Hubungan Two Ways Communication Dalam Mengoptimalkan Kebutuhan Informasi Pemustaka
Institut Agama Islam Negeri Batusangkar
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui h ubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka . Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, penentuan fokus dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan di peroleh dari situasi sosial (lapangan). Pada situasi sosial atau objek penelitian ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas ( activity ), orang-orang ( actors ) yang ada pada tempat ( place ) tertentu. Maka dengan ini, peneliti lebih tepat melihat situasi sosial tertentu, dengan cara melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Adapun hasil penelitian h ubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka adalah hasil penelitian yang dilakukan peneliti, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa h ubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka dilihat dari urgensi unsur - unsur dalam melakukan komunikasi dua arah untuk mengoptimalkan kebutuhan info rmasi pada perpustakaan IAIN Batusangkar, dilihat dari lima unsur yang menjadi pertimbangan yaitu Source - receiver, Encoding - decoding, Messages, Feedback, dan Noise. kurangnya proses interaksi dalam komunikasi antara pustakawan dan pemustaka dalam mengoptimlakan kebutuhan informasi memang menjadi unsur penting dalam sebuah perpustakaan, akan tetapi unsur ini jarang sekali di lakukan baik oleh pustakawan maupun pemustaka. Dengan demikian ke lima unsur dalam hasil penelitian ini masih memiliki kekuranagan dalam setiap unsur yang semestinya dilakukan oleh pustakawan dan pemustaka. Karena untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi perlu di tingkatkan komunikasi dua arah. Karena dengan ada komunikasi dua arah yang efektif antara pustakawan dan pemustaka maka kabutuhan informasi bagi pemustaka akan tercapai semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan dari pemustaka dalam mencari informasi di perpustakaan IAIN Batusangkar.
Abstract
This study aims to determine the relationship of two ways communication in optimizing user information needs. This study uses a qualitative research approach, the determination of the focus in the proposal is based more on the level of novelty of information that will be obtained from the social situation (field). In social situations or the object of this research the researcher can observe in depth the activities (activities), people (actors) that exist in certain places. So with this, researchers more precisely look at certain social situations, by conducting observations and interviews with people who are considered to know about the social situation. The research results the relationship of two ways communication in optimizing library information needs is the result of research conducted by researchers, the reality in the field shows that the relationship of two ways communication in optimizing library information needs is seen from the urgency of the elements in conducting two-way communication to optimize the information needs of the Batusangkar IAIN library, seen from the five elements that are considered, namely Source-receiver, Encoding-decoding, Messages, Feedback, and Noise. lack of interaction processes in communication between librarians and librarians in optimizing information needs has indeed become an important element in a library, but this element is rarely done by both librarians and librarians. Thus the five elements in the results of this study still have flaws in every element that should be done by librarians and users. Because to optimize the information needs need to increase two-way communication. Because there is an effective two-way communication between librarians and users, information clutter for the visitors will be achieved as much as possible in accordance with the needs of the users in finding information in the Batusangkar IAIN library.
Keywords:
Komunikasi dua arah
· Informasi
· Pemustaka
Introduction
Komunikasi merupakan salah satu cara untuk penyampain informasi baik secara formal maupun non formal, baik secara tertulis maupun lisan. Komunikasi sering di lakukan oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya komunikasi yang baik dalam penyampaian informasi akan memberikan kesan yang baik begitu juga sebaliknya apabila komunikasi dalam penyampaian informasi kurang baik, maka akan menimbulkan kesan yang tidak baik pula. Dengan demikian, komunikasi dua arah sangat baik dilakukan untuk proses penyampaian informasi. Menurut Schramm dalam Sendjaja (2019), suatu proses atau kegiatan komunikasi akan berjalan baik apabila terdapat overlaping of interest (pertautan minat dan kepentingan) di antara sumber dan penerima pesan. Overlaping of interest terjadi apabila adanya persamaan (dalam t ingkat yang relatif) dalam hal “kerangka referensi” ( frame of reference ) dan kedua pelaku komunikasi (sumber, penerima). Maksud dari kerangka referensi di sini, antara lain menunjukkan pada tingkat pendidikan, pengetahuan, latar belakang budaya, kepentingan, dan orientasi. Semakin besar tingkat persamaan dalam hal kerangka referensi, semakin besar pula overlaping of interest , dan ini berarti akan semakin mudah proses komunikasi berlangsung. Komunikasi dua arah merupakan proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling sedikit seorang lainnya, atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya (Muhammad, 2004). Bamlund dalam Liliweri menambahkan komunikasi dua arah sering dikaitkan dengan pertemuan antara dua individu atau tiga orang atau mungkin lebih empat orang secara spontan dan tidak secara terstruktur (Bamlund, 1997). Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa proses komunikasi yang berlangsung antara individu dan individu yang memiliki kepentingan tentu yang ingin dibicarakan secara bersama-sama atau proses pertukaran informasi yang dilakukan secara timbal balik diantara individu-individu yang terlibat di dalamnya. Pertukaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemenuhan kebutuhan informasi bagi pemustaka. Kebutuhan informasi permustaka sangat penting dilakukan secara terus menerus, dikarenakan adanya perkembangan zaman yang menuntut setiap pemustaka dapat memperoleh informasi dari berbabagai aspek yang relevan dan up to date , sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan pemustaka yang beragam atau bervariasi sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan informasi ini perlu dilakukan oleh setiap instansi baik formal maupun non formal. Adanya gap (kesenjangan informasi) antara informasi yang dimiliki oleh seseorang dengan informasi yang seharusnya dimiliki oleh orang tersebut untuk mendukung kegiatannya sehari-hari memunculkan kebutuhan informasi (Suwanto, 1997). Line dalam Laloo (2002) mengemukakan, kebutuhan informasi adalah sesuatu yang sebaiknya dimiliki seseorang dalam melakukan pekerjaannya penelitian, pendidikan, dan juga sebagai hiburan. Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layana perpustakaan (UUD RI Pasal 20 dan 21). Suwarno menambahkan pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan, baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya (Suwarno, 2009). Pemustaka yang dimaksud oleh peneliti adalah pemustaka yang melakukan two ways communication atau komunikasi dua arah dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi. Dengan demikian, komunikasi dua arah sangat diperlukan oleh setiap pemustaka untuk mempermudah dalam proses mengoptimalkan kebutuhan informasi dari berbagai sumber referensi. Untuk mendukung proses mengoptimalkan kebutuhan informasi dari berbagai sumber referensi perlu sarana pendukung dengan cara berkomunikasi dua arah, agar dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi menjadi lebih terarah sesuai dengan kebutuhan pemustaka. kebutuhan informasi adalah informasi yang diinginkan seseorang untuk pekerjaan, penelitian, kepuasan rohaniah, pendidikan dan lain-lain. Two ways communication atau komunikasi dua arah diterapkan untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka, agar proses komunikasi pemustaka diharapkan lebih efektif dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Adanya komunikasi dua arah yang diterapkan di setiap perpustakaan diharapkan dapat mengoptimalkan kebutuhan informasi bagi setiap pemustaka. Oleh sebab itu, komunikasi dua arah perlu di maksimalkan agar kebutuhan informasi dapat memberikan kepuasan bagi pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian untuk melihat lebih mendalam, maka perlu dilakukan penelitian yang berkaitan tentang bagaimana hubungan two ways communication mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka. Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Penelitian Terdahulu Dilihat dari beberapa peneliti sebelumnya seperti penelitian, Penerapan komunikasi interpersonal pustakawan dalam melayani pemustaka di perpustakaan Universitas Hasanuddin Makassar, yang terfokus kepada komunikasi interpersonal memiliki variabel dalam memberikan pelayanan di perpustakaan yaitu Openness (keterbukaan), Empathy (empati), Supportiveness (mendukung), Positiveness (rasa positif), dan Equality (kesataraan) (Jayakusuma, 2018). Peneliti terdahulu fokus kepada komunikasi interpersonal memiliki variabel dalam memberikan pelayanan di perpustakaan yaitu Openness (keterbukaan), Empathy (empati), Supportiveness (mendukung), Positiveness (rasa positif), dan Equality (kesataraan), sedangkan penelitian ini fokus pada komunikasi dua arah memiliki beberapa indikator yang berisi unsur-unsur yang berada di dalamnya, diantara unsur tersebut adalah Source-receiver, Encoding- decoding, Messages, Feedback, dan Noise. Sedangkan dari hasil penelitian terdahulu juga hanya melihat pola komunikasi antara pustakawan dan pemustaka, akan tetapi pustakawan dan pemustaka yang diteliti pada SAM Negeri 1 Wakorumba Selatan Kabupaten Muna. Sedangkan dalam penelitian ini pustakawan dan pemustaka yang diteliti berbeda, karena pustakawan dan pemustaka yang di teliti di perpustakaan IAIN Batusangkar. Meskipun objek kedua penelitian ini sama-sama pustakawan dan pemustaka, namum tujuan dari kedua penelitian ini berbeda, penelitian terdahulu bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi pemustaka dan pustakawan. Sedangkan pada penelitian ini tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka. Adapun urgensi kompetensi komunikasi pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka, penelitian ini difokuskan pada kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang membuat referensi dan layanan pengguna pustakawan unik dari para profesional lainnya. Kompetensi menganggap infrastruktur dasar layanan informasi yang dibutuhkan pemustaka seperti keterampilan yang berkaitan dengan komunikasi, membaca, dan menulis (Batubara, 2011). Dari penelitian pertama di atas hanya melakukan pendekatan pada model dari pola komunikasi yang dilakukan antara pemustaka dan pustakawan, adapun pada penelitian kedua, masih memiliki keterkaitan dengan penelitian yang pertama, namun penelitian kedua menerapkan model yang berbeda dengan penelitian sebelumnya, sedangkan penelitian ketiga, peneliti lebih menitik beratkan kepada kualitas pustakawan dalam meningkatan layanan bagi pemustaka. Adapun yang membedakan penelitian ini dari penelitian-penelitian sebelumnya adalah komunikasi dua arah yang diterapkan dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustaka. Penelitian ini juga difokuskan kepada kemunikasi yang efektif antara pustakawan dan pemustaka dalam mendapatkan semua sumber informasi yang dibutuhkan oleh setiap pemustaka, disamping itu model atau pola komunikasi dua arah yang baik dari pustakawan dan pemustaka. 2. Komunikasi Dua Arah Komunikasi Dua Arah adalah pengirim dan penerima informasi dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama artinya ada timbal balik dan melibatkan dua pihak. Menurut KBBI komunikasi dua arah yaitu komunikan dan komunikatornya saling bergantian memberikan informasi (Devito dalam Effendy 2003). Adapun komunikasi dua arah yang coba dilihat dalam penelitian ini adalah komunikasi dua arah antara pemustaka dan pustakawan dalam menjalin komunikasi yang lebih continue secara face to face . Dimana pemustaka dapat bertanya dengan bebas dan terbuka dengan tujuan yang menjadi prioritas dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi yang lebih relevas, bervariasi, dan up to date . 3. Kebutuhan Informasi Kebutuhan informasi muncul ketika seseorang menyadari adanya kesenjangan antara pengetahuan dan harapan untuk memecahkan masalah. Kebutuhan akan informasi muncul ketika seseorang menyadarai bahwa mereka tidak memiliki atau kekurangan pengetahuan untuk mencapai tujuan, menjawab pertanyaan dan sebagainya (Batley, 2007). Kebutuhan informasi yang dimaksud oleh peneliti adalah ketika mahasiswa mencari sumber-sumber informasi untuk memecahkan masalah atau membuat tugas yang membutuhkan informasi pendukung dengan permasalah yang didasarkan kepada relevasi informasi yang sesuai dengan tujuan pemutaka dengan cara bertanya langsung dan membangun komunikasi dengan pustakawan untuk mendapatkan semua informasi yang valid. 4. Pemustaka Pemustaka merupakan orang atau kelompok masyarakat yang memakai dan memanfaatkan layanan perpustakaan, baik anggota maupun bukan anggotan. Dalam pengertian, semua anggota masyarakat memiliki kebebasan dan kesempatan yang sama untuk menggunakan perpustakaan, namun perpustakaan di bawah lembaga tertentu, mendefinisikan pemustaka sesuai dengan misi dan tujuan masing-masing (Sutarno, 2006). Akan tetapi pemustaka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang menggunakan perpustakaan dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi dengan cara melakukan komunikasi dua arah antara pemustaka dan pustakawan yang ada di perpustakaan, dengan kontek pemustaka yang memiliki misi dan tujuan masing-masing dan beragam ketika berada di perpustakaan.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mempertajam penelitian dan menentapkan fokus. Spradley dalam Sugiyono menyatakan bahwa, ‘‘A focu sed refer to a single cultural domain or a few related domains’’ , maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan di peroleh dari situasi sosial (lapangan). Pada situasi sosial atau objek penelitian ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas ( activity ), orang-orang ( actors ) yang ada pada tempat ( place ) tertentu. Maka dengan ini, peneliti lebih tepat melihat situasi sosial tertentu, dengan cara melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan secara purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2013). Adapun yang menjadi objek peneliti dalam penelitian ini adalah pustakawan dan pemustaka (mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi islam) pada perpustakaan IAIN Batusangkar. Dalam penelitian ini peneliti fokus tentang pola komunikasi dua arah yang terjadi antara pustakawan dan pemustaka di Perpustakaan IAIN Batusangkar. Namun untuk memfokuskan objek penelitian ini, kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial pada perpustakaan IAIN Batusangkar, maka peneliti menentukan sumber data pada orang yang diwawancarai yang purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Dengan demikian sumber data yang ditentukan adalah yang pertama pustakawan IAIN Batusangkar dengan kriteria melayani pemustaka pada layanan sirkulasi, referensi, dan karya ilmiah, dan kedua pemustaka itu dengan kriteria mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang sering mencari sumber informasi di perpustakaan pada berbagai layanan di perustakaan seperti layanan sirkulasi, referensi, dan karya ilmiah.
