FUNDRAISING TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) Tinjauan terhadap Strategi Akuisisi Bahan Bacaan di TBM Teras Baca Guyub Rukun
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Minat baca orang Indonesia rendah yaitu 0,001. Sebagai bentuk upaya mengatasi hal tersebut berdirilah Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM adalah sarana yang berfungsi untuk mencerdaskan masyarakat yang tersebar di beberapa desa di Indonesia. Salah satunya adalah TBM Teras Baca Guyub Rukun yang berada di Bantul Yogyakarta. Sebagian besar permasalahan TBM adalah ketersediaan bahan bacaan yang minim, sehingga dibutuhkan strategi fundraising untuk akuisisi bahan bacaan. Penulis bermaksud menyusun artikel dengan tema Fundraising Taman Bacaan Masyarakat (TBM) suatu tinjauan terhadap strategi akuisisi bahan bacaan di TBM Teras Baca Guyub Rukun. Tujuan disusunnya artikel ini ialah untuk mengetahui strategi akuisisi bahan bacaan yang dilakukan oleh TBM Teras Baca Guyub Rukun. Metode yang digunakan penulis dalam menyusun artikel ini yaitu dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi akuisisi bahan bacaan yang dilakukan oleh TBM Teras Baca Guy ub Rukun ialah melalui metode hibah, donasi dan swadaya masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi pembaca khususnya bagi pengelola TBM dalam menyusun strategi akuisisi bahan bacaan di TBM.
Abstract
Indonesia's reading interest is low at 0.001. As a form of efforts to overcome this problem stands the Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM is a facility that serves to educate the people in several villag es in Indonesia. One of them is TBM Teras Baca Guyub Rukun in Bantul, Yogyakarta. Most of the TBM problems are the availability of minimal reading material, so a fundraising strategy is needed for the acquisition of reading material. The author intends to compile an article with the theme of Fundraising Taman Bacaan Masyarakat (TBM) a review of the reading acquisition strategy on TBM Teras Baca Guyub Rukun. The purpose of compiling this article is to find out the acquisition strategy of reading material car ried out by TBM Teras Baca Guyub Rukun. The method used by the author in compiling this article is by qualitative descriptive method. The results of this study indicate that the acquisition strategy of reading material carried out by TBM Teras Baca Guy ub Rukun is through the method of grants, donations and community self - help. The results of this study are expected to be a reference material for readers, especially for TBM managers in preparing reading acquisition strategies in TBM.
Keywords:
Fundraising
· akuisisi
· taman baca masyaraka t
Introduction
A. Pendahuluan Menurut PIRLS ( Progress in International Reading Literacy Study ) 2011, Indonesia menempati urutan 42 dari 45 negara yang memiliki minat baca rendah. Sedangkan pada World’s Most Literate Nations, Indon esia menempati urutan 60 dari 61 negara terkait minat baca masyarakat. Tahun 2012, UNESCO melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia yakni hanya 0,001. Itu artinya, dari seribu penduduk hanya ada satu orang yang mau membaca buku dengan serius. Masih dengan topik yang sama, di tahun 2015 PISA (Programme for International Student Assesment) menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan 64 dari 72 negara. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dengan jelas dipahami bahwa tingkat minat baca orang Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dimungkinkan karena belum adanya budaya baca yang cukup di Indonesia. Selain itu, kondisi masyarakat Indonesia yang lebih familiar dengan budaya tutur dibandingkan budaya baca. Bahkan dengan perkembangan teknologi saat ini, budaya baca semakin tergeser oleh adanya budaya nonton dan budaya eksis ria (sosial media). Hal tersebut senada dengan pernyataan Umar Sidik, masyarakat kita terlanjur tidak mempunyai kebiasaan membaca ( reading habits ) sebagai budaya yang mengakar untuk menjemput masyarakat ideal yang didambakan oleh kemajuan zaman. Akibatnya masyarakat menjadi terengah-engah menghadapi kenyataan yang harus dihadapi pada era informasi global seperti sekarang ini. Dalam era informasi ini, masyarakat dituntut untuk berburu informasi, bukan saja melalui audio visual , tetapi juga harus lewat bahan bacaan (Sidik, 2007: 64). Lebih mengkerucut lagi, minat baca masyarakat Yogyakarta masih rendah. Berdasarkan indeks baca nasional, minat baca di DIY hanya 0,18 dan nasional 0,01. Angka ini bila dibandingkan dengan negara-negara maju, sangat terpaut jauh. Sebab, rata-rata indeks baca di negara tersebut antara 0,45-0,62. