifikasi pada variabel Y “Literasi Politik Digital” 0,000 < 0,005, maka dapat disimpulkan bahwa variabel X dan Variabel Y mempunyai hubungan atau berkorelasi. Nilai dari korelasi variabel X adalah 0.552 dan nilai variabel Y adalah 0,552. 6. Uji Hipotesis Analisis Penelitian ini menggunakan teknik analisis uji regresi linier sederhana untuk menguji hipotesis dalam penelitian. Uji hipotesis ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bonus demografi terhadap literasi politik digital mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Analisis regresi adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika pengukuran pengaruh ini melibatkan satu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) maka dinamakan analisis regresi linier sederhana (simple linear regression) (Sarjono, 2013). Hipotesis yang diuji pada penelitian ini yakni : H0 : Tidak terdapat pengaruh antara bonus demografi pada partisipasi terhadap literasi politik digital pada Mahasiswa IlmuPerpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Ha : Terdapat pengaruh antara bonus demografi pada partisipasi terhadap literasi politik digital pada Mahasiswa IlmuPerpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dasar pengambilan keputusan ini didasarkan sebagai berikut : a) Apabila nilai signifikasi >0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak. b) Apabila nilai signifikasi < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Tabel 8. Uji Statistik F (Uji Signifikasi Stimulan) a. Dependent Variable: Literasi Politik Digital b. Predictors: (Constant), Bonus Demografi Uji Statistik F digunakan dengan melihat uji anova. Tabel tersebut menunjukkan angka probabilitas atau signifikansi yang akan digunakan dalam pengujian kelayakan dari model regresi. Nilai signifikasi yang layak untuk digunakan adalah 0,05. Berdasarkan hasil pengujian diatas, menunjukkan bahwa nilai F sebesar 12157.561 dengan sig.0,000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi jauh lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hal tersebut, model regresi ini dapat dinyatakan bonus demografi berpengaruh terhadap literasi politik digital mahasiswa. Tabel 9. Uji Statistik F (Uji Signifikasi Stimulan) a. Predictors: (Constant), Bonus Demografi Berdasarkan tabel diatas diketahui koefisien korelasi (R Square) variabel bonus demografi terhadap literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung adalah sebesar 0,305. Berdasarkan tingkat keeratan pengaruh maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh bonus demografi terhadap literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung adalah sebesar 30,5%. Cara untuk mengetahui kuat dan lemahnya keeratan pengaruh antar variable secara sederhana dapat dikategorikan berdasarkan nilai koefisien korelasi (R Square) dari Guilford Empirecal Rulesi berikut ini : 0,00 ≤ x < 0,20 : Pengaruh sangat lemah / rendah 0,20 ≤ x < 0,40 : Pengaruh rendah 0,40 ≤ x < 0,70 : Pengaruh sedang / cukup 0,70 ≤ x < 0,90 : Pengaruh kuat / tinggi 0,90 ≤ x < 1,00 : Prengaruh sangat kuat / tinggi Berdasarkan pengkategorian diatas diketahui koefisien korelasi (R Square) variabel bonus demografi terhadap literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung adalah sebesar 0,305 atau 30,5% maka dapat dikatakan tergolong pengaruh rendah. Berdasarkan tabel diatas persamaan regresi yang dibentuk sebagai berikut : Y =a+Bx Y =40.847+1.571 Literasi politik digital = 40.847 + 1.571 bonus demografi Berdasarkan persamaan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut : a) Nilai Konstanta 40.847, jika variabel Bonus Demografi Pada Partisipan dianggap konstan, maka variabel literasi politik dgital akan mengalami kenaikan sebesar 40.847. b) Nilai koefisien 1.571, jika variabel Bonus Demografi Pada Partisipan berubah sebanyak satu satuan, maka variabel literasi politik digital juga akan mengalami peningkatan sebesar 1.571 dan begitupun sebaliknya. Arah pengaruh antara variabel X dan variabel Y yaitu positif. Tabel 10. Uji Regresi Linear Sederhana (Uji t) a. Dependent Variable: Literasi Politik Digital Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa nilai signifikan literasi politik digital 0,000 < 0,050 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Pada tebel tersebut menunjukkan bahwa t hitung 5.921 lebih besar dari t tabel 3,804. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak yang berarti terdapat koefisien regresi yang signifikan. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara variabel X “Bonus Demografi Pada Partisipan” dan variabel Y “Literasi Politik Digital”

