Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 1 ISSN 2654-6469

Analisis Kontribusi Perpustakaan Indonesian Visual Art Archive Dalam Pengembangan Seni Rupa

Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi Perpustakaan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) dalam mengembangkan seni rupa. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara , serta dokumentasi. Untuk menganalisis hasil dari penelitian, yaitu menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, serta verfikasi (menarik kesimpulan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa IVAA memiliki kontribusi dalam mengembangkan seni rupa, yaitu sebagai tempat rekreasi dan sumber informasi, sebagai pelestari karya seni rupa, sebagai tempat referensi koleksi seni rupa, sebagai ltempat edukasi, dan sebagai wadah kreatifitas kepenulisan dalam bidang seni rupa. Hambatan dalam pelaksanaan peran tersebut yaitu dana yang terbatas, Sumber daya manusia, serta kebanyakan koleksi berbahasa asing.

Abstract

This study aims to determine the contribution of the Indonesian Visual Art Archive (IVAA) Library in developing fine arts. This study uses descriptive qualitative, while for data collection using the method of observation, interviews, and documentation. To analyze the results of the research, using data reduction techniques, data presentation, and verification (drawing conclusions. From the results of the study it is known that IVAA has contributed to the development of fine arts, namely as a place of recreation and a source of information, as a preserver of works of art, as a place of recreation). reference to fine art collections, as a place of education, and as a place for creative writing in the field of fine arts. The obstacles in carrying out this role are limited funds, human resources, and most collections in foreign languages.
Keywords: library contribution · Indonesian Visual Art Archive · fine arts

Introduction

Adanya perpustakaan di tengah - tengah kehidupan masyarakat dikarenakan adanya hubungan kausal, atau adanya sebab dan akibat. Seperti adanya keinginan yang datang dari kalangan masyarakat luas untuk terselenggaranya perpustakaan, karena mereka yang membutuhkan. Adanya keinginan dari suatu organisasi, lembaga, atau pemimpin selaku penanggung jawab institusi tersebut untuk membangun perpustakaan. Serta adanya kebutuhan yang dirasakan oleh kelompok masyarakat tertentu tentang pentingnya sebuah perpustakaan. Diperlukannya wadah atau tempat yang bisa mengolah dan menampung, mengolah, memelihara, dan memberdayakan berbagai hasil karya umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan, sejarah, penemuan, budaya lain sebagainya. Karya - karya pada masa lalu, untuk dimanfaatkan dan dikembangkan masa sekarang, serta rujukan dalam mempersiapkan dan membangun masa depan yang semakin baik bagi seluruh umat manusia (Sutarno. 2006). Pada hakikatnya setiap perpustakaan memiliki sejarah yang berbeda - beda. Karena sejarahnya yang berbeda itu, setiap pepustakaan mempunyai tujuan, anggota, organisasi dan kegiatan yang berlainan. Karena perbedaan tujuan, organisasi induk, anggota, dan kegiatan ini maka pengaruh lanjutannya ialah timbulnya berbagai jenis perpustakaan. Salah satu jenis perpustakaan yang dapat ditemui ditengah - tengah kehidupan masyarakat pada saat ini adalah perpustakaan khusus. Perpustakaan khusus menurut definisinya adalah perpustakaan yang berada pada sebuah departemen, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, militer, industri, maupun perusahaan swasta (Sutarno, 2006). Perpustakaan khusus sebagai suatu organisasi informasi biasanya disponsori oleh suatu instansi atau perusahaan, baik swasta maupun pemerintah yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan informasi dengan menekankan koleksinya pada satu subjek atau beberapa subjek yang berhubungan dengan bidang kegiatan dan minat organisasi induk (Tambunan, 2013). Selain itu, untuk melakukan suatu pencapain tujuan yang diinginkan oleh sebuah perpustakaan khusus, sebaiknya harus memiliki visi dan misi agar tujuan tersebut tercapai, dan membuat suatu program yang dapat dijadikan sebagai alat pengembangan perpustakaan. Serta, memiliki ciri khas agar dapat terlihat perbedaannya dari perpustakaan lainnya untuk mempertahankan eksistensinya di mata masyarakat. Ciri khas tersebut bisa pada bagian ruang