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua forum taman bacaan masyarakat di Yogyakarta mengatakan untuk menggenjot budaya membaca di Indonesia. Upaya tersebut telah berhasil menciptakan kurang lebih 6000 TBM yang telah berdiri di Indonesia baik lokal maupun nasional (Hayati, 2015). Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah suatu lembaga atau sarana yang melayani kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai ilmu pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya (Kalida, 2010: 1). TBM sebagai sumber belajar masyarakat memiliki kedudukan strategis dalam mengembangkan potensi masyarakat. Masyarakat dapat melakukan proses pendidikan nonformal sepanjang hayat melalui fasilitas yang disediakan dan kegiatan ang diselenggarakan oleh TBM. Keberadaan tempat pembelajaran di tengah- tengah masyarakat ini diharapkan mampu mendorong dan mempercepat terwujudnya masyarakat belajar ( learning society ). Yakni masyarakat yang gemar membaca, melek informasi, dan mampu meningkatkan daya saing di era kompetitif ini (Kalida, 2010: 1). Di sisi lain, TBM juga memiliki kendala klasik yang perlu diantisipasi sejak dini. Yakni salah satu kelemahan besar TBM adalah di bidang fundraising atau penggalangan dana (Kalida, 2010: 11). Penggalangan yang dimaksud dapat berupa materi (dana) maupun bahan bacaan (pengadaan). Dalam hal bahan bacaan permasalahan yang seringkali dialami oleh TBM adalah minimnya ketersediaan bahan bacaan akibat sumber dana yang juga minim. Oleh karena itu penggalangan dana menjadi persoalan yang temporer bagi TBM maka hal ini perlu disusun strategi atau upaya untuk mengatasinya. TBM Teras Baca Guyub Rukun adalah salah satu dari sekian banyak TBM yang sudah mampu melewati persoalan klasik yang biasa dialami oleh TBM-TBM pada umumnya. TBM yang terletak di wilayah barat Yogyakarta ini diprakarsai oleh pemuda-pemudi desa Jambon, Argosari, Sedayu, Bantul. Mulanya TBM ini berdiri karena adanya kegelisahan seorang lulusan mahasiswa Ilmu Perpustakaan (Triyanto) melihat minat baca masyarakat Indonesia yang rendah. Kemudian ia berkeinginan untuk mendirikan perpustakaan yang dekat dengan masyarakat, jauh dari hal-hal formal, nyaman (tidak mempersulit), dan lahirlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Teras Baca Guyub Rukun. Penulis tertarik untuk mengetahui strategi pengelolaan TBM Teras Baca Guyub Rukun khususnya dalam hal akuisisi bahan bacaan melihat TBM ini sudah kurang lebih 2 tahun berdiri dan tetap eksis sampai sekarang. Tidak hanya itu, TBM Teras Baca Guyub rukun memiliki berbagai kegiatan selain penyediaan bahan bacaan yakni di antaranya PAUD, bimbingan belajar untuk siswa TK sampai dengan SMA, kegiatan parenting, kegiatan pembuatan pupuk organik dan lainnya. TBM Teras Baca Guyub Rukun juga sangat menyambut hangat kerjasama dari beberapa pihak, contoh KKN, organisasi mahasiswa dan organisasi lainnya. Ditambah dengan prestasi Triyanto (pendiri TBM Teras Baca Guyub Rukun) yang baru saja ia raih belum lama ini yaitu ia berhasil mendapatkan penghargaan sebagai pemuda pelopor DIY peringkat tiga bidang pendidikan. Berangkat dari pemaparan tersebut Penulis ingin mengkaji lebih dalam terkait fundraising, dalam hal ini adalah akuisisi bahan bacaan yang dilakukan oleh TBM Teras Baca Guyub Rukun sehingga TBM tersebut masih dapat berdiri sampai sekarang. Tujuan penulis menyusun artikel ini tak lain ialah agar para pembaca terketuk hatinya untuk bisa mengikuti jejak Triyanto sehingga melahirkan TBM-TBM yang bermanfaat untuk masyarakat serta memberikan referensi strategi dalam mengatasi permasalahan fundraising TBM. B. Tinjauan Pustaka 1. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Taman bacaan masyarakat merupakan sumber belajar yang melaksanakan fungsi perpustakaan yang menyediakan bahan informasi yang dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan minat baca dan melek informasi. Keberadaa taman bacaan masyarakat ini diharapkan berfungsi untuk: 1) menumbuhkan minat baca; 2) memperkaya pengalaman belajar; 3) menumbuhkan kegiatan belajar mandiri; 4) memperluas wawasan masyarakat; 5) tempat belajar sepanjang hayat (Lasa Hs, 2009: 331) TBM berdiri di tengah masyarakat memiliki maksud dan tujuan. Utamanya yaitu menyediakan buku-buku untuk menunjang kegiatan pembelajaran bagi masyarakat umum, menjadi