Result & Discussion
Dari analisis hasil penelitian berdasarkan observasi wawancara mendalam dengan informan yaitu pustakawan dan pemustaka (mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi islam) pada perpustakaan IAIN Batusangkar. Peneliti akan menguraikan hubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka dengan melihat secara langsung proses komunikasi yang terjadi antara pemustaka dan pustakawan. a. Analisis Hasil Penelitian Komunikasi Dua Arah Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Komunikasi telah menjadi suatu fenomena bagi terbentuknya suatu masyarakat atau komunitas yang terintegerasi oleh informasi, dimana masing masing individu dalam masyarakat itu sendiri saling berbagi informasi untuk mencapai tujuan bersama. Secara sederhana komunikasi dapat tercapai apabila ada kesamaan antara penyampai pesan dan orang yang menerima pesan. Dalam proses komunikasi ini biasanya berbentuk bahasa, gerakan-gerakan yang memiliki makna khusus dan aba-aba. Komunikasi dalam proses sekunder berlangsung dengan bantuan mekanisme yang dapat melipat gandakan jumlah penerima pesan atau ditunjukan untuk mengatasi berbagai macam hambatan fisik/kebendaan/jasadiah yang akan menghalangi komunikasi primer. The international Communication for the study of communication problems mendefinisikan komunikasi sebagai proses dalam mempertukar berita, data, pendapat, dan pesan antara perseorangan dan masyarakat (Uchjana, 2006). Komunikasi dua arah atau two ways communication adalah proses komunikasi dimana terjadi timbal balik ( feedback ) atau respon saat pesan dikirimkan oleh sumber atau pemberi pesan kepada penerima pesan. Jenis komunikasi ini berbanding terbalik dengan komunikasi satu arah, dimana kedua pihak berperan aktif saling berkesinambungan dan memberikan respon terhadap pesan yang dikirimkan satu sama lain. Komunikasi dua arah banyak ditemukan pada prakek komunikasi interpersonal atau antar pribadi maupun komunikasi kelompok. Jika dilihat sekilas dan secara garis besar, komunikasi dua arah mungkin bisa dianggap bentuk komunikasi yang ideal karena memungkinkan kedua belah pihak memberikan pandangan atau minimal responnya terhadap pesan yang disampaikan. Dibanding komunikasi satu arah yang mungkin tampak terlihat diktator dan tidak adil untuk semua pihak yang berada dalam proses komunikasi, komunikasi dua arah memang memberikan lebih banyak opsi untuk munculnya perbincangan dan pembahasan lebih lanjut mengenai pesan atau topik yang dikomunikasikan. Arah dalam komunikasi ini dapat terjadi dalam tiga jenis gaya, yaitu komunikasi vertikal, horizontal, dan diagonal. Namun, dalam penenlitian ini lebih tepat menggunakan komunikasi dua arah vertikal, terjadi saat satu pihak memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding pihak lainnya dan terdapat aliran komunikasi dari atas ke bawah atau sebaliknya. Peneliti mengangap bahwa komunikasi komunikasi dua arah vertikal lebi cocok untuk diterapkan di perpustakaan dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi bagi pemustaka. Karena pemustaka yang di observasi dan di wawancara hanya mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan. Komunikasi dua arah vertikal ada contohnya komunikasi antara guru dan murid, akan tetapi di dalam penelitian ini yang dilihat adalah komunikasi pustakawan dengan pemustaka saja. Dengan demikian, komunikasi dua arah vertikal sangat tepat untuk kategori komunikasi pustakawan dan pemustaka. Komunikasi dua arah memiliki beberapa indikator yang berisi unsur-unsur yang berada di dalamnya. Berikut adalah indikator yang mencirikan proses komunikasi dua arah: 1) Source-receiver Seperti pada dasar komunikasi, harus ada pengirim dan penerima yang akan mengirimkan atau bahkan bertukar pesan. Begitu pula dalam komunikasi dua arah, dimana kedua belah pihak sama-sama berperan aktif dalam proses komunikasi yang berlangsung (Pakar Komunikasi, 2017). Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa Source-receiver peran aktif dari pemustaka sedikit kurang efektif, disebabkan oleh komunikasi dua arah yang coba untuk lebih interaktif tidak mengoptimalkan kebutuhan infomasi yang di sesuai dengan keingin pemustaka. Oleh sebab itu proses ini terjadi hanya sebatas memberikan saran atau mengarahkan saja, tanpa ada proses yang lebih aktif antara kedua belah pihak. Pihak pustakawanpun hanya berperan semampunya saja dan mencoba untuk lebih berperan aktif sebagai penyedia informasi. 2) Encoding- decoding Encoding adalah proses pembuatan dan penyampaian pesan yang dilakukan oleh pemberi atau sumber pesan ( source ), seperti berbicara atau menulis. Dan decoding adalah proses penerimaan pesan yang disampaikan tersebut dan mencerna makna dari pesan tersebut yang dilakukan oleh penerima pesan ( receiver ) (Pakar Komunikasi, 2017). Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa encoding- decoding , proses mencari informasi dari pemustaka sebagai penyampai informasi kurang efektif, hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang sesuai dan tepat untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka. Di tambah lagi penerima informasi yang memang tidak puas dengan keinginan dalam mencari sumber informasi, sehingga encoding- decoding tanggapan dari pencari informasi dan penerima informasi kurang efektif. 3) Messages Jika ada pengirim dan penerima, tentu saja harus ada pesan yang disampaikan. Pesan yang telah di- encode oleh pengirim disampaikan kepada penerima, kemudian penerima pesan melakukan decoding untuk memahami isi pesan. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa isi informasi yang disampaikan kurang ditanggapi, sehingga pemustaka tidak menemukan solusi yang tepat ketika informasi yang diberikan oleh pustakawan yang terbatas hanya informasi yang tersedia di perpustakaan saja, tanpa adanya penelusuran lebih spesifik tentang informasi yang dibutuhkan. Sehingga perlu mencari ke perpustakaan yang lain, oleh karena itu pemustaka menjadi males bertanya kepada pustakawan. 4) Feedback Hal yang menjadi perbedaan mendasar antara komunikasi satu arah dengan dua arah adalah adanya feedback atau respon dalam komunikasi dua arah. Ketika penerima memberikan respon ( feedback ), pesan yang diberikan balik pada pengirim disebut feedback message . Selain dari penerima, feedback message juga dapat diterima dari si pengirim, yaitu ketika ia mengirim pesan dan mendengarkan isi pesannya atau melihat apa yang ditulis ( self- feedback message ). Feedback message tidak harus berupa bentuk verbal, tapi juga dapat berupa nonverbal. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan, bahwa, feedback yang terjadi di perpustakaan dalam berkomunikasi dua arah kurang sekali, yang pertama dikarenakan oleh pemustaka yang bertanya tanpa ada sedikit informasi atau pemahaman tentang informasi tertentu yang ingin di dapatkan secara lebih mendalam, dan yang kedua terkadang informasi yang ingin diketahui lebih mendalam pustakawan tidak memahami tentang informasi itu. Sehingga feedback yang diharapkan tidak berlangsung secara interaktif dari kedua belah pihak. 5) Noise Psychological noise adalah gangguan yang berasal dari pengirim atau penerima pesan berupa gangguan mental, seperti prasangka, pemikiran yang sempit, dan emosi tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat, disimpulkan bahwa, noise yang terjadi berkaitan dengan psychological noise berupa pemikiran sempit dari pemustaka, yang selalu mencoba untuk mendapatkan informasi yang instan tanpa terlebih dahulu mendalami informasi yang di dapat sudah sesuai kebutuhan atau belum. Ditambah dengan emosi tinggi dari pemustaka yang menggap pustakawan itu harus menguasi seluruh informasi (Effendy, 2004:10). b. Analisis Kebutuhan Informasi Kebutuhan informasi tampak ketika disadari terdapat informasi yang dibutuhkan oleh seseorang (Line dalam Nicholas, 2000). Pengertian kebutuhan informasi adalah informasi dimana harus mengerjakan pekerjaan secara efektif, memecahkan masalah dengan memuaskan atau melakukan hobi atau keinginan dengan menyenangkan (Nicholas, 2000). Kebutuhan informasi muncul ketika seseorang menyadari adanya kesenjangan antara pengetahuan dan harapan untuk memecahkan masalah (Belkin dalam Nicholas, 2000: 20). Dengan demikian, kebutuhan informasi adalah sebagai proses dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kesenjangan pengetahuan yang terjadi. Kesenjangan ini membutuhkan sumber-sumber yang tepat dalam memecahkan problematika yang ada dalam pengetahuan yang ingin dikaji lebih dalam dan menemukan penyelesaiannya. Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti untuk kebutuhan informasi pemustaka di perpustakaan IAIN Batusangkar, pemustaka mencoba untuk selalu menunjukkan berbagai sumber informasi yang tersedia yang ada di perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, biarpun terkadang pemenuhan kebutuhan informasi yang diberikan tidak dapat secara optimal, dikarenakan keterbatas informasi dari pihak pustakawan atau dari sumber informasi yang tersedia yang bisa dijadikan sebagai sumber rujukan yang lebih relevan dan beragam. Namun, pustakawan tetap mencoba mencari alternatif lain seperti, merujuk ke perpustakaan yang lain yang menyediakan sumber informasi yang tepat sesuai dengan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, dan memberikan web-web yang berkaitan dengan dengan kebutuhan pemustaka yang membutuhkan informasi tersebut. Tindakan ini dilakukan oleh pustakawan berdasarkan pemahaman yang dimiliki yang mencoba untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi bagi setiap pemustaka, keragaman kebutuhan informasi pemustaka juga menjadi faktor utama dalam memberikan semua sumber informasi yang ada. Akan tetapi usaha pustakawan dalam membatu pemustaka merupakan langkah yang tepat sebagai seorang pelayan informasi. c. Analisis Pemustaka Pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan, baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya). Ada berbagai jenis pemustaka seperti pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan dan masyarakat umum, tergantung dari jenis perpustakaan tersebut (Suwarno, 2009). Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemustaka adalah orang yang mengguna perpustakaan, disini yang menjadi pemustaka menurut peneliti adalah mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, oleh sebab itu pemustaka disini lebih kepada kelompok keilmuan yang akan di teliti. Dari hasil observasi pemustaka yang khususnya mahasiswa ilmu perpustakaan ini mencoba untuk menjadi pemustaka yang lebi aktif dalam memcari sumber-sumber informasi yang tersebar di perpustakaan baik berupa dalam bentuk tercetak maupun dalam bentul non cetak. Pemustaka juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda ketika mencari suatu sumber informasi yang di sesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing. Dengan demikian, pemustaka disini lebih di titik beratkan kepada mahasiswa yang lebih aktif ketika mencari informasi dan memanfaatkan layanan dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka dilihat dari urgensi unsur-unsur dalam melakukan komunikasi dua arah untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi pada perpustakaan IAIN Batusangkar, dilihat dari lima unsur yang menjadi pertimbangan yaitu Source-receiver, Encoding- decoding, Messages, Feedback, dan Noise. kurangnya proses interaksi dalam komunikasi antara pustakawan dan pemustaka dalam mengoptimlakan kebutuhan informasi memang menjadi unsur penting dalam sebuah perpustakaan, akan tetapi unsur ini jarang sekali di lakukan baik oleh pustakawan maupun pemustaka. Dengan demikian ke lima unsur dalam hasil penelitian ini masih memiliki kekuranagan dalam setiap unsur yang semestinya dilakukan oleh pustakawan dan pemustaka. Karena untuk mengoptimalkan kebutuhan informasi perlu di tingkatkan komunikasi dua arah. Karena dengan ada komunikasi dua arah yang efektif antara pustakawan dan pemustaka maka kabutuhan informasi bagi pemustaka akan tercapai semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan dari pemustaka dalam mencari informasi di perpustakaan IAIN Batusangkar.