lingkup, minat, atau lembaga tersebut berdiri. Keberadaan sebuah perpustakaan khusus akan ditentukan oleh aktivitas anggotanya. Semakin baik anggotanya dalam melakukan kegiatan positif, maka akan sangat dihargai oleh masyarakat. Salah satu perpustakaan khusus yang berada di Yogyakarta adalah Perpustakaan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Perpustakaan IVAA didirikan oleh Yayasan Cemeti yang sekarang lebih dikenal dengan nama Yayasan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Perpustakaan IVAA adalah penerus dari gagasan ruang alternatif yang menandai dinamika seni kontemporer pasca - Reformasi. Perpustakaan IVAA percaya bahwa seni, dalam hal ini seni rupa, mampu membuka wawasan dan pemahaman atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Pemikiran kritis dan aspirasi warga perlu dicatat, ditelaah, dan disosialisasikan (Indonesian Visual Art Archive, 2017). Selain itu kriteria lainnya adalah memiliki ciri khas di antara perpustakaan khusus lainnya. Perpustakaan IVAA (Indonesian Visual Art Archive) merupakan perpustakaan khusus untuk koleksi kesenian. Perpustakaan IVAA dibuka untuk umum, dan menjadi wadah bagi masyarakat kreatif pecinta seni dan perduli akan kelestarian kesenian di wilayah Yogyakarta serta mendukung kegiatan - kegiatan seni yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pada setiap kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Perpustakaan IVAA, pengguna dapat melihat kegiatan tersebut di web IVAA pada kalender kegiatan IVAA. Pada kalender tersebut, tertera jadwal dan lokasi kegiatan yang akan di selenggarakan. Di Perpustakaan IVAA ada berbagai kegiatan yang sering dilakukan, meliputi pemutaran film, pameran, pertunjukan musik, berbagi pemikiran dengan sesama anggota workshop, dan lain sebagainya. Selain itu, Perpustakaan IVAA memiliki berbagai koleksi yang dapat digunakan oleh pengguna, baik itu untuk dibaca di tempat atau dipinjam. Sumber koleksi yang dimiliki Perpustakaan IVAA berasal dari hibah masyarakat, dari seniman langsung maupun dari keluarga seniman. Selain itu, koleksi juga diperoleh dari lembaga seni lain. Pada saat kegiatan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan IVAA, pendokumentasian kegiatan dilakukan oleh tim Perpustakaan IVAA sendiri, dan hasil pendokumentasian tersebut dijadikan koleksi oleh Perpustakaan IVAA. Keberadaan perpustakaan khusus saat ini telah berkembang seiring dengan waktu perjalanan. Perkembangan tersebut terlihat dari persoalan nama, kegiatan, dan perbedaan ciri khas. Pada umumnya perpustakaan khusus menyediakan fasilitas ruang baca, ragam koleksi bacaan, dan ruangan lainnya guna kebutuhan perpustakaan. Sama seperti perpustakaan lainnya, Perpustakaan IVAA memberikan fasilitas ruangan dan koleksi bacaan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yang membedakan Perpustakaan IVAA dengan perpustakaan lainnya adalah Perpustakaan IVAA lebih spesifik terhadap seni. Perpustakaan ini muncul karena ada rasa tanggung jawab oleh sebagian masyarakat untuk melindungi hasil karya seni masyarakat. Perpustakaan IVAA didirikan dengan tujuan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai karya seni rupa kontemporer di Indonesia, berupaya melindungi, menghargai, dan melestarikan hasil karya cipta masyarakat. Keberadaan Perpustakaan IVAA akan berkembang apabila dikelola orang - orang yang sangat mencintai dan mendukung hasil karya seni, serta bertanggung jawab atas pelaksanaan perpustakaan tersebut. Dari hal tersebut, perlu adanya penelitian untuk mengetahui kontribusi yang dilakukan oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) dalam mengembangan seni rupa. B. TINJAUAN PUSTAKA Peranan adalah suatu perilaku yang diharapkana oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu. Peranan yang dipelajari sebagai bagian dari proses sosialisasi dan kemudian diambil oleh para individu (Cohen, 1992). Peranan mencakup tiga hal, yaitu, pertama, peranan meliputi norma - norma yang dihubungkan dengan posisi atau kedudukan dalam masyarakat yang memiliki rangkaian peraturan - peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. Kedua, peranan merupakan suatu konsep tentang yang dilakukan oleh seseorang dalam bermasayarakat sebagai organisasi. Ketiga, perana n sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur social masyarakat (Soekanto, 2012). Menurut UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dalam Rufaidah (2009), perpustakaan khusus merupakan perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain. Perpustakaan khusus juga merupakan perpustakaan yang didirikan untuk mendukung visi dan misi lembaga - lembaga tertentu yang berfungsi sebagai pusat informasi terutama berhubungan dengan penelitian dan pengembangan. Adapun ciri utama perpustakaan khusus, yaitu memiliki buku yang terbatas pada satu atau beberapa disiplin ilmu saja, tekanan pada koleksi, jasa yang diberikan lebih mengarah kepada minat anggota perorangan (Martoatmodjo, 1998). Peranan perpustakaan adalah bagian dari tugas pokok yang harus dijalankan di dalam perpustakaan. Peranan yang harus dijalankan oleh perpustakaan, yaitu, a) sebagai sumber informasi, pendidikan, penelitian, preservasi dan pelestarian budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah dan bermanfaat; b) sebagai media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya; c) sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan anatara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani; d) sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya baca, melalui penyedia berbagai bahan bacaan sesuai dengan keinginan kebutuhan masyarakat; e) perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya; f) perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kebudayaan umat manusia; dan g) sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan; h) sebagai pembimbing dan memberikan kosnsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan pemakai (user education), dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak; h) perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasil karya umat manusia yang tak ternilai harganya; i) perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat. Sebab masyarakat yang sudah maju dapat ditandai dengan adanya perpustakaan yang sudah maju; dan j) perpustakaan berfungsi dan dimanfaatkan dengan sebaik - baiknya, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja. Perpustakaan dapat berperan aktif dalam mencari/menelusur membina dan mengembangkan serta menyalurkan hobi/kegemaran, minat, dan bakat yang dimiliki oleh masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dapat diselenggarakan oleh perpustakaan (Sutarno, 2006). Menurut Sulistyo - Basuki (2014), perpustakaan khusus memiliki tiga tingkatan fungsi yaitu minimun, medium, dan maksimum. Fungsi minimum pada perpustakaan khusus, yaitu, a) mengumpulkan publikasi yang terdapat di badan induknya, sedapat mungkin perpustakaan menerima tanpa diminta semua publikasi badan induknya; b) mengusahakan agar dokumen tetap mutakhir sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan minat pemakai; c) memeriksa daftar buku baru serta berusaha memesan buku yang berkaitan dengan perpustakaan; d) fungsi kultural. Perpustakaan mempunyai fungsi kultural artinya perpustakaan memiliki dan menyediakan bahan pustaka baik tercetak maupun elektronik yang menyajikan kebudayaan daerah atau suatu bangsa; e) fungsi rekreasi. Perpustakaan mempunyai fungsi rekreasi artinya, pengguna dapat mencari koleksi yang bersifat populer dan menghibur. Untuk beberapa perpustakaan, ada yang menyediakan tempat dan mendekorasi perpustakaan menjadi tempat yang nyaman. Adapun untuk fungsi medium pada perpustakaan khusus, yaitu, a) memperoleh informasi tentang pengembangan kebutuhan informasi perpustakaan; b) mengembangkan kontak dengan penerbit, majalah, toko buku, sumber informasi lainnya guna memperoleh dokumen; c) mengembangkan koleksi yang dimiliki; d) mengembangkan perpustakaan ke arah penggunaan komputer untuk pengolah dokumen yang dimiliki; e) meninjau ulang koleksi perpustakaan serta mengembangkan bidang atau keahlian yang masih dirasakan lemah; dan f) mengadakan pertemuan berkala dengan pimpinan guna evaluasi, apakah sesuai dengan tuntutan pekerjaan atau tidak. Bilamana dirasakan kurang sesuai, perlu dibenahi kekurangan yang ditemukan. Pada tingkat fungsi maksimum pada perpustakaan khusus, yaitu: a) secara berkala melakukan kajian pemakai maksudnya apa saja keperluan informasi pemakai, bagaimana perilaku pemakai mencari informasi cara perpustakaan berusaha memenuhi kebutuhan informasi; dan b) membina hubungan baik dengan mitra kerja, baik itu penerbit atau orang yang memiliki keterkaitan dengan perpustakaan khusus (Sulistyo - Basuki, 2014).