Discussion

Pengaruh Bonus Demografi Pada Partisipasi Pemilu 2024 Terhadap Literasi Politik Digital Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Angkatan Tahun 2023 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bonus demografi pada partisipasi pemilu 2024 terhadap kemampuan literasi politik digital Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Angkatan Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan kepada 82 responden yaitu mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam angkatan Tahun 2023. Dari hasil analisis penelitian yang dilakukan menunjukkan adanya pengaruh antara bonus demografi pada partisipan pemilu 2024 dalam hal ini adalah generasi Z dengan kemampuan literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sayyid Ali Rahmatullah angkatan 2023. Hal ini berdasarkan uji koefesien determinasi diketahui koefisien korelasi (R Square) variabel bonus demografi terhadap literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung adalah sebesar 0,305 atau 30,5% maka dapat dikatakan berpengaruh. Dengan begitu pengaruh fenomena bonus demografi pada partisipasi pemilu 2024 yakni dengan tingginya presentase pemilih muda atau tergolong pada generasi Z tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan literasi politik digital mahasiswa. Sangat penting bagi pemilih muda atau pemula untuk berpartisipasi karena partisipasi mereka akan memengaruhi kehidupan bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan. Menurut beberapa survei, generasi milenial dan generasi diproyeksikan memberikan proporsi pemilih terbesar pada pemilu 2024. (Wardani, Wanggai, and Gorda, 2024). Pemilih muda, juga dikenal sebagai pemilih milenial, adalah orang yang berusia antara 17 dan 37 tahun dan telah melihat peningkatan jumlah pemilih muda selama pemilu serentak 2024. Sementara keputusan pemilih belum bulat, pemilih pemula sangat antusias. Ini benar-benar menunjukkan mereka sebagai swing vooters (Wardani et al. 2024). Kepentingan orang terdekat, seperti anggota keluarga, seperti orang tua, kerabat, dan teman, sering memengaruhi pemilih pemula. Media massa juga memengaruhi pilihan pemilih pemula. Ini dapat termasuk berita di televisi, spanduk, brosur, poster, dll. dengan tingkat partisipasi pemilih muda yang tinggi dalam mempelajari literasi politik untuk menghindari menjadi korban politik identitas dan hoaks. Hoaks dan ujaran kebencian yang berkembang terkait pemilu dapat berdampak besar dan dapat mempengaruhi keputusan pemilu seseorang. Oleh karena itu, hoax dapat mengancam pemilih pemula saat memilih calon pemimpin negara dengan bijak. Santa khawatir bahwa jira masyarakat menjadi terpengaruh oleh ujaran kebencian dan berita palsu, sehingga mereka akhirnya memilih anggota legislatif yang tidak sesuai dengan keinginan mereka (Astrika & Yuwanto, 2019) dalam (Wardani et al. 2024). Hoaks jelas menyerang seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tetapi generasi yang paling rentan terhadap hoaks, khususnya dalam hal pemilu, adalah generasi Z. Generasi Z mengikuti pemilu 2024 karena mereka masuk ke usia 17 tahun, usia di mana sebagian besar masyarakat sudah dapat mengambil bagian dalam pemilihan, dan mereka disebut sebagai pemilih pemula. Mereka menghadapi banyak masalah sebagai pemilih pemula (Kusuma, Wahyuningroem, & Setiawan, 2022) dalam (Wardani et al. 2024). Pemilih muda yang belum lama berpartisipasi dalam kompetisi politik ini akan sangat