sumber informasi yang berguna bagi berbagai keperluan, memberikan layanan yang berkaitan dengan informasi tertulis, digital, maupun bentuk media lainnya. Bagi masyarakat pembaca, ia juga tempat yang mampu memberikan layanan referensi (Kalida, 2010: 2) Melihat fungsi serta maksud dan tujuan TBM, dapat dipahami bahwa keberadaan TBM sangatlah penting. Hal ini senada dengan ungkapan Wisni Septiarti dan Mulyadi yang menyatakan bahwa TBM merupakan isntrumen penting dalam pengembangan minat hingga budaya baca, selain TBM berfungsi juga sebagai pendukung gerakan percepatan pemberantasan buta aksara dan agar aksarawan baru tidak menjadi buta aksara kembali. Marsudi Kisworo, seorang guru besar Universitas Langlangbuana menyampaikan isyarat masyarakat belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah sandang, pangan dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat bukan budaya baca. Padahal selanjutnya, ayat pe rtama Al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca ( iqra’ ) baik membaca ayat- ayat tersurat dalam Al Qur’an dan sunah Nabi maupun ayat-ayat tersirat dalam alam semesta (Mulyadi, 2009: 5). Lebih lanjut Sitepu (Dalam Jurnal Ilmiah VISI P2TK PAUD NI,7 (1), Juni 2012) menerangkan bahwa salah satu faktor yang mendukung upaya peningkatan budaya baca adalah terciptanya perluasan dan peningkatan mutu layanan TBM. Dengan demikian, kehadiran TBM merupakan sebuah medium yang sangat strategis bagi peningkatan budaya baca masyarakat. 2. Fundraising TBM Fundraising adalah proses mempengaruhi masyarakat baik perorangan atau institusi (lembaga) agar menyalurkan dana kepada sebuah organisasi atau lembaga. Makna ‘mempengaruhi’ memiliki beberapa arti, di antaranya adalah memberitahukan, mengingatkan, mendorong, membujuk, merayu atau mengiming-imingi, dan termasuk juga melakukan penguatan stressing , jika hal tersebut dimungkinkan atau diperbolehkan (Kalida, 2012: 13). Sehingga yang dimaksud fundraising adalah suatu upaya mendapatkan dukungan baik secara materi maupun non-materi. Kegiatan fundraising ini sangat penting untuk dilakukan karena keberlangsungan suatu organisasi atau komunitas salah satunya ditentukan oleh adanya fundraising. Pentingnya fundraising adalah sebagai berikut; 1) Survival , yaitu setiap TBM membutuhkan dana untuk membiayai operasional kegiatan, minimal untuk berlangsungnya operasional TBM. Tanpa dana TBM tidak akan beroperasi,alias mati; 2) Ekspanion dan Development , TBM membutuhkan dana untuk melakukan pengembangan dan memperbesar skala organisasi dan programnya, oleh sebab itu dana yang dibutuhkan dari waktu ke waktu dituntut semakin besar, 3) Reducing Dependency , dana bagi TBM penting untuk memperkuat posisi tawar, semakin besar kemampuannya menghimpun dana, maka akan semakin kuat independensinya terhadap pihak lain, 4) Building a Constituency , selain meraih dana, lembaga ini juga semakin banyak pendukung, sehingga memperbesar dana berarti juga memperbesar sumber, 5) Creating a Viable and Sustainable Organisation , TBM perlu tetap eksis dalam jangka panjang, instrumen untuk menjamin kelangsungan dan keberlanjutan TBM, perlu dana (Kalida, 2010: 12). 3. Akuisisi Bahan Bacaan Akuisisi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pengembangan koleksi perpustakaan. Begitu juga akuisisi pada TBM. Karena keberadaan atau ketersediaan bahan bacaan akan mempengaruhi keberlangsungan dan kebermanfaatan sebuah TBM. Agar koleksi buku di TBM terus bertambah, pengembangan koleksi dapat dilakukan dengan cara mengadakan kerja sama dengan penerbit atau toko buku. Selain itu, untuk menambah bacaan dapat menghimbau masyarakat agar menyumbang buku yang sudah tidak dipakai agar dihadiahkan ke TBM. Atau mengirimkan surat permohonan donasi buku ke berbagai perusahaan dengan cara menghimpun koleksi bahan bacaan secara terkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan pembaca. Kerjasama ini biasanya menggunakan metode spesialisasi subjek atau pengadaan khusus untuk bacaan tertentu di mana masing-masing TBM bertanggung-jawab untuk menambah koleksinya sesuai dengan bidang subjeknya. Dengan demikian, setiap anggota wajib menginformasikan kepada mitranya tentang adanya penambahan buku-buku dalam koleksinya (Kalida, 2010: 15). Sesuai pemaparan di atas, dapat disederhanakan bahwa strategi yang bisa dilakukan dalam proses akuisisi bahan bacaan di TBM ialah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, swadaya masyarakat, serta mengajukan surat permohonan donasi.