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain - lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata - kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengam memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2010). Metode penelitan yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Dalam pengertiannya, metode deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian pada masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut (Noor, 2011). Subjek peneltian dalam penelitian ini adalah pemustaka dan pengelola perpustakaan. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Untuk Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisi Model Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data (data display), serta conclusion drawing/verification. Sedangkan untuk uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu (Sugiyono, 2010).

Result & Discussion

Perpustakaan Indonesian Visual Art Archive atau dapat disingkat menjadi IVAA merupakan perpustakaan yang terletak di Kota Yogyakarta yang merupakan salah satu kota yang sangat menghargai seni dan budaya. Maka tidak heran pada saat kita melewati jalan di Yogyakarta akan menemukan sesuatu yang unik dari kota ini. Hal ini menjadikan daya tarik tersendiri oleh wisatawan yang berkunjung, sehingga tak heran jika banyak yang berkunjung ke kota gudeg ini untuk menikmati sudut pandang kota yang memiliki nilai seni yang tinggi. Dari seni itulah menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Yogyakarta. Namun, perlu diketahui bahwa ada salah satu daya tarik yang harus masyarakat ketahui bahwa di Yogyakarta ada salah satu lembaga yang menyediakan berbagai bahan bacaan mengenai seni khususnya seni rupa. Berdasarkan hasil wawancara maka diketahui kontribusi IVAA dalam mengembangkan seni rupa yaitu sebagai tempat rekreasi dan sumber informasi seni rupa. IVAA sebagai salah satu tempat yang dapat dijadikan lokasi rekreasi. Hal ini dikarenakan IVAA dapat mengenal berbagai seni rupa yang ada di Indonesia. Pengenalan seni sangatlah penting bagi IVAA, kegiatan ini diharapkan masyarakat mengetahui keberadaan Perpustakan IVAA dan seni rupa. Ada berbagai kegiatan dalam peranan ini, yaitu, pertama, IVAA memberikan akses kepada masyarakat untuk mengunjungi Perpustakaan IVAA. Dengan adanya kunjungan tersebut, diharapkan pemustaka dapat melihat dan mengetahui koleksi apa saja yang dimiliki oleh IVAA. Dari koleksi tersebut, pengunjung akan mengetahui bahwa di Indonesia begitu banyaknya karya - karya yang telah di hasilkan oleh seniman - seniman yang luar biasa. Pengunjung IVAA tidak hanya dari warga Indonesia saja, namun juga dari wisatawan luar negeri khususnya dari negara Asia. Kedua, adanya pertunjukkan musik. Tidak hanya menerima kunjungan dan mengelola buku saja, IVAA juga mengadakan pertunjukkan musik yang disebut dengan istilah Musrary (music library). Pada kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan masyarakat seni music beraliran music indie. Namun, pertunjukkan musi tidak hanya music indie saja, ada berbagai aliran music yang terkadang ditampilkan. Ketiga, adanya promosi. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh IVAA untuk diketahui masyarakat adalah melakukan promosi melalui email, sosial media, televisi, radio, dan media cetak. Keempat, adanya, IVAA Shop. IVAA menyediakan IVAA shop bertujuan untuk memberikan informasi terkait tentang seni. Namun, informasi tersebut di perjual belikan. IVAA shop menyediakan buku - buku tentang seni, budaya dan pengarsipan. Selain buku - buku, IVAA juga menyediakan baju dan merchandise. Kelima, adanya E - News Letter. Kegiatan rutin yang dilakukan IVAA adalah menerbitkan E - News Letter. E - News Letter ini merupakan surat kabar yang diterbitkan oleh IVAA sebagai salah satu penyampai informasi kepada masyarakat. E - News Letter berisi tentang informasi yang berkaitan tentang seni dan kegiatan - kegiatan yang akan atau telah diselanggarakan oleh IVAA. E - News Letter IVAA dapat di akses melalui link http://ivaa - online.org/category/e - news/. Adanya penyediaan sumber informasi secara elektronik ini menurut Aeni, Indah, & Syam (2021) dikarenakan adanya pengguna perpustakaan saat ini yang mengingkan informasi secara cepat dan mudah melalui media elektronik yang mereka gunakan sehari - hari. Kontribusi IVAA dalam mengembangkan seni rupa yaitu sebagai pelestari karya seni rupa. Perpustakaaan memiliki fungsi sebagai tempat penyimpan a hasil karya yang telah dibuat oleh seseorang. Untuk menjaga hasil tersebut tentu harus dapat melaksanakan perannya dengan tepat. Ada beberapa cara yang telah dilakukan oleh IVAA untuk menjaga hasil karya tersebut, yaitu, pertama, pengadaan Koleksi. Untuk pelaksanaan pengadaan koleksi terkait tentang seni, IVAA mendapatkannya melalui hibah dari seniman, perorangan, dan membeli koleksi sendiri. Kedua, digitalisasi. Agar koleksi yang dimiliki tetap aman dari keadaan yang tidak diinginkan, IVAA melakukan alih media atau pendigitalisasian terhadap koleksi vital. Seperti pita kaset, audio karena koleksi tersebut di anggap sangat rentan rusak. Setelah dilakukan pendigitalisasian, koleksi tersebut dapat di copy atau di bagikan bagi yang membutuhkan. Ketiga, melaksanakan Exhibition. Exhibition adalah kegiatan pameran. Kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan hasil karya anak bangsa atau seniman - seniman dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dimulai dari tahun 2017 sampai saat ini, dan pada kegiatan tersebut mengusung berbagai tema. Kontribusi lain IVAA dalam mengembangkan seni rupa yaitu sebagai tempat referensi koleksi seni rupa. Sebagai salah satu perpustakaan khusus, IVAA merupakan perpustakaan yang khusus menyediakan koleksi referensi terkait dengan berbagai jenis seni. Tidak heran, IVAA disebut salah satu perpustakaan yang menyediakan koleksi referensi terlengkap di Yogyakarta. Kontribusi lain IVAA dalam mengembangkan seni rupa yaitu sebagai tempat edukasi. IVAA membuat program khusus untuk kalangan anak remaja yang berada di sekitar lingkungan perpustakaan dan masyarakat umum. Program teresebut, yaitu, pertama, program pemutaran Film. Kegiatan ini bermula saat anak - anak di lingkungan IVAA hanya asik bermain game online dengan memanfaatkan wi - fi yang di sediakan oleh IVAA. Tercetuslah program tersebut untuk memberikan edukasi kepada anak - anak dengan menonton film. Bioskop Kecil atau yang disingkat menjadi BIOSCIL. Bioscil ini memiliki slogan yaitu “Bioskop Kecil, Schreening, Sharing, and Telling Stories. Jadwal pemutaran film diadakan pada setiap hari Jumat pada pukul 15.00 - 16.30. Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan anak - anak di lingkungan IVAA saja, namun dapat pula masyarakat luas ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Dengan adanya BIOSCIL diharapkan anak - anak tidak hanya sibuk dengan gadget saja, namun bisa memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Kedua, program pembuatan Seni Mural. Sebagai tempat edukasi, IVAA juga memberikan kesempatan kepada anak - anak dan remaja dalam pembuatan seni mural. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada anak remaja untuk membangung kreatifitas diri. Ketiga, program magang. IVAA memberikan kesempatan kepada peserta yang ingin mencari pengalam bekerja dalam bidang pengarsipan seni rupa. Dalam program teersebut, IVAA memberikan kesempatan peserta untuk belajar selama minimal satu bulan dan maksimal sampai tiga bulan lamanya. Peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam mengelola arsip seni, tetapi juga mendapatkan fasilitas keanggotaan Kawan IVAA, serta menjadi tim kerja IVAA selama masa magang. Program tersebut diharapkan dapat berperan dalam membangun karakter remaja, mengurangi dan mencegah kenakalan remaja, serta membantu dalam membenahi Perpustakaan IVAA dalam melestarikan hasil karya seni dari seniman - seniman Indonesia. Kontribusi lain IVAA dalam mengembangkan seni rupa yaitu sebagai wadah kreatifitas kepenulisan dalam bidang seni rupa. IVAA berperan sebagai tempat berkumpul atau wadah bagi penulis - penulsi muda. Tempat ini, sering dijadikan oleh penulis - penulis muda dalam bertukar pikiran atau sharing hasil dari penelitian atau tulisan - tulisan yang dibuatnya. Kegiatan ini sangan berperan besar bagi pegiat seni atau pemustaka dalam bertukar pikiran. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kegiatan, yaitu adanya Workshop dan diskusi. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan seni agar tidak musnah oleh zaman. IVAA berharap dapat melahirkan penulis - penulis muda bangsa Indonesia yang mencintai seni rupa di Indonesia. Serta berdiskusi tentang hal - hal terakit seni dan budaya yang ada di Indonesia maupun dunia. Selain itu, ada Festival Arsip. Festival arsip merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh IVAA untuk memperlihatkan dan melestarikan hasil karya dari berbagai seniman. Festival ini diharapkan dapat mengenalkan kepada anak - anak muda untuk mencintai dan sadar bahwa seni yang ada di Indonesia itu sangant penting di jaga, serta harus dapat dilestarikan. Selanjutnya, ada Peluncuran Buku. IVAA berperan sebagai wadah atau tempat seniman - seniman dalam menerbitkan hasil karya tulis yang dihasilkannya. Ada berbagai hasil buku yang diterbitkan oleh IVAA, yaitu Tuan Tanah Kawin Muda, Arsipelago, Fixing the Bridge, Awas! Recent Art from Indonesia, dan lain sebagainya. Beberapa buku dapat dilihat pada social media atau website IVAA. Pada sebuah Lembaga informasi seperti IVAA dalam mengembangkan program atau pelaksanaan peran - peran tersebut tentu tidak terlepas dari permasalahan atau hambatan di dalamnya. Ada beberapa hambatan yang di alaminya, yaitu, pertama, finansial atau dana. Dalam pengelolaan arsip dan koleksi membutuhkan dana yang sangat besar. Terutama dalam mengalihmediakan koleksi agar tidak rusak dan musnah. Sedangakan IVAA merupakan Lembaga di bawah naungan Yayasan. Solusi agar IVAA tetap bertahan, untuk setiap kegiatan yang akan diselenggarakan atau mengelola koleksi harus melakukan Kerjasama atau membuat proposal ke instansi - instasi. Hambatan kedua, adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Kurangnya SDM yang mengelola, sehingga menyebabkan kurang maksimalnya dalam mengelola koleksi yang ada di IVAA. Solusinya dalam bidang pengelolaan arsip dan koleksi, IVAA meminta bantuan dari peserta magang untuk membantu dalam alih media maupun pengelolaan koleksi. Hambatan ketiga, adalah Koleksi Berbahasa Asing. Koleksi yang dimiliki oleh IVAA ada berbagai Bahasa, seperti buku berbahasa Jepang, Jerman, Perancis, Belanda. Sedangkan SDM tidak mampu menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Solusi yang dilakukan oleh IVAA yaitu dengan memanfaatkan Google Translate dan mencari penerjemah.