berbahaya jika mereka tidak mahir menggunakan media digital. Dalam hal kecakapan mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Islam Angkatan 2023, yang merupakan bagian dari Gen Z yang mendominasi pemilihan 2024. Adapun kecakapan mahasiswa ilmu perpustakaan dan Informasi Islam angkatan 2023 yang termasuk dalam generasi z yang mendominasi pemilu 2024 ialah : 1. Mahasiswa telah mengetahui informasi politik, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengenali kebutuhan informasi politik sesuai dengan Farchan Misbach Adinda dari HIMA Hukum Universitas Nahdhatul Ulama (UNUSIA) (kpu.go.id 2022) memberikan penjelasan tentang peran dan keterlibatan Gen Z; bahwa generasi muda harus memahami prinsip-prinsip demokrasi. Pemilu dan demokrasi sulit dipisahkan satu sama lain. Namun, pemilu bukan selalu tentang demokrasi. Anak-anak muda harus melek politik. Selain keterampilan digital, Gen Z memerlukan keterampilan politik karena berfungsi sebagai alat bagi mereka untuk membuat keputusan di pesta demokrasi. 2. Mahasiswa dapat mencari media informasi politik yang akurat, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu memilih media digital yang memuat informasi yang benar sesuai dengan pendapat Karmin (Isdy 2021), Memilih informasi di era digitalisasi saat ini sangat penting. Oleh karena itu, data harus diverifikasi. Ini terutama berlaku untuk Gen Z karena mereka terbiasa menggunakan perangkat tersebut. Generasi Z diharapkan menghentikan hoaks dan memilih informasi 98 yang benar dan dapat dipercaya. Ini juga perlu dibarengi dengan tingkat literasi digital yang tinggi agar tidak tersesat dalam berita palsu. 3. Mahasiswa memiliki keresahan terhadap adanya informasi hoaks, hal ini menujukkan bahwa mahasiswa mempunyai kekhawatiran terhadap dampak informasi politik yang tidak benar, sesuai dengan pendapat Zainuddin (Agungnoe 2022) Mengonsumsi informasi yang tidak akurat dinilai sangat berbahaya bagi dinamika politik Indonesia karena dapat menimbulkan situasi ketakutan dan kekacauan, perpecahan masyarakat, penambahan demarkasi, dan berdampak pada pengambilan keputusan dalam kondisi politik. 4. Mahasiswa memiliki kesadaran untuk menjadi partisipan yang mampu berkontribusi positif. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menjadi masyarakat yang menyalurkan hak pilihnya dengan baik, sesuai dengan pendapat selaras dengan pendapat Anggota KPU Parigi Moutong, Abdul Gafur dalam (Runtukahu 2023) Generasi muda yang masuk dalam golongan Gen-Z memegang peranan penting dalam menentukan kualitas partai pemilu rakyat mendatang 2024. Sebagai anak bangsa (Gen-Z) harus mampu menentukan calon pemimpin pilihannya tanpa ada unsur paksaan dari orang lain, agar dapat menentukan pilihannya. Menggunakan hak pilihnya mereka dalam pemungutan suara pemilu 2024 untuk menentukan pemimpin dan calon wakil yang mewakili daerah mereka. 5. Mahasiswa mampu melakukan konfirmasi ulang terhadap kebenaran informasi politik yang ditemui, tidak mudah percaya terhadap informasi politik yang diterima, hal ini menujukkan mahasiswa mampu memfilter informasi politik dengan baik, selaras dengan Zainuddin (Agungnoe 2022) Fenomena gangguan informasi di dunia digital membuat warganet kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dinilai bahwa konsumsi informasi yang salah dapat membahayakan dinamika politik Indonesia karena dapat menyebabkan kekacauan, perpecahan, diskriminasi, dan pengaruh pada proses pengambilan keputusan politik. 6. Mahasiswa juga ikut serta pada pemilu 2024, mereka menjadi faktor penting sebagai penetu kesuksesan pemilu untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Hal ini menujukkan bahwa mahasiswa mampu memberikan contoh sebagai warga negara yang baik dalam menggunakan hak pilih dalam pemilu 2024. Selaras dengan pernyataan (Hanifah 2024) Sebagai agen perubahan, dia bertanggung jawab untuk memengaruhi masa depan negara melalui keterlibatan politik, terutama dalam pemilu, bukan hanya lingkungan kampus. Mahasiswa meningkatkan akuntabilitas pemerintah dengan mengawasi kebijakan pemerintah dan mengambil bagian dalam pemilihan umum. Demokrasi tidak bisa berjalan tanpa partisipasi aktif dari semua orang, termasuk mahasiswa. Dengan memberikan suara mereka, mahasiswa memperkuat pilar demokrasi dan menjamin bahwa keputusan politik mencerminkan keinginan rakyat. 