Method
C. Metode Metode yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengkaji lebih dalam mengenai dinamika yang umum terjadi di TBM khususnya dalam hal bahan bacaan untuk kemudian akan dideskripsikan strategi akuisisi bahan bacaan yang dilakukan oleh TBM Teras Baca Guyub Rukun.
Result & Discussion
D. Pembahasan 1. Gambaran Umum TBM Teras Baca Guyub Rukun Taman Baca Masyarakat (TBM) yang bernama Teras Baca Guyub Rukun, merupakan TBM yang diprakarsai oleh perkumpulan anak remaja di sebuah dusun di wilayah Jl. Jogja- Wates Km.13, Jambon, Argosari Sedayu, Bantul. Sebuah desa di wilayah barat Yogyakarta yang perbatasan dengan wilayah Purworejo. Desa yang masih asri dan ramah, yang masih memegang teguh warisan budaya lokal akan tetapi tidak ketinggalan jaman dibuktikan dengan pemuda-pemudinya yang kreatif dan peduli akan kearifan lokal di desanya. Taman Bacaan Masyarakat ini didirikan oleh pemuda-pemudi dusun setempat dikarenakan keinginan mereka untuk memberikan fasilitas tempat baca dan rekreasi bagi masyarakat melalui satu wadah dan satu tempat yang bisa memudahkan akses untuk mencari informasi secara gratis. Atas keinginan yang kuat ini didirikanlah Taman Baca Masyarakat (TBM) pada 17 Mei 2015 (Dalam profil http://www.terasbacaguyubrukun.or.id ). TBM Teras Baca Guyub Rukun ini memiliki beberapa ciri khas, diantaranya: taman baca yang berbentuk teras (teras rumah), rak berasal dari bambu, dan kegiatan yang berorientasi kepada masyarakat. Sejak awal berdiri, pengelola TBM memang berkeinginan mengusung TBM yang berbasis kegiatan masyarakat. Keberadaan Teras Baca Guyub Rukun ini di harapkan menjadi sarana/media edukatif bagi anak-anak maupun orang tua dan masyarakat pada umumnya dalam mengembangkan diri. Untuk itu tidak hanya merencanakan TBM ini untuk kegiatan membaca, tetapi TBM juga merencanakan beberapa program kegiatan diantaranya: 1) Widya Pustaka, meliputi: sirkulai buku, layanan paket pinjam. 2) Kewirausahaan dan Pemberdayaan Pemuda, meliputi: bank sampah, bank pupuk. 3) Widya Budaya, meliputi: sinau bebarengan, belajar sambil bermain sabtu sore, memfasilitasi anak- anak dan remaja belajar dan berlatih menari, pelatihan memasak berbahan lokal, membudayakan anak-anak untuk menabung, pelestarian permainan tradisional. 4) Workshop dan Pelatihan. Workshop yang sudah pernah dilakukan antara lain parenting, tentang kesehatan, workshop kebun gizi dan TOT Outbond. Masyarakat pedesaan yang memiliki pekerjaan yang kompleks mulai dari petani, peternak, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri, pelajar dan mahasiswa tentunya memiliki kebutuhan informasi yang berbeda. Untuk itu TBM Teras Baca Guyub Rukun senantiasa mengembangkan koleksi buku yang beragam. Pada saat ini jenis buku yang telah tersedia meliputi: buku referensi sekolah, buku dongeng dan cerita bergambar, novel, buku pengetahuan umum, buku pertanian, buku perkebunan, buku peternakan, buku perikanan, buku pertukangan, buku kerajinan dan keterampilan, buku kewirausahaan, buku resep makanan, buku teknologi tepat guna, buku komputer dan internet, buku agama, buku kesehatan, majalah dan tabloid. Prioritas utama pengembangan koleksi buku pada tahap selanjutnya adalah buku aplikatif seperti buku pertanian, peternakan dan memasak. Jumlah buku saat ini telah lebih dari 1.500 judul . 