Conclusion

Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kontribusi Indonesian Visual Art Archive (IVAA) dalam mengembangkan seni rupa sebagai perpustakaan khusus seni rupa di Indonesia yaitu, pertama mengenalkan seni rupa kepada masyarakat dengan cara pada saat ada kunjungan masyarakat ke IVAA. Selain itu, mengenalkan seni melalui pertunjukan music, promosi, IVAA shop, dan menerbitkan E - News Letter. Kontribusi kedua, adalah IVAA juga berperan sebagai pelestari hasil karya seni rupa. Hal ini dapt terlihat dari berbagai kegiatan seperti melakukan pengadaan koleksi terkait tentang seni rupa. Pengadaan sendiri di dapat melalui hibah dari seniman dan pegiat seni lainnya, serta membeli koleksi. Selain melakukan kegiatan pengadaan, untuk tetap melestarikan hasil dari karya - karya seniman. IVAA berusahaa untuk mengalihmediakan atau mendigitalisasikan hasil karya - karya teresebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengamankan koleksi dari hal - hal yang tidak diinginkan. Kegiatan terakhir dalam pelestarian hasil karya seniman, IVAA mengadakan pameran atau exhibition. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan atau menunjukkan hasil karya seniman dan anak bangsa dari seluruh Indonesia. Kontribusi ketiga IVAA berperan sebagai tempat referensi koleksi seni rupa. Koleksi di IVAA ada berbagai macam karya tulis terkait dengan seni rupa. Dari hasil penelitian bahwa IVAA merupakan perpustakaan khusus terlengkap terkait dengan koleksi seni rupa. Kontribusi keempat, IVAA berperan sebagai tempat edukasi. Kegiatan edukasi yang dilakukan oleh IVAA yaitu membuat Bioskop Kecil (BIOSCIL), dalam kegiatan ini adanya pemutaran film tentang sejarah dan seni rupa. Selain itu mengajak anak muda untuk berpartisipasi dalam membuat seni mural. Kegiatan ini bertujuan agar anak muda dapat mengembangkan kreatifitas diri pada tempat yang benar. Dan program terakhir dari bagian peran sebagai tempat edukakasi yaitu IVAA memberikan kesempatan magang bagi peserta yang ingin mencari pengalaman mengelola arsip terkait tentang seni. Kontribusi kelima IVAA berperan sebagai wadah kreatifitas kepenulisan dalam bidang seni. IVAA. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh IVAA dalam menjalankan perannya tersebut yaitu mengadakan workshop dan diskus, mengadakan festival arsip, serta melakukan peluncuran buku yang dihasilkan dari karya tulis berbagai seniman dan penulis. Adapun hambatan yang di alami oleh IVAA dalam menjalankan perannya yaitu dana, sumber daya manusia (SDM), serta koleksi berbahasa asing. Adapun saran untuk IVAA sebaiknya melakukan kerjasama dengan pihak - pihak yang mencintai seni dan instansi pemerintahan, hal ini dikarenakan koleksi arsip yang dimiliki oleh IVAA adalah bukti - bukti hasil dari karya anak bangsa. Sudah sepatutnya harus di lestarikan. Selain itu, sebaiknya IVAA harus memiliki pustakawan ahli dalam mengelola koleksi dan arsip, sehingga dapat menambah kemampuan dalam menjaga arsip.