7. Selain itu mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap informasi politik dengan meluangkan waktu untuk melihat update informasi politik terbaru. Mahasiswa termasuk kedalam kategori yang rentan terhadap informasi hoaks sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok tertentu demi kepentingan politik, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah mampu menaruh perhatian pada informasi politik terkhusus informasi dalam bentuk digital, karena mereka lebih dekat dengan media digital. selaras dengan pernyataan (Amilin 2019) Semua orang yang berpartisipasi dalam pemilihan, pemilih, dan pendukung harus diorientasikan untuk memfokuskan perhatian mereka pada bagaimana program yang ditawarkan oleh seorang kandidat dapat masuk akal untuk dilaksanakan di masa depan. Tidak seperti setiap pra-pemilu sebelumnya, pembicara tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan kebencian atau ketidaksukaan. Sebaliknya, mereka mungkin tidak memberi tahu orang-orang bahwa perilaku 100 “tindakan yang salah” seperti menyerang, menyalahkan, menuntut, dan mengkritik kandidat secara pribadi merupakan tindakan yang merusak hubungan manusia Indonesia dan berpotensi mengganggu ketahanan nasional.

Conclusion

A. Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil penelitian didapatkan hasil terdapat pengaruh bonus demografi pada partisipasi pemilu 2024 terhadap literasi politik digital mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sayyid Ali Rahmatullah angkatan 2023 sebesar 30,5%. mahasiswa dalam penelitian ini mampu mengenali kebutuhan informasi politik. Mahasiswa dapat mencari media informasi politik yang akurat agar tidak tersesat dalam informasi hoax. Mahasiswa memiliki keresahan terhadap adanya informasi politik yang tidak benar. Mahasiswa memiliki kesadaran untuk menjadi partisipan yang mampu berkontribusi positif. Mahasiswa mampu melakukan konfirmasi ulang terhadap kebenaran informasi politik yang ditemui, tidak mudah percaya terhadap informasi politik yang diterima. Mahasiswa mampu memberikan contoh sebagai warga negara yang baik dalam menggunakan hak pilih, Mahasiswa juga mampu menjadi contoh bagi masyarakat dalam pemilu 2024. Selain itu mahasiswa telah mampu menaruh perhatian pada informasi politik terkhusus informasi dalam bentuk digital. B. Saran Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, berikut merupakan saran yang perlu dipertimbangkan : 1. 1.Harapan bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Angkatan 2023 adalah semakin meningkatkan lagi kemampuan literasi politik terutama dalam konteks informasi berbentuk digital. Dengan mempunyai literasi politik digital yang tinggi, akan terhindar dari politisasi oleh elit politik melalui media sosial, karena mahasiswa sendriri merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari ponselnya. Mahasiswa sebagai pemuda yang idealis dan mendapatkan pendidikan dari perguruan tinggi yang seharusnya lebih memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara sehingga tidak mudah dipolitisasi oleh elit politik terutama ketika akan diselenggarakannya pemilihan umum, Dengan mahaisiswa memiliki kemampuan literasi politik digital yang tinggi maka menjadikan mahasiswa sebagai salah satu agen perubahan yang baik, yang dapat ditandai dengan partisipasi politik yang dengan menggunakan hak-haknya sesuai dengan hati nuraninya. 2. Harapan bagi peneliti di masa yang akan datang untuk dapat melakukan penelitian dengan topik yang lebih bervariasi dan mendalam baik berdasarkan faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan literasi politik digital, sampel yang bervariasi, atau dapat menggabungkan dengan disiplin ilmu lain.