2. Strategi Akuisisi Bahan Pustaka di TBM Teras Baca Guyub Rukun Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa TBM Teras Baca Guyub Rukun merupakan salah satu TBM di Yogyakarta yang sampai saat ini masih berdiri, aktif, dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar dusun Jambon, Argosari, Sedayu, Bantul. TBM Guyub Rukun masih dapat bertahan sampai sekarang tentu tak lepas dari pengelola yang terus memberikan perhatian yang ekstra kepada TBM Guyub Rukun. Salah satu yang menjadi perhatian pengelola ialah dalam hal akuisisi bahan bacaan. Artinya pengelola tak hentinya- hentinya berusaha untuk terus menambah koleksi buku bacaan sebagai bentuk upaya dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pada umumnya dan warga sekitar dusun Argosari pada khususnya. Adapun strategi akuisisi yang dilakukan pengelola TBM Teras Baca Guyub Rukun di antaranya: a. Hibah TBM Teras Baca Guyub Rukun mendapatkan sumber bacaan salah satunya dari hibah atau hadiah dari pihak-pihak tertentu. Hibah buku bacaan ini dapat terlaksana atas usaha pengelola dalam memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan TBM Teras Baca Guyub Rukun sekaligus mengambil simpati masyarakat untuk menghibahkan buku-buku layak baca yang sudah tidak terpakai di rumah mereka. Media sosial yang dipakai yakni instagram dan twitter. Kedua media sosial ini memberikan kontribusi yang cukup luar biasa karena sebagian besar buku bacaan TBM Teras Baca Guyub Rukun diperoleh melalui hibah. Tentu peran pengelola sangat berpengaruh disini karena tanpa keaktifan dan ke-kreatifitas-an seorang pengelola maka hibah buku bacaan ini tidak akan berjalan dengan lancar. b. Donasi Selain dari hibah, akuisisi bahan bacaan di TBM Teras Baca Guyub Rukun juga dilakukan melalui donasi. Donasi ini dalam bentuk pengajuan proposal permohonan bantuan buku. Biasanya permohonan proposal ini diajukan ke penerbit, penulis buku, dan lembaga perpustakaan. Penerbit yang pernah diajukan permohonan bantuan buku oleh TBM Teras Baca Guyub Rukun adalah Diva Press. Pengajuan proposal juga pernah ditujukan kepada penulis buku yaitu Asmanadia. Selain itu, Perpustakaan Kota Yogyakarta juga pernah menjadi sasaran pengajuan proposal permohonan buku. Dari ketiga tujuan pengajuan proposal permohonan buku, semuanya memberikan respon yang positif sehingga TBM Teras Baca Guyub Rukun mendapatkan tambahan buku bacaan melalui donasi ini. c. Swadaya Masyarakat TBM Teras Baca Guyub Rukun juga melibatkan bantuan dari masyarakat sekitar dusun Argosari untuk menyalurkan bantuannya berupa dana maupun buku bacaan. Oleh karena kegigihan pengelola yang mampu mempengaruhi masyarakat dan menyadarkan masyarakat sekitar akan pentingnya membaca sehingga usaha pengelola membuahkan hasil. Alhasil, masyarakat sekitar dusun Argosari sangat mendukung niat baik pengelola TBM Teras Baca Guyub Rukun dengan memberikan bantuan berupa dana dan juga buku-buku bacaan.
Conclusion
E. Kesimpulan Setelah melakukan pengkajian seperti yang sudah dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan minat baca serta mendekatkan masyarakat dengan buku salah satunya dapat melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM Teras Baca Guyub Rukun adalah salah satu TBM yang masih aktif dan bermanfaat untuk masyarakat khususnya di dusun Jambon, Argosari, Sedayu, Bantul. TBM Teras Baca Guyub Rukun memiliki strategi tersendiri untuk mengatasi persoalan keterbatasan kepemilikan bahan pustaka yang sebagian besar TBM-TBM pada umumnya alami yaitu dengan mengadakan hibah buku, donasi, serta swadaya masyarakat. Strategi tersebut sebagai bentuk upaya TBM untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pada umumnya dan warga Jambon, Argosari Bantul pada khususnya.